Laman

Tampilkan postingan dengan label Series. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Series. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 September 2014

EXO Fanfiction: Si meragukan,Sehun.

(A/N : yang jelas ini kelanjutan dari pasangan Sehun-Eun Hyun.Happy reading,enjoy^^)

***

" aku tidak yakin denganmu,dengan kita "

***

Terdengar suara langkah kaki cepat yang memecah kesunyian jalanan kompleks malam itu.Kaki jenjang yang di bungkus flat shoes berwarna biru langit yang menjadi alasannya.Perempuan itu memakai almamater kedokterannya lengkap dengan tas yang berisi perlatan medisnya.
Dengan ekspresi wajah yang benar-benar menyeramkan ia terus berjalan cepat menghindari laki-laki jangkung yang terus berusaha menjangkaunya.

" Eun hyun-ah,tunggu! "

Dokter muda itu menggembungkan pipinya kesal saat laki-laki jangkung bernama Oh Sehun itu berhasil meraih lengannya.

" dengar,aku minta maaf soal ini,aku benar-benar tidak bermaksud seperti apa yang kau pikirkan,sungguh! " ujarnya dengan nada penekanan yang kentara.

" tidak bermaksud seperti apa yang aku pikirkan? Memangnya kau tau aku berpikir apa? " tanya Eun Hyun sarkatis.

Sehun menelan ludahnya,tatapan tajam yang ditujukan Eun Hyun padanya benar-benar membuatnya seperti kutu yang terpitas.

" aku memang tidak pandai,tapi aku tau kalau kau sedang marah padaku,terutama soal itu " ucap Sehun pelan.

" soal itu? kau bahkan tidak berani menyebutnya,Tuan Penari "

Sehun mengetuk-ngetukkan sepatu sneakers abu-abu-nya ke aspal jalan,matanya bergerak menunjukkan bahwa sekarang ini laki-laki yang baru berumur 21 tahun itu sedang memutar otaknya.

" aku tidak tau kenapa,tapi sikapmu membuatku malas denganmu untuk saat ini dan mungkin untuk beberapa minggu ke depan " ucap Eun Hyun santai.

" ap—apa? beberapa minggu ke depan?! " Sehun berjengit kaget.Mungkin ia akan bernapas lega jika Eun Hyun mengatakan beberapa detik atau beberapa menit ke depan.

Tapi ini?! Beberapa minggu?!

Sehun menggelengkan kepalanya kuat-kuat,pertanda bahwa ia menolak kata-kata Eun Hyun barusan.

" Eun Hyun manis,dengar aku,aku tau aku salah dalam masalah ini,aku tau itu.Aku benar-benar minta maaf dan aku berjanji akan menyelesaikan masalah ini,malam ini juga " ucap Sehun bersikeras.

Eun Hyun tertawa sinis.
" sudah ku bilang,bahkan kau tidak berani menyebut kesalahan mu sendiri,kenapa? apa kau membenarkan ucapan Ibu-mu? "

" tidak semua yang Ibu ku katakan itu benar,jadi— "

" tidak semua? Berarti sebagian besar ucapan Ibu-mu itu benar? " Lagi-lagi Eun Hyun bertanya dengan nada sinis yang membuat Sehun makin menciut.

Ia merasa seperti kain pel bekas yang berada di sudut ruang janitor sekolahnya.

Mereka berdua sama-sama diam dengan Eun Hyun yang masih menatap Sehun menunggu jawaban yang akan di keluarkannya dan Sehun yang menunduk—masih dengan sepatu yang ia ketuk-ketukan ke aspal—

" yasudahlah,lupakan masalah kau yang tidak pernah memberitahu Ibu-mu tentang hubungan kita,lupakan perkataan Ibu-mu yang mengatakan kalau sikap luar biasa senangmu tigabulan terakhir ini karena mantanmu yang bernama Ah Ra itu.Aku harus ke rumah sakit,sampai jumpa beberapa minggu ke depan,Sehun "

Eun Hyun berbalik badan lalu melangkahkan kakinya menjauh dari Sehun,sementara itu,dari jarak beberapa meter di belakangnya Sehun hanya dapat memandang punggung perempuan yang resmi menjadi kekasihnya selama tigabulan ini dalam diam.

***

" hari ini aku ingin izin bekerja setengah hari "

Yixing mengernyit heran mendengar ucapan anak buah kesayangannya itu.

" ada masalah apa? " tanyanya.

" aku ada masalah dengan Eun Hyun.Ini masalah hidup dan mati,hyung " jawab Sehun lesu.

Yixing tertawa kecil.Laki-laki di hadapannya ini benar-benar payah soal perempuan,batinnya.

" kau mau aku potong gajimu? "

Sehun membulatkan matanya,kemudian menggeleng.
" jangan,hyung! Ku mohon,kau juga tau 'kan arti penting gaji itu bagiku? Yaaa—ku mohon,izinkan aku keluar dari sini saat makan siang dan jangan potong gajiku " Sehun memelas seperti anak kucing yang minta dikasihani.

" dasar anak kecil,aku hanya bercanda.Baiklah,kau boleh keluar saat makan siang " ujar Yixing lalu tergelak.

" sungguh?! kau tidak akan memotong gajiku 'kan hyung?! " serunya dengan mata berbinar,Sehun meraih tangan Yixing dan menggenggamnya erat.

" aku janji akan mengajakmu ke Yanggu dan melihat pemandangan indah disana " ujarnya dengan nada penuh haru.

Yixing melepas tangan Sehun dengan risih lalu mengayunkan tangannya ke depan.
" aku tunggu janjimu itu,cepat sana pergi dan jangan pasang wajah sok imut mu itu,Sehun "

Sehun hanya meringis lalu bangkit dari kursi,membungkuk sebentar dan keluar dari kantor Yixing.

" mengajakku ke Yanggu? Memang dia punya uang banyak? Ckckck dasar an—ASTAGA SEHUN KAU MENGAGETKANKU!! "

Yixing hampir terjungkal dari kursinya saat melihat kepala Sehun yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.Sehun melebarkan senyumannya.

" hyung,boleh aku pergi sekarang? ada yang harus ku lakukan "

Yixing mendengus lalu mengangguk.
" sekali lagi kau melakukan hal seperti tadi aku akan memotong gajimu,sungguh " kesalnya.

" hehehe,maaf hyung,kalau begitu sampai jumpaa " pamitnya lalu menutup pintu.

Yixing menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Sehun,ia meraih ponselnya dan berniat menelepon Ibu-nya.Mata Yixing membulat melihat jam yang tertera di layar ponselnya.Ia menghela nafas pasrah lalu menelungkupkan kepalanya di atas meja.

" astaga…kenapa aku mengizinkan anak buahku pergi padahal dia baru saja datang,Oh Sehun anak itu benar-benar… "

***

Sehun tersenyum membayangkan rencananya kali ini akan berhasil.Saat ini ia sedang duduk menunggu pesanan sup rumput laut kesukaan Eun Hyun.Membayangkan Eun Hyun yang akan melahap sarapan sup rumput laut darinya.

Pasti dia sangat lelah,batinnya.

" Tuan,ini pesanan anda " ucap Bibi Pelayan yang datang menghampiri Sehun dengan kantung plastik berisi sup rumput laut.

Sehun mengambil kantung plastik itu dan menyerahkan beberapa lembar won pada Bibi Pelayan.
" terimakasih " ucapnya lalu berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.

" Tuan! "

Sehun menoleh saat mendengar Bibi Pelayang memanggilnya.
" ya? " sahutnya masih dengan senyuman lebar.

" uangnya kelebihan! "

" ambil saja kembaliannya "

Sehun kembali melanjutkan jalannya,ia tidak peduli lagipula dua hari lagi ia akan menerima gaji danYixing tidak akan memotong gajinya.

Yaa—setidaknya harus ada yang mengingatkan Sehun kalau hari ini ia sama sekali tidak bekerja,jadi laki-laki itu tidak perlu se-yakin itu dan melebihkan uangnya.

***

" permisi,apa Dokter Cho ada di ruangannya? " tanya Sehun ramah kepada penjaga resepsionis.

" Dokter Cho? Yang perempuan atau yang laki-laki? " tanya penjaga resepsionis itu.

Sehun menepuk jidatnya pelan,lupa kalau dokter yang bermarga Cho tidak hanya satu di  rumah sakit sebesar ini.
" Perempuan,Dokter Cho Eun Hyun,dia pacarku "

Penjaga resepsionis itu merubah raut wajahnya mungkin sedikit kecewa mengetahui laki-laki tampan di depannya ini adalah pacar dokter muda yang tadi pagi juga di cari oleh seorang laki-laki yang tidak kalah tampan dengan Sehun.

" tidak tau,cari saja sendiri " ucapnya cuek lalu kembali duduk dan berkutat dengan data-data yang ada di hadapannya.

Sehun mengernyit heran,biasanya ia akan langsung marah-marah tapi berhubung mood-nya sedang baik ia tidak peduli dan kembali melanjutkan perjalannya.

Tujuan pertamanya adalah; ruang kerja Eun Hyun.

" eoh? anda bukannya pacar Dokter Cho? " seorang suster betubuh gempal menginterupsi langkah Sehun.

Sehun mengangguk.
" kau lihat dimana dia? "

" oh iya,tadi Dokter Cho pergi keluar bersama pasien pertamanya,sepertinya mereka sarapan di restoran seberang "

" pasien per—apa? " tanya Sehun tergagap.

" pasien pertama,laki-laki yang tampan itu.Kim Jongin. "

Rahang Sehun mengatup keras,seketika mood-nya langsung berubah drastis.

Si Jongin itu,benar-benar mood breaker untuk Sehun setelah kata potong gaji.

***

Jongin tersenyum manis setelah mendengar keluh kesah yang di keluarkan sahabat perempuan di hadapannya ini.Entah,sebagian dari hatinya merasa senang melihat kekesalan Eun Hyun pada Sehun yang sepertinya kali ini dapat membuat hubungan mereka terancam berakhir dan itu berarti ia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan Eun Hyun.Sedangkan,disisi lain ia juga tidak tega melihat Eun Hyun sedih dan merasa kesal dengan sikap Sehun.

Tapi,apapun perasaan yang di rasakannya,Kim Jongin harus terlihat berkarisma di depan Eun Hyun.Dan tentu saja harus terlihat lebih dewasa dari si Sehun yang menyebalkan itu.

" tenangkan pikiranmu,pikirkan baik-baik dan jangan betindak gegabah atau kau akan menyesal " ujarnya lembut.

Eun Hyun menghela nafas,bebannya terasa lebih ringan setelah meluapkan semua keluh kesahnya pada Jongin.

" maka dari itu aku meminta Sehun untuk tidak menemuiku beberapa minggu ini,kau tau? melihat Sehun aku merasa seperti pasien penderita darah tinggi yang melihat daging kambing "

Jongin tergelak,lebih tepatnya ia menertawakan dirinya sendiri.

Pasien darah tinggi yang melihat daging kambing? Itu berarti Eun Hyun menginginkan Sehun tapi ia tau kalau Sehun itu akan membuatnya sakit.Jadi Eun Hyun merasa kesal,ia suka Sehun tapi disisi lain Sehun itu menyebalkan.

Ckckck,si Jongin yang malang,hatinya membatin duka.

" lalu aku harus melakukan apa untukmu? " tanya Jongin.

Setidaknya Jongin harus membuat Eun Hyun tersenyum dulu,karena dengan begitu ia juga akan tersenyum.

" temani aku kemanapun hari ini "

Jongin mengangguk mantap dengan senyuman manisnya,ia menatap ke arah jendela besar di belakang Eun Hyun dan mendapati Sehun beridiri di sana.Laki-laki itu menatap Jongin dengan tajam sedang Jongin hanya dapat menarik satu sudut bibirnya.

***

Si Jongin itu memang suka menindas yang lemah.

Kyuhyun hampir saja menyiram Sehun dengan sup rumput laut yang di santapnya kalau saja ia tidak ingat rasa supnya yang enak.Telinganya panas mendengar Sehun yang terus berkata seperti itu.Mengoceh tidak jelas tentang Jongin ini dan Jongin itu.

" jadi kau merasa dirimu lemah dan Jongin kuat? " tanya Kyuhyun setelah menghabiskan sup-nya.

Sehun menggeleng spontan.

" tentu saja tidak! Hyung! Aku ini korban kelicikannya! " serunya.Sekarang Sehun terlihat seperti Ibu-ibu yang melapor ke polisi karena dompetnya yang di copet.

" kalau begitu tunjukkan " ucap Kyuhyun dengan nada serius.

Kyuhyun menatap Sehun dalam,kali ini ia harus mencampuri urusan mereka.

Kyuhyun tidak suka melihat Eun Hyun menangis lagi.

" Sehun dengar,kau adalah pilihan adikku,aku dan orang tuaku.Kalau kau bersikap seperti ini,lemah dan selalu mengeluh kami jadi meragukan pilihan kami sendiri.Kami meragukanmu,Sehun. " ujar Kyuhyun.

" hyung— "

" tunjukkan kalau kau memang pantas,yakinkan pilihan kami kembali,atau kami akan berpihak pada Jongin "

***

Eun Hyun melangkahkan kakinya memasuki rumah sakit.Kekesalannya pada Sehun makin bertambah saat mengetahui laki-laki itu bahkan tidak menghubunginya tiga hari ini.

Tolong catat,tidak menghubunginya.

Eun Hyun berjalan melewati meja resepsionis dan bernapas lega karena tidak mendapati suster penjaga resepsionis yang selalu menatap sinis padanya.

Kembali ke Sehun,Eun Hyun sudah menyiapkan beribu kata-kata jika ia dan Sehun bertemu.Dan beribu kata-kata itu akan berujung pada keputusan yang sudah ia pikirkan matang-matang.

Intinya,semua tergantung dengan sikap Sehun.

" Hai "

Panjang umur.Sehun kini berdiri dari kursi ruang tunggu dan tersenyum lebar menyapanya.Eun Hyun diam tidak membalas,hanya menatap laki-laki itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.

" aku ingin berbicara denganmu " ucap Eun Hyun dingin.

***

Sehun dan Eun Hyun kini duduk di taman rumah sakit.Tempat dimana mereka biasa menghabiskan waktu bersama saat makan siang.

" aku tidak akan memaksamu "

Sehun menoleh dan menatap Eun Hyun dengan kernyitan di dahi.Tidak mengerti maksud dari ucapan perempuan itu.

" kita baru tiga bulan,sebelum semuanya terlambat,sebelum kita saling merasa tersakiti,lebih baik kita selesai,Sehun " ujar Eun Hyun dengan mata yang menatap Sehun dalam.

" Sehun,dengar " Eun Hyun menginterupsi Sehun yang baru saja ingin berbicara.

" aku-ragu-padamu " ucapnya dengan penekanan di setiap kata.

" sikapmu padaku membuatku ragu kalau kau tidak benar-benar menyukaiku,aku takut kau hanya salah menafsirkan rasa itu karena kita berteman sejak kecil.Aku ragu kalau kau hanya salah paham,dan sebelum kita semakin jauh lebih baik kita selesaikan sekarang. "

Mereka berdua saling menatap lama sekali,Eun Hyun sedang berusaha menahan air matanya.Meyakinkan dirinya bahwa ia dan Sehun memang tidak harus terikat dalam suatu hubungan serius kalau pada dasarnya persahabatan malah membuat mereka saling melempar senyum dan tertawa.

Sementara Sehun,ia sadar ia laki-laki dan menangis pada saat ini bukanlah saat yang tepat.

Ingat,kau tidak boleh lemah,Sehun,seru batinnya.

" aku benar-benar menyukaimu,Cho Eun Hyun. " ujar Sehun tegas.

Eun Hyun menggeleng.
" aku tidak yakin denganmu,dengan kita " balas Eun Hyun.

" tapi aku yakin,denganmu,dengan kita.Eun Hyun,aku menyukaimu " ujar Sehun.

Eun Hyun mengerjap beberapa kali,belum pernah ia mendengar nada suara Sehun yang selembut ini.

Sehun menarik napas panjang,ia mengenggam tangan Eun Hyun.

" aku memang Oh Sehun si laki-laki bodoh,aku memang Oh Sehun si laki-laki manja,aku memang Oh Sehun si laki-laki lemah,aku memang Oh Sehun si laki-laki plin-plan,aku memang Oh Sehun si laki-laki menyebalkan.Aku memang Oh Sehun—si laki-laki dengan segudang sifat buruk yang sering membuat kesal bahkan menangis. "

Sehun berhenti sebentar,kemudian kembali membuka mulut dan berkata, " tapi jangan pernah lupakan satu hal,kalau aku memang Oh Sehun yang menyukai Cho Eun Hyun " tuturnya di akhiri dengan senyuman manis.

