Laman

Tampilkan postingan dengan label Kyungsoo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kyungsoo. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Oktober 2014

About Him.

" semua yang ku tau tentangnya "

***

Aku menyeret kakiku malas menggeret koper peach-ku memasuki tempat tinggal baruku.Sebuah kompleks di pinggir kota yang jauh dari kata ramai.Ayah di pindah tugaskan,jadilah aku dan Ibu-ku pun ikut terkena imbasnya.

Aku harus ikut pindah.

Padahal,berulang kali aku bilang tidak dan mengatakan aku akan baik-baik saja tinggal di Seoul bersama Paman dan Bibi.Tapi,Ibu dan Ayah tidak mengizinkanku,mereka melarangku dan mengatakan akan jauh lebih baik jika aku ikut pindah.

" sayang,bereskan kamarmu sendiri ya? Ibu harus membereskan ruang tamu " seru Ibu di ambang pintu kamar baruku.

Aku hanya dapat mengangguk singkat lalu mulai membereskan kamarku,dari mulai membereskan baju hingga menyapu.Setelah selesai membereskan kamar,kakiku melangkah menuju balkon,sekedar mencari angin karena di dalam terlalu sumpek.

Aku menyunggingkan senyum,tidak terlalu buruk.Mataku menjelajahi seluruh sudut kompleks yang dapat di jangkau oleh mataku.Sejak melewati kompleks ini menggunakan mobil sampai detik ini pun aku belum melihat tanda-tanda ada anak seumuran denganku.

Aku suka suasana tenang,tapi terlalu tenang itu bukanlah hal yang baik.Aku menghela nafas berat,seketika ingat teman-teman sekolahku yang berada satu kompleks denganku.

Aku rindu mereka.

" sayang? "

Aku menoleh saat mendengar suara lembut Ibu.Ibu tersenyum menatapku, " kau sudah selesai? "

Aku mengangguk.

" turunlah,dan kita makan siang " ujarnya.

Lagi-lagi aku mengangguk dan Ibu pun turun terlebih dahulu.

Aku kembali berbalik,kali ini kepalaku menengadah menatap awan siang ini yang begitu cerah.Otakku sibuk berpikir cara yang tepat agar Ibu dan Ayah mengizinkanku kembali.Saat aku menurunkan pandanganku,aku menangkap siluet anak laki-laki di rumah seberang.Anak bermata bulat itu duduk di balkon kamarnya.Ia tersenyum manis padaku sambil melambaikan tangannya.

Aku pun membalas senyumannya dan lambaian tangannya.

Yang aku tau saat itu,aku baru saja mempunyai seorang teman baru.

***

" hari ini adalah hari pertama kau bersekolah,tersenyumlah dan sapa temanmu,kau mengerti? "

Aku memutar bola mata malas.Ucapan Ibu barusan membuatku terlihat seperti anak sekolah dasar daripada anak sekolah menengah pertama.

" Bu,aku tau apa yang harus ku lakukan " sahutku malas.

Ibu dan Ayah sama-sama terkekeh.

" Ibu dan Ayah tidak usah khawatir,aku sudah memiliki teman " ucapku lalu meneguk habis susu coklatku dan mengelap 'kumis susu' dengan punggung tangan.

Ayah mengernyit heran mendengarnya.
" oya? Siapa? "

Aku tersenyum jahil membalas kernyitan di dahi Ibu dan Ayah lalu berdiri dari kursi.

" nanti juga Ayah dan Ibu tau,yasudah aku berangkat yaaaa " pamitku lalu berjalan keluar rumah.

Suasana pagi di kompleks ini tidak terlalu buruk.Karena masing-masing rumah pasti memiliki taman dan satu pohon,udara di pagi hari pun sangat terasa sejuk.

" pagi "

Aku berhenti melangkah dan mendongak.Anak laki-laki yang ku lihat kemarin menyapaku dengan suara lembutnya.Ia tersenyum menunjukkan heart shaped lips-nya yang manis.

" Hai,pagi " sahutku.

" kau ingin pergi sekolah? " tanyanya.

" eum " Aku mengangguk.

" baiklah,hati-hati di jalan " ujarnya ramah.

" terimakasih " sahutku.Aku melambaikan tangan lalu kembali berjalan.

Rasanya energiku langsung bertambah setelah melihat senyumnya.

***

Aku menghempaskan tubuhku ke kasur setelah seharian menghabiskan waktuku di sekolah.Aku ini murid baru tapi mereka dengan seenaknya langsung mencekoki-ku materi tanpa memberiku kompensasi sedikitpun.

Hanya karena aku murid pindahan dari Seoul,ugh menyebalkan.

Aku membuka mataku yang terpejam saat mengingat anak laki-laki manis yang menyapaku tadi pagi.Aku bangkit dari kasur lalu berjalan menuju balkon.

Benar saja.

Anak laki-laki itu sedang duduk di balkon dengan buku yang ada di tangannya.

Aku melambai-lambaikan tanganku berusaha menarik perhatiannya.Aku tertawa kecil saat menyadari betapa seriusnya dia sampai-sampai tidak menyadari keberadaanku.

" hei kauuuuuu!!!!~~~ " teriakku.

Kepala anak laki-laki itu mendongak lalu tersenyum seperti biasa-manis-saat melihatku.Ia melambaikan satu tangannya.

" sedang membaca buku apa? " tanyaku.

Ia mengangkat bukunya dan menunjukkan sampulnya padaku.

" hanya sebuah buku matematika " jawabnya.

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.Satu kesimpulan baru yang dapat ku lihat darinya.

Anak laki-laki ini ternyata pintar.

" tadi pagi aku tidak melihatmu ke sekolah,kenapa? " tanyaku penasaran.

Ia hanya menggeleng.

" kau sakit? "

Ia mengangguk.

Aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku lagi.Menggaruk belakang kepalaku berusaha mencari topik pembicaraan yang menarik.

" sayaanngggggg " suara Ibu terdengar di telingaku.

" hei,ku rasa aku harus pergi,nanti kita sambung lagi ya! " ucapku.

" baiklah,aku akan menunggumu disini " balasnya sambil tersenyum.

Mendengar kata 'menunggumu' pipiku rasanya memanas.Aku merasa spesial saat ia berkata seperti itu.Aku kemudian mengangguk sebagai balasan lalu kembali memasuki kamar.

" kau sedang apa? Ibu memanggilmu sejak tadi tapi kau tidak menjawabnya " tanya Ibuku.

Aku hanya meringis.
" tidak,bukan apa-apa.Ayo kita makan siang bu "

***

Anak laki-laki itu benar-benar menungguku.

Setelah mempercepat kegiatan makan siangku,aku langsung naik ke atas kamar dengan alasan aku harus menyelesaikan tugas sekolah.Sesampainya di kamar,aku langsung berlari lari-lari kecil ke arah balkon.Tanganku kembali melambai padanya.

" aku kembali! " seruku.

Ia mengangguk.
" aku tau "

Kami saling melempar senyum lalu berlanjut dengan acara mengobrol.Aku dan anak laki-laki itu mengobrol apa saja,aku terlihat seperti wartawan yang mewawancarai artisnya.Aku yang selalu bertanya dan dia yang selalu menjawab.

Dia yang sangat suka memasak.

Dia yang tidak suka makanan cepat saji.

Dia yang sangat suka bernyanyi.

Dia yang sangat suka Matematika dan Fisika.

Dan…dia yang tidak bisa berjalan lagi untuk selama-lamanya.

***

" Menurutmu apa yang ku kerjakan ini benar?! " seruku sambil menunjukkan tugas matematika yang sudah ku kerjakan.

Dia menggunakan teropongnya untuk melihat pekerjaanku,selanjutnya dia mengangguk dan mengacungkan kedua ibu jarinya.

" benar,kau hebat! " pujinya.

Aku tersenyum malu sambil menyelipkan rambutku ke belakang telinga.

" apa kau betah tinggal disini? " tanya anak laki-laki itu.

Aku mengangguk mantap.
" tentu saja,aku mempunyai teman sepertimu disini,tentu aku betah " jawabku lantang.

" aku senang mendengarnya " sahutnya.

***

Aku mengelap mulutku dengan tisu makan,lalu menatap Ibu dan Ayah.

" Bu,Yah aku ke kamar ya,aku harus menghapal dialog untuk pentas dramaku minggu depan " ucapku.

" anak Ibu akan tampil dalam pentas drama? apa peranmu,sayang? " tanya Ibu.

" eum,hanya peran kecil,sih.Tapi,setidaknya peranku cukup membantu " jawabku.

Ayah dan Ibu terkekeh mendengar jawaban jujurku.Yaa—mungkin seharusnya aku mengatakan kalau aku jadi pemeran utama.

" yasudah sana,anak Ayah harus berlatih dialognya agar terlihat lebih bagus dari si pemeran utama " ujar Ayah.

Aku hanya meringis lalu beranjak dari kursi dan berjalan menuju kamar.Sesampainya di kamar aku langsung menyambar teks skenario yang sudah ku letakkan di atas meja belajar.

TUK!

Aku menoleh ke arah pintu kaca balkon yang seperti di lempar kerikil.Kakiku melangkah was-was bayangan sesuatu yang mengerikan mulai meracuni pikiranku.Tanganku terulur membuka knop pintu.

" astaga…kau mengagetkanku " ucapku saat melihat anak laki-laki itu tersenyum lebar di seberang sana.

" kau terlihat ketakutan,Nona " ejeknya.

" ya,aku memang ketakutan.Ku kira kau hantu! Astaga! Aku hampir mengompol tadi! " seruku geram.

Anak laki-laki itu hanya tertawa kecil menanggapi ucapanku.

" apa yang kau bawa? " Ia bertanya sambil mengarahkan dagunya ke kertas yang ku pegang.

" Oh ini " aku mengangkat kertas itu, " skenario yang harus ku hapalkan,minggu depan aku tampil di pentas drama "

" oya? kau mendapat peran apa? " tanyanya.Walaupun ia bertanya tapi wajahnya benar-benar datar tanpa ekspresi penasaran sedikitpun.

" peran utama " jawabku singkat.Mengambil pengalaman saat di meja makan tadi,aku tidak ingin anak laki-laki ini tertawa mengejekku kalau aku menjawab bahwa aku hanya berperan sebagai anak perempuan miskin pedagang sayuran di pasar.

" sungguh? tapi skenario-mu tipis sekali,sama sekali tidak mencerminkan kalau kau mendapat peran utama " Anak laki-laki itu menunjukkan ekspresi tidak percaya.

Aku hanya mengendikkan bahu tidak ambil pusing.Lalu mulai membaca skenario-ku.

" hei,daripada aku di anggurkan bukankah lebih baik jika aku membantumu? " tanya anak laki-laki itu.

Aku mendongak dan melihat tampang bosannya.Aku tertawa kecil,ternyata dia merasa di acuhkan.

