Laman

Tampilkan postingan dengan label Sehun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sehun. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 September 2014

EXO Fanfiction: Si meragukan,Sehun.

(A/N : yang jelas ini kelanjutan dari pasangan Sehun-Eun Hyun.Happy reading,enjoy^^)

***

" aku tidak yakin denganmu,dengan kita "

***

Terdengar suara langkah kaki cepat yang memecah kesunyian jalanan kompleks malam itu.Kaki jenjang yang di bungkus flat shoes berwarna biru langit yang menjadi alasannya.Perempuan itu memakai almamater kedokterannya lengkap dengan tas yang berisi perlatan medisnya.
Dengan ekspresi wajah yang benar-benar menyeramkan ia terus berjalan cepat menghindari laki-laki jangkung yang terus berusaha menjangkaunya.

" Eun hyun-ah,tunggu! "

Dokter muda itu menggembungkan pipinya kesal saat laki-laki jangkung bernama Oh Sehun itu berhasil meraih lengannya.

" dengar,aku minta maaf soal ini,aku benar-benar tidak bermaksud seperti apa yang kau pikirkan,sungguh! " ujarnya dengan nada penekanan yang kentara.

" tidak bermaksud seperti apa yang aku pikirkan? Memangnya kau tau aku berpikir apa? " tanya Eun Hyun sarkatis.

Sehun menelan ludahnya,tatapan tajam yang ditujukan Eun Hyun padanya benar-benar membuatnya seperti kutu yang terpitas.

" aku memang tidak pandai,tapi aku tau kalau kau sedang marah padaku,terutama soal itu " ucap Sehun pelan.

" soal itu? kau bahkan tidak berani menyebutnya,Tuan Penari "

Sehun mengetuk-ngetukkan sepatu sneakers abu-abu-nya ke aspal jalan,matanya bergerak menunjukkan bahwa sekarang ini laki-laki yang baru berumur 21 tahun itu sedang memutar otaknya.

" aku tidak tau kenapa,tapi sikapmu membuatku malas denganmu untuk saat ini dan mungkin untuk beberapa minggu ke depan " ucap Eun Hyun santai.

" ap—apa? beberapa minggu ke depan?! " Sehun berjengit kaget.Mungkin ia akan bernapas lega jika Eun Hyun mengatakan beberapa detik atau beberapa menit ke depan.

Tapi ini?! Beberapa minggu?!

Sehun menggelengkan kepalanya kuat-kuat,pertanda bahwa ia menolak kata-kata Eun Hyun barusan.

" Eun Hyun manis,dengar aku,aku tau aku salah dalam masalah ini,aku tau itu.Aku benar-benar minta maaf dan aku berjanji akan menyelesaikan masalah ini,malam ini juga " ucap Sehun bersikeras.

Eun Hyun tertawa sinis.
" sudah ku bilang,bahkan kau tidak berani menyebut kesalahan mu sendiri,kenapa? apa kau membenarkan ucapan Ibu-mu? "

" tidak semua yang Ibu ku katakan itu benar,jadi— "

" tidak semua? Berarti sebagian besar ucapan Ibu-mu itu benar? " Lagi-lagi Eun Hyun bertanya dengan nada sinis yang membuat Sehun makin menciut.

Ia merasa seperti kain pel bekas yang berada di sudut ruang janitor sekolahnya.

Mereka berdua sama-sama diam dengan Eun Hyun yang masih menatap Sehun menunggu jawaban yang akan di keluarkannya dan Sehun yang menunduk—masih dengan sepatu yang ia ketuk-ketukan ke aspal—

" yasudahlah,lupakan masalah kau yang tidak pernah memberitahu Ibu-mu tentang hubungan kita,lupakan perkataan Ibu-mu yang mengatakan kalau sikap luar biasa senangmu tigabulan terakhir ini karena mantanmu yang bernama Ah Ra itu.Aku harus ke rumah sakit,sampai jumpa beberapa minggu ke depan,Sehun "

Eun Hyun berbalik badan lalu melangkahkan kakinya menjauh dari Sehun,sementara itu,dari jarak beberapa meter di belakangnya Sehun hanya dapat memandang punggung perempuan yang resmi menjadi kekasihnya selama tigabulan ini dalam diam.

***

" hari ini aku ingin izin bekerja setengah hari "

Yixing mengernyit heran mendengar ucapan anak buah kesayangannya itu.

" ada masalah apa? " tanyanya.

" aku ada masalah dengan Eun Hyun.Ini masalah hidup dan mati,hyung " jawab Sehun lesu.

Yixing tertawa kecil.Laki-laki di hadapannya ini benar-benar payah soal perempuan,batinnya.

" kau mau aku potong gajimu? "

Sehun membulatkan matanya,kemudian menggeleng.
" jangan,hyung! Ku mohon,kau juga tau 'kan arti penting gaji itu bagiku? Yaaa—ku mohon,izinkan aku keluar dari sini saat makan siang dan jangan potong gajiku " Sehun memelas seperti anak kucing yang minta dikasihani.

" dasar anak kecil,aku hanya bercanda.Baiklah,kau boleh keluar saat makan siang " ujar Yixing lalu tergelak.

" sungguh?! kau tidak akan memotong gajiku 'kan hyung?! " serunya dengan mata berbinar,Sehun meraih tangan Yixing dan menggenggamnya erat.

" aku janji akan mengajakmu ke Yanggu dan melihat pemandangan indah disana " ujarnya dengan nada penuh haru.

Yixing melepas tangan Sehun dengan risih lalu mengayunkan tangannya ke depan.
" aku tunggu janjimu itu,cepat sana pergi dan jangan pasang wajah sok imut mu itu,Sehun "

Sehun hanya meringis lalu bangkit dari kursi,membungkuk sebentar dan keluar dari kantor Yixing.

" mengajakku ke Yanggu? Memang dia punya uang banyak? Ckckck dasar an—ASTAGA SEHUN KAU MENGAGETKANKU!! "

Yixing hampir terjungkal dari kursinya saat melihat kepala Sehun yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.Sehun melebarkan senyumannya.

" hyung,boleh aku pergi sekarang? ada yang harus ku lakukan "

Yixing mendengus lalu mengangguk.
" sekali lagi kau melakukan hal seperti tadi aku akan memotong gajimu,sungguh " kesalnya.

" hehehe,maaf hyung,kalau begitu sampai jumpaa " pamitnya lalu menutup pintu.

Yixing menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Sehun,ia meraih ponselnya dan berniat menelepon Ibu-nya.Mata Yixing membulat melihat jam yang tertera di layar ponselnya.Ia menghela nafas pasrah lalu menelungkupkan kepalanya di atas meja.

" astaga…kenapa aku mengizinkan anak buahku pergi padahal dia baru saja datang,Oh Sehun anak itu benar-benar… "

***

Sehun tersenyum membayangkan rencananya kali ini akan berhasil.Saat ini ia sedang duduk menunggu pesanan sup rumput laut kesukaan Eun Hyun.Membayangkan Eun Hyun yang akan melahap sarapan sup rumput laut darinya.

Pasti dia sangat lelah,batinnya.

" Tuan,ini pesanan anda " ucap Bibi Pelayan yang datang menghampiri Sehun dengan kantung plastik berisi sup rumput laut.

Sehun mengambil kantung plastik itu dan menyerahkan beberapa lembar won pada Bibi Pelayan.
" terimakasih " ucapnya lalu berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.

" Tuan! "

Sehun menoleh saat mendengar Bibi Pelayang memanggilnya.
" ya? " sahutnya masih dengan senyuman lebar.

" uangnya kelebihan! "

" ambil saja kembaliannya "

Sehun kembali melanjutkan jalannya,ia tidak peduli lagipula dua hari lagi ia akan menerima gaji danYixing tidak akan memotong gajinya.

Yaa—setidaknya harus ada yang mengingatkan Sehun kalau hari ini ia sama sekali tidak bekerja,jadi laki-laki itu tidak perlu se-yakin itu dan melebihkan uangnya.

***

" permisi,apa Dokter Cho ada di ruangannya? " tanya Sehun ramah kepada penjaga resepsionis.

" Dokter Cho? Yang perempuan atau yang laki-laki? " tanya penjaga resepsionis itu.

Sehun menepuk jidatnya pelan,lupa kalau dokter yang bermarga Cho tidak hanya satu di  rumah sakit sebesar ini.
" Perempuan,Dokter Cho Eun Hyun,dia pacarku "

Penjaga resepsionis itu merubah raut wajahnya mungkin sedikit kecewa mengetahui laki-laki tampan di depannya ini adalah pacar dokter muda yang tadi pagi juga di cari oleh seorang laki-laki yang tidak kalah tampan dengan Sehun.

" tidak tau,cari saja sendiri " ucapnya cuek lalu kembali duduk dan berkutat dengan data-data yang ada di hadapannya.

Sehun mengernyit heran,biasanya ia akan langsung marah-marah tapi berhubung mood-nya sedang baik ia tidak peduli dan kembali melanjutkan perjalannya.

Tujuan pertamanya adalah; ruang kerja Eun Hyun.

" eoh? anda bukannya pacar Dokter Cho? " seorang suster betubuh gempal menginterupsi langkah Sehun.

Sehun mengangguk.
" kau lihat dimana dia? "

" oh iya,tadi Dokter Cho pergi keluar bersama pasien pertamanya,sepertinya mereka sarapan di restoran seberang "

" pasien per—apa? " tanya Sehun tergagap.

" pasien pertama,laki-laki yang tampan itu.Kim Jongin. "

Rahang Sehun mengatup keras,seketika mood-nya langsung berubah drastis.

Si Jongin itu,benar-benar mood breaker untuk Sehun setelah kata potong gaji.

***

Jongin tersenyum manis setelah mendengar keluh kesah yang di keluarkan sahabat perempuan di hadapannya ini.Entah,sebagian dari hatinya merasa senang melihat kekesalan Eun Hyun pada Sehun yang sepertinya kali ini dapat membuat hubungan mereka terancam berakhir dan itu berarti ia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan Eun Hyun.Sedangkan,disisi lain ia juga tidak tega melihat Eun Hyun sedih dan merasa kesal dengan sikap Sehun.

Tapi,apapun perasaan yang di rasakannya,Kim Jongin harus terlihat berkarisma di depan Eun Hyun.Dan tentu saja harus terlihat lebih dewasa dari si Sehun yang menyebalkan itu.

" tenangkan pikiranmu,pikirkan baik-baik dan jangan betindak gegabah atau kau akan menyesal " ujarnya lembut.

Eun Hyun menghela nafas,bebannya terasa lebih ringan setelah meluapkan semua keluh kesahnya pada Jongin.

" maka dari itu aku meminta Sehun untuk tidak menemuiku beberapa minggu ini,kau tau? melihat Sehun aku merasa seperti pasien penderita darah tinggi yang melihat daging kambing "

Jongin tergelak,lebih tepatnya ia menertawakan dirinya sendiri.

Pasien darah tinggi yang melihat daging kambing? Itu berarti Eun Hyun menginginkan Sehun tapi ia tau kalau Sehun itu akan membuatnya sakit.Jadi Eun Hyun merasa kesal,ia suka Sehun tapi disisi lain Sehun itu menyebalkan.

Ckckck,si Jongin yang malang,hatinya membatin duka.

" lalu aku harus melakukan apa untukmu? " tanya Jongin.

Setidaknya Jongin harus membuat Eun Hyun tersenyum dulu,karena dengan begitu ia juga akan tersenyum.

" temani aku kemanapun hari ini "

Jongin mengangguk mantap dengan senyuman manisnya,ia menatap ke arah jendela besar di belakang Eun Hyun dan mendapati Sehun beridiri di sana.Laki-laki itu menatap Jongin dengan tajam sedang Jongin hanya dapat menarik satu sudut bibirnya.

***

Si Jongin itu memang suka menindas yang lemah.

Kyuhyun hampir saja menyiram Sehun dengan sup rumput laut yang di santapnya kalau saja ia tidak ingat rasa supnya yang enak.Telinganya panas mendengar Sehun yang terus berkata seperti itu.Mengoceh tidak jelas tentang Jongin ini dan Jongin itu.

" jadi kau merasa dirimu lemah dan Jongin kuat? " tanya Kyuhyun setelah menghabiskan sup-nya.

Sehun menggeleng spontan.

" tentu saja tidak! Hyung! Aku ini korban kelicikannya! " serunya.Sekarang Sehun terlihat seperti Ibu-ibu yang melapor ke polisi karena dompetnya yang di copet.

" kalau begitu tunjukkan " ucap Kyuhyun dengan nada serius.

Kyuhyun menatap Sehun dalam,kali ini ia harus mencampuri urusan mereka.

Kyuhyun tidak suka melihat Eun Hyun menangis lagi.

" Sehun dengar,kau adalah pilihan adikku,aku dan orang tuaku.Kalau kau bersikap seperti ini,lemah dan selalu mengeluh kami jadi meragukan pilihan kami sendiri.Kami meragukanmu,Sehun. " ujar Kyuhyun.

" hyung— "

" tunjukkan kalau kau memang pantas,yakinkan pilihan kami kembali,atau kami akan berpihak pada Jongin "

***

Eun Hyun melangkahkan kakinya memasuki rumah sakit.Kekesalannya pada Sehun makin bertambah saat mengetahui laki-laki itu bahkan tidak menghubunginya tiga hari ini.

Tolong catat,tidak menghubunginya.

Eun Hyun berjalan melewati meja resepsionis dan bernapas lega karena tidak mendapati suster penjaga resepsionis yang selalu menatap sinis padanya.

Kembali ke Sehun,Eun Hyun sudah menyiapkan beribu kata-kata jika ia dan Sehun bertemu.Dan beribu kata-kata itu akan berujung pada keputusan yang sudah ia pikirkan matang-matang.

Intinya,semua tergantung dengan sikap Sehun.

" Hai "

Panjang umur.Sehun kini berdiri dari kursi ruang tunggu dan tersenyum lebar menyapanya.Eun Hyun diam tidak membalas,hanya menatap laki-laki itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.

" aku ingin berbicara denganmu " ucap Eun Hyun dingin.

***

Sehun dan Eun Hyun kini duduk di taman rumah sakit.Tempat dimana mereka biasa menghabiskan waktu bersama saat makan siang.

" aku tidak akan memaksamu "

Sehun menoleh dan menatap Eun Hyun dengan kernyitan di dahi.Tidak mengerti maksud dari ucapan perempuan itu.

" kita baru tiga bulan,sebelum semuanya terlambat,sebelum kita saling merasa tersakiti,lebih baik kita selesai,Sehun " ujar Eun Hyun dengan mata yang menatap Sehun dalam.

" Sehun,dengar " Eun Hyun menginterupsi Sehun yang baru saja ingin berbicara.

" aku-ragu-padamu " ucapnya dengan penekanan di setiap kata.

" sikapmu padaku membuatku ragu kalau kau tidak benar-benar menyukaiku,aku takut kau hanya salah menafsirkan rasa itu karena kita berteman sejak kecil.Aku ragu kalau kau hanya salah paham,dan sebelum kita semakin jauh lebih baik kita selesaikan sekarang. "

Mereka berdua saling menatap lama sekali,Eun Hyun sedang berusaha menahan air matanya.Meyakinkan dirinya bahwa ia dan Sehun memang tidak harus terikat dalam suatu hubungan serius kalau pada dasarnya persahabatan malah membuat mereka saling melempar senyum dan tertawa.

Sementara Sehun,ia sadar ia laki-laki dan menangis pada saat ini bukanlah saat yang tepat.