Demi apapun Eun Hyun ingin sekali memukul kepala Sehun karena telah berani membuat hatinya kembali mencair.

Dasar Oh Sehun,si mulut besar.

Sehun mengeluarkan sesuatu dari dalam kantungnya.Sebuah miniatur kotak p3k muncul dari sana.Ia membuka kotak itu dan—

" aku mau kita lebih serius dari ini " ujarnya.

Ada cincin emas putih yang cantik di dalam sana.Eun Hyun menatap Sehun dan cincin itu bergantian.

Sehun tersenyum lalu menarik tangan kiri Eun Hyun dan memasang cincin itu di jari manisnya.Mencium punggung tangan Eun Hyun untuk beberapa waktu dan menatapnya dengan pandangan teduh.

" aku sudah bilang pada keluargaku,dan Ibu menyuruhku untuk segera melamarmu karena Ibu akut kau di ambil orang,Ibu ingin kau menjadi menantunya,menjadi Nyonya Oh " ujarnya.

" bagaimana? Kau mau? "

Eun Hyun terlihat berpikir,ia memasang ekspresi ragu yang membuat Sehun seketika was-was.

" Oh Eun Hyun? " tanya Eun Hyun pelan.

Sehun mengangguk mantap.
" Oh Sehun dan Oh Eun Hyun "

" baiklah,kedengarannya bagus juga " ucap Eun Hyun dengan senyum lebar.

Mata Sehun berbinar,mulutnya tersenyum sangat lebar,terlihat seperti idiot malah.

" sungguh?! "

" aku sungguhan "

Sehun memeluk Eun Hyun erat.

" terimakasih,aku tau pengorbananku tidak akan sia-sia " ujarnya penuh haru.

" pengorbanan? " Eun Hyun melepas pelukan Sehun dan mengernyit.

Eun Hyun penasaran pengorbanan seperti apa yang Sehun lakukan.

" Yixing hyung memotong gajiku,padahal aku sengaja mengumpulkan gajiku untuk membeli cincin yang sudah ku pesan ini.Dia menyuruhku bekerja full selama tiga hari kalau aku ingin mendapatkan gaji sempurna beserta uang tambahan.Jadi aku langsung menyanggupinya,aku tidak mau membuatmu kecewa dan aku mau kau tau kalau aku benar-benar menyukaimu "

Sehun mengakhiri ceritanya,ia tersenyum manis membuat tangan Eun Hyun terulur dan mencubit pipinya.

" Ya! Aku juga menyukaimu,bodoh! Maka dari itu aku marah karena kau tidak memberitahu tentang kita pada Ibu-mu "

Sehun merengut sambil mengusap pipinya.
" sekarang aku sudah memberitahu semuanya "

Eun Hyun mengangguk.Ia mengangkat tangan kirinya dan memperhatikan cincin yang melingkar di tangannya.

" sekarang aku tinggal menunggu pembuktian selanjutnya " Ia menatap Sehun " kelanjutan dari cincin ini " ujarnya.

Sehun langsung mengangguk cepat.

" kau mau kita mengadakan resepsi di mana? Bulan madu? Oh! Ibu punya langganan butik keren! Kita pesan disana saja ya? Oiya,bagaimana dengan foto pernikahannya? Kita harus mulai membuat undangan! "

Sehun seketika berceloteh heboh,bahkan Eun Hyun saja yang perempuan hanya dapat memutar bola mata.

" hei jelek! Kumpulkan dulu gajimu! " serunya.

Sehun berhenti mengoceh dan menatap Eun Hyun kaget.

" jangan banyak bicara kalau kau belum punya uang sendiri,cih dasar " Eun Hyun mencibir lalu berdiri dan meninggalkan Sehun yang masih tercengang.

Mengumpulkan gaji?

Apa itu artinya ia harus melakukan kerja full lagi?

Oh,ya ampun.

END

Selasa, 08 Juli 2014

EXO Fanfiction: Lie.

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: School Life,Romance,Fluff

Cast:
- Do Kyungsoo
- Ahn Hee (OC)

Support Cast:
- Byun Baekhyun.

Sebelumnya:
- D'Answer
- Sweet Message.
- He's Jealous!
- Sweet Date.

Disclaimer: Yehet! Selesai yehet! Aku suka Kyungsoo dan sekarang makin suka Kyungsoo :3 Jadi itu alasannya aku ngelanjutin series ini XD Maaf kalo jelek dan gak dapet feel-nya.Enjoy^^

***

Samar-samar aku membuka mataku karena silaunya matahari yang menyusup masuk lewat celah jendela.Aku menguap lebar sambil mengusap-usap mataku.Mengerjapkan mata beberapa kali untuk menormalkan penghilatanku.

" ASTAGA! "

Aku langsung bangkit dari karpet kamarku saat sadar kalau hari sudah mulai siang.

Tidak.

INI MEMANG SUDAH SIANG!

Aku langsung berlari menuju kamar mandi dan membersihkan diri dengan asal.Memakai seragam tanpa memperdulikan kalau seragam ini lupa ku gosok kemarin.Menyisir rambut dengan brutal sampai rasanya rambutku mulai menipis.Aku menyambar tas punggung-ku dan langsung berlari turun ke bawah setelah memakai sepatu tanpa memperdulikan kalau sepatuku tidak sepasang.

" bu,aku berangkat! " seruku tergesa lalu melesat secepat kilat.

Sampai-sampai aku lupa.

" rok ku terbalik! "

***

Aku meringis menahan perih perutku yang belum sempat sarapan pagi ini.Cheon seonsaengnim mengusirku keluar karena aku terlambat satu jam,di tambah penampilanku yang berantakan dan jangan lupakan rok-ku yang terbalik.Aku dihukum berlutut di luar kelas dengan tangan kanan memegang telinga kiri dan tangan kiri memegang telinga kanan.

Sampai bel istirahat.

Aku benar-benar sial pagi ini.

" ada apa denganmu? " Kyungsoo bertanya sambil meneliti wajahku.

Aku menunduk dalam.Aku sangat amat malu karena saat bel istirahat Kyungsoo menghampiriku,dia bahkan yang membantuku berdiri.

" aku menjemputmu dirumah,tapi ibu-mu bilang kau susah bangun dan dia bilang padaku untuk pergi duluan saja "

Aku menghela nafas,berusaha menetralkan rasa takut yang ada di dalam diriku.

" kau tidur pukul berapa? " tanya Kyungsoo.

Aku memejamkan mataku rapat-rapat,berusaha mencari alasan masuk akal untuk orang jenius seperti Kyungsoo.Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku tidak bisa tidur karena mencari Garikja yang hilang entah kemana.

Dia bisa menghabisiku kalau tau cincin itu hilang.

" pukul sembilan " jawabku pelan.

Ku dengar Kyungsoo menghela nafas keras.
" angkat kepalamu! kau itu kenapa sih?! " seru Kyungsoo.

Aku langsung mengangkat kepalaku dan menatap Kyungsoo takut.

" kalau kau tidur pukul sembilan,kenapa bisa terlambat? "

" aku mimpi buruk "

Kyungsoo mengernyit tidak percaya.

" aku baru tau kalau mimpi buruk bisa membuat tidur seseorang nyenyak " ucapnya dengan nada menyelidik.

Aku menelan ludah lalu menatapnya memohon.

" bisakah kita pesan makanan sekarang? Sungguh,perutku perih sekali "

***

Kyungsoo sudah melupakan soal keterlambatanku tadi pagi,aku tau itu.Dia bersikap seperti biasa,datar.Saat ini kami sedang berada di perpustakan hampir tiga jam.Kyungsoo mengawasiku belajar materi ulangan biologi yang ada di kelasku besok.Padahal aku sudah berusaha meyakinkan Kyungsoo kalau aku pasti akan belajar dirumah.Tapi,Kyungsoo tetaplah Kyungsoo,dia menahanku di perpustakaan ini.

Ugh,aku sungguh ingin pulang,aku ingin mencari Garikja ituuuu!

" Ahn Hee-ya "

Aku mendongak menatap Kyungsoo.
" ya? "

Kyungsoo menjulurkan tangannya,menarik tangan kiriku dan memperhatikan jari manisku yang kosong tanpa hiasan Garikja yang selama seminggu ini melingkar disana.

" kemana Garikja yang ku berikan? " tanya Kyungsoo sambil menatapku datar.

Walaupun hanya tatapan datar,aku sungguh takut kalau laki-laki itu tau Garikja-nya hilang.

" ku tinggal di rumah " jawabku cepat sambil menarik tanganku.

Mataku kembali ku tuangkan pada buku biologi membosankan yang ada di hadapanku.Berpura-pura sibuk belajar adalah salah satu cara agar Kyungsoo tidak lagi bertanya soal Garikja itu.

" oh iya! "

Aku kembali mendongak saat Kyungsoo memekik pelan.

" ada apa? " tanyaku penasaran.

" besok bisa temani aku? aku ingin membeli beberapa buku di toko buku,kau juga ingin membeli novel 'kan? " Kyungsoo menatapku.

" tidak bisa! aku tidak bisa! " seruku dengan suara nyaring.Aku mengutuk diriku sendiri yang tidak bisa menahan suara curut ini.

" aku hanya bertanya,kalau tidak bisa yasudah " ucapnya cuek.

Aku hanya dapat meringis pelan,lalu menunduk kembali membaca buku.Diam-diam menghela nafas lega.

Besok aku harus menemukan cincin itu.

***

" lututmu merah " ucap Kyungsoo lalu berjongkok memperhatikan kedua lututku yang memerah

" aahh tidak apa-apa,sebentar lagi juga sembuh " balasku gugup sambil menarik lengan Kyungsoo agar laki-laki itu berdiri.

" sungguh tidak apa-apa? " tanya Kyungsoo.Aku dapat menangkap nada khawatir disana.

Aku mengangguk pelan.
" eum,kau pulang saja "

" kompres dengan air hangat,aku takut lututmu akan bengkak,jangan lupa makan malam,baca kembali materi untuk ulangan besok,lalu langsung tidur,aku tidak mau kau terlambat lagi,itu memalukan "

Aku langsung mengangguk cepat.Dalam hati terus meminta maaf pada Kyungsoo karena telah membohonginya dan tidak mengatakan kalau Garikja yang dia berikan hilang.

" aku pulang,sampai jumpa besok " pamitnya sambil tersenyum tipis.Tangan kanannya terulur mengacak-ngacak rambutku pelan lalu melenggang pergi dari hadapanku.

" aku janji akan menemukan Garikja itu,kyung "

***

Jam besar di dinding menunjukkan pukul 10 lewat 15 menit.Itu berarti aku sudah menghancurkan seisi rumah dalam waktu 3 jam lewat 15 menit.Saat ini aku benar-benar merasa seniman yang berbakat.Aku menghancurkan bentuk seluruh ruangan yang ada di rumah menjadi tidak berbentuk.

Abstrak.

Aku bahkan tidak mempedulikan bagaimana marahnya Ibu saat melihat betapa hancurnya rumah ini besok,yang ku pedulikan sekarang adalah Garikja itu dan perasaan Kyungsoo.

Kyungsoo pasti kecewa kalau dia tau Garikja-nya hilang.

Tubuhku merosot dari atas sofa ruang tamu.Keringat mulai membanjiri seluruh tubuhku,badanku mulai lemas dan perasaanku mulai kacau.Aku mengerang frustasi,mengutuk otak payahku yang dengan mudah melupakan sesuatu.

Seingatku aku masih memakai cincin itu kemarin saat di sekolah,tapi saat aku baru saja selesai ganti baju setelah mandi aku baru sadar Garikja itu tidak lagi melingkar di jari manisku.

Karena terlalu lelah berpikir kedua kelopak mataku mulai berat dan enggan membuka kembali.

Pencarianku kali ini gagal.

***

" ASTAGA APA YANG TERJADI?! "

Aku langsung membuka mataku begitu gendang telingaku menangkap teriakan terkejut Ibu.Aku bangkit dari sofa dan mengintip di depan pintu kamar,Ibu terlihat emosi.

" Pencuri mana yang melakukan ini?! " serunya emosi.

Aku mengintip takut-takut dari balik pintu,Ibu benar-benar marah sedang Ayah terlihat bingung bukan kepalang.Ayah dan Ibu keluar dari kamar dan mereka terlihat amat sangat terkejut melihat keadaan ruang tamu yang sangat jauh dari kata rapi.

" astaga,Ibu tidak sanggup melihatnya " gumam Ibu lemas.

Aku yang berada di samping Ibu menatapnya takut-takut.Aku salah tidak mempedulikan kemarahan Ibu,aku sudah membuatnya emosi di pagi hari.

" Bu… " panggilku pelan.

" apa?! " sahutnya ketus.

Aku menelan ludah.
" aku tau siapa yang melakukan ini " gumamku pelan sambil menundukkan kepala dalam.

" kau tau?! Sungguh?! Siapa?! "

Aku menarik nafas panjang.Baiklah,aku tau aku benar-benar akan ketiban sial pagi ini.

" aku Bu "

***

" hei " seruku pelan sambil tersenyum tipis pada Kyungsoo yang duduk di teras.

Kyungsoo berdiri dari kursi dan melongok ke dalam rumah dengan pandangan bingung.

" rumah-mu? " tanyanya.

Aku mengangguk-anggukan kepala paham.Ibu memarahiku habis-habisan setelah aku menceritakan semuanya.Dia berkata akan memotong uang jajanku 75% bulan ini.Aku tidak protes karena itu memang salahku,lagipula aku juga memohon pada Ibu untuk tidak mengatakan apapun pada Kyungsoo.

" kerja bakti,yaa—Ibu bilang ada keluarga yang akan kemari jadi rumahku sedang di bersihkan " jawabku.

Kyungsoo mengangguk pelan.

" semalam kau kemana? kenapa teleponku tidak kau angkat? "

Aku memejamkan mata,semalam aku benar-benar mengabaikan seluruh panggilan Kyungsoo.

" belajar,aku belajar,hehehe "

Kyungsoo hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bergumam ' ohh '.

' Maaf Kyungsoo,aku sungguh menyesal '

***

Soal-soal biologi hanya membuat kepalaku bertambah pusing,aku memang belajar di perpustakaan bersama Kyungsoo,tapi ingatanku hilang karena terlalu memikirkan Garikja yang tidak kunjung ku temukan.

" Ahn Hee,kau sakit? "

Aku mendongak menatap Song seonsaengnim yang berseru padaku.

" wajahmu pucat,apa kau sakit? " ulangnya.

Aku menangguk pelan,aahh akhirnya ada cara untuk tidur.

" yasudah,kau ke ruang kesehatan,kau ikut ulangan susulan lusa " petuahnya.

Aku bangkit dari kursiku dan berjalan pelan keluar kelas.Ternyata masih ada orang baik seperti Song seonsaengnim.

***

Pintu ruang kesehatan bergeser memunculkan seorang laki-laki yang menghampiriku dengan senampan bubur dan air putih.

" anak-anak bilang kau disini,jadi aku bawakan ini untukmu " ucap Kyungsoo sambil meletakkan nampan berisi bubur dan air putih itu di nakas.

Kyungsoo menatapku khawatir.

" kau baik-baik saja? " tanyanya.

Aku mengangguk pelan.

Laki-laki itu menjulurkan tangannya dan meletakkan punggung tangannya di dahiku.

Sungguh,aku tidak baik-baik saja kalau seperti ini.

" suhu tubuhmu panas,apa perlu aku mengantarmu pulang? "

" tidak usah,aku hanya sedikit pusing "

" baiklah,sekarang makan bubur-nya " Kyungsoo mengambil mangkok yang berada di atas nampan.

" katakan 'aaa' " Kyungsoo menjulurkan sendok berisi bubur ke depan mulutku.

" Kyung—aku bisa makan sendiri "

Aku tidak bisa berhadapan dengan sikap lembut Kyungsoo saat ini.Itu membuatku semakin merasa bersalah,akhir-akhir ini laki-laki itu sangat hangat padaku.Dan sekarang,aku malah berbohong padanya.

" bisa turuti apa kataku dan tidak banyak protes? kau cerewet sekali "

Aku merengut.
" baiklah "

***

" kau pulang duluan saja " ucapku saat Kyungsoo kembali menghampiriku di ruang kesehatan saat pulang sekolah.

Kyungsoo mengernyit bingung.
" kenapa? "

" aku ada pelajaran tambahan dengan Cheon seonsaengnim karena waktu itu aku tidak mengikuti pelajarannya " jawabku.

Kyungsoo berdecak.
" izin saja,kau 'kan sedang sakit,lagipula dia hanya mengajar kelas keputrian,kenapa harus ada pelajaran tambahan,sih?! "

Aku menelan ludahku,berusaha bersikap biasa saja padahal kau gugup bukan main adalah hal yang sulit.Sama sulitnya dengan menerima kenyataan kalau hari ini ada ulangan matematika mendadak.