" baiklah,aku akan melemparkan skenario-ku ini,sebentar "

Aku bergegas masuk ke dalam kamar dan meraih kaleng plastik tempat potato chips-ku.Aku menggulung kertas itu dan memasukkannya ke dalam kaleng,lalu kembali berlari ke luar.

" hei,tangkap! " seruku sambil melempar kaleng itu ke arahnya.

BUK!

Kaleng itu mendarat mulus di pangkuannya.Ia mengambil kaleng itu lalu membukanya.

" ternyata hanya anak perempuan miskin penjual sayur " aku mendengarnya bergumam setelah membaca isi skenario itu.

" kau mau membantu tidak? " sahutku sinis.

Anak itu tertawa kecil, " aku bercanda,kenapa kau serius sekali,sih? "

" jadi,aku disini berperan sebagai pangeran kerajaan yang membeli sayuran? "

Aku mengangguk.

" dan kau anak perempuan yang mengidolakan ku? "

Aku menggeleng, " bukan kau,tapi pangeran "

" aku tau " sahutnya malas.

Anak bermata bulat itu berdehem, " hei,kau yakin aku harus menyebutmu ini? Apa skenario ini benar-benar gurumu yang buat? " Ia menatapku dengan pandangan tidak percaya.

Aku memutar bola mata malas, " oh ayolah,kau hanya tinggal membacaaa!!! " seruku geram.

Ia mengendikkan bahu tidak peduli,lalu kembali menatap skenario itu.Ia menatapku sambil tersenyum.

" hei anak manis,aku ingin membeli selada,bayam,kangkung,wortel,tomat dan bumbu dapur lainnya " ujarnya berlagak seperti pangeran.

Ralat.

Dia seperti pangeran sungguhan.

Tanpa sadar aku mengerjap-ngerjapkan mataku,ini bukan akting,tapi aku sungguh tidak bisa berkata.

" huh? ba—baiklah " tanpa sadar ucapanku terbata.Aku berlagak seperti mengambil sayuran lalu mengulurkan tanganku,seperti memberi sayuran itu padanya.

Ia tersenyum,lalu mengulurkan tangannya berlagak mengambil sayuran itu dariku.

" jangan pernah menyerah pada hidupmu,dengan begitu hidup juga tidak akan menyerah padamu "

Aku refleks mengangguk,walaupun aku sadar,ucapannya itu tidak ada dalam skenario.

***

" Ibu melihat aktingmu semalam,kau pintar "

Aku mendongak dan tersenyum lebar pada Ibu yang sedang meletakkan telur mata sapi di atas roti panggangku.

" ahh tidak juga bu,itu semua berkat temanku " jawabku sambil menggigit sarapan lezatku pagi ini.

Ibu mengernyitkan dahinya menatapku.
" teman? "

Aku mengangguk lalu menelan roti panggangku.
" dia semalam yang membantuku "

Ibuku tersenyum aneh,seperti orang yang sedang menahan 'panggilan alam'.

" kalau boleh tau siapa namanya? "

Aku menepuk jidat,baru ingat kalau selama satu minggu ini aku beteman dengan anak laki-laki itu aku belum pernah menanyakan siapa namanya.

***

Aku melambaikan tanganku padanya,ia balas melambai sambil tersenyum lebar.

" ada yang ingin ku tanyakan " ucapku.

Ia menaikkan satu alisnya.
" apa? "

Aku menarik nafas dalam, " kita sudah berteman sejak tujuh hari yang lalu,banyak hal yang sudah ku ketahui tentangmu,dan kau juga sudah tau aku,tapi…ada satu yang terlewatkan "

" oya? apa itu? "

" nama…aku belum tau siapa namamu? "

Anak laki-laki itu mengangguk paham sambil tersenyum,ia mengulurkan tangannya.
" baiklah,perkenalkan namaku Do Kyungsoo,senang berteman denganmu "

***

Setelah selesai belajar aku langsung turun ke lantai satu dan menghampiri Ibu yang sedang duduk menonton tv.Aku menghempaskan tubuhku di sampingnya.

" Bu " panggilku.

Ibu menoleh menatapku sambil tersenyum lembut.
" ada apa,sayang? "

" aku sudah tau siapa nama temanku " ucapku antusias.

" oya,siapa? " Ibu menatapku penasaran.

" Ibu tau anak laki-laki tampan yang ada di depan rumah kita? " tanyaku.

" anak laki-laki tampan yang ada di depan rumah kita? " Ibu mengulang pertanyaanku.

Aku mengangguk, " iya,dia temanku,dia teman yang membuatku betah tinggal disini,dia yang membantuku mengerjakan pr,mendengarkan keluhanku,menemaniku mengobrol dan membantuku menghapalkan dialog.Dia orangnya,bu "

Aku menarik nafas,aku sadar senyumanku sangat amat lebar sekarang.
" namanya Do Kyungsoo,bu.Do—Kyungsoo. "

Aku tersenyum lebar menatap Ibu yang hanya diam menatapku,mungkin Ibu shock karena ceritaku yang terlalu cepat.

" sayang " panggilnya.

" yes,i am! " sahutku lugas.

Ibu menatapku dengan pandangan yang sulit ku artikan.

***

Aku masih ingat.

Aku masih ingat saat pertama kali anak laki-laki yang ku ketahui namanya Do Kyungsoo itu melambaikan tangannya padaku.

Dia yang ku ketahui mempunyai hobi memasak.

Dia yang ku ketahui mempunyai hobi membaca.

Dia yang ku ketahui tidak suka makanan cepat saji.

Dia yang ku ketahui tidak suka basa-basi dan tidak mudah bergaul.

tes.

tes.

tes.

Tanganku bergerak untuk menghapus air yang keluar dari kedua bola mataku.Lagi.

Aku tidak bisa mengeluarkan suara,karena suaraku habis akibat menangis terlalu lama.

Tanganku bergetar memegang kertas putih yang ku temukan ada di depan pintu balkon empat jam yang lalu.

Untuk anak perempuan manis penjual sayur :)

Aku berharap saat kau baca tulisanku yang ku akui bagus ini kau sedang dalam keadaan bahagia.Eum...aku bingung bagaimana memulainya  o_O

Kau sedang apa sekarang? Menghapal dialog? Atau memakan potato chips? Ku harap kau sedang tidak menghapal dialog sambil memakan potato chips,karena itu akan membuatmu tersedak,hehehehe ^^

Kau ingat bagaimana saat pertama kali kita bertemu? Ku rasa harusnya kau ingat.Kau bertanya apa aku mengingatnya? Eum...bagaimana ya? Bukannya sombong,tapi kau harus tau kalau aku pengingat yang paling bagus di kelasku.

Baiklah,tidak usah bertele-tele,pertama kali aku melihatmu di balkon aku rasa aku sudah menemukan teman terbaikku.Caramu tersenyum dan melambaikan tanganmu waktu itu membuatku sadar,kalau kau tulus padaku.

Aku tidak pernah memiliki teman lagi sejak kakiku tidak bisa menjalankan fungsinya lagi.Mereka tidak meningalkanku,tidak mereka tidak begitu.Kau harus tau kalau teman-temanku itu setia.

Tapi aku yang lebih memilih meninggalkan mereka,aku lebih memilih tidak bersama mereka lagi.

Aku merasa lega kalau kau itu mudah bergaul dan menerimaku apadanya,walaupun terkadang kau terlalu cerewet,apalagi nyanyian sebelum tidurmu itu.

Ya,benar.Aku mendengarnya karena aku akan selalu terjaga setiap malam.

Aku selalu memperhatikan semua orang,termasuk kau dan orang tuaku.Melihat orang di sekelilingku tersenyum itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku merasa tenang.

Hei,kau tidak tertidur 'kan? Ku harap kau tidak menganggap kisahku seperti dongeng putri salju.

Aku ingin mengatakan padamu,kalau tidak semua yang terlihat nyata itu adalah nyata,terkadang apa yang kau anggap nyata itu hanyalah sebuah ilusi belaka.

Jangan lupa semua rumus yang telah ku ajarkan,jangan lupa semua dialog drama,dan tampilkan yang terbaik.Jangan lupa menutup pintu sebelum tidur,karena diluar dingin.Jangan lupa mencuci kaki dan menggosok gigi sebelum tidur,aku sering melihatmu langsung menaiki kasur dan tidur tanpa melakukan itu.Jangan lupa makan karena aku tau kau sering melupakannya dan memilih memakan potato chipsmu dan permen karet,itu kurang sehat,Nona --".

Dan......

Terakhir,aku sangat memohon ini padamu.

Jangan pernah lupakan aku,jangan.Aku ingin kau selalu mengingatku.Mengingat semua tentangku dan tentang pertemanan singkat kita-yang ku harap bisa jadi teman abadi.

Senang berkenalan denganmu,senang bisa menjadi temanmu,senang bertemu denganmu,manis.

                    - Do Kyungsoo-

Aku menatap balkon seberang kamarku yang kini kosong.Tidak ada anak laki-laki bermata bulat yang tersenyum sambil melambaikan tangannya padaku.Tidak ada anak lelaki bermata bulat yang membantuku mengerjakan tugas.Tidak ada anak lelaki yang bermata bulat yang selalu menasihatiku ini dan itu.

Yang ada hanya kaleng potato chips ku yang masih tertutup rapat dengan kertas skenarioku yang ada di dalamnya.

Dan terakhir yang ku tau tentangnya,anak laki-laki bermata bulat bernama Do Kyungsoo itu sudah meninggal dua tahun lalu karena penyakit mematikannya.


END

Selasa, 08 Juli 2014

EXO Fanfiction: Lie.

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: School Life,Romance,Fluff

Cast:
- Do Kyungsoo
- Ahn Hee (OC)

Support Cast:
- Byun Baekhyun.

Sebelumnya:
- D'Answer
- Sweet Message.
- He's Jealous!
- Sweet Date.

Disclaimer: Yehet! Selesai yehet! Aku suka Kyungsoo dan sekarang makin suka Kyungsoo :3 Jadi itu alasannya aku ngelanjutin series ini XD Maaf kalo jelek dan gak dapet feel-nya.Enjoy^^

***

Samar-samar aku membuka mataku karena silaunya matahari yang menyusup masuk lewat celah jendela.Aku menguap lebar sambil mengusap-usap mataku.Mengerjapkan mata beberapa kali untuk menormalkan penghilatanku.

" ASTAGA! "

Aku langsung bangkit dari karpet kamarku saat sadar kalau hari sudah mulai siang.

Tidak.

INI MEMANG SUDAH SIANG!

Aku langsung berlari menuju kamar mandi dan membersihkan diri dengan asal.Memakai seragam tanpa memperdulikan kalau seragam ini lupa ku gosok kemarin.Menyisir rambut dengan brutal sampai rasanya rambutku mulai menipis.Aku menyambar tas punggung-ku dan langsung berlari turun ke bawah setelah memakai sepatu tanpa memperdulikan kalau sepatuku tidak sepasang.