Ingat,kau tidak boleh lemah,Sehun,seru batinnya.

" aku benar-benar menyukaimu,Cho Eun Hyun. " ujar Sehun tegas.

Eun Hyun menggeleng.
" aku tidak yakin denganmu,dengan kita " balas Eun Hyun.

" tapi aku yakin,denganmu,dengan kita.Eun Hyun,aku menyukaimu " ujar Sehun.

Eun Hyun mengerjap beberapa kali,belum pernah ia mendengar nada suara Sehun yang selembut ini.

Sehun menarik napas panjang,ia mengenggam tangan Eun Hyun.

" aku memang Oh Sehun si laki-laki bodoh,aku memang Oh Sehun si laki-laki manja,aku memang Oh Sehun si laki-laki lemah,aku memang Oh Sehun si laki-laki plin-plan,aku memang Oh Sehun si laki-laki menyebalkan.Aku memang Oh Sehun—si laki-laki dengan segudang sifat buruk yang sering membuat kesal bahkan menangis. "

Sehun berhenti sebentar,kemudian kembali membuka mulut dan berkata, " tapi jangan pernah lupakan satu hal,kalau aku memang Oh Sehun yang menyukai Cho Eun Hyun " tuturnya di akhiri dengan senyuman manis.

Demi apapun Eun Hyun ingin sekali memukul kepala Sehun karena telah berani membuat hatinya kembali mencair.

Dasar Oh Sehun,si mulut besar.

Sehun mengeluarkan sesuatu dari dalam kantungnya.Sebuah miniatur kotak p3k muncul dari sana.Ia membuka kotak itu dan—

" aku mau kita lebih serius dari ini " ujarnya.

Ada cincin emas putih yang cantik di dalam sana.Eun Hyun menatap Sehun dan cincin itu bergantian.

Sehun tersenyum lalu menarik tangan kiri Eun Hyun dan memasang cincin itu di jari manisnya.Mencium punggung tangan Eun Hyun untuk beberapa waktu dan menatapnya dengan pandangan teduh.

" aku sudah bilang pada keluargaku,dan Ibu menyuruhku untuk segera melamarmu karena Ibu akut kau di ambil orang,Ibu ingin kau menjadi menantunya,menjadi Nyonya Oh " ujarnya.

" bagaimana? Kau mau? "

Eun Hyun terlihat berpikir,ia memasang ekspresi ragu yang membuat Sehun seketika was-was.

" Oh Eun Hyun? " tanya Eun Hyun pelan.

Sehun mengangguk mantap.
" Oh Sehun dan Oh Eun Hyun "

" baiklah,kedengarannya bagus juga " ucap Eun Hyun dengan senyum lebar.

Mata Sehun berbinar,mulutnya tersenyum sangat lebar,terlihat seperti idiot malah.

" sungguh?! "

" aku sungguhan "

Sehun memeluk Eun Hyun erat.

" terimakasih,aku tau pengorbananku tidak akan sia-sia " ujarnya penuh haru.

" pengorbanan? " Eun Hyun melepas pelukan Sehun dan mengernyit.

Eun Hyun penasaran pengorbanan seperti apa yang Sehun lakukan.

" Yixing hyung memotong gajiku,padahal aku sengaja mengumpulkan gajiku untuk membeli cincin yang sudah ku pesan ini.Dia menyuruhku bekerja full selama tiga hari kalau aku ingin mendapatkan gaji sempurna beserta uang tambahan.Jadi aku langsung menyanggupinya,aku tidak mau membuatmu kecewa dan aku mau kau tau kalau aku benar-benar menyukaimu "

Sehun mengakhiri ceritanya,ia tersenyum manis membuat tangan Eun Hyun terulur dan mencubit pipinya.

" Ya! Aku juga menyukaimu,bodoh! Maka dari itu aku marah karena kau tidak memberitahu tentang kita pada Ibu-mu "

Sehun merengut sambil mengusap pipinya.
" sekarang aku sudah memberitahu semuanya "

Eun Hyun mengangguk.Ia mengangkat tangan kirinya dan memperhatikan cincin yang melingkar di tangannya.

" sekarang aku tinggal menunggu pembuktian selanjutnya " Ia menatap Sehun " kelanjutan dari cincin ini " ujarnya.

Sehun langsung mengangguk cepat.

" kau mau kita mengadakan resepsi di mana? Bulan madu? Oh! Ibu punya langganan butik keren! Kita pesan disana saja ya? Oiya,bagaimana dengan foto pernikahannya? Kita harus mulai membuat undangan! "

Sehun seketika berceloteh heboh,bahkan Eun Hyun saja yang perempuan hanya dapat memutar bola mata.

" hei jelek! Kumpulkan dulu gajimu! " serunya.

Sehun berhenti mengoceh dan menatap Eun Hyun kaget.

" jangan banyak bicara kalau kau belum punya uang sendiri,cih dasar " Eun Hyun mencibir lalu berdiri dan meninggalkan Sehun yang masih tercengang.

Mengumpulkan gaji?

Apa itu artinya ia harus melakukan kerja full lagi?

Oh,ya ampun.

END

Senin, 30 Juni 2014

EXO Fanfiction: Be a Ssang Namja.

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: Friendship,Romance-maybe-

Cast:
- Oh Sehun
- Cho Eun Hyun (OC)

Support Cast:
- Kim Jongin
- Cho Khyuhyun

Disclaimer: akhirnya jadi jugaaaaaaaa,ini permintaan orang yang sama seperti sebelumnya,temenku tercintah *asek* Hirza Qalby Tazkia.Maaf kalo gak dapet feel-nya atau kurang berkenan.Enjoy^^

Sebelumnya :
- Half Of My Heart
- All About Him
- Goodbye Summer

***

Sepasang mata itu mengerling menatap roda pesawat yang mulai bergesekan dengan aspal bandara lewat jendela pesawat.Setelah duabelas jam ia duduk manis di pesawat,menghabiskan setengah dari harinya untuk berdiam diri memandangi langit,kini saatnya ia menghirup udara tanah kelahirannya yang tiga tahun ditinggalkannya.

" yeah,i'm backkk!! "

Perempuan berambut panjang bergelombang dengan tinggi semampai itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.Bibirnya menyungging lebar memperhatikan orang-orang yang juga lalu-lalang turun dari pesawat.

Setelah melewati beberapa pemeriksaan oleh petugas,perempuan itu berhenti berjalan dan meletakkan satu tangannya di atas kedua alisnya; mencari seseorang yang menjemputnya.

Ponselnya berdering tanda telepon masuk.Perempuan itu merogoh kantung jins-nya dan menggeser tombol berwarna hijau itu.

" Ya! Kau dimanaaa?! "

Perempuan itu meringis sambil menjauhkan telinganya dari ponsel saat panggilannya di sambut dengan seruan yang menyakitkan gendang telinganya.

" aish! Bisa tidak kau tidak berteriak padaku,huh?! " sungut perempuan itu.

" baiklah,baiklah,sekarang kau dimana? pakai baju apa? " laki-laki di seberang sana mulai bertanya lembut.

Perempuan itu menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri berusaha mencari petunjuk masuk akal yang dapat ia katakan kepada si laki-laki itu agar dapat menemukannya.

" aku berdiri di dekat toko Bubble Tea,dan baju yang ku pakai sekarang adalah kaus lengan panjang warna abu-abu dan celana jins "ujarnya.

" eoh? Toko Bubble Tea? "

" hmm "

tut.

Perempuan itu mengernyit heran manakala sambungan teleponnya di putus begitu saja.

" Oh Sehun ini gila atau apa? kenapa dia mematikan teleponnya? " gerutunya kesal.

Perempuan itu meniup poni-nya pasrah,terserah laki-laki bernama Oh Sehun itu akan kebingungan mencarinya di seluruh sudut di bandara ini,yang terpenting ia harus segera pulang dan merebahkan diri di kasur empuknya.

Baru saja tangannya akan kembali menggeret koper biru dongker-nya mata lebih dulu menangkap siluet sosok tinggi yang berjarak empat meter dari tempatnya berdiri.Laki-laki tinggi berambut coklat gelap dengan poni sampingnya memakai kaus putih yang di lapisi jaket berwarna biru laut serta celana jins.Laki-laki itu tersenyum menunjukkan eyesmile-nya sambil melambaikan tangan.

" EUN HYUN-ah! EUN HYUN-ah! "

Sehun berseru sambil melompat-lompat kecil dari tempatnya,berharap kalau orang yang di panggilnya itu merespon panggilannya.

Kaki-kaki panjangnya melangkah lebar dengan senyuman yang tidak kalah lebar menunjukkan deretan gigi putihnya.Sehun merentangkan tangannya lalu membawa Eun Hyun kedalam dekapannya,memeluk perempuan-yang masih tidak bergerak itu-erat.

" aku merindukanmu,sungguh aku merindukanmu "

Tubuh Eun Hyun terasa hangat dan lemas saat Sehun membisikan kalimat itu di balik punggungnya.Kedua tangannya yang sedari tadi diam kini perlahan naik ke atas punggung Sehun.

" hmm,aku juga,Sehun "

***

Setelah puas melepas rasa rindu masing-masing Sehun dan Eun Hyun memilih langsung pulang.Sehun langsung mengambil alih koper Eun Hyun dan berjalan mendahului perempuan itu.

" hei,Sehun " panggil Eun Hyun saat mereka sudah di dalam mobil.

" apa? " Sehun menyahut ia memalingkan wajahnya menatap Eun Hyun dengan eskpresi luar biasa senangnya.

Percaya atau tidak,ini adalah hari yang paling di tunggu Sehun selama tigatahun terakhir.Ini hari-nya seorang oh Sehun.

Eun Hyun yang di tatap mata mengerling Sehun langsung menelan ludah sambil mengerjapkan matanya.Tigatahun berkomunikasi dengan Sehun lewat telepon atau skype membuatnya lupa cara menjaga sikap di depan Sehun.

" kau sekarang kerja? " tanya Eun Hyun setelah menormalkan detak jantungnya.

Sehun mengangguk lalu kembali fokus ke depan.

" kerja apa? "

" pelatih dance "

Eun Hyun mengernyitkan dahi-nya menatap sisi wajah Sehun tidak percaya.Oh Sehun koreografer?

" jangan bilang kau lupa kalau aku memang suka menari " ucap Sehun sambil mengerucutkan bibirnya.

Eun Hyun menggeleng cepat.Bukan lupa,hanya tidak percaya Sehun benar-benar menjadi pelatih dance.Eun Hyun kira bocah itu hanya bercanda saat dulu mengatakan kalau ia ingin menjadi pelatih dance suatu saat nanti.

Eun Hyun hanya kurang percaya Sehun bisa se-konsisten itu.

" kau sendiri? apa yang akan kau kerjakan di sini? " tanya Sehun.

Eun Hyun meletakkan telunjukkan di bibir,alisnya bertaut.Ia sedang berpikir.

" dokter "

" dokter? Kau akan menjadi dokter? " Sehun berteriak heboh.

" yep! dokter,teman Ayahku bekerja di rumah sakit Seoul,dia menawariku bekerja disana  "

" wahh,kalau begitu nanti aku akan jadi pasienmu,pasien pertama Cho Eun Hyun "

Eun Hyun menoleh " memangnya kau sakit? kalau kau tidak sakit kau tidak bisa menjadi pasienku,Sehun "

" aku sakit,aku akan sakit saat kau menjadi dokter,aku akan sakit supaya kau merawatku " ucap Sehun masih fokus melihat ke depan.

Sehun menolehkan kepalanya,menatap Eun Hyun sambil tersenyum lebar.

" pokoknya aku harus menjadi pasien pertama mu,tidak mau tau bagaimanapun caranya,aku harus menjadi pasien pertamamu! "

***

Eun Hyun tersenyum saat melihat bayangan dirinya di cermin besar yang menyatu dengan pintu lemari pakaiannya.Jas putih dokter terlihat begitu cocok di tubuh rampingnya.

Eun Hyun menyematkan jepit rambut berwarna putih bermotif bunga berwarna biru di sudut kiri rambut gelombangnya.Jepit rambut yang Sehun berikan padanya sebagai kado ulang tahunnya yang ke limabelas.

Sehun memang pelit soal kado.

Tapi tetap saja Eun Hyun menyukai apapun yang Sehun berikan padanya,bahkan Eun Hyun suka greeting card buatan Sehun yang ia buat dari kertas karton.Walaupun kelihatannya seperti anak sekolah dasar-Sehun menggambar balon di setiap sudutnya dan tulisan laki-laki itu yang jauh dari kata bagus-tapi Eun Hyun tetap menyukainya.

" aish! kemana bocah itu?! "

Eun Hyun menggerutu kesal karena Sehun yang tidak kunjung memunculkan batang hidungnya.Semalam bahkan Sehun sangat bersemangat dan mengatakan ia akan mengantar Eun Hyun ke rumah sakit dan menjadi pasien pertamanya.

Tapi kenyataannya?

" bahkan kau tidak menjawab teleponku,dasar mulut besar "

Dan dengan satu dengusan kesal Eun Hyun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit menaiki bus.

***

Bunyi roda ranjang pasien yang di dorong oleh beberapa suster menggema di seluruh sudut lorong rumah sakit.Seorang laki-laki muda yang terluka parah terlihat tidak berdaya di atasnya.Para suster-suster itu memasukkannya ke dalam ruang ICU.

" bagaimana ini?! dokter-dokter belum ada yang datang,ini masih terlalu pagi.Apa yang harus kita lakukan?! " seru seorang suster yang memakai kacamata dengan nada panik yang sangat kentara.

Suster yang bertubuh gempal juga tidak kalah panik,ia menggigit bibir bawahnya sambil menatap laki-laki muda yang terluka parah.

" Ya! Jangan diam saja,cepat lakukan sesuatuuu!! " seru suster lain yang bertubuh kurus.

" aku akan keluar,siapa tau ada dokter yang baru datang " usul suster bertubuh gempal tadi.Ia berlari keluar ruang ICU setelah mendapat anggukan dari teman-temannya.

Suster bertubuh gempal itu terus berlari,berharap ada seorang dokter yang baru datang dan menyelamatkan nyawa laki-laki tadi.Ia dan teman-temannya hanya suster jaga yang bertugas mengecek kondisi pasien; memeriksa tekanan darah,cairan infus,menyuntikkan vitamin,memberi makanan sesuai jam-nya.Bukan suster-suster yang biasa mendampingi dokter saat melakukan tindakan.

" Dokter! Dokter! "

Suster itu berteriak kencang saat melihat perempuan tinggi memakai jas dokter memasuki rumah sakit.Ia berlari ke arah perempuan itu.

" Dokter..hhh..tolong..hhh..ada..hhh..pasien..hhh...terluka...hhh "

***

Sehun membuka matanya perlahan,matanya terbelalak saat melihat cahaya matahari yang sudah luar biasa terang di luar sana.Ia langsung menyibakkan selimut dan meraih ponsel yang berada di nakas-nya.

" ah sial! " umpatnya kesal.

Tujuhbelas panggilan tidak terjawab dan lima pesan.

From: Eun Hyun.
05:56
Aku berangkat naik bus.

Sehun mendudukkan tubuhnya di kasur sambil menghela nafas kasar.Menyesal karena semalam tidur terlalu larut hanya karena menonton piala dunia.

" apa aku masih bisa menjadi pasien pertamanya? "

***

Eun Hyun menghela nafas panjang,ia baru saja melakukan penanganan terhadap pasien pertamanya.Seorang laki-laki muda berkulit agak gelap yang terluka parah.Suster-suster itu mengatakan kalau laki-laki muda itu berjalan terseok-seok ke rumah sakit pagi-pagi buta dengan luka lebam di wajah serta luka tusuk di perutnya.