" tidak usah,aku sudah baik-baik saja,sungguh! kau pulang saja duluan,bukannya kau ingin ke toko buku? "

Kyungsoo mendengus.

" jaga dirimu,kalau kau tidak enak badan,telepon keluargamu atau aku dan tunggu disini,jangan telepon siapapun " petuahnya.

Aku mengangguk.

" baik,ssaem,hehehehe "

***

Kali ini lokasi pencarianku selanjutnya adalah sekolah.Aku yakin aku menghilangkan Garikja itu disini,karena saat aku buang air kecil di toilet perempuan saat pulang sekolah Garikja itu masih ada,tapi saat selesai mandi dirumah Garikja itu sudah tidak ada.

" Ahn Hee? "

Aku menoleh ke belakang saat ada yang memanggil namaku.Itu Baekhyun,laki-laki itu tersenyum lebar sambil berjalan ke arah ku.

" kau belum pulang? ini sudah pukul lima sore " ujarnya.

Aku menggeleng.

" belum,aku harus mencari sesuatu yang hilang "

" boleh aku membantu? " Baekhyun bertanya dengan hati-hati.Mungkin Baekhyun takut aku menolaknya mentah-mentah.

" tentu boleh,aku senang kau mau membantuku "

Baekhyun hanya tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi dan juga eye smile-nya yang menawan.

***

" aku dengar kau sakit? " Baekhyun memecah keheningan saat kami sedang mencari Garikja itu di semak-semak taman sekolah.

" kau dengar dari siapa? "  aku balik bertanya.Tanganku terjulur semakin masuk ke dalam semak-semak,siapa tau Garikja itu nyangkut di salah satu daun.

" eum—hanya tidak sengaja mendengar " sahutnya.

" aku tidak sakit,mungkin kau salah dengar,hahahaha—aww sakit! "

Aku memekik kencang saat merasa telapak tanganku tertusuk sesuatu.Aku mengeluarkan tanganku dari dalam semak-semak dan menemukan ranting kecil tertancap di telapak tangan kananku.

" apa aku salah dengar? " Baekhyun bertanya tenang.Dia menarik tangan kananku lembut,memperhatikan ranting kecil yang sedang menancap di telapak tanganku dengan alis bertaut.

Mungkin Baekhyun sedang berpikir.

" aku sedang berpikir bagaimana cara yang tepat mencabut ranting kecil ini agar kau tidak merasa sakit " ujar Baekhyun.

Aku tertawa kecil.Baekhyun selalu punya cara membuat orang lain tertawa.

Baekhyun mencabut ranting kecil itu dengan hati-hati lalu membuangnya ke sembarang tempat.Dia menatapku khawatir.

" bagaimana? sakit? " tanyanya.

" tidak terlalu " jawabku sedikit meringis.

Ku lihat Baekhyun merogoh kantung celananya dan mengambil plaster disana.Memasang plaster berwarna biru tua dengan motif roket itu di telapak tanganku.

" Baekhyun " panggilku pelan.

Baekhyun mengangkat kepalanya,menatapku.

" terimakasih " ujarku tulus dengan senyum terbaik yang ku punya.

Baekhyun berdehem lalu mengangguk,tangan kanannya menggaruk tengkuknya.Aku dapat melihat telinga dan pipinya mulai bersemu merah.

" kau masih mau membantuku 'kan? " tanyaku.

Baekhyun mengangguk dengan senyum lebarnya.

" tentu,aku senang bisa membantumu,Ahn Hee "

***

Aku dan Baekhyun berpindah tempat,saat ini kami berada di luar sekolah,tepatnya di semak-semak belukar yang ada di depan sekolah.

" biar aku saja yang mencarinya,kau bilang Garikja itu berwarna putih bermotif bunga 'kan? "

Aku mengangguk.

" baiklah,tunggu sebentar,Nona "

Aku berdiri di belakang Baekhyun sambil memperhatikannya yang sibuk mencari Garikja itu.

" Baek— " panggilku pelan.

" apa? " Baekhyun menyahut tanpa menoleh.

" aku minta maaf soal Kyungsoo yang melabrakmu " ucapku.

" ohh itu,dia memang pantas melakukannya,aku saja yang tidak tau diri,hahahaha " balasnya santai.

Tawa Baekhyun tidak sama.

" maaf aku membuatmu merasakan sakit hati,jika aku dapat membalas perasaanmu aku pasti akan membalas perasaanmu,tapi aku— "

Baekhyun tiba-tiba berbalik badan dan tersenyum hangat padaku.

" jangan membuatku mendengar itu lagi,cukup sekali aku mendengarnya " ujarnya.

" maaf " ucapku pelan sambil menunduk.

" permintaan maaf di terima "

Baekhyun berujar sambil menjulurkan telapak tangannya.

HEI! ADA GARIKJA KU DI SANA!

Aku menatap Baekhyun dengan mata berbinar.

" Baek! Kau menemukannya! " seruku senang.

Baekhyun mengangguk.

" yep! panggil aku Bacon kalau aku tidak bisa menemukannya " candanya.

Aku dan Baekhyun sama-sama tertawa.Tanganku terjulur mengambil Garikja itu dan memasangnya di jari manisku sendiri.

" apa Garikja itu sangat berarti untukmu? sampai-sampai kau rela terluka? " tanya Baekhyun.

Aku mengangguk.

" menghilangkannya sama saja mengecewakan Kyungsoo " jawabku memandangi Garikja yang sudah melingkar di jari manisku.

Aku mendengar Baekhyun menghela nafas.Membuatku mendongak dan menatapnya khawatir.

Raut wajah Baekhyun sama seperti saat aku menolaknya.

" Baek—aku— "

Baekhyun tersenyum lebar.

" jadi,di restoran mahal mana kau akan menraktirku? "

Aku tersenyum.

" terserah tuan Byun saja,akan ku turuti "

Aku terdiam,kenapa aku berkata seperti itu? Uang jajanku 'kan di potong 75% karena menghancurkan seisi rumah.

" hahahaha aku bercanda,Ahn Hee " tawa Baekhyun meledak.

Aku merengut.

" oho! Bercanda-mu membuat dompetku menjerit,Baekhyun " sahutku.

Baekhyun tertawa.

" aku tidak mau di traktir "

Aku menatapnya bingung.

" lalu apa yang kau inginkan,jangan bilang kau— "

" apa sekarang Cheon seonsaengnim berubah jadi laki-laki dan lebih pendek? "

Aku dan Baekhyun kompak menoleh ke belakang.

Ada Kyungsoo yang berdiri dan menatap kami tajam.

" Kyung—ku pikir kau salah paham " ucapku terbata.

Kyungsoo menyunggingkan satu sudut bibirnya.
" salah paham? bahkan aku tidak berpikir apapun "

Aku menunduk,Kyungsoo jelas terlihat marah padaku.

" Kyungsoo,tadi aku hanya membantu Ahn Hee,sebagai teman aku hanya membantunya " Baekhyun angkat bicara.

" yeah,terimakasih atas bantuanmu,kau memang teman yang baik Baekhyun-ssi " balas Kyungsoo sarkastik.

" ayo kita pulang,Ibu-mu meneleponku,dia bilang kau harus segera pulang dan membereskan kekacauan yang kau buat di rumah karena mencari Garikja itu "

Aku mendongak dan melihat Kyungsoo yang berjalan mendahuluiku.Aku menghela nafas berat.

" kau tidak apa-apa? " tanya Baekhyun lembut.Tangannya menepuk pundakku pelan.

Aku mengendikkan bahu.

" aku hanya perlu do'a-mu,do'a kan semoga semua baik-baik saja,Baekhyun "

***

Aku hanya dapat mengekori Kyungsoo tanpa berani berucap.Meminta maaf-pun rasanya percuma karena saat ini aku hanya di anggap sebagai daun kering yang bertebangan di musim gugur.

" apa sekarang kau pintar berbohong? "

Aku berhenti berjalan saat suara Kyungsoo terdengar.Kyungsoo berbalik dan menatapku dalam.

" sudah berapa kali kau berbohong padaku? "

Aku menelan ludah.Rasanya saat ini aku benar-benar seperti pencuri helm di parkiran sekolah yang tertangkap oleh satpam sekolah.

" hari ini dan kemarin,apa semua perkataanmu juga berbohong? apa selama ini kau sering membohongiku? "

Aku mendongak,sedikit terkejut karena kali ini bukan tatapan tajam yang Kyungsoo tunjukkan.Bukan pula tatapan datar yang ku lihat setiap hari.

Kyungsoo menatapku kecewa.

" aku hanya tidak ingin kau kecewa karena tau aku menghilangkan Garikja itu " ujarku.

Kyungsoo menghela nafas.

" kalau kau pikir dengan kau berbohong aku tidak kecewa maka aku anggap kau benar-benar bodoh,aku sungguh kecewa " ujarnya dengan nada rendah dan dalam.

Aku menunduk,menyembunyikan kedua mataku yang sudah berkaca-kaca.Hatiku serasa mencelos saat melihat tatapan kecewa Kyungsoo,di tambah dia bilang kalau dia sungguh kecewa.

Demi Tuhan,aku tidak pernah ingin membuat Kyungsoo kecewa padaku.

" kalau Garikja itu hilang seharusnya kau bilang padaku,apa aku terlihat akan memakanmu hidup-hidup kalau tau Garikja itu hilang? " tanya Kyungsoo.

Aku menggeleng pelan sebagai jawaban.

" apa aku terlihat seperti akan meninggalkanmu begitu saja saat Garikja itu hilang? "

Aku mendongak menatapnya dengan alis bertaut.

Jadi?

" banyak penjual Garikja di Seoul,aku bisa membelikannya lagi untukmu " ujarnya.

Perlahan bibirku melengkung ke atas.

" kau tidak perlu tidak tidur semalaman hanya untuk Garikja itu,kau tidak perlu merepotkan Ibu-mu dengan menghancurkan seisi rumah,kau tidak perlu— "

Aku menunggu Kyungsoo yang tiba-tiba saja berhenti melanjutkan kalimatnya.Dia menaikkan tangan kanannya,mengusap tengkuknya.

" bersamaBaekhyunmalammalambegini " ucapnya cepat dan pelan.

Oh astaga,aku bahkan mengira Kyungsoo sedang berkumur sekarang.

" hei,Prof.Kalau bicara itu yang jelas " protesku.

Kyungsoo mendengus.Lalu mengibaskan tangannya di depan wajahnya sendiri.

" ahh sudahlah,lupakan "

Laki-laki itu berkacak pinggang,kembali menatapku dengan tatapan mengintimidasi.

" 'kan sudah ku bilang,kalau ada sesuatu beritahu keluargamu atau aku,bukan siapapun,apalagi Baekhyun " ujarnya.

" aku tidak memberitahu Baekhyun! " bantahku.

" oho! anggaplah kau tidak memberitahu Baekhyun " ucapnya lalu kembali berjalan.

Aku membuang nafas kasar sambil berjalan kembali mengikuti Kyungsoo.

" Kyung,aku minta maaf! " seruku.

" sudahlah,lupakan saja " sahutnya datar.

" aku tau aku salah,aku berbohong padamu,aku minta maaf! "

Kyungsoo kembali berhenti membuatku juga ikut berhenti.Dia berbalik dan menatap kebawah.

" lututmu bengkak,kau tidak mengompresnya? " tanyanya.

" eoh? itu— " Aku menunduk dalam " maaf aku tidak sempat mengompresnya karena mencari Garikja itu " jawabku pelan.

Kyungsoo kembali berbalik badan dan berjongkok.

" naiklah,aku akan menggendongmu " suruhnya.

" apa? "

Kyungsoo menoleh,menatapku gemas.
" cepat naik! "

Aku mengangguk lalu melingkarkan tanganku di lehernya.Kyungsoo menggendongku.

" tanganmu? " tanyanya sambil memegang telapak tanganku yang tertempel plaster.

" ohh…tadi tertusuk ranting,Baekhyun yang menolongku dan menempelkan plaster itu " jawabku.

Aku menatap wajah Kyungsoo dari samping yang terlihat kaku.

" seharusnya malam ini aku yang menemanimu mencari Garikja itu,seharusnya kita mencarinya bersama-sama " ujarnya datar.

" kau pasti akan terbebani kalau aku menceritakan masalah ini padamu,kau pasti kecewa " balasku.

" aku lebih kecewa saat tau kau mencarinya dengan Baekhyun,hei itu Baekhyun! Byun Baekhyun yang pernah menembakmu di kantin! Ohh pasti dia mencuri kesempatan dengan alasan ingin membantumu " cerocos Kyungsoo.

Aku tertawa kecil,menyadari sesuatu.

Hal ini terjadi lagi.

" Hei Kyung " panggilku.

" apa? "

Kyungsoo menoleh menatapku.

Pandangan kami bertemu,aku tersenyum jahil.

" kau cemburu? "

" eoh? " Matanya membulat sempurna.

" kau cemburu karena aku mencari Garikja itu dengan Baekhyun? Iya 'kan? Iya 'kan? " godaku.

" ehm,tidak! " elaknya.Kyungsoo kembali berjalan.

" aahh—kalau kau memang tidak cemburu,apa kau mau mendengar ceritaku selama bersama Baekhyun tadi? "

Kyungsoo berdecak.

" diam! kau berisik! " serunya.

" Hahahahaha,benar 'kan? Kau cemburu 'kan? Iya 'kaaaannnnn?? "

Lagi-lagi Kyungsoo berhenti berjalan,dia menoleh menatapku tajam.

" diam,atau ku turunkan kau disini? " ancamnya.

" cih,coba saja kalau berani? Lagipula kalau kau menurunkanku dan meninggalkanku disini masih ada Baekhyun yang mau menjemputku,aku masih punya— "

Kalimatku terhenti begitu saja,tertahan di ujung tenggorokan.Aku merasa sulit bernafas detik ketika Kyungsoo menciumku sekilas.

" kau masih punya apa? coba teruskan ucapanmu kalau berani " ucapnya datar.

" Kyung— "

" apa? "

" kau mencuri ciuman pertamaku "

END

Senin, 30 Juni 2014

EXO Fanfiction: Be a Ssang Namja.

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: Friendship,Romance-maybe-

Cast:
- Oh Sehun
- Cho Eun Hyun (OC)

Support Cast:
- Kim Jongin
- Cho Khyuhyun

Disclaimer: akhirnya jadi jugaaaaaaaa,ini permintaan orang yang sama seperti sebelumnya,temenku tercintah *asek* Hirza Qalby Tazkia.Maaf kalo gak dapet feel-nya atau kurang berkenan.Enjoy^^

Sebelumnya :
- Half Of My Heart
- All About Him
- Goodbye Summer

***

Sepasang mata itu mengerling menatap roda pesawat yang mulai bergesekan dengan aspal bandara lewat jendela pesawat.Setelah duabelas jam ia duduk manis di pesawat,menghabiskan setengah dari harinya untuk berdiam diri memandangi langit,kini saatnya ia menghirup udara tanah kelahirannya yang tiga tahun ditinggalkannya.

" yeah,i'm backkk!! "

Perempuan berambut panjang bergelombang dengan tinggi semampai itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.Bibirnya menyungging lebar memperhatikan orang-orang yang juga lalu-lalang turun dari pesawat.

Setelah melewati beberapa pemeriksaan oleh petugas,perempuan itu berhenti berjalan dan meletakkan satu tangannya di atas kedua alisnya; mencari seseorang yang menjemputnya.

Ponselnya berdering tanda telepon masuk.Perempuan itu merogoh kantung jins-nya dan menggeser tombol berwarna hijau itu.

" Ya! Kau dimanaaa?! "

Perempuan itu meringis sambil menjauhkan telinganya dari ponsel saat panggilannya di sambut dengan seruan yang menyakitkan gendang telinganya.

" aish! Bisa tidak kau tidak berteriak padaku,huh?! " sungut perempuan itu.

" baiklah,baiklah,sekarang kau dimana? pakai baju apa? " laki-laki di seberang sana mulai bertanya lembut.

Perempuan itu menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri berusaha mencari petunjuk masuk akal yang dapat ia katakan kepada si laki-laki itu agar dapat menemukannya.

" aku berdiri di dekat toko Bubble Tea,dan baju yang ku pakai sekarang adalah kaus lengan panjang warna abu-abu dan celana jins "ujarnya.

" eoh? Toko Bubble Tea? "

" hmm "

tut.

Perempuan itu mengernyit heran manakala sambungan teleponnya di putus begitu saja.

" Oh Sehun ini gila atau apa? kenapa dia mematikan teleponnya? " gerutunya kesal.

