Laman

Tampilkan postingan dengan label Kim Jongin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kim Jongin. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Juni 2014

EXO Fanfiction: Be a Ssang Namja.

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: Friendship,Romance-maybe-

Cast:
- Oh Sehun
- Cho Eun Hyun (OC)

Support Cast:
- Kim Jongin
- Cho Khyuhyun

Disclaimer: akhirnya jadi jugaaaaaaaa,ini permintaan orang yang sama seperti sebelumnya,temenku tercintah *asek* Hirza Qalby Tazkia.Maaf kalo gak dapet feel-nya atau kurang berkenan.Enjoy^^

Sebelumnya :
- Half Of My Heart
- All About Him
- Goodbye Summer

***

Sepasang mata itu mengerling menatap roda pesawat yang mulai bergesekan dengan aspal bandara lewat jendela pesawat.Setelah duabelas jam ia duduk manis di pesawat,menghabiskan setengah dari harinya untuk berdiam diri memandangi langit,kini saatnya ia menghirup udara tanah kelahirannya yang tiga tahun ditinggalkannya.

" yeah,i'm backkk!! "

Perempuan berambut panjang bergelombang dengan tinggi semampai itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.Bibirnya menyungging lebar memperhatikan orang-orang yang juga lalu-lalang turun dari pesawat.

Setelah melewati beberapa pemeriksaan oleh petugas,perempuan itu berhenti berjalan dan meletakkan satu tangannya di atas kedua alisnya; mencari seseorang yang menjemputnya.

Ponselnya berdering tanda telepon masuk.Perempuan itu merogoh kantung jins-nya dan menggeser tombol berwarna hijau itu.

" Ya! Kau dimanaaa?! "

Perempuan itu meringis sambil menjauhkan telinganya dari ponsel saat panggilannya di sambut dengan seruan yang menyakitkan gendang telinganya.

" aish! Bisa tidak kau tidak berteriak padaku,huh?! " sungut perempuan itu.

" baiklah,baiklah,sekarang kau dimana? pakai baju apa? " laki-laki di seberang sana mulai bertanya lembut.

Perempuan itu menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri berusaha mencari petunjuk masuk akal yang dapat ia katakan kepada si laki-laki itu agar dapat menemukannya.

" aku berdiri di dekat toko Bubble Tea,dan baju yang ku pakai sekarang adalah kaus lengan panjang warna abu-abu dan celana jins "ujarnya.

" eoh? Toko Bubble Tea? "

" hmm "

tut.

Perempuan itu mengernyit heran manakala sambungan teleponnya di putus begitu saja.

" Oh Sehun ini gila atau apa? kenapa dia mematikan teleponnya? " gerutunya kesal.

Perempuan itu meniup poni-nya pasrah,terserah laki-laki bernama Oh Sehun itu akan kebingungan mencarinya di seluruh sudut di bandara ini,yang terpenting ia harus segera pulang dan merebahkan diri di kasur empuknya.

Baru saja tangannya akan kembali menggeret koper biru dongker-nya mata lebih dulu menangkap siluet sosok tinggi yang berjarak empat meter dari tempatnya berdiri.Laki-laki tinggi berambut coklat gelap dengan poni sampingnya memakai kaus putih yang di lapisi jaket berwarna biru laut serta celana jins.Laki-laki itu tersenyum menunjukkan eyesmile-nya sambil melambaikan tangan.

" EUN HYUN-ah! EUN HYUN-ah! "

Sehun berseru sambil melompat-lompat kecil dari tempatnya,berharap kalau orang yang di panggilnya itu merespon panggilannya.

Kaki-kaki panjangnya melangkah lebar dengan senyuman yang tidak kalah lebar menunjukkan deretan gigi putihnya.Sehun merentangkan tangannya lalu membawa Eun Hyun kedalam dekapannya,memeluk perempuan-yang masih tidak bergerak itu-erat.

" aku merindukanmu,sungguh aku merindukanmu "

Tubuh Eun Hyun terasa hangat dan lemas saat Sehun membisikan kalimat itu di balik punggungnya.Kedua tangannya yang sedari tadi diam kini perlahan naik ke atas punggung Sehun.

" hmm,aku juga,Sehun "

***

Setelah puas melepas rasa rindu masing-masing Sehun dan Eun Hyun memilih langsung pulang.Sehun langsung mengambil alih koper Eun Hyun dan berjalan mendahului perempuan itu.

" hei,Sehun " panggil Eun Hyun saat mereka sudah di dalam mobil.

" apa? " Sehun menyahut ia memalingkan wajahnya menatap Eun Hyun dengan eskpresi luar biasa senangnya.

Percaya atau tidak,ini adalah hari yang paling di tunggu Sehun selama tigatahun terakhir.Ini hari-nya seorang oh Sehun.

Eun Hyun yang di tatap mata mengerling Sehun langsung menelan ludah sambil mengerjapkan matanya.Tigatahun berkomunikasi dengan Sehun lewat telepon atau skype membuatnya lupa cara menjaga sikap di depan Sehun.

" kau sekarang kerja? " tanya Eun Hyun setelah menormalkan detak jantungnya.

Sehun mengangguk lalu kembali fokus ke depan.

" kerja apa? "

" pelatih dance "

Eun Hyun mengernyitkan dahi-nya menatap sisi wajah Sehun tidak percaya.Oh Sehun koreografer?

" jangan bilang kau lupa kalau aku memang suka menari " ucap Sehun sambil mengerucutkan bibirnya.

Eun Hyun menggeleng cepat.Bukan lupa,hanya tidak percaya Sehun benar-benar menjadi pelatih dance.Eun Hyun kira bocah itu hanya bercanda saat dulu mengatakan kalau ia ingin menjadi pelatih dance suatu saat nanti.

Eun Hyun hanya kurang percaya Sehun bisa se-konsisten itu.

" kau sendiri? apa yang akan kau kerjakan di sini? " tanya Sehun.

Eun Hyun meletakkan telunjukkan di bibir,alisnya bertaut.Ia sedang berpikir.

" dokter "

" dokter? Kau akan menjadi dokter? " Sehun berteriak heboh.

" yep! dokter,teman Ayahku bekerja di rumah sakit Seoul,dia menawariku bekerja disana  "

" wahh,kalau begitu nanti aku akan jadi pasienmu,pasien pertama Cho Eun Hyun "

Eun Hyun menoleh " memangnya kau sakit? kalau kau tidak sakit kau tidak bisa menjadi pasienku,Sehun "

" aku sakit,aku akan sakit saat kau menjadi dokter,aku akan sakit supaya kau merawatku " ucap Sehun masih fokus melihat ke depan.

Sehun menolehkan kepalanya,menatap Eun Hyun sambil tersenyum lebar.

" pokoknya aku harus menjadi pasien pertama mu,tidak mau tau bagaimanapun caranya,aku harus menjadi pasien pertamamu! "

***

Eun Hyun tersenyum saat melihat bayangan dirinya di cermin besar yang menyatu dengan pintu lemari pakaiannya.Jas putih dokter terlihat begitu cocok di tubuh rampingnya.

Eun Hyun menyematkan jepit rambut berwarna putih bermotif bunga berwarna biru di sudut kiri rambut gelombangnya.Jepit rambut yang Sehun berikan padanya sebagai kado ulang tahunnya yang ke limabelas.

Sehun memang pelit soal kado.

Tapi tetap saja Eun Hyun menyukai apapun yang Sehun berikan padanya,bahkan Eun Hyun suka greeting card buatan Sehun yang ia buat dari kertas karton.Walaupun kelihatannya seperti anak sekolah dasar-Sehun menggambar balon di setiap sudutnya dan tulisan laki-laki itu yang jauh dari kata bagus-tapi Eun Hyun tetap menyukainya.

" aish! kemana bocah itu?! "

Eun Hyun menggerutu kesal karena Sehun yang tidak kunjung memunculkan batang hidungnya.Semalam bahkan Sehun sangat bersemangat dan mengatakan ia akan mengantar Eun Hyun ke rumah sakit dan menjadi pasien pertamanya.

Tapi kenyataannya?

" bahkan kau tidak menjawab teleponku,dasar mulut besar "

Dan dengan satu dengusan kesal Eun Hyun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit menaiki bus.

***

Bunyi roda ranjang pasien yang di dorong oleh beberapa suster menggema di seluruh sudut lorong rumah sakit.Seorang laki-laki muda yang terluka parah terlihat tidak berdaya di atasnya.Para suster-suster itu memasukkannya ke dalam ruang ICU.

" bagaimana ini?! dokter-dokter belum ada yang datang,ini masih terlalu pagi.Apa yang harus kita lakukan?! " seru seorang suster yang memakai kacamata dengan nada panik yang sangat kentara.

Suster yang bertubuh gempal juga tidak kalah panik,ia menggigit bibir bawahnya sambil menatap laki-laki muda yang terluka parah.

" Ya! Jangan diam saja,cepat lakukan sesuatuuu!! " seru suster lain yang bertubuh kurus.

" aku akan keluar,siapa tau ada dokter yang baru datang " usul suster bertubuh gempal tadi.Ia berlari keluar ruang ICU setelah mendapat anggukan dari teman-temannya.

Suster bertubuh gempal itu terus berlari,berharap ada seorang dokter yang baru datang dan menyelamatkan nyawa laki-laki tadi.Ia dan teman-temannya hanya suster jaga yang bertugas mengecek kondisi pasien; memeriksa tekanan darah,cairan infus,menyuntikkan vitamin,memberi makanan sesuai jam-nya.Bukan suster-suster yang biasa mendampingi dokter saat melakukan tindakan.

" Dokter! Dokter! "

Suster itu berteriak kencang saat melihat perempuan tinggi memakai jas dokter memasuki rumah sakit.Ia berlari ke arah perempuan itu.

" Dokter..hhh..tolong..hhh..ada..hhh..pasien..hhh...terluka...hhh "

***

Sehun membuka matanya perlahan,matanya terbelalak saat melihat cahaya matahari yang sudah luar biasa terang di luar sana.Ia langsung menyibakkan selimut dan meraih ponsel yang berada di nakas-nya.

" ah sial! " umpatnya kesal.

Tujuhbelas panggilan tidak terjawab dan lima pesan.

From: Eun Hyun.
05:56
Aku berangkat naik bus.

Sehun mendudukkan tubuhnya di kasur sambil menghela nafas kasar.Menyesal karena semalam tidur terlalu larut hanya karena menonton piala dunia.

" apa aku masih bisa menjadi pasien pertamanya? "

***

Eun Hyun menghela nafas panjang,ia baru saja melakukan penanganan terhadap pasien pertamanya.Seorang laki-laki muda berkulit agak gelap yang terluka parah.Suster-suster itu mengatakan kalau laki-laki muda itu berjalan terseok-seok ke rumah sakit pagi-pagi buta dengan luka lebam di wajah serta luka tusuk di perutnya.

" apa dia gangster? " gumam Eun Hyun sambil memandangi wajah damai laki-laki yang sedang memejamkan matanya itu.

" eung... "

Eun Hyun membulatkan matanya saat mendengar lenguhan yang keluar dari bibir laki-laki itu.Perlahan kedua kelopak mata itu terbuka,memunculkan sepasang bola mata berwarna coklat gelap yang indah.

Laki-laki itu mengerjap pelan,bola matanya langsung mengarah pada perempuan yang tersenyum memandangnya.

" apa anda baik-baik saja? " tanya Eun Hyun lembut.

Laki-laki itu diam tidak menjawab,ia hanya memandang bingung kepada Eun Hyun.

" Saya dokter yang menangani anda,Jongin-ssi.Nama saya Cho Eun Hyun " ucap Eun Hyun yang sadar jika laki-laki itu mungkin bingung dengan dirinya.

" kau tau namaku? " tanya laki-laki itu dengan suara serak.

Eun Hyun menggaruk tengkuknya sambik meringis.

" maaf,saya memeriksa dompet anda,rumah sakit ini butuh identitas anda "

Laki-laki bernama Jongin itu hanya mengangguk pelan.

" anda benar-benar baik-baik saja sekarang? Apa ada yang sakit? "

Jongin mengangguk pelan.
" perutku terasa kaku "

Eun Hyun tersenyum memaklumi.
" perut anda harus di jahit karena mengalami luka sobek,Jongin-ssi " ungkap Eun Hyun.

" terimakasih sudah menolongku " ujar Jongin dengan senyum tipis di balik bibir pucatnya.

***

" aku minta maaf tidak menjemputmu kemarin pagi,aku sungguh-sungguh kesiangan "

Sehun terus saja berseru sambil mengekor di belakang Eun Hyun yang mengacuhkannya sejak dia datang mengunjungi Eun Hyun di rumah sakit.

" aku harus melakukan apa supaya kau berhenti mengacuhkanku? " tangan besar Sehun menarik lengan kurus Eun Hyun,memaksa perempuan itu untuk berbalik menghadapnya.

" aku ingin memeriksa pasien pertamaku,Sehun.Bisa berhenti mengikutiku? " Eun Hyun bertanya dengan dingin.

Pegangan tangan Sehun langsung lepas detik ketika Eun Hyun menyebutkan kalimat 'Pasien Pertama'.Apa dia sudah terlambat sekarang?

" kau—sudah memiliki pasien? " tergagap,Sehun bertanya.

Eun Hyun mengangguk.

" dan itu bukan dirimu "

***

Eun Hyun menghela nafas berkali-kali untuk meredakan malu yang ada di dalam dirinya.Sehun bersikeras ikut dengannya untuk bertemu dengan pasien pertama Eun Hyun.

" bagaimana Jongin-ssi,apa ada keluhan lain? " Eun Hyun bertanya lembut sambil memegang tangan Jongin.

Jongin tersenyum sambil menggeleng.
" tidak,aku merasa lebih baik sekarang " jawabnya.

Sehun mendengus melihat pasien pertama Eun Hyun adalah seorang laki-laki.Terlebih sikap Eun Hyun yang sangat lembut dengannya,berbanding terbalik dengan Eun Hyun yang selalu meneriakinya.

" bisa kita pindah ke pasien lain? lama sekali " ucap Sehun dengan ketus.Kedua tangannya terlipat di depan dada.

Eun Hyun menoleh ke belakang dan memberi Sehun tatapan tajam.Mengisyaratkan laki-laki itu untuk menjaga mulutnya.

" apa? aku bosan disini " ucapnya membalas santai pelototan Eun Hyun.

Eun Hyun menghela nafas sekali lagi,ia tersenyum canggung pada Jongin.

" maaf Jongin-ssi,dia itu pasien gangguan saraf,jadi maklum kalau bicaranya sedikit kasar " ucapnya.

Sehun melotot kaget mendengar ucapan Sehun barusan,pasien gangguan saraf? Maksudnya apa?.Ia mendengus kesal,ia tau laki-laki bernama Jongin itu sedang menahan tawanya.Sehun paling tidak suka jika ada orang yang menertawakannya seperti itu.

" aku pulang! "

***

Eun Hyun menghabiskan setengah hari dari kerja-nya di ruang rawat Jongin.Hampir setiap hari ia selalu menemani Jongin,ia baru tau kalau Jongin kemarin terlibat perkelahian dengan teman-temannya.Jongin seorang player.