" bu,aku berangkat! " seruku tergesa lalu melesat secepat kilat.

Sampai-sampai aku lupa.

" rok ku terbalik! "

***

Aku meringis menahan perih perutku yang belum sempat sarapan pagi ini.Cheon seonsaengnim mengusirku keluar karena aku terlambat satu jam,di tambah penampilanku yang berantakan dan jangan lupakan rok-ku yang terbalik.Aku dihukum berlutut di luar kelas dengan tangan kanan memegang telinga kiri dan tangan kiri memegang telinga kanan.

Sampai bel istirahat.

Aku benar-benar sial pagi ini.

" ada apa denganmu? " Kyungsoo bertanya sambil meneliti wajahku.

Aku menunduk dalam.Aku sangat amat malu karena saat bel istirahat Kyungsoo menghampiriku,dia bahkan yang membantuku berdiri.

" aku menjemputmu dirumah,tapi ibu-mu bilang kau susah bangun dan dia bilang padaku untuk pergi duluan saja "

Aku menghela nafas,berusaha menetralkan rasa takut yang ada di dalam diriku.

" kau tidur pukul berapa? " tanya Kyungsoo.

Aku memejamkan mataku rapat-rapat,berusaha mencari alasan masuk akal untuk orang jenius seperti Kyungsoo.Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku tidak bisa tidur karena mencari Garikja yang hilang entah kemana.

Dia bisa menghabisiku kalau tau cincin itu hilang.

" pukul sembilan " jawabku pelan.

Ku dengar Kyungsoo menghela nafas keras.
" angkat kepalamu! kau itu kenapa sih?! " seru Kyungsoo.

Aku langsung mengangkat kepalaku dan menatap Kyungsoo takut.

" kalau kau tidur pukul sembilan,kenapa bisa terlambat? "

" aku mimpi buruk "

Kyungsoo mengernyit tidak percaya.

" aku baru tau kalau mimpi buruk bisa membuat tidur seseorang nyenyak " ucapnya dengan nada menyelidik.

Aku menelan ludah lalu menatapnya memohon.

" bisakah kita pesan makanan sekarang? Sungguh,perutku perih sekali "

***

Kyungsoo sudah melupakan soal keterlambatanku tadi pagi,aku tau itu.Dia bersikap seperti biasa,datar.Saat ini kami sedang berada di perpustakan hampir tiga jam.Kyungsoo mengawasiku belajar materi ulangan biologi yang ada di kelasku besok.Padahal aku sudah berusaha meyakinkan Kyungsoo kalau aku pasti akan belajar dirumah.Tapi,Kyungsoo tetaplah Kyungsoo,dia menahanku di perpustakaan ini.

Ugh,aku sungguh ingin pulang,aku ingin mencari Garikja ituuuu!

" Ahn Hee-ya "

Aku mendongak menatap Kyungsoo.
" ya? "

Kyungsoo menjulurkan tangannya,menarik tangan kiriku dan memperhatikan jari manisku yang kosong tanpa hiasan Garikja yang selama seminggu ini melingkar disana.

" kemana Garikja yang ku berikan? " tanya Kyungsoo sambil menatapku datar.

Walaupun hanya tatapan datar,aku sungguh takut kalau laki-laki itu tau Garikja-nya hilang.

" ku tinggal di rumah " jawabku cepat sambil menarik tanganku.

Mataku kembali ku tuangkan pada buku biologi membosankan yang ada di hadapanku.Berpura-pura sibuk belajar adalah salah satu cara agar Kyungsoo tidak lagi bertanya soal Garikja itu.

" oh iya! "

Aku kembali mendongak saat Kyungsoo memekik pelan.

" ada apa? " tanyaku penasaran.

" besok bisa temani aku? aku ingin membeli beberapa buku di toko buku,kau juga ingin membeli novel 'kan? " Kyungsoo menatapku.

" tidak bisa! aku tidak bisa! " seruku dengan suara nyaring.Aku mengutuk diriku sendiri yang tidak bisa menahan suara curut ini.

" aku hanya bertanya,kalau tidak bisa yasudah " ucapnya cuek.

Aku hanya dapat meringis pelan,lalu menunduk kembali membaca buku.Diam-diam menghela nafas lega.

Besok aku harus menemukan cincin itu.

***

" lututmu merah " ucap Kyungsoo lalu berjongkok memperhatikan kedua lututku yang memerah

" aahh tidak apa-apa,sebentar lagi juga sembuh " balasku gugup sambil menarik lengan Kyungsoo agar laki-laki itu berdiri.

" sungguh tidak apa-apa? " tanya Kyungsoo.Aku dapat menangkap nada khawatir disana.

Aku mengangguk pelan.
" eum,kau pulang saja "

" kompres dengan air hangat,aku takut lututmu akan bengkak,jangan lupa makan malam,baca kembali materi untuk ulangan besok,lalu langsung tidur,aku tidak mau kau terlambat lagi,itu memalukan "

Aku langsung mengangguk cepat.Dalam hati terus meminta maaf pada Kyungsoo karena telah membohonginya dan tidak mengatakan kalau Garikja yang dia berikan hilang.

" aku pulang,sampai jumpa besok " pamitnya sambil tersenyum tipis.Tangan kanannya terulur mengacak-ngacak rambutku pelan lalu melenggang pergi dari hadapanku.

" aku janji akan menemukan Garikja itu,kyung "

***

Jam besar di dinding menunjukkan pukul 10 lewat 15 menit.Itu berarti aku sudah menghancurkan seisi rumah dalam waktu 3 jam lewat 15 menit.Saat ini aku benar-benar merasa seniman yang berbakat.Aku menghancurkan bentuk seluruh ruangan yang ada di rumah menjadi tidak berbentuk.

Abstrak.

Aku bahkan tidak mempedulikan bagaimana marahnya Ibu saat melihat betapa hancurnya rumah ini besok,yang ku pedulikan sekarang adalah Garikja itu dan perasaan Kyungsoo.

Kyungsoo pasti kecewa kalau dia tau Garikja-nya hilang.

Tubuhku merosot dari atas sofa ruang tamu.Keringat mulai membanjiri seluruh tubuhku,badanku mulai lemas dan perasaanku mulai kacau.Aku mengerang frustasi,mengutuk otak payahku yang dengan mudah melupakan sesuatu.

Seingatku aku masih memakai cincin itu kemarin saat di sekolah,tapi saat aku baru saja selesai ganti baju setelah mandi aku baru sadar Garikja itu tidak lagi melingkar di jari manisku.

Karena terlalu lelah berpikir kedua kelopak mataku mulai berat dan enggan membuka kembali.

Pencarianku kali ini gagal.

***

" ASTAGA APA YANG TERJADI?! "

Aku langsung membuka mataku begitu gendang telingaku menangkap teriakan terkejut Ibu.Aku bangkit dari sofa dan mengintip di depan pintu kamar,Ibu terlihat emosi.

" Pencuri mana yang melakukan ini?! " serunya emosi.

Aku mengintip takut-takut dari balik pintu,Ibu benar-benar marah sedang Ayah terlihat bingung bukan kepalang.Ayah dan Ibu keluar dari kamar dan mereka terlihat amat sangat terkejut melihat keadaan ruang tamu yang sangat jauh dari kata rapi.

" astaga,Ibu tidak sanggup melihatnya " gumam Ibu lemas.

Aku yang berada di samping Ibu menatapnya takut-takut.Aku salah tidak mempedulikan kemarahan Ibu,aku sudah membuatnya emosi di pagi hari.

" Bu… " panggilku pelan.

" apa?! " sahutnya ketus.

Aku menelan ludah.
" aku tau siapa yang melakukan ini " gumamku pelan sambil menundukkan kepala dalam.

" kau tau?! Sungguh?! Siapa?! "

Aku menarik nafas panjang.Baiklah,aku tau aku benar-benar akan ketiban sial pagi ini.

" aku Bu "

***

" hei " seruku pelan sambil tersenyum tipis pada Kyungsoo yang duduk di teras.

Kyungsoo berdiri dari kursi dan melongok ke dalam rumah dengan pandangan bingung.

" rumah-mu? " tanyanya.

Aku mengangguk-anggukan kepala paham.Ibu memarahiku habis-habisan setelah aku menceritakan semuanya.Dia berkata akan memotong uang jajanku 75% bulan ini.Aku tidak protes karena itu memang salahku,lagipula aku juga memohon pada Ibu untuk tidak mengatakan apapun pada Kyungsoo.

" kerja bakti,yaa—Ibu bilang ada keluarga yang akan kemari jadi rumahku sedang di bersihkan " jawabku.

Kyungsoo mengangguk pelan.

" semalam kau kemana? kenapa teleponku tidak kau angkat? "

Aku memejamkan mata,semalam aku benar-benar mengabaikan seluruh panggilan Kyungsoo.

" belajar,aku belajar,hehehe "

Kyungsoo hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bergumam ' ohh '.

' Maaf Kyungsoo,aku sungguh menyesal '

***

Soal-soal biologi hanya membuat kepalaku bertambah pusing,aku memang belajar di perpustakaan bersama Kyungsoo,tapi ingatanku hilang karena terlalu memikirkan Garikja yang tidak kunjung ku temukan.

" Ahn Hee,kau sakit? "

Aku mendongak menatap Song seonsaengnim yang berseru padaku.

" wajahmu pucat,apa kau sakit? " ulangnya.

Aku menangguk pelan,aahh akhirnya ada cara untuk tidur.

" yasudah,kau ke ruang kesehatan,kau ikut ulangan susulan lusa " petuahnya.

Aku bangkit dari kursiku dan berjalan pelan keluar kelas.Ternyata masih ada orang baik seperti Song seonsaengnim.

***

Pintu ruang kesehatan bergeser memunculkan seorang laki-laki yang menghampiriku dengan senampan bubur dan air putih.

" anak-anak bilang kau disini,jadi aku bawakan ini untukmu " ucap Kyungsoo sambil meletakkan nampan berisi bubur dan air putih itu di nakas.

Kyungsoo menatapku khawatir.

" kau baik-baik saja? " tanyanya.

Aku mengangguk pelan.

Laki-laki itu menjulurkan tangannya dan meletakkan punggung tangannya di dahiku.

Sungguh,aku tidak baik-baik saja kalau seperti ini.

" suhu tubuhmu panas,apa perlu aku mengantarmu pulang? "

" tidak usah,aku hanya sedikit pusing "

" baiklah,sekarang makan bubur-nya " Kyungsoo mengambil mangkok yang berada di atas nampan.

" katakan 'aaa' " Kyungsoo menjulurkan sendok berisi bubur ke depan mulutku.