Perempuan itu meniup poni-nya pasrah,terserah laki-laki bernama Oh Sehun itu akan kebingungan mencarinya di seluruh sudut di bandara ini,yang terpenting ia harus segera pulang dan merebahkan diri di kasur empuknya.

Baru saja tangannya akan kembali menggeret koper biru dongker-nya mata lebih dulu menangkap siluet sosok tinggi yang berjarak empat meter dari tempatnya berdiri.Laki-laki tinggi berambut coklat gelap dengan poni sampingnya memakai kaus putih yang di lapisi jaket berwarna biru laut serta celana jins.Laki-laki itu tersenyum menunjukkan eyesmile-nya sambil melambaikan tangan.

" EUN HYUN-ah! EUN HYUN-ah! "

Sehun berseru sambil melompat-lompat kecil dari tempatnya,berharap kalau orang yang di panggilnya itu merespon panggilannya.

Kaki-kaki panjangnya melangkah lebar dengan senyuman yang tidak kalah lebar menunjukkan deretan gigi putihnya.Sehun merentangkan tangannya lalu membawa Eun Hyun kedalam dekapannya,memeluk perempuan-yang masih tidak bergerak itu-erat.

" aku merindukanmu,sungguh aku merindukanmu "

Tubuh Eun Hyun terasa hangat dan lemas saat Sehun membisikan kalimat itu di balik punggungnya.Kedua tangannya yang sedari tadi diam kini perlahan naik ke atas punggung Sehun.

" hmm,aku juga,Sehun "

***

Setelah puas melepas rasa rindu masing-masing Sehun dan Eun Hyun memilih langsung pulang.Sehun langsung mengambil alih koper Eun Hyun dan berjalan mendahului perempuan itu.

" hei,Sehun " panggil Eun Hyun saat mereka sudah di dalam mobil.

" apa? " Sehun menyahut ia memalingkan wajahnya menatap Eun Hyun dengan eskpresi luar biasa senangnya.

Percaya atau tidak,ini adalah hari yang paling di tunggu Sehun selama tigatahun terakhir.Ini hari-nya seorang oh Sehun.

Eun Hyun yang di tatap mata mengerling Sehun langsung menelan ludah sambil mengerjapkan matanya.Tigatahun berkomunikasi dengan Sehun lewat telepon atau skype membuatnya lupa cara menjaga sikap di depan Sehun.

" kau sekarang kerja? " tanya Eun Hyun setelah menormalkan detak jantungnya.

Sehun mengangguk lalu kembali fokus ke depan.

" kerja apa? "

" pelatih dance "

Eun Hyun mengernyitkan dahi-nya menatap sisi wajah Sehun tidak percaya.Oh Sehun koreografer?

" jangan bilang kau lupa kalau aku memang suka menari " ucap Sehun sambil mengerucutkan bibirnya.

Eun Hyun menggeleng cepat.Bukan lupa,hanya tidak percaya Sehun benar-benar menjadi pelatih dance.Eun Hyun kira bocah itu hanya bercanda saat dulu mengatakan kalau ia ingin menjadi pelatih dance suatu saat nanti.

Eun Hyun hanya kurang percaya Sehun bisa se-konsisten itu.

" kau sendiri? apa yang akan kau kerjakan di sini? " tanya Sehun.

Eun Hyun meletakkan telunjukkan di bibir,alisnya bertaut.Ia sedang berpikir.

" dokter "

" dokter? Kau akan menjadi dokter? " Sehun berteriak heboh.

" yep! dokter,teman Ayahku bekerja di rumah sakit Seoul,dia menawariku bekerja disana  "

" wahh,kalau begitu nanti aku akan jadi pasienmu,pasien pertama Cho Eun Hyun "

Eun Hyun menoleh " memangnya kau sakit? kalau kau tidak sakit kau tidak bisa menjadi pasienku,Sehun "

" aku sakit,aku akan sakit saat kau menjadi dokter,aku akan sakit supaya kau merawatku " ucap Sehun masih fokus melihat ke depan.

Sehun menolehkan kepalanya,menatap Eun Hyun sambil tersenyum lebar.

" pokoknya aku harus menjadi pasien pertama mu,tidak mau tau bagaimanapun caranya,aku harus menjadi pasien pertamamu! "

***

Eun Hyun tersenyum saat melihat bayangan dirinya di cermin besar yang menyatu dengan pintu lemari pakaiannya.Jas putih dokter terlihat begitu cocok di tubuh rampingnya.

Eun Hyun menyematkan jepit rambut berwarna putih bermotif bunga berwarna biru di sudut kiri rambut gelombangnya.Jepit rambut yang Sehun berikan padanya sebagai kado ulang tahunnya yang ke limabelas.

Sehun memang pelit soal kado.

Tapi tetap saja Eun Hyun menyukai apapun yang Sehun berikan padanya,bahkan Eun Hyun suka greeting card buatan Sehun yang ia buat dari kertas karton.Walaupun kelihatannya seperti anak sekolah dasar-Sehun menggambar balon di setiap sudutnya dan tulisan laki-laki itu yang jauh dari kata bagus-tapi Eun Hyun tetap menyukainya.

" aish! kemana bocah itu?! "

Eun Hyun menggerutu kesal karena Sehun yang tidak kunjung memunculkan batang hidungnya.Semalam bahkan Sehun sangat bersemangat dan mengatakan ia akan mengantar Eun Hyun ke rumah sakit dan menjadi pasien pertamanya.

Tapi kenyataannya?

" bahkan kau tidak menjawab teleponku,dasar mulut besar "

Dan dengan satu dengusan kesal Eun Hyun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit menaiki bus.

***

Bunyi roda ranjang pasien yang di dorong oleh beberapa suster menggema di seluruh sudut lorong rumah sakit.Seorang laki-laki muda yang terluka parah terlihat tidak berdaya di atasnya.Para suster-suster itu memasukkannya ke dalam ruang ICU.

" bagaimana ini?! dokter-dokter belum ada yang datang,ini masih terlalu pagi.Apa yang harus kita lakukan?! " seru seorang suster yang memakai kacamata dengan nada panik yang sangat kentara.

Suster yang bertubuh gempal juga tidak kalah panik,ia menggigit bibir bawahnya sambil menatap laki-laki muda yang terluka parah.

" Ya! Jangan diam saja,cepat lakukan sesuatuuu!! " seru suster lain yang bertubuh kurus.

" aku akan keluar,siapa tau ada dokter yang baru datang " usul suster bertubuh gempal tadi.Ia berlari keluar ruang ICU setelah mendapat anggukan dari teman-temannya.

Suster bertubuh gempal itu terus berlari,berharap ada seorang dokter yang baru datang dan menyelamatkan nyawa laki-laki tadi.Ia dan teman-temannya hanya suster jaga yang bertugas mengecek kondisi pasien; memeriksa tekanan darah,cairan infus,menyuntikkan vitamin,memberi makanan sesuai jam-nya.Bukan suster-suster yang biasa mendampingi dokter saat melakukan tindakan.

" Dokter! Dokter! "

Suster itu berteriak kencang saat melihat perempuan tinggi memakai jas dokter memasuki rumah sakit.Ia berlari ke arah perempuan itu.

" Dokter..hhh..tolong..hhh..ada..hhh..pasien..hhh...terluka...hhh "

***

Sehun membuka matanya perlahan,matanya terbelalak saat melihat cahaya matahari yang sudah luar biasa terang di luar sana.Ia langsung menyibakkan selimut dan meraih ponsel yang berada di nakas-nya.

" ah sial! " umpatnya kesal.

Tujuhbelas panggilan tidak terjawab dan lima pesan.

From: Eun Hyun.
05:56
Aku berangkat naik bus.

Sehun mendudukkan tubuhnya di kasur sambil menghela nafas kasar.Menyesal karena semalam tidur terlalu larut hanya karena menonton piala dunia.

" apa aku masih bisa menjadi pasien pertamanya? "

***

Eun Hyun menghela nafas panjang,ia baru saja melakukan penanganan terhadap pasien pertamanya.Seorang laki-laki muda berkulit agak gelap yang terluka parah.Suster-suster itu mengatakan kalau laki-laki muda itu berjalan terseok-seok ke rumah sakit pagi-pagi buta dengan luka lebam di wajah serta luka tusuk di perutnya.

" apa dia gangster? " gumam Eun Hyun sambil memandangi wajah damai laki-laki yang sedang memejamkan matanya itu.

" eung... "

Eun Hyun membulatkan matanya saat mendengar lenguhan yang keluar dari bibir laki-laki itu.Perlahan kedua kelopak mata itu terbuka,memunculkan sepasang bola mata berwarna coklat gelap yang indah.

Laki-laki itu mengerjap pelan,bola matanya langsung mengarah pada perempuan yang tersenyum memandangnya.

" apa anda baik-baik saja? " tanya Eun Hyun lembut.

Laki-laki itu diam tidak menjawab,ia hanya memandang bingung kepada Eun Hyun.

" Saya dokter yang menangani anda,Jongin-ssi.Nama saya Cho Eun Hyun " ucap Eun Hyun yang sadar jika laki-laki itu mungkin bingung dengan dirinya.

" kau tau namaku? " tanya laki-laki itu dengan suara serak.

Eun Hyun menggaruk tengkuknya sambik meringis.

" maaf,saya memeriksa dompet anda,rumah sakit ini butuh identitas anda "

Laki-laki bernama Jongin itu hanya mengangguk pelan.

" anda benar-benar baik-baik saja sekarang? Apa ada yang sakit? "

Jongin mengangguk pelan.
" perutku terasa kaku "

Eun Hyun tersenyum memaklumi.
" perut anda harus di jahit karena mengalami luka sobek,Jongin-ssi " ungkap Eun Hyun.

" terimakasih sudah menolongku " ujar Jongin dengan senyum tipis di balik bibir pucatnya.

***

" aku minta maaf tidak menjemputmu kemarin pagi,aku sungguh-sungguh kesiangan "

Sehun terus saja berseru sambil mengekor di belakang Eun Hyun yang mengacuhkannya sejak dia datang mengunjungi Eun Hyun di rumah sakit.

" aku harus melakukan apa supaya kau berhenti mengacuhkanku? " tangan besar Sehun menarik lengan kurus Eun Hyun,memaksa perempuan itu untuk berbalik menghadapnya.

" aku ingin memeriksa pasien pertamaku,Sehun.Bisa berhenti mengikutiku? " Eun Hyun bertanya dengan dingin.

Pegangan tangan Sehun langsung lepas detik ketika Eun Hyun menyebutkan kalimat 'Pasien Pertama'.Apa dia sudah terlambat sekarang?

" kau—sudah memiliki pasien? " tergagap,Sehun bertanya.

Eun Hyun mengangguk.

" dan itu bukan dirimu "

***

Eun Hyun menghela nafas berkali-kali untuk meredakan malu yang ada di dalam dirinya.Sehun bersikeras ikut dengannya untuk bertemu dengan pasien pertama Eun Hyun.

" bagaimana Jongin-ssi,apa ada keluhan lain? " Eun Hyun bertanya lembut sambil memegang tangan Jongin.

Jongin tersenyum sambil menggeleng.
" tidak,aku merasa lebih baik sekarang " jawabnya.

Sehun mendengus melihat pasien pertama Eun Hyun adalah seorang laki-laki.Terlebih sikap Eun Hyun yang sangat lembut dengannya,berbanding terbalik dengan Eun Hyun yang selalu meneriakinya.

" bisa kita pindah ke pasien lain? lama sekali " ucap Sehun dengan ketus.Kedua tangannya terlipat di depan dada.

Eun Hyun menoleh ke belakang dan memberi Sehun tatapan tajam.Mengisyaratkan laki-laki itu untuk menjaga mulutnya.

" apa? aku bosan disini " ucapnya membalas santai pelototan Eun Hyun.

Eun Hyun menghela nafas sekali lagi,ia tersenyum canggung pada Jongin.

" maaf Jongin-ssi,dia itu pasien gangguan saraf,jadi maklum kalau bicaranya sedikit kasar " ucapnya.

Sehun melotot kaget mendengar ucapan Sehun barusan,pasien gangguan saraf? Maksudnya apa?.Ia mendengus kesal,ia tau laki-laki bernama Jongin itu sedang menahan tawanya.Sehun paling tidak suka jika ada orang yang menertawakannya seperti itu.

" aku pulang! "

***

Eun Hyun menghabiskan setengah hari dari kerja-nya di ruang rawat Jongin.Hampir setiap hari ia selalu menemani Jongin,ia baru tau kalau Jongin kemarin terlibat perkelahian dengan teman-temannya.Jongin seorang player.

" orang tuamu? " Eun Hyun bertanya sambil menyodorkan potongan apel ke mulut Jongin.

Jongin mengendikkan bahunya.
" entah,mereka mengusirku dan terus mengumpatiku.Katanya aku anak yang tidak berguna. " jawabnya santai.

Eun Hyun menelan potongan apel yang ada di dalam mulutnya lalu menggenggam tangan Jongin.

" ku rasa kau perlu minta maaf pada orangtua-mu,bagaimanapun juga mereka yang selama ini membesarkanmu dengan susah payah " ujarnya.

Jongin menelan ludah,baru kali ini ada perempuan yang berani menasihatinya,selama ini ia hanya mengencani perempuan-perempuan centil yang kerjaannya hanya berdandan di depan kaca.

Dengan seulas senyuman manis Jongin mengangguk.

" kau benar,aku akan melakukannya "

***

" itu dari siapa? "

Eun Hyun menghampiri sang kakak yang sedang menonton tv.Di atas meja terdapat buket bunga mawar putih cantik.

" Sehun,dia yang memberikannya " jawab Kyuhyun.

Eun Hyun mengernyit tidak percaya lalu mengangkat buket bunga itu.Membaca pesan singkat yang terdapat di kartu yang ada di dalamnya.

Bunga ini ku beli menggunakan gaji pertamaku,semoga kau menyukainya ^^~

-Oh Sehun-

Eun Hyun tersenyum membacanya,ia merogoh ponsel yang ada di saku blazer putihnya dan menekan tombol satu.

Panggilan cepat,Sehun berada di nomor satu.

" Terimakasih " Eun Hyun berkata lembut ketika teleponnya diangkat.

" untuk? " tanya Sehun dengan nada bingung.

" bunganya,aku menyukainya " jawab Eun Hyun.

Sesaat Sehun tidak mengeluarkan suara.

" Sehun? Kau masih disana kan? Tidak tidur kan? "

" eoh? Tidak,syukurlah kau menyukai bunga itu "

Eun Hyun tersenyum.

" tentu aku menyukainya "

Tut.

Eun Hyun mengernyitkan dahinya,kenapa Sehun senang sekali memutuskan telepon seenaknya?

***

Siang ini Sehun meminta Eun Hyun untuk menemaninya makan siang di taman dekat rumah sakit.Laki-laki itu datang membawa dua kotak bekal yang katanya itu adalah hasil masakannya sendiri.

" kalau hanya menggoreng nugget aku juga bisa,Sehun " komentar Eun Hyun sambil menyumpit nugget rasa spicy ke mulutnya.

" orang bilang jangan lihat hasilnya tapi lihat prosesnya,kau tidak tau kan bagaimana rasanya menggoreng nugget? itu menyeramkan,bayangkan resikonya,aku bisa terkena minyak panassss! " ujar Sehun dengan nada di lebih-lebihkan.

Eun Hyun hanya mencibir mendengarnya.Ia mulai curiga kalau Sehun pasti memakai helm saat memasak nugget ini.

" kau tau Jongin? Dia ternyata laki-laki yang menyenangkan "

" tidak ada laki-laki yang lebih menyenangkan dariku " sahut Sehun cuek.

" kau itu manja dan tukang ngambek,Sehun.Bagaimana kau bisa menyebut dirimu menyenangkan? " balas Eun Hyun.

" dulu saat kita di mall kau bilang walaupun aku punya banyak segudang sifat buruk tapi aku tetap menyenangkan " ucap Sehun tidak mau kalah.

Eun Hyun menelan ludahnya.Tiba-tiba ia merasa sulit bernafas,kejadian itu sudah tiga tahun yang lalu,dan Sehun masih mengingatnya.

" itu dulu Sehun "

Sehun menahan nafasnya,dulu? apa semuanya sudah berubah? apa ia terlambat?

***

Eun Hyun mulai membenarkan perkataan nya tentang Sehun adalah seorang pasien gangguan saraf.Sebab,akhir-akhir ini Sehun terlihat seperti 'bukan Sehun'.Laki-laki itu merubah penampilannya,terlihat lebih dewasa sekarang.Setiap pagi mengantar Eun Hyun ke rumah sakit,mengantar bekal makan siang yang sekarang menunya sudah mulai meningkat dari pada saat pertama,udang goreng tepung.Lumayan bukan?.Sehun juga tidak lagi menonton kartun kesukaannya,dia lebih suka menonton berita sekarang.