" orang tuamu? " Eun Hyun bertanya sambil menyodorkan potongan apel ke mulut Jongin.

Jongin mengendikkan bahunya.
" entah,mereka mengusirku dan terus mengumpatiku.Katanya aku anak yang tidak berguna. " jawabnya santai.

Eun Hyun menelan potongan apel yang ada di dalam mulutnya lalu menggenggam tangan Jongin.

" ku rasa kau perlu minta maaf pada orangtua-mu,bagaimanapun juga mereka yang selama ini membesarkanmu dengan susah payah " ujarnya.

Jongin menelan ludah,baru kali ini ada perempuan yang berani menasihatinya,selama ini ia hanya mengencani perempuan-perempuan centil yang kerjaannya hanya berdandan di depan kaca.

Dengan seulas senyuman manis Jongin mengangguk.

" kau benar,aku akan melakukannya "

***

" itu dari siapa? "

Eun Hyun menghampiri sang kakak yang sedang menonton tv.Di atas meja terdapat buket bunga mawar putih cantik.

" Sehun,dia yang memberikannya " jawab Kyuhyun.

Eun Hyun mengernyit tidak percaya lalu mengangkat buket bunga itu.Membaca pesan singkat yang terdapat di kartu yang ada di dalamnya.

Bunga ini ku beli menggunakan gaji pertamaku,semoga kau menyukainya ^^~

-Oh Sehun-

Eun Hyun tersenyum membacanya,ia merogoh ponsel yang ada di saku blazer putihnya dan menekan tombol satu.

Panggilan cepat,Sehun berada di nomor satu.

" Terimakasih " Eun Hyun berkata lembut ketika teleponnya diangkat.

" untuk? " tanya Sehun dengan nada bingung.

" bunganya,aku menyukainya " jawab Eun Hyun.

Sesaat Sehun tidak mengeluarkan suara.

" Sehun? Kau masih disana kan? Tidak tidur kan? "

" eoh? Tidak,syukurlah kau menyukai bunga itu "

Eun Hyun tersenyum.

" tentu aku menyukainya "

Tut.

Eun Hyun mengernyitkan dahinya,kenapa Sehun senang sekali memutuskan telepon seenaknya?

***

Siang ini Sehun meminta Eun Hyun untuk menemaninya makan siang di taman dekat rumah sakit.Laki-laki itu datang membawa dua kotak bekal yang katanya itu adalah hasil masakannya sendiri.

" kalau hanya menggoreng nugget aku juga bisa,Sehun " komentar Eun Hyun sambil menyumpit nugget rasa spicy ke mulutnya.

" orang bilang jangan lihat hasilnya tapi lihat prosesnya,kau tidak tau kan bagaimana rasanya menggoreng nugget? itu menyeramkan,bayangkan resikonya,aku bisa terkena minyak panassss! " ujar Sehun dengan nada di lebih-lebihkan.

Eun Hyun hanya mencibir mendengarnya.Ia mulai curiga kalau Sehun pasti memakai helm saat memasak nugget ini.

" kau tau Jongin? Dia ternyata laki-laki yang menyenangkan "

" tidak ada laki-laki yang lebih menyenangkan dariku " sahut Sehun cuek.

" kau itu manja dan tukang ngambek,Sehun.Bagaimana kau bisa menyebut dirimu menyenangkan? " balas Eun Hyun.

" dulu saat kita di mall kau bilang walaupun aku punya banyak segudang sifat buruk tapi aku tetap menyenangkan " ucap Sehun tidak mau kalah.

Eun Hyun menelan ludahnya.Tiba-tiba ia merasa sulit bernafas,kejadian itu sudah tiga tahun yang lalu,dan Sehun masih mengingatnya.

" itu dulu Sehun "

Sehun menahan nafasnya,dulu? apa semuanya sudah berubah? apa ia terlambat?

***

Eun Hyun mulai membenarkan perkataan nya tentang Sehun adalah seorang pasien gangguan saraf.Sebab,akhir-akhir ini Sehun terlihat seperti 'bukan Sehun'.Laki-laki itu merubah penampilannya,terlihat lebih dewasa sekarang.Setiap pagi mengantar Eun Hyun ke rumah sakit,mengantar bekal makan siang yang sekarang menunya sudah mulai meningkat dari pada saat pertama,udang goreng tepung.Lumayan bukan?.Sehun juga tidak lagi menonton kartun kesukaannya,dia lebih suka menonton berita sekarang.

Singkat kata,Sehun berubah menjadi laki-laki sesungguhnya.

Tidak lagi manja.

" kau masih berhubungan dengan Jongin? " tanya Sehun.

Malam itu,ia dan Eun Hyun keluar untuk makan malam bersama,Sehun baru saja mendapat gaji ke dua-nya.

" masih,walaupun dia sudah tidak menjadi pasienku,tapi kami tetap berkomunikasi,kenapa? " Eun Hyun mengalihkan pandangannya dari steak yang ia makan.Ia menatap kedua manik mata Sehun.

Waktu terasa berjalan lambat saat kedua manik cantik milik Eun Hyun menatap manik matanya.

Setidaknya itu yang Sehun rasakan sekarang.

" kenapa,Sehun? "

Sehun mengerjapkan matanya berkali-kali saat Eun Hyun mengulang pertanyaannya.Ia menggeleng pelan.

" aahh tidak " gumamnya pelan lalu memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya.Dalam hati terus merutuki jantungnya yang tidak juga menormalkan detaknya.

" Jongin tipe ideal "

Sehun langsung mengangkat kepalanya menatap wajah Eun Hyun dengan dahi mengernyit.Matanya menatap menuntut pada perempuan itu.

" semua perempuan,oke? "

Eun Hyun menyahut tatapan menuntut Sehun dengan ucapan santai lalu kembali menyantap steak-nya.Tidak menyadari betapa buruknya perasaan Sehun setelahnya.

" kau menyukai Jongin? " tanya Sehun.

Eun Hyun melotot kaget,tidak percaya jika Sehun akan bertanya soal ini.

" kau bilang dia tipe ideal semua perempuan,termasuk dirimu? " Sehun bertanya lagi.

Eun Hyun menutup mulutnya rapat-rapat,tatapan kecewa Sehun membuatnya susah menjawab pertanyaan yang seharusnya dengan mudah ia jawab.

Ada apa dengan tatapan Sehun?

***

Jongin keluar dari studio dance tempatnya bekerja,semenjak kedua orang tua-nya memaafkannya,Jongin mulai bekerja sebagai pelatih dance di salah satu studio dance kepunyaan saudaranya.

" ada yang penting? " Jongin bertanya sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi panjang yang terletak di depan studio dance.

Laki-laki di sampingnya itu menjulurkan sekaleng minuman soda ke hadapan Jongin.

Jongin menyambut kaleng soda itu dengan tertawa kecil.
" aku tidak berpikir kita sedekat ini,jadi ada apa kau menemuiku,Oh Sehun? "

Sehun mendengus,ia sebenarnya benci dengan laki-laki di sampingnya ini,tapi demi rasa penasaran yang mendominasi perasaannya ia rela menurunkan harga dirinya dan menelepon Jongin—setelah mencuri nomornya dari ponsel Eun Hyun—untuk memintanya bertemu sebentar.

" kau—menyukai Eun Hyun? " tanya Sehun menatap mata Jongin intens.

Jongin menyemburkan minuman soda-nya,pertanyaan Sehun mengejutkan kerja jantungnya.Jongin mengelap bibirnya yang basah dengan punggung tangan lalu berdehem.

" kenapa kau bertanya seperti itu? " tanya Jongin kembali biasa.

Sehun menatap ke depan lurus-lurus sambil mengendikkan bahu-nya sebagai jawaban.

" kau mau tau jawabannya? "

Sehu menatap tajam Jongin.
" kalau tidak kenapa aku bertanya? " desisnya sebal.

Jongin terkekeh pelan,menarik nafas dalam lalu menganggukkan kepalanya pelan.

Mata Sehun melebar saat Jongin menganggukkan kepalanya.Nafasnya mulai tidak teratur,kerongkongannya terasa kering.

" jadi—kau benar-benar menyukai Eun Hyun? " ulangnya.

Jongin mengangguk lalu menatap Sehun dalam.
" iya,aku menyukainya " jawabnya.

Sehun menarik kaleng soda yang ada di tangan Jongin lalu meneguknya isinya sampai habis,entah kenapa sekarang kerongkongannya terasa kering.

Tangan besar Jongin mengenggam bahu Sehun,menatap laki-laki itu dengan seulas senyum tipis.

" dia menolakku,Sehun "

Mulut Sehun terbuka begitu saja,ingin sekali ia bertanya 'jadi kau sudah menyatakan perasaanmu?' tapi sekali lagi.

Sehun sulit mengeluarkan suaranya,ia mulai khawatir takut ia tiba-tiba menjadi gagu atau apalah itu.

" dia menyukai orang lain " Jongin kembali bersuara.Ia masih menatap Sehun yang terlihat tidak percaya.

Walaupun tidak ada petir,tapi Sehun dapat mendengar suara petir yang menggelegar saat Jongin kembali bersuara.

Menyukai orang lain?

Siapa?

***

Eun Hyun mengernyit heran,Sehun malam ini muncul di depan pintu rumahnya tapi yang membuatnya heran bukan itu,melainkan cengiran khas Sehun yang tidak ia temui.

" Sehun ada apa? " tanya Eun Hyun.

" bisa kita keluar? " pertanyaan datar Sehun seakaan bukanlah sebuah pertanyaan melainkan pernyataan yang hanya satu jawabannya.

" iya "

***

" tadi aku menemui Jongin "

Eun Hyun menolehkan kepalanya menatap sisi wajah Sehun yang menatap lurus air mancur taman kompleks.

" aku bertanya padanya apa dia menyukaimu? "

Sehun menarik nafas dalam lalu mengalihkan pandangannya,menatap Eun Hyun dalam.

" dia bilang,dia menyukaimu " dengan nada rendah dan dalam Sehun berkata.

Eun Hyun mengerjapkan matanya berulang-ulang.Ia lupa cerita soal Jongin yang menyatakan perasaan padanya,selain lupa ia takut Sehun akan mengamuk mengingat ketidak sukaan Sehun terhadap Jongin.

Eun Hyun mendengar Sehun menghela nafas.
" akhir-akhir ini aku tidak mengerti dengan diriku sendiri " gumamnya pelan.

Eun Hyun menatap Sehun tidak mengerti.
" aku juga " sahutnya dengan bergumam.

" aku berubah sekarang "

Eun Hyun mengangguk.

Sehun menolehkan kepalanya,menatap Eun Hyun lekat-lekat.

" karenamu "

Eun Hyun terpaku,tidak merasakan apapun setelah Sehun berkata demikian.Yang ia rasakan adalah jantungnya yang berdegub beribu-ribu kali lebih cepat,aliran darahnya yang berdesir hebat,serta kerongkongan yang tercekat.

Waktu seakan berjalan lamban.

" aku tidak mengerti kenapa dan apa yang membuatku melakukan ini untukmu,yang ku tau hatiku berkata ' berubahlah,dan kau akan mendapatkannya ' aku berubah untuk menunjukkan padamu kalau aku bukan anak manja yang menyebalkan,aku adalah laki-laki dewasa yang sudah pantas menjagamu.Kau selalu mengatakan kalau aku anak manja dan tukang ngambek,aku mulai berpikir bagaimana bisa kau memilihku daripada Jongin yang pandai berkelahi kalau kau saja berkata seperti itu. "

" …Aku mulai merubah penampilanku,memberikan playstasion-ku pada Luhan hyung,membuang segala kaset naruto dan bernard bear yang ku punya,mencoba menonton berita yang membuat kepalaku pusing karena harus berpikir,dan belajar memasak.Aku benar-benar ingin menunjukkan kalau aku bukan lagi Oh Sehun yang manja tapi aku adalah Oh Sehun si laki-laki dewasa yang dapat menjaga Eun Hyun. "

Eun Hyun hanya dapat menatap Sehun tidak percaya,sebagian hatinya merasa sangat senang tapi sebagian yang lain merasa bahwa Sehun sudah terlambat.

Belasan tahun Eun Hyun menyukai Sehun,belasan tahun ia memendam rasa itu,menerima dengan ikhlas kalau Sehun memang tidak menyukainya.Tiga tahun yang lalu ia pergi dari Sehun,mencoba melupakan segala perasaannya.

Perlahan tapi pasti.

" Sehun… "

" Belasan tahun aku bersamamu,kita menghabiskan waktu bersama,belasan tahun pula aku bergantung padamu.Ku anggap sikap bergantung ini adalah hal biasa mengingat kita memang berteman sejak kecil,tapi ternyata aku salah. "

Sehun menarik nafas panjang.

" aku menyukaimu Eun Hyun-ah "

Dan dengan satu kalimat Sehun dapat membuat air mata itu mengalir mulus melewati pipi tirus Eun Hyun.

Kenapa baru sekarang? Kenapa saat perasaan itu hampir hilang? Kenapa ia baru menyadarinya sekarang? Tidakkah ia tau betapa sakitnya hati Eun Hyun?

" apa aku terlambat? apa perasaanmu sudah hilang? apa semua perasaanmu padaku sekarang hanya sebatas teman? apa perasaan suka-mu padaku sudah terikat dengan kata 'dulu'? " Sehun bertanya dengan mata yang menatap berharap.Berharap bahwa semuanya belum terlambat,berharap bahwa ia masih memiliki kesempatan walau hanya sebesar lubang semut.

" kau menyukai bunga yang ku berikan,tidakkah kau menyukaiku juga? "

Eun Hyun menatap Sehun dengan matanya yang berair.Menatapnya dengan tatapan tolong-hentikan-Sehun.

" apa aku tidak bisa menjadi tipe ideal bagimu? Seperti Jongin yang menurutmu adalah tipe ideal semua perempuan? "

Eun Hyun memejamkan matanya rapat-rapat.Sehun terus saja bertanya apa dia terlambat? apa dia tidak punya kesempatan lagi? apa perasaan Eun Hyun sudah berubah sekarang?

" jadi ini rasanya sakit hati " gumam Sehun pelan.Ia berhenti bertanya dan menunduk dalam.

Eun Hyun menatap Sehun dalam,masih belum yakin jika Sehun memang sungguh-sungguh dengan ucapannya.

" kau menyukai orang lain ya? " tanya Sehun pelan.Menatap Eun Hyun dengan pandangan sendunya.

Eun Hyun mengangguk.
" maaf Sehun "

Sehun mengangguk-anggukkan kepalanya.

" yaaa—aku harus apa? tetap memaksamu? itu bukan gaya seorang laki-laki dewasa.Aku sudah menjadi laki-laki dewasa sekarang " ujar Sehun dengan senyum tipisnya.