" apa dia gangster? " gumam Eun Hyun sambil memandangi wajah damai laki-laki yang sedang memejamkan matanya itu.

" eung... "

Eun Hyun membulatkan matanya saat mendengar lenguhan yang keluar dari bibir laki-laki itu.Perlahan kedua kelopak mata itu terbuka,memunculkan sepasang bola mata berwarna coklat gelap yang indah.

Laki-laki itu mengerjap pelan,bola matanya langsung mengarah pada perempuan yang tersenyum memandangnya.

" apa anda baik-baik saja? " tanya Eun Hyun lembut.

Laki-laki itu diam tidak menjawab,ia hanya memandang bingung kepada Eun Hyun.

" Saya dokter yang menangani anda,Jongin-ssi.Nama saya Cho Eun Hyun " ucap Eun Hyun yang sadar jika laki-laki itu mungkin bingung dengan dirinya.

" kau tau namaku? " tanya laki-laki itu dengan suara serak.

Eun Hyun menggaruk tengkuknya sambik meringis.

" maaf,saya memeriksa dompet anda,rumah sakit ini butuh identitas anda "

Laki-laki bernama Jongin itu hanya mengangguk pelan.

" anda benar-benar baik-baik saja sekarang? Apa ada yang sakit? "

Jongin mengangguk pelan.
" perutku terasa kaku "

Eun Hyun tersenyum memaklumi.
" perut anda harus di jahit karena mengalami luka sobek,Jongin-ssi " ungkap Eun Hyun.

" terimakasih sudah menolongku " ujar Jongin dengan senyum tipis di balik bibir pucatnya.

***

" aku minta maaf tidak menjemputmu kemarin pagi,aku sungguh-sungguh kesiangan "

Sehun terus saja berseru sambil mengekor di belakang Eun Hyun yang mengacuhkannya sejak dia datang mengunjungi Eun Hyun di rumah sakit.

" aku harus melakukan apa supaya kau berhenti mengacuhkanku? " tangan besar Sehun menarik lengan kurus Eun Hyun,memaksa perempuan itu untuk berbalik menghadapnya.

" aku ingin memeriksa pasien pertamaku,Sehun.Bisa berhenti mengikutiku? " Eun Hyun bertanya dengan dingin.

Pegangan tangan Sehun langsung lepas detik ketika Eun Hyun menyebutkan kalimat 'Pasien Pertama'.Apa dia sudah terlambat sekarang?

" kau—sudah memiliki pasien? " tergagap,Sehun bertanya.

Eun Hyun mengangguk.

" dan itu bukan dirimu "

***

Eun Hyun menghela nafas berkali-kali untuk meredakan malu yang ada di dalam dirinya.Sehun bersikeras ikut dengannya untuk bertemu dengan pasien pertama Eun Hyun.

" bagaimana Jongin-ssi,apa ada keluhan lain? " Eun Hyun bertanya lembut sambil memegang tangan Jongin.

Jongin tersenyum sambil menggeleng.
" tidak,aku merasa lebih baik sekarang " jawabnya.

Sehun mendengus melihat pasien pertama Eun Hyun adalah seorang laki-laki.Terlebih sikap Eun Hyun yang sangat lembut dengannya,berbanding terbalik dengan Eun Hyun yang selalu meneriakinya.

" bisa kita pindah ke pasien lain? lama sekali " ucap Sehun dengan ketus.Kedua tangannya terlipat di depan dada.

Eun Hyun menoleh ke belakang dan memberi Sehun tatapan tajam.Mengisyaratkan laki-laki itu untuk menjaga mulutnya.

" apa? aku bosan disini " ucapnya membalas santai pelototan Eun Hyun.

Eun Hyun menghela nafas sekali lagi,ia tersenyum canggung pada Jongin.

" maaf Jongin-ssi,dia itu pasien gangguan saraf,jadi maklum kalau bicaranya sedikit kasar " ucapnya.

Sehun melotot kaget mendengar ucapan Sehun barusan,pasien gangguan saraf? Maksudnya apa?.Ia mendengus kesal,ia tau laki-laki bernama Jongin itu sedang menahan tawanya.Sehun paling tidak suka jika ada orang yang menertawakannya seperti itu.

" aku pulang! "

***

Eun Hyun menghabiskan setengah hari dari kerja-nya di ruang rawat Jongin.Hampir setiap hari ia selalu menemani Jongin,ia baru tau kalau Jongin kemarin terlibat perkelahian dengan teman-temannya.Jongin seorang player.

" orang tuamu? " Eun Hyun bertanya sambil menyodorkan potongan apel ke mulut Jongin.

Jongin mengendikkan bahunya.
" entah,mereka mengusirku dan terus mengumpatiku.Katanya aku anak yang tidak berguna. " jawabnya santai.

Eun Hyun menelan potongan apel yang ada di dalam mulutnya lalu menggenggam tangan Jongin.

" ku rasa kau perlu minta maaf pada orangtua-mu,bagaimanapun juga mereka yang selama ini membesarkanmu dengan susah payah " ujarnya.

Jongin menelan ludah,baru kali ini ada perempuan yang berani menasihatinya,selama ini ia hanya mengencani perempuan-perempuan centil yang kerjaannya hanya berdandan di depan kaca.

Dengan seulas senyuman manis Jongin mengangguk.

" kau benar,aku akan melakukannya "

***

" itu dari siapa? "

Eun Hyun menghampiri sang kakak yang sedang menonton tv.Di atas meja terdapat buket bunga mawar putih cantik.

" Sehun,dia yang memberikannya " jawab Kyuhyun.

Eun Hyun mengernyit tidak percaya lalu mengangkat buket bunga itu.Membaca pesan singkat yang terdapat di kartu yang ada di dalamnya.

Bunga ini ku beli menggunakan gaji pertamaku,semoga kau menyukainya ^^~

-Oh Sehun-

Eun Hyun tersenyum membacanya,ia merogoh ponsel yang ada di saku blazer putihnya dan menekan tombol satu.

Panggilan cepat,Sehun berada di nomor satu.

" Terimakasih " Eun Hyun berkata lembut ketika teleponnya diangkat.

" untuk? " tanya Sehun dengan nada bingung.

" bunganya,aku menyukainya " jawab Eun Hyun.

Sesaat Sehun tidak mengeluarkan suara.

" Sehun? Kau masih disana kan? Tidak tidur kan? "

" eoh? Tidak,syukurlah kau menyukai bunga itu "

Eun Hyun tersenyum.

" tentu aku menyukainya "

Tut.

Eun Hyun mengernyitkan dahinya,kenapa Sehun senang sekali memutuskan telepon seenaknya?

***

Siang ini Sehun meminta Eun Hyun untuk menemaninya makan siang di taman dekat rumah sakit.Laki-laki itu datang membawa dua kotak bekal yang katanya itu adalah hasil masakannya sendiri.

" kalau hanya menggoreng nugget aku juga bisa,Sehun " komentar Eun Hyun sambil menyumpit nugget rasa spicy ke mulutnya.

" orang bilang jangan lihat hasilnya tapi lihat prosesnya,kau tidak tau kan bagaimana rasanya menggoreng nugget? itu menyeramkan,bayangkan resikonya,aku bisa terkena minyak panassss! " ujar Sehun dengan nada di lebih-lebihkan.

Eun Hyun hanya mencibir mendengarnya.Ia mulai curiga kalau Sehun pasti memakai helm saat memasak nugget ini.

" kau tau Jongin? Dia ternyata laki-laki yang menyenangkan "

" tidak ada laki-laki yang lebih menyenangkan dariku " sahut Sehun cuek.

" kau itu manja dan tukang ngambek,Sehun.Bagaimana kau bisa menyebut dirimu menyenangkan? " balas Eun Hyun.

" dulu saat kita di mall kau bilang walaupun aku punya banyak segudang sifat buruk tapi aku tetap menyenangkan " ucap Sehun tidak mau kalah.

Eun Hyun menelan ludahnya.Tiba-tiba ia merasa sulit bernafas,kejadian itu sudah tiga tahun yang lalu,dan Sehun masih mengingatnya.

" itu dulu Sehun "

Sehun menahan nafasnya,dulu? apa semuanya sudah berubah? apa ia terlambat?

***

Eun Hyun mulai membenarkan perkataan nya tentang Sehun adalah seorang pasien gangguan saraf.Sebab,akhir-akhir ini Sehun terlihat seperti 'bukan Sehun'.Laki-laki itu merubah penampilannya,terlihat lebih dewasa sekarang.Setiap pagi mengantar Eun Hyun ke rumah sakit,mengantar bekal makan siang yang sekarang menunya sudah mulai meningkat dari pada saat pertama,udang goreng tepung.Lumayan bukan?.Sehun juga tidak lagi menonton kartun kesukaannya,dia lebih suka menonton berita sekarang.

Singkat kata,Sehun berubah menjadi laki-laki sesungguhnya.

Tidak lagi manja.

" kau masih berhubungan dengan Jongin? " tanya Sehun.

Malam itu,ia dan Eun Hyun keluar untuk makan malam bersama,Sehun baru saja mendapat gaji ke dua-nya.

" masih,walaupun dia sudah tidak menjadi pasienku,tapi kami tetap berkomunikasi,kenapa? " Eun Hyun mengalihkan pandangannya dari steak yang ia makan.Ia menatap kedua manik mata Sehun.

Waktu terasa berjalan lambat saat kedua manik cantik milik Eun Hyun menatap manik matanya.

Setidaknya itu yang Sehun rasakan sekarang.

" kenapa,Sehun? "

Sehun mengerjapkan matanya berkali-kali saat Eun Hyun mengulang pertanyaannya.Ia menggeleng pelan.

" aahh tidak " gumamnya pelan lalu memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya.Dalam hati terus merutuki jantungnya yang tidak juga menormalkan detaknya.

" Jongin tipe ideal "

Sehun langsung mengangkat kepalanya menatap wajah Eun Hyun dengan dahi mengernyit.Matanya menatap menuntut pada perempuan itu.

" semua perempuan,oke? "

Eun Hyun menyahut tatapan menuntut Sehun dengan ucapan santai lalu kembali menyantap steak-nya.Tidak menyadari betapa buruknya perasaan Sehun setelahnya.

" kau menyukai Jongin? " tanya Sehun.

Eun Hyun melotot kaget,tidak percaya jika Sehun akan bertanya soal ini.

" kau bilang dia tipe ideal semua perempuan,termasuk dirimu? " Sehun bertanya lagi.

Eun Hyun menutup mulutnya rapat-rapat,tatapan kecewa Sehun membuatnya susah menjawab pertanyaan yang seharusnya dengan mudah ia jawab.

Ada apa dengan tatapan Sehun?

***

Jongin keluar dari studio dance tempatnya bekerja,semenjak kedua orang tua-nya memaafkannya,Jongin mulai bekerja sebagai pelatih dance di salah satu studio dance kepunyaan saudaranya.

" ada yang penting? " Jongin bertanya sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi panjang yang terletak di depan studio dance.

Laki-laki di sampingnya itu menjulurkan sekaleng minuman soda ke hadapan Jongin.

Jongin menyambut kaleng soda itu dengan tertawa kecil.
" aku tidak berpikir kita sedekat ini,jadi ada apa kau menemuiku,Oh Sehun? "

Sehun mendengus,ia sebenarnya benci dengan laki-laki di sampingnya ini,tapi demi rasa penasaran yang mendominasi perasaannya ia rela menurunkan harga dirinya dan menelepon Jongin—setelah mencuri nomornya dari ponsel Eun Hyun—untuk memintanya bertemu sebentar.

" kau—menyukai Eun Hyun? " tanya Sehun menatap mata Jongin intens.

Jongin menyemburkan minuman soda-nya,pertanyaan Sehun mengejutkan kerja jantungnya.Jongin mengelap bibirnya yang basah dengan punggung tangan lalu berdehem.

" kenapa kau bertanya seperti itu? " tanya Jongin kembali biasa.

Sehun menatap ke depan lurus-lurus sambil mengendikkan bahu-nya sebagai jawaban.

" kau mau tau jawabannya? "

Sehu menatap tajam Jongin.
" kalau tidak kenapa aku bertanya? " desisnya sebal.

Jongin terkekeh pelan,menarik nafas dalam lalu menganggukkan kepalanya pelan.

Mata Sehun melebar saat Jongin menganggukkan kepalanya.Nafasnya mulai tidak teratur,kerongkongannya terasa kering.

" jadi—kau benar-benar menyukai Eun Hyun? " ulangnya.

Jongin mengangguk lalu menatap Sehun dalam.
" iya,aku menyukainya " jawabnya.

Sehun menarik kaleng soda yang ada di tangan Jongin lalu meneguknya isinya sampai habis,entah kenapa sekarang kerongkongannya terasa kering.

Tangan besar Jongin mengenggam bahu Sehun,menatap laki-laki itu dengan seulas senyum tipis.

" dia menolakku,Sehun "

Mulut Sehun terbuka begitu saja,ingin sekali ia bertanya 'jadi kau sudah menyatakan perasaanmu?' tapi sekali lagi.

Sehun sulit mengeluarkan suaranya,ia mulai khawatir takut ia tiba-tiba menjadi gagu atau apalah itu.

" dia menyukai orang lain " Jongin kembali bersuara.Ia masih menatap Sehun yang terlihat tidak percaya.

Walaupun tidak ada petir,tapi Sehun dapat mendengar suara petir yang menggelegar saat Jongin kembali bersuara.

Menyukai orang lain?

Siapa?

***

Eun Hyun mengernyit heran,Sehun malam ini muncul di depan pintu rumahnya tapi yang membuatnya heran bukan itu,melainkan cengiran khas Sehun yang tidak ia temui.

" Sehun ada apa? " tanya Eun Hyun.

" bisa kita keluar? " pertanyaan datar Sehun seakaan bukanlah sebuah pertanyaan melainkan pernyataan yang hanya satu jawabannya.

" iya "

***

" tadi aku menemui Jongin "

Eun Hyun menolehkan kepalanya menatap sisi wajah Sehun yang menatap lurus air mancur taman kompleks.

" aku bertanya padanya apa dia menyukaimu? "

Sehun menarik nafas dalam lalu mengalihkan pandangannya,menatap Eun Hyun dalam.

" dia bilang,dia menyukaimu " dengan nada rendah dan dalam Sehun berkata.

Eun Hyun mengerjapkan matanya berulang-ulang.Ia lupa cerita soal Jongin yang menyatakan perasaan padanya,selain lupa ia takut Sehun akan mengamuk mengingat ketidak sukaan Sehun terhadap Jongin.

Eun Hyun mendengar Sehun menghela nafas.
" akhir-akhir ini aku tidak mengerti dengan diriku sendiri " gumamnya pelan.

Eun Hyun menatap Sehun tidak mengerti.
" aku juga " sahutnya dengan bergumam.

" aku berubah sekarang "

Eun Hyun mengangguk.

Sehun menolehkan kepalanya,menatap Eun Hyun lekat-lekat.

" karenamu "

Eun Hyun terpaku,tidak merasakan apapun setelah Sehun berkata demikian.Yang ia rasakan adalah jantungnya yang berdegub beribu-ribu kali lebih cepat,aliran darahnya yang berdesir hebat,serta kerongkongan yang tercekat.

Waktu seakan berjalan lamban.