" Kyung—aku bisa makan sendiri "

Aku tidak bisa berhadapan dengan sikap lembut Kyungsoo saat ini.Itu membuatku semakin merasa bersalah,akhir-akhir ini laki-laki itu sangat hangat padaku.Dan sekarang,aku malah berbohong padanya.

" bisa turuti apa kataku dan tidak banyak protes? kau cerewet sekali "

Aku merengut.
" baiklah "

***

" kau pulang duluan saja " ucapku saat Kyungsoo kembali menghampiriku di ruang kesehatan saat pulang sekolah.

Kyungsoo mengernyit bingung.
" kenapa? "

" aku ada pelajaran tambahan dengan Cheon seonsaengnim karena waktu itu aku tidak mengikuti pelajarannya " jawabku.

Kyungsoo berdecak.
" izin saja,kau 'kan sedang sakit,lagipula dia hanya mengajar kelas keputrian,kenapa harus ada pelajaran tambahan,sih?! "

Aku menelan ludahku,berusaha bersikap biasa saja padahal kau gugup bukan main adalah hal yang sulit.Sama sulitnya dengan menerima kenyataan kalau hari ini ada ulangan matematika mendadak.

" tidak usah,aku sudah baik-baik saja,sungguh! kau pulang saja duluan,bukannya kau ingin ke toko buku? "

Kyungsoo mendengus.

" jaga dirimu,kalau kau tidak enak badan,telepon keluargamu atau aku dan tunggu disini,jangan telepon siapapun " petuahnya.

Aku mengangguk.

" baik,ssaem,hehehehe "

***

Kali ini lokasi pencarianku selanjutnya adalah sekolah.Aku yakin aku menghilangkan Garikja itu disini,karena saat aku buang air kecil di toilet perempuan saat pulang sekolah Garikja itu masih ada,tapi saat selesai mandi dirumah Garikja itu sudah tidak ada.

" Ahn Hee? "

Aku menoleh ke belakang saat ada yang memanggil namaku.Itu Baekhyun,laki-laki itu tersenyum lebar sambil berjalan ke arah ku.

" kau belum pulang? ini sudah pukul lima sore " ujarnya.

Aku menggeleng.

" belum,aku harus mencari sesuatu yang hilang "

" boleh aku membantu? " Baekhyun bertanya dengan hati-hati.Mungkin Baekhyun takut aku menolaknya mentah-mentah.

" tentu boleh,aku senang kau mau membantuku "

Baekhyun hanya tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi dan juga eye smile-nya yang menawan.

***

" aku dengar kau sakit? " Baekhyun memecah keheningan saat kami sedang mencari Garikja itu di semak-semak taman sekolah.

" kau dengar dari siapa? "  aku balik bertanya.Tanganku terjulur semakin masuk ke dalam semak-semak,siapa tau Garikja itu nyangkut di salah satu daun.

" eum—hanya tidak sengaja mendengar " sahutnya.

" aku tidak sakit,mungkin kau salah dengar,hahahaha—aww sakit! "

Aku memekik kencang saat merasa telapak tanganku tertusuk sesuatu.Aku mengeluarkan tanganku dari dalam semak-semak dan menemukan ranting kecil tertancap di telapak tangan kananku.

" apa aku salah dengar? " Baekhyun bertanya tenang.Dia menarik tangan kananku lembut,memperhatikan ranting kecil yang sedang menancap di telapak tanganku dengan alis bertaut.

Mungkin Baekhyun sedang berpikir.

" aku sedang berpikir bagaimana cara yang tepat mencabut ranting kecil ini agar kau tidak merasa sakit " ujar Baekhyun.

Aku tertawa kecil.Baekhyun selalu punya cara membuat orang lain tertawa.

Baekhyun mencabut ranting kecil itu dengan hati-hati lalu membuangnya ke sembarang tempat.Dia menatapku khawatir.

" bagaimana? sakit? " tanyanya.

" tidak terlalu " jawabku sedikit meringis.

Ku lihat Baekhyun merogoh kantung celananya dan mengambil plaster disana.Memasang plaster berwarna biru tua dengan motif roket itu di telapak tanganku.

" Baekhyun " panggilku pelan.

Baekhyun mengangkat kepalanya,menatapku.

" terimakasih " ujarku tulus dengan senyum terbaik yang ku punya.

Baekhyun berdehem lalu mengangguk,tangan kanannya menggaruk tengkuknya.Aku dapat melihat telinga dan pipinya mulai bersemu merah.

" kau masih mau membantuku 'kan? " tanyaku.

Baekhyun mengangguk dengan senyum lebarnya.

" tentu,aku senang bisa membantumu,Ahn Hee "

***

Aku dan Baekhyun berpindah tempat,saat ini kami berada di luar sekolah,tepatnya di semak-semak belukar yang ada di depan sekolah.

" biar aku saja yang mencarinya,kau bilang Garikja itu berwarna putih bermotif bunga 'kan? "

Aku mengangguk.

" baiklah,tunggu sebentar,Nona "

Aku berdiri di belakang Baekhyun sambil memperhatikannya yang sibuk mencari Garikja itu.

" Baek— " panggilku pelan.

" apa? " Baekhyun menyahut tanpa menoleh.

" aku minta maaf soal Kyungsoo yang melabrakmu " ucapku.

" ohh itu,dia memang pantas melakukannya,aku saja yang tidak tau diri,hahahaha " balasnya santai.

Tawa Baekhyun tidak sama.

" maaf aku membuatmu merasakan sakit hati,jika aku dapat membalas perasaanmu aku pasti akan membalas perasaanmu,tapi aku— "

Baekhyun tiba-tiba berbalik badan dan tersenyum hangat padaku.

" jangan membuatku mendengar itu lagi,cukup sekali aku mendengarnya " ujarnya.

" maaf " ucapku pelan sambil menunduk.

" permintaan maaf di terima "

Baekhyun berujar sambil menjulurkan telapak tangannya.

HEI! ADA GARIKJA KU DI SANA!

Aku menatap Baekhyun dengan mata berbinar.

" Baek! Kau menemukannya! " seruku senang.

Baekhyun mengangguk.

" yep! panggil aku Bacon kalau aku tidak bisa menemukannya " candanya.

Aku dan Baekhyun sama-sama tertawa.Tanganku terjulur mengambil Garikja itu dan memasangnya di jari manisku sendiri.

" apa Garikja itu sangat berarti untukmu? sampai-sampai kau rela terluka? " tanya Baekhyun.

Aku mengangguk.

" menghilangkannya sama saja mengecewakan Kyungsoo " jawabku memandangi Garikja yang sudah melingkar di jari manisku.

Aku mendengar Baekhyun menghela nafas.Membuatku mendongak dan menatapnya khawatir.

Raut wajah Baekhyun sama seperti saat aku menolaknya.

" Baek—aku— "

Baekhyun tersenyum lebar.

" jadi,di restoran mahal mana kau akan menraktirku? "

Aku tersenyum.

" terserah tuan Byun saja,akan ku turuti "

Aku terdiam,kenapa aku berkata seperti itu? Uang jajanku 'kan di potong 75% karena menghancurkan seisi rumah.

" hahahaha aku bercanda,Ahn Hee " tawa Baekhyun meledak.

Aku merengut.

" oho! Bercanda-mu membuat dompetku menjerit,Baekhyun " sahutku.

Baekhyun tertawa.

" aku tidak mau di traktir "

Aku menatapnya bingung.

" lalu apa yang kau inginkan,jangan bilang kau— "

" apa sekarang Cheon seonsaengnim berubah jadi laki-laki dan lebih pendek? "

Aku dan Baekhyun kompak menoleh ke belakang.

Ada Kyungsoo yang berdiri dan menatap kami tajam.

" Kyung—ku pikir kau salah paham " ucapku terbata.

Kyungsoo menyunggingkan satu sudut bibirnya.
" salah paham? bahkan aku tidak berpikir apapun "

Aku menunduk,Kyungsoo jelas terlihat marah padaku.

" Kyungsoo,tadi aku hanya membantu Ahn Hee,sebagai teman aku hanya membantunya " Baekhyun angkat bicara.

" yeah,terimakasih atas bantuanmu,kau memang teman yang baik Baekhyun-ssi " balas Kyungsoo sarkastik.

" ayo kita pulang,Ibu-mu meneleponku,dia bilang kau harus segera pulang dan membereskan kekacauan yang kau buat di rumah karena mencari Garikja itu "

Aku mendongak dan melihat Kyungsoo yang berjalan mendahuluiku.Aku menghela nafas berat.

" kau tidak apa-apa? " tanya Baekhyun lembut.Tangannya menepuk pundakku pelan.

Aku mengendikkan bahu.

" aku hanya perlu do'a-mu,do'a kan semoga semua baik-baik saja,Baekhyun "

***

Aku hanya dapat mengekori Kyungsoo tanpa berani berucap.Meminta maaf-pun rasanya percuma karena saat ini aku hanya di anggap sebagai daun kering yang bertebangan di musim gugur.

" apa sekarang kau pintar berbohong? "

Aku berhenti berjalan saat suara Kyungsoo terdengar.Kyungsoo berbalik dan menatapku dalam.

" sudah berapa kali kau berbohong padaku? "

Aku menelan ludah.Rasanya saat ini aku benar-benar seperti pencuri helm di parkiran sekolah yang tertangkap oleh satpam sekolah.

" hari ini dan kemarin,apa semua perkataanmu juga berbohong? apa selama ini kau sering membohongiku? "

Aku mendongak,sedikit terkejut karena kali ini bukan tatapan tajam yang Kyungsoo tunjukkan.Bukan pula tatapan datar yang ku lihat setiap hari.

Kyungsoo menatapku kecewa.

" aku hanya tidak ingin kau kecewa karena tau aku menghilangkan Garikja itu " ujarku.

Kyungsoo menghela nafas.

" kalau kau pikir dengan kau berbohong aku tidak kecewa maka aku anggap kau benar-benar bodoh,aku sungguh kecewa " ujarnya dengan nada rendah dan dalam.

Aku menunduk,menyembunyikan kedua mataku yang sudah berkaca-kaca.Hatiku serasa mencelos saat melihat tatapan kecewa Kyungsoo,di tambah dia bilang kalau dia sungguh kecewa.

Demi Tuhan,aku tidak pernah ingin membuat Kyungsoo kecewa padaku.

" kalau Garikja itu hilang seharusnya kau bilang padaku,apa aku terlihat akan memakanmu hidup-hidup kalau tau Garikja itu hilang? " tanya Kyungsoo.

Aku menggeleng pelan sebagai jawaban.

" apa aku terlihat seperti akan meninggalkanmu begitu saja saat Garikja itu hilang? "

Aku mendongak menatapnya dengan alis bertaut.

Jadi?

" banyak penjual Garikja di Seoul,aku bisa membelikannya lagi untukmu " ujarnya.