" aku menyukaimu Sehun "

Sehun tertawa kecil mendengar ucapan Eun Hyun.
" kau menghiburku? ku bilang aku sudah menjadi laki-laki dewasa sekarang,mungkin memang menjadi masalah sekarang,tapi aku yakin aku akan bahagia melihat senyummu nantinya "

" kalau memang aku menyukaimu bagaimana? " tanya Eun Hyun santai.

Mulut Sehun terbuka,bahkan Eun Hyun bersumpah jika tangannya tidak segera menutup rahang Sehun yang menganga mungkin beribu serangga akan masuk ke dalam sana.

" 'kan sudah ku bilang aku menyukaimu dengan segala sifat burukmu,bahkan dengan sifat burukmu itu aku bisa tertawa,lalu kenapa kau merubahnya? "

Sehun mengerjap beberapa kali.
" aku ingin menjagamu,karena kalau sifatku yang kekanak-kanakan mungkin aku tidak bisa menjagamu "

" aku tidak hanya menyukai bungamu,aku tidak hanya menyukai kado-kado darimu,aku menyukai dirimu Sehun.Tidak peduli seberapa keras aku berusaha melupakanmu,toh hatiku sudah memilihmu,hatiku sudah menggunakan haknya dalam memilih.Dan kau pilihan hatiku. " ujar Eun Hyun.Ia menyerah,hatinya lebih memilih untuk menerima Sehun.

Sehun tersenyum lebar,merentangkan tangannya lalu membawa Eun Hyun ke dalam pelukannya.

" aku berharap hak pilih hatimu tidak berlangsung selama lima tahun,tapi selamanya " ujar Sehun.Ia melepas pelukannya lalu membentuk 'V' lewat jari telunjuk dan jari tengahnya.

" aku janji akan menjadi laki-laki dewasa,laki-laki cool dan berkarisma yang akan selalu menjagamu " ucapnya mantap.

" seperti Jongin? "

Sehun menggeleng.

" sepuluh bahkan bertriliun kali lebih baik dari Jongin,aku akan menjagamu "

END

EXO Fanfiction: Be a Ssang Namja.

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: Friendship,Romance-maybe-

Cast:
- Oh Sehun
- Cho Eun Hyun (OC)

Support Cast:
- Kim Jongin
- Cho Khyuhyun

Disclaimer: akhirnya jadi jugaaaaaaaa,ini permintaan orang yang sama seperti sebelumnya,temenku tercintah *asek* Hirza Qalby Tazkia.Maaf kalo gak dapet feel-nya atau kurang berkenan.Enjoy^^

Sebelumnya :
- Half Of My Heart
- All About Him
- Goodbye Summer

***

Sepasang mata itu mengerling menatap roda pesawat yang mulai bergesekan dengan aspal bandara lewat jendela pesawat.Setelah duabelas jam ia duduk manis di pesawat,menghabiskan setengah dari harinya untuk berdiam diri memandangi langit,kini saatnya ia menghirup udara tanah kelahirannya yang tiga tahun ditinggalkannya.

" yeah,i'm backkk!! "

Perempuan berambut panjang bergelombang dengan tinggi semampai itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.Bibirnya menyungging lebar memperhatikan orang-orang yang juga lalu-lalang turun dari pesawat.

Setelah melewati beberapa pemeriksaan oleh petugas,perempuan itu berhenti berjalan dan meletakkan satu tangannya di atas kedua alisnya; mencari seseorang yang menjemputnya.

Ponselnya berdering tanda telepon masuk.Perempuan itu merogoh kantung jins-nya dan menggeser tombol berwarna hijau itu.

" Ya! Kau dimanaaa?! "

Perempuan itu meringis sambil menjauhkan telinganya dari ponsel saat panggilannya di sambut dengan seruan yang menyakitkan gendang telinganya.

" aish! Bisa tidak kau tidak berteriak padaku,huh?! " sungut perempuan itu.

" baiklah,baiklah,sekarang kau dimana? pakai baju apa? " laki-laki di seberang sana mulai bertanya lembut.

Perempuan itu menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri berusaha mencari petunjuk masuk akal yang dapat ia katakan kepada si laki-laki itu agar dapat menemukannya.

" aku berdiri di dekat toko Bubble Tea,dan baju yang ku pakai sekarang adalah kaus lengan panjang warna abu-abu dan celana jins "ujarnya.

" eoh? Toko Bubble Tea? "

" hmm "

tut.

Perempuan itu mengernyit heran manakala sambungan teleponnya di putus begitu saja.

" Oh Sehun ini gila atau apa? kenapa dia mematikan teleponnya? " gerutunya kesal.

Perempuan itu meniup poni-nya pasrah,terserah laki-laki bernama Oh Sehun itu akan kebingungan mencarinya di seluruh sudut di bandara ini,yang terpenting ia harus segera pulang dan merebahkan diri di kasur empuknya.

Baru saja tangannya akan kembali menggeret koper biru dongker-nya mata lebih dulu menangkap siluet sosok tinggi yang berjarak empat meter dari tempatnya berdiri.Laki-laki tinggi berambut coklat gelap dengan poni sampingnya memakai kaus putih yang di lapisi jaket berwarna biru laut serta celana jins.Laki-laki itu tersenyum menunjukkan eyesmile-nya sambil melambaikan tangan.

" EUN HYUN-ah! EUN HYUN-ah! "

Sehun berseru sambil melompat-lompat kecil dari tempatnya,berharap kalau orang yang di panggilnya itu merespon panggilannya.

Kaki-kaki panjangnya melangkah lebar dengan senyuman yang tidak kalah lebar menunjukkan deretan gigi putihnya.Sehun merentangkan tangannya lalu membawa Eun Hyun kedalam dekapannya,memeluk perempuan-yang masih tidak bergerak itu-erat.

" aku merindukanmu,sungguh aku merindukanmu "

Tubuh Eun Hyun terasa hangat dan lemas saat Sehun membisikan kalimat itu di balik punggungnya.Kedua tangannya yang sedari tadi diam kini perlahan naik ke atas punggung Sehun.

" hmm,aku juga,Sehun "

***

Setelah puas melepas rasa rindu masing-masing Sehun dan Eun Hyun memilih langsung pulang.Sehun langsung mengambil alih koper Eun Hyun dan berjalan mendahului perempuan itu.

" hei,Sehun " panggil Eun Hyun saat mereka sudah di dalam mobil.

" apa? " Sehun menyahut ia memalingkan wajahnya menatap Eun Hyun dengan eskpresi luar biasa senangnya.

Percaya atau tidak,ini adalah hari yang paling di tunggu Sehun selama tigatahun terakhir.Ini hari-nya seorang oh Sehun.

Eun Hyun yang di tatap mata mengerling Sehun langsung menelan ludah sambil mengerjapkan matanya.Tigatahun berkomunikasi dengan Sehun lewat telepon atau skype membuatnya lupa cara menjaga sikap di depan Sehun.

" kau sekarang kerja? " tanya Eun Hyun setelah menormalkan detak jantungnya.

Sehun mengangguk lalu kembali fokus ke depan.

" kerja apa? "

" pelatih dance "

Eun Hyun mengernyitkan dahi-nya menatap sisi wajah Sehun tidak percaya.Oh Sehun koreografer?

" jangan bilang kau lupa kalau aku memang suka menari " ucap Sehun sambil mengerucutkan bibirnya.

Eun Hyun menggeleng cepat.Bukan lupa,hanya tidak percaya Sehun benar-benar menjadi pelatih dance.Eun Hyun kira bocah itu hanya bercanda saat dulu mengatakan kalau ia ingin menjadi pelatih dance suatu saat nanti.

Eun Hyun hanya kurang percaya Sehun bisa se-konsisten itu.

" kau sendiri? apa yang akan kau kerjakan di sini? " tanya Sehun.

Eun Hyun meletakkan telunjukkan di bibir,alisnya bertaut.Ia sedang berpikir.

" dokter "

" dokter? Kau akan menjadi dokter? " Sehun berteriak heboh.

" yep! dokter,teman Ayahku bekerja di rumah sakit Seoul,dia menawariku bekerja disana  "

" wahh,kalau begitu nanti aku akan jadi pasienmu,pasien pertama Cho Eun Hyun "

Eun Hyun menoleh " memangnya kau sakit? kalau kau tidak sakit kau tidak bisa menjadi pasienku,Sehun "

" aku sakit,aku akan sakit saat kau menjadi dokter,aku akan sakit supaya kau merawatku " ucap Sehun masih fokus melihat ke depan.

Sehun menolehkan kepalanya,menatap Eun Hyun sambil tersenyum lebar.

" pokoknya aku harus menjadi pasien pertama mu,tidak mau tau bagaimanapun caranya,aku harus menjadi pasien pertamamu! "

***

Eun Hyun tersenyum saat melihat bayangan dirinya di cermin besar yang menyatu dengan pintu lemari pakaiannya.Jas putih dokter terlihat begitu cocok di tubuh rampingnya.

Eun Hyun menyematkan jepit rambut berwarna putih bermotif bunga berwarna biru di sudut kiri rambut gelombangnya.Jepit rambut yang Sehun berikan padanya sebagai kado ulang tahunnya yang ke limabelas.

Sehun memang pelit soal kado.

Tapi tetap saja Eun Hyun menyukai apapun yang Sehun berikan padanya,bahkan Eun Hyun suka greeting card buatan Sehun yang ia buat dari kertas karton.Walaupun kelihatannya seperti anak sekolah dasar-Sehun menggambar balon di setiap sudutnya dan tulisan laki-laki itu yang jauh dari kata bagus-tapi Eun Hyun tetap menyukainya.

" aish! kemana bocah itu?! "

Eun Hyun menggerutu kesal karena Sehun yang tidak kunjung memunculkan batang hidungnya.Semalam bahkan Sehun sangat bersemangat dan mengatakan ia akan mengantar Eun Hyun ke rumah sakit dan menjadi pasien pertamanya.

Tapi kenyataannya?

" bahkan kau tidak menjawab teleponku,dasar mulut besar "

Dan dengan satu dengusan kesal Eun Hyun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit menaiki bus.

***

Bunyi roda ranjang pasien yang di dorong oleh beberapa suster menggema di seluruh sudut lorong rumah sakit.Seorang laki-laki muda yang terluka parah terlihat tidak berdaya di atasnya.Para suster-suster itu memasukkannya ke dalam ruang ICU.

" bagaimana ini?! dokter-dokter belum ada yang datang,ini masih terlalu pagi.Apa yang harus kita lakukan?! " seru seorang suster yang memakai kacamata dengan nada panik yang sangat kentara.

Suster yang bertubuh gempal juga tidak kalah panik,ia menggigit bibir bawahnya sambil menatap laki-laki muda yang terluka parah.

" Ya! Jangan diam saja,cepat lakukan sesuatuuu!! " seru suster lain yang bertubuh kurus.

" aku akan keluar,siapa tau ada dokter yang baru datang " usul suster bertubuh gempal tadi.Ia berlari keluar ruang ICU setelah mendapat anggukan dari teman-temannya.

Suster bertubuh gempal itu terus berlari,berharap ada seorang dokter yang baru datang dan menyelamatkan nyawa laki-laki tadi.Ia dan teman-temannya hanya suster jaga yang bertugas mengecek kondisi pasien; memeriksa tekanan darah,cairan infus,menyuntikkan vitamin,memberi makanan sesuai jam-nya.Bukan suster-suster yang biasa mendampingi dokter saat melakukan tindakan.

" Dokter! Dokter! "

Suster itu berteriak kencang saat melihat perempuan tinggi memakai jas dokter memasuki rumah sakit.Ia berlari ke arah perempuan itu.

" Dokter..hhh..tolong..hhh..ada..hhh..pasien..hhh...terluka...hhh "

***

Sehun membuka matanya perlahan,matanya terbelalak saat melihat cahaya matahari yang sudah luar biasa terang di luar sana.Ia langsung menyibakkan selimut dan meraih ponsel yang berada di nakas-nya.

" ah sial! " umpatnya kesal.

Tujuhbelas panggilan tidak terjawab dan lima pesan.

From: Eun Hyun.
05:56
Aku berangkat naik bus.

Sehun mendudukkan tubuhnya di kasur sambil menghela nafas kasar.Menyesal karena semalam tidur terlalu larut hanya karena menonton piala dunia.

" apa aku masih bisa menjadi pasien pertamanya? "

***

Eun Hyun menghela nafas panjang,ia baru saja melakukan penanganan terhadap pasien pertamanya.Seorang laki-laki muda berkulit agak gelap yang terluka parah.Suster-suster itu mengatakan kalau laki-laki muda itu berjalan terseok-seok ke rumah sakit pagi-pagi buta dengan luka lebam di wajah serta luka tusuk di perutnya.

" apa dia gangster? " gumam Eun Hyun sambil memandangi wajah damai laki-laki yang sedang memejamkan matanya itu.

" eung... "

Eun Hyun membulatkan matanya saat mendengar lenguhan yang keluar dari bibir laki-laki itu.Perlahan kedua kelopak mata itu terbuka,memunculkan sepasang bola mata berwarna coklat gelap yang indah.

Laki-laki itu mengerjap pelan,bola matanya langsung mengarah pada perempuan yang tersenyum memandangnya.

" apa anda baik-baik saja? " tanya Eun Hyun lembut.

Laki-laki itu diam tidak menjawab,ia hanya memandang bingung kepada Eun Hyun.

" Saya dokter yang menangani anda,Jongin-ssi.Nama saya Cho Eun Hyun " ucap Eun Hyun yang sadar jika laki-laki itu mungkin bingung dengan dirinya.

" kau tau namaku? " tanya laki-laki itu dengan suara serak.

Eun Hyun menggaruk tengkuknya sambik meringis.

" maaf,saya memeriksa dompet anda,rumah sakit ini butuh identitas anda "

Laki-laki bernama Jongin itu hanya mengangguk pelan.

" anda benar-benar baik-baik saja sekarang? Apa ada yang sakit? "

Jongin mengangguk pelan.
" perutku terasa kaku "

Eun Hyun tersenyum memaklumi.
" perut anda harus di jahit karena mengalami luka sobek,Jongin-ssi " ungkap Eun Hyun.

" terimakasih sudah menolongku " ujar Jongin dengan senyum tipis di balik bibir pucatnya.

***

" aku minta maaf tidak menjemputmu kemarin pagi,aku sungguh-sungguh kesiangan "

Sehun terus saja berseru sambil mengekor di belakang Eun Hyun yang mengacuhkannya sejak dia datang mengunjungi Eun Hyun di rumah sakit.

" aku harus melakukan apa supaya kau berhenti mengacuhkanku? " tangan besar Sehun menarik lengan kurus Eun Hyun,memaksa perempuan itu untuk berbalik menghadapnya.

" aku ingin memeriksa pasien pertamaku,Sehun.Bisa berhenti mengikutiku? " Eun Hyun bertanya dengan dingin.

Pegangan tangan Sehun langsung lepas detik ketika Eun Hyun menyebutkan kalimat 'Pasien Pertama'.Apa dia sudah terlambat sekarang?

" kau—sudah memiliki pasien? " tergagap,Sehun bertanya.

Eun Hyun mengangguk.