Singkat kata,Sehun berubah menjadi laki-laki sesungguhnya.

Tidak lagi manja.

" kau masih berhubungan dengan Jongin? " tanya Sehun.

Malam itu,ia dan Eun Hyun keluar untuk makan malam bersama,Sehun baru saja mendapat gaji ke dua-nya.

" masih,walaupun dia sudah tidak menjadi pasienku,tapi kami tetap berkomunikasi,kenapa? " Eun Hyun mengalihkan pandangannya dari steak yang ia makan.Ia menatap kedua manik mata Sehun.

Waktu terasa berjalan lambat saat kedua manik cantik milik Eun Hyun menatap manik matanya.

Setidaknya itu yang Sehun rasakan sekarang.

" kenapa,Sehun? "

Sehun mengerjapkan matanya berkali-kali saat Eun Hyun mengulang pertanyaannya.Ia menggeleng pelan.

" aahh tidak " gumamnya pelan lalu memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya.Dalam hati terus merutuki jantungnya yang tidak juga menormalkan detaknya.

" Jongin tipe ideal "

Sehun langsung mengangkat kepalanya menatap wajah Eun Hyun dengan dahi mengernyit.Matanya menatap menuntut pada perempuan itu.

" semua perempuan,oke? "

Eun Hyun menyahut tatapan menuntut Sehun dengan ucapan santai lalu kembali menyantap steak-nya.Tidak menyadari betapa buruknya perasaan Sehun setelahnya.

" kau menyukai Jongin? " tanya Sehun.

Eun Hyun melotot kaget,tidak percaya jika Sehun akan bertanya soal ini.

" kau bilang dia tipe ideal semua perempuan,termasuk dirimu? " Sehun bertanya lagi.

Eun Hyun menutup mulutnya rapat-rapat,tatapan kecewa Sehun membuatnya susah menjawab pertanyaan yang seharusnya dengan mudah ia jawab.

Ada apa dengan tatapan Sehun?

***

Jongin keluar dari studio dance tempatnya bekerja,semenjak kedua orang tua-nya memaafkannya,Jongin mulai bekerja sebagai pelatih dance di salah satu studio dance kepunyaan saudaranya.

" ada yang penting? " Jongin bertanya sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi panjang yang terletak di depan studio dance.

Laki-laki di sampingnya itu menjulurkan sekaleng minuman soda ke hadapan Jongin.

Jongin menyambut kaleng soda itu dengan tertawa kecil.
" aku tidak berpikir kita sedekat ini,jadi ada apa kau menemuiku,Oh Sehun? "

Sehun mendengus,ia sebenarnya benci dengan laki-laki di sampingnya ini,tapi demi rasa penasaran yang mendominasi perasaannya ia rela menurunkan harga dirinya dan menelepon Jongin—setelah mencuri nomornya dari ponsel Eun Hyun—untuk memintanya bertemu sebentar.

" kau—menyukai Eun Hyun? " tanya Sehun menatap mata Jongin intens.

Jongin menyemburkan minuman soda-nya,pertanyaan Sehun mengejutkan kerja jantungnya.Jongin mengelap bibirnya yang basah dengan punggung tangan lalu berdehem.

" kenapa kau bertanya seperti itu? " tanya Jongin kembali biasa.

Sehun menatap ke depan lurus-lurus sambil mengendikkan bahu-nya sebagai jawaban.

" kau mau tau jawabannya? "

Sehu menatap tajam Jongin.
" kalau tidak kenapa aku bertanya? " desisnya sebal.

Jongin terkekeh pelan,menarik nafas dalam lalu menganggukkan kepalanya pelan.

Mata Sehun melebar saat Jongin menganggukkan kepalanya.Nafasnya mulai tidak teratur,kerongkongannya terasa kering.

" jadi—kau benar-benar menyukai Eun Hyun? " ulangnya.

Jongin mengangguk lalu menatap Sehun dalam.
" iya,aku menyukainya " jawabnya.

Sehun menarik kaleng soda yang ada di tangan Jongin lalu meneguknya isinya sampai habis,entah kenapa sekarang kerongkongannya terasa kering.

Tangan besar Jongin mengenggam bahu Sehun,menatap laki-laki itu dengan seulas senyum tipis.

" dia menolakku,Sehun "

Mulut Sehun terbuka begitu saja,ingin sekali ia bertanya 'jadi kau sudah menyatakan perasaanmu?' tapi sekali lagi.

Sehun sulit mengeluarkan suaranya,ia mulai khawatir takut ia tiba-tiba menjadi gagu atau apalah itu.

" dia menyukai orang lain " Jongin kembali bersuara.Ia masih menatap Sehun yang terlihat tidak percaya.

Walaupun tidak ada petir,tapi Sehun dapat mendengar suara petir yang menggelegar saat Jongin kembali bersuara.

Menyukai orang lain?

Siapa?

***

Eun Hyun mengernyit heran,Sehun malam ini muncul di depan pintu rumahnya tapi yang membuatnya heran bukan itu,melainkan cengiran khas Sehun yang tidak ia temui.

" Sehun ada apa? " tanya Eun Hyun.

" bisa kita keluar? " pertanyaan datar Sehun seakaan bukanlah sebuah pertanyaan melainkan pernyataan yang hanya satu jawabannya.

" iya "

***

" tadi aku menemui Jongin "

Eun Hyun menolehkan kepalanya menatap sisi wajah Sehun yang menatap lurus air mancur taman kompleks.

" aku bertanya padanya apa dia menyukaimu? "

Sehun menarik nafas dalam lalu mengalihkan pandangannya,menatap Eun Hyun dalam.

" dia bilang,dia menyukaimu " dengan nada rendah dan dalam Sehun berkata.

Eun Hyun mengerjapkan matanya berulang-ulang.Ia lupa cerita soal Jongin yang menyatakan perasaan padanya,selain lupa ia takut Sehun akan mengamuk mengingat ketidak sukaan Sehun terhadap Jongin.

Eun Hyun mendengar Sehun menghela nafas.
" akhir-akhir ini aku tidak mengerti dengan diriku sendiri " gumamnya pelan.

Eun Hyun menatap Sehun tidak mengerti.
" aku juga " sahutnya dengan bergumam.

" aku berubah sekarang "

Eun Hyun mengangguk.

Sehun menolehkan kepalanya,menatap Eun Hyun lekat-lekat.

" karenamu "

Eun Hyun terpaku,tidak merasakan apapun setelah Sehun berkata demikian.Yang ia rasakan adalah jantungnya yang berdegub beribu-ribu kali lebih cepat,aliran darahnya yang berdesir hebat,serta kerongkongan yang tercekat.

Waktu seakan berjalan lamban.

" aku tidak mengerti kenapa dan apa yang membuatku melakukan ini untukmu,yang ku tau hatiku berkata ' berubahlah,dan kau akan mendapatkannya ' aku berubah untuk menunjukkan padamu kalau aku bukan anak manja yang menyebalkan,aku adalah laki-laki dewasa yang sudah pantas menjagamu.Kau selalu mengatakan kalau aku anak manja dan tukang ngambek,aku mulai berpikir bagaimana bisa kau memilihku daripada Jongin yang pandai berkelahi kalau kau saja berkata seperti itu. "

" …Aku mulai merubah penampilanku,memberikan playstasion-ku pada Luhan hyung,membuang segala kaset naruto dan bernard bear yang ku punya,mencoba menonton berita yang membuat kepalaku pusing karena harus berpikir,dan belajar memasak.Aku benar-benar ingin menunjukkan kalau aku bukan lagi Oh Sehun yang manja tapi aku adalah Oh Sehun si laki-laki dewasa yang dapat menjaga Eun Hyun. "

Eun Hyun hanya dapat menatap Sehun tidak percaya,sebagian hatinya merasa sangat senang tapi sebagian yang lain merasa bahwa Sehun sudah terlambat.

Belasan tahun Eun Hyun menyukai Sehun,belasan tahun ia memendam rasa itu,menerima dengan ikhlas kalau Sehun memang tidak menyukainya.Tiga tahun yang lalu ia pergi dari Sehun,mencoba melupakan segala perasaannya.

Perlahan tapi pasti.

" Sehun… "

" Belasan tahun aku bersamamu,kita menghabiskan waktu bersama,belasan tahun pula aku bergantung padamu.Ku anggap sikap bergantung ini adalah hal biasa mengingat kita memang berteman sejak kecil,tapi ternyata aku salah. "

Sehun menarik nafas panjang.

" aku menyukaimu Eun Hyun-ah "

Dan dengan satu kalimat Sehun dapat membuat air mata itu mengalir mulus melewati pipi tirus Eun Hyun.

Kenapa baru sekarang? Kenapa saat perasaan itu hampir hilang? Kenapa ia baru menyadarinya sekarang? Tidakkah ia tau betapa sakitnya hati Eun Hyun?

" apa aku terlambat? apa perasaanmu sudah hilang? apa semua perasaanmu padaku sekarang hanya sebatas teman? apa perasaan suka-mu padaku sudah terikat dengan kata 'dulu'? " Sehun bertanya dengan mata yang menatap berharap.Berharap bahwa semuanya belum terlambat,berharap bahwa ia masih memiliki kesempatan walau hanya sebesar lubang semut.

" kau menyukai bunga yang ku berikan,tidakkah kau menyukaiku juga? "

Eun Hyun menatap Sehun dengan matanya yang berair.Menatapnya dengan tatapan tolong-hentikan-Sehun.

" apa aku tidak bisa menjadi tipe ideal bagimu? Seperti Jongin yang menurutmu adalah tipe ideal semua perempuan? "

Eun Hyun memejamkan matanya rapat-rapat.Sehun terus saja bertanya apa dia terlambat? apa dia tidak punya kesempatan lagi? apa perasaan Eun Hyun sudah berubah sekarang?

" jadi ini rasanya sakit hati " gumam Sehun pelan.Ia berhenti bertanya dan menunduk dalam.

Eun Hyun menatap Sehun dalam,masih belum yakin jika Sehun memang sungguh-sungguh dengan ucapannya.

" kau menyukai orang lain ya? " tanya Sehun pelan.Menatap Eun Hyun dengan pandangan sendunya.

Eun Hyun mengangguk.
" maaf Sehun "

Sehun mengangguk-anggukkan kepalanya.

" yaaa—aku harus apa? tetap memaksamu? itu bukan gaya seorang laki-laki dewasa.Aku sudah menjadi laki-laki dewasa sekarang " ujar Sehun dengan senyum tipisnya.

" aku menyukaimu Sehun "

Sehun tertawa kecil mendengar ucapan Eun Hyun.
" kau menghiburku? ku bilang aku sudah menjadi laki-laki dewasa sekarang,mungkin memang menjadi masalah sekarang,tapi aku yakin aku akan bahagia melihat senyummu nantinya "

" kalau memang aku menyukaimu bagaimana? " tanya Eun Hyun santai.

Mulut Sehun terbuka,bahkan Eun Hyun bersumpah jika tangannya tidak segera menutup rahang Sehun yang menganga mungkin beribu serangga akan masuk ke dalam sana.

" 'kan sudah ku bilang aku menyukaimu dengan segala sifat burukmu,bahkan dengan sifat burukmu itu aku bisa tertawa,lalu kenapa kau merubahnya? "

Sehun mengerjap beberapa kali.
" aku ingin menjagamu,karena kalau sifatku yang kekanak-kanakan mungkin aku tidak bisa menjagamu "

" aku tidak hanya menyukai bungamu,aku tidak hanya menyukai kado-kado darimu,aku menyukai dirimu Sehun.Tidak peduli seberapa keras aku berusaha melupakanmu,toh hatiku sudah memilihmu,hatiku sudah menggunakan haknya dalam memilih.Dan kau pilihan hatiku. " ujar Eun Hyun.Ia menyerah,hatinya lebih memilih untuk menerima Sehun.

Sehun tersenyum lebar,merentangkan tangannya lalu membawa Eun Hyun ke dalam pelukannya.

" aku berharap hak pilih hatimu tidak berlangsung selama lima tahun,tapi selamanya " ujar Sehun.Ia melepas pelukannya lalu membentuk 'V' lewat jari telunjuk dan jari tengahnya.

" aku janji akan menjadi laki-laki dewasa,laki-laki cool dan berkarisma yang akan selalu menjagamu " ucapnya mantap.

" seperti Jongin? "

Sehun menggeleng.

" sepuluh bahkan bertriliun kali lebih baik dari Jongin,aku akan menjagamu "

END

EXO Fanfiction: Be a Ssang Namja.

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: Friendship,Romance-maybe-

Cast:
- Oh Sehun
- Cho Eun Hyun (OC)

Support Cast:
- Kim Jongin
- Cho Khyuhyun

Disclaimer: akhirnya jadi jugaaaaaaaa,ini permintaan orang yang sama seperti sebelumnya,temenku tercintah *asek* Hirza Qalby Tazkia.Maaf kalo gak dapet feel-nya atau kurang berkenan.Enjoy^^

Sebelumnya :
- Half Of My Heart
- All About Him
- Goodbye Summer

***

Sepasang mata itu mengerling menatap roda pesawat yang mulai bergesekan dengan aspal bandara lewat jendela pesawat.Setelah duabelas jam ia duduk manis di pesawat,menghabiskan setengah dari harinya untuk berdiam diri memandangi langit,kini saatnya ia menghirup udara tanah kelahirannya yang tiga tahun ditinggalkannya.

" yeah,i'm backkk!! "

Perempuan berambut panjang bergelombang dengan tinggi semampai itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.Bibirnya menyungging lebar memperhatikan orang-orang yang juga lalu-lalang turun dari pesawat.

Setelah melewati beberapa pemeriksaan oleh petugas,perempuan itu berhenti berjalan dan meletakkan satu tangannya di atas kedua alisnya; mencari seseorang yang menjemputnya.

Ponselnya berdering tanda telepon masuk.Perempuan itu merogoh kantung jins-nya dan menggeser tombol berwarna hijau itu.

" Ya! Kau dimanaaa?! "

Perempuan itu meringis sambil menjauhkan telinganya dari ponsel saat panggilannya di sambut dengan seruan yang menyakitkan gendang telinganya.

" aish! Bisa tidak kau tidak berteriak padaku,huh?! " sungut perempuan itu.

" baiklah,baiklah,sekarang kau dimana? pakai baju apa? " laki-laki di seberang sana mulai bertanya lembut.

Perempuan itu menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri berusaha mencari petunjuk masuk akal yang dapat ia katakan kepada si laki-laki itu agar dapat menemukannya.

" aku berdiri di dekat toko Bubble Tea,dan baju yang ku pakai sekarang adalah kaus lengan panjang warna abu-abu dan celana jins "ujarnya.

" eoh? Toko Bubble Tea? "

" hmm "

tut.

Perempuan itu mengernyit heran manakala sambungan teleponnya di putus begitu saja.

" Oh Sehun ini gila atau apa? kenapa dia mematikan teleponnya? " gerutunya kesal.

Perempuan itu meniup poni-nya pasrah,terserah laki-laki bernama Oh Sehun itu akan kebingungan mencarinya di seluruh sudut di bandara ini,yang terpenting ia harus segera pulang dan merebahkan diri di kasur empuknya.

Baru saja tangannya akan kembali menggeret koper biru dongker-nya mata lebih dulu menangkap siluet sosok tinggi yang berjarak empat meter dari tempatnya berdiri.Laki-laki tinggi berambut coklat gelap dengan poni sampingnya memakai kaus putih yang di lapisi jaket berwarna biru laut serta celana jins.Laki-laki itu tersenyum menunjukkan eyesmile-nya sambil melambaikan tangan.

" EUN HYUN-ah! EUN HYUN-ah! "

Sehun berseru sambil melompat-lompat kecil dari tempatnya,berharap kalau orang yang di panggilnya itu merespon panggilannya.

Kaki-kaki panjangnya melangkah lebar dengan senyuman yang tidak kalah lebar menunjukkan deretan gigi putihnya.Sehun merentangkan tangannya lalu membawa Eun Hyun kedalam dekapannya,memeluk perempuan-yang masih tidak bergerak itu-erat.

" aku merindukanmu,sungguh aku merindukanmu "

Tubuh Eun Hyun terasa hangat dan lemas saat Sehun membisikan kalimat itu di balik punggungnya.Kedua tangannya yang sedari tadi diam kini perlahan naik ke atas punggung Sehun.

" hmm,aku juga,Sehun "

***

Setelah puas melepas rasa rindu masing-masing Sehun dan Eun Hyun memilih langsung pulang.Sehun langsung mengambil alih koper Eun Hyun dan berjalan mendahului perempuan itu.

