Laman

Tampilkan postingan dengan label OC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OC. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 September 2014

EXO Fanfiction: What Is Friend? - Why?

A/N : Yoo Ra dan Min Ah itu adalah orang yang sama.This story is mine,enjoy^^

« What Is Friend?

***

Kenapa harus ada pertemanan di
dunia ini?

***

Di siang yang cerah itu,Luhan meletakkan nampan berisi makan siangnya di depan perempuan cantik yang beberapa bulan ini menjadi teman baiknya.Ia tersenyum hangat pada perempuan berambut panjang yang memiliki nama Seo Yoo Ra itu.

" kau hanya membeli roti sosis dan segelas ice moccacino? " Luhan bertanya heran.

Yoo Ra mengangguk santai sambil menggigit rotinya.

Luhan berdecak sambil menarik roti dan ice moccacino milik Yoo Ra.Ia mendorong nampan yang berisi makan siangnya ke depan perempuan itu.
" makanlah makananku,kau tidak sadar kalau kau membutuhkan daging? Park seonsaengnim 'kan sudah bilang kalau kau harus banyak makan. " ujar Luhan.

Yoo Ra menggeleng.
" kenapa aku harus mendengarkan ucapan seorang guru sejarah? dia bukan ahli gizi atau guru ipa " Tangan Yoo Ra terulur menarik kembali roti sosis dan ice moccacino-nya.Kembali melahap makanan kesukaannya dan menyeruput minuman terlezat versi-nya.

" hft,bisa kau dengar nasihat orang lain? aku 'kan ingin kau tumbuh sehat,Yoo Ra " ucap Luhan sambil menggembungkan pipinya.Sekarang ia terlihat kesal karena ucapannya yang di abaikan begitu saja oleh Yoo Ra.

" cih,kau terlihat seperti Ayah-ku " cibir Yoo Ra.

Luhan semakin menekuk wajahnya.Ia menarik nampannya lalu menyendokkan sereal ke dalam mulutnya.

" Hei Lu " panggil Yoo Ra.

Luhan mengangkat kepalanya dan menatap Yoo Ra dengan kernyitan di dahi.

Yoo Ra hanya tersenyum manis.
" senang bisa berteman denganmu "

Luhan terkekeh.
" kita sudah berteman lebih dari tiga bulan,kenapa baru mengucapkannya sekarang? Kau terlambat sekali "

***

" wajahmu terlihat serius sekali,apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? "

Yoo Ra menggeleng menjawab pertanyaan Luhan.Ia memiringkan kepalanya menatap Luhan dengan dahi yang berlipat.

" aku sedang mencari bahan tulisan untuk cerpenku yang baru,tapi sampai sekarang aku belum menemukan sesuatu yang menarik untuk ku jadikan bahan tulisan " ujarnya.

" mudah saja,kau minta cerita menarik dari teman-teman perempuanmu tentang pengalaman cinta mereka,bagaimana? Ide-ku cemerlang bukan? " Luhan tersenyum lebar dengan rasa percaya diri yang mencapai langit.

Yoo Ra memutar bola matanya malas.Seketika ingin sekali memasukkan Luhan ke bak sampah depan kelas mereka.

" kau lupa? temanku hanya satu,Lu "

Luhan hanya dapat meringis,tangan kanannya menggaruk pipinya sambil ikut berpikir.

" aku di kejar deadline,Shi seonsaengnim mengatakan padaku minggu depan harus ada cerita baru karena siswa-siswi yang lain mengirimkan protes lewat kotak komentar " keluh Yoo Ra.Ia menelungkupkan kepalanya di atas meja.

Menghabiskan waktu sore di sekolah bersama Luhan adalah rutinitas Yoo Ra.Dan hari ini ia dan Luhan menghabiskan sore dengan duduk di kelas ditemani laptop yang terbuka lebar di hadapan mereka.

Luhan menatap prihatin Yoo Ra,ia merasa ikut pusing dengan hanya mendengar keluh kesahnya.Tangannya terulur untuk menutup laptop milik Yoo Ra.

" kenapa kau menutup laptopnya? " Yoo Ra bertanya heran saat tubuhnya kembali menegak.

" ada hal yang ingin ku tanyakan "

" apa? "

Luhan terlihat ragu,ia menatap Yoo Ra dalam.
" aku ingin tau bagaimana cerita tentang Min Ah dan temannya di mulai "

Yoo Ra terdiam selama beberapa detik,otaknya otomatis berputar mengingat kejadian yang berawal manis itu.Kejadian yang berujung pada rasa sakit yang tidak akan pernah Yoo Ra lupakan.

" a—aku tidak memaksa,kalau kau memang tidak ingin menceritakannya aku tidak apa-apa,aku akan menekan rasa penasaranku tentang in— " ocehan Luhan terhenti saat ia melihat senyuman tipis di bibir Yoo Ra.

" ku rasa aku baik-baik saja,jadi kau bisa mendengar bagaimana cerita tentang Min Ah dan temannya di mulai " ujarnya lembut.

Yoo Ra menatap keluar jendela dengan pandangan menerawang,senyuman tipis masih terlukis di bibirnya.

" semuanya berawal saat Min Ah baru saja pindah dari Amerika dan bersekolah di sini… "

-

16 Juni 2009

Seoul Junior High School.

Perempuan cantik berambut panjang dengan warna hitam pekat itu berjalan linglung di sepanjang koridor sekolah.Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari kelas yang Jang ssaem maksud.

" ah ini dia! " serunya saat matanya menangkap tulisan bercat putih di atas pintu.

1-A.

Ia melangkahkan kakinya memasuki ruang kelas itu,tawa yang tadinya memenuhi ruangan seketika diam saat dirinya berada di tengah-tengah ruangan.Seluruh pasang mata itu kini menatapnya,memperhatikan dirinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Ah,kenapa mereka menatapku seperti itu? Batinnya mulai berbicara.Panik,takut,bingung semua bercampur menjadi satu.Menghasilkan debaran jantung yang luar biasa kencang dan keringat dingin di pelipisnya.

" Hei,siniii!~ " seseorang perempuan bertumbuh kurus yang berada di pojok kanan melambaikan tangannya.Tersenyum lebar sambil mengisyaratkan Seo Yoo Ra untuk berjalan menghampirinya.

Yoo Ra tersenyum tipis lalu melangkahkan kakinya ke arah perempuan manis itu.

" hai,aku Jung Ju Ri,kau duduklah denganku " ujarnya ramah dengan tangan yang terulur.

Yoo Ra tersenyum membalas uluran tangan perempuan cantik bernama Ju Ri itu.
" i'm Seo Yoo Ra,nice to meet you "

Ju Ri menutup mulutnya dengan mata membulat.
" omo! Jadi kau murid pindahan dari Amerika itu?! " serunya.

Yoo Ra menggangguk.
" yeah,begitulah "

Mereka berdua lalu mendudukkan diri di kursi.Mulai mengobrol dari hal sepele seperti alamat rumah sampai hobi mereka.

" aku juga! aku juga suka membaca novel fantasi,wah kita banyak kesamaan ya,kurasa kita benar-benar cocok jadi teman " Ju Ri berkata dengan heboh.

Yoo Ra yang baru menginjakkan kakinya di Seoul pun merasa senang memiliki teman di hari pertamanya bersekolah.

***

" kau pernah coba makanan Korea apa saja? " tanya Ju Ri saat ia dan Yoo Ra berada di kantin.Mereka berdua berhenti di depan counter sambil melihat daftar menu,di dekapan mereka sudah terdapat nampan yang siap menampung makan siang mereka.

Yoo Ra menyatukan alisnya,mengingat makanan Korea apa saja yang pernah di cobanya.

" ramyun? "

" hahahahahaahahaahahahahahaha "

Tawa Ju Ri meledak mendengar jawaban yang diberikan Yoo Ra,bahkan beberapa murid yang antri di belakang mereka mengutuk perempuan itu.

Ju Ri mengelap air mata yang berada di ujung matanya.Efek tertawa terlalu kencang.

" Bibi,aku pesan samgyupsal dua dan lemon tea nya juga dua ya! " serunya pada Bibi kantin.

Ju Ri menatap Yoo Ra dengan senyuman penuh arti.

" siang ini kau akan merasakan lezatnya makanan Korea "

***

Sepatu hak tinggi itu memasuki kelas dengan bunyi-nya yang berirama.Kelas menjadi sunyi ketika guru perempuan berperawakan tinggi dengan garis wajah yang tegas itu menjadi penyebabnya.

" selamat siang semuanya,perkenalkan saya Bang seonsaengnim "

Semua murid membuka mulutnya saat mendengar guru itu berbicara dalam bahasa Korea Joseon.

" oh my god—jangan bilang kalau dia— " gumam Yoo Ra panik.

Ju Ri mengagguk mantap.Ia menatap Yoo Ra sambil tersenyum penuh arti.
" yep! dia guru mata pelajaran Sejarah Korea "

***

-

Yoo Ra menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan.

" setelah itu semua berjalan lancar,Min Ah dan temannya—ahh ralat Min Ah dan bukan temannya itu selalu bersama-sama.Semua berjalan biasa dan terhitung menyenangkan untuk dua minggu pertama "

Luhan menatap sisi wajah Yoo Ra yang tersenyum saat menceritakan luka lamanya.Otaknya ikut berimajinasi,ia seperti memutar film di otaknya sendiri.

" sampai Min Ah merasa semua berubah "

Sekarang,senyuman itu tidak lagi sama.Luhan tau ini lah saat dimana luka itu kembali terbuka lebar.

-

" hei,aku baru tau kalau ternyata Myeongdong itu suka mengadakan festival.Kemarin aku kesana bersama Mom dan Dad.Aku melihat banyaaakkkkk sekali pernak-pernik lucu,aku membelinya satu— "

" tidak menurutku biasa saja,pernak-perniknya juga banyak di jual di mana saja "

Yoo Ra memudarkan senyum di bibirnya,niat awalnya yang ingin menunjukkan gelang couple yang ia beli pun ia urungkan.Ia memasukkan kembali gelang couple itu ke dalam saku blazer-nya.

Ju Ri lebih pendiam sekarang.

Atau mungkin bisa di bilang pendiam hanya kepada Yoo Ra saja.Saat teman-teman yang lain mengajaknya berbicara perempuan itu menyahuti dan jangan lupakan senyuman lebar dan tawa lepasnya.

Semua berbanding tiga ratus enam puluh derajat saat perempuan kurus itu berbicara dengan Yoo Ra.Wajahnya datar dan sama sekali tidak ada senyum,bahkan matanya hanya menatap malas padanya.

Hati Yoo Ra terasa tersentil,tapi ia mencoba memaklumi,mungkin perasaannya tidak bisa di katakan baik untuk saat ini (khususnya pada Yoo Ra).

" nanti saat tugas kelompok kita mengerjakan di mana? Oh,bagaimana kalau di rumah mu saja? Aku belum pernah— "

Ju Ri menaikkan satu alisnya saat Yoo Ra berbicara mengenai tugas kelompok yang baru saja di berikan Lee ssaem pada kelas mereka.

" memang kita satu kelompok? aku tidak ingat kalau aku mengajakmu,aku hanya mengajak Hae Ri,Ah Ra,dan Ri Ah. " jawabnya dingin.Ia menggemblok tasnya dan berjalan keluar kelas.

Yoo Ra hanya dapat mematung di kursinya.Kenapa? Kenapa Ju Ri bersikap seperti itu padanya?

***

Di suatu siang di minggu ke empat Yoo Ra berada di sekolah barunya,ia mulai merasa semua memang benar-benar tidak menyukainya(kecuali satu anak perempuan yang duduk di tengah yang selalu tersenyum padanya saat mereka berpapasan).Mereka mulai mengabaikan Yoo Ra,tidak pernah menjawab pertanyaannya bahkan Ju Ri pindah tempat duduk dan memilih duduk di pojok depan.

Jauh darinya.

Yoo Ra berjalan sendiri menuju toilet,ia merasa sakit perut karena terlalu sering mengkonsumsi ramyun pedas-satu-satunya makanan Korea yang Yoo Ra tau-.

" aku merasa tidak nyaman anak itu masuk ke kelas kita "

Saat Yoo Ra barus saja ingin meraih knop pintu telinganya menangkap suara yang sangat ia kenal.

Itu Lee Ri Ah teman semeja Ju Ri yang sekarang.

" sesungguhnya aku juga,dia merepotkan "

Sekarang sebuah suara lain tertangkap gendang telinganya.Yoo Ra sangat-amat-hapal siapa pemilik suara ini.

Perempuan yang dulu sangat baik padanya.

Jung Ju Ri.

Terdengar suara tawa kecil dari Ri Ah.

" lalu kenapa dulu kau selalu bersamanya? Seperti ada perekat yang tembus pandang di antara kalian "

" tidak tau,ku pikir dia asik,apalagi dia berasal dari Amerika.Terdengar keren jika aku berteman dengan seseorang yang berasal dari negara itu,tapi ternyata tidak,dia merepotkan.Dia banyak tanya,dia sering menarik perhatian orang karena menggunakan bahasa inggris yang membuatku malu.Hhaahh—intinya aku malas dengannya "

Sekarang hati Yoo Ra serasa mencelos dari tempatnya.Ia yakin telinganya masih normal,ia yakin ia tidak sedang bermimpi karena ia tidak tertidur sambil duduk di kloset.

Ini kenyataan.

" ini memalukan,kelas kita mendapat nilai rata-rata Sejarah Korea paling buruk hanya karena anak itu,aku benar-benar tidak mengerti kenapa kepala sekolah menerimanya,apa dia memberikan uang pelicin? "

Mereka berdua lalu tergelak bersama lalu setelah itu terdengar bunyi langkah sepatu dan pintu yang tertutup.

Yoo Ra masih terdiam di posisinya,tangannya masih memegang knop pintu,air matanya mengalir begitu saja.Semua percakapan antara Ri Ah dan Ju Ri terngiang di telinganya.

Mulai saat itu,Yoo Ra tau,ia akan selalu sendiri.

Tidak ada orang yang akan duduk di sampingnya.

Tidak ada orang yang akan makan siang dengannya.

Tidak ada orang yang akan menemaninya ke toilet.

Tidak ada orang yang akan bersamanya karena tidak ada orang yang akan menjadi temannya.

***

-

Rintik air hujan mulai menuruni jendela,membuat jalurnya sendiri di jendela itu.Menjadikan pemandangan menarik di sepasang mata indah milik Yoo Ra.

Ia tidak perlu menangis,karena hujan sudah mewakilinya.

" aku tidak ingat tanggal,bulan,menit dan detik saat aku mendengar percakapan menyakitkan itu. " Yoo Ra tertawa kecil. " Tapi bodohnya aku malah mengingat semua kata-kata mereka "

" Dan tentu saja perasaan menyakitkan itu,perasaan yang membuatku masuk rumah sakit karena kekurangan cairan,for your info,aku tidak makan dan minum selama empat setengah hari "

Sebuah sentuhan hangat terasa di pundaknya,ia menoleh menatap Luhan dengan senyuman di bibirnya.