Perlahan bibirku melengkung ke atas.

" kau tidak perlu tidak tidur semalaman hanya untuk Garikja itu,kau tidak perlu merepotkan Ibu-mu dengan menghancurkan seisi rumah,kau tidak perlu— "

Aku menunggu Kyungsoo yang tiba-tiba saja berhenti melanjutkan kalimatnya.Dia menaikkan tangan kanannya,mengusap tengkuknya.

" bersamaBaekhyunmalammalambegini " ucapnya cepat dan pelan.

Oh astaga,aku bahkan mengira Kyungsoo sedang berkumur sekarang.

" hei,Prof.Kalau bicara itu yang jelas " protesku.

Kyungsoo mendengus.Lalu mengibaskan tangannya di depan wajahnya sendiri.

" ahh sudahlah,lupakan "

Laki-laki itu berkacak pinggang,kembali menatapku dengan tatapan mengintimidasi.

" 'kan sudah ku bilang,kalau ada sesuatu beritahu keluargamu atau aku,bukan siapapun,apalagi Baekhyun " ujarnya.

" aku tidak memberitahu Baekhyun! " bantahku.

" oho! anggaplah kau tidak memberitahu Baekhyun " ucapnya lalu kembali berjalan.

Aku membuang nafas kasar sambil berjalan kembali mengikuti Kyungsoo.

" Kyung,aku minta maaf! " seruku.

" sudahlah,lupakan saja " sahutnya datar.

" aku tau aku salah,aku berbohong padamu,aku minta maaf! "

Kyungsoo kembali berhenti membuatku juga ikut berhenti.Dia berbalik dan menatap kebawah.

" lututmu bengkak,kau tidak mengompresnya? " tanyanya.

" eoh? itu— " Aku menunduk dalam " maaf aku tidak sempat mengompresnya karena mencari Garikja itu " jawabku pelan.

Kyungsoo kembali berbalik badan dan berjongkok.

" naiklah,aku akan menggendongmu " suruhnya.

" apa? "

Kyungsoo menoleh,menatapku gemas.
" cepat naik! "

Aku mengangguk lalu melingkarkan tanganku di lehernya.Kyungsoo menggendongku.

" tanganmu? " tanyanya sambil memegang telapak tanganku yang tertempel plaster.

" ohh…tadi tertusuk ranting,Baekhyun yang menolongku dan menempelkan plaster itu " jawabku.

Aku menatap wajah Kyungsoo dari samping yang terlihat kaku.

" seharusnya malam ini aku yang menemanimu mencari Garikja itu,seharusnya kita mencarinya bersama-sama " ujarnya datar.

" kau pasti akan terbebani kalau aku menceritakan masalah ini padamu,kau pasti kecewa " balasku.

" aku lebih kecewa saat tau kau mencarinya dengan Baekhyun,hei itu Baekhyun! Byun Baekhyun yang pernah menembakmu di kantin! Ohh pasti dia mencuri kesempatan dengan alasan ingin membantumu " cerocos Kyungsoo.

Aku tertawa kecil,menyadari sesuatu.

Hal ini terjadi lagi.

" Hei Kyung " panggilku.

" apa? "

Kyungsoo menoleh menatapku.

Pandangan kami bertemu,aku tersenyum jahil.

" kau cemburu? "

" eoh? " Matanya membulat sempurna.

" kau cemburu karena aku mencari Garikja itu dengan Baekhyun? Iya 'kan? Iya 'kan? " godaku.

" ehm,tidak! " elaknya.Kyungsoo kembali berjalan.

" aahh—kalau kau memang tidak cemburu,apa kau mau mendengar ceritaku selama bersama Baekhyun tadi? "

Kyungsoo berdecak.

" diam! kau berisik! " serunya.

" Hahahahaha,benar 'kan? Kau cemburu 'kan? Iya 'kaaaannnnn?? "

Lagi-lagi Kyungsoo berhenti berjalan,dia menoleh menatapku tajam.

" diam,atau ku turunkan kau disini? " ancamnya.

" cih,coba saja kalau berani? Lagipula kalau kau menurunkanku dan meninggalkanku disini masih ada Baekhyun yang mau menjemputku,aku masih punya— "

Kalimatku terhenti begitu saja,tertahan di ujung tenggorokan.Aku merasa sulit bernafas detik ketika Kyungsoo menciumku sekilas.

" kau masih punya apa? coba teruskan ucapanmu kalau berani " ucapnya datar.

" Kyung— "

" apa? "

" kau mencuri ciuman pertamaku "

END

Jumat, 13 Juni 2014

EXO Fanfiction: Moonlight.

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: Friendship,Sad,Romance-maybe-

Cast:
- Do Kyungsoo
- A Girl/you

Disclaimer: Yep! Fanfict ini dibuat karena terinspirasi dari lirik lagu EXO - Moonlight.Tadi aku sempet baca terjemahannya di sini.Dan itu kereeennnnn bangettt! Makasih buat kakak-kakak yang udah nerjemahin ini ^^.Okeh,maaf kalo ceritanya gak nyambung,gaje,banyak typo dsb.Enjoy ^^

***

Laki-laki bertubuh mungil itu mengeratkan selimut tebalnya,udara malam ini terlalu dingin menusuk kulit putihnya.Ketika ia baru saja akan masuk ke dalam mimpi indahnya,telinganya bergerak menangkap sebuah suara.Alisnya bertaut,ia memejamkan matanya erat,berusaha mempertajam indera pendengarnya.Pikiran buruk tentang hantu anak kecil mati tertabrak yang di ceritakan Baekhyun padanya tadi siang mencoba mengusik ketenangannya.

Suara tangis itu makin terdengar memasuki telinganya.

Perlahan tapi pasti,Kyungsoo bangun dari tempat tidurnya dengan selimut yang masih menutupi tubuhnya.Kaki-nya melangkah dengan pelan menuju jendela kamarnya,Kyungsoo menempelkan telinga-nya ke jendela kamar.

Suara tangis itu berasal dari bawah sana.

Dengan menarik nafas panjang Kyungsoo membuka jendela kamarnya,sinar bulan yang terang menyambut Kyungsoo,angin malam membuat Kyungsoo semakin mengeratkan selimutnya.Laki-laki itu melongok-kan kepalanya keluar jendela.Mata Kyungsoo terbelalak menangkap seorang perempuan sedang duduk memeluk lutut di semen yang menjadi pembatas tanaman hias Ibu-nya.Rambut panjang lurusnya menutupi wajahnya,membuat Kyungsoo kesusahan melihat wajah perempuan itu.

Setidaknya Kyungsoo harus memastikan wajah perempuan itu utuh dan berbentuk.

Perempuan itu terus mengeluarkan isak tangis yang membuat telinga Kyungsoo tidak rela mendengarnya.Kyungsoo terus menatap perempuan itu selama limabelas menit setelah ia mulai mengambil keputusan untuk berani bertanya.

" siapa kau? " Kyungsoo berteriak ragu.

Perempuan itu masih menangis untuk beberapa saat,lalu mendongakkan kepalanya.Menatap Kyungsoo dengan pandangan sendu-nya.

Kyungsoo hanya dapat menghela nafas melihat perempuan itu.

" Kyungsoo… " lirihnya.

***

Kyungsoo meletakkan sekimut tebalnya ke sembarang tempat dan meyambar jaketnya yang tergantung di lemari lalu turun dengan tergesa-gesa.Ia menyempatkan diri untuk membuat dua cangkir coklat hangat lalu segera keluar dari rumahnya.

Kyungsoo dapat melihat perempuan yang masih duduk memeluk lutut di tempat yang sama saat Kyungsoo melihatnya tigapuluh menit yang lalu.Setelah berkata 'tunggu sebentar,aku akan turun' Kyungsoo masih mendapati perempuan itu duduk manis dibawah penerangan sinar bulan.

Seharusnya Kyungsoo sadar,seharusnya dia tidak mencurigai perempuan itu sebagai hantu anak kecil yang di ceritakan Baekhyun.Seharusnya Kyungsoo sudah hapal pemilik suara tangis menyayat hati itu.

" seharusnya kau membawa jaket " Kyungsoo berujar sambil menyampirkan jaket kepunggung perempuan itu.

Kyungsoo duduk di sebelah perempuan itu tanpa meminta izin,toh perempuan itu juga duduk disini  tanpa meminta izin Ibu-nya.Kyungsoo masih bisa mendengar sisa-sisa isakan kecil yang keluar dari bibir perempuan disampingnya ini.Sesekali perempuan itu mengusap cairan kental yang keluar dari hidungnya dengan punggung tangannya.

Kyungso menyentuhkan cangkir coklat hangat ke pipi chubby perempuan itu.Perempuan itu menolehkan kepalanya dan menatap Kyungsoo yang tersenyum.

" ini,ku buatkan coklat hangat untukmu,kau bisa kena flu,jadi cepat minum " ucap Kyungsoo.

Perempuan itu tersenyum kecil dengan bibirnya yang mulai kering,Kyungsoo berani bertaruh kalau perempuan itu pasti sudah lama menangis di luar sini.

" terimakasih,Kyungsoo "

Kyungsoo mengangguk membalas ucapan lembut perempuan itu.Walaupun suara-nya terdengar serak karena efek menangis tapi di telinga Kyungsoo tetap akan terdengar sangat lembut seperti permen kapas.

Kyungsoo menyesap coklat hangat-nya sambil melirik ke arah perempuan yang juga sedang menyesap coklat hangat yang ada di tangannya.Dari sisi wajahnya,mata perempuan itu terlihat bengkak,hidungnya juga memerah.

" maaf aku menganggu tidurmu " gumam perempuan itu.

Kyungsoo mengangguk.
" kau memang menganggu " sahutnya.

Hening.

Hanya ada semilir angin malam yang memainkan rambut dua remaja yang masih enggan membuka mulut mereka untuk memecah ke sunyian malam ini.Kyungsoo yang biasanya mudah mengantuk ketika suasana sepi pun memilih diam memandangi bentuk bulan penuh yang ada di atas langit.

" Tao… "

Kyungsoo menoleh saat perempuan di sampingnya menggumamkan nama laki-laki yang Kyungsoo yakin alasan di balik tangisnya malam ini.

" apa? " Kyungsoo menyahut dingin.

Perempuan itu menundukkan kepalanya dalam,membisu beberapa menit.Membiarkan Kyungsoo terus menatapnya dengan penuh tanda tanya.Kali ini apa yang laki-laki itu lakukan?

" aku tidak tau,tapi kami bertengkar " ujar perempuan itu nyaris tidak terdengar saat menyuarakan kalimat terakhirnya.

Suara angin serta ranting pohon yang patah dan jatuh ke aspal seakan menjadi sountrack bagi dua orang remaja itu.Mereka kembali terdiam dan menutup mulut mereka rapat-rapat.