" hei,Sehun " panggil Eun Hyun saat mereka sudah di dalam mobil.

" apa? " Sehun menyahut ia memalingkan wajahnya menatap Eun Hyun dengan eskpresi luar biasa senangnya.

Percaya atau tidak,ini adalah hari yang paling di tunggu Sehun selama tigatahun terakhir.Ini hari-nya seorang oh Sehun.

Eun Hyun yang di tatap mata mengerling Sehun langsung menelan ludah sambil mengerjapkan matanya.Tigatahun berkomunikasi dengan Sehun lewat telepon atau skype membuatnya lupa cara menjaga sikap di depan Sehun.

" kau sekarang kerja? " tanya Eun Hyun setelah menormalkan detak jantungnya.

Sehun mengangguk lalu kembali fokus ke depan.

" kerja apa? "

" pelatih dance "

Eun Hyun mengernyitkan dahi-nya menatap sisi wajah Sehun tidak percaya.Oh Sehun koreografer?

" jangan bilang kau lupa kalau aku memang suka menari " ucap Sehun sambil mengerucutkan bibirnya.

Eun Hyun menggeleng cepat.Bukan lupa,hanya tidak percaya Sehun benar-benar menjadi pelatih dance.Eun Hyun kira bocah itu hanya bercanda saat dulu mengatakan kalau ia ingin menjadi pelatih dance suatu saat nanti.

Eun Hyun hanya kurang percaya Sehun bisa se-konsisten itu.

" kau sendiri? apa yang akan kau kerjakan di sini? " tanya Sehun.

Eun Hyun meletakkan telunjukkan di bibir,alisnya bertaut.Ia sedang berpikir.

" dokter "

" dokter? Kau akan menjadi dokter? " Sehun berteriak heboh.

" yep! dokter,teman Ayahku bekerja di rumah sakit Seoul,dia menawariku bekerja disana  "

" wahh,kalau begitu nanti aku akan jadi pasienmu,pasien pertama Cho Eun Hyun "

Eun Hyun menoleh " memangnya kau sakit? kalau kau tidak sakit kau tidak bisa menjadi pasienku,Sehun "

" aku sakit,aku akan sakit saat kau menjadi dokter,aku akan sakit supaya kau merawatku " ucap Sehun masih fokus melihat ke depan.

Sehun menolehkan kepalanya,menatap Eun Hyun sambil tersenyum lebar.

" pokoknya aku harus menjadi pasien pertama mu,tidak mau tau bagaimanapun caranya,aku harus menjadi pasien pertamamu! "

***

Eun Hyun tersenyum saat melihat bayangan dirinya di cermin besar yang menyatu dengan pintu lemari pakaiannya.Jas putih dokter terlihat begitu cocok di tubuh rampingnya.

Eun Hyun menyematkan jepit rambut berwarna putih bermotif bunga berwarna biru di sudut kiri rambut gelombangnya.Jepit rambut yang Sehun berikan padanya sebagai kado ulang tahunnya yang ke limabelas.

Sehun memang pelit soal kado.

Tapi tetap saja Eun Hyun menyukai apapun yang Sehun berikan padanya,bahkan Eun Hyun suka greeting card buatan Sehun yang ia buat dari kertas karton.Walaupun kelihatannya seperti anak sekolah dasar-Sehun menggambar balon di setiap sudutnya dan tulisan laki-laki itu yang jauh dari kata bagus-tapi Eun Hyun tetap menyukainya.

" aish! kemana bocah itu?! "

Eun Hyun menggerutu kesal karena Sehun yang tidak kunjung memunculkan batang hidungnya.Semalam bahkan Sehun sangat bersemangat dan mengatakan ia akan mengantar Eun Hyun ke rumah sakit dan menjadi pasien pertamanya.

Tapi kenyataannya?

" bahkan kau tidak menjawab teleponku,dasar mulut besar "

Dan dengan satu dengusan kesal Eun Hyun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit menaiki bus.

***

Bunyi roda ranjang pasien yang di dorong oleh beberapa suster menggema di seluruh sudut lorong rumah sakit.Seorang laki-laki muda yang terluka parah terlihat tidak berdaya di atasnya.Para suster-suster itu memasukkannya ke dalam ruang ICU.

" bagaimana ini?! dokter-dokter belum ada yang datang,ini masih terlalu pagi.Apa yang harus kita lakukan?! " seru seorang suster yang memakai kacamata dengan nada panik yang sangat kentara.

Suster yang bertubuh gempal juga tidak kalah panik,ia menggigit bibir bawahnya sambil menatap laki-laki muda yang terluka parah.

" Ya! Jangan diam saja,cepat lakukan sesuatuuu!! " seru suster lain yang bertubuh kurus.

" aku akan keluar,siapa tau ada dokter yang baru datang " usul suster bertubuh gempal tadi.Ia berlari keluar ruang ICU setelah mendapat anggukan dari teman-temannya.

Suster bertubuh gempal itu terus berlari,berharap ada seorang dokter yang baru datang dan menyelamatkan nyawa laki-laki tadi.Ia dan teman-temannya hanya suster jaga yang bertugas mengecek kondisi pasien; memeriksa tekanan darah,cairan infus,menyuntikkan vitamin,memberi makanan sesuai jam-nya.Bukan suster-suster yang biasa mendampingi dokter saat melakukan tindakan.

" Dokter! Dokter! "

Suster itu berteriak kencang saat melihat perempuan tinggi memakai jas dokter memasuki rumah sakit.Ia berlari ke arah perempuan itu.

" Dokter..hhh..tolong..hhh..ada..hhh..pasien..hhh...terluka...hhh "

***

Sehun membuka matanya perlahan,matanya terbelalak saat melihat cahaya matahari yang sudah luar biasa terang di luar sana.Ia langsung menyibakkan selimut dan meraih ponsel yang berada di nakas-nya.

" ah sial! " umpatnya kesal.

Tujuhbelas panggilan tidak terjawab dan lima pesan.

From: Eun Hyun.
05:56
Aku berangkat naik bus.

Sehun mendudukkan tubuhnya di kasur sambil menghela nafas kasar.Menyesal karena semalam tidur terlalu larut hanya karena menonton piala dunia.

" apa aku masih bisa menjadi pasien pertamanya? "

***

Eun Hyun menghela nafas panjang,ia baru saja melakukan penanganan terhadap pasien pertamanya.Seorang laki-laki muda berkulit agak gelap yang terluka parah.Suster-suster itu mengatakan kalau laki-laki muda itu berjalan terseok-seok ke rumah sakit pagi-pagi buta dengan luka lebam di wajah serta luka tusuk di perutnya.

" apa dia gangster? " gumam Eun Hyun sambil memandangi wajah damai laki-laki yang sedang memejamkan matanya itu.

" eung... "

Eun Hyun membulatkan matanya saat mendengar lenguhan yang keluar dari bibir laki-laki itu.Perlahan kedua kelopak mata itu terbuka,memunculkan sepasang bola mata berwarna coklat gelap yang indah.

Laki-laki itu mengerjap pelan,bola matanya langsung mengarah pada perempuan yang tersenyum memandangnya.

" apa anda baik-baik saja? " tanya Eun Hyun lembut.

Laki-laki itu diam tidak menjawab,ia hanya memandang bingung kepada Eun Hyun.

" Saya dokter yang menangani anda,Jongin-ssi.Nama saya Cho Eun Hyun " ucap Eun Hyun yang sadar jika laki-laki itu mungkin bingung dengan dirinya.

" kau tau namaku? " tanya laki-laki itu dengan suara serak.

Eun Hyun menggaruk tengkuknya sambik meringis.

" maaf,saya memeriksa dompet anda,rumah sakit ini butuh identitas anda "

Laki-laki bernama Jongin itu hanya mengangguk pelan.

" anda benar-benar baik-baik saja sekarang? Apa ada yang sakit? "

Jongin mengangguk pelan.
" perutku terasa kaku "

Eun Hyun tersenyum memaklumi.
" perut anda harus di jahit karena mengalami luka sobek,Jongin-ssi " ungkap Eun Hyun.

" terimakasih sudah menolongku " ujar Jongin dengan senyum tipis di balik bibir pucatnya.

***

" aku minta maaf tidak menjemputmu kemarin pagi,aku sungguh-sungguh kesiangan "

Sehun terus saja berseru sambil mengekor di belakang Eun Hyun yang mengacuhkannya sejak dia datang mengunjungi Eun Hyun di rumah sakit.

" aku harus melakukan apa supaya kau berhenti mengacuhkanku? " tangan besar Sehun menarik lengan kurus Eun Hyun,memaksa perempuan itu untuk berbalik menghadapnya.

" aku ingin memeriksa pasien pertamaku,Sehun.Bisa berhenti mengikutiku? " Eun Hyun bertanya dengan dingin.

Pegangan tangan Sehun langsung lepas detik ketika Eun Hyun menyebutkan kalimat 'Pasien Pertama'.Apa dia sudah terlambat sekarang?

" kau—sudah memiliki pasien? " tergagap,Sehun bertanya.

Eun Hyun mengangguk.

" dan itu bukan dirimu "

***

Eun Hyun menghela nafas berkali-kali untuk meredakan malu yang ada di dalam dirinya.Sehun bersikeras ikut dengannya untuk bertemu dengan pasien pertama Eun Hyun.

" bagaimana Jongin-ssi,apa ada keluhan lain? " Eun Hyun bertanya lembut sambil memegang tangan Jongin.

Jongin tersenyum sambil menggeleng.
" tidak,aku merasa lebih baik sekarang " jawabnya.

Sehun mendengus melihat pasien pertama Eun Hyun adalah seorang laki-laki.Terlebih sikap Eun Hyun yang sangat lembut dengannya,berbanding terbalik dengan Eun Hyun yang selalu meneriakinya.

" bisa kita pindah ke pasien lain? lama sekali " ucap Sehun dengan ketus.Kedua tangannya terlipat di depan dada.

Eun Hyun menoleh ke belakang dan memberi Sehun tatapan tajam.Mengisyaratkan laki-laki itu untuk menjaga mulutnya.

" apa? aku bosan disini " ucapnya membalas santai pelototan Eun Hyun.

Eun Hyun menghela nafas sekali lagi,ia tersenyum canggung pada Jongin.

" maaf Jongin-ssi,dia itu pasien gangguan saraf,jadi maklum kalau bicaranya sedikit kasar " ucapnya.

Sehun melotot kaget mendengar ucapan Sehun barusan,pasien gangguan saraf? Maksudnya apa?.Ia mendengus kesal,ia tau laki-laki bernama Jongin itu sedang menahan tawanya.Sehun paling tidak suka jika ada orang yang menertawakannya seperti itu.

" aku pulang! "

***

Eun Hyun menghabiskan setengah hari dari kerja-nya di ruang rawat Jongin.Hampir setiap hari ia selalu menemani Jongin,ia baru tau kalau Jongin kemarin terlibat perkelahian dengan teman-temannya.Jongin seorang player.

" orang tuamu? " Eun Hyun bertanya sambil menyodorkan potongan apel ke mulut Jongin.

Jongin mengendikkan bahunya.
" entah,mereka mengusirku dan terus mengumpatiku.Katanya aku anak yang tidak berguna. " jawabnya santai.

Eun Hyun menelan potongan apel yang ada di dalam mulutnya lalu menggenggam tangan Jongin.

" ku rasa kau perlu minta maaf pada orangtua-mu,bagaimanapun juga mereka yang selama ini membesarkanmu dengan susah payah " ujarnya.

Jongin menelan ludah,baru kali ini ada perempuan yang berani menasihatinya,selama ini ia hanya mengencani perempuan-perempuan centil yang kerjaannya hanya berdandan di depan kaca.

Dengan seulas senyuman manis Jongin mengangguk.

" kau benar,aku akan melakukannya "

***

" itu dari siapa? "

Eun Hyun menghampiri sang kakak yang sedang menonton tv.Di atas meja terdapat buket bunga mawar putih cantik.

" Sehun,dia yang memberikannya " jawab Kyuhyun.

Eun Hyun mengernyit tidak percaya lalu mengangkat buket bunga itu.Membaca pesan singkat yang terdapat di kartu yang ada di dalamnya.

Bunga ini ku beli menggunakan gaji pertamaku,semoga kau menyukainya ^^~

-Oh Sehun-

Eun Hyun tersenyum membacanya,ia merogoh ponsel yang ada di saku blazer putihnya dan menekan tombol satu.

Panggilan cepat,Sehun berada di nomor satu.

" Terimakasih " Eun Hyun berkata lembut ketika teleponnya diangkat.

" untuk? " tanya Sehun dengan nada bingung.

" bunganya,aku menyukainya " jawab Eun Hyun.

Sesaat Sehun tidak mengeluarkan suara.

" Sehun? Kau masih disana kan? Tidak tidur kan? "

" eoh? Tidak,syukurlah kau menyukai bunga itu "

Eun Hyun tersenyum.

" tentu aku menyukainya "

Tut.

Eun Hyun mengernyitkan dahinya,kenapa Sehun senang sekali memutuskan telepon seenaknya?

***

Siang ini Sehun meminta Eun Hyun untuk menemaninya makan siang di taman dekat rumah sakit.Laki-laki itu datang membawa dua kotak bekal yang katanya itu adalah hasil masakannya sendiri.

" kalau hanya menggoreng nugget aku juga bisa,Sehun " komentar Eun Hyun sambil menyumpit nugget rasa spicy ke mulutnya.

" orang bilang jangan lihat hasilnya tapi lihat prosesnya,kau tidak tau kan bagaimana rasanya menggoreng nugget? itu menyeramkan,bayangkan resikonya,aku bisa terkena minyak panassss! " ujar Sehun dengan nada di lebih-lebihkan.

Eun Hyun hanya mencibir mendengarnya.Ia mulai curiga kalau Sehun pasti memakai helm saat memasak nugget ini.

" kau tau Jongin? Dia ternyata laki-laki yang menyenangkan "

" tidak ada laki-laki yang lebih menyenangkan dariku " sahut Sehun cuek.

" kau itu manja dan tukang ngambek,Sehun.Bagaimana kau bisa menyebut dirimu menyenangkan? " balas Eun Hyun.

" dulu saat kita di mall kau bilang walaupun aku punya banyak segudang sifat buruk tapi aku tetap menyenangkan " ucap Sehun tidak mau kalah.

Eun Hyun menelan ludahnya.Tiba-tiba ia merasa sulit bernafas,kejadian itu sudah tiga tahun yang lalu,dan Sehun masih mengingatnya.

" itu dulu Sehun "

Sehun menahan nafasnya,dulu? apa semuanya sudah berubah? apa ia terlambat?

***

Eun Hyun mulai membenarkan perkataan nya tentang Sehun adalah seorang pasien gangguan saraf.Sebab,akhir-akhir ini Sehun terlihat seperti 'bukan Sehun'.Laki-laki itu merubah penampilannya,terlihat lebih dewasa sekarang.Setiap pagi mengantar Eun Hyun ke rumah sakit,mengantar bekal makan siang yang sekarang menunya sudah mulai meningkat dari pada saat pertama,udang goreng tepung.Lumayan bukan?.Sehun juga tidak lagi menonton kartun kesukaannya,dia lebih suka menonton berita sekarang.

Singkat kata,Sehun berubah menjadi laki-laki sesungguhnya.

Tidak lagi manja.

" kau masih berhubungan dengan Jongin? " tanya Sehun.

Malam itu,ia dan Eun Hyun keluar untuk makan malam bersama,Sehun baru saja mendapat gaji ke dua-nya.

" masih,walaupun dia sudah tidak menjadi pasienku,tapi kami tetap berkomunikasi,kenapa? " Eun Hyun mengalihkan pandangannya dari steak yang ia makan.Ia menatap kedua manik mata Sehun.

Waktu terasa berjalan lambat saat kedua manik cantik milik Eun Hyun menatap manik matanya.

Setidaknya itu yang Sehun rasakan sekarang.

" kenapa,Sehun? "

Sehun mengerjapkan matanya berkali-kali saat Eun Hyun mengulang pertanyaannya.Ia menggeleng pelan.

" aahh tidak " gumamnya pelan lalu memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya.Dalam hati terus merutuki jantungnya yang tidak juga menormalkan detaknya.

" Jongin tipe ideal "

Sehun langsung mengangkat kepalanya menatap wajah Eun Hyun dengan dahi mengernyit.Matanya menatap menuntut pada perempuan itu.

" semua perempuan,oke? "

Eun Hyun menyahut tatapan menuntut Sehun dengan ucapan santai lalu kembali menyantap steak-nya.Tidak menyadari betapa buruknya perasaan Sehun setelahnya.