" aku baik-baik saja,Lu " ucapnya pelan saat ia menangkap pandangan khawatir di mata Luhan.

Luhan menelan ludahnya,melihat senyuman di wajah Yoo Ra malah membuat hatinya merasa tidak karuan,Luhan hanya berharap perempuan itu mau mengeluarkan semua rasa sakitnya.

" saat itu ada ribuan kata 'kenapa?' di otakku.Kenapa mereka begitu membenciku? Kenapa mereka meninggalkanku? Kenapa mereka tidak pernah mengganggapku? Kenapa— "

Yoo Ra berhenti,ia menghirup napas,sekedar memastikan bahwa di sekelilingnya masih terdapat oksigen.

Yoo Ra menatap Luhan dalam.

" kenapa harus ada pertemanan di dunia ini? "

Tes.

Air mata itu akhirnya mengalir mulus di sepasang pipi tirus milik Yoo Ra.

" aku tidak mengerti,maksudku—kenapa semua orang membutuhkan teman seperti mereka membutuhkan oksigen untuk hidup? Seperti mereka membutuhkan tempat tinggal untuk berteduh,seperti mereka tidak akan pernah bisa hidup tanpa teman.Kenapa teman itu penting kalau pada kenyataannya teman dapat membuat kita menangis? "

Untuk beberapa waktu mereka sama-sama terdiam,tenggelam dalam pikiran masing-masing.Luhan tersenyum lembut,tangannya terulur untuk menghapus air mata Yoo Ra.

" karena kau butuh teman untuk melengkapi hidupmu,kau butuh teman untuk selalu berjalan di sampingmu,kau butuh teman untuk berbagi,kau butuh teman untuk bersandar,kau butuh teman untuk menuntunmu saat kau kehilangan arah,kau butuh teman— "

" untuk menggenggam tanganmu saat kau merasa kehilangan seluruh kekuatan dalam hatimu "

Yoo Ra tersenyum lembut pada Luhan.

Luhan menggenggam tangan Yoo Ra erat,menatapnya sambil tersenyum manis.

" kekuatanmu akan kembali setelah ini,Yoo Ra. "

END

Sabtu, 16 Agustus 2014

EXO Fanfiction: Problem.

Disclaimer: This story is mine.Happy reading ^^~

***

Laki-laki itu mendengus kesal manakala sang Sutradara lagi-lagi meneriakan kata 'Cut!' kencang-kencang.Ia menghela nafas pasrah.

" Ya! Yifan! Ku bilang senyum,apa urat-urat bibirmu itu tidak bisa menyungging ke atas?! " omel Sutradara Kim.

Laki-laki yang di panggil Yifan berdecak.
" aku sudah senyum Sutradara Kim,apa matamu tidak bisa melihatnya?! " sahutnya emosi.

Sutradara Kim menghela nafas kasar.Berdebat panjang lebar tentang bagaimana caranya tersenyum dengan laki-laki keras kepala seperti Yifan tidak akan selesai dalam waktu sehari.Ia tidak mau hipertensi-nya kumat hanya karena memarahi Yifan.

" sudahlah,hari ini kita sudah melakukan duapuluh tujuh take hanya untuk adegan ini,lebih baik kita lewati saja,langsung ke bagian action-nya.Pindah lokasi! "

Stuf-stuf langsung memindahkan peralatan syuting ke tempat lain,sementara Sutradara Kim menghampiri Yifan yang masih terlihat kesal.Ia menepuk bahu Yifan pelan.

" aku tidak akan memecatmu,aku juga tidak akan memaksamu,aku akan memberimu kesempatan untuk belajar bagaimana caranya tersenyum,oke? "

Yifan mengangguk pelan.

***

Murid-murid perempuan di sebuah sekolah menengah atas ternama di Seoul tidak bisa mengalihkan pandangannya pada laki-laki bertubuh jangkung yang melewati mereka.Sepasang mata mereka tidak berkedip manakala aktor ternama di negara ginseng itu ada di depan mereka.

Yifan mengumpat di dalam hati,memaki setiap perempuan yang berteriak histeris melihatnya.Ayolah,ia sudah bersekolah disini selama tigatahun tapi kenapa mereka tidak bosan berteriak setiap melihatnya?.Dengan satu helaan nafas berat Yifan menjatuhkan tubuhnya di kursi kedua baris ketiga.

" oi,Tuan Wu,ada apa dengan wajahmu? " tanya Joonmyeon,satu-satunya teman baik yang dimilikinya.

" wajahku? kenapa memangnya? " Yifan balas bertanya datar.

Joonmyeon memiringkan kepalanya,terlihat berpikir sambil mengamati wajah teman semejanya.

" kau terlihat buruk,kawan " ucapnya.

Yixing berdecak,ia sedang pusing memikirkan 'kesempatan' yang di berikan Sutradara Kim padanya.

" hei,bukankah kau ketua ekskul Teater di sekolah kita? " tanya Yifan.

Joonmyeon mengangguk.

" kenapa? "

Tiba-tiba Yifan merasa ada lampu kuning di atas kepalanya.

" bisa tolong aku? "

***

Yifan ingin sekali memukul kepala Joonmyeon.

" kau ini bodoh atau apa? kau itu sudah bermain film dan drama berkali-kali,tapi kenapa senyum saja tidak bisa? "

" itu karena aku selalu bermain film dan drama laga,horror,atau psycho,bukan film dan drama romantis menjijikan itu " balas Yifan kesal.

Joonmyeon membuang napas,mengayunkan tangannya kedepan.
" yasudah,sana minta bantuannya "

" kenapa harus dia? kenapa bukan kau? kau 'kan ketua-nya! " geram Yifan.

" dia suka tersenyum,percayalah dia pasti bisa membantumu " ucap Joonmyeon santai.

Yifan mendengus,dalam hati menyesal meminta bantuan Joonmyeon.Dengan satu helaan nafas ia keluar dari balik tembok tempat persembunyiannya.

" Maaf,kau Jang Jae Ra? "

Dan semua murid perempuan langsung histeris seketika.Sungguh,Yifan ingin menendang Joonmyeon sekarang.

***

Perempuan berambut panjang lurus sepinggang itu tersenyum manis dan sesekali tertawa bersama teman-temannya.Membicarakan apapun itu walaupun topik tidak menarikpun asal bersama teman-temannya semua jadi menarik.

" Maaf,kau Jang Jae Ra? "

Perempuan itu—Jae Ra mendongakkan kepalanya.Matanya membelalak mendapati Yifan ada di depannya.Walaupun ia bukan salah satu dari penggemar laki-laki itu,tapi tetap saja rasanya mengejutkan Yifan tiba-tiba berada di depannya.

Dan tau siapa namanya.

" iya,ada apa? " tanya Jae Ra.

Yifan berdehem sebentar,seluruh murid di kelas itu mulai berbisik tentang dirinya.

" ada yang ingin ku bicarakan denganmu,tapi tidak disini.Bisa ikut aku? " tanyanya.

Jae Ra menelan ludah,memandangi teman-temannya,mereka mendukung.Pandangannya beralih pada teman-teman sekelasnya sebagian menatapnya menghakimi,sepertiga mendukungnya,dan sisanya tidak mau tau-mereka anak laki-laki-.

" iya—baiklah "

***

Yifan membawa Jae Ra ke atap sekolah,satu-satunya tempat aman dan nyaman untuk situasi saat ini.Ia mengunci pintu atap sekolah dan menghampiri Jae Ra.

" kenapa harus di kunci? Maaf,tapi aku sedikit terganggu dengan caramu " ucap Jae Ra.Ia merasa tidak nyaman dengan cara Yifan,kenapa harus di tempat sepi? kenapa harus berdua saja?

Yifan mengantongi kunci atap sekolah,lalu membungkuk sopan.

" maaf membuatmu terganggu " ucapnya.Ia berdiri tegap dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana.

" aku hanya perlu bantuanmu "

Dahi Jae Ra mengernyit.Seorang Wu Yifan membutuhkan bantuannya?

" bantuan apa? "

Yifan terdiam sebentar,menarik nafas panjang lalu membuangnya.Matanya menatap Jae Ra dalam.

" tolong ajari aku bagaimana caranya tersenyum "

***

Jae Ra ingat terakhir kali ia dimintai bantuan oleh teman laki-laki di sekolahnya adalah saat Sehun si laki-laki manja memintanya untuk mengambil koin yang jatuh ke dalam lubang wc.Dan mulai saat itu,Jae Ra memutuskan untuk tidak menolong anak laki-laki di sekolahnya lagi,semuanya tidak ada yang beres.

Tapi sekarang,laki-laki China di depannya ini meminta sebuah bantuan yang menurut Jae Ra sama tidak beresnya dengan teman laki-lakinya yang lain.

" pertama,aku butuh sebuah alasan kenapa kau memintaku mengajarimu cara tersenyum " Jae Ra berkata sambil melipat tangannya di depan dada.Ia tersenyum ke arah Yifan.

Yifan mengusap wajahnya frustasi,ia mendesah keras.

" aku punya masalah,aku tidak bisa tersenyum tulus di depan kamera seperti yang Sutradara Kim katakan.Aku di berikan kesempatan untuk belajar bagaimana caranya tersenyum,dan aku ingin belajar denganmu " ungkap Yifan dengan satu tarikan napas panjang.

" kenapa aku? kau memiliki Joonmyeon "

" karena kau selalu tersenyum,jadi bisakah kau membantuku? "

Jae Ra mengangguk-anggukan kepalanya,senyumannya makin melebar.

" baiklah Tuan Wu,besok temui aku di gerbang sekolah saat bel pulang berbunyi,bagaimana? apa kau mempunyai jadwal syuting? "

Yifan menggeleng cepat.
" tidak,besok aku akan menemuimu di depan gerbang "

" oke " Jae Ra mengulurkan tangannya membuat dahi Yifan mengernyit dan memandangnya tidak percaya.

" kau meminta bayaran? " Yifan membuang napas " aku akan membayarmu setelah kau berhasil membantuku " lanjutnya.

Jae Ra tersenyum menahan tawa,ia memukul lengan Yifan pelan.

" aku hanya meminta kunci,mana kuncinya? "

***

Yifan bisa dibilang laki-laki yang suka menepati janji-nya.Sesaat setelah gendang telinganya menangkap bel berbunyi,ia langsung memasukkan seluruh bukunya ke dalam tas.Tidak mencatat tugas lks yang di berikan Kim Seonsaengnim atau mempedulikan kernyitan heran Joonmyeon disampingnya.Yifan langsung melesat keluar kelas dan tidak sengaja menyenggol bahu guru berambut klimis itu saat melewati pintu kelas.

" kau terlihat buru-buru sekali " Jae Ra berujar sambil tertawa kecil melihat Yifan yang datang dengan rambutnya yang lepek karena keringat dan nafasnya yang tersengal-sengal.

Yifan mengelap keringat yang ada di dahinya.
" kau sudah lama menunggu? " tanyanya.

Jae Ra menggeleng.
" aku baru sampai,kau terlihat lelah,apa—sebaiknya kita membeli minum dulu? "

" tidak usah,aku tidak lelah,apa yang harus ku lakukan? "

Jae Ra mengangguk lalu tersenyum penuh arti pada Yifan.

***

Yifan terus mengumpati perempuan yang tersenyum padanya lewat jendela kelas,matanya langsung kembali berpindah pada binder yang di julurkan di hadapannya.Yifan menengadahkan kepalanya menatap seorang perempuan berwajah imut dengan kacamata kuda-nya.

" tolong tanda tangani ini dan— " Perempuan ber-nametag Park Na Ra itu menunduk sambil tersenyum malu.Kedua pipi chubby-nya bersemu merah.

" tulis '사랑해 나라야 ♥' "

Kemudian Yifan meremas bolpoin di tangannya,ingin rasanya ia lari dan kabur dari tempat dimana ia berada sekarang.Tapi mendengar kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut perempuan di depannya,keinginannya berubah.

" walaupun aku tau itu hanya tulisan yang tidak berarti apapun,itu tidak masalah,karena aku menyukaimu,Yifan " ujarnya.Semuanya terdengar tulus di telinga Yifan.

Yifan langsung menandatangi binder di hadapannya,menuliskan kalimat yang di minta perempuan bernama Park Na Ra itu lalu mendongak dan menyerahkan binder itu.

Tanpa perempuan berkacamata kuda itu tau,tanpa perempuan-perempuan di belakang Na Ra tau dan tanpa Jae Ra tau.

Bibir Yifan sudah berhasil menyunggingkan senyum tipis saat menulis kalimat yang diminta Na Ra.

***

" hhhhaaahhhhh "

Yifan membuang nafas sambil menjatuhkan dirinya di kursi panjang taman sekolah.Ia mengangkat tangan kirinya,melihat jarum jam di benda berwarna hitam itu.

Pukul 19:29.

Yifan menggeleng tidak percaya,dia baru saja mengadakan fansign dadakan yang di ikuti seluruh murid perempuan di sekolahnya.

" minumlah dulu "

Jae Ra tersenyum sambil mengulurkan sekaleng cola ke hadapan laki-laki China itu.Ia menjatuhkan tubuhnya di samping Yifan setelah Yifan menerima cola-nya.

" aku belum melihatmu tersenyum " ujar Jae Ra lalu meneguk cola miliknya.

Jae Ra menatap sisi wajah Yifan yang dengan tenang meminum cola-nya seakan-akan Jae Ra bukan makhluk yang dapat terlihat.

" aku sudah menyiapkan cara yang lain,besok pulang sekolah kita bertemu di gerbang " ucap Jae Ra sambil berdiri.Meneguk cola-nya sampai habis lalu meletakkannya di kursi.

" aku tidak akan— "

" maaf Yifan,tapi saat kau meminta bantuan ku untuk membuatmu tersenyum,itu artinya aku harus membantumu sampai aku melihatmu tersenyum.Secara tidak langsung kau sudah membuat kontrak tidak tertulis denganku " ucap Jae Ra masih dengan senyumannya.Jae Ra berjalan beberapa langkah lalu berbalik.

" apa? " Yifan bertanya datar.

" aku lupa membawa kaleng cola-ku,tolong kau buang ya " jawabnya santai lalu berbalik dan melenggang pergi.

Yifan mendengus lalu mengamati kaleng cola kosong milik Jae Ra.

" cih,aku tidak akan datang "

***

" Jae Ra,kau belum pulang? "

Jae Ra menggeleng pelan lalu tersenyum pada teman sekelasnya.Teman sekelasnya itu hanya mengangguk dan berlalu pergi.Jae Ra merasa sebentar lagi ia terlihat seperti robot rusak karena sudah menggeleng lebih dari sepuluh kali untuk menjawab pertanyaan ' kau belum pulang? ' dari teman-temannya.Ia sudah berdiri di depan gerbang lebih dari tigapuluh menit,tapi sosok jangkung Yifan belum juga terlihat.

