Laman

Tampilkan postingan dengan label Luhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Luhan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 September 2014

EXO Fanfiction: What Is Friend? - Why?

A/N : Yoo Ra dan Min Ah itu adalah orang yang sama.This story is mine,enjoy^^

« What Is Friend?

***

Kenapa harus ada pertemanan di
dunia ini?

***

Di siang yang cerah itu,Luhan meletakkan nampan berisi makan siangnya di depan perempuan cantik yang beberapa bulan ini menjadi teman baiknya.Ia tersenyum hangat pada perempuan berambut panjang yang memiliki nama Seo Yoo Ra itu.

" kau hanya membeli roti sosis dan segelas ice moccacino? " Luhan bertanya heran.

Yoo Ra mengangguk santai sambil menggigit rotinya.

Luhan berdecak sambil menarik roti dan ice moccacino milik Yoo Ra.Ia mendorong nampan yang berisi makan siangnya ke depan perempuan itu.
" makanlah makananku,kau tidak sadar kalau kau membutuhkan daging? Park seonsaengnim 'kan sudah bilang kalau kau harus banyak makan. " ujar Luhan.

Yoo Ra menggeleng.
" kenapa aku harus mendengarkan ucapan seorang guru sejarah? dia bukan ahli gizi atau guru ipa " Tangan Yoo Ra terulur menarik kembali roti sosis dan ice moccacino-nya.Kembali melahap makanan kesukaannya dan menyeruput minuman terlezat versi-nya.

" hft,bisa kau dengar nasihat orang lain? aku 'kan ingin kau tumbuh sehat,Yoo Ra " ucap Luhan sambil menggembungkan pipinya.Sekarang ia terlihat kesal karena ucapannya yang di abaikan begitu saja oleh Yoo Ra.

" cih,kau terlihat seperti Ayah-ku " cibir Yoo Ra.

Luhan semakin menekuk wajahnya.Ia menarik nampannya lalu menyendokkan sereal ke dalam mulutnya.

" Hei Lu " panggil Yoo Ra.

Luhan mengangkat kepalanya dan menatap Yoo Ra dengan kernyitan di dahi.

Yoo Ra hanya tersenyum manis.
" senang bisa berteman denganmu "

Luhan terkekeh.
" kita sudah berteman lebih dari tiga bulan,kenapa baru mengucapkannya sekarang? Kau terlambat sekali "

***

" wajahmu terlihat serius sekali,apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? "

Yoo Ra menggeleng menjawab pertanyaan Luhan.Ia memiringkan kepalanya menatap Luhan dengan dahi yang berlipat.

" aku sedang mencari bahan tulisan untuk cerpenku yang baru,tapi sampai sekarang aku belum menemukan sesuatu yang menarik untuk ku jadikan bahan tulisan " ujarnya.

" mudah saja,kau minta cerita menarik dari teman-teman perempuanmu tentang pengalaman cinta mereka,bagaimana? Ide-ku cemerlang bukan? " Luhan tersenyum lebar dengan rasa percaya diri yang mencapai langit.

Yoo Ra memutar bola matanya malas.Seketika ingin sekali memasukkan Luhan ke bak sampah depan kelas mereka.

" kau lupa? temanku hanya satu,Lu "

Luhan hanya dapat meringis,tangan kanannya menggaruk pipinya sambil ikut berpikir.

" aku di kejar deadline,Shi seonsaengnim mengatakan padaku minggu depan harus ada cerita baru karena siswa-siswi yang lain mengirimkan protes lewat kotak komentar " keluh Yoo Ra.Ia menelungkupkan kepalanya di atas meja.

Menghabiskan waktu sore di sekolah bersama Luhan adalah rutinitas Yoo Ra.Dan hari ini ia dan Luhan menghabiskan sore dengan duduk di kelas ditemani laptop yang terbuka lebar di hadapan mereka.

Luhan menatap prihatin Yoo Ra,ia merasa ikut pusing dengan hanya mendengar keluh kesahnya.Tangannya terulur untuk menutup laptop milik Yoo Ra.

" kenapa kau menutup laptopnya? " Yoo Ra bertanya heran saat tubuhnya kembali menegak.

" ada hal yang ingin ku tanyakan "

" apa? "

Luhan terlihat ragu,ia menatap Yoo Ra dalam.
" aku ingin tau bagaimana cerita tentang Min Ah dan temannya di mulai "

Yoo Ra terdiam selama beberapa detik,otaknya otomatis berputar mengingat kejadian yang berawal manis itu.Kejadian yang berujung pada rasa sakit yang tidak akan pernah Yoo Ra lupakan.

" a—aku tidak memaksa,kalau kau memang tidak ingin menceritakannya aku tidak apa-apa,aku akan menekan rasa penasaranku tentang in— " ocehan Luhan terhenti saat ia melihat senyuman tipis di bibir Yoo Ra.

" ku rasa aku baik-baik saja,jadi kau bisa mendengar bagaimana cerita tentang Min Ah dan temannya di mulai " ujarnya lembut.

Yoo Ra menatap keluar jendela dengan pandangan menerawang,senyuman tipis masih terlukis di bibirnya.

" semuanya berawal saat Min Ah baru saja pindah dari Amerika dan bersekolah di sini… "

-

16 Juni 2009

Seoul Junior High School.

Perempuan cantik berambut panjang dengan warna hitam pekat itu berjalan linglung di sepanjang koridor sekolah.Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari kelas yang Jang ssaem maksud.

" ah ini dia! " serunya saat matanya menangkap tulisan bercat putih di atas pintu.

1-A.

Ia melangkahkan kakinya memasuki ruang kelas itu,tawa yang tadinya memenuhi ruangan seketika diam saat dirinya berada di tengah-tengah ruangan.Seluruh pasang mata itu kini menatapnya,memperhatikan dirinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Ah,kenapa mereka menatapku seperti itu? Batinnya mulai berbicara.Panik,takut,bingung semua bercampur menjadi satu.Menghasilkan debaran jantung yang luar biasa kencang dan keringat dingin di pelipisnya.

" Hei,siniii!~ " seseorang perempuan bertumbuh kurus yang berada di pojok kanan melambaikan tangannya.Tersenyum lebar sambil mengisyaratkan Seo Yoo Ra untuk berjalan menghampirinya.

Yoo Ra tersenyum tipis lalu melangkahkan kakinya ke arah perempuan manis itu.

" hai,aku Jung Ju Ri,kau duduklah denganku " ujarnya ramah dengan tangan yang terulur.

Yoo Ra tersenyum membalas uluran tangan perempuan cantik bernama Ju Ri itu.
" i'm Seo Yoo Ra,nice to meet you "

Ju Ri menutup mulutnya dengan mata membulat.
" omo! Jadi kau murid pindahan dari Amerika itu?! " serunya.

Yoo Ra menggangguk.
" yeah,begitulah "

Mereka berdua lalu mendudukkan diri di kursi.Mulai mengobrol dari hal sepele seperti alamat rumah sampai hobi mereka.

" aku juga! aku juga suka membaca novel fantasi,wah kita banyak kesamaan ya,kurasa kita benar-benar cocok jadi teman " Ju Ri berkata dengan heboh.

Yoo Ra yang baru menginjakkan kakinya di Seoul pun merasa senang memiliki teman di hari pertamanya bersekolah.

***

" kau pernah coba makanan Korea apa saja? " tanya Ju Ri saat ia dan Yoo Ra berada di kantin.Mereka berdua berhenti di depan counter sambil melihat daftar menu,di dekapan mereka sudah terdapat nampan yang siap menampung makan siang mereka.

Yoo Ra menyatukan alisnya,mengingat makanan Korea apa saja yang pernah di cobanya.

" ramyun? "

" hahahahahaahahaahahahahahaha "

Tawa Ju Ri meledak mendengar jawaban yang diberikan Yoo Ra,bahkan beberapa murid yang antri di belakang mereka mengutuk perempuan itu.

Ju Ri mengelap air mata yang berada di ujung matanya.Efek tertawa terlalu kencang.

" Bibi,aku pesan samgyupsal dua dan lemon tea nya juga dua ya! " serunya pada Bibi kantin.