Kyungsoo mengenggam erat cangkir coklat hangat yang mungkin sekarang menjadi dingin karena belum habis di minumnya itu.Helaan nafas berat keluar dari mulutnya,setelah cukup lama bertempur dengan perasaan yang bergemuruh di dalam hatinya.

" apa yang terjadi sekarang? " tanya Kyungsoo sambil menyesap coklat hangat yang ternyata benar-benar telah berubah menjadi coklat dingin sekarang.

" aku kesal karena dia terlalu baik dengan para penggemarnya,aku kesal karena dia lebih memperhatikan perasaan penggemarnya daripada aku,dia selalu menomor satukan penggemarnya dan membiarkan aku di belakang penggemarnya. " ujar perempuan itu penuh emosi.

" …aku tau dia memang pemain wushu terbaik di sekolah,aku tau jika banyak perempuan di sekolah yang mengaguminya.Aku senang melihatnya,tapi aku hanya memintanya untuk lebih menghargaiku sedikit daripada penggemar-penggemarnya "

Hati Kyungsoo serasa mencelos dari tempatnya mana kala kalimat terakhir dari perempuan di sebelahnya terdengar begitu menyedihkan.

Kyungsoo juga,ia juga ingin perempuan disampingnya ini lebih menghargainya daripada laki-laki egois itu.

" hari ini aku dan Tao membuat janji bertemu di taman pukul tujuh " ucapnya.

Kyungsoo mengangguk pelan menanggapinya,ia tau perihal janji ini karena perempuan itu juga bilang padanya tadi sore.Janji yang membuat perempuan itu lupa jika dia juga mempunyai janji dengan Kyungsoo untuk mencoba resep baru sejak satu minggu yang lalu.

" aku datang lebih awal,sekitar tigapuluh menit sebelumnya karena aku tidak sabar bertemu dengan Tao.Aku duduk disana dan terus menunggunya sampai aku rasa aku akan terkena demam berdarah karena nyamuk-nyamuk taman yang terus menghisap darahku.Aku mendapat telepon darinya,dia bilang padaku bahwa dia tidak bisa datang karena para penggemarnya itu datang untuk memberikannya selamat karena Tao menang dalam pertandingan wushu antar sekolah.Penggemar-penggemar Tao itu mengadakan pesta kejutan disana,tanpa menginginkanku datang.Aku hanya tidak habis pikir kenapa Tao baru memberitahuku setelah dua jam aku duduk menunggunya,kenapa dia lebih mementingkan pesta kejutan itu tanpa memikirkan keadaanku yang lusuh karena lelah menunggunya datang "

Perempuan itu berhenti sejenak membuat Kyungsoo menolehkan kepalanya,dia sedang menarik nafas dalam lalu menghembuskannya.

Kyungsoo memperhatikan perempuan itu yang sedang meletakkan cangkir di sebelah kirinya dan mengambil sebuah kotak besar yang ternyata ada di samping kanannya.Ia memangku kotak berwarna hijau itu.

" apa itu? " tanya Kyungsoo.

Perempuan itu menatap Kyungsoo sambil tersenyum manis walaupun di pelupuk matanya sudah menumpuk cairan bening yang siap meluncur kapan saja.Ia mengalihkan pandangannya pada kotak yang ada di pangkuannya,mengusap permukaan kotak itu dengan senyuman manis.

" ini hadiah untuk Tao "

Mungkin sekarang jantung Kyungsoo yang mencelos,mendengar kalimat itu membuat Kyungsoo merasa aliran darahnya berhenti mengalir.

Perempuan itu membuka kotak itu dan menunjukkan isinya.Ia mengambil sweater merah itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi.Sekarang,Kyungsoo dapat melihat kalau sweater itu bergambar panda di bagian depannya.

" aku ingin memberikan ini pada Tao sebagai hadiah.Saat aku melihat sweater ini aku langsung ingat padanya,aku tidak bisa menahan senyumku saat membayangkan betapa senangnya Tao saat melihat sweater ini sebagai hadiahnya.Aku ingin melihatnya memakai sweater ini saat ke sekolah,memamerkannya pada teman-temannya dan mengatakan pada penggemarnya bahwa akulah yang membelikan sweater ini untuknya.Kedengarannya sangat bagus bukan? "

Perempuan itu beralih menatap Kyungsoo dengan tatapan berharap Kyungsoo menjawab 'iya,kau benar'.Cairan bening itu mengalir mulus di kedua pipi chubby milik perempuan itu,senyuman manis masih terlukis di bibir perempuan itu seakan-akan menggambarkan kalau dia sungguh baik-baik saja walaupun pada kenyataannya matanya justru mengatakan kalau dia sedang tidak baik-baik saja.

" menurutmu apa aku harus memberikannya pada Tao besok? atau aku harus ke rumahnya sekarang? Menurutmu apa reaksi Tao saat melihatku tengah malam di depan pintu rumahnya? Apa dia akan mempersilahkan ku masuk? Atau… "

Perempuan itu menunduk dalam.
" dia mengusirku pulang dan mengatakan aku lelah setelah berpesta bersama penggemarku "

Dan Kyungsoo mendengar tangisan memilukan itu lagi.Perempuan di depannya ini sedang menangis sesegukan dengan memegang erat sweater merah yang ada di pangkuannya.

Kyungsoo menelan ludahnya yang kini terasa pahit,ia mengulurkan tangannya lalu membawa tubuh perempuan itu kedalam dekapannya.Memeluknya erat sambil mengelus-elus punggung-nya.

" jika kau memang lelah,lepaskan Tao " ucap Kyungsoo lembut.

" aku—aku tidak bisa,Kyungsoo " Perempuan itu menyahut di sela-sela isak tangisnya.

Kyungsoo menghela nafas kasar lalu melepaskan pelukannya,meletakkan kedua tangannya di kedua bahu milik perempuan itu.

" tatap mataku! " suruh Kyungsoo.

Perempuan itu perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Kyungsoo dengan mata sendunya.Ekspresi menyakitkan yang sering Kyungsoo lihat setiap perempuan ini datang menemuinya.

" Tinggalkan Tao,dia egois,dia tidak pernah memikirkan perasaanmu,kau tidak bisa terus menerus seperti ini,menangis karena ulah Tao yang terlalu mementingkan penggemarnya.Tao lelaki yang tidak cukup baik untukmu " ujar Kyungsoo.

" kau tidak mengerti,Kyungsoo " isak perempuan itu.

" apa yang tidak ku mengerti?! " seru Kyungsoo kesal.

" aku begitu amat sangat menyukai Tao! " balas perempuan itu tidak kalah kesal.

Skakmat.

Kyungsoo seharusnya tau kalau laki-laki yang di sukai perempuan di depannya ini bukan dirinya.Perempuan itu sudah memiliki 'bulan'-nya sendiri yang akan selalu di lihatnya.

Dan itu bukan Kyungsoo.

Seharusnya dia tau tujuan perempuan itu datang ke rumahnya setiap malam hanya untuk menangis dan mengungkapkan segala rasa sakitnya.Kyungsoo hanya sandaran,tidak lebih.

Kyungsoo hanya berusaha menyangkal dan selalu mengatakan kalau perempuan ini hanya harus meninggalkan laki-laki egois itu,walau pada kenyataannya setiap kata-kata yang di ucapkan Kyungsoo hanya di anggap sebagai bunyi kaleng kosong yang tidak berarti.Melainkan berisik dan menganggu.

Kyungsoo menghela nafas,perempuan di depannya begitu dekat tapi hatinya terasa begitu jauh.

" jika kau lelah,bersandarlah dan kau bisa ber-istirahat di bahu-ku " ujar Kyungsoo lembut.

Perempuan itu menatap Kyungsoo tidak yakin,lalu Kyungsoo hanya membalas dengan anggukan di sertai senyuman terbaik yang dapat ia tunjukkan pada perempuan di depannya ini.

Perempuan itu tersenyum kecil lalu mengubah posisi-nya,menghadapkan tubuhnya ke depan lalu menyenderkan kepalanya di bahu Kyungsoo.Kyungsoo merangkul bahu perempuan itu,seolah-olah memberitahu-nya kalau Kyungsoo akan selalu ada di sampingnya.

" aku akan membangunkanmu,tidurlah " gumam Kyungsoo.

" hmm,terimakasih,Kyungsoo. " sahut perempuan itu.

Kyungsoo menatap perempuan yang kini sudah memejamkan matanya,senyuman manis terlukis di bibirnya.

" kau sudah terlalu banyak menangis karena lelaki itu,tapi kenapa kau tidak bisa meninggalkannya? " gumam Kyungsoo.Tangannya yang bebas terangkat untuk menghapus air mata yang masih tersisa di pipi perempuan itu.

" aku tau,dia memang bulanmu "

Kyungsoo menghela nafas pasrah,mungkin setelah malam ini,Kyungsoo akan bertemu dengan perempuan ini di pertengkaran mereka yang selanjutnya.

Karena ketika pagi menyapa perempuan ini pasti kembali terbang menuju 'bulannya'.Meninggalkan Kyungsoo sendiri.

***

Sebuah tempat yang tidak akan bisa kusentuh
Sebuah tempat yang tidak bisa aku tempati
Sebuah refleksi yang ternyata bukan dia
Inilah kisah sedihku tentang cinta yang tidak terpenuhi
Semakin mendekat, semakin kuat sakit yang kurasakan

Hanya dia… berhentilah, berhenti,
berhenti
Hanya dia… berhentilah, berhenti,
berhenti
Aku yang terus meneriakimu seperti ini
Jangan mendekat sayang, kedua sayap cantikmu akan basah

EXO - Moonlight.

END

Selasa, 10 Juni 2014

EXO Fanfiction: Not Me.

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: School Life,Friendship,Crime.

Cast:
- Jung Dong Hee (OC)
- Kim Jongin

Support Cast:
- Seo Ah Hyun (OC)
- Kim Do Yeon (OC)
- Do Kyungsoo

Discalimer: ohohoho halloooo~ ini fanfic yang pas di pikirin kayaknya bagus tapi pas di tulis eum semoga tetep bagus,hahahaha.Maaf kalo gak nyambung dan banyak typo.This story is mine ^^ Enjoy^^

***

Namanya Jung Dong Hee.Perempuan pendiam dan tidak banyak bicara.Orangtua-nya sudah meninggal dua tahun lalu tepat di hari kelulusannya.Dong Hee berumur 17 tahun,umur dimana seharusnya dia duduk di bangku kelas dua SMA.Tapi karena suatu hal dia baru akan masuk kelas satu SMA.

" silahkan,pekenalkan dirimu " ucap Seonsaengnim.

Dong Hee mengangguk singkat.Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh 'bakal' teman-temannya.

" halo semua,nama saya Jung Dong Hee.Senang bertemu kalian " ucapnya dengan lantang.

" sstt—ku dengar dia anak yatim piatu " bisik seorang perempuan berambut pirang pada teman sebangkunya.