Kaki Jae Ra masih setia memainkan batu kerikil untuk menghilangkan penat yang ia rasakan.Sesekali ia meloncat-loncat kecil atau menyandar pada badan gerbang,Jae Ra benar-benar berharap Yifan akan segera datang.

" kau menungguku ternyata "

Jae Ra mendongak,ia melebarkan senyumannya mendapati Yifan sudah berada di hadapannya.

Harapannya terkabul.

" aku sudah memutuskan untuk berhenti belajar denganmu " ujarnya dingin.

Jae Ra membulatkan matanya.

" kenapa? kita baru mencoba satu kali,masih banyak— "

" kesempatan? cara yang lain? tidak,aku sudah tidak membutuhkannya.Aku sudah memikirkannya semalaman,dan aku memutuskan untuk berhenti " ucap Yifan memotong kalimat Jae Ra.

" aku tidak peduli dengan kontrak tidak tertulisku itu,aku juga tidak peduli kalau aku akan di pecat,aku lelah dan aku ingin menyudahinya,sekarang kau tidak perlu pusing-pusing memikirkan cara untuk membuatku tersenyum "

Yifan mengeluarkan beberapa lembar won dari saku celananya.

" ini untukmu,terimakasih sudah mau membantuku "

Jae Ra tersenyum sambil memandangi lembaran won yang terjulur di hadapannya.

" kau menyerah,Yifan? " Jae Ra mendongak menatap Yifan.

Yifan menatap Jae Ra datar.
" tidak,aku hanya lelah "

" berarti kau kalah " sahut Jae Ra.

Yifan masih memandang Jae Ra dengan tatapan datarnya.

" banyak orang di dunia ini yang memiliki masalah bahkan lebih berat daripada yang kau alami tapi mereka tetap bertahan,bahkan mereka tetap tersenyum dan tertawa,tapi kenapa kau malah menyerah begitu saja? "

" tidak usah banyak bicara,ambil saja uang ini dan jangan pernah bahas masalah ini lagi " Yifan menarik tangan Jae Ra lalu menggenggamkan uang itu di telapak tangan Jae Ra.

Yifan langsung berbalik pergi tanpa tau di belakangnya Jae Ra hanya tersenyum lirih memandangi lembaran won di telapak tangannya.

***

Tubuh Yifan terasa mendapat energi saat menyentuh kasur empuk kamar tersayangnya.Ia menghela nafas lalu memejamkan matanya.Memikirkan setiap kata yang keluar dari mulutnya yang ia tujukan pada perempuan yang dengan senang hati membantunya.Perempuan yang mempunyai senyum manis yang rela menunggu Yifan di gerbang sekolah saat semua murid berbondong-bondong pulang ke rumah mereka masing-masing.

Yifan tidak tau harus melakukan apalagi agar bibirnya dapat melengkung ke atas,walaupun ada Jae Ra yang rela membantunya tapi Yifan tetap merasa semua cara yang Jae Ra lakukan akan berujung sia-sia; percuma.

***

" aku pulaaangggggggg~ " Jae Ra berseru senang saat ia berhasil membuka pintu rumahnya yang besar.Ia melangkah masuk ke dalam rumahnya yang terasa sepi.

Ada kedua orang tua-nya yang sedang makan malam di ruang makan dengan tenang.Jae Ra langsung duduk disamping Ibu-nya.

" ganti bajumu dulu,baru kau boleh duduk " ujar Tuan Jang datar sambil memakan dagingnya.

" eoh? maaf Yah,aku akan mengganti baju ku " ucap Jae Ra sambil berdiri dari kursi.

" tidak usah Jae Ra,kau duduk saja dan nikmati makan malam-mu " ucap Nyonya Jang dengan nada yang tidak dapat di bantah.

Baru saja Jae Ra akan duduk di kursinya,suara garpu dan pisau yang di banting ke meja terdengar keras.Tuan Jang menatap Nyonya Jang tajam.

" ajarkan kebiasaan baik pada anakmu,Kim Ah Ra " ucapnya dengan nada rendah dan dalam.

Nyonya Jang tersenyum miring.
" sebelum itu,pahami anakmu dulu Jang Jae Yeol.Dia sudah terlalu lelah untuk mengganti baju "

Tuan Jang tertawa sinis,ia mengelap mulutnya dengan sapu tangan lalu berdiri dari kursi.

" Jae Ra,setelah keputusan pengadilan sudah di bacakan,kau ikut aku.Aku tidak mau kau menjadi anak pemalas dan tidak tau adab seperti wanita itu. "

Jae Ra hanya dapat menelan ludahnya yang terasa pahit,sama pahitnya seperti rasa obat yang tidak pernah ia sukai seumur hidupnya.

***

Loker bernomor 00 itu terbuka,Yifan baru membuka lokernya kembali setelah satu tahun ia kunci rapat.Semenjak ia merasa jengkel dengan hadiah-hadiah yang di berikan para penggemarnya.

Tangan Yifan terulur mengambil sebuah kotak makan berwarna biru laut di dalam lokernya.Ia mengernyit heran,kenapa masih ada hadiah disini?

To: Wu Yifan yang keren *^^*

Cheese Cake rasa Strawberry untukmu,ini aku yang buat dan kau orang pertama yang memakannya.Aku akan sangat senang jika kau memakannya ^^

Park Na Ra B-)

Yifan mengendus Cheese Cake Strawberry itu,masih harum.Ia mengambil sepotong Cheese Cake lalu menggigit ujungnya.

Manis.

Kedua sudut bibir Yifan perlahan terangkat ke atas.

Yifan tersenyum manis,semanis Cheese Cake Strawberry yang ia rasakan.

***
-

" membuat orang lain senang,itu akan membuatmu ikut merasa senang,itu yang ingin Jae Ra sampaikan padamu "

-

Yifan berlari di sepanjang koridor sekolah.Setelah Joonmyeon berkata seperti itu Yifan langsung melesat pergi.Ia ingin bertemu Jae Ra.

" Jang Jae Ra! " Yifan berseru senang memanggil nama Jae Ra saat melihat perempuan itu sedang duduk di kursi taman sekolah.

Jae Ra tersenyum lembut ke arah Yifan.
" aku mendengar kabar menggembirakan tentangmu "

Yifan menjatuhkan tubuhnya di samping Jae Ra.Laki-laki itu tersenyum lebar.

" selamat,selamat atas hubunganmu dan Na Ra,selamat atas drama-mu yang sukses,selamat kau sudah berhasil tersenyum " ujar Jae Ra sambil mengulurkan tangannya.

Yifan membalas uluran tangan Jae Ra.
" berkat-mu,berkat bantuanmu,Jae Ra "

Jae Ra tertawa kecil lalu menarik tangannya,menyenderkan badannya pada sandaran kursi.Memejamkan matanya rapat-rapat sambil tersenyum.

" semua tergantung hatimu,Yifan.Semua berkat keinginanmu yang kuat,bukan aku. " ujarnya.

" akan ku traktir kau makan yang banyak,kau terlihat lebih kurus dari dua minggu yang lalu "

Jae Ra menatap Yifan.
" oya? Aku terlihat kurus? "

Yifan mengangguk.

" tapi aku tidak terlihat menyedihkan 'kan? "

Yifan menggeleng.

" tidak masalah aku kurus atau berpenampilan buruk,asal itu tidak membuat aku menyedihkan di mata orang lain,aku merasa lebih baik "

***

Sebuah mobil hitam yang familiar di mata Jae Ra berhenti di depannya.Tuan Jang muncul dari dalam sana.

" ayo Jae Ra,kita ke persidangan " ujarnya sambil mengenggam tangan Jae Ra.

" iya,Yah " balasnya pelan.Jae Ra berdiri dari tempat ia duduk.

Baru saja Tuan Jang ingin menarik tangan Jae Ra masuk ke mobil sebuah mobil putih berhenti tepat di belakang mobil Tuan Jang.Nyonya Jang muncul dari dalam sana.

" Jae Ra,ayo pergi dengan Ibu " ajaknya.

Nyonya Jang berjalan ke arah Jae Ra dan Tuan Jang.

" tidak,dia akan pergi denganku " Tuan Jang berkata sambil menatap Nyonya Jang tajam.

" aku Ibu-nya! " seru Nyonya Jang.

Tuan Jang berdecak.
" Jae Ra sudah berumur tujuhbelas tahun dan dia berhak dan pantas tinggal denganku setelah kita bercerai! "

" apapun yang terjadi Jae Ra akan tinggal bersamaku "

Nyonya Jang menatap Jae Ra dengan mata yang berkaca-kaca,menggenggam tangan anaknya yang bebas.

" Jae Ra-ya,kau tinggal bersama Ibu ya? Ibu ingin selalu bersamamu " tuturnya dengan nada bergetar.

" cukup! "

Tuan Jang menarik tangan Nyonya Jang kasar.

" jangan pernah kau gunakan air mata buaya-mu itu,Jae Ra akan tetap tinggal bersamaku! " serunya geram.

" kau mau dia tinggal bersama Ibu tirinya?! Kau tega membiarkannya tinggal bersama wanita penghancur kebahagiaan orang itu?! " teriak Nyonya Jang.Air matanya mengalir begitu saja.

" jangan sebut dia seperti itu! dia lebih baik dari pada kau! " balas Tuan Jang tidak kalah kencang.Ia melepas genggaman tangannya pada Jae Ra.

Jae Ra tidak dapat berbuat apa-apa,ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangis sekaligus berteriak mengingatkan orangtuanya kalau mereka ada di halte sekolah.Hatinya terlanjur tergores semakin dalam melihat pertengkaran kedua orangtuanya.Oh,seharusnya Jae Ra berterimakasih pada teman-temannya yang sudah pulang sekolah sejak satu jam yang lalu.

" aku tidak akan pergi "

Tuan Jang dan Nyonya Jang berhenti.Mereka sama-sama menatap Jae Ra dengan kernyitan di dahi.

" aku tidak akan pergi ke pengadilan " ucap Jae Ra.

" Jae Ra,kau jangan bercanda kau harus pergi ke pengadilan dengan Ayah " ucap Tuan Jang.

Jae Ra menggeleng,sebisa mungkin ia menahan air mata yang sudah memaksa keluar dari kedua mata indahnya.Jae Ra menarik nafas,rasanya oksigen sudah mulai memusuhinya.

" Ayah bilang aku sudah berumur tujuhbelas tahun,itu artinya aku berhak dan pantas untuk tidak tinggal dengan Ayah atau Ibu.Aku ingin hidup sendiri "

Tuan Jang dan Nyonya Jang sama-sama terkejut,bahkan Nyonya Jang menggeleng dan menatap Jae Ra seolah-olah dia berkata jangan-lakukan-itu-pada-Ibu.

" jangan mencegahku atau kalian tidak akan pernah bisa melihatku lagi "

Dan dengan satu tarikan nafas yang terasa menyesakkan Jae Ra melangkah pergi meninggalkan orangtuanya.

***

-

" banyak orang di dunia ini yang memiliki masalah bahkan lebih berat daripada yang kau alami tapi mereka tetap bertahan,bahkan mereka tetap tersenyum dan tertawa,tapi kenapa kau malah menyerah begitu saja? "

-

Yifan menghela nafas berat,entah kenapa nafasnya jadi terasa berat,seperti nafasnya itu membawa satu ton besi berkarat.Ia melangkahkan kaki-nya,kedua tangannya memegang satu kaleng cola dingin.Yifan duduk di sebelah perempuan yang sejak beberapa jam yang lalu menjadi objek pengamatannya.

Yifan menjulurkan tangannya,menempelkan kaleng cola dingin itu di pipi tirus milik perempuan suka tersenyum itu.

" ohh,hei Yifan! " sapa Jae Ra dengan senyumnya yang lebar.Ia menegakkan badannya dan menghadap Yifan.

" tadinya aku ingin beli satu tapi karena aku tidak suka menyimpan koin jadi aku beli dua " ucap Yifan.

Jae Ra tertawa kecil sambil mengambil kaleng cola itu.
" seharusnya kau bilang ' ini ku belikan khusus untukmu ' setidaknya itu dapat menghiburku " ujarnya dengan tangan kanan yang berusaha keras membuka penutup kaleng.

Yifan mengambil alih kaleng cola dari genggaman Jae Ra lalu membukakannya,menyerahkannya pada Jae Ra sambil berujar.
" kenapa aku harus menghiburmu? apa kau memiliki masalah? "

Lagi-lagi Jae Ra hanya tertawa kecil lalu meneguk cola-nya.

" kalau kau punya masalah,eum seperti masalah keluarga,kau boleh cerita padaku " Yifan berkata ragu sambil menggaruk tengkuknya.

" Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha "

Yifan membulatkan matanya saat Jae Ra malah tertawa kencang.
" Jae Ra— "

" hei Yifan! Leluconmu itu lucu sekali,masalah keluarga? hahahahahahaha masalah apa? Aku tidak punya masalah,hahahahahahaha kau mabuk ya? atau frustasi karena jadwal syuting? "

Jae Ra terus saja tertawa membuat Yifan menyadari sesuatu.Tangan Yifan terjulur untuk menghapus cairan bening yang keluar dari mata indah Jae Ra.

" kau tertawa sampai menangis "

Yifan menarik tangannya,memperhatikan Jae Ra yang lambat laun mulai memelankan suara tawanya,suara tawa itu hilang tergantikan dengan suara menyedihkan yang paling Yifan tidak suka.

Jae Ra menangis.

Jang Jae Ra perempuan yang suka tersenyum itu menangis.

" aku melihatnya tadi di halte,Jae Ra.Kenapa kau tidak pernah cerita? Kenapa kau hanya memendamnya sendiri? " tanya Yifan.Ia memandang sendu Jae Ra yang menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Jae Ra mendongak,menatap Yifan dengan mata memerah dan air mata yang terus mengalir membentuk aliran sungai kecil di kedua pipi tirusnya.

" lalu kalau aku menceritakan semuanya padamu,apa orangtua-ku akan tetap bersama? apa Ayahku akan meninggalkan selingkuhannya yang sudah hamil? apa Ibuku akan berhenti menangis setiap malam? Jika iya,maka aku akan bercerita padamu,tapi jika tidak maka lebih baik aku diam dan membawa rasa sakit ini sampai aku mati,Yifan. " ujar Jae Ra.Sekarang,Jae Ra benar-benar merasa hatinya sudah terlanjur menganga lebar,seperti ada seorang dokter yang dengan tega membedah organ tubuh penting yang satu itu.

" setidaknya kau tidak perlu merasa se-sakit itu,Jae Ra.Rasa sakit itu akan berkurang saat kau menceritakannya padaku " Tangan Yifan terulur,mengenggam pergelangan tangan Jae Ra,meyakinkan perempuan itu kalau masih ada tempat untuk berbagi,masih ada telinga untuk mendengar segala keluh kesahnya,dan masih ada bahu untuk bersandar.