Ju Ri menatap Yoo Ra dengan senyuman penuh arti.

" siang ini kau akan merasakan lezatnya makanan Korea "

***

Sepatu hak tinggi itu memasuki kelas dengan bunyi-nya yang berirama.Kelas menjadi sunyi ketika guru perempuan berperawakan tinggi dengan garis wajah yang tegas itu menjadi penyebabnya.

" selamat siang semuanya,perkenalkan saya Bang seonsaengnim "

Semua murid membuka mulutnya saat mendengar guru itu berbicara dalam bahasa Korea Joseon.

" oh my god—jangan bilang kalau dia— " gumam Yoo Ra panik.

Ju Ri mengagguk mantap.Ia menatap Yoo Ra sambil tersenyum penuh arti.
" yep! dia guru mata pelajaran Sejarah Korea "

***

-

Yoo Ra menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan.

" setelah itu semua berjalan lancar,Min Ah dan temannya—ahh ralat Min Ah dan bukan temannya itu selalu bersama-sama.Semua berjalan biasa dan terhitung menyenangkan untuk dua minggu pertama "

Luhan menatap sisi wajah Yoo Ra yang tersenyum saat menceritakan luka lamanya.Otaknya ikut berimajinasi,ia seperti memutar film di otaknya sendiri.

" sampai Min Ah merasa semua berubah "

Sekarang,senyuman itu tidak lagi sama.Luhan tau ini lah saat dimana luka itu kembali terbuka lebar.

-

" hei,aku baru tau kalau ternyata Myeongdong itu suka mengadakan festival.Kemarin aku kesana bersama Mom dan Dad.Aku melihat banyaaakkkkk sekali pernak-pernik lucu,aku membelinya satu— "

" tidak menurutku biasa saja,pernak-perniknya juga banyak di jual di mana saja "

Yoo Ra memudarkan senyum di bibirnya,niat awalnya yang ingin menunjukkan gelang couple yang ia beli pun ia urungkan.Ia memasukkan kembali gelang couple itu ke dalam saku blazer-nya.

Ju Ri lebih pendiam sekarang.

Atau mungkin bisa di bilang pendiam hanya kepada Yoo Ra saja.Saat teman-teman yang lain mengajaknya berbicara perempuan itu menyahuti dan jangan lupakan senyuman lebar dan tawa lepasnya.

Semua berbanding tiga ratus enam puluh derajat saat perempuan kurus itu berbicara dengan Yoo Ra.Wajahnya datar dan sama sekali tidak ada senyum,bahkan matanya hanya menatap malas padanya.

Hati Yoo Ra terasa tersentil,tapi ia mencoba memaklumi,mungkin perasaannya tidak bisa di katakan baik untuk saat ini (khususnya pada Yoo Ra).

" nanti saat tugas kelompok kita mengerjakan di mana? Oh,bagaimana kalau di rumah mu saja? Aku belum pernah— "

Ju Ri menaikkan satu alisnya saat Yoo Ra berbicara mengenai tugas kelompok yang baru saja di berikan Lee ssaem pada kelas mereka.

" memang kita satu kelompok? aku tidak ingat kalau aku mengajakmu,aku hanya mengajak Hae Ri,Ah Ra,dan Ri Ah. " jawabnya dingin.Ia menggemblok tasnya dan berjalan keluar kelas.

Yoo Ra hanya dapat mematung di kursinya.Kenapa? Kenapa Ju Ri bersikap seperti itu padanya?

***

Di suatu siang di minggu ke empat Yoo Ra berada di sekolah barunya,ia mulai merasa semua memang benar-benar tidak menyukainya(kecuali satu anak perempuan yang duduk di tengah yang selalu tersenyum padanya saat mereka berpapasan).Mereka mulai mengabaikan Yoo Ra,tidak pernah menjawab pertanyaannya bahkan Ju Ri pindah tempat duduk dan memilih duduk di pojok depan.

Jauh darinya.

Yoo Ra berjalan sendiri menuju toilet,ia merasa sakit perut karena terlalu sering mengkonsumsi ramyun pedas-satu-satunya makanan Korea yang Yoo Ra tau-.

" aku merasa tidak nyaman anak itu masuk ke kelas kita "

Saat Yoo Ra barus saja ingin meraih knop pintu telinganya menangkap suara yang sangat ia kenal.

Itu Lee Ri Ah teman semeja Ju Ri yang sekarang.

" sesungguhnya aku juga,dia merepotkan "

Sekarang sebuah suara lain tertangkap gendang telinganya.Yoo Ra sangat-amat-hapal siapa pemilik suara ini.

Perempuan yang dulu sangat baik padanya.

Jung Ju Ri.

Terdengar suara tawa kecil dari Ri Ah.

" lalu kenapa dulu kau selalu bersamanya? Seperti ada perekat yang tembus pandang di antara kalian "

" tidak tau,ku pikir dia asik,apalagi dia berasal dari Amerika.Terdengar keren jika aku berteman dengan seseorang yang berasal dari negara itu,tapi ternyata tidak,dia merepotkan.Dia banyak tanya,dia sering menarik perhatian orang karena menggunakan bahasa inggris yang membuatku malu.Hhaahh—intinya aku malas dengannya "

Sekarang hati Yoo Ra serasa mencelos dari tempatnya.Ia yakin telinganya masih normal,ia yakin ia tidak sedang bermimpi karena ia tidak tertidur sambil duduk di kloset.

Ini kenyataan.

" ini memalukan,kelas kita mendapat nilai rata-rata Sejarah Korea paling buruk hanya karena anak itu,aku benar-benar tidak mengerti kenapa kepala sekolah menerimanya,apa dia memberikan uang pelicin? "

Mereka berdua lalu tergelak bersama lalu setelah itu terdengar bunyi langkah sepatu dan pintu yang tertutup.

Yoo Ra masih terdiam di posisinya,tangannya masih memegang knop pintu,air matanya mengalir begitu saja.Semua percakapan antara Ri Ah dan Ju Ri terngiang di telinganya.

Mulai saat itu,Yoo Ra tau,ia akan selalu sendiri.

Tidak ada orang yang akan duduk di sampingnya.

Tidak ada orang yang akan makan siang dengannya.

Tidak ada orang yang akan menemaninya ke toilet.

Tidak ada orang yang akan bersamanya karena tidak ada orang yang akan menjadi temannya.

***

-

Rintik air hujan mulai menuruni jendela,membuat jalurnya sendiri di jendela itu.Menjadikan pemandangan menarik di sepasang mata indah milik Yoo Ra.

Ia tidak perlu menangis,karena hujan sudah mewakilinya.

" aku tidak ingat tanggal,bulan,menit dan detik saat aku mendengar percakapan menyakitkan itu. " Yoo Ra tertawa kecil. " Tapi bodohnya aku malah mengingat semua kata-kata mereka "

" Dan tentu saja perasaan menyakitkan itu,perasaan yang membuatku masuk rumah sakit karena kekurangan cairan,for your info,aku tidak makan dan minum selama empat setengah hari "

Sebuah sentuhan hangat terasa di pundaknya,ia menoleh menatap Luhan dengan senyuman di bibirnya.

" aku baik-baik saja,Lu " ucapnya pelan saat ia menangkap pandangan khawatir di mata Luhan.

Luhan menelan ludahnya,melihat senyuman di wajah Yoo Ra malah membuat hatinya merasa tidak karuan,Luhan hanya berharap perempuan itu mau mengeluarkan semua rasa sakitnya.

" saat itu ada ribuan kata 'kenapa?' di otakku.Kenapa mereka begitu membenciku? Kenapa mereka meninggalkanku? Kenapa mereka tidak pernah mengganggapku? Kenapa— "

Yoo Ra berhenti,ia menghirup napas,sekedar memastikan bahwa di sekelilingnya masih terdapat oksigen.

Yoo Ra menatap Luhan dalam.

" kenapa harus ada pertemanan di dunia ini? "

Tes.

Air mata itu akhirnya mengalir mulus di sepasang pipi tirus milik Yoo Ra.