Teman sebangkunya itu mengangguk antusias.
" benar,dia juga telat satu tahun,seharusnya dia di kelas dua sekarang " sahut temannya.

" apa dia bodoh? "

" jangan-jangan dia murid nakal "

" aku tidak mau berteman dengannya "

Telinga Dong Hee bergerak mendengar bisikan-bisikan teman-temannya yang membicarakannya.Ada yang menatap sinis,ada yang membuang pandangannya,ada yang pura-pura mencatat.

" ekhm " Seonsaengnim berdehem kencang untuk membuat murid-murid-nya diam.Semua mulut murid-murid-nya itu seketika diam.

Seonsaengnim menatap Dong Hee sambil tersenyum.

" silahkan duduk di sebelah kursi Jongin " ujarnya.

Dong Hee mengangguk dan berjalan ke arah kursi kosong di sebelah kursi kosong yang katanya milik laki-laki bernama Jongin itu.Dong Hee hanya berharap kalau Jongin dapat menerimanya dengan baik.

***

Dong Hee merasa lega saat mengetahui Jongin adalah laki-laki yang cukup baik.Tadi saat dia kembali dari toilet dan melihatnya duduk di kursi kosong di samping kursi-nya,Jongin tersenyum sambil mengenalkan dirinya dengan ramah.

Ketika Dong Hee sendiri saat waktu istirahat padahal seluruh teman-temannya pergi ke kantin,Jongin mengajaknya untuk ke kantin bersama.Menceritakan seluk beluk sekolah barunya dan beberapa lelucon lucu yang membuat Dong Hee setidaknya terkekeh setelah dua tahun tidak pernah tersenyum.

" ngomong-ngomong,kenapa kau masih duduk di kelas satu? " tanya Jongin sambil memakan kentang gorengnya.

Dong Hee tertegun,pergerakan tangannya yang sedang memutar spaghetti dengan garpunya berhenti.Jongin yang melihat itupun terlihat salah tingkah,ia berdehem.

" maaf kalau pertanyaanku menyinggungmu,kau tidak usah menjawab juga tidak apa-apa " ucap Jongin merasa tidak enak.

Dong Hee tersenyum tipis sambil menggeleng.
" tidak,kau pantas bertanya seperti itu " sahut Dong Hee.

" aku mengalami sesuatu hal,itu sebab-nya aku telat masuk SMA " ucap Dong Hee tetap dengan senyumannya.

Jongin mengangguk-anggukkan kepalanya menanggapi.Tidak memilih bertanya lebih lanjut karena Jongin rasa itu akan mengusik privasi teman baru-nya itu.

***

Dong Hee melangkahkan kaki-nya di koridor sekolah di iringi dengan tatapan-tatapan tidak menyenangkan yang di tujukan padanya dari murid-murid sekolah.Mereka saling berbisik saat Dong Hee melewati-nya.

" dia datang! dia datang! " seru seseorang perempuan berambut pirang yang pertama kali berbisik waktu itu berteriak pada teman-teman sekelas Dong Hee.

Perempuan bernama Seo Ah Hyun itu berkacak pinggang menghalangi Dong Hee saat dia baru saja sampai di depan pintu kelas.Di belakang perempuan itu berjejer teman-teman sekelasnya yang lain,menatapnya dengan tatapan jijik sekaligus menghina.

" hei,mantan narapidana! " seru Ah Hyun sambil mendorong pelan bahu Dong Hee.

Dong Hee terkesiap mendengar ucapan Ah Hyun barusan.Dia melirik ke belakang,menatap senyum mengejek yang di lontarkan teman-teman sekelasnya.

" kau terkejut kami semua tau siapa dirimu,huh? " tanya Ah Hyun dengan seringaian kecil di bibirnya.

Ah Hyun memainkan ujung rambut Dong Hee sambil memelintirnya menggunakan telunjuknya.

" kami semua tau alasanmu telat masuk sekolah selama setahun,kami semua tau siapa kau sebenarnya " ujarnya.

Dong Hee menatap Ah Hyun tajam.
" apa maksudmu? " tanyanya dengan nada rendah dan dalam.

Ah Hyun tertawa kecil.Melepas telunjuk-nya yang sedari tadi memainkan rambut Dong Hee.Dia berbalik dan menatap teman-teman sekelasnya.

" hei teman-teman! " serunya lantang.

Dia menunjuk Ah Hyun menggunakan jempolnya. " Di belakangku berdiri seorang mantan narapidana.Perempuan di belakangku adalah seorang penjahat! " lanjutnya berseru.

Terdengar bisikan-bisikan teman-teman sekelas Dong Hee yang mengumpati dirinya.Menatapnya sinis dengan decakkan jijik.

Dong Hee menarik nafas lalu menghembuskannya.Berusaha menahan emosi yang meledak-ledak di dalam dirinya.Dia berjalan melewati gerombolan anak-anak itu menuju tempat duduk-nya.Berakting seolah-olah saat ini dia adalah manusia tanpa panca indera.

Tidak punya indera penglihat.

Tidak punya indera pendengar.

Tidak punya indera pencium.

Tidak punya indera peraba.

Tidak punya indera perasa.

***

Jongin baru saja tiba di sekolah,telinga-nya menangkap bisikan-bisikan tidak mengenakkan dari murid-murid yang melewatinya.Ini bukan soal bisikan histeris tentang dirinya,melainkan tentang teman barunya.

Saat memasuki kelas,pemandangannya pun tidak jauh berbeda dengan apa yang dia lihat sepanjang koridor tadi.Semua saling berbisik.Jongin berlari kecil menuju tempat duduk-nya yang berada di paling belakang pojok kanan.

Jongin meletakkan tas-nya pelan-pelan,tidak ingin mengganggu Dong Hee yang sedang menelungkupkan kepalanya di atas meja.Mungkin,Dong Hee butuh waktu istirahat.

Kepala Dong Hee terangkat,ekspresi-nya datar,tidak menunjukkan emosi apapun disana.

Mungkin lebih tepat kalau disebut; kosong.

" Dong Hee-ya " panggil Jongin pelan.

Dong Hee menoleh pada Jongin.Menatap-nya dengan ekspresi yang sama.

" aku akan pindah tempat duduk kalau saja kelas ini lebih luas sedikit " ucap Dong Hee.

Jongin kehabisan kata-kata,dia tidak menyuruh perempuan itu pindah.Dia hanya ingin bertanya,apa perasaannya baik-baik saja sekarang?

Dong Hee memutar tubuhnya ke belakang untuk mengambil buku pelajaran dan catatan yang ada di dalam tas-nya.Mengeluarkannya dan tenggelam dalam kesibukannya sendiri; mencatat segala hal yang ada di buku pelajaran.

Jongin hanya dapat terdiam,mungkin Dong Hee butuh waktu untuk sendiri.

***

Saat jam istirahat Jongin tetap bersama Dong Hee pergi ke kantin.Saat di perjalanan,banyak murid-murid yang mengumpati Dong Hee lewat bisikan atau bahkan suara yang kencang.

" dia tidak pantas sekolah disini "

" dasar mantan narapidana "

" apa yang dia lakukan? mencuri? "

" aish! kenapa dia harus berada di samping Jongin?! "

Sebenarnya Dong Hee sudah mempunyai firasat jika mereka akan memperlakukannya seperti ini.Tidak ada niatan untuk melawan perkataan mereka,percuma.

Jongin selesai memesan makanan,dan kini giliran Dong Hee yang memesannya.Tapi Bibi Kantin langsung menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.

" maaf,tapi murid-murid di sekolah ini melarang Ahjumma untuk menjual makanan padamu.Maaf,Ahjumma terpaksa melakukannya karena mereka mengancam tidak akan membeli makanan disini kalau Ahjumma tetap memberikanmu makanan " ujarnya dengan nada menyesal.

Dong Hee hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan toko Bibi kantin diikuti Jongin yang tidak bisa membantu apapun.Mereka duduk di bangku paling pojok.

" ini "

Jongin menyodorkan nampan berisi makan siangnya ke arah Dong Hee.

Dong Hee menatap Jongin datar.
" tidak perlu,kau makan saja " tolaknya.

Jongin menggeleng.
" aku laki-laki,tidak apa-apa,aku bisa menahannya.Sebaiknya ini untukmu " ucap Jongin.

" Ya! Jongin! " seru seseorang bersuara cempreng.Itu Seo Ah Hyun.

Perempuan berambut pirang yang berjarak dua meja dari tempat Jongin itu berjalan ke arahnya.Dia tersenyum sinis ke arah Dong Hee.

" kau ingin memberi makan siangmu,untuk perempuan ini? " tanya Ah Hyun dengan nada jijik.

" iya,kenapa? " Jongin balas bertanya dengan tatapan tajamnya.

Ah Hyun terkesiap melihat Jongin yang menatapnya tajam.

" dia mantan narapidana! " seru Ah Hyun dengan telunjuknya yang mengacung ke arah Dong Hee.Seruan-nya membuat seluruh pasang mata pengunjung kantin beralih menatap mereka ber-tiga.

" lalu kenapa? "

" kau bertanya kenapa? kau tidak penasaran apa yang di lakukannya dulu? Apa dia pencuri? Pengguna narkoba? Atau—Pembunuh? "

Ah Hyun menyelesaikan kalimat terakhirnya dengan menatap Dong Hee tajam yang di balas tatapan kosong perempuan itu.

Jongin berdiri menepis tangan Ah Hyun yang menunjuk Dong Hee secara kasar.

" tutup mulut besarmu itu,Ah Hyun-ssi " desis-nya tajam lalu menarik tangan Dong Hee untuk berjalan keluar kantin.

***

Jongin mengajak Dong Hee untuk duduk di kursi reot yang berada di atap sekolah.Mereka berdua sama-sama terdiam,tenggelam dalam pikiran masing-masing.Semilir angin musim gugur memainkan rambut dua anak manusia itu.

" kenapa kau membelaku? " tanya Dong Hee pelan.

Jongin menoleh menatap sisi wajah Dong Hee yang sedang menatap lurus ke depan.Perempuan itu tersenyum tipis.

" semua orang membenciku,kenapa kau tidak? " tanyanya lagi.

Jongin terdiam sebentar,memikirkan kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaan Dong Hee.

" aahh,mungkin kau hanya merasa tidak enak jika kau menjauhiku,iya 'kan? "

Dong Hee menatap Jongin dengan seulas senyuman tipis di bibirnya.

Jongin menggeleng cepat.Menyilangkan kedua tangannya.

" aku pantang menjauhi seseorang hanya karena latar belakangnya " ucapnya cepat.

" benarkah? "

" iya,itu benar "

Dong Hee kembali menatap ke depan dengan tatapan kosong.

" kau baik-baik saja? " tanya Jongin hati-hati.

Dong Hee mengangguk.