" aku tidak mengerti kenapa dan apa yang membuatku melakukan ini untukmu,yang ku tau hatiku berkata ' berubahlah,dan kau akan mendapatkannya ' aku berubah untuk menunjukkan padamu kalau aku bukan anak manja yang menyebalkan,aku adalah laki-laki dewasa yang sudah pantas menjagamu.Kau selalu mengatakan kalau aku anak manja dan tukang ngambek,aku mulai berpikir bagaimana bisa kau memilihku daripada Jongin yang pandai berkelahi kalau kau saja berkata seperti itu. "

" …Aku mulai merubah penampilanku,memberikan playstasion-ku pada Luhan hyung,membuang segala kaset naruto dan bernard bear yang ku punya,mencoba menonton berita yang membuat kepalaku pusing karena harus berpikir,dan belajar memasak.Aku benar-benar ingin menunjukkan kalau aku bukan lagi Oh Sehun yang manja tapi aku adalah Oh Sehun si laki-laki dewasa yang dapat menjaga Eun Hyun. "

Eun Hyun hanya dapat menatap Sehun tidak percaya,sebagian hatinya merasa sangat senang tapi sebagian yang lain merasa bahwa Sehun sudah terlambat.

Belasan tahun Eun Hyun menyukai Sehun,belasan tahun ia memendam rasa itu,menerima dengan ikhlas kalau Sehun memang tidak menyukainya.Tiga tahun yang lalu ia pergi dari Sehun,mencoba melupakan segala perasaannya.

Perlahan tapi pasti.

" Sehun… "

" Belasan tahun aku bersamamu,kita menghabiskan waktu bersama,belasan tahun pula aku bergantung padamu.Ku anggap sikap bergantung ini adalah hal biasa mengingat kita memang berteman sejak kecil,tapi ternyata aku salah. "

Sehun menarik nafas panjang.

" aku menyukaimu Eun Hyun-ah "

Dan dengan satu kalimat Sehun dapat membuat air mata itu mengalir mulus melewati pipi tirus Eun Hyun.

Kenapa baru sekarang? Kenapa saat perasaan itu hampir hilang? Kenapa ia baru menyadarinya sekarang? Tidakkah ia tau betapa sakitnya hati Eun Hyun?

" apa aku terlambat? apa perasaanmu sudah hilang? apa semua perasaanmu padaku sekarang hanya sebatas teman? apa perasaan suka-mu padaku sudah terikat dengan kata 'dulu'? " Sehun bertanya dengan mata yang menatap berharap.Berharap bahwa semuanya belum terlambat,berharap bahwa ia masih memiliki kesempatan walau hanya sebesar lubang semut.

" kau menyukai bunga yang ku berikan,tidakkah kau menyukaiku juga? "

Eun Hyun menatap Sehun dengan matanya yang berair.Menatapnya dengan tatapan tolong-hentikan-Sehun.

" apa aku tidak bisa menjadi tipe ideal bagimu? Seperti Jongin yang menurutmu adalah tipe ideal semua perempuan? "

Eun Hyun memejamkan matanya rapat-rapat.Sehun terus saja bertanya apa dia terlambat? apa dia tidak punya kesempatan lagi? apa perasaan Eun Hyun sudah berubah sekarang?

" jadi ini rasanya sakit hati " gumam Sehun pelan.Ia berhenti bertanya dan menunduk dalam.

Eun Hyun menatap Sehun dalam,masih belum yakin jika Sehun memang sungguh-sungguh dengan ucapannya.

" kau menyukai orang lain ya? " tanya Sehun pelan.Menatap Eun Hyun dengan pandangan sendunya.

Eun Hyun mengangguk.
" maaf Sehun "

Sehun mengangguk-anggukkan kepalanya.

" yaaa—aku harus apa? tetap memaksamu? itu bukan gaya seorang laki-laki dewasa.Aku sudah menjadi laki-laki dewasa sekarang " ujar Sehun dengan senyum tipisnya.

" aku menyukaimu Sehun "

Sehun tertawa kecil mendengar ucapan Eun Hyun.
" kau menghiburku? ku bilang aku sudah menjadi laki-laki dewasa sekarang,mungkin memang menjadi masalah sekarang,tapi aku yakin aku akan bahagia melihat senyummu nantinya "

" kalau memang aku menyukaimu bagaimana? " tanya Eun Hyun santai.

Mulut Sehun terbuka,bahkan Eun Hyun bersumpah jika tangannya tidak segera menutup rahang Sehun yang menganga mungkin beribu serangga akan masuk ke dalam sana.

" 'kan sudah ku bilang aku menyukaimu dengan segala sifat burukmu,bahkan dengan sifat burukmu itu aku bisa tertawa,lalu kenapa kau merubahnya? "

Sehun mengerjap beberapa kali.
" aku ingin menjagamu,karena kalau sifatku yang kekanak-kanakan mungkin aku tidak bisa menjagamu "

" aku tidak hanya menyukai bungamu,aku tidak hanya menyukai kado-kado darimu,aku menyukai dirimu Sehun.Tidak peduli seberapa keras aku berusaha melupakanmu,toh hatiku sudah memilihmu,hatiku sudah menggunakan haknya dalam memilih.Dan kau pilihan hatiku. " ujar Eun Hyun.Ia menyerah,hatinya lebih memilih untuk menerima Sehun.

Sehun tersenyum lebar,merentangkan tangannya lalu membawa Eun Hyun ke dalam pelukannya.

" aku berharap hak pilih hatimu tidak berlangsung selama lima tahun,tapi selamanya " ujar Sehun.Ia melepas pelukannya lalu membentuk 'V' lewat jari telunjuk dan jari tengahnya.

" aku janji akan menjadi laki-laki dewasa,laki-laki cool dan berkarisma yang akan selalu menjagamu " ucapnya mantap.

" seperti Jongin? "

Sehun menggeleng.

" sepuluh bahkan bertriliun kali lebih baik dari Jongin,aku akan menjagamu "

END

EXO Fanfiction: Be a Ssang Namja.

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: Friendship,Romance-maybe-

Cast:
- Oh Sehun
- Cho Eun Hyun (OC)

Support Cast:
- Kim Jongin
- Cho Khyuhyun

Disclaimer: akhirnya jadi jugaaaaaaaa,ini permintaan orang yang sama seperti sebelumnya,temenku tercintah *asek* Hirza Qalby Tazkia.Maaf kalo gak dapet feel-nya atau kurang berkenan.Enjoy^^

Sebelumnya :
- Half Of My Heart
- All About Him
- Goodbye Summer

***

Sepasang mata itu mengerling menatap roda pesawat yang mulai bergesekan dengan aspal bandara lewat jendela pesawat.Setelah duabelas jam ia duduk manis di pesawat,menghabiskan setengah dari harinya untuk berdiam diri memandangi langit,kini saatnya ia menghirup udara tanah kelahirannya yang tiga tahun ditinggalkannya.

" yeah,i'm backkk!! "

Perempuan berambut panjang bergelombang dengan tinggi semampai itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.Bibirnya menyungging lebar memperhatikan orang-orang yang juga lalu-lalang turun dari pesawat.

Setelah melewati beberapa pemeriksaan oleh petugas,perempuan itu berhenti berjalan dan meletakkan satu tangannya di atas kedua alisnya; mencari seseorang yang menjemputnya.

Ponselnya berdering tanda telepon masuk.Perempuan itu merogoh kantung jins-nya dan menggeser tombol berwarna hijau itu.

" Ya! Kau dimanaaa?! "

Perempuan itu meringis sambil menjauhkan telinganya dari ponsel saat panggilannya di sambut dengan seruan yang menyakitkan gendang telinganya.

" aish! Bisa tidak kau tidak berteriak padaku,huh?! " sungut perempuan itu.

" baiklah,baiklah,sekarang kau dimana? pakai baju apa? " laki-laki di seberang sana mulai bertanya lembut.

Perempuan itu menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri berusaha mencari petunjuk masuk akal yang dapat ia katakan kepada si laki-laki itu agar dapat menemukannya.

" aku berdiri di dekat toko Bubble Tea,dan baju yang ku pakai sekarang adalah kaus lengan panjang warna abu-abu dan celana jins "ujarnya.

" eoh? Toko Bubble Tea? "

" hmm "

tut.

Perempuan itu mengernyit heran manakala sambungan teleponnya di putus begitu saja.

" Oh Sehun ini gila atau apa? kenapa dia mematikan teleponnya? " gerutunya kesal.

Perempuan itu meniup poni-nya pasrah,terserah laki-laki bernama Oh Sehun itu akan kebingungan mencarinya di seluruh sudut di bandara ini,yang terpenting ia harus segera pulang dan merebahkan diri di kasur empuknya.

Baru saja tangannya akan kembali menggeret koper biru dongker-nya mata lebih dulu menangkap siluet sosok tinggi yang berjarak empat meter dari tempatnya berdiri.Laki-laki tinggi berambut coklat gelap dengan poni sampingnya memakai kaus putih yang di lapisi jaket berwarna biru laut serta celana jins.Laki-laki itu tersenyum menunjukkan eyesmile-nya sambil melambaikan tangan.

" EUN HYUN-ah! EUN HYUN-ah! "

Sehun berseru sambil melompat-lompat kecil dari tempatnya,berharap kalau orang yang di panggilnya itu merespon panggilannya.

Kaki-kaki panjangnya melangkah lebar dengan senyuman yang tidak kalah lebar menunjukkan deretan gigi putihnya.Sehun merentangkan tangannya lalu membawa Eun Hyun kedalam dekapannya,memeluk perempuan-yang masih tidak bergerak itu-erat.

" aku merindukanmu,sungguh aku merindukanmu "

Tubuh Eun Hyun terasa hangat dan lemas saat Sehun membisikan kalimat itu di balik punggungnya.Kedua tangannya yang sedari tadi diam kini perlahan naik ke atas punggung Sehun.

" hmm,aku juga,Sehun "

***

Setelah puas melepas rasa rindu masing-masing Sehun dan Eun Hyun memilih langsung pulang.Sehun langsung mengambil alih koper Eun Hyun dan berjalan mendahului perempuan itu.

" hei,Sehun " panggil Eun Hyun saat mereka sudah di dalam mobil.

" apa? " Sehun menyahut ia memalingkan wajahnya menatap Eun Hyun dengan eskpresi luar biasa senangnya.

Percaya atau tidak,ini adalah hari yang paling di tunggu Sehun selama tigatahun terakhir.Ini hari-nya seorang oh Sehun.

Eun Hyun yang di tatap mata mengerling Sehun langsung menelan ludah sambil mengerjapkan matanya.Tigatahun berkomunikasi dengan Sehun lewat telepon atau skype membuatnya lupa cara menjaga sikap di depan Sehun.

" kau sekarang kerja? " tanya Eun Hyun setelah menormalkan detak jantungnya.

Sehun mengangguk lalu kembali fokus ke depan.

" kerja apa? "

" pelatih dance "

Eun Hyun mengernyitkan dahi-nya menatap sisi wajah Sehun tidak percaya.Oh Sehun koreografer?

" jangan bilang kau lupa kalau aku memang suka menari " ucap Sehun sambil mengerucutkan bibirnya.

Eun Hyun menggeleng cepat.Bukan lupa,hanya tidak percaya Sehun benar-benar menjadi pelatih dance.Eun Hyun kira bocah itu hanya bercanda saat dulu mengatakan kalau ia ingin menjadi pelatih dance suatu saat nanti.

Eun Hyun hanya kurang percaya Sehun bisa se-konsisten itu.

" kau sendiri? apa yang akan kau kerjakan di sini? " tanya Sehun.

Eun Hyun meletakkan telunjukkan di bibir,alisnya bertaut.Ia sedang berpikir.

" dokter "

" dokter? Kau akan menjadi dokter? " Sehun berteriak heboh.

" yep! dokter,teman Ayahku bekerja di rumah sakit Seoul,dia menawariku bekerja disana  "

" wahh,kalau begitu nanti aku akan jadi pasienmu,pasien pertama Cho Eun Hyun "

Eun Hyun menoleh " memangnya kau sakit? kalau kau tidak sakit kau tidak bisa menjadi pasienku,Sehun "

" aku sakit,aku akan sakit saat kau menjadi dokter,aku akan sakit supaya kau merawatku " ucap Sehun masih fokus melihat ke depan.

Sehun menolehkan kepalanya,menatap Eun Hyun sambil tersenyum lebar.

" pokoknya aku harus menjadi pasien pertama mu,tidak mau tau bagaimanapun caranya,aku harus menjadi pasien pertamamu! "

***

Eun Hyun tersenyum saat melihat bayangan dirinya di cermin besar yang menyatu dengan pintu lemari pakaiannya.Jas putih dokter terlihat begitu cocok di tubuh rampingnya.

Eun Hyun menyematkan jepit rambut berwarna putih bermotif bunga berwarna biru di sudut kiri rambut gelombangnya.Jepit rambut yang Sehun berikan padanya sebagai kado ulang tahunnya yang ke limabelas.

Sehun memang pelit soal kado.

Tapi tetap saja Eun Hyun menyukai apapun yang Sehun berikan padanya,bahkan Eun Hyun suka greeting card buatan Sehun yang ia buat dari kertas karton.Walaupun kelihatannya seperti anak sekolah dasar-Sehun menggambar balon di setiap sudutnya dan tulisan laki-laki itu yang jauh dari kata bagus-tapi Eun Hyun tetap menyukainya.

" aish! kemana bocah itu?! "

Eun Hyun menggerutu kesal karena Sehun yang tidak kunjung memunculkan batang hidungnya.Semalam bahkan Sehun sangat bersemangat dan mengatakan ia akan mengantar Eun Hyun ke rumah sakit dan menjadi pasien pertamanya.

Tapi kenyataannya?

" bahkan kau tidak menjawab teleponku,dasar mulut besar "

Dan dengan satu dengusan kesal Eun Hyun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit menaiki bus.

***

Bunyi roda ranjang pasien yang di dorong oleh beberapa suster menggema di seluruh sudut lorong rumah sakit.Seorang laki-laki muda yang terluka parah terlihat tidak berdaya di atasnya.Para suster-suster itu memasukkannya ke dalam ruang ICU.

" bagaimana ini?! dokter-dokter belum ada yang datang,ini masih terlalu pagi.Apa yang harus kita lakukan?! " seru seorang suster yang memakai kacamata dengan nada panik yang sangat kentara.

Suster yang bertubuh gempal juga tidak kalah panik,ia menggigit bibir bawahnya sambil menatap laki-laki muda yang terluka parah.

" Ya! Jangan diam saja,cepat lakukan sesuatuuu!! " seru suster lain yang bertubuh kurus.

" aku akan keluar,siapa tau ada dokter yang baru datang " usul suster bertubuh gempal tadi.Ia berlari keluar ruang ICU setelah mendapat anggukan dari teman-temannya.

Suster bertubuh gempal itu terus berlari,berharap ada seorang dokter yang baru datang dan menyelamatkan nyawa laki-laki tadi.Ia dan teman-temannya hanya suster jaga yang bertugas mengecek kondisi pasien; memeriksa tekanan darah,cairan infus,menyuntikkan vitamin,memberi makanan sesuai jam-nya.Bukan suster-suster yang biasa mendampingi dokter saat melakukan tindakan.

" Dokter! Dokter! "

Suster itu berteriak kencang saat melihat perempuan tinggi memakai jas dokter memasuki rumah sakit.Ia berlari ke arah perempuan itu.