" aku tidak mengerti,maksudku—kenapa semua orang membutuhkan teman seperti mereka membutuhkan oksigen untuk hidup? Seperti mereka membutuhkan tempat tinggal untuk berteduh,seperti mereka tidak akan pernah bisa hidup tanpa teman.Kenapa teman itu penting kalau pada kenyataannya teman dapat membuat kita menangis? "

Untuk beberapa waktu mereka sama-sama terdiam,tenggelam dalam pikiran masing-masing.Luhan tersenyum lembut,tangannya terulur untuk menghapus air mata Yoo Ra.

" karena kau butuh teman untuk melengkapi hidupmu,kau butuh teman untuk selalu berjalan di sampingmu,kau butuh teman untuk berbagi,kau butuh teman untuk bersandar,kau butuh teman untuk menuntunmu saat kau kehilangan arah,kau butuh teman— "

" untuk menggenggam tanganmu saat kau merasa kehilangan seluruh kekuatan dalam hatimu "

Yoo Ra tersenyum lembut pada Luhan.

Luhan menggenggam tangan Yoo Ra erat,menatapnya sambil tersenyum manis.

" kekuatanmu akan kembali setelah ini,Yoo Ra. "

END

Rabu, 04 Juni 2014

EXO Fanfiction: [TEASER] IN DANGER

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: Crime,School Life,Family,Friendship,Romance.

Cast:
- Do Kyungsoo as Kyungsoo.
- IU as Han Hae Ri.
- Luhan as Han Luhan.
- Kim Soo Jin (OC)

Disclaimer: 안녕~ Kali ini aku dateng bawa Teaser fanfic baru aku yang bener-bener pengen aku buat beda dari fanfic abal aku yang lain.Antara PeDe gak PeDe ngambil fanfic ber-genre Crime,tapi—karena emang pengen banget nulis fanfic ber-genre Crime,sooo jadilah fanfic ini.

Check This Ouuttt~

***

- Do Kyungsoo as Kyungsoo

Pelajar berusia 17 tahun yang duduk di bangku kelas 2 SMA.Anak tunggal dari Presdir Do; pemilik Perusahaan Earthlings yang sangat berkuasa di Korea Selatan.Sifat-nya yang cenderung dingin dan tertutup membuat Kyungsoo tidak pernah mempunyai teman dekat.Walaupun Kyungsoo adalah anak dari orang kaya,tapi Kyungsoo tidak pernah mau menunjukkannya.Dia lebih suka naik bus daripada mobil sport yang di berikan Ayah-nya.Sampai suatu saat hal yang tidak di minta oleh-nya terjadi begitu saja.Tujuh orang pengawal yang di perintahkan Ayah-nya untuk selalu setia mengikuti-nya kemanapun.Awalnya menolak merasa tidak nyaman,karena itu membuat teman-temannya jadi semakin menjauh.Tapi saat dia mendapat jawaban dari sang Ayah,Kyungsoo memilih diam tidak banyak protes.

Karena Kyungsoo tau dia—dalam bahaya.

- IU as Han Hae Ri.

Memiliki Ibu yang sangat menyayanginya,Ayah yang selalu menjaga-nya serta Kakak yang selalu ada disisi-nya.Rasa-nya itu adalah kado terindah yang pernah dimiliki gadis berparas cantik yang satu ini.Hae Ri adalah anak bungsu,tidak heran jika dia sangatlah manja dan kekanak-kanakan.Di tambah sifat semua anggota keluarga-nya yang kelewat menyayanginya.Walaupun terlihat ke kanak-kanakan Hae Ri tetaplah gadis remaja berusia 17 tahun yang mulai merasakan jatuh cinta.Selama dua tahun belakangan ini Hae Ri diam-diam menyukai teman sekelasnya yang mempunyai sifat anti-sosial.Do Kyungsoo,itulah nama orang yang selalu membuat Hae Ri betah memandangi-nya setiap hari di kelas.Hingga suatu hari dia di buat terkejut saat mengetahui laki-laki pujaannya itu sedang dalam bahaya.Berusaha mencari cara untuk menyelamatkan Kyungsoo ternyata bukanlah hal yang mudah.

Semua butuh keberanian dan juga pengorbanan.

- Luhan as Han Luhan.

Laki-laki tampan berparas imut yang sangat menyayangi adik perempuannya.Karena besar-nya rasa sayang Luhan pada Hae Ri,Luhan sering menolak gadis yang menyatakan perasaannya lewat surat yang sering dititipkan pada Hae Ri.Tidak peduli walaupun umurnya sudah menginjak tahun ke-18.Asal selalu bersama Hae Ri,Luhan merasa tidak memiliki pacar juga tidak apa-apa.Mungkin terlalu percaya diri bahwa Hae Ri juga akan melakukan hal yang sama dengannya,membuat Luhan marah saat mengetahui Hae Ri sudah mulai jatuh cinta.Rasa takut akan kehilangan perhatian Hae Ri membuatnya kerap kali mendiamkan Hae Ri tanpa sebab.

Yaa—17 tahun selalu bersama Hae Ri membuat hati Luhan tidak rela Hae Ri pergi dari sisi-nya dan berada di sisi orang lain.

- Kim Soo Jin (OC)

Menjadi teman sebangku Hae Ri sejak kelas satu SMP membuatnya merasa kalau dia dan Hae Ri adalah satu paket yang tidak pernah terpisahkan.Bisa di bilang dimana ada Soo Jin di situ juga ada Hae Ri.Hal itu pula-lah yang membuatnya tau seluk-beluk sifat Hae Ri.Termasuk saat temannya itu jatuh cinta.Soo Jin juga termasuk ke dalam gadis pemberani,Ayah-nya adalah seorang detektif terkenal bernama Kim Yoo Jin.Sifat pemberani,tegas,dan cerdik sang Ayah menurun pada Soo Jin.Dan saat Soo Jin merasa ada yang ganjal semenjak Kyungsoo membawa pengawal ke sekolah.Sejak itulah dia memutuskan untuk menyelesaikan kasus itu.

Walaupun harus mengorbankan dirinya sendiri.

***

Okeeh,itu aja yang mau aku bagiin,see you soon! (^^)/

Jumat, 23 Mei 2014

EXO Fanfiction: A Lost Memory (Chapter 12)

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre; Brothership,Family,Fantasy

Cast:
- Do Kyungsoo
- Kim Jongin
- Xi Luhan
- Oh Sehun
- Kim Hye Soo (OC)

***

-

11 Januari 2010

" Kyungsoo koma "

" apa kita harus memberitahu Jongin? "

" tidak,aku tidak mau dia bertambah depresi "

Kim Jongin berdiri mematung di depan dua orang dewasa itu.Tas yang menggantung di pundaknya jatuh begitu saja.Air matanya langsung menetes tanpa di perintah.Dia tidak salah dengar?

" omo! Jongin-ah,kau sudah pulang? Apa kau lelah? Oemma akan membuatkanmu makanan " ucap Nyonya Kim cepat.Dia mendekat ke arah Jongin yang hanya berdiri tanpa bereaksi.

" dimana hyung-ku? " tanya Jongin pelan.

" Kyungsoo..pindah ke Jepang " jawab Nyonya Kim.

" bohong! Kalian bohong! Dimana hyung-ku?! " teriak Jongin.

Nyonya Kim menangkupkan tangannya di kedua pipi Jongin.Berusaha menenangkan anak-nya yang histeris.

" Jongin-ah..Kyungsoo butuh istirahat.Kita jenguk dia lain kali saja yaa..hari ini kau lelah,sebaiknya kau istirahat. "

Jongin menepis tangan Nyonya Kim kasar.

" apa yang kalian sembunyikan dariku?! Dimana hyung-ku?! " teriak Jongin.

" Jongin..dengarkan kami bicara " Tuan Kim angkat bicara.

" aku mau mencari hyung-ku! " seru Jongin lalu berlari keluar rumah tanpa menghiraukan panggilan orang tua-nya.

Jongin berlari dan terus berlari.Di pikirannya kali ini hanya ada hyung-nya seorang.Tidak ada yang lain.