Masih ada Yifan untuk Jae Ra.

" berjanjilah padaku untuk tidak menyerah,berjanjilah kalau kau akan selalu tersenyum,seperti Jae Ra yang dulu ku kenal. " tutur Yifan,kedua sudut bibirnya terangkat ke atas membuat senyuman manis di bibir laki-laki itu.

" Yifan…  "

Jae Ra menghambur ke dalam pelukan hangat Yifan,menumpahkan segala rasa sakit yang di pendamnya selama ini.Tangisan Jae Ra seakan mewakili segala pahit yang ia telan sendiri,dan rasa sesak yang ia hirup sendiri.

Jae Ra tau,Yifan tulus padanya.

" kau akan menepati janjimu? " Yifan bertanya sambil terus mengusap rambut panjang Jae Ra.

Jae Ra mengangguk sambil tersenyum.

" bahkan besok pagi kau akan melihat senyumku,aku janji,Yifan "

***

Yifan bersenandung senang di sepanjang koridor sekolah,membalas senyuman para penggemarnya.Tangannya terangkat ke atas,melambai pada perempuan berkaca mata kuda yang membawa sejumlah buku tebal di kedua tangannya.

" good morning,prof. " sapa Yifan saat di depan perempuan itu.

Na Ra tertawa kecil,Yifan selalu memanggilnya profesor.
" good morning,actor Wu. " balas Na Ra.

Yifan mengerucutkan bibirnya,membuat Na Ra tertawa geli dan menghasilkan seluruh siswi sekolah yang melihat itu memekik tertahan.

" jangan panggil aku itu,aku tidak suka "

" lalu apa? aku harus memanggilmu apa? Tuan Wu " Na Ra tersenyum jail sedang Yifan makin menekuk wajahnya.

" Hahahaha,sudahlah,aku harus kembali ke perpustakaan,ada banyak tugas yang harus ku selesaikan "

Yifan mengernyit.
" sepagi ini? "

Na Ra mengangguk.
" nanti siang aku juga tidak bisa makan denganmu,minta temani Jae Ra saja ya? "

Yifan menghela nafas.
" baiklah,aku akan menemuinya sekarang,sampai jumpa perempuan sibuk " Yifan mengacak-acak rambut Na Ra sayang.

" aaaakkkkkkk!!! Jangan kau hancurkan rambut halusku ini,makhluk galaxy! "

***

" Jae Ra mana? "

" tidak tau "

" oh begitu,terimakasih "

Yifan keluar dari kelas Jae Ra setelah bertanya pada teman semejanya.Jae Ra belum datang,Yifan mengambil kesimpulan kalau perempuan itu belum datang.

To: Jang Jae Ra.
07:12
Hei,kenapa kau belum datang? apa kau kesiangan? Ingat nona,kau masih memiliki janji denganku.

***

Krrriiiiiiiiiiiinnnnggggg

Bel tanda pelajaran usai berbunyi nyaring membuat seluruh murid mengernyit keheranan.Seharusnya bel itu berbunyi tiga jam lagi di tambah hari ini tidak ada satupun guru yang masuk ke kelas mereka.

Yifan yang sedari tadi tertidur karena bosan teman semejanya hilang entah kemana pun terbangun.Ia menoleh ke samping dan mendapati kursi Joonmyeon masih kosong tidak berpenghuni.

Hari ini benar-benar membosankan.

Yifan menggemblok tasnya lalu berjalan keluar kelas,masih dengan mata mengantuk Yifan berjalan di koridor sekolah.Sesekali menguap lebar tanpa menutup mulutnya,kali ini Yifan berpikir ia akan tampan meskipun dalam keadaan menguap.

" Yifan-ah! Yifan-ah! "

Yifan mengusap-usap kedua matanya untuk memperjelas penghilatannya.Seorang siswa bertubuh pendek berlari menghampirinya.

" Oh Joonmyeon,kau kembali " Yifan berkata datar.

Joonmyeon membungkuk,kedua tangannya memegang kedua lututnya.Nafasnya tersengal-sengal akibat berlari menghampiri Yifan.Ia menegakkan tubuhnya.

" Yifan,Jae Ra— "

Yifan memutar bolamata malas.
" kalau kau bertanya dimana perempuan itu jawabannya aku tidak tau,dia bahkan tidak bisa ku hubungi " jawabnya malas.

Joonmyeon menggeleng keras.
" bukan itu,Yifan.Bukan itu! "

Yifan mengernyitkan dahinya,Joonmyeon yang biasanya menatapnya dengan pandangan teduh kini menatapnya dengan sorot panik dan takut yang kental.

" Jae Ra…Jang Jae Ra—dia—mati bunuh diri,Yifan. "

***

Yifan hanya terdiam memandangi tubuh perempuan yang sudah terbujur kaku di hadapannya.Rasanya Yifan masih tidak percaya,Jae Ra adalah perempuan yang sudah terbujur kaku di hadapannya itu.

-

" Jae Ra mati bunuh diri semalam,dia menggantung dirinya di taman pinggir kota.Guru-guru dan anggota osis langsung menuju rumahnya saat polisi menelepon sekolah tadi pagi "

-

" aku harus apa? aku ingin sekali marah denganmu,Jae Ra.Aku ingin sekali memakimu,bahkan memukulmu.Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau mengingkari janjimu? Tapi—lebih dari semua itu aku hanya ingin menanyakan satu hal,kenapa—kau meninggalkanku? "

Yifan terus menggumam di depan peti jenazah Jae Ra,melihat perempuan yang Yifan kagumi,melihat perempuan yang sudah Yifan anggap seperti sahabatnya.Melihat perempuan yang tegar,terus tersenyum walau ia memiliki setumpuk masalah pelik yang menyakitkan hati.

Yifan menoleh ke belakang saat ia merasa ada seseorang yang menepuk bahunya,ada Na Ra yang tersenyum lembut ke arahnya.Ia menyodorkan secarik kertas putih.

" polisi bilang ini untuk Yifan,dia menemukan surat ini di kantung blazer Jae Ra " ujarnya.

Yifan menerima surat itu lalu menggumamkan kata terimakasih pada Na Ra.

" aku akan tunggu di luar " ucap Na Ra lalu berlalu meninggalkan Yifan bersama Jae Ra.

Tangan Yifan membuka kertas putih yang di lipat menjadi dua,memunculkan sederet tulisan di dalamnya.Bibir Yifan mulai bergerak membaca surat itu.

To: Wu Yifan.
Aku tau kau kecewa padaku,aku tau kau marah dan kesal terhadap apa yang ku lakukan.Aku minta maaf,Yifan.Aku tidak bisa menjelaskan apapun lagi,aku hanya ingin mengatakan kalau aku menyerah.
Terimakasih kau mau menjadi temanku,kau mau menjadi tempat untuk berbagi,terimakasih untuk semuanya,Yifan. :)

p.s: sekarang aku sedang tersenyum,jadi aku menepati janjiku,hehehehe ^^

Yifan mengusap air matanya yang keluar begitu saja,hatinya terasa sakit,sangat sakit.Ia memandang Jae Ra yang terpejam dalam tidur abadinya.

" seharusnya kau bertahan,karena aku ada disini untukmu,Jae Ra.Sampai kapanpun. "

END

Sabtu, 19 Juli 2014

EXO Fanfiction: Come In.

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Cast: Zhang Yixing || Yang Ah Jung (OC) || Kim Jongdae.

***

Langit mulai menampakkan sisi gelapnya,membuat siapa saja yang melihatnya pasti tau,setelah ini akan ada air yang jatuh dari sana.Membasahi tanah tempat dimana makhluk bumi berpijak.

Benar saja.

Tidak sampai satu menit anak perempuan itu memandangi langit gelap yang memayunginya,tetes demi tetes air mulai turun,membasahi rambutnya dan seluruh tubuhnya.Menutupi jejak-jejak air mata yang masih tertinggal di kedua pipinya.

Sempurna.

Sekarang langit pun mendukung suasana duka hatinya.Langit seakan tau,saat ini Yang Ah Jung—anak perempuan itu sedang membutuhkan air hujannya.

Setidaknya Ah Jung tidak perlu berpura-pura menjadi anak perempuan berumur tujuh tahun yang tegar.

" hei "

Ah Jung langsung menolehkan kepalanya ke samping saat telinga kanannya menangkap sebuah suara.

Tau-tau sudah ada anak laki-laki yang manis duduk di sampingnya.

" kenapa sendirian? " tanya anak laki-laki itu ramah.

Ah Jung menatapnya dengan mata memicing,ia tidak menyukai orang yang sok kenal.

" kau siapa? pergi! " seru Ah Jung.Ia bangkit dari kursi panjang berwarna hitam yang sudah satu setengah jam di dudukinya.

Anak laki-laki berpakaian serba hitam itu terkejut,ia membulatkan matanya sempurna saat melihat respon anak perempuan di hadapannya itu.Ia ikut berdiri,memajukan kakinya mendekati anak perempuan itu.

" Namaku Zhang Yixing,aku hanya ingin berteman denganmu " ucap Yixing.

Ah Jung semakin berjalan mundur,berusaha menjauhi anak laki-laki yang bernama Yixing itu.

" aku hanya ingin menemanimu,aku tau kakak-mu baru saja meninggal,aku hanya ingin menghiburmu "

Ah Jung berhenti berjalan,matanya menatap Yixing kosong.Hatinya kembali sakit,Yixing semakin membuat hatinya sakit.Yixing baru saja menamparnya.

Menamparnya dengan kenyataan yang pahit kalau kakak satu-satunya sudah pergi dari sisinya—selamanya.

Ah Jung tiba-tiba terduduk,menangis meraung-raung seperti orang gila.Kedua tangannya mengais tanah merah yang sudah basah di depannya lalu melemparnya,mengaisnya lagi lalu melemparnya lagi.

Ah Jung hanya sedang meluapkan segala kepedihan yang di tahannya satu minggu ini.

Yixing menatap anak perempuan di hadapannya itu dengan tatapan iba.Hatinya ikut teriris melihat betapa menyedihkannya keadaan anak perempuan itu.

***

Ah Jung memasuki rumah besarnya dengan keadaan kacau bukan main.Tubuhnya basah kuyup dengan tanah merah yang menempel di baju dan menutupi kedua tangannya.

" astaga! Ah Jung,sayang.Kau darimana saja?!" pekik wanita dewasa itu seraya berlari menghampiri Ah Jung.Berlutut di hadapan anak perempuan itu,menangkupkan tangannya di kedua pipi Ah Jung yang pucat dan dingin.

Ah Jung menutup mulutnya rapat-rapat,menatap kosong ke depan.Wanita dewasa di depannya ini adalah Ibu-nya sendiri.Orang yang melahirkan dan membesarkannya.

" apa kau ke pemakaman kakak-mu lagi? sayang? jawab Ibu " Nyonya Yang tetap tidak menyerah,ia terus berusaha membuat putri satu-satunya berbicara.

Ah Jung tetap tidak menjawab,hawa dingin semakin menusuk tulangnya,lambungnya yang memang belum tersentuh makanan semenjak tiga hari yang lalu sangat terasa perih,urat-urat kepalanya mulai terasa berdenyut-denyut.Kedua kelopak mata itu perlahan menutup,menyembunyikan bola mata hitam pekat indah milik Ah Jung.

" Ya ampun! Ah Jung! Ah Jung bangun sayang! "

***

Bel berbunyi nyaring memenuhi setiap sudut ruangan sekolah.Bel penanda bahwa kegiatan belajar-mengajar telah usai membuat seluruh murid menengah atas itu berhambur keluar dari kelasnya dengan senyum bahagianya.

Tidak terkecuali perempuan berambut panjang sepinggang yang terus bersenandung senang selama perjalanan pulangnya.Di benaknya,ia sudah menyiapkan banyak cerita yang akan di bagikannya pada satu-satunya teman yang ia miliki selama sepuluh tahun terakhir.

" Yixing! "

" Ah Jung! "

Dua orang remaja itu saling berseru senang sambil melambai-lambaikan tangan mereka.Ah Jung berlari-lari kecil menghampiri Yixing yang sedang duduk di bangku panjang berwarna hitam yang menjadi tempat pertemuannya dengan Yixing untuk pertama kalinya.

Ah Jung menghempaskan tubuhnya di samping Yixing dengan senyum mengembangnya.Ia menghadapkan tubuhnya pada Yixing.

" hari ini aku punya cerita! " serunya antusias.

" apa itu? " sahut Yixing ikut antusias.

Ah Jung menarik nafas panjang,ia selalu suka perasaannya saat akan mulai bercerita dengan Yixing.

" hari ini aku mendapat nilai 10 lagi,semua mata pelajaran! " serunya.

Yixing bertepuk tangan,memberi apresiasi atas kepintaran teman baiknya itu.

" selamat! kau memang yang terbaik! " seru Yixing.

" terimakasih,tapi aku masih punya cerita lagi "

Yixing mengernyit.
" apa itu? "

Kali ini raut bahagia di wajah Ah Jung sirna seketika.Tergantikan dengan ekspresi murung dan bingung yang sangat kentara.

Yixing tidak suka ekspresi itu ada di wajah teman baik-nya.

" ada apa? ceritakan padaku apa yang terjadi? apa ada seseorang yang melukaimu? " cecar Yixing.

Ah Jung menggeleng pelan.
" tidak "

" lalu? ceritakan saja semuanya padaku "

Ah Jung menghela nafas pelan.Mengangkat kepalanya yang menunduk,menatap Yixing dengan tatapan sendunya.

" aku ingin memiliki teman " pelan,Ah Jung bersuara.

Yixing merasa terkejut.
" tapi aku temanmu! " serunya.

" aku tau,tapi maksudku—teman sekolah,Yixing. "

" selama sepuluh tahun ini aku tidak pernah mempunyai teman di sekolah,aku makan siang sendiri di kelas di temani bekal yang ku bawa dari rumah,aku tidak pernah merasakan mengobrol bersama teman-teman perempuan,aku—ingin memiliki teman sekolah " ungkap Ah Jung.Genangan air mulai terlihat di pelupuk matanya.

Yixing menelan ludahnya sendiri,rasanya pahit.Perasaanya mulai tidak karuan,tangan kanannya mulai terangkat pelan,memegang bahu Ah Jung.

" kau punya aku,dan sampai kapanpun aku akan tetap disampingmu—selamanya "

***

Ah Jung bangun dari tidurnya,ini masih tengah malam,tapi tenggorokan keringnya memaksanya membuka mata untuk turun ke lantai satu dan mengambil segelas air dingin.

" Sayang,aku takut… "

Ah Jung berhenti di depan pintu kamar kedua orang tua-nya saat mendengar suara gemetar sang Ibu.

" apa yang kau takutkan,sayang? " Itu suara Ayahnya,ia terdengar khawatir.

" anak kita,Ah Jung " jawab Nyonya Yang.

" kenapa? apa yang kau khawatirkan? Ah Jung terlihat lebih baik daripada sepuluh tahun yang lalu "

Di dalam kamar,Nyonya Yang menggeleng lemah.