" Dokter..hhh..tolong..hhh..ada..hhh..pasien..hhh...terluka...hhh "

***

Sehun membuka matanya perlahan,matanya terbelalak saat melihat cahaya matahari yang sudah luar biasa terang di luar sana.Ia langsung menyibakkan selimut dan meraih ponsel yang berada di nakas-nya.

" ah sial! " umpatnya kesal.

Tujuhbelas panggilan tidak terjawab dan lima pesan.

From: Eun Hyun.
05:56
Aku berangkat naik bus.

Sehun mendudukkan tubuhnya di kasur sambil menghela nafas kasar.Menyesal karena semalam tidur terlalu larut hanya karena menonton piala dunia.

" apa aku masih bisa menjadi pasien pertamanya? "

***

Eun Hyun menghela nafas panjang,ia baru saja melakukan penanganan terhadap pasien pertamanya.Seorang laki-laki muda berkulit agak gelap yang terluka parah.Suster-suster itu mengatakan kalau laki-laki muda itu berjalan terseok-seok ke rumah sakit pagi-pagi buta dengan luka lebam di wajah serta luka tusuk di perutnya.

" apa dia gangster? " gumam Eun Hyun sambil memandangi wajah damai laki-laki yang sedang memejamkan matanya itu.

" eung... "

Eun Hyun membulatkan matanya saat mendengar lenguhan yang keluar dari bibir laki-laki itu.Perlahan kedua kelopak mata itu terbuka,memunculkan sepasang bola mata berwarna coklat gelap yang indah.

Laki-laki itu mengerjap pelan,bola matanya langsung mengarah pada perempuan yang tersenyum memandangnya.

" apa anda baik-baik saja? " tanya Eun Hyun lembut.

Laki-laki itu diam tidak menjawab,ia hanya memandang bingung kepada Eun Hyun.

" Saya dokter yang menangani anda,Jongin-ssi.Nama saya Cho Eun Hyun " ucap Eun Hyun yang sadar jika laki-laki itu mungkin bingung dengan dirinya.

" kau tau namaku? " tanya laki-laki itu dengan suara serak.

Eun Hyun menggaruk tengkuknya sambik meringis.

" maaf,saya memeriksa dompet anda,rumah sakit ini butuh identitas anda "

Laki-laki bernama Jongin itu hanya mengangguk pelan.

" anda benar-benar baik-baik saja sekarang? Apa ada yang sakit? "

Jongin mengangguk pelan.
" perutku terasa kaku "

Eun Hyun tersenyum memaklumi.
" perut anda harus di jahit karena mengalami luka sobek,Jongin-ssi " ungkap Eun Hyun.

" terimakasih sudah menolongku " ujar Jongin dengan senyum tipis di balik bibir pucatnya.

***

" aku minta maaf tidak menjemputmu kemarin pagi,aku sungguh-sungguh kesiangan "

Sehun terus saja berseru sambil mengekor di belakang Eun Hyun yang mengacuhkannya sejak dia datang mengunjungi Eun Hyun di rumah sakit.

" aku harus melakukan apa supaya kau berhenti mengacuhkanku? " tangan besar Sehun menarik lengan kurus Eun Hyun,memaksa perempuan itu untuk berbalik menghadapnya.

" aku ingin memeriksa pasien pertamaku,Sehun.Bisa berhenti mengikutiku? " Eun Hyun bertanya dengan dingin.

Pegangan tangan Sehun langsung lepas detik ketika Eun Hyun menyebutkan kalimat 'Pasien Pertama'.Apa dia sudah terlambat sekarang?

" kau—sudah memiliki pasien? " tergagap,Sehun bertanya.

Eun Hyun mengangguk.

" dan itu bukan dirimu "

***

Eun Hyun menghela nafas berkali-kali untuk meredakan malu yang ada di dalam dirinya.Sehun bersikeras ikut dengannya untuk bertemu dengan pasien pertama Eun Hyun.

" bagaimana Jongin-ssi,apa ada keluhan lain? " Eun Hyun bertanya lembut sambil memegang tangan Jongin.

Jongin tersenyum sambil menggeleng.
" tidak,aku merasa lebih baik sekarang " jawabnya.

Sehun mendengus melihat pasien pertama Eun Hyun adalah seorang laki-laki.Terlebih sikap Eun Hyun yang sangat lembut dengannya,berbanding terbalik dengan Eun Hyun yang selalu meneriakinya.

" bisa kita pindah ke pasien lain? lama sekali " ucap Sehun dengan ketus.Kedua tangannya terlipat di depan dada.

Eun Hyun menoleh ke belakang dan memberi Sehun tatapan tajam.Mengisyaratkan laki-laki itu untuk menjaga mulutnya.

" apa? aku bosan disini " ucapnya membalas santai pelototan Eun Hyun.

Eun Hyun menghela nafas sekali lagi,ia tersenyum canggung pada Jongin.

" maaf Jongin-ssi,dia itu pasien gangguan saraf,jadi maklum kalau bicaranya sedikit kasar " ucapnya.

Sehun melotot kaget mendengar ucapan Sehun barusan,pasien gangguan saraf? Maksudnya apa?.Ia mendengus kesal,ia tau laki-laki bernama Jongin itu sedang menahan tawanya.Sehun paling tidak suka jika ada orang yang menertawakannya seperti itu.

" aku pulang! "

***

Eun Hyun menghabiskan setengah hari dari kerja-nya di ruang rawat Jongin.Hampir setiap hari ia selalu menemani Jongin,ia baru tau kalau Jongin kemarin terlibat perkelahian dengan teman-temannya.Jongin seorang player.

" orang tuamu? " Eun Hyun bertanya sambil menyodorkan potongan apel ke mulut Jongin.

Jongin mengendikkan bahunya.
" entah,mereka mengusirku dan terus mengumpatiku.Katanya aku anak yang tidak berguna. " jawabnya santai.

Eun Hyun menelan potongan apel yang ada di dalam mulutnya lalu menggenggam tangan Jongin.

" ku rasa kau perlu minta maaf pada orangtua-mu,bagaimanapun juga mereka yang selama ini membesarkanmu dengan susah payah " ujarnya.

Jongin menelan ludah,baru kali ini ada perempuan yang berani menasihatinya,selama ini ia hanya mengencani perempuan-perempuan centil yang kerjaannya hanya berdandan di depan kaca.

Dengan seulas senyuman manis Jongin mengangguk.

" kau benar,aku akan melakukannya "

***

" itu dari siapa? "

Eun Hyun menghampiri sang kakak yang sedang menonton tv.Di atas meja terdapat buket bunga mawar putih cantik.

" Sehun,dia yang memberikannya " jawab Kyuhyun.

Eun Hyun mengernyit tidak percaya lalu mengangkat buket bunga itu.Membaca pesan singkat yang terdapat di kartu yang ada di dalamnya.

Bunga ini ku beli menggunakan gaji pertamaku,semoga kau menyukainya ^^~

-Oh Sehun-

Eun Hyun tersenyum membacanya,ia merogoh ponsel yang ada di saku blazer putihnya dan menekan tombol satu.

Panggilan cepat,Sehun berada di nomor satu.

" Terimakasih " Eun Hyun berkata lembut ketika teleponnya diangkat.

" untuk? " tanya Sehun dengan nada bingung.

" bunganya,aku menyukainya " jawab Eun Hyun.

Sesaat Sehun tidak mengeluarkan suara.

" Sehun? Kau masih disana kan? Tidak tidur kan? "

" eoh? Tidak,syukurlah kau menyukai bunga itu "

Eun Hyun tersenyum.

" tentu aku menyukainya "

Tut.

Eun Hyun mengernyitkan dahinya,kenapa Sehun senang sekali memutuskan telepon seenaknya?

***

Siang ini Sehun meminta Eun Hyun untuk menemaninya makan siang di taman dekat rumah sakit.Laki-laki itu datang membawa dua kotak bekal yang katanya itu adalah hasil masakannya sendiri.

" kalau hanya menggoreng nugget aku juga bisa,Sehun " komentar Eun Hyun sambil menyumpit nugget rasa spicy ke mulutnya.

" orang bilang jangan lihat hasilnya tapi lihat prosesnya,kau tidak tau kan bagaimana rasanya menggoreng nugget? itu menyeramkan,bayangkan resikonya,aku bisa terkena minyak panassss! " ujar Sehun dengan nada di lebih-lebihkan.

Eun Hyun hanya mencibir mendengarnya.Ia mulai curiga kalau Sehun pasti memakai helm saat memasak nugget ini.

" kau tau Jongin? Dia ternyata laki-laki yang menyenangkan "

" tidak ada laki-laki yang lebih menyenangkan dariku " sahut Sehun cuek.

" kau itu manja dan tukang ngambek,Sehun.Bagaimana kau bisa menyebut dirimu menyenangkan? " balas Eun Hyun.

" dulu saat kita di mall kau bilang walaupun aku punya banyak segudang sifat buruk tapi aku tetap menyenangkan " ucap Sehun tidak mau kalah.

Eun Hyun menelan ludahnya.Tiba-tiba ia merasa sulit bernafas,kejadian itu sudah tiga tahun yang lalu,dan Sehun masih mengingatnya.

" itu dulu Sehun "

Sehun menahan nafasnya,dulu? apa semuanya sudah berubah? apa ia terlambat?

***

Eun Hyun mulai membenarkan perkataan nya tentang Sehun adalah seorang pasien gangguan saraf.Sebab,akhir-akhir ini Sehun terlihat seperti 'bukan Sehun'.Laki-laki itu merubah penampilannya,terlihat lebih dewasa sekarang.Setiap pagi mengantar Eun Hyun ke rumah sakit,mengantar bekal makan siang yang sekarang menunya sudah mulai meningkat dari pada saat pertama,udang goreng tepung.Lumayan bukan?.Sehun juga tidak lagi menonton kartun kesukaannya,dia lebih suka menonton berita sekarang.

Singkat kata,Sehun berubah menjadi laki-laki sesungguhnya.

Tidak lagi manja.

" kau masih berhubungan dengan Jongin? " tanya Sehun.

Malam itu,ia dan Eun Hyun keluar untuk makan malam bersama,Sehun baru saja mendapat gaji ke dua-nya.

" masih,walaupun dia sudah tidak menjadi pasienku,tapi kami tetap berkomunikasi,kenapa? " Eun Hyun mengalihkan pandangannya dari steak yang ia makan.Ia menatap kedua manik mata Sehun.

Waktu terasa berjalan lambat saat kedua manik cantik milik Eun Hyun menatap manik matanya.

Setidaknya itu yang Sehun rasakan sekarang.

" kenapa,Sehun? "

Sehun mengerjapkan matanya berkali-kali saat Eun Hyun mengulang pertanyaannya.Ia menggeleng pelan.

" aahh tidak " gumamnya pelan lalu memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya.Dalam hati terus merutuki jantungnya yang tidak juga menormalkan detaknya.

" Jongin tipe ideal "

Sehun langsung mengangkat kepalanya menatap wajah Eun Hyun dengan dahi mengernyit.Matanya menatap menuntut pada perempuan itu.

" semua perempuan,oke? "

Eun Hyun menyahut tatapan menuntut Sehun dengan ucapan santai lalu kembali menyantap steak-nya.Tidak menyadari betapa buruknya perasaan Sehun setelahnya.

" kau menyukai Jongin? " tanya Sehun.

Eun Hyun melotot kaget,tidak percaya jika Sehun akan bertanya soal ini.

" kau bilang dia tipe ideal semua perempuan,termasuk dirimu? " Sehun bertanya lagi.

Eun Hyun menutup mulutnya rapat-rapat,tatapan kecewa Sehun membuatnya susah menjawab pertanyaan yang seharusnya dengan mudah ia jawab.

Ada apa dengan tatapan Sehun?

***

Jongin keluar dari studio dance tempatnya bekerja,semenjak kedua orang tua-nya memaafkannya,Jongin mulai bekerja sebagai pelatih dance di salah satu studio dance kepunyaan saudaranya.

" ada yang penting? " Jongin bertanya sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi panjang yang terletak di depan studio dance.

Laki-laki di sampingnya itu menjulurkan sekaleng minuman soda ke hadapan Jongin.

Jongin menyambut kaleng soda itu dengan tertawa kecil.
" aku tidak berpikir kita sedekat ini,jadi ada apa kau menemuiku,Oh Sehun? "

Sehun mendengus,ia sebenarnya benci dengan laki-laki di sampingnya ini,tapi demi rasa penasaran yang mendominasi perasaannya ia rela menurunkan harga dirinya dan menelepon Jongin—setelah mencuri nomornya dari ponsel Eun Hyun—untuk memintanya bertemu sebentar.

" kau—menyukai Eun Hyun? " tanya Sehun menatap mata Jongin intens.

Jongin menyemburkan minuman soda-nya,pertanyaan Sehun mengejutkan kerja jantungnya.Jongin mengelap bibirnya yang basah dengan punggung tangan lalu berdehem.

" kenapa kau bertanya seperti itu? " tanya Jongin kembali biasa.

Sehun menatap ke depan lurus-lurus sambil mengendikkan bahu-nya sebagai jawaban.

" kau mau tau jawabannya? "

Sehu menatap tajam Jongin.
" kalau tidak kenapa aku bertanya? " desisnya sebal.

Jongin terkekeh pelan,menarik nafas dalam lalu menganggukkan kepalanya pelan.

Mata Sehun melebar saat Jongin menganggukkan kepalanya.Nafasnya mulai tidak teratur,kerongkongannya terasa kering.

" jadi—kau benar-benar menyukai Eun Hyun? " ulangnya.

Jongin mengangguk lalu menatap Sehun dalam.
" iya,aku menyukainya " jawabnya.

Sehun menarik kaleng soda yang ada di tangan Jongin lalu meneguknya isinya sampai habis,entah kenapa sekarang kerongkongannya terasa kering.

Tangan besar Jongin mengenggam bahu Sehun,menatap laki-laki itu dengan seulas senyum tipis.

" dia menolakku,Sehun "

Mulut Sehun terbuka begitu saja,ingin sekali ia bertanya 'jadi kau sudah menyatakan perasaanmu?' tapi sekali lagi.

Sehun sulit mengeluarkan suaranya,ia mulai khawatir takut ia tiba-tiba menjadi gagu atau apalah itu.

" dia menyukai orang lain " Jongin kembali bersuara.Ia masih menatap Sehun yang terlihat tidak percaya.

Walaupun tidak ada petir,tapi Sehun dapat mendengar suara petir yang menggelegar saat Jongin kembali bersuara.

Menyukai orang lain?

Siapa?

***

Eun Hyun mengernyit heran,Sehun malam ini muncul di depan pintu rumahnya tapi yang membuatnya heran bukan itu,melainkan cengiran khas Sehun yang tidak ia temui.

" Sehun ada apa? " tanya Eun Hyun.

" bisa kita keluar? " pertanyaan datar Sehun seakaan bukanlah sebuah pertanyaab melainkan pernyataan yang hanya satu jawabannya.

" iya "

***

" tadi aku menemui Jongin "

Eun Hyun menolehkan kepalanya menatap sisi wajah Sehun yang menatap lurus air mancur taman kompleks.

" aku bertanya padanya apa dia menyukaimu? "

Sehun menarik nafas dalam lalu mengalihkan pandangannya,menatap Eun Hyun dalam.

" dia bilang,dia menyukaimu " dengan nada rendah dan dalam Sehun berkata.

Eun Hyun mengerjapkan matanya berulang-ulang.Ia lupa cerita soal Jongin yang menyatakan perasaan padanya,selain lupa ia takut Sehun akan mengamuk mengingat ketidak sukaan Sehun terhadap Jongin.