" hyung,tunggu aku.. "

Tanpa dia sadari,dari jarak beberapa meter darinya.Sebuah mobil melaju ke arahnya.Sebelah tangan pengemudi memegang ponsel,mengetik pesan.Matanya tidak menatap ke depan.Saat matanya menatap ke depan,hanya ada teriakan terkejut karena melihat anak kecil yang tiba-tiba muncul di depan mobilnya.Membuat dirinya terlambat menginjak rem.

BBRRAAKK!!!

***

Seorang anak laki-laki mengerjapkan mata-nya berkali-kali.Kalender besar langsung menyambutnya.Kepalanya masih terasa pusing,tapi bisa di pastikan ia berada di rumah sakit-karena bau obat langsung tercium oleh hidungnya-.

" Kim Jongin! " seru seorang wanita yang baru saja membuka pintu dan langsung memeluknya.

" aku? Kim Jongin? " tanyanya.Jongin memandang bingung wanita yang ada di depannya ini.

Nyonya Kim mengangguk " iya sayang,namamu Kim Jongin,aku adalah Oemma-mu "

" Oemma? "

-

Sehun duduk termenung di bangku taman rumah sakit.Tidak berniat pulang,masih ingin disini.Di dekat Jongin.

Sahabatnya.

Saudaranya.

Seseorang menepuk pundaknya,membuat kepalanya mendongak.Luhan tersenyum manis lalu duduk di samping Sehun.

" kau baik-baik saja? " tanya Luhan menatap sisi wajah Sehun yang menunduk dalam.

Sehun menggeleng pelan.

" aku—tidak baik " jawabnya pelan.

Luhan tersenyum manis.

" kita sudah tau resikonya,kita harus menerima semuanya,Sehun " ucap Luhan lembut.

" aku tidak bisa jauh dari Jongin,dia sahabatku,saudaraku,bagaimana bisa aku jauh darinya? " Sehun menatap Luhan dalam.Air matanya sudah menumpuk di pelupuk matanya.

" Sehun— "

" demi apapun walau Jongin berteriak untuk menyuruhku pergi,aku akan tetap tinggal,aku akan tetap tinggal disisi-nya.Tidak peduli dia akan memukulku,atau membunuhku sekalipun.Aku akan tetap disisinya. " ujar Sehun,ada penekanan di setiap kata-katanya.Menggambarkan kalau dia benar-benar tidak akan pergi.

Luhan menghembuskan nafas panjang.Dalam hatinya,dia pun sama.Dia juga tidak ingin pergi dari sisi Jongin.Tapi—apa yang dapat dia lakukan kalau Jongin sudah terlanjur membencinya?

" kita beri Jongin waktu,Sehun "

***

" Kyungsoo hyung! Kyungsoo hyung keluarlah! Aku tau kau di dekatku! Keluarlah dan jangan sembunyi!!!!! " teriak Jongin.Matanya berkeliling mencari sosok mungil yang sedang ia rindukan.

" Kumohon…keluarlah " Jongin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.Menunduk dan terisak kencang.

Sementara di luar pintu,tanpa Jongin sadar orang yang dirindukannya sedang memperhatikannya.Sama dengannya,Kyungsoo juga mengeluarkan air matanya,menatap Jongin lirih.

Bukannya Kyungsoo tidak mau muncul di hadapan Jongin.Tapi keadaannya semakin memburuk,tubuhnya juga semakin memudar kalau ia sering menampakkan diri di depan Jongin.Suho memberinya saran untuk tidak menemui Jongin sampai hari itu tiba.Kyungsoo akan menghilang kalau ia terlalu sering menampakkan dirinya di depan Jongin.

" Jongin-ah…maafkan aku "

***

Tangan Hyesoo dengan telaten mengelap tangan Kyungsoo dengan handuk kecil yang sudah ia basahi dengan air hangat.Hal yang biasa ia lakukan setiap pagi.

" Hyesoo-ya "

Hyesoo menoleh ke arah wanita paruh baya yang sedang menyiapkan makanan di atas meja.Dia Ibu Kyungsoo.Wanita berusia 40-an yang sangat lembut.

" terimakasih kau mau menjaga Kyungsoo selama ini " ujarnya sambil menatap Hye Soo.Bibirnya membentuk seulas senyuman yang manis.Tatapannya juga sangat teduh.

Hye Soo mengangguk.

" D.O oppa sudah ku anggap seperti kakak-ku sendiri,aku tidak mau melihatnya kesepian " balasnya.

Hye Soo menatap Kyungsoo sambil tersenyum.Tangannya terulur mengelap wajah Kyungsoo dengan lembut.

" Kyungsoo mungkin tidak akan pernah bangun lagi,Tapi—kau tetap akan menjadi putriku kan? " tanya Nyonya Do.Dia menatap Hye Soo dari balik punggungnya.

Hye Soo meletakkan handuk kecil itu ke dalam baskom berisi air hangat yang terletak di meja kecil di samping ranjang Kyungsoo.Dia berdiri dan menghampiri Nyonya Do yang duduk di sofa.

Hye Soo duduk di sebelah Nyonya Do lalu menggenggam tangannya.Nyonya Do masih menatap Hye Soo dengan penuh harap.

" apa Omoni berpikir aku ini anak yang durhaka,huh? " tanya Hye Soo.Bibirnya mengerucut.

Nyonya Do yang melihat itu langsung tersenyum lebar.

" kau—tidak akan pergi? " tanya Nyonya Do.

Hye Soo berpura-pura berpikir.Matanya melirik keatas.

" sepertinya kalau nanti malam ke restoran baru di depan rumah sakit tidak buruk juga " ucapnya sambil melirik Nyonya Do.Bibirnya tersungging jail.

Nyonya Do tertawa melihat tingkah Hye Soo.Malaikat kecilnya.Sejak ada Hye Soo di kehidupan keluarganya,hidupnya terasa sempurna.

" baiklah,aku akan menraktirmu nanti malam " ucap Nyonya Do.

Hye Soo bersorak gembira.Tangannya meninju ke udara lalu memeluk Nyonya Do.Ibu ke-2-nya.Orang tua Hye Soo sudah lama meninggal.Selama ini,ia hanya tinggal dengan Paman dan Bibi-nya yang memang tidak mempunyai anak.Mereka sibuk bekerja,jadi Hye Soo jarang mendapatkan kasih sayang yang seharusnya ia rasakan.Setelah bertemu Kyungsoo dan sering berkunjung ke rumahnya,Hye Soo mulai merasakan kasih sayang orang tua.Ibu Kyungsoo begitu menyayanginya,begitupun Ayah Kyungsoo yang selalu menjaganya.

' D.O Oppa…aku merindukanmu '

***

Sehun menyunggingkan bibirnya.Tangannya membawa parsel buah.Hari ini,sepulang sekolah,Sehun memutuskan untuk menjenguk Jongin.Tidak bertemu dengannya selama 3 hari membuat Sehun merindukan tingkah nakal Jongin.

Sehun menarik nafas panjang saat dirinya sudah berdiri di depan pintu ber-cat putih itu.Sebelum berangkat kemari,Luhan sudah memperingatkan Sehun untuk menerima segala perlakuan Jongin nantinya.

-

" kita bersalah,dan orang yang bersalah pantas menerima hukuman. "

-

Perlahan tapi pasti Sehun membuka kenop pintu itu.

" Hai "

Sehun mengangkat sebelah tangannya menyapa Jongin yang menatapnya sekilas lalu kembali membaca komik yang ada di tangannya.Sehun berjalan pelan ke arah kursi yang tersedia di samping ranjang Jongin dan duduk di sana.

" ini aku bawakan buah untukmu " ucap Sehun.

" hmm..terimakasih,letakkan saja di meja " sahut Jongin datar.Matanya sama sekali tidak lepas dari komik yang di pegangnya.

Sehun mengangguk lalu meletakkan parsel buahnya di meja kecil.

" bagaimana kabarmu? apa sudah membaik? " tanya Sehun.

Jongin mengangguk.
" baik " jawabnya singkat.

Sehun mengangguk-angguk-kan kepalanya.Tangan kanannya menggaruk tengkuknya,suasana yang sungguh canggung.

" Jongin— "

" Sehun— "

Sehun tertawa kecil.
" baiklah,kau duluan saja " ucap Sehun.

Jongin menghela nafas panjang,matanya masih menatap buku komik.