" dan itu bukan dirimu "

***

Eun Hyun menghela nafas berkali-kali untuk meredakan malu yang ada di dalam dirinya.Sehun bersikeras ikut dengannya untuk bertemu dengan pasien pertama Eun Hyun.

" bagaimana Jongin-ssi,apa ada keluhan lain? " Eun Hyun bertanya lembut sambil memegang tangan Jongin.

Jongin tersenyum sambil menggeleng.
" tidak,aku merasa lebih baik sekarang " jawabnya.

Sehun mendengus melihat pasien pertama Eun Hyun adalah seorang laki-laki.Terlebih sikap Eun Hyun yang sangat lembut dengannya,berbanding terbalik dengan Eun Hyun yang selalu meneriakinya.

" bisa kita pindah ke pasien lain? lama sekali " ucap Sehun dengan ketus.Kedua tangannya terlipat di depan dada.

Eun Hyun menoleh ke belakang dan memberi Sehun tatapan tajam.Mengisyaratkan laki-laki itu untuk menjaga mulutnya.

" apa? aku bosan disini " ucapnya membalas santai pelototan Eun Hyun.

Eun Hyun menghela nafas sekali lagi,ia tersenyum canggung pada Jongin.

" maaf Jongin-ssi,dia itu pasien gangguan saraf,jadi maklum kalau bicaranya sedikit kasar " ucapnya.

Sehun melotot kaget mendengar ucapan Sehun barusan,pasien gangguan saraf? Maksudnya apa?.Ia mendengus kesal,ia tau laki-laki bernama Jongin itu sedang menahan tawanya.Sehun paling tidak suka jika ada orang yang menertawakannya seperti itu.

" aku pulang! "

***

Eun Hyun menghabiskan setengah hari dari kerja-nya di ruang rawat Jongin.Hampir setiap hari ia selalu menemani Jongin,ia baru tau kalau Jongin kemarin terlibat perkelahian dengan teman-temannya.Jongin seorang player.

" orang tuamu? " Eun Hyun bertanya sambil menyodorkan potongan apel ke mulut Jongin.

Jongin mengendikkan bahunya.
" entah,mereka mengusirku dan terus mengumpatiku.Katanya aku anak yang tidak berguna. " jawabnya santai.

Eun Hyun menelan potongan apel yang ada di dalam mulutnya lalu menggenggam tangan Jongin.

" ku rasa kau perlu minta maaf pada orangtua-mu,bagaimanapun juga mereka yang selama ini membesarkanmu dengan susah payah " ujarnya.

Jongin menelan ludah,baru kali ini ada perempuan yang berani menasihatinya,selama ini ia hanya mengencani perempuan-perempuan centil yang kerjaannya hanya berdandan di depan kaca.

Dengan seulas senyuman manis Jongin mengangguk.

" kau benar,aku akan melakukannya "

***

" itu dari siapa? "

Eun Hyun menghampiri sang kakak yang sedang menonton tv.Di atas meja terdapat buket bunga mawar putih cantik.

" Sehun,dia yang memberikannya " jawab Kyuhyun.

Eun Hyun mengernyit tidak percaya lalu mengangkat buket bunga itu.Membaca pesan singkat yang terdapat di kartu yang ada di dalamnya.

Bunga ini ku beli menggunakan gaji pertamaku,semoga kau menyukainya ^^~

-Oh Sehun-

Eun Hyun tersenyum membacanya,ia merogoh ponsel yang ada di saku blazer putihnya dan menekan tombol satu.

Panggilan cepat,Sehun berada di nomor satu.

" Terimakasih " Eun Hyun berkata lembut ketika teleponnya diangkat.

" untuk? " tanya Sehun dengan nada bingung.

" bunganya,aku menyukainya " jawab Eun Hyun.

Sesaat Sehun tidak mengeluarkan suara.

" Sehun? Kau masih disana kan? Tidak tidur kan? "

" eoh? Tidak,syukurlah kau menyukai bunga itu "

Eun Hyun tersenyum.

" tentu aku menyukainya "

Tut.

Eun Hyun mengernyitkan dahinya,kenapa Sehun senang sekali memutuskan telepon seenaknya?

***

Siang ini Sehun meminta Eun Hyun untuk menemaninya makan siang di taman dekat rumah sakit.Laki-laki itu datang membawa dua kotak bekal yang katanya itu adalah hasil masakannya sendiri.

" kalau hanya menggoreng nugget aku juga bisa,Sehun " komentar Eun Hyun sambil menyumpit nugget rasa spicy ke mulutnya.

" orang bilang jangan lihat hasilnya tapi lihat prosesnya,kau tidak tau kan bagaimana rasanya menggoreng nugget? itu menyeramkan,bayangkan resikonya,aku bisa terkena minyak panassss! " ujar Sehun dengan nada di lebih-lebihkan.

Eun Hyun hanya mencibir mendengarnya.Ia mulai curiga kalau Sehun pasti memakai helm saat memasak nugget ini.

" kau tau Jongin? Dia ternyata laki-laki yang menyenangkan "

" tidak ada laki-laki yang lebih menyenangkan dariku " sahut Sehun cuek.

" kau itu manja dan tukang ngambek,Sehun.Bagaimana kau bisa menyebut dirimu menyenangkan? " balas Eun Hyun.

" dulu saat kita di mall kau bilang walaupun aku punya banyak segudang sifat buruk tapi aku tetap menyenangkan " ucap Sehun tidak mau kalah.

Eun Hyun menelan ludahnya.Tiba-tiba ia merasa sulit bernafas,kejadian itu sudah tiga tahun yang lalu,dan Sehun masih mengingatnya.

" itu dulu Sehun "

Sehun menahan nafasnya,dulu? apa semuanya sudah berubah? apa ia terlambat?

***

Eun Hyun mulai membenarkan perkataan nya tentang Sehun adalah seorang pasien gangguan saraf.Sebab,akhir-akhir ini Sehun terlihat seperti 'bukan Sehun'.Laki-laki itu merubah penampilannya,terlihat lebih dewasa sekarang.Setiap pagi mengantar Eun Hyun ke rumah sakit,mengantar bekal makan siang yang sekarang menunya sudah mulai meningkat dari pada saat pertama,udang goreng tepung.Lumayan bukan?.Sehun juga tidak lagi menonton kartun kesukaannya,dia lebih suka menonton berita sekarang.

Singkat kata,Sehun berubah menjadi laki-laki sesungguhnya.

Tidak lagi manja.

" kau masih berhubungan dengan Jongin? " tanya Sehun.

Malam itu,ia dan Eun Hyun keluar untuk makan malam bersama,Sehun baru saja mendapat gaji ke dua-nya.

" masih,walaupun dia sudah tidak menjadi pasienku,tapi kami tetap berkomunikasi,kenapa? " Eun Hyun mengalihkan pandangannya dari steak yang ia makan.Ia menatap kedua manik mata Sehun.

Waktu terasa berjalan lambat saat kedua manik cantik milik Eun Hyun menatap manik matanya.

Setidaknya itu yang Sehun rasakan sekarang.

" kenapa,Sehun? "

Sehun mengerjapkan matanya berkali-kali saat Eun Hyun mengulang pertanyaannya.Ia menggeleng pelan.

" aahh tidak " gumamnya pelan lalu memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya.Dalam hati terus merutuki jantungnya yang tidak juga menormalkan detaknya.

" Jongin tipe ideal "

Sehun langsung mengangkat kepalanya menatap wajah Eun Hyun dengan dahi mengernyit.Matanya menatap menuntut pada perempuan itu.

" semua perempuan,oke? "

Eun Hyun menyahut tatapan menuntut Sehun dengan ucapan santai lalu kembali menyantap steak-nya.Tidak menyadari betapa buruknya perasaan Sehun setelahnya.

" kau menyukai Jongin? " tanya Sehun.

Eun Hyun melotot kaget,tidak percaya jika Sehun akan bertanya soal ini.

" kau bilang dia tipe ideal semua perempuan,termasuk dirimu? " Sehun bertanya lagi.

Eun Hyun menutup mulutnya rapat-rapat,tatapan kecewa Sehun membuatnya susah menjawab pertanyaan yang seharusnya dengan mudah ia jawab.

Ada apa dengan tatapan Sehun?

***

Jongin keluar dari studio dance tempatnya bekerja,semenjak kedua orang tua-nya memaafkannya,Jongin mulai bekerja sebagai pelatih dance di salah satu studio dance kepunyaan saudaranya.

" ada yang penting? " Jongin bertanya sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi panjang yang terletak di depan studio dance.

Laki-laki di sampingnya itu menjulurkan sekaleng minuman soda ke hadapan Jongin.

Jongin menyambut kaleng soda itu dengan tertawa kecil.
" aku tidak berpikir kita sedekat ini,jadi ada apa kau menemuiku,Oh Sehun? "

Sehun mendengus,ia sebenarnya benci dengan laki-laki di sampingnya ini,tapi demi rasa penasaran yang mendominasi perasaannya ia rela menurunkan harga dirinya dan menelepon Jongin—setelah mencuri nomornya dari ponsel Eun Hyun—untuk memintanya bertemu sebentar.

" kau—menyukai Eun Hyun? " tanya Sehun menatap mata Jongin intens.

Jongin menyemburkan minuman soda-nya,pertanyaan Sehun mengejutkan kerja jantungnya.Jongin mengelap bibirnya yang basah dengan punggung tangan lalu berdehem.

" kenapa kau bertanya seperti itu? " tanya Jongin kembali biasa.

Sehun menatap ke depan lurus-lurus sambil mengendikkan bahu-nya sebagai jawaban.

" kau mau tau jawabannya? "

Sehu menatap tajam Jongin.
" kalau tidak kenapa aku bertanya? " desisnya sebal.

Jongin terkekeh pelan,menarik nafas dalam lalu menganggukkan kepalanya pelan.

Mata Sehun melebar saat Jongin menganggukkan kepalanya.Nafasnya mulai tidak teratur,kerongkongannya terasa kering.

" jadi—kau benar-benar menyukai Eun Hyun? " ulangnya.

Jongin mengangguk lalu menatap Sehun dalam.
" iya,aku menyukainya " jawabnya.

Sehun menarik kaleng soda yang ada di tangan Jongin lalu meneguknya isinya sampai habis,entah kenapa sekarang kerongkongannya terasa kering.

Tangan besar Jongin mengenggam bahu Sehun,menatap laki-laki itu dengan seulas senyum tipis.

" dia menolakku,Sehun "

Mulut Sehun terbuka begitu saja,ingin sekali ia bertanya 'jadi kau sudah menyatakan perasaanmu?' tapi sekali lagi.

Sehun sulit mengeluarkan suaranya,ia mulai khawatir takut ia tiba-tiba menjadi gagu atau apalah itu.

" dia menyukai orang lain " Jongin kembali bersuara.Ia masih menatap Sehun yang terlihat tidak percaya.

Walaupun tidak ada petir,tapi Sehun dapat mendengar suara petir yang menggelegar saat Jongin kembali bersuara.

Menyukai orang lain?

Siapa?

***

Eun Hyun mengernyit heran,Sehun malam ini muncul di depan pintu rumahnya tapi yang membuatnya heran bukan itu,melainkan cengiran khas Sehun yang tidak ia temui.

" Sehun ada apa? " tanya Eun Hyun.

" bisa kita keluar? " pertanyaan datar Sehun seakaan bukanlah sebuah pertanyaab melainkan pernyataan yang hanya satu jawabannya.

" iya "

***

" tadi aku menemui Jongin "

Eun Hyun menolehkan kepalanya menatap sisi wajah Sehun yang menatap lurus air mancur taman kompleks.

" aku bertanya padanya apa dia menyukaimu? "

Sehun menarik nafas dalam lalu mengalihkan pandangannya,menatap Eun Hyun dalam.

" dia bilang,dia menyukaimu " dengan nada rendah dan dalam Sehun berkata.

Eun Hyun mengerjapkan matanya berulang-ulang.Ia lupa cerita soal Jongin yang menyatakan perasaan padanya,selain lupa ia takut Sehun akan mengamuk mengingat ketidak sukaan Sehun terhadap Jongin.

Eun Hyun mendengar Sehun menghela nafas.
" akhir-akhir ini aku tidak mengerti dengan diriku sendiri " gumamnya pelan.

Eun Hyun menatap Sehun tidak mengerti.
" aku juga " sahutnya dengan bergumam.

" aku berubah sekarang "

Eun Hyun mengangguk.

Sehun menolehkan kepalanya,menatap Eun Hyun lekat-lekat.

" karenamu "

Eun Hyun terpaku,tidak merasakan apapun setelah Sehun berkata demikian.Yang ia rasakan adalah jantungnya yang berdegub beribu-ribu kali lebih cepat,aliran darahnya yang berdesir hebat,serta kerongkongan yang tercekat.

Waktu seakan berjalan lamban.

" aku tidak mengerti kenapa dan apa yang membuatku melakukan ini untukmu,yang ku tau hatiku berkata ' berubahlah,dan kau akan mendapatkannya ' aku berubah untuk menunjukkan padamu kalau aku bukan anak manja yang menyebalkan,aku adalah laki-laki dewasa yang sudah pantas menjagamu.Kau selalu mengatakan kalau aku anak manja dan tukang ngambek,aku mulai berpikir bagaimana bisa kau memilihku daripada Jongin yang pandai berkelahi kalau kau saja berkata seperti itu. "

" …Aku mulai merubah penampilanku,memberikan playstasion-ku pada Luhan hyung,membuang segala kaset naruto dan bernard bear yang ku punya,mencoba menonton berita yang membuat kepalaku pusing karena harus berpikir,dan belajar memasak.Aku benar-benar ingin menunjukkan kalau aku bukan lagi Oh Sehun yang manja tapi aku adalah Oh Sehun si laki-laki dewasa yang dapat menjaga Eun Hyun. "

Eun Hyun hanya dapat menatap Sehun tidak percaya,sebagian hatinya merasa sangat senang tapi sebagian yang lain merasa bahwa Sehun sudah terlambat.

Belasan tahun Eun Hyun menyukai Sehun,belasan tahun ia memendam rasa itu,menerima dengan ikhlas kalau Sehun memang tidak menyukainya.Tiga tahun yang lalu ia pergi dari Sehun,mencoba melupakan segala perasaannya.

Perlahan tapi pasti.

" Sehun… "

" Belasan tahun aku bersamamu,kita menghabiskan waktu bersama,belasan tahun pula aku bergantung padamu.Ku anggap sikap bergantung ini adalah hal biasa mengingat kita memang berteman sejak kecil,tapi ternyata aku salah. "

Sehun menarik nafas panjang.

" aku menyukaimu Eun Hyun-ah "

Dan dengan satu kalimat Sehun dapat membuat air mata itu mengalir mulus melewati pipi tirus Eun Hyun.

Kenapa baru sekarang? Kenapa saat perasaan itu hampir hilang? Kenapa ia baru menyadarinya sekarang? Tidakkah ia tau betapa sakitnya hati Eun Hyun?