Eun Hyun mendengar Sehun menghela nafas.
" akhir-akhir ini aku tidak mengerti dengan diriku sendiri " gumamnya pelan.

Eun Hyun menatap Sehun tidak mengerti.
" aku juga " sahutnya dengan bergumam.

" aku berubah sekarang "

Eun Hyun mengangguk.

Sehun menolehkan kepalanya,menatap Eun Hyun lekat-lekat.

" karenamu "

Eun Hyun terpaku,tidak merasakan apapun setelah Sehun berkata demikian.Yang ia rasakan adalah jantungnya yang berdegub beribu-ribu kali lebih cepat,aliran darahnya yang berdesir hebat,serta kerongkongan yang tercekat.

Waktu seakan berjalan lamban.

" aku tidak mengerti kenapa dan apa yang membuatku melakukan ini untukmu,yang ku tau hatiku berkata ' berubahlah,dan kau akan mendapatkannya ' aku berubah untuk menunjukkan padamu kalau aku bukan anak manja yang menyebalkan,aku adalah laki-laki dewasa yang sudah pantas menjagamu.Kau selalu mengatakan kalau aku anak manja dan tukang ngambek,aku mulai berpikir bagaimana bisa kau memilihku daripada Jongin yang pandai berkelahi kalau kau saja berkata seperti itu. "

" …Aku mulai merubah penampilanku,memberikan playstasion-ku pada Luhan hyung,membuang segala kaset naruto dan bernard bear yang ku punya,mencoba menonton berita yang membuat kepalaku pusing karena harus berpikir,dan belajar memasak.Aku benar-benar ingin menunjukkan kalau aku bukan lagi Oh Sehun yang manja tapi aku adalah Oh Sehun si laki-laki dewasa yang dapat menjaga Eun Hyun. "

Eun Hyun hanya dapat menatap Sehun tidak percaya,sebagian hatinya merasa sangat senang tapi sebagian yang lain merasa bahwa Sehun sudah terlambat.

Belasan tahun Eun Hyun menyukai Sehun,belasan tahun ia memendam rasa itu,menerima dengan ikhlas kalau Sehun memang tidak menyukainya.Tiga tahun yang lalu ia pergi dari Sehun,mencoba melupakan segala perasaannya.

Perlahan tapi pasti.

" Sehun… "

" Belasan tahun aku bersamamu,kita menghabiskan waktu bersama,belasan tahun pula aku bergantung padamu.Ku anggap sikap bergantung ini adalah hal biasa mengingat kita memang berteman sejak kecil,tapi ternyata aku salah. "

Sehun menarik nafas panjang.

" aku menyukaimu Eun Hyun-ah "

Dan dengan satu kalimat Sehun dapat membuat air mata itu mengalir mulus melewati pipi tirus Eun Hyun.

Kenapa baru sekarang? Kenapa saat perasaan itu hampir hilang? Kenapa ia baru menyadarinya sekarang? Tidakkah ia tau betapa sakitnya hati Eun Hyun?

" apa aku terlambat? apa perasaanmu sudah hilang? apa semua perasaanmu padaku sekarang hanya sebatas teman? apa perasaan suka-mu padaku sudah terikat dengan kata 'dulu'? " Sehun bertanya dengan mata yang menatap berharap.Berharap bahwa semuanya belum terlambat,berharap bahwa ia masih memiliki kesempatan walau hanya sebesar lubang semut.

" kau menyukai bunga yang ku berikan,tidakkah kau menyukaiku juga? "

Eun Hyun menatap Sehun dengan matanya yang berair.Menatapnya dengan tatapan tolong-hentikan-Sehun.

" apa aku tidak bisa menjadi tipe ideal bagimu? Seperti Jongin yang menurutmu adalah tipe ideal semua perempuan? "

Eun Hyun memejamkan matanya rapat-rapat.Sehun terus saja bertanya apa dia terlambat? apa dia tidak punya kesempatan lagi? apa perasaan Eun Hyun sudah berubah sekarang?

" jadi ini rasanya sakit hati " gumam Sehun pelan.Ia berhenti bertanya dan menunduk dalam.

Eun Hyun menatap Sehun dalam,masih belum yakin jika Sehun memang sungguh-sungguh dengan ucapannya.

" kau menyukai orang lain ya? " tanya Sehun pelan.Menatap Eun Hyun dengan pandangan sendunya.

Eun Hyun mengangguk.
" maaf Sehun "

Sehun mengangguk-anggukkan kepalanya.

" yaaa—aku harus apa? tetap memaksamu? itu bukan gaya seorang laki-laki dewasa.Aku sudah menjadi laki-laki dewasa sekarang " ujar Sehun dengan senyum tipisnya.

" aku menyukaimu Sehun "

Sehun tertawa kecil mendengar ucapan Eun Hyun.
" kau menghiburku? ku bilang aku sudah menjadi laki-laki dewasa sekarang,mungkin memang menjadi masalah sekarang,tapi aku yakin aku akan bahagia melihat senyummu nantinya "

" kalau memang aku menyukaimu bagaimana? " tanya Eun Hyun santai.

Mulut Sehun terbuka,bahkan Eun Hyun bersumpah jika tangannya tidak segera menutup rahang Sehun yang menganga mungkin beribu serangga akan masuk ke dalam sana.

" 'kan sudah ku bilang aku menyukaimu dengan segala sifat burukmu,bahkan dengan sifat burukmu itu aku bisa tertawa,lalu kenapa kau merubahnya? "

Sehun mengerjap beberapa kali.
" aku ingin menjagamu,karena kalau sifatku yang kekanak-kanakan mungkin aku tidak bisa menjagamu "

" aku tidak hanya menyukai bungamu,aku tidak hanya menyukai kado-kado darimu,aku menyukai dirimu Sehun.Tidak peduli seberapa keras aku berusaha melupakanmu,toh hatiku sudah memilihmu,hatiku sudah menggunakan haknya dalam memilih.Dan kau pilihan hatiku. " ujar Eun Hyun.Ia menyerah,hatinya lebih memilih untuk menerima Sehun.

Sehun tersenyum lebar,merentangkan tangannya lalu membawa Eun Hyun ke dalam pelukannya.

" aku berharap hak pilih hatimu tidak berlangsung selama lima tahun,tapi selamanya " ujar Sehun.Ia melepas pelukannya lalu membentuk 'V' lewat jari telunjuk dan jari tengahnya.

" aku janji akan menjadi laki-laki dewasa,laki-laki cool dan berkarisma yang akan selalu menjagamu " ucapnya mantap.

" seperti Jongin? "

Sehun menggeleng.

" sepuluh bahkan bertriliun kali lebih baik dari Jongin,aku akan menjagamu "

END

Selasa, 27 Mei 2014

EXO Fanfiction: Never Give Up.

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: School Life,Friendship,Family

Cast:
- Kim Jongin
- Kim Soo Wook (OC)
- Kim Junmyeon
- Seo Eun Ji (OC)
- Oh Sehun

Disclaimer: fiuh-elap keringet- ff ber-genre friendship yang sebenernya rada awkward jadinya XD makasih buat mbah google yang sangat berperan~ maaf kalo jelek dan gak nyambung.Enjoy^^

***

Kelas 2-B terlihat sangat tenang.Hari ini semua guru killer mengisi mata pelajaran di kelas yang terkenal tidak pernah bisa diam itu.Mereka semua pun memilih menutup mulut karena wali kelas mereka sudah memperingatkan mereka jika mereka membuat ulah,maka tahun ini mereka tidak akan naik kelas.

Sekarang,Cho Seonsaengnim-guru kimia- sedang menulis di papan tulis tentang aksi-reaksi senyawa.Semua sibuk mencatat,kecuali si biang onar yang tidak pernah takut akan hukuman.

Kim Jongin.

Dia malah asik menopang dagu sambil memainkan bolpoin layaknya pesawat terbang.

Menurutnya,mata pelajaran Kimia,Fisika,dan Matematika itu adalah dongeng pengantar tidur.Setiap kali guru killer menerangkan,menulis penjelasan di papan tulis atau bahkan memberikan ulangan-yang menegangkan bagi setiap muridnya-justru terasa membosankan bagi Jongin.Matanya terasa berat apabila melihat sederet angka di atas papan tulis atau di atas kertas putih.

" kapan dia akan keluar dari sini? " gerutu Jongin sambil melihat jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya.

Jongin menghela nafas panjang,masih ada 20 menit lagi sebelum bel istirahat berbunyi.

" aku akan benar-benar tertidur " gumamnya sambil menguap lebar.

Matanya berkeliling melihat teman-temannya yang terlihat serius mencatat.Jongin tertawa kecil,mereka semua berusaha keras agar tidak membuat ulah saat ini.

Mata Jongin terhenti melihat satu gadis berambut panjang yang duduk di bangku paling pojok sebelah kiri.Entah kenapa,Jongin sering memperhatikan gadis yang mempunyai bulu mata lentik itu.

" KIM JONGIIINNNNN!!!!! "

Aahh..baiklah,ini dia saatnya untuk keluar.

***

" hey,kkamjjong! Bisakah kau tidak membuat Cho Seonsaengnim naik darah? "

Laki-laki berkulit putih susu itu menatap Jongin heran,menggeleng-gelengkan kepalanya menyikapi tingkah aneh sahabat kecilnya.

Jongin tertawa kecil sambil menelan mie hitam-nya.

" kenapa? Itu seru,Sehun! " balas Jongin.

" seru apanya?! Kalau begini terus bisa-bisa kita benar-benar tidak naik kelas! Aish! " geram Sehun.Wali kelasnya sudah memberi peringatan,dan parahnya itu peringatan yang ke-15 yang kelas mereka dapatkan.Sehun benar-benar tidak mau mengulang kelas.

Jongin tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.

" Sehun,sekolah kita tidak mungkin tidak menaikkan 20 orang siswa sekaligus,memangnya mereka tidak malu mendengar omongan sekolah lain? "

Sehun mengulurkan tangannya,memukul kepala Jongin menggunakan sumpit.Berharap agar sahabatnya itu dapat berpikir lebih normal lagi.

" seharusnya kau yang malu,aku heran kenapa sekolah yang katanya bagus malah menerima murid sepertimu " ucap Sehun.

Jongin mengelus-elus kepalanya yang berdenyut sambil terkekeh.

" aku tampan,makanya aku di terima "

***

" ayo Kim Soo Wook! Yang benar! "

Gadis yang di panggil hanya merengut menanggapi laki-laki yang meneriakinya tadi.Dia duduk di lantai sambil meniup poninya.Kesal.

" Aish! Sudahlah! Aku tidak bisa Oppa! " teriaknya frustasi.

Laki-laki yang di panggil Oppa itu menghela nafas lalu mendekati adik semata wayangnya itu.Dia berjongkok di depannya.

" kau ini mudah sekali menyerah,katanya mau mengalahkan Eun Ji? "

Soo Wook memanyunkan bibirnya " aku tau,tapi aku lelah,kakiku mati rasa " keluhnya.

Soo Wook mulai memijat-mijat kaki-nya.Besok dia akan bertanding dengan Seo Eun Ji,gadis cerewet yang suka mencari gara-gara dengannya semenjak Soo Wook tidak sengaja melempar gadis itu dengan uang logam.

Dan kemarin Soo Wook tidak sengaja menumpahkan air pel-an membuat baju seragam Eun Ji basah kuyup dan bau pengharum lantai.Gadis itu marah dan menantang Soo Wook untuk bertanding dengannya.

" aku harus memenangkan pertandingan ini,aku tidak mau dia menang! " tekad Soo Wook.Dia bangkit dari duduknya dan meraih tali yang sempat dia lempar.

***

" kau sudah dengar? "

Jongin mengernyitkan dahi-nya.
" dengar? dengar apa? " tanyanya bingung.Sehun baru datang dan bertanya seperti itu,jelas membuatnya bingung.

" nanti,saat pulang sekolah ada pertandingan seru! " ucap Sehun antusias.

Jongin makin tidak mengerti.
" pertandingan? pertandingan apa? "

Sehun menghela nafas.Jongin terlalu lambat berpikir,batinnya gemas.

" Soo Wook akan bertanding lagi dengan Eun Ji! "

Jongin membulatkan matanya.Lagi? Baru saja seminggu yang lalu mereka berdua bertanding memindahkan gelas plastik dari sisi yang satu ke sisi yang lainnya.Lalu,sebelumnya juga bertanding menahan nafas di kolam renang.

Dan—pertandingan konyol apa lagi yang akan mereka lakukan?

***

Lompat Tali.

Kali ini dua orang itu akan bertanding lompat tali.Barang siapa yang melompat lebih banyak tanpa berhenti,dia yang akan menang.Begitu kata Eun Ji dengan toa putih-kuningnya.

Semua murid berkumpul di stadion olahraga yang ada di belakang sekolah mereka.Tempat dimana Soo Wook dan Eun Ji sering bertanding.

Jongin menghela nafas gusar.Di tatapnya gadis berambut panjang yang sedang melakukan pemanasan di pinggir lapangan.Gadis itu menggunakan baju olahraga,rambutnya pun di kuncir satu.Sama seperti pertandingan sebelum-sebelumnya.

" kau kenapa? " tanya Sehun.Dia baru saja kembali dari kantin.Membeli snack besar dan dua kaleng cola.Hal yang Sehun lakukan setiap menonton pertandingan dua gadis yang saling bermusuhan itu.

" apa dia akan menang kali ini? " gumam Jongin.Mungkin lebih tepatnya dia bertanya pada Sehun.Matanya masih menatap gadis yang kini sedang berdo'a.

Sehun menggeleng,dia ikut-ikut-an menatap gadis yang sedang di tatap sahabatnya itu.

" dia selalu kalah,aku tidak yakin dia akan menang " jawab Sehun.

Jongin menghela nafas.Sudah 8 kali mereka melakukan pertandingan,dan sudah 8 kali pula gadis itu selalu kalah.

Dia tidak keluar dari air setelah 15 menit waktu selesai,dan setelah di periksa,ternyata dia pingsan.Terakhir kali,gadis itu kalah karena tiba-tiba berhenti berlari dan tidak bergerak sampai waktunya habis.

PRIITTT.

Peluit tanda pertandingan di mulai bebunyi nyaring membuat siswa-siswi berteriak heboh.

Jongin mengepalkan tangannya menatap gadis yang berdiri di tengah lapangan sambil menggenggam tali di kedua tangannya.

" Kim Soo Wook " gumamnya.

***

Dia kalah lagi.

Kim Soo Wook kalah lagi.

Kali ini,setelah melompat sebanyak 24 kali tanpa henti,dia tiba-tiba terduduk.Bahkan setelah 10 menit,dia tidak juga bangun dari duduknya.Jongin yang melihat itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya gemas.Tangannya terkepal.

Tidak lama,dari sudut stadion keluar dua orang perempuan-sepertinya anggota PMR- dia membopong Soo Wook dengan tandu dan membawanya keluar dari stadion.

" apa yang sebenarnya terjadi dengannya? "

***

Soo Wook berdecak kesal.Lagi-lagi dia harus kalah dengan gadis cerewet itu.

" 9 kali "

Soo Wook mendongak,menatap gadis berambut sebahu yang berjalan mendekatinya yang duduk di atas ranjang ruang kesehatan.

" kau 9 kali kalah dariku " ucapnya.

Soo Wook mendengus.

" aku tau,kau tidak perlu mengingatkanku " balasnya.

Eun Ji tertawa,dia melipat kedua tangannya di depan dada.