" kalau kau sudah tidak ada urusan sebaiknya kau pulang " ucap Jongin dingin.

Sehun tertegun mendengar ucapan Jongin.

Jongin mengusirnya?

-

" terima saja perlakuan Jongin padamu,jangan berusaha menjelaskan apapun,karena itu percuma,Jongin membenci kita Sehun "

-

Kata-kata Luhan menginterupsi mulutnya yang baru saja akan mengeluarkan penjelasan.Sehun menghela nafas lalu mengangguk pelan.

" baiklah,aku akan pulang " pamitnya.

" hmm " gumam Jongin menyahut.

Sehun berjalan pelan menuju pintu.Dia masih ingin disini,masih ingin menghabiskan waktunya bersama Jongin.

" Sehun-ah "

Seketika Sehun tersenyum lebar saat Jongin memanggil namanya.Ia membalikkan badannya.

" ya? "

Jongin mengangkat kepalanya,menatap Sehun datar.

" bisakah kau tidak menemuiku lagi? "

***

Sehun pulang ke rumah dengan air mata yang mengalir di pipinya.Mata-nya sembab.

" Sehun-ah,apa yang terjadi? " tanya Luhan khawatir.

Sehun tidak menjawab,ia berjalan melewati Luhan dan duduk di sofa.Kedua tangannya menutup wajahnya yang sudah basah dengan air matanya detik ketika ia menutup pintu ruang rawat Jongin.

Luhan menghela nafas lalu ikut duduk di samping Sehun.Mengelus-elus punggung Sehun yang naik turun.

" semuanya akan baik-baik saja, Sehun.Aku janji. "

***

Jongin hanya diam memandangi buku komik yang memang tidak sedikitpun ia baca.Dia hanya pura-pura membaca,bermaksud untuk mencari kesibukan lain.Juga—

" kenapa aku tidak bisa membenci mereka? " gumamnya.

Sebenarnya sejak 3 hari yang lalu,rasa marah terhadap sepasang kakak-adik itu sudah hilang.Bahkan,Jongin merasa kesepian tanpa adanya mereka.

Jongin merindukan candaan Sehun.

Jongin merindukan perhatian yang di berikan Luhan.

Singkat kata…Jongin merindukan mereka.

" bagaimana bisa aku merindukan kalian disaat aku ingin membenci kalian? " Jongin bergumam lagi.

Ia menoleh ke samping,ke arah jendela yang terbuka.Dimana dulu Kyungsoo lompat dari sana dan datang untuk menjadi teman bicaranya.

" Hei hyung,kau dimana? Aku membutuhkanmu,aku—merindukanmu "

***

Hye Soo keluar dari ruang rawat Kyungsoo dengan mengendap-endap.Ini sudah kelewat malam,tapi Luhan terus saja merengek memintanya untuk keluar.

" oh yaampun! " pekik Hye Soo kaget.Bagaimana tidak? Saat ia membuka pintu sesosok Luhan sudah berdiri di depan pintu sambil tersenyum.

" kenapa mengendap-endap seperti itu? " tanya Luhan.

Hye Soo membekap mulut Luhan.
" sstt—di dalam ada orang tua D.O Oppa sedang tidur.Pelankan suaramu " bisik Hye Soo.

Luhan mengangguk mengerti.

" ada apa? kenapa ingin bertemu denganku? " tanya Hye Soo sambil melepaskan tangannya dari mulut Luhan.

Luhan mengangkat bahu.
" ayo temani aku minum kopi! "

" ha? "

***

" sebenarnya apa yang ingin Oppa bicarakan? " tanya Hye Soo.

Hye Soo mulai tidak sabar karena Luhan sedari tadi hanya diam dan menyesap kopi-nya tanpa berbicara sedikitpun.

" Jongin " ucap Luhan pelan.

Hye Soo mengerutkan dahinya.
" ada apa dengannya? " tanya Hye Soo.Entah kenapa nama Jongin terasa begitu sensitive di telinga Hye Soo,ia sudah malas mendengar nama laki-laki itu.

" dia di rawat di rumah sakit ini " jawab Luhan.Ia menyesap kopi-nya sambil menatap jalanan yang mulai sepi dari balik jendela Çafè.

Mata Hye Soo membulat,tapi cepat-cepat ia menetralkan ekspresi terkejutnya,sebelum Luhan melihatnya.

" ohh "

Luhan menatap Hye Soo sambil tersenyum.

"  yakin hanya itu? tidak bertanya bagaimana keadaannya? " tanya Luhan meledek.

Hye Soo mendengus.
" untuk apa? aku tidak punya waktu untuk memikirkannya " jawab Hye Soo.

Luhan mengangguk-anggukkan kepalanya.
" baiklah,aku tidak jadi menceritakan sesuatu padamu "

" tidak bisa begitu! Oppa sudah menyuruhku untuk keluar malam-malam begini,dan dengan entengnya Oppa bilang tidak jadi? Cih "

Luhan tertawa kecil,gadis di depannya sungguh pintar dalam berakting.

" bilang saja kalau kau penasaran " ucap Luhan.

Hye Soo mendelik ke arah Luhan.
" ku bilang tidak! " serunya.

" yasudah karena kau tidak penasaran maka aku tidak akan cerita " Luhan mengendikkan bahu-nya.Berpura-pura tidak peduli.

Hye Soo menghela nafas pasrah.

" baiklah,aku penasaran,cepat ceritakan apa yang terjadi sebenarnya "

***

Hye Soo menatap wajah Kyungsoo.Menggenggam tangannya erat.Tangannya terulur,mengelus pipi lembut laki-laki mungil itu.

" D.O Oppa,aku punya kabar baik untukmu " ucapnya pelan.

Air mata Hye Soo mengalir begitu saja.Ia buru-buru menghapus air matanya.

" aku tidak menangis karena aku sedih,tapi aku menangis,karena aku bahagia " ucapnya.

Hye Soo tersenyum.

" Jongin Oppa—dia sudah mengingatmu.Dia sudah mengingat apa yang hilang dari otaknya.Dia mengingatmu Oppa " ujar Hye Soo.

" Karena itu,ku mohon…bukalah matamu. "

***

" siapa? "

Jongin menyahuti ketukan pintu dari luar ruang rawatnya.

Kenop pintu bergerak dan pintu pun perlahan terbuka.Gadis mungil itu tersenyum manis menatap Jongin.

" Hyesoo… " Senyuman Jongin melebar saat melihat gadis itu berjalan mendekatinya dan duduk di kursi yang terletak di samping ranjang Jongin.

" aku ke sini untuk melihat keadaanmu Oppa " ucap Hye Soo.

Jongin tidak merespon,ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.Terlalu senang membuatnya sulit mengeluarkan kata-kata.

" bagaimana kabarmu? Baik? " tanya Hye Soo.

" eum,aku baik " jawab Jongin cepat.

" Oppa " panggil Hye Soo.

" ya? "

" apa kau bosan disini? "

" sangat,aku sangat bosan,apa kau ingin mengajakku keluar? " Jongin bertanya dengan semangat.Berharap Hye Soo akan mengajaknya keluar seperti dulu.

Hye Soo mengangguk.Ia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya.

" ada…yang ingin ku tunjukkan padamu. "

TBC

Kamis, 22 Mei 2014

EXO Fanfiction: A Lost Memory (Chapter 11)

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: Brothership,Family,Fantasy

Cast:
- Do Kyungsoo
- Kim Jongin
- Xi Luhan
- Oh Sehun
- Kim Hyesoo (OC)

Disclaimer: huufftt sebenernya chapter ini udah lama nangkring cuma masih ragu jadi belom di post tapi karena sekarang lagi gak ada kerjaan jadi gatel pengen nge-post.maaf kalo gak nyambung dan jelek.Enjoy^^

***

Jongin memang gila.

Mereka benar-benar memanjat pagar itu dan masuk ke rumah Kyungsoo dengan sebelumnya memecahkan gembok pintu dengan bata yang ada di sekitar pot bunga.

" apa mungkin dia pindah? " tanya Sehun.