" tidak tau,aku hanya merasa khawatir dan takut dengannya " suaranya bergetar.

Tuan Yang merangkul tubuh Istrinya,mendekapnya dengan erat.Ia membelai rambut sebahu Nyonya Yang dengan lembut,menenangkan wanita yang hampir duapuluh lima tahun ini menemaninya.

" tidak ada yang perlu di khawatirkan,tenanglah… "

Isak tangis Nyonya Yang pecah,perasaan khawatir dan takut itu kini menguasai hatinya.Ia sama sekali tidak sanggup mengeluarkan ceritanya sendiri pada sang suami.

Tentang apa yang di lihatnya tadi sore.

***

Ah Jung duduk di tepi ranjangnya,rasa hausnya hilang seketika.Ia menatap karpet bulu kamarnya dengan pandangan menerawang.Otaknya masih berpikir tentang percakapan yang 'tidak sengaja' di dengarnya barusan.Percakapan kedua orang tua-nya.

Apa yang harus di khawatirkan?

Ah Jung hanya tidak habis pikir,apa sebegitu menyedihkan keadaannya selama sepuluh tahun terakhir ini? Sampai-sampai Ibu-nya mengatakan kalau ia khawatir.

Ke-sepuluh jari Ah Jung bertaut,bola matanya tidak berhenti bergerak ke kanan dan ke kiri.

" aku harus mencari teman "

***

Yixing berdiri manis di depan gerbang sekolah Ah Jung pagi ini.Pagi-pagi sekali ia sudah berdiri menunggu perempuan itu.

" Ah Jung! " teriak Yixing saat melihat tubuh Ah Jung yang berjarak beberapa meter darinya.

Ah Jung berlari-lari kecil ke arah Yixing dengan senyumnya yang merekah.

" hei,Yixing! Ada apa pagi-pagi kemari? "

Yixing tertawa kecil.
" kenapa? apa aku tidak boleh menghampiri teman baikku sendiri? "

Ah Jung menggeleng cepat.

" bukan itu maksudku,hanya—heran,ada apa? " tanyanya.

" tidak,aku kesini hanya ingin melihatmu saja " jawab Yixing santai.

Ah Jung mencibir.

" oho! Apa Tuan Zhang rindu padaku? "

" rindu? Cih,aku bosan melihatmu " sahut Yixing.

Tangan kanan Ah Jung yang sudah terkepal mendarat mulus di kepala Yixing.Membuat laki-laki itu menggaduh kesakitan.

" kalau bosan kenapa kesini?! sana pulang ke rumah-mu! sana-sana! " Ah Jung berseru sambil mendorong tubuh Yixing keluar dari wilayah sekolahnya.

Yixing mendengus.
" baiklah,jangan lupa nanti ku tunggu di tempat biasa "

Yixing berjalan keluar dari wilayah sekolah Ah Jung,tujuan pertamanya kali ini selesai.

Ah Jung masih berdiri di depan gerbang sampai ia memastikan bahwa Yixing sudah benar-benar pergi.Ah Jung merasakan seluruh pasang mata menatapnya aneh,mungkin mereka heran kenapa perempuan aneh seperti Ah Jung mempunyai teman.Ia berbalik hendak memasuki sekolah tapi tepukan di pundaknya menginterupsi langkahnya.

" hei "

Ah Jung menoleh dan mendapati laki-laki berseragam sama dengannya sedang tersenyum padanya.Dengan alis bertaut,ia memandangi laki-laki itu bingung.

" aku Jongdae,Kim Jongdae.Kita teman sekelas,aku duduk di belakangmu " ujar laki-laki bernama Jongdae itu.

Ah Jung memang paling tidak suka dengan orang yang sok kenal,tapi mengingat misi-nya yang ingin-mencari-teman Ah Jung memutuskan untuk tersenyum seramah yang ia bisa.

" ohh,halo aku Yang Ah Jung " Ah Jung menunduk sopan.

Jongdae tertawa,tawa yang membuat telinga Ah Jung nyaman mendengarnya.

Terdengar menyenangkan,ditambah eye smile laki-laki itu

" kenapa aku terlihat seperti kakak kelas,ayo kita masuk bersama! "

Jongdae merangkul santai pundak Ah Jung,berlagak seperti ia adalah teman lama Ah Jung.Jongdae hanya ingin menghapus pandangan buruk teman-temannya tentang Ah Jung.

Kalau Ah Jung sebenarnya juga anak perempuan biasa.

***

" Yixing! "

Ah Jung berseru senang sambil menjatuhkan tubuhnya di samping Yixing.

" apa yang terjadi seharian ini? " tanya Yixing.

Ah Jung mengelap keringat yang ada di pelipisnya.

" hari ini hari yang sangaaatttt menyenangkan! " serunya.

" oya? ceritakan apa yang membuat hari ini hari yang sangaaatttt menyenangkan! "

" hhhahhh,Yixing aku yakin kau juga akan sangat senang saat mendengarnya " ucap Ah Jung.

" apa kali ini kau mendapat nilai sepuluh lagi? " tebak Yixing.

Ah Jung menggeleng cepat.
" teng! "

Yixing kembali mengerutkan dahinya,apa yang membuat Ah Jung se-senang ini selain dapat nilai sepuluh?

" kau menyerah? " Ah Jung tersenyum jahil.

Yixing mengangguk pasrah.

" aku punya teman sekolah! teman sekolah,Yixing! "

Ah Jung mengenggam kedua tangan Yixing dan menggoyang-goyangkannya.Tertawa lepas adalah hal yang belum pernah Yixing liat di wajah Ah Jung selama sepuluh tahun ini.

" aku lupa kapan terakhir kali aku merasa se-senang ini  "

Yixing berusaha tetap tersenyum pada Ah Jung.

Ah Jung masih menggenggam tangan Yixing,ia mengubah posisinya menghadap ke depan,menyenderkan kepalanya pada sandaran kursi sambil memejamkan mata.

" namanya Jongdae,Kim Jongdae.Dia teman sekelasku,duduk di belakangku.Anaknya ramah dan yang paling penting dia suka membuat lelucon.Oh! Jangan lupakan suaranya yang merdu itu.Hari ini aku mendengarnya menyanyi satu kali.Rasanya— "

Ah Jung menggantungkan kalimatnya,matanya masih terpejam mengingat manisnya perasaanya saat mendengar suara Jongdae tadi.

Ia merasa pernah mendengar suara itu.

" rasanya? " Yixing bertanya penasaran.

" aku seperti mendengar suara Baekhyun Oppa "

***

Sebuah tangan terkepal mengetuk pintu berwarna biru laut itu dengan sopan.

" eoh? Jongdae-ya! "

Nyonya Yang berseru senang manakala melihat laki-laki bersuara nyaring itu berada di balik pintu rumahnya.

Jongdae tersenyum lebar lalu menunduk sopan.

" annyeonghaseyo,omoni " sapanya.

" ayo-ayo masuk ke dalam! " seru Nyonya Yang menarik tangan Jongdae masuk ke dalam rumahnya.

Nyonya Yang dengan perasaan kelewat senangnya itu mengajak Jongdae untuk duduk di sofa ruang tamu.

" terimakasih kau mau berteman dengan Ah Jung " ucap Nyonya Yang.

Jongdae tertawa kecil.

" sama-sama,aku juga senang bisa berteman dengannya " sahutnya.

" apa kau kesini ingin bertemu dengan Ah Jung? "

Jongdae baru saja membuka mulutnya,tapi Nyonya Yang bertepuk tangan membuat jantungnya ingin melompat karena terkejut.

" ahhh bodoh! kenapa aku malah bertanya seperti itu,tentu saja kau kesini ingin bertemu dengannya,sebentar akan ku panggilkan "

Nyonya Yang beranjak dari sofa lalu naik ke atas,ke kamar putri satu-satunya.

Sementara Nyonya Yang ke atas,mata Jongdae berkeliling menjelajah seluruh sudut ruang tamu.Ia beranjak dari sofa dan berjalan ke arah meja panjang dekat jendela.Di atas meja itu berjejer foto kedua anak Tuan Yang dan Nyonya Yang.

Yang Ah Jung dan Yang Baekhyun.

Tangan Jongdae terulur mengambil satu figura foto yang memamerkan senyum lebar Ah Jung dan Baekhyun.Foto saat Baekhyun kecil memegang gitar kebesaran di pangkuannya sambil tersenyum lebar dan Ah Jung kecil yang tertawa lepas.

" itu saat aku dan Baekhyun Oppa ada di taman belakang "

Suara Ah Jung berhasil membuat Jongdae terkejut,dengan gerakan cepat ia meletakkan figura foto itu ke tempat asalnya dan berbalik badan.

" ma—maaf aku sudah lancang " ucapnya gugup.

Ah Jung tertawa kecil.

" kenapa kau tegang? tenanglah,aku tidak akan menendangmu keluar dari rumah ini "

Jongdae meringis sambil menggaruk tengkuk lehernya.

Jongdae merasa tangannya menghangat,Ah Jung menggenggam pergelangan tangannya.

" ayo ikut denganku,ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu "

Ah Jung tersenyum manis pada Jongdae,membuat Jongdae menyadari sesuatu.

Ia mulai menyukai Ah Jung.

***

" ini sewaktu aku dan Baekhyun Oppa pergi ke pantai "

Ah Jung menunjuk foto dua bocah kecil yang sedang membuat istana pasir,ekspresi mereka terlihat serius dengan riasan pasir pantai di pipi bahkan ujung bibir mereka.

Ah Jung tertawa kecil.Mengingat betapa konyolnya ia dan kakaknya dulu.Rela mencicipi asinnya pasir hanya untuk membuat istana pasir yang berujung hancur setelah satu detik terbentuk.

Baekhyun dengan hebohnya meloncat dan menyenggol istana pasir yang susah payah mereka buat.

" lalu kau menangis? " tanya Jongdae setelah ia selesai tertawa.

Ah Jung menggeleng.

" tidak,aku tidak menangis,aku langsung menendang kakak-ku waktu itu,setelah itu kami pergi ke toko ice cream dan membeli ice cream bersama "

Ah Jung memandangi foto dirinya dan Baekhyun yang sedang menjilat ice cream.Ia tersenyum lemah.

" hal yang selalu kami lakukan setelah bertengkar " ucapnya.

Tangan kanan Jongdae terangkat,merangkul pundak teman perempuan nya sambil tersenyum lembut.

" kau rindu padanya? "

Ah Jung menghela nafas.

" yaaaa...begitulah,walaupun aku sering menendang kakak-ku karena dia sering menginjak boneka ku,walaupun aku sering menjambaknya karena cicak karetnya,walaupun aku terlihat begitu tidak menyukainya tapi aku sangat merindukannya.Aku merindukan tawa lepasnya yang hangat,senyum kotak-nya,dan kejailannya.Aku— "

Ah Jung berhenti,ia menggigit bibir bawahnya menahan tangis yang pecah.Perasaan sakit ini tidak berubah sejak dulu.Sejak Baekhyun di temukan mengapung di kolam renang rumah mereka sepuluh tahun yang lalu.

" Aku merindukannya,Jongdae.Sangat… "

Akhirnya Jongdae mendengar tangisan memilukan sepanjang hidupnya.Temannya yang satu ini menangis kencang sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

" tidak apa-apa,kau menangislah sepuasmu sampai kau merasa lebih baik " ucapnya lembut.

Setelah Jongdae menghitung dalam hati,Ah Jung menangis selama lima menit tujuhbelas detik.Perempuan itu menghapus air matanya sendiri lalu mendongak menatap Jongdae dengan senyum tipis.

" kau mirip Baekhyun Oppa " ucapnya serak.

Jongdae membulatkan matanya,refleks telunjuknya menunjuk hidungnya sendiri.

" a—ku?  mirip dengan Oppa-mu? "

Ah Jung mengangguk cepat.

" caramu tersenyum,tawa lepasmu,lawakanmu,dan—suaramu,kau mirip dengannya " ujar Ah Jung.

Jongdae terlihat salah tingkah,bahkan ia tidak menyadari kemiripan yang dibicarakan Ah Jung barusan walaupun perempuan itu sudah menceritakan semua tentang Baekhyun padanya.

" karena itu aku mengajakmu kemari,di taman ini aku dan Baekhyun Oppa menghabiskan waktu bermain kami "

Jongdae mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.Masih merasa canggung dengan suasana yang ada ia berdehem,mencoba menetralkan suasana gugup di hatinya.

Walaupun ragu,Jongdae mulai memberanikan diri menatap Ah Jung.

" kalau begitu,kau mau aku bernyanyi? "

" eum,menyanyilah,aku ingin kau bernyanyi "

***

Laki-laki itu duduk diam di atas kursi panjang berwarna hitam.Wajahnya sangat berbeda dengan suasana langit cerah di atas sana.

Yixing hanya sedang berharap hatinya yang kacau akan segera membaik.Yixing hanya sedang berharap amarah yang menguasai hatinya ini tergantikan dengan ketenangan.Yixing hanya sedang berharap—ah tidak,Yixing lelah berharap yang harus dilakukan laki-laki itu adalah berusaha.

Ya,Yixing harus berusaha agar ia tidak lagi merasa kacau atau marah.

Dengan satu anggukan tegas,ia berdiri dari kursi dan melangkah pergi dari  tempatnya dengan satu sudut bibir yang terangkat ke atas.

***

Senyuman itu tidak lepas dari bibir merah muda perempuan remaja itu.Sejak Jongdae menyapanya waktu itu Ah Jung mulai merasa bahwa sekarang bunga di hatinya mulai berkembang kembali.

Ia mulai menyukai Jongdae.

Deringan ponsel pintar Ah Jung menginterupsi kesenangan perempuan itu.Dengan mata berbinar ia segera menggeser layar ponselnya.

" hei Jongdae! "

" eoh? hei! Dari suaramu kau terdengar senang sekali menerima teleponku " ucap Jongdae dari seberang sana dengan nada meledek.

Ah Jung tertawa malu,dalam hatinya ia terus mengutuk suara melengking yang keluar dari pita suaranya.

Seharusnya ia bersikap lebih anggun tadi.

" apa kau sudah sampai rumah dengan selamat? " tanya Ah Jung berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

" tentu saja! aku kan sudah pulang dari rumahmu sejak tiga jam yang lalu,tentu saja aku sudah sampai dan tentu saja aku selamat " balas Jongdae setelah itu terdengar tawa geli dari ujung sana.

Tangan kiri Ah Jung yang terkepal memukul ujung kepalanya pelan,sekarang ia mengutuk otak pintarnya yang mengeluarkan pertanyaan bodoh seperti itu.

Seharusnya ia sadar ini sudah pukul sembilan malam.

" Ah Jung-ah " panggil Jongdae.Nada suaranya mulai serius.