" kau menyukai Jongin? " tanya Sehun.

Eun Hyun melotot kaget,tidak percaya jika Sehun akan bertanya soal ini.

" kau bilang dia tipe ideal semua perempuan,termasuk dirimu? " Sehun bertanya lagi.

Eun Hyun menutup mulutnya rapat-rapat,tatapan kecewa Sehun membuatnya susah menjawab pertanyaan yang seharusnya dengan mudah ia jawab.

Ada apa dengan tatapan Sehun?

***

Jongin keluar dari studio dance tempatnya bekerja,semenjak kedua orang tua-nya memaafkannya,Jongin mulai bekerja sebagai pelatih dance di salah satu studio dance kepunyaan saudaranya.

" ada yang penting? " Jongin bertanya sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi panjang yang terletak di depan studio dance.

Laki-laki di sampingnya itu menjulurkan sekaleng minuman soda ke hadapan Jongin.

Jongin menyambut kaleng soda itu dengan tertawa kecil.
" aku tidak berpikir kita sedekat ini,jadi ada apa kau menemuiku,Oh Sehun? "

Sehun mendengus,ia sebenarnya benci dengan laki-laki di sampingnya ini,tapi demi rasa penasaran yang mendominasi perasaannya ia rela menurunkan harga dirinya dan menelepon Jongin—setelah mencuri nomornya dari ponsel Eun Hyun—untuk memintanya bertemu sebentar.

" kau—menyukai Eun Hyun? " tanya Sehun menatap mata Jongin intens.

Jongin menyemburkan minuman soda-nya,pertanyaan Sehun mengejutkan kerja jantungnya.Jongin mengelap bibirnya yang basah dengan punggung tangan lalu berdehem.

" kenapa kau bertanya seperti itu? " tanya Jongin kembali biasa.

Sehun menatap ke depan lurus-lurus sambil mengendikkan bahu-nya sebagai jawaban.

" kau mau tau jawabannya? "

Sehu menatap tajam Jongin.
" kalau tidak kenapa aku bertanya? " desisnya sebal.

Jongin terkekeh pelan,menarik nafas dalam lalu menganggukkan kepalanya pelan.

Mata Sehun melebar saat Jongin menganggukkan kepalanya.Nafasnya mulai tidak teratur,kerongkongannya terasa kering.

" jadi—kau benar-benar menyukai Eun Hyun? " ulangnya.

Jongin mengangguk lalu menatap Sehun dalam.
" iya,aku menyukainya " jawabnya.

Sehun menarik kaleng soda yang ada di tangan Jongin lalu meneguknya isinya sampai habis,entah kenapa sekarang kerongkongannya terasa kering.

Tangan besar Jongin mengenggam bahu Sehun,menatap laki-laki itu dengan seulas senyum tipis.

" dia menolakku,Sehun "

Mulut Sehun terbuka begitu saja,ingin sekali ia bertanya 'jadi kau sudah menyatakan perasaanmu?' tapi sekali lagi.

Sehun sulit mengeluarkan suaranya,ia mulai khawatir takut ia tiba-tiba menjadi gagu atau apalah itu.

" dia menyukai orang lain " Jongin kembali bersuara.Ia masih menatap Sehun yang terlihat tidak percaya.

Walaupun tidak ada petir,tapi Sehun dapat mendengar suara petir yang menggelegar saat Jongin kembali bersuara.

Menyukai orang lain?

Siapa?

***

Eun Hyun mengernyit heran,Sehun malam ini muncul di depan pintu rumahnya tapi yang membuatnya heran bukan itu,melainkan cengiran khas Sehun yang tidak ia temui.

" Sehun ada apa? " tanya Eun Hyun.

" bisa kita keluar? " pertanyaan datar Sehun seakaan bukanlah sebuah pertanyaab melainkan pernyataan yang hanya satu jawabannya.

" iya "

***

" tadi aku menemui Jongin "

Eun Hyun menolehkan kepalanya menatap sisi wajah Sehun yang menatap lurus air mancur taman kompleks.

" aku bertanya padanya apa dia menyukaimu? "

Sehun menarik nafas dalam lalu mengalihkan pandangannya,menatap Eun Hyun dalam.

" dia bilang,dia menyukaimu " dengan nada rendah dan dalam Sehun berkata.

Eun Hyun mengerjapkan matanya berulang-ulang.Ia lupa cerita soal Jongin yang menyatakan perasaan padanya,selain lupa ia takut Sehun akan mengamuk mengingat ketidak sukaan Sehun terhadap Jongin.

Eun Hyun mendengar Sehun menghela nafas.
" akhir-akhir ini aku tidak mengerti dengan diriku sendiri " gumamnya pelan.

Eun Hyun menatap Sehun tidak mengerti.
" aku juga " sahutnya dengan bergumam.

" aku berubah sekarang "

Eun Hyun mengangguk.

Sehun menolehkan kepalanya,menatap Eun Hyun lekat-lekat.

" karenamu "

Eun Hyun terpaku,tidak merasakan apapun setelah Sehun berkata demikian.Yang ia rasakan adalah jantungnya yang berdegub beribu-ribu kali lebih cepat,aliran darahnya yang berdesir hebat,serta kerongkongan yang tercekat.

Waktu seakan berjalan lamban.

" aku tidak mengerti kenapa dan apa yang membuatku melakukan ini untukmu,yang ku tau hatiku berkata ' berubahlah,dan kau akan mendapatkannya ' aku berubah untuk menunjukkan padamu kalau aku bukan anak manja yang menyebalkan,aku adalah laki-laki dewasa yang sudah pantas menjagamu.Kau selalu mengatakan kalau aku anak manja dan tukang ngambek,aku mulai berpikir bagaimana bisa kau memilihku daripada Jongin yang pandai berkelahi kalau kau saja berkata seperti itu. "

" …Aku mulai merubah penampilanku,memberikan playstasion-ku pada Luhan hyung,membuang segala kaset naruto dan bernard bear yang ku punya,mencoba menonton berita yang membuat kepalaku pusing karena harus berpikir,dan belajar memasak.Aku benar-benar ingin menunjukkan kalau aku bukan lagi Oh Sehun yang manja tapi aku adalah Oh Sehun si laki-laki dewasa yang dapat menjaga Eun Hyun. "

Eun Hyun hanya dapat menatap Sehun tidak percaya,sebagian hatinya merasa sangat senang tapi sebagian yang lain merasa bahwa Sehun sudah terlambat.

Belasan tahun Eun Hyun menyukai Sehun,belasan tahun ia memendam rasa itu,menerima dengan ikhlas kalau Sehun memang tidak menyukainya.Tiga tahun yang lalu ia pergi dari Sehun,mencoba melupakan segala perasaannya.

Perlahan tapi pasti.

" Sehun… "

" Belasan tahun aku bersamamu,kita menghabiskan waktu bersama,belasan tahun pula aku bergantung padamu.Ku anggap sikap bergantung ini adalah hal biasa mengingat kita memang berteman sejak kecil,tapi ternyata aku salah. "

Sehun menarik nafas panjang.

" aku menyukaimu Eun Hyun-ah "

Dan dengan satu kalimat Sehun dapat membuat air mata itu mengalir mulus melewati pipi tirus Eun Hyun.

Kenapa baru sekarang? Kenapa saat perasaan itu hampir hilang? Kenapa ia baru menyadarinya sekarang? Tidakkah ia tau betapa sakitnya hati Eun Hyun?

" apa aku terlambat? apa perasaanmu sudah hilang? apa semua perasaanmu padaku sekarang hanya sebatas teman? apa perasaan suka-mu padaku sudah terikat dengan kata 'dulu'? " Sehun bertanya dengan mata yang menatap berharap.Berharap bahwa semuanya belum terlambat,berharap bahwa ia masih memiliki kesempatan walau hanya sebesar lubang semut.

" kau menyukai bunga yang ku berikan,tidakkah kau menyukaiku juga? "

Eun Hyun menatap Sehun dengan matanya yang berair.Menatapnya dengan tatapan tolong-hentikan-Sehun.

" apa aku tidak bisa menjadi tipe ideal bagimu? Seperti Jongin yang menurutmu adalah tipe ideal semua perempuan? "

Eun Hyun memejamkan matanya rapat-rapat.Sehun terus saja bertanya apa dia terlambat? apa dia tidak punya kesempatan lagi? apa perasaan Eun Hyun sudah berubah sekarang?

" jadi ini rasanya sakit hati " gumam Sehun pelan.Ia berhenti bertanya dan menunduk dalam.

Eun Hyun menatap Sehun dalam,masih belum yakin jika Sehun memang sungguh-sungguh dengan ucapannya.

" kau menyukai orang lain ya? " tanya Sehun pelan.Menatap Eun Hyun dengan pandangan sendunya.

Eun Hyun mengangguk.
" maaf Sehun "

Sehun mengangguk-anggukkan kepalanya.

" yaaa—aku harus apa? tetap memaksamu? itu bukan gaya seorang laki-laki dewasa.Aku sudah menjadi laki-laki dewasa sekarang " ujar Sehun dengan senyum tipisnya.

" aku menyukaimu Sehun "

Sehun tertawa kecil mendengar ucapan Eun Hyun.
" kau menghiburku? ku bilang aku sudah menjadi laki-laki dewasa sekarang,mungkin memang menjadi masalah sekarang,tapi aku yakin aku akan bahagia melihat senyummu nantinya "

" kalau memang aku menyukaimu bagaimana? " tanya Eun Hyun santai.

Mulut Sehun terbuka,bahkan Eun Hyun bersumpah jika tangannya tidak segera menutup rahang Sehun yang menganga mungkin beribu serangga akan masuk ke dalam sana.

" 'kan sudah ku bilang aku menyukaimu dengan segala sifat burukmu,bahkan dengan sifat burukmu itu aku bisa tertawa,lalu kenapa kau merubahnya? "

Sehun mengerjap beberapa kali.
" aku ingin menjagamu,karena kalau sifatku yang kekanak-kanakan mungkin aku tidak bisa menjagamu "

" aku tidak hanya menyukai bungamu,aku tidak hanya menyukai kado-kado darimu,aku menyukai dirimu Sehun.Tidak peduli seberapa keras aku berusaha melupakanmu,toh hatiku sudah memilihmu,hatiku sudah menggunakan haknya dalam memilih.Dan kau pilihan hatiku. " ujar Eun Hyun.Ia menyerah,hatinya lebih memilih untuk menerima Sehun.

Sehun tersenyum lebar,merentangkan tangannya lalu membawa Eun Hyun ke dalam pelukannya.

" aku berharap hak pilih hatimu tidak berlangsung selama lima tahun,tapi selamanya " ujar Sehun.Ia melepas pelukannya lalu membentuk 'V' lewat jari telunjuk dan jari tengahnya.

" aku janji akan menjadi laki-laki dewasa,laki-laki cool dan berkarisma yang akan selalu menjagamu " ucapnya mantap.

" seperti Jongin? "

Sehun menggeleng.

" sepuluh bahkan bertriliun kali lebih baik dari Jongin,aku akan menjagamu "

END

Minggu, 25 Mei 2014

EXO Fanfiction: Sweet Date.

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: School Life,Fluff,Romance-maybe-

Cast:
- Do Kyungsoo
- Ahn Hee

Disclaimer: Yeheeettt! Aku balik lagi bawa lanjutan cerita seriesnya Kyungsoo-Ahn Hee.Dengan bantuan mbah google,setelah browsing sana-sini-lebay- akhirnya ff ini jadi jugaaaa!.Maaf kalau rada aneh dan gak nyambung.Enjoy^^

***

Aku bersenandung senang,setelah kejadian 'cemburunya Kyungsoo' beberapa hari yang lalu,kupikir sifatnya mulai berubah.

Kyungsoo mulai mengirimi ku pesan terlebih dahulu.

Kyungsoo lebih memilih makan siang di kantin dengan ku daripada dengan teman pintarnya.

Kyungsoo lebih lembut 'sedikit' daripada yang sebelumnya.

Dan Kyungsoo mengajakku kencan.

Haaahhh..semoga ini awal yang baik.

" aku tidak sabar untuk besok! " seruku senang.

Kyungsoo mengerutkan dahinya.
" memangnya besok ada apa? " tanyanya bingung.

" eiii~ jangan pura-pura lupa,besok kan kita kencan,Kyung " ucapku lalu tertawa.Kyungsoo ada-ada saja.

Kyungsoo mengangguk pelan.Seperti menggumam 'ohh' karena aku tidak begitu mendengar suaranya.

***

Aku mengetuk-ngetukkan kaki-ku di lantai.

Tidak sabar.

Semalam Kyungsoo meneleponku dan mengatakan kalau dia akan menjemput pukul 9 pagi.Tapi karena memang aku sangat sangat senang.Jadi aku bangun pukul 6,mandi dan berganti pakaian.Aku keluar dari kamar pukul 8 lewat 37 menit.

Lama ya?

Aku bingung memilih pakaian mana yang harus ku pakai.Kyungsoo tidak suka jika aku memakai pakaian yang minim bahan.Dia juga tidak suka aku memakai pakaian yang terlalu mencolok warnanya.Jadi,karena itu aku hanya memakai sweater berwarna putih bergambar tedy bear biru serta celana jins dan sepatu sneakers.Rambutku sengaja ku gerai dan hanya memakai bando sebagai aksesoris kepalaku.

Ting Tong.

Aku langsung beranjak dari sofa ruang tamu dan berlari kecil menuju pintu.

" kau sudah datang! " seruku senang.

Aku mengerjapkan mataku menyadari betapa tampannya Kyungsoo hari ini-walaupun setiap hari begitu-.Aku hanya tidak menyangka Kyungsoo mempunyai pilihan yang sama denganku.

Dia juga memakai sweater!

Bedanya,sweater Kyungsoo tidak bergambar melainkan terdapat kata-kata bahasa inggris disana.

" kau mau pergi tidak? "

Pertanyaan datar Kyungsoo menarikku ke dalam dunia nyata.Ku lihat dahi-nya mengernyit heran.

" oh maaf,hehehe "

Kyungsoo menghela nafas.
" ayo berangkat! " ajaknya sambil menarik tanganku lembut.

***

Aku mengerutkan dahi setelah menyadari aku dan Kyungsoo melewati jalan yang kurasa ini salah.

Aku menoleh menatap sisi wajah Kyungsoo yang tetap tenang menyetir.Apa dia tidak sadar kalau dia salah jalan?

" eum..Kyung " panggilku ragu.

" hmm " gumamnya menyahut.

" sepertinya kita—salah jalan "

Aku melongo melihat Kyungsoo hanya diam dan tidak meresponku.Apa dia pikir aku ini bercanda? Hey sebodoh-bodohnya aku kalau soal jalan menuju Namsan Tower aku tau!

***

Aku semakin bingung saat Kyungsoo memakirkan mobilnya.Kyungsoo membukakan pintu mobil untukku.

" ayo keluar! "

Aku menggeleng.

" katakan padaku,ini dimana? Kenapa kesini? " tanyaku.

Kyungsoo menghela nafas lalu menarikku keluar.

" Kyung! " seruku kesal.

Aku merasa Kyungsoo membohongiku.Ini bukan Namsan Tower.Di tempat ini banyak rumah tradisional Korea.Jelas,aku merasa di bohongi.

" Korean Folk Village " ucapnya.

Aku mengerutkan dahiku tidak mengerti.

" kita di Korean Folk Village "

Aku menggeleng tidak percaya.

Bagaimana aku harus percaya?

Aku akan kencan di taman budaya?

Ini kencan bukan Study Tour!

Aku menghentakkan kakiku kesal lalu berjalan mendahului Kyungsoo.

Laki-laki itu benar-benar menyebalkan!

" hey kau kenapa?! "

Aku mendengar Kyungsoo berseru,aku tetap tidak berhenti berjalan dan terus menghiraukannya.

" tunggu! "

Aku mendengus saat Kyungsoo berhasil menarik tanganku membuat badanku otomatis berbalik menghadapnya.

" kau tidak tau tempat ini,setidaknya jangan berjalan di depanku " ucapnya.

Kyungsoo tersenyum lalu mengenggam tanganku.Membawaku berjalan menelusuri tempat ini.

kenapa dia terlihat senang sekali? dia tidak sadar aku sedang marah? Dasar laki-laki tidak pengertian!

***

Aku dan Kyungsoo berkeliling menjelajahi seluk beluk Korean Folk Village.Di sebelahku Kyungsoo terus menggenggam tanganku,senyumannya mengembang melihat replika rumah tradisional Korea yang kami lewati.Kyungsoo menarikku ke pameran teknik pembuatan barang-barang dari kayu dan logam secara tradisional.Aku menoleh dan menatap sisi wajahnya yang terlihat kagum,matanya berbinar,senyumannya juga selalu menghiasi wajahnya.Decakkan kagum dia lontarkan setelah mendengar jawaban dari pertanyaan yang dia ajukan pada si pengrajin.