Rumah itu tak berpenghuni.Hanya ada barang-barang yang tertinggal bersama debu di dalamnya.Jongin masih berkeliling tanpa menghiraukan pertanyaan Sehun.Ia hanya merasa rumah ini tampak familiar baginya.

" apa ini? " gumam Jongin sambil memungut sebuah buku hitam berdebu yang tak sengaja di injaknya.

" Do Kyungsoo " baca Sehun yang tau-tau ada di samping Jongin.

Jongin buru-buru memasukkan buku yang diyakininya sebagai buku harian Kyungsoo ke tas-nya.

" Kajja kita pulang.Mungkin dia memang benar-benar pindah " ajak Jongin.

Sehun mengangguk dan berjalan di belakang Jongin.

" Do Kyungsoo? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu " pikirnya.

***

Sehun merebahkan badannya yang ia rasa hampir remuk -setelah 2 kali memanjat pagar setinggi itu-.Otaknya masih terus memikirkan sosok teman baru Jongin yang aneh menurutnya.

Dia tidak mempunyai ponsel.

Dia hanya bertemu Jongin di 2 tempat,taman Sungai Han dan persimpangan jalan rumah Jongin.

Rumahnya kosong.

Namanya Do Kyungsoo.

4 fakta tentang teman baru Jongin yang baru di dapatnya dan itu membuat kepalanya terasa pusing.Pikiran tentang makhluk dunia lain tak bisa di hapus begitu saja,bahkan semakin besar kemungkinannya.

" bukankah begitu? " gumam Sehun mengakhiri kesimpulan yang di buatnya sendiri.

" aku mencarimu,dan ternyata kau disini "

Oke,suara Luhan menghentikan spekulasi yang baru saja akan Sehun keluarkan.

***

Luhan tersenyum dan duduk di samping Sehun.

" aku sedang berpikir,hyung "

Luhan tertawa mengejek,sejak kapan adiknya ini bisa berpikir? -oke,dia jahat-

" hyung " panggil Sehun sambil bangkit dari tidurnya dan menatap Luhan serius-walau di mata Luhan terlihat seperti anak kecil yang ingin memulai cerita serunya-

" apa? " tapi Luhan berusaha menyahut secara normal dan tidak tertawa.

" apa menurutmu,orang yang tidak mempunyai ponsel di zaman yang canggih ini itu normal? " tanya Sehun.

Luhan menatap Sehun heran.Tapi kemudian ia mengangguk.
" normal,karena dia bukan dirimu "

" hyung,aku seriuuusss! " seru Sehun kesal.

" hahahaha..maafkan aku.Memangnya kau sedang berpikir tentang apa? " tanya Luhan penasaran.Siapapun orang yang bisa membuat Sehun berpikir sekeras itu,berarti ia orang hebat.

" teman baru Jongin "

" apa dia perempuan? "

" tidak,laki-laki "

Luhan menatap Sehun.Laki-laki? Sehun memikirkan seorang laki-laki?

" aku normal,hyung " ujar Sehun malas.

" apa yang membuatmu memikirkan teman baru Jongin? "

" ku pikir dia sedikit aneh,maksudku dia tidak mempunyai ponsel,dia hanya bertemu Jongin di 2 tempat.Dan yang lebih membuatku heran,tadi kami ke rumahnya dan ternyata rumah itu kosong.Tidak kosong juga,maksudku semua barang-barangnya masih ada disana hanya tidak berpenghuni.Apa menurutmu itu tidak aneh? "

Luhan berusaha mencerna ucapan Sehun barusan.Ia memang mengakui kalau teman baru Jongin aneh,tapi tidak dapat di pungkiri Sehun bisa saja melebih-lebihkan ucapannya barusan.

" apa kau tau orang yang bernama Do Kyungsoo,hyung? " tanya Sehun lagi.

" siapa? "

" Do Kyungsoo..dia teman baru Jongin "

***

Jongin membuka tas-nya dan langsung mengambil buku harian Kyungsoo yang ia bawa tadi.Ia duduk di kursi dekat jendela kamarnya dan mulai membuka buku hitam itu.

12 Januari 2009

Hai,aku Do Kyungsoo.Oemma memberikanmu sebagai hadiah untuk ulang tahun ku yang ke-14.Senang memilikimu ^^

Jongin tersenyum geli,ia lalu membuka halaman berikutnya.

14 Januari 2009

Hei..selamat ulang tahun yang ke-13 Kkamjjong! Kau sudah semakin dewasa,hyung berjanji akan selalu menjagamu ^^

" Kkamjjong? Apa itu nama adiknya? "

17 Januari 2009

Sebentar lagi aku lulus sekolah dasar.Aahh itu artinya aku akan menjadi namja sungguhan kan?

" cih? Bahkan kau terlihat seperti anak kecil "

Jongin terus saja membaca lembar demi lembar coretan yang ada di buku itu.Sesekai ia tertawa,sesekai ia mencibir dan tak jarang ia mengerutkan dahi-nya karena penasaran.

20 November 2009

Ada sesuatu di kepalaku.Paman berjas putih itu bahkan mengatakan sesuatu -aku tidak mau menyebutnya- dan itu membuat orang tuaku menangis.Apa kkamjjong perlu tau?

27 November 2009

Aku sudah berusaha untuk melakukan segala cara agar sesuatu di kepalaku ini hilang.Tapi kenapa susah sekali?

29 November 2009

Hari ini,aku bermain seharian dengan kkamjjong di taman Sungai Han.Dia bilang padaku,dia ingin ikut aku kemanapun aku pergi.Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman.Bisakah aku meninggalkannya nanti?

31 November 2009

Aku punya dua pilihan.Pergi ke Jepang atau pergi ke surga.Hei,apa tidak ada pilihan pergi ke taman Sungai Han? Aku bosan di sini-bau obat membuat ku mual-.Aku ingin bermain bersama Kkamjjong!

01 Desember 2009

Bisa tolong carikanku alat untuk mengangkat sesuatu dari kepalaku ini? Tidak,karena kau benda mati.

07 Desember 2009

Aku tidak akan kemanapun.Aku tidak mau kemanapun.Aku tidak akan meninggalkan kkamjjong.Aku tidak mau meninggalkan kkamjjong!!

10 Desember 2009

Aku ingin pindah rumah.Oemma memberikanku waktu untuk memberikan ucapan perpisahan pada kkamjjong.Apa aku bisa?

17 Desember 2009

Kkamjjong bilang dia membenciku.Aku minta maaf..aku tidak bisa terus disampingmu.Tapi aku janji,saat aku kembali nanti aku akan terus disampingku.Sukses untuk drama musikalmu ^^

20 Desember 2009

Hyesoo bilang padaku,kkamjjong tidak baik.Dia tidak baik saat aku pergi meninggalkannya.Apa aku sejahat itu?

" mungkin Hyesoo yang dimaksud bukan Hyesoo ini.Hyesoo kan banyak "

25 Desember 2009

Saat natal seperti ini.Aku merindukan kkamjjong..hfftt

30 Desember 2009

Aku ingin menyerah.Ku rasa obat-ku hanya kkamjjong.

31 Desember 2009

Kkamjjong,hyung merindukanmu.

01 Januari 2010

Tahun baru,aku tidak merasakan ada yang spesial.Hyesoo bilang kkamjjong tidak masuk sekolah selama satu minggu.Dia sakit.

07 Januari 2010

Aku benar-benar lelah.Sesuatu di kepalaku benar-benar membuat tenagaku habis.Bahkan berat badanku turun.

08 Januari 2010

Aku menyerah saja.

11 Januari 2010

Selamat tinggal..Kkamjjong..selamat tinggal Kim Jongin.

Kim Jongin.

Kyungsoo menulis Kim Jongin di buku hariannya.

Itu bukan Kim Jongin orang lain.Ia yakin itu Kim Jongin dirinya.Kkamjjong adalah Kim Jongin dan Kim Jongin adalah Kkamjjong.

Ia memang tidak ingat kejadian sebelum kecelakaan itu.Tapi ia ingat kalender besar di rumah sakit saat pertama kali ia membuka matanya menunjukkan tanggal 11 bulan Januari tahun 2010.11 Januari 2010 itu hari dimana ia kehilangan ingatannya.