Ah Jung menelan ludahnya sendiri,ada sensasi aneh di dalam aliran darahnya,perempuan itu merasa darahnya berdesir hebat,jantungnya berdetak lebih cepat serta perutnya yang terasa mules.

Apa Jongdae akan menyatakan perasaannya?

Apa Jongdae juga menyukainya?

Apa yang harus Ah Jung lakukan kalau Jongdae benar-benar menembaknya?

Ahh,tentu saja menerimanya,Ah Jung bodoh!

Setelah dua menit tidak bersuara tiba-tiba terdengar suara tawa kecil dari ujung sana.

" tidak,aku hanya ingin mengatakan senang bertemu dan menjadi temanmu "

" ohh—ha-ha-ha-ha,aku juga " sahut Ah Jung dengan tawa aneh yang keluar dari mulutnya.

Oh,sekarang Ah Jung mulai merutuki hatinya yang terlalu banyak berharap.

Seharusnya Ah Jung tau ia dan Jongdae baru berteman sejak satu minggu yang lalu.

" Sekarang sudah malam,tidurlah dan mimpi yang indah.Yang Ah Jung " Jongdae berkata lembut.

Tanpa sadar kedua sudut bibir Ah Jung tertarik saat Jongdae menyebut nama lengkapnya.

" eum,kau juga,Kim Jongdae "

Ah Jung meletakkan ponselnya di nakas,ia berbaring di atas kasur lalu menarik selimut tebalnya.Memejamkan kedua kelopak matanya sambil tersenyum manis.Hatinya sangat luar biasa bahagia sekarang.

Mungkin kalau saja Ah Jung tidak memejamkan matanya,ia akan merutuki matanya karena tidak melihat seseorang sedang berdiri di samping jendela kamarnya sejak tadi.

Seharusnya Ah Jung tau kalau ia tidak sepantasnya membuat perasaan Yixing bertambah kalut.

***

Keadaan kamar Jongdae gelap total.Ini sudah tengah malam tapi laki-laki itu belum juga memejamkan kedua kelopak matanya.

Jongdae tidak bisa tidur,perasaanya kelewat bahagia sekarang.Ucapan selamat tidur Ah Jung terus terdengar di telinganya,seakan perempuan itu selalu berucap setiap satu detik.

Sebenarnya ia ingin menyatakan perasaanya pada Ah Jung saat di telepon tadi,tapi anehnya yang keluar bukan perasaan suka-nya.

Jongdae payah.

Ia terus merutuki dirinya sejak tadi,ia terus memutar otaknya agar menemukan cara yang tepat untuk menyatakan perasaannya pada Ah Jung.

Jongdae harus segera menyatakan perasaannya sebelum semua terlambat.

Knop pintu kamar Jongdae bergerak turun,memuncul sosok tinggi tegap yang tidak bisa ia lihat karena lampu kamarnya sudah padam sejak tiga jam yang lalu.

Dengan alis bertaut Jongdae berujar.

" Ayah? "

***

Telinga Ah Jung bergerak menangkap sebuah suara yang menganggu tidur nyenyaknya.

Telepon rumahnya berdering kencang di tengah malam.

Ya,jam dua belas baru lewat satu menit tapi telepon rumahnya itu sudah berisik membuat tidur damainya terganggu.

Dengan decakkan kesal Ah Jung menyibakkan selimutnya kasar,dalam hati terus bertanya kenapa Ibu dan Ayahnya tidak mendengar suara menganggu itu padahal telepon rumah mereka terletak di depan kamar kedua orang tuanya.Ah Jung menyeret kakinya malas,sekuat mungkin berusaha membuka mata agar ia tidak berguling melewati tangga.

Sambil menggaruk rambutnya Ah Jung mengangkat gagang telepon.

" Ya halo " Ah Jung bersuara pelan.Mulutnya menguap lebar.

Tidak ada jawaban dari sana,yang ada hanya bunyi langkah cepat seseorang yang menyeret kakinya.Setelah itu Ah Jung hanya mendengar suara aneh yang membuat alisnya menyatu.

Seperti suara benda jatuh ke dalam air.

" ck,kenapa di dunia ini ada orang yang hobi menganggu tidur seseorang,sih "

***

Cahaya matahari pagi mulai menyusup lewat celah jendela kamar Ah Jung.Perempuan itu membuka matanya lalu menyipitkan matanya karena silaunya cahaya matahari.

Ah Jung turun ke lantai satu untuk menikmati sarapan pagi bersama Ayah dan Ibu-nya.

" Bu,Yah,semalam ada telepon apa Ibu dan Ayah tidak dengar? "

Sambil menyantap sup-nya Ah Jung menatap kedua orang tuanya bergantian.

Tuan Yang menggeleng.
" tidak,mungkin Ayah terlalu lelah jadi tidak dengar "

Nyonya Yang mengerutkan dahinya,semalam ia tidak mendengar suara deringan telepon.

" tidak,memangnya siapa yang menelpon? " tanyanya.

Ah Jung mengendikkan bahu.

" hanya orang iseng yang hobi menganggu tidur seseorang,baguslah Ibu dan Ayah tidak mendengarnya "

Ah Jung meneguk air putihnya lalu mengelap mulutnya dengan tisu makan.

" Bu,Yah aku ingin pergi ke rumah Jongdae "

***

Sambil bersenandung Ah Jung berjalan santai di jalanan kompleks tempat Jongdae dan keluarganya tinggal.Tangan kanannya memegang plastik berisi buah-buahan yang ia beli dari toko buah yang baru saja dibuka.

Ah Jung sudah sampai di depan pintu rumah Jongdae,ia baru tau kalau keluarga Jongdae sudah mengenal keluarga-nya sejak dulu.Dengan senyuman kecil Ah Jung memikirkan bagaimana terkejutnya Jongdae saat melihatnya pagi-pagi begini ada di rumahnya.

Baru saja tangan terkepal Ah Jung ingin mengetuk pintu bercat coklat itu.Matanya lebih dulu membulat mendengar teriakan Nyonya Kim dari dalam.

" ASTAGA! JONGDAEEEEEEE!!!!!! "

Dengan gerakan cepat Ah Jung membuka pintu rumah Jongdae yang tidak terkunci,berlari masuk ke dalam rumah Jongdae menuju sumber suara.

Perkiraan Ah Jung salah.

Justru,ia yang dibuat terkejut melihat Jongdae pagi-pagi begini sudah terapung di atas kolam renang.

" Jongdae…KIM JONGDAEEEEE!!!!! "

***

Langit mulai gelap,matahari sudah kembali bersembunyi di rumahnya.Tapi perempuan itu masih berada di posisinya sejak ia pulang dari tempat yang paling ia benci dan selalu ia benci.

Pemakaman.

Setelah Jongdae ditemukan mati mengapung,mayatnya langsung di mandikan dan di makamkan.Tidak ada niat keluarga Jongdae untuk melakukan otopsi jasad anggota keluarganya itu.Mereka semua berpikir Jongdae terpeleset dan jatuh ke kolam renang.

Walaupun faktanya Jongdae pernah menjadi juara satu lomba berenang tingkat provinsi.

" sama seperti Baekhyun Oppa… " gumam Ah Jung sambil menatap kosong ke air yang tenang.

Mungkin sekarang kulit kedua kaki Ah Jung mulai mengeriput karena sejak jam sepuluh pagi ia sudah duduk di pinggir kolam renang sambil mencelupkan kedua kaki-nya.Ibu-nya sudah lelah berteriak dan membujuk Ah Jung makan,Ayah-nya hanya dapat menghela nafas sambil terus berdo'a.Teman-teman-nya…

Ahhh,Ah Jung tidak punya teman selain Jongdae dan juga…

" Yixing " gumam Ah Jung pelan.

Tiba-tiba Ah Jung ingin bertemu Yixing.Menceritakan segala perih yang ia rasakan sekarang,menumpahkan segala sakit yang tertahan.

" kau memanggilku? "

Ah Jung langsung mendongak saat mendengar suara Yixing.Ia tersenyum tipis melihat Yixing ada di seberang kolam renang.

" Yixing " Ah Jung kembali bergumam.

Yixing tersenyum manis.

" jadi apa ada yang ingin kau ceritakan? " tanyanya.

Ah Jung mengangguk.

" aku kehilangan temanku " jawabnya.

" kau tidak kehilanganku,Ah Jung " ucap Yixing tetap dengan senyumnya.

" bukan,bukan kau,Yixing.Tapi Jongdae "

Air muka Yixing berubah seketika,senyum itu tidak lagi terpampang di wajahnya yang manis bak malaikat.

Kenapa selalu Jongdae?

" dia meninggal,terapung di air,dia meninggal,Yixing " ucap Ah Jung bergetar.Air matanya kembali mengalir mulus melewati pipi tirusnya.

" aku tidak tau kenapa,tapi aku tidak bisa kehilangan Jongdae,aku ingin selalu bersamanya—selamanya.Bersama Jongdae,aku merasa seperti bersama Baekhyun Oppa,mereka mirip "

Yixing menatap Ah Jung datar,ucapan Ah Jung barusan seperti pisau daging yang mencacah hatinya sampai hancur.

" mereka terlalu mirip " Yixing beruara.

Ah Jung mengangguk.

" iya,mereka mirip "

" benar katamu,mereka mirip,bahkan bisa dibilang terlalu mirip, sama-sama menyebalkan " ucap Yixing.

Ah Jung tersentak kaget,apa yang Yixing katakan? Jongdae dan Baekhyun menyebalkan? Apa maksudnya?

" kau selalu memikirkan mereka,sampai-sampai kau tidak mempunyai waktu untuk ku,kau tidak sadar kalau aku selalu di sampingmu sejak dulu " ujar Yixing.

" apa maksudmu,Yixing? "

" kau tidak penasaran kenapa aku tidak pernah menunjukkan rumahku? " tanya Yixing.

Ah Jung terdiam,selama ini ia selalu bertemu Yixing di kursi panjang berwarna hitam yang terletak di samping pemakaman.

Di samping pemakaman.

Ah Jung menatap Yixing dengan tatapan tidak-mungkin-kau-berbohong.

" kau tidak penasaran kenapa aku tidak sekolah sama sepertimu? " Yixing bertanya lagi.

Ah Jung tetap diam tidak bersuara,hatinya mengatakan ia harus menunggu Yixing menjelaskan semuanya secara jelas.

" kau tidak penasaran kenapa aku selalu memakai baju ini sejak pertama kali kita bertemu? "

Ah Jung langsung berdiri,seluruh tubuhnya bergetar hebat seketika.

Sungguh ia tidak menyadari itu.

Kaus lengan panjang berwarna hitam dan celana jins.

Persis seperti sepuluh tahun yang lalu.

Mereka berdua sama-sama terdiam,Ah Jung memandang Yixing dengan tatapan tidak percaya sedangkan Yixing menatap Ah Jung datar.

Satu sudut bibir Yixing terangkat ke atas.

" dan— " Yixing bersuara.

Jeritan Ah Jung tertahan di pangkal tenggorokan,suaranya sama sekali tidak bisa ia keluarkan manakala melihat kilatan merah ada di sepasang mata Yixing.

Mata yang selalu menatapnya dengan lembut dulu.

" apa kau tidak penasaran kenapa Baekhyun dan Jongdae mati dengan cara yang sama? "

Ah Jung menutup mulutnya,air matanya semakin mengalir deras.Kedua kakinya seolah kaku tidak bisa bergerak,membuat Ah Jung terlihat panik.

" jangan takut Ah Jung,aku Zhang Yixing,temanmu " ujar Yixing dengan nada lembut yang dibuat-buat.

Ah Jung menggeleng keras,dia bukan Yixing! dia bukan Yixing teman Ah Jung!

" datanglah padaku seperti dulu kau sering datang padaku untuk bercerita,datanglah padaku dan ku pastikan kau tidak akan pernah menangis lagi " ujar Yixing.

Ah Jung tetap menggelengkan kepalanya,dalam hati terus mengumpati Yixing.

Yixing sudah tidak waras.

Begitu kata hatinya.

Yixing mengulurkan tangannya ke depan,dengan seringaian di bibirnya ia menggerakkan telunjuknya membuat tubuh Ah Jung perlahan tapi pasti mendekati kolam renang.

Ah Jung menggeleng-gelengkan kepalanya,menatap Yixing dengan tatapan tolong-jangan-lakukan-ini-Yixing.Tapi Ah Jung sudah terlanjur membuat Yixing sakit hati.Ah Jung sudah terlanjur membuat Yixing terluka.

Tubuh Ah Jung berada di tengah-tengah kolam,dengan satu hentakan keras Yixing menghempaskan telunjuknya kebawah membuat tubuh Ah Jung tenggelam di dalam air.

Yixing terus menahan telunjuknya ke bawah,membiarkan Ah Jung berada di bawah air,membiarkan orang yang disukainya kesulitan bernafas.

Dan membiarkan Ah Jung meninggal dengan cara tenggelam di dalam kolam renang.

Yixing tidak ingat kapan terakhir kali ia sesenang ini.

END

Senin, 30 Juni 2014

EXO Fanfiction: Be a Ssang Namja.

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: Friendship,Romance-maybe-

Cast:
- Oh Sehun
- Cho Eun Hyun (OC)

Support Cast:
- Kim Jongin
- Cho Khyuhyun

Disclaimer: akhirnya jadi jugaaaaaaaa,ini permintaan orang yang sama seperti sebelumnya,temenku tercintah *asek* Hirza Qalby Tazkia.Maaf kalo gak dapet feel-nya atau kurang berkenan.Enjoy^^

Sebelumnya :
- Half Of My Heart
- All About Him
- Goodbye Summer

***

Sepasang mata itu mengerling menatap roda pesawat yang mulai bergesekan dengan aspal bandara lewat jendela pesawat.Setelah duabelas jam ia duduk manis di pesawat,menghabiskan setengah dari harinya untuk berdiam diri memandangi langit,kini saatnya ia menghirup udara tanah kelahirannya yang tiga tahun ditinggalkannya.

" yeah,i'm backkk!! "

Perempuan berambut panjang bergelombang dengan tinggi semampai itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.Bibirnya menyungging lebar memperhatikan orang-orang yang juga lalu-lalang turun dari pesawat.

Setelah melewati beberapa pemeriksaan oleh petugas,perempuan itu berhenti berjalan dan meletakkan satu tangannya di atas kedua alisnya; mencari seseorang yang menjemputnya.

Ponselnya berdering tanda telepon masuk.Perempuan itu merogoh kantung jins-nya dan menggeser tombol berwarna hijau itu.

" Ya! Kau dimanaaa?! "

Perempuan itu meringis sambil menjauhkan telinganya dari ponsel saat panggilannya di sambut dengan seruan yang menyakitkan gendang telinganya.

" aish! Bisa tidak kau tidak berteriak padaku,huh?! " sungut perempuan itu.

" baiklah,baiklah,sekarang kau dimana? pakai baju apa? " laki-laki di seberang sana mulai bertanya lembut.