" apa aku terlambat? apa perasaanmu sudah hilang? apa semua perasaanmu padaku sekarang hanya sebatas teman? apa perasaan suka-mu padaku sudah terikat dengan kata 'dulu'? " Sehun bertanya dengan mata yang menatap berharap.Berharap bahwa semuanya belum terlambat,berharap bahwa ia masih memiliki kesempatan walau hanya sebesar lubang semut.

" kau menyukai bunga yang ku berikan,tidakkah kau menyukaiku juga? "

Eun Hyun menatap Sehun dengan matanya yang berair.Menatapnya dengan tatapan tolong-hentikan-Sehun.

" apa aku tidak bisa menjadi tipe ideal bagimu? Seperti Jongin yang menurutmu adalah tipe ideal semua perempuan? "

Eun Hyun memejamkan matanya rapat-rapat.Sehun terus saja bertanya apa dia terlambat? apa dia tidak punya kesempatan lagi? apa perasaan Eun Hyun sudah berubah sekarang?

" jadi ini rasanya sakit hati " gumam Sehun pelan.Ia berhenti bertanya dan menunduk dalam.

Eun Hyun menatap Sehun dalam,masih belum yakin jika Sehun memang sungguh-sungguh dengan ucapannya.

" kau menyukai orang lain ya? " tanya Sehun pelan.Menatap Eun Hyun dengan pandangan sendunya.

Eun Hyun mengangguk.
" maaf Sehun "

Sehun mengangguk-anggukkan kepalanya.

" yaaa—aku harus apa? tetap memaksamu? itu bukan gaya seorang laki-laki dewasa.Aku sudah menjadi laki-laki dewasa sekarang " ujar Sehun dengan senyum tipisnya.

" aku menyukaimu Sehun "

Sehun tertawa kecil mendengar ucapan Eun Hyun.
" kau menghiburku? ku bilang aku sudah menjadi laki-laki dewasa sekarang,mungkin memang menjadi masalah sekarang,tapi aku yakin aku akan bahagia melihat senyummu nantinya "

" kalau memang aku menyukaimu bagaimana? " tanya Eun Hyun santai.

Mulut Sehun terbuka,bahkan Eun Hyun bersumpah jika tangannya tidak segera menutup rahang Sehun yang menganga mungkin beribu serangga akan masuk ke dalam sana.

" 'kan sudah ku bilang aku menyukaimu dengan segala sifat burukmu,bahkan dengan sifat burukmu itu aku bisa tertawa,lalu kenapa kau merubahnya? "

Sehun mengerjap beberapa kali.
" aku ingin menjagamu,karena kalau sifatku yang kekanak-kanakan mungkin aku tidak bisa menjagamu "

" aku tidak hanya menyukai bungamu,aku tidak hanya menyukai kado-kado darimu,aku menyukai dirimu Sehun.Tidak peduli seberapa keras aku berusaha melupakanmu,toh hatiku sudah memilihmu,hatiku sudah menggunakan haknya dalam memilih.Dan kau pilihan hatiku. " ujar Eun Hyun.Ia menyerah,hatinya lebih memilih untuk menerima Sehun.

Sehun tersenyum lebar,merentangkan tangannya lalu membawa Eun Hyun ke dalam pelukannya.

" aku berharap hak pilih hatimu tidak berlangsung selama lima tahun,tapi selamanya " ujar Sehun.Ia melepas pelukannya lalu membentuk 'V' lewat jari telunjuk dan jari tengahnya.

" aku janji akan menjadi laki-laki dewasa,laki-laki cool dan berkarisma yang akan selalu menjagamu " ucapnya mantap.

" seperti Jongin? "

Sehun menggeleng.

" sepuluh bahkan bertriliun kali lebih baik dari Jongin,aku akan menjagamu "

END

Selasa, 10 Juni 2014

EXO Fanfiction: Not Me.

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: School Life,Friendship,Crime.

Cast:
- Jung Dong Hee (OC)
- Kim Jongin

Support Cast:
- Seo Ah Hyun (OC)
- Kim Do Yeon (OC)
- Do Kyungsoo

Discalimer: ohohoho halloooo~ ini fanfic yang pas di pikirin kayaknya bagus tapi pas di tulis eum semoga tetep bagus,hahahaha.Maaf kalo gak nyambung dan banyak typo.This story is mine ^^ Enjoy^^

***

Namanya Jung Dong Hee.Perempuan pendiam dan tidak banyak bicara.Orangtua-nya sudah meninggal dua tahun lalu tepat di hari kelulusannya.Dong Hee berumur 17 tahun,umur dimana seharusnya dia duduk di bangku kelas dua SMA.Tapi karena suatu hal dia baru akan masuk kelas satu SMA.

" silahkan,pekenalkan dirimu " ucap Seonsaengnim.

Dong Hee mengangguk singkat.Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh 'bakal' teman-temannya.

" halo semua,nama saya Jung Dong Hee.Senang bertemu kalian " ucapnya dengan lantang.

" sstt—ku dengar dia anak yatim piatu " bisik seorang perempuan berambut pirang pada teman sebangkunya.

Teman sebangkunya itu mengangguk antusias.
" benar,dia juga telat satu tahun,seharusnya dia di kelas dua sekarang " sahut temannya.

" apa dia bodoh? "

" jangan-jangan dia murid nakal "

" aku tidak mau berteman dengannya "

Telinga Dong Hee bergerak mendengar bisikan-bisikan teman-temannya yang membicarakannya.Ada yang menatap sinis,ada yang membuang pandangannya,ada yang pura-pura mencatat.

" ekhm " Seonsaengnim berdehem kencang untuk membuat murid-murid-nya diam.Semua mulut murid-murid-nya itu seketika diam.

Seonsaengnim menatap Dong Hee sambil tersenyum.

" silahkan duduk di sebelah kursi Jongin " ujarnya.

Dong Hee mengangguk dan berjalan ke arah kursi kosong di sebelah kursi kosong yang katanya milik laki-laki bernama Jongin itu.Dong Hee hanya berharap kalau Jongin dapat menerimanya dengan baik.

***

Dong Hee merasa lega saat mengetahui Jongin adalah laki-laki yang cukup baik.Tadi saat dia kembali dari toilet dan melihatnya duduk di kursi kosong di samping kursi-nya,Jongin tersenyum sambil mengenalkan dirinya dengan ramah.

Ketika Dong Hee sendiri saat waktu istirahat padahal seluruh teman-temannya pergi ke kantin,Jongin mengajaknya untuk ke kantin bersama.Menceritakan seluk beluk sekolah barunya dan beberapa lelucon lucu yang membuat Dong Hee setidaknya terkekeh setelah dua tahun tidak pernah tersenyum.

" ngomong-ngomong,kenapa kau masih duduk di kelas satu? " tanya Jongin sambil memakan kentang gorengnya.

Dong Hee tertegun,pergerakan tangannya yang sedang memutar spaghetti dengan garpunya berhenti.Jongin yang melihat itupun terlihat salah tingkah,ia berdehem.

" maaf kalau pertanyaanku menyinggungmu,kau tidak usah menjawab juga tidak apa-apa " ucap Jongin merasa tidak enak.

Dong Hee tersenyum tipis sambil menggeleng.
" tidak,kau pantas bertanya seperti itu " sahut Dong Hee.

" aku mengalami sesuatu hal,itu sebab-nya aku telat masuk SMA " ucap Dong Hee tetap dengan senyumannya.

Jongin mengangguk-anggukkan kepalanya menanggapi.Tidak memilih bertanya lebih lanjut karena Jongin rasa itu akan mengusik privasi teman baru-nya itu.

***

Dong Hee melangkahkan kaki-nya di koridor sekolah di iringi dengan tatapan-tatapan tidak menyenangkan yang di tujukan padanya dari murid-murid sekolah.Mereka saling berbisik saat Dong Hee melewati-nya.

" dia datang! dia datang! " seru seseorang perempuan berambut pirang yang pertama kali berbisik waktu itu berteriak pada teman-teman sekelas Dong Hee.

Perempuan bernama Seo Ah Hyun itu berkacak pinggang menghalangi Dong Hee saat dia baru saja sampai di depan pintu kelas.Di belakang perempuan itu berjejer teman-teman sekelasnya yang lain,menatapnya dengan tatapan jijik sekaligus menghina.

" hei,mantan narapidana! " seru Ah Hyun sambil mendorong pelan bahu Dong Hee.

Dong Hee terkesiap mendengar ucapan Ah Hyun barusan.Dia melirik ke belakang,menatap senyum mengejek yang di lontarkan teman-teman sekelasnya.

" kau terkejut kami semua tau siapa dirimu,huh? " tanya Ah Hyun dengan seringaian kecil di bibirnya.

Ah Hyun memainkan ujung rambut Dong Hee sambil memelintirnya menggunakan telunjuknya.

" kami semua tau alasanmu telat masuk sekolah selama setahun,kami semua tau siapa kau sebenarnya " ujarnya.

Dong Hee menatap Ah Hyun tajam.
" apa maksudmu? " tanyanya dengan nada rendah dan dalam.

Ah Hyun tertawa kecil.Melepas telunjuk-nya yang sedari tadi memainkan rambut Dong Hee.Dia berbalik dan menatap teman-teman sekelasnya.

" hei teman-teman! " serunya lantang.

Dia menunjuk Ah Hyun menggunakan jempolnya. " Di belakangku berdiri seorang mantan narapidana.Perempuan di belakangku adalah seorang penjahat! " lanjutnya berseru.

Terdengar bisikan-bisikan teman-teman sekelas Dong Hee yang mengumpati dirinya.Menatapnya sinis dengan decakkan jijik.

Dong Hee menarik nafas lalu menghembuskannya.Berusaha menahan emosi yang meledak-ledak di dalam dirinya.Dia berjalan melewati gerombolan anak-anak itu menuju tempat duduk-nya.Berakting seolah-olah saat ini dia adalah manusia tanpa panca indera.

Tidak punya indera penglihat.

Tidak punya indera pendengar.

Tidak punya indera pencium.

Tidak punya indera peraba.

Tidak punya indera perasa.

***

Jongin baru saja tiba di sekolah,telinga-nya menangkap bisikan-bisikan tidak mengenakkan dari murid-murid yang melewatinya.Ini bukan soal bisikan histeris tentang dirinya,melainkan tentang teman barunya.

Saat memasuki kelas,pemandangannya pun tidak jauh berbeda dengan apa yang dia lihat sepanjang koridor tadi.Semua saling berbisik.Jongin berlari kecil menuju tempat duduk-nya yang berada di paling belakang pojok kanan.

Jongin meletakkan tas-nya pelan-pelan,tidak ingin mengganggu Dong Hee yang sedang menelungkupkan kepalanya di atas meja.Mungkin,Dong Hee butuh waktu istirahat.

Kepala Dong Hee terangkat,ekspresi-nya datar,tidak menunjukkan emosi apapun disana.

Mungkin lebih tepat kalau disebut; kosong.

" Dong Hee-ya " panggil Jongin pelan.

Dong Hee menoleh pada Jongin.Menatap-nya dengan ekspresi yang sama.

" aku akan pindah tempat duduk kalau saja kelas ini lebih luas sedikit " ucap Dong Hee.

Jongin kehabisan kata-kata,dia tidak menyuruh perempuan itu pindah.Dia hanya ingin bertanya,apa perasaannya baik-baik saja sekarang?

Dong Hee memutar tubuhnya ke belakang untuk mengambil buku pelajaran dan catatan yang ada di dalam tas-nya.Mengeluarkannya dan tenggelam dalam kesibukannya sendiri; mencatat segala hal yang ada di buku pelajaran.

Jongin hanya dapat terdiam,mungkin Dong Hee butuh waktu untuk sendiri.

***

Saat jam istirahat Jongin tetap bersama Dong Hee pergi ke kantin.Saat di perjalanan,banyak murid-murid yang mengumpati Dong Hee lewat bisikan atau bahkan suara yang kencang.

" dia tidak pantas sekolah disini "

" dasar mantan narapidana "

" apa yang dia lakukan? mencuri? "

" aish! kenapa dia harus berada di samping Jongin?! "

Sebenarnya Dong Hee sudah mempunyai firasat jika mereka akan memperlakukannya seperti ini.Tidak ada niatan untuk melawan perkataan mereka,percuma.

Jongin selesai memesan makanan,dan kini giliran Dong Hee yang memesannya.Tapi Bibi Kantin langsung menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.

" maaf,tapi murid-murid di sekolah ini melarang Ahjumma untuk menjual makanan padamu.Maaf,Ahjumma terpaksa melakukannya karena mereka mengancam tidak akan membeli makanan disini kalau Ahjumma tetap memberikanmu makanan " ujarnya dengan nada menyesal.

Dong Hee hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan toko Bibi kantin diikuti Jongin yang tidak bisa membantu apapun.Mereka duduk di bangku paling pojok.

" ini "

Jongin menyodorkan nampan berisi makan siangnya ke arah Dong Hee.

Dong Hee menatap Jongin datar.
" tidak perlu,kau makan saja " tolaknya.

Jongin menggeleng.
" aku laki-laki,tidak apa-apa,aku bisa menahannya.Sebaiknya ini untukmu " ucap Jongin.

" Ya! Jongin! " seru seseorang bersuara cempreng.Itu Seo Ah Hyun.

Perempuan berambut pirang yang berjarak dua meja dari tempat Jongin itu berjalan ke arahnya.Dia tersenyum sinis ke arah Dong Hee.

" kau ingin memberi makan siangmu,untuk perempuan ini? " tanya Ah Hyun dengan nada jijik.

" iya,kenapa? " Jongin balas bertanya dengan tatapan tajamnya.

Ah Hyun terkesiap melihat Jongin yang menatapnya tajam.

" dia mantan narapidana! " seru Ah Hyun dengan telunjuknya yang mengacung ke arah Dong Hee.Seruan-nya membuat seluruh pasang mata pengunjung kantin beralih menatap mereka ber-tiga.

" lalu kenapa? "

" kau bertanya kenapa? kau tidak penasaran apa yang di lakukannya dulu? Apa dia pencuri? Pengguna narkoba? Atau—Pembunuh? "

Ah Hyun menyelesaikan kalimat terakhirnya dengan menatap Dong Hee tajam yang di balas tatapan kosong perempuan itu.

Jongin berdiri menepis tangan Ah Hyun yang menunjuk Dong Hee secara kasar.

" tutup mulut besarmu itu,Ah Hyun-ssi " desis-nya tajam lalu menarik tangan Dong Hee untuk berjalan keluar kantin.

***

Jongin mengajak Dong Hee untuk duduk di kursi reot yang berada di atap sekolah.Mereka berdua sama-sama terdiam,tenggelam dalam pikiran masing-masing.Semilir angin musim gugur memainkan rambut dua anak manusia itu.

" kenapa kau membelaku? " tanya Dong Hee pelan.

Jongin menoleh menatap sisi wajah Dong Hee yang sedang menatap lurus ke depan.Perempuan itu tersenyum tipis.

" semua orang membenciku,kenapa kau tidak? " tanyanya lagi.

Jongin terdiam sebentar,memikirkan kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaan Dong Hee.