" Akh! "

***

" Do Kyungsoo koma! Bagaimana mungkin teman baru Jongin orang yang sudah koma! " seru Luhan.Berkali-kali ia menyerukan itu.

" aku tidak tau hyung,Jongin yang mengatakan kalau temannya itu Do Kyungsoo. " sahut Sehun.Pikirannya tidak salah kali ini.Otak fantasy-nya tidak salah.

Do Kyungsoo koma selama 4 tahun dan arwah-nya berteman dengan Kim Jongin.Ck,bukankah itu aneh?

" hyung! " seru Sehun.

" apa?! " bentak Luhan kesal.

" Kita harus ke rumah Jongin saat ini juga! "

Luhan menatap Sehun bingung." Untuk apa? Untuk mengatakan kalau teman baru-nya itu arwah? Itu sama saja bunuh diri! " serunya.

" Jongin menemukan buku harian Kyungsoo dirumahnya.Dia mungkin membacanya sekarang "

" m..mwo?! "

***

Sepasang suami istri itu sedang duduk di ruang tunggu.Sang istri tidak henti-hentinya mengeluarkan air mata memikirkan nasib anak semata wayang-nya yang kini sedang berada di ruang ICU.

Rasa takut akan kehilangan terasa semakin besar di hatinya.Bertahun-tahun ia berusaha menutup mulut agar kejadian buruk itu tidak terulang lagi.Agar tidak ada lagi patung berjalan dirumahnya.Tapi,ternyata ia kecolongan.Sebuah buku hitam yang tergeletak di kamar anaknya sudah cukup untuk menjelaskan apa yang terjadi sebelum anak semata wayangnya itu pingsan.

" jangan tinggalkan Oemma..jangan tinggalkan Oemma.. "

Berulang kali Nyonya Kim bergumam seperti itu.Berharap kali ini Tuhan benar-benar mengabulkan do'a-nya untuk tidak mengambil anaknya.

Pintu ruang ICU terbuka memunculkan seorang pria paruh baya yang memakai jas berwarna putih.

" bagaimana dokter? Jongin baik-baik saja kan? " cerca Nyonya Kim sambil bangkit dari duduknya.

Dokter tersenyum menanggapi.

" Nyonya tidak usah khawatir,Jongin baik-baik saja.Kami akan memindahkannya ke ruang rawat inap biasa "

Nyonya Kim tersenyum lebar begitupun Tuan Kim.Mereka tak henti-hentinya berucap syukur sekaligus terimakasih pada Dokter yang sudah menangani Jongin sejak dulu.

" terimakasih kau mau bertahan untuk Oemma.. "

***

Luhan dan Sehun langsung berlari ke rumah sakit setelah mendengar kabar dari Bibi Lee kalau Jongin di larikan ke rumah sakit.Raut wajah panik terlihat jelas di wajah kakak beradik itu.

" suster,pasien atas nama Kim Jongin di rawat di ruang berapa? " tanya Luhan pada Suster penjaga resepsionis.

Suster itu berkata untuk menunggu sebentar lalu mencari data pasien lewat komputer.Tidak sampai satu menit ia menatap Luhan.

" Melati nomor 88 tuan "

Luhan langsung menarik tangan Sehun dan membawanya ke ruang rawat Jongin.Tanpa mengetuk pintu Luhan langsung membukanya.

" mau apa kalian kesini? " desis Jongin tajam saat melihat Luhan dan Sehun masuk ke ruang rawatnya.

Nyonya Kim memegang tangan Jongin,menenangkan anak-nya.

" Kalian pembohong! " seru Jongin.

Luhan dan Sehun tersentak lalu saling padang.Luhan langsung mendekat ke arah ranjang Jongin.

" pergi dari ku! " teriak Jongin.

" Jongin aku bisa menjelaskan ini semua— "

" ku bilang pergi! aku tidak mau mempunyai saudara pembohong seperti kalian! kalian menjauhkanku dengan hyungku! " teriaknya lagi.

Sehun menggigit bibir bawahnya menahan tangis.Hal yang selama ini ia takutkan terjadi tanpa permisi.Hal yang sama sekali tidak di harapkan terjadi tanpa permohonan.

" kalian semua pergi! Aku ingin sendiri! Pergi! "

" Jongin— "

Jongin menutup mata dan juga telinganya dengan kedua tangannya.

" Kumohon… "

TBC

Jumat, 25 April 2014

EXO Fanfiction: What Is Friend?

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: School Life,Friendship

Cast:
- Xi Luhan
- Seo Yoo Ra (OC)
- Kim Minseok

Disclaimer: okeh,ini fanfic semoga ngena sama genre friendship-nya..ehehehe-masih belom jago nulis-.Semoga suka,maaf kalo banyak kesalahan dan gak nyambung.Enjoy^^

***

" annyeonghaseyo,choneun Xi Luhan-imnida..bangapseumnida "

Luhan membungkuk hormat kepada semua 'bakal' teman barunya itu.Ia tersenyum manis sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas.Banyak gadis-gadis yang berbisik membicarakannya.Lalu anak laki-laki yang tidak menganggapnya.Dan satu orang gadis yang sibuk dengan catatannya.

" baik Luhan,silahkan duduk di sebelah Minseok " ucap Kang Seonsaengnim.

Luhan mengangguk dan bersyukur ia duduk disamping Minseok satu-dari tiga laki-laki-yang tersenyum memperhatikan Luhan.

" hai,aku Minseok " laki-laki berwajah imut itu berbisik menyapa Luhan.

Luhan mengangguk dan tersenyum membalas 'bakal' teman baru-nya itu.

***

" kalau toilet,kau tau letaknya dimana kan? "

Luhan mengangguk.Jelas dia tau,tadi pagi sebelum ke ruang guru,dia mampir ke toilet terlebih dahulu.

" lalu,apa ada yang kurang di mengerti? kalau belum,akan ku jelaskan dari awal " ucap Minseok tersenyum hangat.

Luhan menggeleng cepat.Sedikit menyesal menerima jasa Minseok sebagai tour guide-nya hari ini.Luhan terpaksa mendengar seluruh rahasia umum di sekolah ini,sampai gosip terbaru tentang guru mereka yang tidak bisa makan nasi.Hei apa itu penting?

" baiklah,tidak ada pertanyaan? " tanya Minseok.Ia mulai menyumpit telur gulung dari kotak bekal-nya.

Luhan menggeleng.Ada pertanyaan itu artinya ia harus merelakan waktu makan siangnya untuk mendengar dongeng pengantar tidur Minseok.

***

Luhan melirik jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya.Satu jam sebelum bel masuk berbunyi,ia sudah berada di lorong kelasnya.Datang pagi-pagi ke sekolah adalah hal yang menyenangkan baginya.Luhan bisa tidur tanpa ada teriakan Ibu-nya yang marah-marah karena ikan goreng-nya hilang di curi kucing tetangga.Tidak ada suara rengekan Sehun-adiknya- yang mencari dasi atau sebelah kaus kaki-nya yang hilang.Tidak ada teriakan dan hanya ada suara kicauan burung yang merdu.

" aa-anyeong " sapa Luhan sedikit kaget saat melihat gadis yang mengacuhkannya seminggu yang lalu-saat perkenalan diri- sudah duduk manis di bangkunya.Gadis itu melihat Luhan,tapi sama sekali tidak meresponnya,ia kembali membaca buku di hadapannya.

Luhan mengangkat kedua bahu-nya.Tidak masalah,selama gadis itu masih sibuk dengan bukunya,Luhan bisa tidur dengan nyenyak.

Itu hanya pikiran Luhan saja.

Nyatanya,setelah limabelas menit ia duduk di bangkunya.Luhan malah tidak bisa memejamkan matanya,matanya terus terjaga.Sedangkan di kelas ini,hanya ada dia dan gadis di depannya.

" hei--apa…kau tau? Gosip tentang Lee Seonsaengnim yang tidak bisa makan nasi? Ha-ha-ha itu konyol kan… "

Krik.

Luhan menggaruk tengkuknya.Gadis itu hanya diam dan sama sekali tidak merespon.