Perempuan itu menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri berusaha mencari petunjuk masuk akal yang dapat ia katakan kepada si laki-laki itu agar dapat menemukannya.

" aku berdiri di dekat toko Bubble Tea,dan baju yang ku pakai sekarang adalah kaus lengan panjang warna abu-abu dan celana jins "ujarnya.

" eoh? Toko Bubble Tea? "

" hmm "

tut.

Perempuan itu mengernyit heran manakala sambungan teleponnya di putus begitu saja.

" Oh Sehun ini gila atau apa? kenapa dia mematikan teleponnya? " gerutunya kesal.

Perempuan itu meniup poni-nya pasrah,terserah laki-laki bernama Oh Sehun itu akan kebingungan mencarinya di seluruh sudut di bandara ini,yang terpenting ia harus segera pulang dan merebahkan diri di kasur empuknya.

Baru saja tangannya akan kembali menggeret koper biru dongker-nya mata lebih dulu menangkap siluet sosok tinggi yang berjarak empat meter dari tempatnya berdiri.Laki-laki tinggi berambut coklat gelap dengan poni sampingnya memakai kaus putih yang di lapisi jaket berwarna biru laut serta celana jins.Laki-laki itu tersenyum menunjukkan eyesmile-nya sambil melambaikan tangan.

" EUN HYUN-ah! EUN HYUN-ah! "

Sehun berseru sambil melompat-lompat kecil dari tempatnya,berharap kalau orang yang di panggilnya itu merespon panggilannya.

Kaki-kaki panjangnya melangkah lebar dengan senyuman yang tidak kalah lebar menunjukkan deretan gigi putihnya.Sehun merentangkan tangannya lalu membawa Eun Hyun kedalam dekapannya,memeluk perempuan-yang masih tidak bergerak itu-erat.

" aku merindukanmu,sungguh aku merindukanmu "

Tubuh Eun Hyun terasa hangat dan lemas saat Sehun membisikan kalimat itu di balik punggungnya.Kedua tangannya yang sedari tadi diam kini perlahan naik ke atas punggung Sehun.

" hmm,aku juga,Sehun "

***

Setelah puas melepas rasa rindu masing-masing Sehun dan Eun Hyun memilih langsung pulang.Sehun langsung mengambil alih koper Eun Hyun dan berjalan mendahului perempuan itu.

" hei,Sehun " panggil Eun Hyun saat mereka sudah di dalam mobil.

" apa? " Sehun menyahut ia memalingkan wajahnya menatap Eun Hyun dengan eskpresi luar biasa senangnya.

Percaya atau tidak,ini adalah hari yang paling di tunggu Sehun selama tigatahun terakhir.Ini hari-nya seorang oh Sehun.

Eun Hyun yang di tatap mata mengerling Sehun langsung menelan ludah sambil mengerjapkan matanya.Tigatahun berkomunikasi dengan Sehun lewat telepon atau skype membuatnya lupa cara menjaga sikap di depan Sehun.

" kau sekarang kerja? " tanya Eun Hyun setelah menormalkan detak jantungnya.

Sehun mengangguk lalu kembali fokus ke depan.

" kerja apa? "

" pelatih dance "

Eun Hyun mengernyitkan dahi-nya menatap sisi wajah Sehun tidak percaya.Oh Sehun koreografer?

" jangan bilang kau lupa kalau aku memang suka menari " ucap Sehun sambil mengerucutkan bibirnya.

Eun Hyun menggeleng cepat.Bukan lupa,hanya tidak percaya Sehun benar-benar menjadi pelatih dance.Eun Hyun kira bocah itu hanya bercanda saat dulu mengatakan kalau ia ingin menjadi pelatih dance suatu saat nanti.

Eun Hyun hanya kurang percaya Sehun bisa se-konsisten itu.

" kau sendiri? apa yang akan kau kerjakan di sini? " tanya Sehun.

Eun Hyun meletakkan telunjukkan di bibir,alisnya bertaut.Ia sedang berpikir.

" dokter "

" dokter? Kau akan menjadi dokter? " Sehun berteriak heboh.

" yep! dokter,teman Ayahku bekerja di rumah sakit Seoul,dia menawariku bekerja disana  "

" wahh,kalau begitu nanti aku akan jadi pasienmu,pasien pertama Cho Eun Hyun "

Eun Hyun menoleh " memangnya kau sakit? kalau kau tidak sakit kau tidak bisa menjadi pasienku,Sehun "

" aku sakit,aku akan sakit saat kau menjadi dokter,aku akan sakit supaya kau merawatku " ucap Sehun masih fokus melihat ke depan.

Sehun menolehkan kepalanya,menatap Eun Hyun sambil tersenyum lebar.

" pokoknya aku harus menjadi pasien pertama mu,tidak mau tau bagaimanapun caranya,aku harus menjadi pasien pertamamu! "

***

Eun Hyun tersenyum saat melihat bayangan dirinya di cermin besar yang menyatu dengan pintu lemari pakaiannya.Jas putih dokter terlihat begitu cocok di tubuh rampingnya.

Eun Hyun menyematkan jepit rambut berwarna putih bermotif bunga berwarna biru di sudut kiri rambut gelombangnya.Jepit rambut yang Sehun berikan padanya sebagai kado ulang tahunnya yang ke limabelas.

Sehun memang pelit soal kado.

Tapi tetap saja Eun Hyun menyukai apapun yang Sehun berikan padanya,bahkan Eun Hyun suka greeting card buatan Sehun yang ia buat dari kertas karton.Walaupun kelihatannya seperti anak sekolah dasar-Sehun menggambar balon di setiap sudutnya dan tulisan laki-laki itu yang jauh dari kata bagus-tapi Eun Hyun tetap menyukainya.

" aish! kemana bocah itu?! "

Eun Hyun menggerutu kesal karena Sehun yang tidak kunjung memunculkan batang hidungnya.Semalam bahkan Sehun sangat bersemangat dan mengatakan ia akan mengantar Eun Hyun ke rumah sakit dan menjadi pasien pertamanya.

Tapi kenyataannya?

" bahkan kau tidak menjawab teleponku,dasar mulut besar "

Dan dengan satu dengusan kesal Eun Hyun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit menaiki bus.

***

Bunyi roda ranjang pasien yang di dorong oleh beberapa suster menggema di seluruh sudut lorong rumah sakit.Seorang laki-laki muda yang terluka parah terlihat tidak berdaya di atasnya.Para suster-suster itu memasukkannya ke dalam ruang ICU.

" bagaimana ini?! dokter-dokter belum ada yang datang,ini masih terlalu pagi.Apa yang harus kita lakukan?! " seru seorang suster yang memakai kacamata dengan nada panik yang sangat kentara.

Suster yang bertubuh gempal juga tidak kalah panik,ia menggigit bibir bawahnya sambil menatap laki-laki muda yang terluka parah.

" Ya! Jangan diam saja,cepat lakukan sesuatuuu!! " seru suster lain yang bertubuh kurus.

" aku akan keluar,siapa tau ada dokter yang baru datang " usul suster bertubuh gempal tadi.Ia berlari keluar ruang ICU setelah mendapat anggukan dari teman-temannya.

Suster bertubuh gempal itu terus berlari,berharap ada seorang dokter yang baru datang dan menyelamatkan nyawa laki-laki tadi.Ia dan teman-temannya hanya suster jaga yang bertugas mengecek kondisi pasien; memeriksa tekanan darah,cairan infus,menyuntikkan vitamin,memberi makanan sesuai jam-nya.Bukan suster-suster yang biasa mendampingi dokter saat melakukan tindakan.

" Dokter! Dokter! "

Suster itu berteriak kencang saat melihat perempuan tinggi memakai jas dokter memasuki rumah sakit.Ia berlari ke arah perempuan itu.

" Dokter..hhh..tolong..hhh..ada..hhh..pasien..hhh...terluka...hhh "

***

Sehun membuka matanya perlahan,matanya terbelalak saat melihat cahaya matahari yang sudah luar biasa terang di luar sana.Ia langsung menyibakkan selimut dan meraih ponsel yang berada di nakas-nya.

" ah sial! " umpatnya kesal.

Tujuhbelas panggilan tidak terjawab dan lima pesan.

From: Eun Hyun.
05:56
Aku berangkat naik bus.

Sehun mendudukkan tubuhnya di kasur sambil menghela nafas kasar.Menyesal karena semalam tidur terlalu larut hanya karena menonton piala dunia.

" apa aku masih bisa menjadi pasien pertamanya? "

***

Eun Hyun menghela nafas panjang,ia baru saja melakukan penanganan terhadap pasien pertamanya.Seorang laki-laki muda berkulit agak gelap yang terluka parah.Suster-suster itu mengatakan kalau laki-laki muda itu berjalan terseok-seok ke rumah sakit pagi-pagi buta dengan luka lebam di wajah serta luka tusuk di perutnya.

" apa dia gangster? " gumam Eun Hyun sambil memandangi wajah damai laki-laki yang sedang memejamkan matanya itu.

" eung... "

Eun Hyun membulatkan matanya saat mendengar lenguhan yang keluar dari bibir laki-laki itu.Perlahan kedua kelopak mata itu terbuka,memunculkan sepasang bola mata berwarna coklat gelap yang indah.

Laki-laki itu mengerjap pelan,bola matanya langsung mengarah pada perempuan yang tersenyum memandangnya.

" apa anda baik-baik saja? " tanya Eun Hyun lembut.

Laki-laki itu diam tidak menjawab,ia hanya memandang bingung kepada Eun Hyun.

" Saya dokter yang menangani anda,Jongin-ssi.Nama saya Cho Eun Hyun " ucap Eun Hyun yang sadar jika laki-laki itu mungkin bingung dengan dirinya.

" kau tau namaku? " tanya laki-laki itu dengan suara serak.

Eun Hyun menggaruk tengkuknya sambik meringis.

" maaf,saya memeriksa dompet anda,rumah sakit ini butuh identitas anda "

Laki-laki bernama Jongin itu hanya mengangguk pelan.

" anda benar-benar baik-baik saja sekarang? Apa ada yang sakit? "

Jongin mengangguk pelan.
" perutku terasa kaku "

Eun Hyun tersenyum memaklumi.
" perut anda harus di jahit karena mengalami luka sobek,Jongin-ssi " ungkap Eun Hyun.

" terimakasih sudah menolongku " ujar Jongin dengan senyum tipis di balik bibir pucatnya.

***

" aku minta maaf tidak menjemputmu kemarin pagi,aku sungguh-sungguh kesiangan "

Sehun terus saja berseru sambil mengekor di belakang Eun Hyun yang mengacuhkannya sejak dia datang mengunjungi Eun Hyun di rumah sakit.

" aku harus melakukan apa supaya kau berhenti mengacuhkanku? " tangan besar Sehun menarik lengan kurus Eun Hyun,memaksa perempuan itu untuk berbalik menghadapnya.

" aku ingin memeriksa pasien pertamaku,Sehun.Bisa berhenti mengikutiku? " Eun Hyun bertanya dengan dingin.

Pegangan tangan Sehun langsung lepas detik ketika Eun Hyun menyebutkan kalimat 'Pasien Pertama'.Apa dia sudah terlambat sekarang?

" kau—sudah memiliki pasien? " tergagap,Sehun bertanya.

Eun Hyun mengangguk.

" dan itu bukan dirimu "

***

Eun Hyun menghela nafas berkali-kali untuk meredakan malu yang ada di dalam dirinya.Sehun bersikeras ikut dengannya untuk bertemu dengan pasien pertama Eun Hyun.

" bagaimana Jongin-ssi,apa ada keluhan lain? " Eun Hyun bertanya lembut sambil memegang tangan Jongin.

Jongin tersenyum sambil menggeleng.
" tidak,aku merasa lebih baik sekarang " jawabnya.

Sehun mendengus melihat pasien pertama Eun Hyun adalah seorang laki-laki.Terlebih sikap Eun Hyun yang sangat lembut dengannya,berbanding terbalik dengan Eun Hyun yang selalu meneriakinya.

" bisa kita pindah ke pasien lain? lama sekali " ucap Sehun dengan ketus.Kedua tangannya terlipat di depan dada.

Eun Hyun menoleh ke belakang dan memberi Sehun tatapan tajam.Mengisyaratkan laki-laki itu untuk menjaga mulutnya.

" apa? aku bosan disini " ucapnya membalas santai pelototan Eun Hyun.

Eun Hyun menghela nafas sekali lagi,ia tersenyum canggung pada Jongin.

" maaf Jongin-ssi,dia itu pasien gangguan saraf,jadi maklum kalau bicaranya sedikit kasar " ucapnya.

Sehun melotot kaget mendengar ucapan Sehun barusan,pasien gangguan saraf? Maksudnya apa?.Ia mendengus kesal,ia tau laki-laki bernama Jongin itu sedang menahan tawanya.Sehun paling tidak suka jika ada orang yang menertawakannya seperti itu.

" aku pulang! "

***

Eun Hyun menghabiskan setengah hari dari kerja-nya di ruang rawat Jongin.Hampir setiap hari ia selalu menemani Jongin,ia baru tau kalau Jongin kemarin terlibat perkelahian dengan teman-temannya.Jongin seorang player.

" orang tuamu? " Eun Hyun bertanya sambil menyodorkan potongan apel ke mulut Jongin.

Jongin mengendikkan bahunya.
" entah,mereka mengusirku dan terus mengumpatiku.Katanya aku anak yang tidak berguna. " jawabnya santai.

Eun Hyun menelan potongan apel yang ada di dalam mulutnya lalu menggenggam tangan Jongin.

" ku rasa kau perlu minta maaf pada orangtua-mu,bagaimanapun juga mereka yang selama ini membesarkanmu dengan susah payah " ujarnya.

Jongin menelan ludah,baru kali ini ada perempuan yang berani menasihatinya,selama ini ia hanya mengencani perempuan-perempuan centil yang kerjaannya hanya berdandan di depan kaca.

Dengan seulas senyuman manis Jongin mengangguk.

" kau benar,aku akan melakukannya "

***

" itu dari siapa? "

Eun Hyun menghampiri sang kakak yang sedang menonton tv.Di atas meja terdapat buket bunga mawar putih cantik.

" Sehun,dia yang memberikannya " jawab Kyuhyun.

Eun Hyun mengernyit tidak percaya lalu mengangkat buket bunga itu.Membaca pesan singkat yang terdapat di kartu yang ada di dalamnya.

Bunga ini ku beli menggunakan gaji pertamaku,semoga kau menyukainya ^^~

-Oh Sehun-

Eun Hyun tersenyum membacanya,ia merogoh ponsel yang ada di saku blazer putihnya dan menekan tombol satu.

Panggilan cepat,Sehun berada di nomor satu.

" Terimakasih " Eun Hyun berkata lembut ketika teleponnya diangkat.

" untuk? " tanya Sehun dengan nada bingung.

" bunganya,aku menyukainya " jawab Eun Hyun.

Sesaat Sehun tidak mengeluarkan suara.