" aahh,mungkin kau hanya merasa tidak enak jika kau menjauhiku,iya 'kan? "

Dong Hee menatap Jongin dengan seulas senyuman tipis di bibirnya.

Jongin menggeleng cepat.Menyilangkan kedua tangannya.

" aku pantang menjauhi seseorang hanya karena latar belakangnya " ucapnya cepat.

" benarkah? "

" iya,itu benar "

Dong Hee kembali menatap ke depan dengan tatapan kosong.

" kau baik-baik saja? " tanya Jongin hati-hati.

Dong Hee mengangguk.

" ya,aku merasa lebih baik sekarang "

***

Pagi itu sekolah terlihat tiga kali lebih ramai dari biasanya.Empat mobil polisi serta satu ambulance terparkir di depan sekolah.Murid-murid berkumpul membentuk kerumunan di depan garis polisi yang ada di halaman belakang.

Satu orang murid perempuan terjun dari atap sekolah.

Tadi pagi saat tukang kebun ingin membersihkan daun-daun kering di halaman belakang,dia dibuat terkejut saat melihat sesosok mayat dengan kepalanya yang sudah hancur.

" apa dia bunuh diri? "

" ya,kurasa dia bunuh diri. "

" tapi apa penyebab-nya? "

" orangtua-nya bercerai "

" Seo Ah Hyun yang malang "

Begitulah bisikan-bisikan yang terlontar dari teman-temannya.Mereka hanya terlalu tidak percaya jika teman mereka yang kemarin terlihat baik-baik saja pagi ini di temukan sudah mati terbujur kaku.

***

Gebrakan meja terdengar memenuhi seluruh ruangan kelas.Dong Hee mendongakkan kepalanya,menatap datar orang yang menggebrakkan mejanya.

" Ada apa? " tanyanya datar.

Perempuan berambut gelombang itu berdecak saat Dong Hee menanggapi gebrakannya dengan tenang.

" kau bertanya 'ada apa?'.Seharusnya aku yang bertanya padamu.Ada apa denganmu?! " bentak Perempuan yang bernama Kim Do Yeon itu.

" denganku? " Dong Hee bertanya lagi.

Do Yeon mengangguk lalu melipat tangannya di depan dada.

" iya,kau.Saat semua murid berkumpul di halaman sekolah untuk melihat mayat Ah Hyun,kenapa kau malah duduk santai disini? Di saat semua orang sedang penasaran tentang kematiannya,kenapa kau terlihat biasa-biasa saja? " cerca Do Yeon.

" Aku sudah melihatnya tadi,jadi aku duduk disini.Ada polisi yang akan mengurusnya,kenapa aku harus repot-repot mencari tau? " balas Dong Hee tenang.

Do Yeon berdecak kesal merasa pertanyaannya di putar balik.Tangannya terkepal kuat menahan amarah.

" Kau—Apa kau yang membunuh Ah Hyun? " desisnya.

Dong Hee menghela nafas.
" kau menuduhku? "

" ya,aku menuduhmu "

" ku rasa tuduhanmu salah,Do Yeon-ssi "

***

Dong Hee semakin menjadi bahan gunjingan seluruh murid di sekolah.Kali ini tema-nya bukan karena dia adalah seorang mantan narapidana.Melainkan pembunuh Seo Ah Hyun,teman mereka yang di temukan mati di halaman belakang sekolah satu minggu yang lalu.

" kau tetap bertahan di sampingku " gumam Dong Hee dengan senyuman tipis.

Dong Hee dan Jongin memilih duduk di pinggir lapangan sekolah sambil memakan bekal yang Jongin bawakan dari rumah untuknya.

Jongin tersenyum.
" aku sudah mengatakan alasannya padamu,lagipula aku tidak percaya kalau kau membunuh Ah Hyun " sahut Jongin lalu memasukkan telur gulung ke dalam mulutnya.

" lagipula,Ah Hyun memang sedang memiliki banyak masalah keluarga,mungkin memang benar dia bunuh diri.Polisi juga sudah menutup kasus ini " ujar Jongin.

Dong Hee menutup kotak bekal Jongin yang ada di pangkuannya.Menatap Jongin dengan pandangan serius.

" kau percaya padaku? " tanyanya.

Jongin mengangguk.

" aku percaya padamu " jawabnya dengan senyuman lebar.

Dong Hee tersenyum tipis.Senang rasanya masih ada orang yang mempercayainya.

" terimakasih,Jongin "

***

Dong Hee jatuh tersungkur karena sebuah kaki yang terjulur dari balik meja.Semua teman-teman sekelasnya tertawa keras melihatnya yang jatuh dengan memalukan.Dong Hee berdiri lalu menatap orang yang menyengkatnya.

Kim Do Yeon.

Perempuan itu menopang dagu,menatap Dong Hee dengan tatapan sinis serta seringaian kecil di bibirnya.

" hei,pembunuh! " serunya.

Dong Hee tetap menatap Do Yeon dengan tatapan datarnya.

" kau tidak punya mata,huh? "

Dong Hee diam tidak menjawab.

" kau tidak punya telinga,ya? "

Tetap tidak menjawab.

" atau kau mendadak gagu? "

Masih diam.

" YA! JUNG DONG HEE! " teriaknya emosi.Do Yeon berdiri dari kursi-nya dan menatap Dong Hee tajam.

" pergunakan kaki-mu dengan baik,Do Yeon-ssi "

Setelah membalas seluruh makian Do Yeon dengan ucapan singkat,Dong Hee keluar dari kelasnya untuk menyusul Jongin yang menunggu-nya di lapangan.

***

Dong Hee baru saja tiba di sekolahnya.Langkah Dong Hee terhenti saat melihat laki-laki bertubuh mungil sedang berada di taman yang berada di samping sekolah.Bibirnya menyungging ke atas saat melihat tingkah lucu laki-laki itu yang berusaha memetik bunga mawar merah dengan cara yang tepat.

Dong Hee melangkahkan kaki-nya menuju laki-laki itu.

" permisiii " ucapnya sopan.

Laki-laki itu tersentak saat melihat Dong Hee tiba-tiba berdiri di belakangnya.Matanya membulat,membuat ekspresi kaget lucu untuk ukuran anak SMA sepertinya.

" saya Jung Dong Hee.Murid kelas 1-C " ucap Dong Hee sambil membungkuk hormat.

Laki-laki itu juga balas membungkuk.
" Do Kyungsoo.3-A " ucapnya.

" eoh? Sunbae? "

Dong Hee terlihat tidak percaya,ukuran badan laki-laki bernama Kyungsoo sedikit melenceng dari kata sunbae.

" apa yang kau lakukan pagi-pagi disini,sunbaenim? " tanya Dong Hee.

Kyungsoo menunjuk bunga mawar merah yang ada di depannya.

" Ibu-ku ulang tahun,aku sudah meminta izin kepala sekolah untuk memetiknya satu.Tapi aku malah lupa membawa gunting ataupun cutter " ujarnya.

Dong Hee tersenyum lalu mengedepankan tas punggung-nya,mengambil cutter dari dalam tempat pensil-nya.

" pakai punyaku saja,sunbaenim "

Kyungsoo tersenyum menunjukkan heart shape lips-nya menerima cutter bermotif bunga-bunga cerah itu.Dia memotong batang bunga mawar itu dengan benar.

" terimakasih kau membantuku " ucapnya sambil menyerahkan cutter itu pada Dong Hee.

Dong Hee mengangguk lalu memasukkan cutter-nya kembali.

" hyung! "

Kyungsoo dan Dong Hee kompak menoleh ke belakang.Ke arah Jongin yang baru saja datang.

" eoh? Dong Hee? "

Jongin mengerjapkan matanya saat melihat ada Dong Hee bersama Kyungsoo.

" kau mengenal Kyungsoo hyung? " tanya Jongin.

" dia membantuku memetik bunga mawar ini untuk Ibu-ku " Kyungsoo menjawab.

" kalian saling kenal? "

Jongin merangkul tubuh Kyungsoo yang lebih pendek darinya.

" kami berteman sejak kecil,dia ini hyung kesayanganku " serunya bangga.

Dong Hee mengangguk-anggukkan kepalanya.

" ayo,kita masuk,sepuluh menit lagi bel berbunyi "

***

Dua kali.

Dua kali sekolah ini di gemparkan dengan sesuatu yang begitu mengejutkan.Pagi ini saat seorang murid perempuan menjadi pengunjung toilet pertama,dia dibuat berteriak histeris melihat pandangan menjijikan di depannya.

Seorang murid perempuan mati bermandikan darah dengan bekas sayatan di urat nadi-nya serta pergelangan kaki-nya.

Garis polisi melingkari pintu toilet perempuan memberi batasan bagi murid-murid yang berkerumun di depan pintu masuk agar tidak melewati batas itu.

" bunuh diri,lagi? "

" kemarin dia baru saja aborsi "

" ku dengar dia pengonsumsi obat penenang "

" kenapa sekolah kita seperti ini? "

Kyungsoo yang berdiri paling belakang hanya dapat menghela nafas frustasi.Sekolah-nya kini menjadi sorotan publik karena dua kali kasus bunuh diri.

" apa murid-murid perempuan di sekolah kita itu otaknya dangkal? " tanya Jongin yang berada di sebelahnya.

Kyungsoo mengangkat bahu-nya tidak peduli.Dua detektif keluar dari kerumunan membawa beberapa bukti.Tas milik Do Yeon,sepatu,surat keterangan rumah sakit,obat-obatan,dan—

" tidak mungkin " Kyungsoo menggumam tidak percaya saat melihat benda itu ada di plastik bening yang di bawa detektif itu.

Benda yang di duga di gunakan Do Yeon untuk mengakhiri hidupnya.

Benda yang sangat Kyungsoo kenal karena kemarin pagi dia gunakan untuk memetik bunga mawar merah sebagai hadiah ulang tahun ibunya.

Cutter bemotif bunga-bunga cerah.

Milik Jung Dong Hee.

***

" eoh? sunbae? "

Dong Hee mengerjapkan matanya berkali-kali saat melihat Kyungsoo di depan pintu kelasnya.

" ada yang ingin ku bicarakan denganmu " ucap Kyungsoo dengan nada serius.

Mereka berdua duduk di bangku paling depan.Semua murid-murid di sekolah ini memang sudah pulang,mungkin tinggal Dong Hee dan Kyungsoo saja yang berada di sekolah.

" ada apa,sunbaenim? " tanya Dong Hee.

" aku pinjam cutter-mu "

Dong Hee mengerjapkan mata-nya.

" cutter-mu " Kyungsoo berujar lagi.

" tapi cutter-ku tidak ada " ucap Dong Hee.

" kemana? " tanya Kyungsoo.

" kemarin di pinjam Do Yeon " jawab Dong Hee.

Kyungsoo mengernyitkan dahinya.

" dipinjam? "

" iya "

Kyungsoo menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.

" aku melihat cutter-mu sebagai barang bukti tadi pagi " ucap Kyungsoo.

Dong Hee menatap Kyungsoo datar.

" kau ingin mengatakan kalau aku yang membunuhnya? " tanyanya.

Mata Kyungsoo membulat menyadari perubahan ekspresi yang kentara di wajah Dong Hee.

" kali ini aku tertuduh membunuhnya? " Dong Hee bertanya lagi dengan nada datar.

Kyungsoo menelan ludah-nya,merasa tidak enak menuduh Dong Hee.Mungkin benar,Do Yeon meminjam cutter itu padanya.Karena Dong Hee tidak enak jadi dia meminjamkannya.

Ah,Kyungsoo bodoh! Kenapa tidak berpikir seperti ini dari tadi?!

" ku kira kau sama dengan Jongin yang mempercayaiku.Tidak mendengarkan omongan orang lain tentangku dan menerimaku.Ternyata aku salah " ujar Dong Hee.

" maaf,aku— "

" kau sama seperti mereka,Kyungsoo sunbaenim "

***

Jongin kembali ke sekolah karena menyusul Kyungsoo yang tadi pamit padanya ingin pulang telat karena harus membersihkan perpustakaan.Jongin tidak heran dengan tingkah Kyungsoo yang seperti ini.Dia bahkan rela pulang larut malam untuk membersihkan gudang sebulan sekali.

Jongin sudah sampai di depan pintu kembar perpustakaan.Langkahnya berhenti sampai di depan pintu ruangan itu saat terdengar bunyi barang-barang jatuh dari dalam.Pintu kembar di depan Jongin terbuka memunculkan seorang perempuan yang sedang membelalakkan matanya terkejut.

" Dong Hee? "

" J—jongin? "

" apa yang kau lakukan di dalam? dan bunyi apa itu? apa ada Kyungsoo hyung di sana? " cerca Jongin.

Dong Hee diam tidak menjawab.Jongin langsung masuk kedalam dan mendapati rak besar berisi buku-buku tebal menimpa seseorang.Jongin dapat melihat satu tangan orang itu terjulur di balik rak besar.

Perasaan Jongin mulai tidak karuan,air mata-nya mengalir begitu saja.Dia menggeser rak besar yang luar biasa berat itu agar dapat melihat siapa orang yang tertimpa rak besar itu.

Hancur sudah.

Hati Jongin remuk melihat laki-laki mungil tertelungkup dengan kepala yang mengeluarkan darah segar.Wajahnya yang putih berubah jadi merah,matanya yang bulat kini menutup sempurna.

" Kyungsoo hyung? "

Jongin meluruh,duduk bersimpuh di sebelah mayat Kyungsoo.Dia membalikkan tubuh Kyungsoo,memangku kepalanya di kedua paha-nya.Jongin memejamkan matanya tidak kuat melihat wajah Kyungsoo yang berlumuran darah,tangan Kyungsoo dingin.Tidak lagi hangat seperti saat pulang sekolah tadi ketika Kyungsoo memegang tangannya memohon untuk mengatakan pada Ibu-nya bahwa dia akan pulang terlambat.

Jongin mengusap pipi Kyungsoo lembut,membuat tangannya berlumuran darah.

" Hyung,bangunlah,ayo kita pulang bersama " ucapnya bergetar.

" Hyung,bangunlah,akan ku bantu kau membersihkan perpustakaan ini " Jongin berucap lagi.

" Hyung,sebentar lagi kau lulus,bangunlah "

Jongin membawa tubuh Kyungsoo kedalam dekapannya.Menangis kencang,berharap bahwa Kyungsoo akan bangun dan mengusap air matanya seperti yang biasa dia lakukan saat Jongin menangis.

Tiba-tiba Jongin ingat perempuan yang di temuinya di depan pintu perpustakaan tadi.Dia meletakkan kepala Kyungsoo perlahan lalu bangkit.

" kau membunuhnya! " desis Jongin tajam pada Dong Hee yang ternyata memperhatikannya di belakang.

" tidak " sahut Dong Hee tenang.

" kau membunuhnya!" Jongin mengulangi kalimatnya.

" ku bilang tidak "

" pembohong! " bentak Jongin.

Dong Hee terkesiap mendengar bentakan Jongin.Matanya menatap Jongin tidak percaya.

" kau bilang,kau mempercayaiku? "

Jongin menggeleng keras.