" kau lemah sekali,baru 24 kali lompatan saja sudah ambruk,cih "

Soo Wook mengepalkan tangannya.Ingin sekali dia menjambak rambut gadis itu hingga botak atau kalau perlu menarik mulutnya seperti mulut platypus.Tapi sayang,dia tidak sekejam nenek sihir.

" kita bertanding lagi " ucap Soo Wook mantap.

Eun Ji menatapnya tidak percaya.

" kita akan bertanding lari di sepanjang jalan sungai Han,bagaimana? " tantang Soo Wook.

Eun Ji masih terdiam tidak menggerakkan kepalanya.

" kali ini,aku akan benar-benar mengalahkanmu! " desis Soo Wook tajam.Dia langsung turun dari ranjang dan pergi meninggalkan Eun Ji yang masih tidak bergerak.

***

" memangnya dia pikir aku akan menyerah begitu saja? Cih,liat saja di pertandingan kali ini,aku yang akan menang " gerutu Soo Wook di sepanjang koridor sekolah.

Soo Wook berbelok ke arah loker-loker murid kelas 2.Dia berjalan ke arah loker nomor 7.Membukanya dan mengambil baju seragam.

" kau mau bertanding lagi dengannya? "

Hampir saja Soo Wook memukul kepala laki-laki yang tiba-tiba muncul di bekakangnya itu.

Soo Wook berkacak pinggang.
" memangnya kenapa? " tanyanya.

" kau selalu kalah,berhentilah "

Soo Wook menatap laki-laki yang terkenal biang onar itu.

" hei Kim Jongin,kenapa kau mencampuri urusanku? Aku kalah atau menang,itu urusanku "

Jongin berdecak kesal.Tidak menyangka jika Soo Wook akan sekeras kepala ini.

" hanya berhenti,tidak bisa? kau selalu kalah " Jongin menatap Soo Wook,mengisyaratkan gadis itu kalau dia memang harus berhenti.

Soo Wook menggeleng.
" tidak sebelum aku menang " ucapnya lalu pergi meninggalkan Jongin yang mendesah frustasi atas tingkahnya.

***

Mustahil.

Jongin sama sekali tidak mengerti jalan pikirannya sendiri.Biasanya saat kepalanya sudah menyentuh bantal saat itu juga matanya akan terpejam.

Tapi ini?

Ini bahkan sudah 3 jam sejak kepalanya menyentuh bantal,tapi matanya belum juga terpejam.

Pikirannya terus melayang menembus langit malam.Wajah Soo Wook selalu muncul saat dia memejamkan mata.

Tadi,saat Soo Wook meninggalkannya,lokernya belum tertutup,dan Jongin menemukan sesuatu yang terlalu aneh kalau di sebut vitamin atau bahkan permen.

" apa—dia sakit? "

***

" 2 menit 25 detik "

Junmyeon memperlihatkan stopwatch-nya di depan wajah adiknya itu.

" Ha? Kenapa—hhh—lama—hhh—sekali—hhh? "

Junmyeon menarik tangan dingin adiknya untuk duduk di sampingnya.

" Soo Wook-ah bisakah kau berhenti? " tanyanya.

Soo Wook mengerjapkan mata-nya berkali-kali.

" kenapa—Oppa menyuruhku berhenti? "

Junmyeon terdiam sebentar,menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.

" aku tidak mau kau dalam bahaya " ucapnya.

" tidak,aku akan baik-baik saja " sahut Soo Wook meyakinkan.Ia menggenggam tangan kakak-nya erat.

" Soo Wook-ah— "

" Oppa " potong Soo Wook cepat.

" kau tidak perlu khawatir,asal kau berdiri di belakangku dan terus menyemangatiku,aku akan baik-baik saja " ujarnya.

Junmyeon menunduk.

" Ayolahhh...Oppaaaaa " rengek Soo Wook.Dia menggoyang-goyangkan tangan Junmyeon.

Junmyeon mengangkat kepalanya dan menatap Soo Wook.Mengulurkan kelingkingnya.

" kau janji? "

Soo Wook mengangguk lalu mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Junmyeon.

" kau bisa mempercayaiku "

***

Soo Wook meluruskan kaki-nya sambil memijat-nya perlahan.Dia menarik ujung bibirnya,tersenyum.

" hei,bisakah minggu besok kau bekerja sama denganku? " Soo Wook bertanya pada kedua kaki-nya sendiri.

" kalau minggu besok kau bisa diajak bekerja sama,aku janji,setelah itu aku akan mengajakmu terapi,bagaimana? "

Soo Wook memandangi kedua kaki-nya yang diam tidak menjawab.

" tidak mau,aku tidak mau itu "

Soo Wook membulatkan matanya,dia tidak salah dengarkan? Kaki-nya bisa bicara?

" la—lalu apa yang kau inginkan? " tanya Soo Wook.

" bisakah kau berhenti bertanding? itu menyiksaku "

Soo Wook mengerutkan dahinya.Dia menghela nafas,seperti tau asal suara yang membalas ucapannya.Itu bukan kaki-nya.

Hei kaki tidak bisa berbicara!

Soo Wook menoleh ke belakang,menatap laki-laki yang menyengir lebar di balik batu besar.

" ternyata kau "

Jongin terkekeh lalu menghampiri Soo Wook yang duduk meluruskan kaki-nya di pinggir lapangan sekolah.Jongin ikut duduk di samping gadis itu lalu menatap sisi wajahnya yang menatap ke depan.

" itu benar-benar suara kaki mu,dia memintamu untuk berhenti " ucap Jongin.

Soo Wook menghela nafas malas.
" kenapa semua orang begitu? " gumamnya sambil menunduk.

Jongin mengerutkan alisnya tidak mengerti.
" begitu? Begitu bagaimana? "

" mereka semua menyuruhku berhenti,kau,oppa-ku,ibu-ku,ayah-ku,kalian sama saja " jawab Soo Wook.

Jongin tersenyum,menyentuh pundak Soo Wook.

" kami menyayangimu,itu alasannya " ujar Jongin.

Soo Wook menatap Jongin.

" apa orang sepertiku tidak pantas menang? " tanyanya.

Jongin kembali mengerutkan dahinya.
" orang sepertimu? maksudmu apa? "

***

Jongin tau isi dari botol kecil itu bukan vitamin apalagi permen.

Itu adalah obat bagi penderita GBS atau Guillain Barre Sindrom seperti yang di alami Soo Wook sekarang.

-

" tahun lalu aku mengalami infeksi usus " ucap Soo Wook mengawali ceritanya.

Jongin dengan setia menatap sisi wajah Soo Wook dan diam-diam memuji bahwa gadis ini benar-benar cantik.

" setelah itu,aku merasa jari-jariku kesemutan,seperti ditusuk-tusuk.Kau tau? Itu sakit sekali " Soo Wook tertawa kecil.Seperti mentertawakan dirinya sendiri.

" Awalnya aku diam dan tidak mengatakan hal itu pada siapapun,tapi lama-lama bukan hanya jari-jariku saja yang sakit,punggung-ku juga,aku susah menggerakkan bola mataku,mengunyah dan menelan makanan-pun aku mulai susah melakukannya.Akhirnya aku mengatakan ini pada keluargaku dan mereka sepakat membawaku ke rumah sakit "

Soo Wook menarik nafas panjang.Mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan kelanjutan ceritanya.

" aku di tes di laboratorium,dan ternyata aku terkena penyakit mengerikan itu,sistem imun yang seharusnya menjaga tubuhku dari serangan virus dan bakteri jahat namun justru menyerang syaraf-ku sehingga sel-sel dalam tubuh-ku mengalami kerusakan.Sistem imun-ku penghianat bukan? "

Soo Wook menatap Jongin sambil tersenyum.

" aku kalah bukan karena aku payah,tapi penyakit menyebalkan ini yang membuatku kalah,penyakit tidak tau tempat ini yang membuatku malu di depan banyak orang,kakiku,tanganku,semua anggota badanku akan berhenti bergerak suatu saat nanti  "

Jongin mulai melihat air mata yang menumpuk di pelupuk mata Soo Wook.Gadis itu sedang menahannya.

" jangan berhenti " ucap Jongin memotong ucapan yang baru saja akan keluar dari mulut Soo Wook.

Soo Wook menatap Jongin tidak percaya.

" jangan berhenti,aku akan mendukungmu,aku akan ada di belakangmu " ucap Jongin.

Soo Wook menarik kedua ujung bibirnya ke atas.

" kau pantas menang,jadi jangan berhenti "

-

***

Semua murid sekolah memenuhi jalanan Sungai Han pagi ini.Mereka semua berkumpul untuk menyaksikan pertandingan ke-10 dari dua teman mereka.

" bisa kita berhenti sekarang? " Eun Ji berdiri di depan Soo Wook yang sedang mengikat tali sepatunya.

Soo Wook mendongak lalu tersenyum.Dia berdiri sambil berkacak pinggang.

" tidak sebelum aku mengalahkanmu "

Eun Ji mendesah keras.Dia berbalik lalu bersiap-siap di posisinya.

Soo Wook tertawa kecil lalu ikut bersiap-siap di samping Eun Ji.

DOR!

Tembakan pistol ke udara membuat mereka langsung berlari mengelilingi Sungai  Han.

Dari jejeran penonton.Jongin yang berdiri di samping Junmyeon terus mengepalkan tangannya.Sementara Junmyeon memejamkan matanya dan terus berkomat-kamit,dia berdo'a.

" hyung,Soo Wook pasti menang " bisik Jongin di telinga Jumnyeon.

Junmyeon membuka matanya dan menatap Jongin.

" ku harap dia menepati janjinya "

***

Eun Ji tidak bisa berhenti menoleh ke belakang,ke arah Soo Wook yang berlari di belakangnya.Gadis itu mulai melambat membuat hati Eun Ji tidak tenang.

" Soo Wook-ah! " teriak Eun Ji ketika gadis itu sudah jatuh terduduk.Dia berlari menghampiri Soo Wook.

Soo Wook tersenyum menatap Eun Ji.

" bodoh—hhh—kenapa—hhh—kau—hhh—menghampiriku—hhh? " tanya Soo Wook dengan nafas yang tersengal-sengal.

" aish! Kau yang bodoh! Kau itu— " Eun Ji berhenti mengomel,dia mulai mengangkat tubuh Soo Wook yang mulai melemas.

" hei—hhh—tinggalkan—hhh—aku—hhh—aku—hhh—berat—hhh " ucap Soo Wook dengan nafas yang terdengar satu-satu.

" diamlah! " seru Eun Ji kesal.Matanya mulai berair,dia benci mengakuinya,tapi dia benar-benar takut sekarang.

Soo Wook menyunggingkan senyum di bibirnya yang pucat dan mulai mengering.

" terimakasih—hhh "

***

Soo Wook di larikan ke ruang ICU.Junmyeon dan Jongin terlihat panik melihat Eun Ji yang datang sambil menuntun Soo Wook yang setengah sadar.

Setelah cukup lama menunggu di luar,dokter akhirnya keluar dari ruang ICU dengan wajah yang keruh.

" kami terpaksa memasang ventilator agar dia dapat bertahan hidup "

Ibu Soo Wook langsung jatuh pingsan membuatnya harus diangkat dan di pindahkan ke ruang rawat.Ayah Soo Wook ikut menemani istrinya itu.Sedangkan,Junmyeon,Jongin dan Eun Ji memilih masuk ke ruang ICU untuk melihat kondisi Soo Wook.

Lambaian tangan Soo Wook menyambut kedatangan mereka.Gadis itu sudah sadar.

" kau melanggar janjimu " ucap Junmyeon yang duduk di bangku kecil yang terletak di sebelah kanan ranjang Soo Wook.

Soo Wook tersenyum lemah.
" aku baik-baik saja,sungguh " sahut Soo Wook dengan suara yang serak.

Tatapan Soo Wook beralih ke arah Eun Ji yang sudah menunduk sambil terisak.

" hey gadis cerewet! " panggil Soo Wook.

Eun Ji mendongakkan kepalanya.Dia mendekat ke arah Soo Wook.

" kau menang lagi,untuk yang ke-10 kalinya " ujar Soo Wook.

" aku tau,kau tidak perlu mengingatkanku lagi " sahutnya kesal.

" maaf aku tidak bisa menghapus air matamu,tanganku sulit di gerakkan " ucap Soo Wook.

Eun Ji mengangguk lalu menghapus air matanya.

" maaf aku selalu mencari gara-gara denganmu " ucapnya.

" tidak apa-apa,karenamu aku jadi punya sesuatu di kerjakan " balas Soo Wook.

" aku seperti itu karena aku tau kau punya penyakit seperti ini,waktu itu aku tidak sengaja mendengar ucapanmu dan oppa-mu saat kita akan bertanding untuk yang ke-2 kalinya,aku mengajakmu bertanding agar kau menang,agar kau tidak menyerah dan berusaha untuk mengalahkanku " ujar Eun Ji lalu terisak.

" kau—juga menyayangiku? " tanya Soo Wook.

Eun Ji mengangguk.

" terimakasih " ucapnya.

Jongin yang berada di sisi kiri Soo Wook menggenggam tangan kiri gadis itu erat.

" berjanjilah padaku untuk tidak akan menyerah " ucapnya.

Soo Wook mengangguk pelan.
" aku tidak akan menyerah "

Jongin tersenyum lalu mengacak rambut Soo Wook sayang.

" aku akan ada di belakangmu " ucapnya.

" Oppa juga " imbuh Junmyeon.

Jongin,Soo Wook,dan Junmyeon menatap Eun Ji yang masih menunduk.

" hatiku bilang aku harus di bekakang Eun Ji,kalian tidak dengar? "

Mereka tertawa mendengar ucapan Eun Ji.

Jongin mendekat ke arah telinga Soo Wook.

" kami pegang janjimu,jangan menyerah Soo Wook-ah " bisiknya.

END

Jumat, 23 Mei 2014

EXO Fanfiction: A Lost Memory (Chapter 12)

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre; Brothership,Family,Fantasy

Cast:
- Do Kyungsoo
- Kim Jongin
- Xi Luhan
- Oh Sehun
- Kim Hye Soo (OC)

***

-

11 Januari 2010

" Kyungsoo koma "

" apa kita harus memberitahu Jongin? "

" tidak,aku tidak mau dia bertambah depresi "

Kim Jongin berdiri mematung di depan dua orang dewasa itu.Tas yang menggantung di pundaknya jatuh begitu saja.Air matanya langsung menetes tanpa di perintah.Dia tidak salah dengar?

" omo! Jongin-ah,kau sudah pulang? Apa kau lelah? Oemma akan membuatkanmu makanan " ucap Nyonya Kim cepat.Dia mendekat ke arah Jongin yang hanya berdiri tanpa bereaksi.

" dimana hyung-ku? " tanya Jongin pelan.

" Kyungsoo..pindah ke Jepang " jawab Nyonya Kim.

" bohong! Kalian bohong! Dimana hyung-ku?! " teriak Jongin.

Nyonya Kim menangkupkan tangannya di kedua pipi Jongin.Berusaha menenangkan anak-nya yang histeris.

" Jongin-ah..Kyungsoo butuh istirahat.Kita jenguk dia lain kali saja yaa..hari ini kau lelah,sebaiknya kau istirahat. "

Jongin menepis tangan Nyonya Kim kasar.

" apa yang kalian sembunyikan dariku?! Dimana hyung-ku?! " teriak Jongin.

" Jongin..dengarkan kami bicara " Tuan Kim angkat bicara.

" aku mau mencari hyung-ku! " seru Jongin lalu berlari keluar rumah tanpa menghiraukan panggilan orang tua-nya.