" Sehun? Kau masih disana kan? Tidak tidur kan? "

" eoh? Tidak,syukurlah kau menyukai bunga itu "

Eun Hyun tersenyum.

" tentu aku menyukainya "

Tut.

Eun Hyun mengernyitkan dahinya,kenapa Sehun senang sekali memutuskan telepon seenaknya?

***

Siang ini Sehun meminta Eun Hyun untuk menemaninya makan siang di taman dekat rumah sakit.Laki-laki itu datang membawa dua kotak bekal yang katanya itu adalah hasil masakannya sendiri.

" kalau hanya menggoreng nugget aku juga bisa,Sehun " komentar Eun Hyun sambil menyumpit nugget rasa spicy ke mulutnya.

" orang bilang jangan lihat hasilnya tapi lihat prosesnya,kau tidak tau kan bagaimana rasanya menggoreng nugget? itu menyeramkan,bayangkan resikonya,aku bisa terkena minyak panassss! " ujar Sehun dengan nada di lebih-lebihkan.

Eun Hyun hanya mencibir mendengarnya.Ia mulai curiga kalau Sehun pasti memakai helm saat memasak nugget ini.

" kau tau Jongin? Dia ternyata laki-laki yang menyenangkan "

" tidak ada laki-laki yang lebih menyenangkan dariku " sahut Sehun cuek.

" kau itu manja dan tukang ngambek,Sehun.Bagaimana kau bisa menyebut dirimu menyenangkan? " balas Eun Hyun.

" dulu saat kita di mall kau bilang walaupun aku punya banyak segudang sifat buruk tapi aku tetap menyenangkan " ucap Sehun tidak mau kalah.

Eun Hyun menelan ludahnya.Tiba-tiba ia merasa sulit bernafas,kejadian itu sudah tiga tahun yang lalu,dan Sehun masih mengingatnya.

" itu dulu Sehun "

Sehun menahan nafasnya,dulu? apa semuanya sudah berubah? apa ia terlambat?

***

Eun Hyun mulai membenarkan perkataan nya tentang Sehun adalah seorang pasien gangguan saraf.Sebab,akhir-akhir ini Sehun terlihat seperti 'bukan Sehun'.Laki-laki itu merubah penampilannya,terlihat lebih dewasa sekarang.Setiap pagi mengantar Eun Hyun ke rumah sakit,mengantar bekal makan siang yang sekarang menunya sudah mulai meningkat dari pada saat pertama,udang goreng tepung.Lumayan bukan?.Sehun juga tidak lagi menonton kartun kesukaannya,dia lebih suka menonton berita sekarang.

Singkat kata,Sehun berubah menjadi laki-laki sesungguhnya.

Tidak lagi manja.

" kau masih berhubungan dengan Jongin? " tanya Sehun.

Malam itu,ia dan Eun Hyun keluar untuk makan malam bersama,Sehun baru saja mendapat gaji ke dua-nya.

" masih,walaupun dia sudah tidak menjadi pasienku,tapi kami tetap berkomunikasi,kenapa? " Eun Hyun mengalihkan pandangannya dari steak yang ia makan.Ia menatap kedua manik mata Sehun.

Waktu terasa berjalan lambat saat kedua manik cantik milik Eun Hyun menatap manik matanya.

Setidaknya itu yang Sehun rasakan sekarang.

" kenapa,Sehun? "

Sehun mengerjapkan matanya berkali-kali saat Eun Hyun mengulang pertanyaannya.Ia menggeleng pelan.

" aahh tidak " gumamnya pelan lalu memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya.Dalam hati terus merutuki jantungnya yang tidak juga menormalkan detaknya.

" Jongin tipe ideal "

Sehun langsung mengangkat kepalanya menatap wajah Eun Hyun dengan dahi mengernyit.Matanya menatap menuntut pada perempuan itu.

" semua perempuan,oke? "

Eun Hyun menyahut tatapan menuntut Sehun dengan ucapan santai lalu kembali menyantap steak-nya.Tidak menyadari betapa buruknya perasaan Sehun setelahnya.

" kau menyukai Jongin? " tanya Sehun.

Eun Hyun melotot kaget,tidak percaya jika Sehun akan bertanya soal ini.

" kau bilang dia tipe ideal semua perempuan,termasuk dirimu? " Sehun bertanya lagi.

Eun Hyun menutup mulutnya rapat-rapat,tatapan kecewa Sehun membuatnya susah menjawab pertanyaan yang seharusnya dengan mudah ia jawab.

Ada apa dengan tatapan Sehun?

***

Jongin keluar dari studio dance tempatnya bekerja,semenjak kedua orang tua-nya memaafkannya,Jongin mulai bekerja sebagai pelatih dance di salah satu studio dance kepunyaan saudaranya.

" ada yang penting? " Jongin bertanya sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi panjang yang terletak di depan studio dance.

Laki-laki di sampingnya itu menjulurkan sekaleng minuman soda ke hadapan Jongin.

Jongin menyambut kaleng soda itu dengan tertawa kecil.
" aku tidak berpikir kita sedekat ini,jadi ada apa kau menemuiku,Oh Sehun? "

Sehun mendengus,ia sebenarnya benci dengan laki-laki di sampingnya ini,tapi demi rasa penasaran yang mendominasi perasaannya ia rela menurunkan harga dirinya dan menelepon Jongin—setelah mencuri nomornya dari ponsel Eun Hyun—untuk memintanya bertemu sebentar.

" kau—menyukai Eun Hyun? " tanya Sehun menatap mata Jongin intens.

Jongin menyemburkan minuman soda-nya,pertanyaan Sehun mengejutkan kerja jantungnya.Jongin mengelap bibirnya yang basah dengan punggung tangan lalu berdehem.

" kenapa kau bertanya seperti itu? " tanya Jongin kembali biasa.

Sehun menatap ke depan lurus-lurus sambil mengendikkan bahu-nya sebagai jawaban.

" kau mau tau jawabannya? "

Sehu menatap tajam Jongin.
" kalau tidak kenapa aku bertanya? " desisnya sebal.

Jongin terkekeh pelan,menarik nafas dalam lalu menganggukkan kepalanya pelan.

Mata Sehun melebar saat Jongin menganggukkan kepalanya.Nafasnya mulai tidak teratur,kerongkongannya terasa kering.

" jadi—kau benar-benar menyukai Eun Hyun? " ulangnya.

Jongin mengangguk lalu menatap Sehun dalam.
" iya,aku menyukainya " jawabnya.

Sehun menarik kaleng soda yang ada di tangan Jongin lalu meneguknya isinya sampai habis,entah kenapa sekarang kerongkongannya terasa kering.

Tangan besar Jongin mengenggam bahu Sehun,menatap laki-laki itu dengan seulas senyum tipis.

" dia menolakku,Sehun "

Mulut Sehun terbuka begitu saja,ingin sekali ia bertanya 'jadi kau sudah menyatakan perasaanmu?' tapi sekali lagi.

Sehun sulit mengeluarkan suaranya,ia mulai khawatir takut ia tiba-tiba menjadi gagu atau apalah itu.

" dia menyukai orang lain " Jongin kembali bersuara.Ia masih menatap Sehun yang terlihat tidak percaya.

Walaupun tidak ada petir,tapi Sehun dapat mendengar suara petir yang menggelegar saat Jongin kembali bersuara.

Menyukai orang lain?

Siapa?

***

Eun Hyun mengernyit heran,Sehun malam ini muncul di depan pintu rumahnya tapi yang membuatnya heran bukan itu,melainkan cengiran khas Sehun yang tidak ia temui.

" Sehun ada apa? " tanya Eun Hyun.

" bisa kita keluar? " pertanyaan datar Sehun seakaan bukanlah sebuah pertanyaan melainkan pernyataan yang hanya satu jawabannya.

" iya "

***

" tadi aku menemui Jongin "

Eun Hyun menolehkan kepalanya menatap sisi wajah Sehun yang menatap lurus air mancur taman kompleks.

" aku bertanya padanya apa dia menyukaimu? "

Sehun menarik nafas dalam lalu mengalihkan pandangannya,menatap Eun Hyun dalam.

" dia bilang,dia menyukaimu " dengan nada rendah dan dalam Sehun berkata.

Eun Hyun mengerjapkan matanya berulang-ulang.Ia lupa cerita soal Jongin yang menyatakan perasaan padanya,selain lupa ia takut Sehun akan mengamuk mengingat ketidak sukaan Sehun terhadap Jongin.

Eun Hyun mendengar Sehun menghela nafas.
" akhir-akhir ini aku tidak mengerti dengan diriku sendiri " gumamnya pelan.

Eun Hyun menatap Sehun tidak mengerti.
" aku juga " sahutnya dengan bergumam.

" aku berubah sekarang "

Eun Hyun mengangguk.

Sehun menolehkan kepalanya,menatap Eun Hyun lekat-lekat.

" karenamu "

Eun Hyun terpaku,tidak merasakan apapun setelah Sehun berkata demikian.Yang ia rasakan adalah jantungnya yang berdegub beribu-ribu kali lebih cepat,aliran darahnya yang berdesir hebat,serta kerongkongan yang tercekat.

Waktu seakan berjalan lamban.

" aku tidak mengerti kenapa dan apa yang membuatku melakukan ini untukmu,yang ku tau hatiku berkata ' berubahlah,dan kau akan mendapatkannya ' aku berubah untuk menunjukkan padamu kalau aku bukan anak manja yang menyebalkan,aku adalah laki-laki dewasa yang sudah pantas menjagamu.Kau selalu mengatakan kalau aku anak manja dan tukang ngambek,aku mulai berpikir bagaimana bisa kau memilihku daripada Jongin yang pandai berkelahi kalau kau saja berkata seperti itu. "

" …Aku mulai merubah penampilanku,memberikan playstasion-ku pada Luhan hyung,membuang segala kaset naruto dan bernard bear yang ku punya,mencoba menonton berita yang membuat kepalaku pusing karena harus berpikir,dan belajar memasak.Aku benar-benar ingin menunjukkan kalau aku bukan lagi Oh Sehun yang manja tapi aku adalah Oh Sehun si laki-laki dewasa yang dapat menjaga Eun Hyun. "

Eun Hyun hanya dapat menatap Sehun tidak percaya,sebagian hatinya merasa sangat senang tapi sebagian yang lain merasa bahwa Sehun sudah terlambat.

Belasan tahun Eun Hyun menyukai Sehun,belasan tahun ia memendam rasa itu,menerima dengan ikhlas kalau Sehun memang tidak menyukainya.Tiga tahun yang lalu ia pergi dari Sehun,mencoba melupakan segala perasaannya.

Perlahan tapi pasti.

" Sehun… "

" Belasan tahun aku bersamamu,kita menghabiskan waktu bersama,belasan tahun pula aku bergantung padamu.Ku anggap sikap bergantung ini adalah hal biasa mengingat kita memang berteman sejak kecil,tapi ternyata aku salah. "

Sehun menarik nafas panjang.

" aku menyukaimu Eun Hyun-ah "

Dan dengan satu kalimat Sehun dapat membuat air mata itu mengalir mulus melewati pipi tirus Eun Hyun.

Kenapa baru sekarang? Kenapa saat perasaan itu hampir hilang? Kenapa ia baru menyadarinya sekarang? Tidakkah ia tau betapa sakitnya hati Eun Hyun?

" apa aku terlambat? apa perasaanmu sudah hilang? apa semua perasaanmu padaku sekarang hanya sebatas teman? apa perasaan suka-mu padaku sudah terikat dengan kata 'dulu'? " Sehun bertanya dengan mata yang menatap berharap.Berharap bahwa semuanya belum terlambat,berharap bahwa ia masih memiliki kesempatan walau hanya sebesar lubang semut.

" kau menyukai bunga yang ku berikan,tidakkah kau menyukaiku juga? "

Eun Hyun menatap Sehun dengan matanya yang berair.Menatapnya dengan tatapan tolong-hentikan-Sehun.

" apa aku tidak bisa menjadi tipe ideal bagimu? Seperti Jongin yang menurutmu adalah tipe ideal semua perempuan? "

Eun Hyun memejamkan matanya rapat-rapat.Sehun terus saja bertanya apa dia terlambat? apa dia tidak punya kesempatan lagi? apa perasaan Eun Hyun sudah berubah sekarang?

" jadi ini rasanya sakit hati " gumam Sehun pelan.Ia berhenti bertanya dan menunduk dalam.

Eun Hyun menatap Sehun dalam,masih belum yakin jika Sehun memang sungguh-sungguh dengan ucapannya.

" kau menyukai orang lain ya? " tanya Sehun pelan.Menatap Eun Hyun dengan pandangan sendunya.

Eun Hyun mengangguk.
" maaf Sehun "

Sehun mengangguk-anggukkan kepalanya.

" yaaa—aku harus apa? tetap memaksamu? itu bukan gaya seorang laki-laki dewasa.Aku sudah menjadi laki-laki dewasa sekarang " ujar Sehun dengan senyum tipisnya.

" aku menyukaimu Sehun "

Sehun tertawa kecil mendengar ucapan Eun Hyun.
" kau menghiburku? ku bilang aku sudah menjadi laki-laki dewasa sekarang,mungkin memang menjadi masalah sekarang,tapi aku yakin aku akan bahagia melihat senyummu nantinya "

" kalau memang aku menyukaimu bagaimana? " tanya Eun Hyun santai.

Mulut Sehun terbuka,bahkan Eun Hyun bersumpah jika tangannya tidak segera menutup rahang Sehun yang menganga mungkin beribu serangga akan masuk ke dalam sana.

" 'kan sudah ku bilang aku menyukaimu dengan segala sifat burukmu,bahkan dengan sifat burukmu itu aku bisa tertawa,lalu kenapa kau merubahnya? "

Sehun mengerjap beberapa kali.
" aku ingin menjagamu,karena kalau sifatku yang kekanak-kanakan mungkin aku tidak bisa menjagamu "

" aku tidak hanya menyukai bungamu,aku tidak hanya menyukai kado-kado darimu,aku menyukai dirimu Sehun.Tidak peduli seberapa keras aku berusaha melupakanmu,toh hatiku sudah memilihmu,hatiku sudah menggunakan haknya dalam memilih.Dan kau pilihan hatiku. " ujar Eun Hyun.Ia menyerah,hatinya lebih memilih untuk menerima Sehun.

Sehun tersenyum lebar,merentangkan tangannya lalu membawa Eun Hyun ke dalam pelukannya.

" aku berharap hak pilih hatimu tidak berlangsung selama lima tahun,tapi selamanya " ujar Sehun.Ia melepas pelukannya lalu membentuk 'V' lewat jari telunjuk dan jari tengahnya.

" aku janji akan menjadi laki-laki dewasa,laki-laki cool dan berkarisma yang akan selalu menjagamu " ucapnya mantap.

" seperti Jongin? "

Sehun menggeleng.

" sepuluh bahkan bertriliun kali lebih baik dari Jongin,aku akan menjagamu "

END