" aku tidak mempercayaimu "

" KAU MEMBUNUH HYUNG-KU! DASAR PEMBUNUH! KAU PEMBUNUH! "

" TUTUP MULUTMU,KIM JONGIN! "

Dada Dong Hee naik turun menandakan emosi-nya sedang tidak stabil.Air mata-nya mengalir dari kedua bola matanya.

" kau pembunuh! " desis Jongin tajam.

" bukan aku yang melakukan ini,tapi mereka,mereka yang membuatku melakukannya! " seru Dong Hee.

Dong Hee menghampiri Jongin.Menatap mata laki-laki yang mengatakan kalau dia mempercayainya.

" kau tau kenapa aku seperti ini? " tanya Dong Hee bergetar.

" tidak tau dan tidak mau tau " balas Jongin tajam.

Dong Hee tersenyum getir.

" dua tahun yang lalu aku di penjara karena di tuduh membunuh orang tuaku,mereka menuduhku menembak orang tua-ku hanya karena bukti itu ada di tanganku.Aku bersikeras mengatakan kalau aku bukan pembunuhnya,sore itu aku pulang dari sekolah,aku pulang dengan perasaan gembira karena aku lulus.Aku berlari lantai atas,ke kamar orang tuaku "

" …saat aku membuka pintu-nya aku sudah melihat mereka berdua tergeletak kaku dengan darah ada di mana-mana.Aku berteriak menangis melihat-nya,aku bersimpuh disamping mereka dan menemukan pistol itu disana.Aku hanya menggenggamnya,tapi mereka melihatku seolah-olah aku yang membunuh orang tuaku sendiri.Mereka menuduhku membunuh orang tua-ku sendiri! "

Jongin tertegun,merasakan betapa menyakitkannya perasaan Dong Hee saat itu.

" mereka memenjarakanku,aku di perlakukan tidak adil,di cap sebagai pembunuh padahal aku tidak membunuh siapapun.Aku keluar dari penjara dua tahun setelahnya dan bersekolah disini.Ku pikir sekolah dapat membuatku melupakan semuanya dan memberikanku sebuah keluarga baru.Tapi ternyata—kalian begitu tidak menyukaiku "

" …Ah Hyun dan Do Yeon.Mereka terus mengataiku mantan narapidana dan pembunuh.Mereka menyebarkan seluruh berita itu ke segala penjuru sekolah.Membuatku semakin di benci setiap manusia di sekolah ini.Aku tidak membalas ucapan mereka,karena ku pikir mereka tidak akan mengerti jika aku membantah ucapan mereka dengan mengatakan 'cukup,hentikan' atau 'tidak,aku bukan pembunuh' "

Dong Hee tersenyum getir.Dia menatap Jongin.

" Jadi ku putuskan untuk mewujudkan segala ucapan mereka,Ah Hyun mengataiku penjahat,dan aku melakukan apa yang seorang penjahat lakukan,aku membunuhnya.Do Yeon mengataiku pembunuh,akupun melakukan ucapannya.Aku membunuhnya. "

" lalu kenapa kau membunuh hyung-ku? " tanya Jongin dengan nada bergetar.

Dong Hee melongok ke belakang.Melihat mayat Kyungsoo sebentar.Ada rasa sakit di hatinya melihat wajah Kyungsoo yang berubah menjadi warna merah akibat ulahnya.

" awalnya aku menyukai Kyungsoo sunbae.Sangat menyukainya.Saat melihat dia pertama kali di taman bunga,aku mulai menyukainya.Tadi,saat dia menghampiriku,aku senang bukan main.Tapi kau tau tujuannya menemuiku? "

Jongin menggeleng.

Dong Hee tersenyum sinis.
" dia mencurigaiku membunuh Do Yeon.Dia berpura-pura ingin meminjam cutter-ku dan berakhir mengatakan kalau dia melihat cutter-ku ada sebagai barang bukti.Singkat kata,dia menuduhku membunuh Do Yeon " ungkap Dong Hee.

" kau memang membunuhnya "

" tapi dia yang membuatku membunuhnya.Mulut besarnya yang membuatku membunuhnya! "

Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.Dia memang menyukai Dong Hee,dia satu-satunya perempuan yang dapat membuat Jongin nyaman.Tapi melihatnya seperti ini,Jongin rasa bukan Dong Hee ini yang dia sukai,bukan Dong Hee seperti ini yang Jongin sukai.

Dong Hee mengeluarkan pistol dari balik punggungnya,mengarahkan pistol itu ke arah jantung Jongin.

" Kau juga Jongin,kau juga sama seperti mereka.Kau tidak mempercayaiku! Kau memanggilku pembunuh! " seru Dong Hee.

" kau memang pembunuh! " balas Jongin.Dia sama sekali tidak takut peluru itu akan menembus jantungnya.Dia akan segera menyusul Kyungsoo.

" tapi aku tidak bisa membunuhmu "

Dong Hee mengarahkan pistolnya secepat kilat ke dada sebelah kirinya.

DOR!

Bunyi tembakan itu melayang di udara bersamaan dengan nyawa Dong Hee yang juga melayang detik itu juga.Tubuhnya meluruh di iringi cairan merah kental yang keluar dari mulutnya.

Jongin membulatkan matanya kaget.Kejadian barusan terlalu cepat untuk di cegahnya.Kaki-nya sulit di gerakkan.Jongin tidak bisa merasakan oksigen di sekitarnya,kepalanya mulai merasa pening luar biasa,dan semuanya berakhir gelap.

***

-

" bukan aku yang melakukan ini,tapi mereka,mereka yang membuatku melakukannya! "

" …aku membunuhnya "

" …aku membunuhnya "

" tapi aku tidak bisa membunuhmu "

DOR!

-

Jongin bangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah,kejadian satu minggu yang lalu saat di perpustakaan selalu menghampirinya.

Lagi.

Bayangan itu berputar.

Ah Hyun mati terbunuh.

Do Yeon mati terbunuh.

Kyungsoo mati terbunuh.

Pelakunya Dong Hee.

Dia mati bunuh diri.

DOR!

Jongin menutup kedua telinganya saat bunyi tembakan memasuki gendang telinganya.

-

" bukan aku yang melakukan ini,tapi mereka,mereka yang membuatku melakukannya! "

" …aku membunuhnya "

" …aku membunuhnya "

" tapi aku tidak bisa membunuhmu "

DOR!

-

" HENTIKAN! HENTIKAN KU MOHON! HENTIKAN! "

Jongin berteriak histeris saat bayang-bayang Kyungsoo yang berdiri di depan rak lalu Dong Hee mendorong Kyungsoo kasar hingga dia menubruk rak itu,membuat raknya goyang dan menimpa Kyungsoo.

Jongin semakin meringkuk ketakutan saat bayang-bayang Ah Hyun yang jatuh di dorong dari atap sekolah.

BRUG!

Jongin jatuh dari tempat tidur-nya sambil terus memukulkan kepalanya ke lantai,kini bayang-bayang Dong Hee menyayat pergelangan kaki Do Yeon.Mengatakan kalau seharusnya dia tidak menyengkatnya dan mempergunakan kaki-nya dengan baik.Lalu Dong Hee menyayat urat nadi Do Yeon membuat perempuan itu melotot dan menjerit kesakitan.

" AARGHHH! "

Jongin berteriak kencang sebelum dia menghempuskan nafas terakhir karena kepalanya yang terus mengeluarkan darah.

Jongin meninggal malam itu.

END

Selasa, 27 Mei 2014

EXO Fanfiction: Never Give Up.

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: School Life,Friendship,Family

Cast:
- Kim Jongin
- Kim Soo Wook (OC)
- Kim Junmyeon
- Seo Eun Ji (OC)
- Oh Sehun

Disclaimer: fiuh-elap keringet- ff ber-genre friendship yang sebenernya rada awkward jadinya XD makasih buat mbah google yang sangat berperan~ maaf kalo jelek dan gak nyambung.Enjoy^^

***

Kelas 2-B terlihat sangat tenang.Hari ini semua guru killer mengisi mata pelajaran di kelas yang terkenal tidak pernah bisa diam itu.Mereka semua pun memilih menutup mulut karena wali kelas mereka sudah memperingatkan mereka jika mereka membuat ulah,maka tahun ini mereka tidak akan naik kelas.

Sekarang,Cho Seonsaengnim-guru kimia- sedang menulis di papan tulis tentang aksi-reaksi senyawa.Semua sibuk mencatat,kecuali si biang onar yang tidak pernah takut akan hukuman.

Kim Jongin.

Dia malah asik menopang dagu sambil memainkan bolpoin layaknya pesawat terbang.

Menurutnya,mata pelajaran Kimia,Fisika,dan Matematika itu adalah dongeng pengantar tidur.Setiap kali guru killer menerangkan,menulis penjelasan di papan tulis atau bahkan memberikan ulangan-yang menegangkan bagi setiap muridnya-justru terasa membosankan bagi Jongin.Matanya terasa berat apabila melihat sederet angka di atas papan tulis atau di atas kertas putih.

" kapan dia akan keluar dari sini? " gerutu Jongin sambil melihat jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya.

Jongin menghela nafas panjang,masih ada 20 menit lagi sebelum bel istirahat berbunyi.

" aku akan benar-benar tertidur " gumamnya sambil menguap lebar.

Matanya berkeliling melihat teman-temannya yang terlihat serius mencatat.Jongin tertawa kecil,mereka semua berusaha keras agar tidak membuat ulah saat ini.

Mata Jongin terhenti melihat satu gadis berambut panjang yang duduk di bangku paling pojok sebelah kiri.Entah kenapa,Jongin sering memperhatikan gadis yang mempunyai bulu mata lentik itu.

" KIM JONGIIINNNNN!!!!! "

Aahh..baiklah,ini dia saatnya untuk keluar.

***

" hey,kkamjjong! Bisakah kau tidak membuat Cho Seonsaengnim naik darah? "

Laki-laki berkulit putih susu itu menatap Jongin heran,menggeleng-gelengkan kepalanya menyikapi tingkah aneh sahabat kecilnya.

Jongin tertawa kecil sambil menelan mie hitam-nya.

" kenapa? Itu seru,Sehun! " balas Jongin.

" seru apanya?! Kalau begini terus bisa-bisa kita benar-benar tidak naik kelas! Aish! " geram Sehun.Wali kelasnya sudah memberi peringatan,dan parahnya itu peringatan yang ke-15 yang kelas mereka dapatkan.Sehun benar-benar tidak mau mengulang kelas.

Jongin tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.

" Sehun,sekolah kita tidak mungkin tidak menaikkan 20 orang siswa sekaligus,memangnya mereka tidak malu mendengar omongan sekolah lain? "

Sehun mengulurkan tangannya,memukul kepala Jongin menggunakan sumpit.Berharap agar sahabatnya itu dapat berpikir lebih normal lagi.

" seharusnya kau yang malu,aku heran kenapa sekolah yang katanya bagus malah menerima murid sepertimu " ucap Sehun.

Jongin mengelus-elus kepalanya yang berdenyut sambil terkekeh.

" aku tampan,makanya aku di terima "

***

" ayo Kim Soo Wook! Yang benar! "

Gadis yang di panggil hanya merengut menanggapi laki-laki yang meneriakinya tadi.Dia duduk di lantai sambil meniup poninya.Kesal.

" Aish! Sudahlah! Aku tidak bisa Oppa! " teriaknya frustasi.

Laki-laki yang di panggil Oppa itu menghela nafas lalu mendekati adik semata wayangnya itu.Dia berjongkok di depannya.

" kau ini mudah sekali menyerah,katanya mau mengalahkan Eun Ji? "

Soo Wook memanyunkan bibirnya " aku tau,tapi aku lelah,kakiku mati rasa " keluhnya.

Soo Wook mulai memijat-mijat kaki-nya.Besok dia akan bertanding dengan Seo Eun Ji,gadis cerewet yang suka mencari gara-gara dengannya semenjak Soo Wook tidak sengaja melempar gadis itu dengan uang logam.

Dan kemarin Soo Wook tidak sengaja menumpahkan air pel-an membuat baju seragam Eun Ji basah kuyup dan bau pengharum lantai.Gadis itu marah dan menantang Soo Wook untuk bertanding dengannya.

" aku harus memenangkan pertandingan ini,aku tidak mau dia menang! " tekad Soo Wook.Dia bangkit dari duduknya dan meraih tali yang sempat dia lempar.

***

" kau sudah dengar? "

Jongin mengernyitkan dahi-nya.
" dengar? dengar apa? " tanyanya bingung.Sehun baru datang dan bertanya seperti itu,jelas membuatnya bingung.

" nanti,saat pulang sekolah ada pertandingan seru! " ucap Sehun antusias.

Jongin makin tidak mengerti.
" pertandingan? pertandingan apa? "

Sehun menghela nafas.Jongin terlalu lambat berpikir,batinnya gemas.

" Soo Wook akan bertanding lagi dengan Eun Ji! "

Jongin membulatkan matanya.Lagi? Baru saja seminggu yang lalu mereka berdua bertanding memindahkan gelas plastik dari sisi yang satu ke sisi yang lainnya.Lalu,sebelumnya juga bertanding menahan nafas di kolam renang.

Dan—pertandingan konyol apa lagi yang akan mereka lakukan?

***

Lompat Tali.

Kali ini dua orang itu akan bertanding lompat tali.Barang siapa yang melompat lebih banyak tanpa berhenti,dia yang akan menang.Begitu kata Eun Ji dengan toa putih-kuningnya.

Semua murid berkumpul di stadion olahraga yang ada di belakang sekolah mereka.Tempat dimana Soo Wook dan Eun Ji sering bertanding.

Jongin menghela nafas gusar.Di tatapnya gadis berambut panjang yang sedang melakukan pemanasan di pinggir lapangan.Gadis itu menggunakan baju olahraga,rambutnya pun di kuncir satu.Sama seperti pertandingan sebelum-sebelumnya.

" kau kenapa? " tanya Sehun.Dia baru saja kembali dari kantin.Membeli snack besar dan dua kaleng cola.Hal yang Sehun lakukan setiap menonton pertandingan dua gadis yang saling bermusuhan itu.

" apa dia akan menang kali ini? " gumam Jongin.Mungkin lebih tepatnya dia bertanya pada Sehun.Matanya masih menatap gadis yang kini sedang berdo'a.

Sehun menggeleng,dia ikut-ikut-an menatap gadis yang sedang di tatap sahabatnya itu.

" dia selalu kalah,aku tidak yakin dia akan menang " jawab Sehun.

Jongin menghela nafas.Sudah 8 kali mereka melakukan pertandingan,dan sudah 8 kali pula gadis itu selalu kalah.

Dia tidak keluar dari air setelah 15 menit waktu selesai,dan setelah di periksa,ternyata dia pingsan.Terakhir kali,gadis itu kalah karena tiba-tiba berhenti berlari dan tidak bergerak sampai waktunya habis.

PRIITTT.

Peluit tanda pertandingan di mulai bebunyi nyaring membuat siswa-siswi berteriak heboh.