Jujur,aku senang.

Bukan,bukan karena pamerannya.

Tapi karena melihat senyuman Kyungsoo yang begitu lebar.Mata bulatnya yang berbinar.

Aku senang melihatnya.

Setelah Kyungsoo merasa puas melihat pameran itu,dia menarikku lagi dan membawaku menelusuri pasar jalanan tradisional.Banyak pernak-pernik cantik yang tidak ku pungkiri membuatku tertarik.Aku tertarik pada salah satu cincin yang menurutku cantik.Warna-nya putih bermotif bunga.

Dalam hati aku berharap Kyungsoo mau membelikanku cincin itu.

Ayolahh..ini kencan,seharusnya ada hadiah!

" itu namanya Garakji " ucap Kyungsoo saat aku memegang dua cincin itu.

" oohhh " aku mengangguk-anggukkan kepala.Cincin ini begitu menarik perhatianku.

" cincin itu untuk perempuan yang sudah menikah,katanya sebagai pertanda tentang keharmonisan bersama suaminya " ujar Kyungsoo memberi penjelasan.

" jadi…perempuan yang belum menikah tidak boleh memakai ini? " tanyaku kecewa.Aku menatap Garakji yang ada di telapak tanganku.

Ku dengar Kyungsoo menghela nafas.
" sudah waktunya makan siang,lebih baik kita makan "

Aku mengangguk pelan lalu meletakkan Garakji itu ke tempat semula dan berjalan meninggalkan Kyungsoo.Sungguh aku ingin Garakji itu!

Kyungsoo bisakah kau pengertian sedikiiitttt saja,huh?!

***

Kyungsoo mengajakku ke sebuah restaurant tradisional Korea.Kami duduk di bangku dekat jendela.Dari jendela kami bisa merasakan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah kami.Pemandangannya juga sangat menyegarkan mata.Yaaa..setidaknya ini bisa menjadi penghibur atas kekecewaanku tentang Garakji tadi.

" Samgyetang? "

Aku melongo melihat makanan tradisional Korea yang berbentuk sup ayam ginseng dengan bumbu tambahan merica dan garam itu.Makanan yang paling aku hindari saat hari chobok,jungbok dan malbok itu.

" Kyung,kenapa kau memesan ini? " tanyaku sambil menatapnya.

" memangnya kenapa? " Dia balik bertanya.

Aku mendengus.
" aku tidak mau makan ini! " seruku kesal.

Kyungsoo mengerutkan dahinya.
" kenapa?  ini enak "

Aku menggeleng keras.
" pokoknya tidak mau! "

Ku lihat Kyungsoo menghela nafas.

" makanlah " ucapnya tenang.

Lagi-lagi aku menggeleng.
" ku bilang tidak! Aku tidak suka itu,Kyung! "

Kyungsoo berdecak kesal.

" suka atau tidak aku mau kau menghabiskan itu,kalau tidak— "

" kalau tidak apa?! " potongku cepat.

" aku akan meninggalkanmu disini,jadi cepat makan! " perintahnya dan setelah itu dia langsung memakan Samgyetang-nya.

Aku mengerucutkan bibirku.Terpaksa aku harus memakan makanan ini.Sungguh,Kyungsoo sangat menyebalkan hari ini!

***

Aku memilih mendiamkan Kyungsoo setelah keluar dari restaurant tadi.Aku kesal dengannya karena telah memaksaku memakan Samgyetang.

Dan faktanya,aku benci di paksa.Aku juga tidak suka Samgyetang.

Kyungsoo mengajakku ke taman hiburan tempat di mana ada permainan,taman patung,museum seni,museum rakyat Korea, dan juga museum rakyat dunia.

Kyungsoo sama sekali tidak mengajakku menaiki permainan yang kelihatannya dapat membangkitkan mood buruk-ku.Dia malah mengajakku memasuki museum-museum itu.Berjalan dari satu peninggalan sejarah ke peninggalan sejarah lainnya yang sudah dilindungi oleh kotak kaca.Berdiri untuk beberapa menit sambil membaca asal-usul peninggalan sejarah tersebut.

Ugh,sungguh membosankan.

Aku dan Kyungsoo keluar dari museum sejarah dunia pukul 4 lewat 15 menit.Padahal aku masuk ke museum sejarah Korea pukul 2 siang.

" kita mau kemana lagi? " tanyaku pada Kyungsoo.

Kyungsoo melihat jam tangan hitam yang meligkar di pergelangan tangan kirinya.

" aku mau melihat pertunjukkan tari tradisional Korea.Tapi ini baru pukul 4 lewat 15 menit.Pertunjukkannya di mulai pukul 7 malam. " ujarnya.

" lalu apa yang akan kita lakukan selama 2 jam 45 menit kedepan? " tanyaku.

Kyungsoo tersenyum penuh arti padaku.Sambil menaikkan kedua alisnya.

" kita lihat saja nanti "

***

Kyungsoo mengajakku menonton prosesi perkawinan tradisional Korea yang baru saja di mulai.Kami duduk di bangku bagian tengah.Aku berdecak kagum melihat bagaimana proses perkawinan itu terjadi.

" kau mau berfoto tidak dengan model pengantin tadi? " tanya Kyungsoo setelah acaranya selesai.

" memangnya boleh? " tanyaku.

Kyungsoo mengangguk.
" ayo! " ajaknya sambil menarik tanganku.

Kami menghampiri model pengantin tadi dan foto bersama mereka.Mempelai wanitanya sangat anggun menggunakan hanbok itu.Mempelai pria-nya juga terlihat gagah.

Mataku tertuju pada sebuah tempat berfoto,dimana tempat itu memperbolehkan pengunjung memakai hanbok itu berfoto.

" kau mau kesana? " tanya Kyungsoo.

Aku menatapnya.
" apa boleh? "

Kyungsoo tertawa kecil lalu menarikku lembut.
" aku juga ingin mencobanya "

Kami memakai pakaian hanbok dengan warna yang serasi.Aku tidak bisa menyembunyikan rasa senangku saat Kyungsoo berdiri di sampingku sambil tersenyum ke arah kamera.Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya.

" ini "

Aku menoleh menatap tangannya yang terulur.Bibirku melengkung ke atas saat melihat Garikja yang menarik perhatianku tadi ada di telapak tangannya.

" ahjussi,bisakah kau memfoto ku saat aku memakaikan cincin ini padanya? " pinta Kyungsoo pada paman yang memotret kami.

Paman itu mengacungkan jempol sambil mengulum senyum.

Kyungsoo menarik tanganku dan memakaikan Garikja di jari manis tangan kiriku.

" anggap saja kita sudah menikah,hanya untuk berfoto " ucapnya sambil tersenyum.

Aku mengangguk.Aku merasa wajahku memanas,mungkin saat ini pipiku memerah.

Ughhhh Kyungsoooo! Aku benar-benar membencimuuuuuuuu!

Kami berfoto beberapa kali dengan berbagai macam gaya.Dan untungnya,foto itu langsung di cetak,jadi aku bisa membawanya pulang dan memajangnya di kamar.

" waktunya masih lama,kita akan kemana lagi? " tanyaku.

Kyungsoo kembali tersenyum.

" ikuti saja aku "

***

Tempat selanjutnya adalah keterampilan menunggang kuda.

Aku berteriak heboh saat para penunggang kuda itu menunggang kuda sambil berdiri.Setelah itu mereka berganti gaya,mereka menunggang kuda dengan kepala dibawah dan kaki di atas,sungguh menakjubkan!

" waahhhh! Mereka benar-benar kereeennnn! " decakku kagum saat atraksi sudah selesai.

Aku menatap Kyungsoo yang hanya diam memandangku.

" Kyung? " aku menjentikkan jariku di depan wajahnya.

" eoh? "

Aku menepuk dahiku sambil tertawa.Ekspresi bingung Kyungsoo sangat lucu.Mata-nya membulat,mulutnya pun begitu.

Aku melirik jam tangan biru-ku.

" Kyung! Ini sudah jam 7 kurang 17 menit! Ayo kau bilang ingin melihat pertunjukan tari tradisional Korea! " seruku sambil menarik tangannya.Menunggu Kyungsoo sadar dari lamunannya itu akan memakan waktu,bisa-bisa pertunjukannya selesai terlebih dahulu.

***

" Yyyaaahhhhh "

Tempat duduk sudah mulai penuh,aku dan Kyungsoo terpaksa duduk di barisan ke-3 dari belakang.

" 10 menit lagi acara akan di mulai " ucap Kyungsoo.

Aku mengangguk semangat.Tangan kanan ku sibuk mengambil isi snack yang ku beli sebelum ke sini.Kami juga membeli minuman,Kyungsoo bilang acara ini cukup lama.

Entah sudah berapa kali aku berdecak kagum.Kagum dengan para penari yang menari dengan anggunnya.Senyuman mereka sangat manis.Aku menyukai cara mereka tersenyum.Anggun.

" Kyung,mereka cantik ya? " tanyaku tatapan mataku masih menatap kagum ke arah penari.

" iya " jawab Kyungsoo singkat.

" menurutmu siapa yang paling cantik? " Aku menoleh menatapnya.

Kyungsoo tersenyum manis menatapku.Dia memajukan wajahnya.

" kau yang paling cantik " bisiknya.

Dan aku hanya bisa mengerjapkan mataku.

***

Lagi-lagi aku berdecak kagum saat melihat lampion berwarna biru dan merah yang menggantung di sepanjang jalan.Ini sudah malam dan pengunjung makin ramai memenuhi para pedagang di sepanjang jalan.

" setelah ini kita akan kemana? " tanyaku pada Kyungsoo.

Kyungsoo tersenyum.
" ada satu tempat terakhir,ini tempat penutup " jawabnya.

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.Entah,kejutan apalagi yang akan Kyungsoo berikan padaku.

Kyungsoo mengajakku berjalan melewati jalan yang tadi pagi kami lewati.Dan kami berhenti di batu besar berdiri dan satunya lebih besar lagi karena disusun dari sejumlah batu kecil.Aku sempat melihat batu ini tadi pagi,tapi karena terbawa rasa kesal jadi aku mengabaikannya.

Sekarang aku mulai penasaran dengan batu besar ini.

Gundukan batu besar itu diikat dengan tali.Di tali itu terdapat lipatan kertas yang diikatkan.Aku penasaran dengan lipatan kertas-kertas itu.

" Itu adalah batu harapan.Pengunjung yang percaya dapat menulis harapan masa depannya di kertas yang telah disediakan. " ujar Kyungsoo menjelaskan.

Kyungsoo menyerahkan secarik kertas dan sebuah bolpoin padaku.

" tulis harapanmu,terserah kau,boleh tentang sekolahmu,tentang keluargamu,atau—tentang kita " ujarnya.

Aku mengangguk sambil tersenyum malu-malu mendengar kalimat terakhir Kyungsoo.

Tentang kita?

Tentang aku dan dia?

Aku menulis harapanku di kertas dengan menjadikan batu besar itu sebagai tatakannya.Sebelah tanganku menutupi kertas itu agar Kyungsoo tidak melihat.

" selesai! " seruku senang.

Aku melipat kertas itu lalu menoleh ke arah Kyungsoo.

" kita ikat sekarang " ucapnya.

Aku mengangguk,dan kami pun sama-sama mengikat kertas itu di tali yang ada di batu itu.

Aku berharap orang-orang yang ku sayangi dan menyayangiku bahagia selamanya.Aku berharap aku dapat bersama mereka selamanya ^^

***

Setelah membuat harapan kami berdua memutuskan untuk pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Waktu memang terasa begitu cepat ketika kau bersama dengan orang yang berarti dalam hidupmu.

" kau tau kenapa aku mengajakmu kemari daripada ke Namsan Tower? " tanyanya sambil berhenti berjalan-akupun juga-.Kami berhadap-hadapan.

Aku menggeleng.

" aku ingin membuat sesuatu yang berbeda,Namsan Tower terlalu biasa menurutku.Semua orang yang berkencan pasti akan kesana.Dan kalau ada yang bertanya apa saja yang mereka lakukan disana? Pasti jawabannya sudah bisa di tebak " ujar Kyungsoo.

Aku tersenyum kecil.Dalam hati membenarkan ucapan Kyungsoo.

" sedangkan tempat ini,tempat ini berbeda menurutku,walaupun tempat ini biasa digunakan untuk berekreasi atau study tour,tapi menurutku tempat yang romantis untuk berkencan " lanjutnya.

" kalau ada temanku yang bertanya kau berkencan dimana? Aku akan dengan bangga menjawab aku berkencan di Korean Folk Village.Dan kalau mereka bertanya apa saja yang kau lakukan disana? Aku akan menjawab banyak hal yang ku lakukan,dan yang pasti aku bisa berfoto dengan pasanganku menggunakan hanbok layaknya pengantin.Aku memasangkan Garakji di jarinya,bukankah itu romantis? "

Aku tertawa kecil melihat Kyungsoo yang beradegan seolah-olah ada temannya yang bertanya tentang bagaimana kencannya dan dia sedang menjawab pertanyaan itu.

" kenapa tertawa? Aku sungguh-sungguh akan menjawab begitu kalau temanku bertanya " ucapnya dengan mimik wajah yang tidak bisa ku deskripsi-kan.Terlalu lucu menurutku.

" aku juga,aku juga dengan bangga akan menjawab kalau aku kencan di Korean Folk Village.Aku akan mengatakan kalau ini adalah tempat kencan yang paling romantis.Dan yang pasti ada banyak kejutan yang diberikan pasanganku di tempat ini. " ujarku.

" oya? Ku kira kau kesal saat ku ajak kemari " cibirnya.

" i—itu karena ku pikir kau mengajakku kemari hanya untuk memuaskan keinginanmu saja " ucapku membela diriku sendiri.

" baiklah,oiya mana foto-foto yang tadi? " tanyanya.

Aku mengeluarkan foto-foto tadi yang ku letakkan di dalam tas selempang yang ku bawa.

" untuk apa? " aku balik bertanya sambil menyerahkan foto-foto itu padanya.

Kyungsoo terlihat memilih-milih foto-foto dan mengambilnya satu.

" aku juga mau menyimpannya " ucapnya sambil menunjukkan foto yang dia ambil.Foto dimana dia merangkulku dan kami tersenyum lebar.

Aku tersenyum lalu memasukkan foto-foto itu ke dalam tas.

" ngomong-ngomong,kapan kau membeli cincin ini? " tanyaku.Aku mengelus-elus dua cincin yang melingkar di jari manisku.

" tadi,saat kau marah dan berjalan terlebih dahulu menuju restaurant. " jawabnya.

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.

" aku hanya tidak suka melihatmu cemberut,jadi aku membelikannya untukmu agar kau tersenyum. " ujarnya.

Aku tersenyum,entah aku harus menjawab apa.Aku benar-benar tidak menyangka kalau Kyungsoo bisa semanis itu.

" aku senang seharian ini menghabiskan waktu bersamamu " ucapnya sambil menatapku.

" aku juga " balasku.

" aku senang melihat senyumanmu seharian ini,aku senang melihatmu tersenyum seharian ini karena ku " lanjutnya.

Oh Tuhaaannnn! Kyungsooooo!!!!

" kenapa kau menyuruhku memakan Samgyetang? Kau kan tau aku tidak menyukai makanan itu " tanyaku.Aku penasaran dengan hal yang sudah membuatku sempat kesal dengannya.

" itu karena kita sudah berjalan 3 jam di bawah terik matahari,aku tidak mau kau sakit,jadi aku memaksamu memakan Samgyetang agar kau tidak sakit " jawabnya.

Dia melirikku sekilas.
" kalau aku menyuruhmu ini dan itu,itu adalah bentuk rasa peduli ku padamu "

Dalam hati,aku merasa bersalah telah bertingkah kekanak-kanakan hari ini.Telah berprasangka buruk tentang Kyungsoo.Sungguh,aku menyesal.

" Kyung,kemarilah! " perintahku sambil mengisyaratkannya untuk mendekatkan wajahnya.

Aku mengecup pipi-nya singkat lalu berlari menuju parkiran.

" TERIMAKASIH UNTUK HARI INI YA KYUNG! "

Teriakku dari jauh,aku masih bisa melihat Kyungsoo yang diam di posisinya tanpa bergerak.Aku berkacak pinggang menunggunya.

" Y-YA! AHN HEE! AKU AKAN MEMBALASMU! " balasnya sambil berkacak pinggang juga.

" O-ow "

Aku langsung berlari,aku harus cepat-cepat masuk ke dalam mobil!

Apa yang akan Kyungsoo lakukan untuk membalasku?

END