" aku bosan,bicaralah sedikit… " desah Luhan sambil menjatuhkan kepalanya di meja.Ia menghela nafasnya berkali-kali.Angin pagi mulai menerpa wajah Luhan,membuat mata-nya menutup secara perlahan-lahan.

Luhan mulai tertidur saat sebuah suara memecah keheningan pagi itu.

" Hei--apa kau tau,bagaimana rasanya punya teman? "

***

Luhan masih tidak habis pikir dengan apa yang di dengarnya barusan.Suho-si ketua kelas- menghancurkan angan-angannya sore itu dengan sebuah berita duka.

" Hari ini tugasmu membersihkan kelas " ucapnya saat Luhan baru kembali dari toilet untuk mengambil tas-nya.

" aku? dengan siapa? " tanya Luhan.

" dengan Seo Yoo Ra,gadis yang duduk di depanmu " jawab Suho sambil menepuk sebelah pundak Luhan dan berlalu pergi.

Gadis yang duduk di depannya.

Gadis yang tidak membangunkannya saat Chanyeol memfoto dirinya yang sedang tertidur dengan mulut terbuka.

Gadis yang…

" Apa dewi fortuna benar-benar membenciku? "

***

Luhan tidak yakin apa Seo Yoo Ra itu benar-benar manusia atau bukan.Gadis itu benar-benar tidak mengajaknya berbicara sama sekali.Bahkan sekedar berbicara untuk berbagi tugas-pun tidak.Dia hanya membawa satu sapu dan satu pel-an dari ruang janitor.

" hei--Yoo Ra-ssi kau…penulis cerita di mading sekolah kita ya? " tanya Luhan hati-hati.

Luhan memang harus hati-hati,ia sedang naik ke atas meja,tangannya mengelap jendela kelas,matanya melirik ke arah Yoo Ra yang sedang menyapu.

Tadi saat kembali dari kantin,ia sempat membaca mading sekolah dan menemukan sebuah cerita menarik yang mampu membuatnya mau berdiri 15 menit hanya untuk membaca sebuah cerita.Dan saat melihat nama penulis-nya,Luhan bertekad ingin menjadikannya teman.

Kenapa?

Entahlah,Luhan hanya merasa mereka harus berteman.

" iya "

Luhan langsung memutar tubuhnya saat sebuah jawaban terdengar dari mulut gadis itu.Luhan menatap punggung Yoo Ra yang menyapu debu dan sampah kertas di ujung pintu.

" Hei--ceritamu itu sangat-- "

BRUK!

" AUGH! "

Luhan meringis saat dahi-nya mencium lantai kelasnya.Ia terpeleset karena terlalu bersemangat bertanya pada Yoo Ra.

Gadis itu pun menghela nafas,lalu berjalan menghampiri Luhan.Berjongkok di samping laki-laki yang masih meringis memegangi dahi-nya yang mulai memerah.

" tunggu disini "

Luhan mendengar gadis itu memerintahnya,ia berjalan keluar kelas.Setelah merasa pusingnya berkurang Luhan duduk di kursi,dahi-nya berdenyut-denyut membuat semua yang ada di depannya terasa berputar.

Yoo Ra kembali dengan kotak putih yang Luhan yakini itu kotak P3K.Gadis itu pasti baru saja mengambilnya dari ruang kesehatan.

Yoo Ra duduk di bangku yang ada di depan Luhan,membuka kotak P3K dan mengeluarkan obat merah dan plester.

" kemarilah " ucapnya datar.

Luhan menurut lalu memajukan wajahnya.Sementara Yoo Ra memberikan obat merah di dahi Luhan yang merah-tidak ini lecet.Luhan menahan nafasnya,ia bisa melihat wajah gadis pelit suara ini dari jarak 10cm.Wajah seriusnya terlihat begitu cantik saat dilihat dari dekat.

" kau membaca ceritaku? " tanya Yoo Ra saat dirinya selesai mengobati dahi Luhan.Ia memasukkan obat merah ke dalam kotak P3K lalu menutupnya kembali.

" hmm.. " Luhan menggumam sambil mengangguk.

" apa komentarmu? "

Luhan mengerutkan alisnya " kau meminta komentarku? " tanya Luhan menunjuk dirinya sendiri.

Yoo Ra mengangguk " bukankah setiap pembaca pasti punya sesuatu untuk di ungkapkan setelah membaca suatu cerita? Katakanlah,tidak apa-apa walaupun itu tidak bagus. "

" ceritamu bagus,aku suka " puji Luhan sambil tersenyum manis.

Yoo Ra menatap Luhan datar.
" terimakasih "

" aku suka caramu menggambarkan karakter Min Ah yang tidak pernah mempercayai teman lagi.Bagaimana dia jadi gadis pendiam setelah temannya meninggalkannya begitu saja saat Min Ah membutuhkannya.Dan setelah itu dia tidak pernah percaya dengan kata teman.Menurutnya teman itu tidak ada,yang ada hanya seseorang yang akan datang bila membutuhkan dan pergi dengan sesuatu yang dibutuhkannya,itulah teman menurut Min Ah.Teman itu tidak ada,yang ada hanya seseorang yang membicarakan keburukan seseorang yang lain saat orang itu tidak ada disampingnya,itulah teman menurut Min Ah.Di dalam kamus hidup Kim Min Ah,teman itu tidak ada,yang ada hanya seseorang yang datang membawa kebahagiaan dan pergi meninggalkan luka yang dalam. " ujar Luhan menatap dalam mata gadis di depannya itu.

" Kim Min Ah.Gadis bodoh yang percaya begitu saja dengan sebuah pertemanan.Gadis bodoh yang dengan mudah menyayangi temannya.Gadis bodoh yang menghabiskan air matanya hanya untuk seorang teman yang bahkan tidak perduli padanya.Kim Min Ah,dia hanya gadis bodoh. " ujar Yoo Ra membalas tatapan Luhan.

" Tidak,Kim Min Ah tidak bodoh,yang bodoh itu adalah seorang teman yang menyia-nyiakan temannya.Dia itu bodoh karena meninggalkan teman yang begitu menyanyanginya.Teman Min Ah yang bodoh.Kim Min Ah tidak bodoh "

Yoo Ra tersenyum kecil.
" benarkah begitu? " gumamnya.

" aku percaya teman itu ada " ucap Luhan.

Yoo Ra menatap Luhan,menunggunya melanjutkan teori teman menurutnya.

" teman menurutku adalah seseorang yang ada disampingmu disaat apapun.Seseorang yang akan mengulurkan tangannya saat kau jatuh.Seseorang yang akan menarikmu keluar saat kau masuk kedalam jalan yang salah.Seseorang yang akan merangkulmu,menenangkanmu,dan menghapus air matamu.Dan saat kau menemukan seseorang itu.Itu berarti kau sudah menemukan teman.Teman yang sesungguhnya. " ujar Luhan panjang lebar.

Yoo Ra mengangguk-anggukkan kepalanya.Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.Pundaknya terasa ringan sekarang.

" mungkin kau benar "

" bukan mungkin,tapi aku memang benar "

Yoo Ra berdiri lalu menggemblok tas punggung-nya.
" aku ingin pulang "

Luhan mengenggam tangan Yoo Ra lembut.
" apa sekarang kau percaya di dunia ini ada teman? " tanya Luhan dengan sorot mata yang penuh harap.

Yoo Ra tersenyum menatap Luhan.

" ku pikir Min Ah sudah mempunyai teman sekarang "

Luhan melebarkan matanya.Ia melepaskan genggaman tangannya.Luhan berdiri dari kursinya dan menggemblok tas punggungnya.

" ayo kita pulang bersama,seorang teman tidak akan membiarkan temannya sendirian "

Yoo Ra mengangguk.

Mereka berdua bergandengan berjalan keluar dari kelas dengan senyum yang tak lepas menghiasi wajah mereka.

" sekarang aku tau rasanya punya teman " ucap Yoo Ra.

" bagaimana rasanya? " tanya Luhan menatap sisi wajah cantik Yoo Ra.

" Seperti melihat matahari terbit dari sebelah timur,dimana sinar matahari akan membawa kehidupan baru untuk kebahagiaan yang baru.Rasanya hangat dan menyenangkan "

END