Jongin mengepalkan tangannya menatap gadis yang berdiri di tengah lapangan sambil menggenggam tali di kedua tangannya.

" Kim Soo Wook " gumamnya.

***

Dia kalah lagi.

Kim Soo Wook kalah lagi.

Kali ini,setelah melompat sebanyak 24 kali tanpa henti,dia tiba-tiba terduduk.Bahkan setelah 10 menit,dia tidak juga bangun dari duduknya.Jongin yang melihat itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya gemas.Tangannya terkepal.

Tidak lama,dari sudut stadion keluar dua orang perempuan-sepertinya anggota PMR- dia membopong Soo Wook dengan tandu dan membawanya keluar dari stadion.

" apa yang sebenarnya terjadi dengannya? "

***

Soo Wook berdecak kesal.Lagi-lagi dia harus kalah dengan gadis cerewet itu.

" 9 kali "

Soo Wook mendongak,menatap gadis berambut sebahu yang berjalan mendekatinya yang duduk di atas ranjang ruang kesehatan.

" kau 9 kali kalah dariku " ucapnya.

Soo Wook mendengus.

" aku tau,kau tidak perlu mengingatkanku " balasnya.

Eun Ji tertawa,dia melipat kedua tangannya di depan dada.

" kau lemah sekali,baru 24 kali lompatan saja sudah ambruk,cih "

Soo Wook mengepalkan tangannya.Ingin sekali dia menjambak rambut gadis itu hingga botak atau kalau perlu menarik mulutnya seperti mulut platypus.Tapi sayang,dia tidak sekejam nenek sihir.

" kita bertanding lagi " ucap Soo Wook mantap.

Eun Ji menatapnya tidak percaya.

" kita akan bertanding lari di sepanjang jalan sungai Han,bagaimana? " tantang Soo Wook.

Eun Ji masih terdiam tidak menggerakkan kepalanya.

" kali ini,aku akan benar-benar mengalahkanmu! " desis Soo Wook tajam.Dia langsung turun dari ranjang dan pergi meninggalkan Eun Ji yang masih tidak bergerak.

***

" memangnya dia pikir aku akan menyerah begitu saja? Cih,liat saja di pertandingan kali ini,aku yang akan menang " gerutu Soo Wook di sepanjang koridor sekolah.

Soo Wook berbelok ke arah loker-loker murid kelas 2.Dia berjalan ke arah loker nomor 7.Membukanya dan mengambil baju seragam.

" kau mau bertanding lagi dengannya? "

Hampir saja Soo Wook memukul kepala laki-laki yang tiba-tiba muncul di bekakangnya itu.

Soo Wook berkacak pinggang.
" memangnya kenapa? " tanyanya.

" kau selalu kalah,berhentilah "

Soo Wook menatap laki-laki yang terkenal biang onar itu.

" hei Kim Jongin,kenapa kau mencampuri urusanku? Aku kalah atau menang,itu urusanku "

Jongin berdecak kesal.Tidak menyangka jika Soo Wook akan sekeras kepala ini.

" hanya berhenti,tidak bisa? kau selalu kalah " Jongin menatap Soo Wook,mengisyaratkan gadis itu kalau dia memang harus berhenti.

Soo Wook menggeleng.
" tidak sebelum aku menang " ucapnya lalu pergi meninggalkan Jongin yang mendesah frustasi atas tingkahnya.

***

Mustahil.

Jongin sama sekali tidak mengerti jalan pikirannya sendiri.Biasanya saat kepalanya sudah menyentuh bantal saat itu juga matanya akan terpejam.

Tapi ini?

Ini bahkan sudah 3 jam sejak kepalanya menyentuh bantal,tapi matanya belum juga terpejam.

Pikirannya terus melayang menembus langit malam.Wajah Soo Wook selalu muncul saat dia memejamkan mata.

Tadi,saat Soo Wook meninggalkannya,lokernya belum tertutup,dan Jongin menemukan sesuatu yang terlalu aneh kalau di sebut vitamin atau bahkan permen.

" apa—dia sakit? "

***

" 2 menit 25 detik "

Junmyeon memperlihatkan stopwatch-nya di depan wajah adiknya itu.

" Ha? Kenapa—hhh—lama—hhh—sekali—hhh? "

Junmyeon menarik tangan dingin adiknya untuk duduk di sampingnya.

" Soo Wook-ah bisakah kau berhenti? " tanyanya.

Soo Wook mengerjapkan mata-nya berkali-kali.

" kenapa—Oppa menyuruhku berhenti? "

Junmyeon terdiam sebentar,menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.

" aku tidak mau kau dalam bahaya " ucapnya.

" tidak,aku akan baik-baik saja " sahut Soo Wook meyakinkan.Ia menggenggam tangan kakak-nya erat.

" Soo Wook-ah— "

" Oppa " potong Soo Wook cepat.

" kau tidak perlu khawatir,asal kau berdiri di belakangku dan terus menyemangatiku,aku akan baik-baik saja " ujarnya.

Junmyeon menunduk.

" Ayolahhh...Oppaaaaa " rengek Soo Wook.Dia menggoyang-goyangkan tangan Junmyeon.

Junmyeon mengangkat kepalanya dan menatap Soo Wook.Mengulurkan kelingkingnya.

" kau janji? "

Soo Wook mengangguk lalu mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Junmyeon.

" kau bisa mempercayaiku "

***

Soo Wook meluruskan kaki-nya sambil memijat-nya perlahan.Dia menarik ujung bibirnya,tersenyum.

" hei,bisakah minggu besok kau bekerja sama denganku? " Soo Wook bertanya pada kedua kaki-nya sendiri.

" kalau minggu besok kau bisa diajak bekerja sama,aku janji,setelah itu aku akan mengajakmu terapi,bagaimana? "

Soo Wook memandangi kedua kaki-nya yang diam tidak menjawab.

" tidak mau,aku tidak mau itu "

Soo Wook membulatkan matanya,dia tidak salah dengarkan? Kaki-nya bisa bicara?

" la—lalu apa yang kau inginkan? " tanya Soo Wook.

" bisakah kau berhenti bertanding? itu menyiksaku "

Soo Wook mengerutkan dahinya.Dia menghela nafas,seperti tau asal suara yang membalas ucapannya.Itu bukan kaki-nya.

Hei kaki tidak bisa berbicara!

Soo Wook menoleh ke belakang,menatap laki-laki yang menyengir lebar di balik batu besar.

" ternyata kau "

Jongin terkekeh lalu menghampiri Soo Wook yang duduk meluruskan kaki-nya di pinggir lapangan sekolah.Jongin ikut duduk di samping gadis itu lalu menatap sisi wajahnya yang menatap ke depan.

" itu benar-benar suara kaki mu,dia memintamu untuk berhenti " ucap Jongin.

Soo Wook menghela nafas malas.
" kenapa semua orang begitu? " gumamnya sambil menunduk.

Jongin mengerutkan alisnya tidak mengerti.
" begitu? Begitu bagaimana? "

" mereka semua menyuruhku berhenti,kau,oppa-ku,ibu-ku,ayah-ku,kalian sama saja " jawab Soo Wook.

Jongin tersenyum,menyentuh pundak Soo Wook.

" kami menyayangimu,itu alasannya " ujar Jongin.

Soo Wook menatap Jongin.

" apa orang sepertiku tidak pantas menang? " tanyanya.

Jongin kembali mengerutkan dahinya.
" orang sepertimu? maksudmu apa? "

***

Jongin tau isi dari botol kecil itu bukan vitamin apalagi permen.

Itu adalah obat bagi penderita GBS atau Guillain Barre Sindrom seperti yang di alami Soo Wook sekarang.

-

" tahun lalu aku mengalami infeksi usus " ucap Soo Wook mengawali ceritanya.

Jongin dengan setia menatap sisi wajah Soo Wook dan diam-diam memuji bahwa gadis ini benar-benar cantik.

" setelah itu,aku merasa jari-jariku kesemutan,seperti ditusuk-tusuk.Kau tau? Itu sakit sekali " Soo Wook tertawa kecil.Seperti mentertawakan dirinya sendiri.

" Awalnya aku diam dan tidak mengatakan hal itu pada siapapun,tapi lama-lama bukan hanya jari-jariku saja yang sakit,punggung-ku juga,aku susah menggerakkan bola mataku,mengunyah dan menelan makanan-pun aku mulai susah melakukannya.Akhirnya aku mengatakan ini pada keluargaku dan mereka sepakat membawaku ke rumah sakit "

Soo Wook menarik nafas panjang.Mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan kelanjutan ceritanya.

" aku di tes di laboratorium,dan ternyata aku terkena penyakit mengerikan itu,sistem imun yang seharusnya menjaga tubuhku dari serangan virus dan bakteri jahat namun justru menyerang syaraf-ku sehingga sel-sel dalam tubuh-ku mengalami kerusakan.Sistem imun-ku penghianat bukan? "

Soo Wook menatap Jongin sambil tersenyum.

" aku kalah bukan karena aku payah,tapi penyakit menyebalkan ini yang membuatku kalah,penyakit tidak tau tempat ini yang membuatku malu di depan banyak orang,kakiku,tanganku,semua anggota badanku akan berhenti bergerak suatu saat nanti  "

Jongin mulai melihat air mata yang menumpuk di pelupuk mata Soo Wook.Gadis itu sedang menahannya.

" jangan berhenti " ucap Jongin memotong ucapan yang baru saja akan keluar dari mulut Soo Wook.

Soo Wook menatap Jongin tidak percaya.

" jangan berhenti,aku akan mendukungmu,aku akan ada di belakangmu " ucap Jongin.

Soo Wook menarik kedua ujung bibirnya ke atas.

" kau pantas menang,jadi jangan berhenti "

-

***

Semua murid sekolah memenuhi jalanan Sungai Han pagi ini.Mereka semua berkumpul untuk menyaksikan pertandingan ke-10 dari dua teman mereka.

" bisa kita berhenti sekarang? " Eun Ji berdiri di depan Soo Wook yang sedang mengikat tali sepatunya.

Soo Wook mendongak lalu tersenyum.Dia berdiri sambil berkacak pinggang.

" tidak sebelum aku mengalahkanmu "

Eun Ji mendesah keras.Dia berbalik lalu bersiap-siap di posisinya.

Soo Wook tertawa kecil lalu ikut bersiap-siap di samping Eun Ji.

DOR!

Tembakan pistol ke udara membuat mereka langsung berlari mengelilingi Sungai  Han.

Dari jejeran penonton.Jongin yang berdiri di samping Junmyeon terus mengepalkan tangannya.Sementara Junmyeon memejamkan matanya dan terus berkomat-kamit,dia berdo'a.

" hyung,Soo Wook pasti menang " bisik Jongin di telinga Jumnyeon.

Junmyeon membuka matanya dan menatap Jongin.

" ku harap dia menepati janjinya "

***

Eun Ji tidak bisa berhenti menoleh ke belakang,ke arah Soo Wook yang berlari di belakangnya.Gadis itu mulai melambat membuat hati Eun Ji tidak tenang.

" Soo Wook-ah! " teriak Eun Ji ketika gadis itu sudah jatuh terduduk.Dia berlari menghampiri Soo Wook.

Soo Wook tersenyum menatap Eun Ji.

" bodoh—hhh—kenapa—hhh—kau—hhh—menghampiriku—hhh? " tanya Soo Wook dengan nafas yang tersengal-sengal.

" aish! Kau yang bodoh! Kau itu— " Eun Ji berhenti mengomel,dia mulai mengangkat tubuh Soo Wook yang mulai melemas.

" hei—hhh—tinggalkan—hhh—aku—hhh—aku—hhh—berat—hhh " ucap Soo Wook dengan nafas yang terdengar satu-satu.

" diamlah! " seru Eun Ji kesal.Matanya mulai berair,dia benci mengakuinya,tapi dia benar-benar takut sekarang.

Soo Wook menyunggingkan senyum di bibirnya yang pucat dan mulai mengering.

" terimakasih—hhh "

***

Soo Wook di larikan ke ruang ICU.Junmyeon dan Jongin terlihat panik melihat Eun Ji yang datang sambil menuntun Soo Wook yang setengah sadar.

Setelah cukup lama menunggu di luar,dokter akhirnya keluar dari ruang ICU dengan wajah yang keruh.

" kami terpaksa memasang ventilator agar dia dapat bertahan hidup "

Ibu Soo Wook langsung jatuh pingsan membuatnya harus diangkat dan di pindahkan ke ruang rawat.Ayah Soo Wook ikut menemani istrinya itu.Sedangkan,Junmyeon,Jongin dan Eun Ji memilih masuk ke ruang ICU untuk melihat kondisi Soo Wook.

Lambaian tangan Soo Wook menyambut kedatangan mereka.Gadis itu sudah sadar.

" kau melanggar janjimu " ucap Junmyeon yang duduk di bangku kecil yang terletak di sebelah kanan ranjang Soo Wook.

Soo Wook tersenyum lemah.
" aku baik-baik saja,sungguh " sahut Soo Wook dengan suara yang serak.

Tatapan Soo Wook beralih ke arah Eun Ji yang sudah menunduk sambil terisak.

" hey gadis cerewet! " panggil Soo Wook.

Eun Ji mendongakkan kepalanya.Dia mendekat ke arah Soo Wook.

" kau menang lagi,untuk yang ke-10 kalinya " ujar Soo Wook.

" aku tau,kau tidak perlu mengingatkanku lagi " sahutnya kesal.

" maaf aku tidak bisa menghapus air matamu,tanganku sulit di gerakkan " ucap Soo Wook.

Eun Ji mengangguk lalu menghapus air matanya.

" maaf aku selalu mencari gara-gara denganmu " ucapnya.

" tidak apa-apa,karenamu aku jadi punya sesuatu di kerjakan " balas Soo Wook.

" aku seperti itu karena aku tau kau punya penyakit seperti ini,waktu itu aku tidak sengaja mendengar ucapanmu dan oppa-mu saat kita akan bertanding untuk yang ke-2 kalinya,aku mengajakmu bertanding agar kau menang,agar kau tidak menyerah dan berusaha untuk mengalahkanku " ujar Eun Ji lalu terisak.

" kau—juga menyayangiku? " tanya Soo Wook.

Eun Ji mengangguk.

" terimakasih " ucapnya.

Jongin yang berada di sisi kiri Soo Wook menggenggam tangan kiri gadis itu erat.

" berjanjilah padaku untuk tidak akan menyerah " ucapnya.

Soo Wook mengangguk pelan.
" aku tidak akan menyerah "

Jongin tersenyum lalu mengacak rambut Soo Wook sayang.

" aku akan ada di belakangmu " ucapnya.

" Oppa juga " imbuh Junmyeon.

Jongin,Soo Wook,dan Junmyeon menatap Eun Ji yang masih menunduk.

" hatiku bilang aku harus di bekakang Eun Ji,kalian tidak dengar? "

Mereka tertawa mendengar ucapan Eun Ji.

Jongin mendekat ke arah telinga Soo Wook.

" kami pegang janjimu,jangan menyerah Soo Wook-ah " bisiknya.

END