Jongin berlari dan terus berlari.Di pikirannya kali ini hanya ada hyung-nya seorang.Tidak ada yang lain.

" hyung,tunggu aku.. "

Tanpa dia sadari,dari jarak beberapa meter darinya.Sebuah mobil melaju ke arahnya.Sebelah tangan pengemudi memegang ponsel,mengetik pesan.Matanya tidak menatap ke depan.Saat matanya menatap ke depan,hanya ada teriakan terkejut karena melihat anak kecil yang tiba-tiba muncul di depan mobilnya.Membuat dirinya terlambat menginjak rem.

BBRRAAKK!!!

***

Seorang anak laki-laki mengerjapkan mata-nya berkali-kali.Kalender besar langsung menyambutnya.Kepalanya masih terasa pusing,tapi bisa di pastikan ia berada di rumah sakit-karena bau obat langsung tercium oleh hidungnya-.

" Kim Jongin! " seru seorang wanita yang baru saja membuka pintu dan langsung memeluknya.

" aku? Kim Jongin? " tanyanya.Jongin memandang bingung wanita yang ada di depannya ini.

Nyonya Kim mengangguk " iya sayang,namamu Kim Jongin,aku adalah Oemma-mu "

" Oemma? "

-

Sehun duduk termenung di bangku taman rumah sakit.Tidak berniat pulang,masih ingin disini.Di dekat Jongin.

Sahabatnya.

Saudaranya.

Seseorang menepuk pundaknya,membuat kepalanya mendongak.Luhan tersenyum manis lalu duduk di samping Sehun.

" kau baik-baik saja? " tanya Luhan menatap sisi wajah Sehun yang menunduk dalam.

Sehun menggeleng pelan.

" aku—tidak baik " jawabnya pelan.

Luhan tersenyum manis.

" kita sudah tau resikonya,kita harus menerima semuanya,Sehun " ucap Luhan lembut.

" aku tidak bisa jauh dari Jongin,dia sahabatku,saudaraku,bagaimana bisa aku jauh darinya? " Sehun menatap Luhan dalam.Air matanya sudah menumpuk di pelupuk matanya.

" Sehun— "

" demi apapun walau Jongin berteriak untuk menyuruhku pergi,aku akan tetap tinggal,aku akan tetap tinggal disisi-nya.Tidak peduli dia akan memukulku,atau membunuhku sekalipun.Aku akan tetap disisinya. " ujar Sehun,ada penekanan di setiap kata-katanya.Menggambarkan kalau dia benar-benar tidak akan pergi.

Luhan menghembuskan nafas panjang.Dalam hatinya,dia pun sama.Dia juga tidak ingin pergi dari sisi Jongin.Tapi—apa yang dapat dia lakukan kalau Jongin sudah terlanjur membencinya?

" kita beri Jongin waktu,Sehun "

***

" Kyungsoo hyung! Kyungsoo hyung keluarlah! Aku tau kau di dekatku! Keluarlah dan jangan sembunyi!!!!! " teriak Jongin.Matanya berkeliling mencari sosok mungil yang sedang ia rindukan.

" Kumohon…keluarlah " Jongin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.Menunduk dan terisak kencang.

Sementara di luar pintu,tanpa Jongin sadar orang yang dirindukannya sedang memperhatikannya.Sama dengannya,Kyungsoo juga mengeluarkan air matanya,menatap Jongin lirih.

Bukannya Kyungsoo tidak mau muncul di hadapan Jongin.Tapi keadaannya semakin memburuk,tubuhnya juga semakin memudar kalau ia sering menampakkan diri di depan Jongin.Suho memberinya saran untuk tidak menemui Jongin sampai hari itu tiba.Kyungsoo akan menghilang kalau ia terlalu sering menampakkan dirinya di depan Jongin.

" Jongin-ah…maafkan aku "

***

Tangan Hyesoo dengan telaten mengelap tangan Kyungsoo dengan handuk kecil yang sudah ia basahi dengan air hangat.Hal yang biasa ia lakukan setiap pagi.

" Hyesoo-ya "

Hyesoo menoleh ke arah wanita paruh baya yang sedang menyiapkan makanan di atas meja.Dia Ibu Kyungsoo.Wanita berusia 40-an yang sangat lembut.

" terimakasih kau mau menjaga Kyungsoo selama ini " ujarnya sambil menatap Hye Soo.Bibirnya membentuk seulas senyuman yang manis.Tatapannya juga sangat teduh.

Hye Soo mengangguk.

" D.O oppa sudah ku anggap seperti kakak-ku sendiri,aku tidak mau melihatnya kesepian " balasnya.

Hye Soo menatap Kyungsoo sambil tersenyum.Tangannya terulur mengelap wajah Kyungsoo dengan lembut.

" Kyungsoo mungkin tidak akan pernah bangun lagi,Tapi—kau tetap akan menjadi putriku kan? " tanya Nyonya Do.Dia menatap Hye Soo dari balik punggungnya.

Hye Soo meletakkan handuk kecil itu ke dalam baskom berisi air hangat yang terletak di meja kecil di samping ranjang Kyungsoo.Dia berdiri dan menghampiri Nyonya Do yang duduk di sofa.

Hye Soo duduk di sebelah Nyonya Do lalu menggenggam tangannya.Nyonya Do masih menatap Hye Soo dengan penuh harap.

" apa Omoni berpikir aku ini anak yang durhaka,huh? " tanya Hye Soo.Bibirnya mengerucut.

Nyonya Do yang melihat itu langsung tersenyum lebar.

" kau—tidak akan pergi? " tanya Nyonya Do.

Hye Soo berpura-pura berpikir.Matanya melirik keatas.

" sepertinya kalau nanti malam ke restoran baru di depan rumah sakit tidak buruk juga " ucapnya sambil melirik Nyonya Do.Bibirnya tersungging jail.

Nyonya Do tertawa melihat tingkah Hye Soo.Malaikat kecilnya.Sejak ada Hye Soo di kehidupan keluarganya,hidupnya terasa sempurna.

" baiklah,aku akan menraktirmu nanti malam " ucap Nyonya Do.

Hye Soo bersorak gembira.Tangannya meninju ke udara lalu memeluk Nyonya Do.Ibu ke-2-nya.Orang tua Hye Soo sudah lama meninggal.Selama ini,ia hanya tinggal dengan Paman dan Bibi-nya yang memang tidak mempunyai anak.Mereka sibuk bekerja,jadi Hye Soo jarang mendapatkan kasih sayang yang seharusnya ia rasakan.Setelah bertemu Kyungsoo dan sering berkunjung ke rumahnya,Hye Soo mulai merasakan kasih sayang orang tua.Ibu Kyungsoo begitu menyayanginya,begitupun Ayah Kyungsoo yang selalu menjaganya.

' D.O Oppa…aku merindukanmu '

***

Sehun menyunggingkan bibirnya.Tangannya membawa parsel buah.Hari ini,sepulang sekolah,Sehun memutuskan untuk menjenguk Jongin.Tidak bertemu dengannya selama 3 hari membuat Sehun merindukan tingkah nakal Jongin.

Sehun menarik nafas panjang saat dirinya sudah berdiri di depan pintu ber-cat putih itu.Sebelum berangkat kemari,Luhan sudah memperingatkan Sehun untuk menerima segala perlakuan Jongin nantinya.

-

" kita bersalah,dan orang yang bersalah pantas menerima hukuman. "

-

Perlahan tapi pasti Sehun membuka kenop pintu itu.

" Hai "

Sehun mengangkat sebelah tangannya menyapa Jongin yang menatapnya sekilas lalu kembali membaca komik yang ada di tangannya.Sehun berjalan pelan ke arah kursi yang tersedia di samping ranjang Jongin dan duduk di sana.

" ini aku bawakan buah untukmu " ucap Sehun.

" hmm..terimakasih,letakkan saja di meja " sahut Jongin datar.Matanya sama sekali tidak lepas dari komik yang di pegangnya.

Sehun mengangguk lalu meletakkan parsel buahnya di meja kecil.

" bagaimana kabarmu? apa sudah membaik? " tanya Sehun.

Jongin mengangguk.
" baik " jawabnya singkat.

Sehun mengangguk-angguk-kan kepalanya.Tangan kanannya menggaruk tengkuknya,suasana yang sungguh canggung.

" Jongin— "

" Sehun— "

Sehun tertawa kecil.
" baiklah,kau duluan saja " ucap Sehun.

Jongin menghela nafas panjang,matanya masih menatap buku komik.

" kalau kau sudah tidak ada urusan sebaiknya kau pulang " ucap Jongin dingin.

Sehun tertegun mendengar ucapan Jongin.

Jongin mengusirnya?

-

" terima saja perlakuan Jongin padamu,jangan berusaha menjelaskan apapun,karena itu percuma,Jongin membenci kita Sehun "

-

Kata-kata Luhan menginterupsi mulutnya yang baru saja akan mengeluarkan penjelasan.Sehun menghela nafas lalu mengangguk pelan.

" baiklah,aku akan pulang " pamitnya.

" hmm " gumam Jongin menyahut.

Sehun berjalan pelan menuju pintu.Dia masih ingin disini,masih ingin menghabiskan waktunya bersama Jongin.

" Sehun-ah "

Seketika Sehun tersenyum lebar saat Jongin memanggil namanya.Ia membalikkan badannya.

" ya? "

Jongin mengangkat kepalanya,menatap Sehun datar.

" bisakah kau tidak menemuiku lagi? "

***

Sehun pulang ke rumah dengan air mata yang mengalir di pipinya.Mata-nya sembab.

" Sehun-ah,apa yang terjadi? " tanya Luhan khawatir.

Sehun tidak menjawab,ia berjalan melewati Luhan dan duduk di sofa.Kedua tangannya menutup wajahnya yang sudah basah dengan air matanya detik ketika ia menutup pintu ruang rawat Jongin.

Luhan menghela nafas lalu ikut duduk di samping Sehun.Mengelus-elus punggung Sehun yang naik turun.

" semuanya akan baik-baik saja, Sehun.Aku janji. "

***

Jongin hanya diam memandangi buku komik yang memang tidak sedikitpun ia baca.Dia hanya pura-pura membaca,bermaksud untuk mencari kesibukan lain.Juga—

" kenapa aku tidak bisa membenci mereka? " gumamnya.

Sebenarnya sejak 3 hari yang lalu,rasa marah terhadap sepasang kakak-adik itu sudah hilang.Bahkan,Jongin merasa kesepian tanpa adanya mereka.

Jongin merindukan candaan Sehun.

Jongin merindukan perhatian yang di berikan Luhan.

Singkat kata…Jongin merindukan mereka.

" bagaimana bisa aku merindukan kalian disaat aku ingin membenci kalian? " Jongin bergumam lagi.

Ia menoleh ke samping,ke arah jendela yang terbuka.Dimana dulu Kyungsoo lompat dari sana dan datang untuk menjadi teman bicaranya.

" Hei hyung,kau dimana? Aku membutuhkanmu,aku—merindukanmu "

***

Hye Soo keluar dari ruang rawat Kyungsoo dengan mengendap-endap.Ini sudah kelewat malam,tapi Luhan terus saja merengek memintanya untuk keluar.

" oh yaampun! " pekik Hye Soo kaget.Bagaimana tidak? Saat ia membuka pintu sesosok Luhan sudah berdiri di depan pintu sambil tersenyum.

" kenapa mengendap-endap seperti itu? " tanya Luhan.

Hye Soo membekap mulut Luhan.
" sstt—di dalam ada orang tua D.O Oppa sedang tidur.Pelankan suaramu " bisik Hye Soo.

Luhan mengangguk mengerti.

" ada apa? kenapa ingin bertemu denganku? " tanya Hye Soo sambil melepaskan tangannya dari mulut Luhan.

Luhan mengangkat bahu.
" ayo temani aku minum kopi! "

" ha? "

***

" sebenarnya apa yang ingin Oppa bicarakan? " tanya Hye Soo.

Hye Soo mulai tidak sabar karena Luhan sedari tadi hanya diam dan menyesap kopi-nya tanpa berbicara sedikitpun.

" Jongin " ucap Luhan pelan.

Hye Soo mengerutkan dahinya.
" ada apa dengannya? " tanya Hye Soo.Entah kenapa nama Jongin terasa begitu sensitive di telinga Hye Soo,ia sudah malas mendengar nama laki-laki itu.

" dia di rawat di rumah sakit ini " jawab Luhan.Ia menyesap kopi-nya sambil menatap jalanan yang mulai sepi dari balik jendela Çafè.

Mata Hye Soo membulat,tapi cepat-cepat ia menetralkan ekspresi terkejutnya,sebelum Luhan melihatnya.

" ohh "

Luhan menatap Hye Soo sambil tersenyum.

"  yakin hanya itu? tidak bertanya bagaimana keadaannya? " tanya Luhan meledek.

Hye Soo mendengus.
" untuk apa? aku tidak punya waktu untuk memikirkannya " jawab Hye Soo.

Luhan mengangguk-anggukkan kepalanya.
" baiklah,aku tidak jadi menceritakan sesuatu padamu "

" tidak bisa begitu! Oppa sudah menyuruhku untuk keluar malam-malam begini,dan dengan entengnya Oppa bilang tidak jadi? Cih "

Luhan tertawa kecil,gadis di depannya sungguh pintar dalam berakting.

" bilang saja kalau kau penasaran " ucap Luhan.

Hye Soo mendelik ke arah Luhan.
" ku bilang tidak! " serunya.

" yasudah karena kau tidak penasaran maka aku tidak akan cerita " Luhan mengendikkan bahu-nya.Berpura-pura tidak peduli.

Hye Soo menghela nafas pasrah.

" baiklah,aku penasaran,cepat ceritakan apa yang terjadi sebenarnya "

***

Hye Soo menatap wajah Kyungsoo.Menggenggam tangannya erat.Tangannya terulur,mengelus pipi lembut laki-laki mungil itu.

" D.O Oppa,aku punya kabar baik untukmu " ucapnya pelan.

Air mata Hye Soo mengalir begitu saja.Ia buru-buru menghapus air matanya.

" aku tidak menangis karena aku sedih,tapi aku menangis,karena aku bahagia " ucapnya.

Hye Soo tersenyum.

" Jongin Oppa—dia sudah mengingatmu.Dia sudah mengingat apa yang hilang dari otaknya.Dia mengingatmu Oppa " ujar Hye Soo.

" Karena itu,ku mohon…bukalah matamu. "

***

" siapa? "

Jongin menyahuti ketukan pintu dari luar ruang rawatnya.

Kenop pintu bergerak dan pintu pun perlahan terbuka.Gadis mungil itu tersenyum manis menatap Jongin.

" Hyesoo… " Senyuman Jongin melebar saat melihat gadis itu berjalan mendekatinya dan duduk di kursi yang terletak di samping ranjang Jongin.

" aku ke sini untuk melihat keadaanmu Oppa " ucap Hye Soo.

Jongin tidak merespon,ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.Terlalu senang membuatnya sulit mengeluarkan kata-kata.

" bagaimana kabarmu? Baik? " tanya Hye Soo.

" eum,aku baik " jawab Jongin cepat.

" Oppa " panggil Hye Soo.

" ya? "

" apa kau bosan disini? "

" sangat,aku sangat bosan,apa kau ingin mengajakku keluar? " Jongin bertanya dengan semangat.Berharap Hye Soo akan mengajaknya keluar seperti dulu.

Hye Soo mengangguk.Ia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya.

" ada…yang ingin ku tunjukkan padamu. "

TBC