" ya,aku merasa lebih baik sekarang "

***

Pagi itu sekolah terlihat tiga kali lebih ramai dari biasanya.Empat mobil polisi serta satu ambulance terparkir di depan sekolah.Murid-murid berkumpul membentuk kerumunan di depan garis polisi yang ada di halaman belakang.

Satu orang murid perempuan terjun dari atap sekolah.

Tadi pagi saat tukang kebun ingin membersihkan daun-daun kering di halaman belakang,dia dibuat terkejut saat melihat sesosok mayat dengan kepalanya yang sudah hancur.

" apa dia bunuh diri? "

" ya,kurasa dia bunuh diri. "

" tapi apa penyebab-nya? "

" orangtua-nya bercerai "

" Seo Ah Hyun yang malang "

Begitulah bisikan-bisikan yang terlontar dari teman-temannya.Mereka hanya terlalu tidak percaya jika teman mereka yang kemarin terlihat baik-baik saja pagi ini di temukan sudah mati terbujur kaku.

***

Gebrakan meja terdengar memenuhi seluruh ruangan kelas.Dong Hee mendongakkan kepalanya,menatap datar orang yang menggebrakkan mejanya.

" Ada apa? " tanyanya datar.

Perempuan berambut gelombang itu berdecak saat Dong Hee menanggapi gebrakannya dengan tenang.

" kau bertanya 'ada apa?'.Seharusnya aku yang bertanya padamu.Ada apa denganmu?! " bentak Perempuan yang bernama Kim Do Yeon itu.

" denganku? " Dong Hee bertanya lagi.

Do Yeon mengangguk lalu melipat tangannya di depan dada.

" iya,kau.Saat semua murid berkumpul di halaman sekolah untuk melihat mayat Ah Hyun,kenapa kau malah duduk santai disini? Di saat semua orang sedang penasaran tentang kematiannya,kenapa kau terlihat biasa-biasa saja? " cerca Do Yeon.

" Aku sudah melihatnya tadi,jadi aku duduk disini.Ada polisi yang akan mengurusnya,kenapa aku harus repot-repot mencari tau? " balas Dong Hee tenang.

Do Yeon berdecak kesal merasa pertanyaannya di putar balik.Tangannya terkepal kuat menahan amarah.

" Kau—Apa kau yang membunuh Ah Hyun? " desisnya.

Dong Hee menghela nafas.
" kau menuduhku? "

" ya,aku menuduhmu "

" ku rasa tuduhanmu salah,Do Yeon-ssi "

***

Dong Hee semakin menjadi bahan gunjingan seluruh murid di sekolah.Kali ini tema-nya bukan karena dia adalah seorang mantan narapidana.Melainkan pembunuh Seo Ah Hyun,teman mereka yang di temukan mati di halaman belakang sekolah satu minggu yang lalu.

" kau tetap bertahan di sampingku " gumam Dong Hee dengan senyuman tipis.

Dong Hee dan Jongin memilih duduk di pinggir lapangan sekolah sambil memakan bekal yang Jongin bawakan dari rumah untuknya.

Jongin tersenyum.
" aku sudah mengatakan alasannya padamu,lagipula aku tidak percaya kalau kau membunuh Ah Hyun " sahut Jongin lalu memasukkan telur gulung ke dalam mulutnya.

" lagipula,Ah Hyun memang sedang memiliki banyak masalah keluarga,mungkin memang benar dia bunuh diri.Polisi juga sudah menutup kasus ini " ujar Jongin.

Dong Hee menutup kotak bekal Jongin yang ada di pangkuannya.Menatap Jongin dengan pandangan serius.

" kau percaya padaku? " tanyanya.

Jongin mengangguk.

" aku percaya padamu " jawabnya dengan senyuman lebar.

Dong Hee tersenyum tipis.Senang rasanya masih ada orang yang mempercayainya.

" terimakasih,Jongin "

***

Dong Hee jatuh tersungkur karena sebuah kaki yang terjulur dari balik meja.Semua teman-teman sekelasnya tertawa keras melihatnya yang jatuh dengan memalukan.Dong Hee berdiri lalu menatap orang yang menyengkatnya.

Kim Do Yeon.

Perempuan itu menopang dagu,menatap Dong Hee dengan tatapan sinis serta seringaian kecil di bibirnya.

" hei,pembunuh! " serunya.

Dong Hee tetap menatap Do Yeon dengan tatapan datarnya.

" kau tidak punya mata,huh? "

Dong Hee diam tidak menjawab.

" kau tidak punya telinga,ya? "

Tetap tidak menjawab.

" atau kau mendadak gagu? "

Masih diam.

" YA! JUNG DONG HEE! " teriaknya emosi.Do Yeon berdiri dari kursi-nya dan menatap Dong Hee tajam.

" pergunakan kaki-mu dengan baik,Do Yeon-ssi "

Setelah membalas seluruh makian Do Yeon dengan ucapan singkat,Dong Hee keluar dari kelasnya untuk menyusul Jongin yang menunggu-nya di lapangan.

***

Dong Hee baru saja tiba di sekolahnya.Langkah Dong Hee terhenti saat melihat laki-laki bertubuh mungil sedang berada di taman yang berada di samping sekolah.Bibirnya menyungging ke atas saat melihat tingkah lucu laki-laki itu yang berusaha memetik bunga mawar merah dengan cara yang tepat.

Dong Hee melangkahkan kaki-nya menuju laki-laki itu.

" permisiii " ucapnya sopan.

Laki-laki itu tersentak saat melihat Dong Hee tiba-tiba berdiri di belakangnya.Matanya membulat,membuat ekspresi kaget lucu untuk ukuran anak SMA sepertinya.

" saya Jung Dong Hee.Murid kelas 1-C " ucap Dong Hee sambil membungkuk hormat.

Laki-laki itu juga balas membungkuk.
" Do Kyungsoo.3-A " ucapnya.

" eoh? Sunbae? "

Dong Hee terlihat tidak percaya,ukuran badan laki-laki bernama Kyungsoo sedikit melenceng dari kata sunbae.

" apa yang kau lakukan pagi-pagi disini,sunbaenim? " tanya Dong Hee.

Kyungsoo menunjuk bunga mawar merah yang ada di depannya.

" Ibu-ku ulang tahun,aku sudah meminta izin kepala sekolah untuk memetiknya satu.Tapi aku malah lupa membawa gunting ataupun cutter " ujarnya.

Dong Hee tersenyum lalu mengedepankan tas punggung-nya,mengambil cutter dari dalam tempat pensil-nya.

" pakai punyaku saja,sunbaenim "

Kyungsoo tersenyum menunjukkan heart shape lips-nya menerima cutter bermotif bunga-bunga cerah itu.Dia memotong batang bunga mawar itu dengan benar.

" terimakasih kau membantuku " ucapnya sambil menyerahkan cutter itu pada Dong Hee.

Dong Hee mengangguk lalu memasukkan cutter-nya kembali.

" hyung! "

Kyungsoo dan Dong Hee kompak menoleh ke belakang.Ke arah Jongin yang baru saja datang.

" eoh? Dong Hee? "

Jongin mengerjapkan matanya saat melihat ada Dong Hee bersama Kyungsoo.

" kau mengenal Kyungsoo hyung? " tanya Jongin.

" dia membantuku memetik bunga mawar ini untuk Ibu-ku " Kyungsoo menjawab.

" kalian saling kenal? "

Jongin merangkul tubuh Kyungsoo yang lebih pendek darinya.

" kami berteman sejak kecil,dia ini hyung kesayanganku " serunya bangga.

Dong Hee mengangguk-anggukkan kepalanya.

" ayo,kita masuk,sepuluh menit lagi bel berbunyi "

***

Dua kali.

Dua kali sekolah ini di gemparkan dengan sesuatu yang begitu mengejutkan.Pagi ini saat seorang murid perempuan menjadi pengunjung toilet pertama,dia dibuat berteriak histeris melihat pandangan menjijikan di depannya.

Seorang murid perempuan mati bermandikan darah dengan bekas sayatan di urat nadi-nya serta pergelangan kaki-nya.

Garis polisi melingkari pintu toilet perempuan memberi batasan bagi murid-murid yang berkerumun di depan pintu masuk agar tidak melewati batas itu.

" bunuh diri,lagi? "

" kemarin dia baru saja aborsi "

" ku dengar dia pengonsumsi obat penenang "

" kenapa sekolah kita seperti ini? "

Kyungsoo yang berdiri paling belakang hanya dapat menghela nafas frustasi.Sekolah-nya kini menjadi sorotan publik karena dua kali kasus bunuh diri.

" apa murid-murid perempuan di sekolah kita itu otaknya dangkal? " tanya Jongin yang berada di sebelahnya.

Kyungsoo mengangkat bahu-nya tidak peduli.Dua detektif keluar dari kerumunan membawa beberapa bukti.Tas milik Do Yeon,sepatu,surat keterangan rumah sakit,obat-obatan,dan—

" tidak mungkin " Kyungsoo menggumam tidak percaya saat melihat benda itu ada di plastik bening yang di bawa detektif itu.

Benda yang di duga di gunakan Do Yeon untuk mengakhiri hidupnya.

Benda yang sangat Kyungsoo kenal karena kemarin pagi dia gunakan untuk memetik bunga mawar merah sebagai hadiah ulang tahun ibunya.

Cutter bemotif bunga-bunga cerah.

Milik Jung Dong Hee.

***

" eoh? sunbae? "

Dong Hee mengerjapkan matanya berkali-kali saat melihat Kyungsoo di depan pintu kelasnya.

" ada yang ingin ku bicarakan denganmu " ucap Kyungsoo dengan nada serius.

Mereka berdua duduk di bangku paling depan.Semua murid-murid di sekolah ini memang sudah pulang,mungkin tinggal Dong Hee dan Kyungsoo saja yang berada di sekolah.

" ada apa,sunbaenim? " tanya Dong Hee.

" aku pinjam cutter-mu "

Dong Hee mengerjapkan mata-nya.

" cutter-mu " Kyungsoo berujar lagi.

" tapi cutter-ku tidak ada " ucap Dong Hee.

" kemana? " tanya Kyungsoo.

" kemarin di pinjam Do Yeon " jawab Dong Hee.

Kyungsoo mengernyitkan dahinya.

" dipinjam? "

" iya "

Kyungsoo menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.

" aku melihat cutter-mu sebagai barang bukti tadi pagi " ucap Kyungsoo.

Dong Hee menatap Kyungsoo datar.

" kau ingin mengatakan kalau aku yang membunuhnya? " tanyanya.

Mata Kyungsoo membulat menyadari perubahan ekspresi yang kentara di wajah Dong Hee.

" kali ini aku tertuduh membunuhnya? " Dong Hee bertanya lagi dengan nada datar.

Kyungsoo menelan ludah-nya,merasa tidak enak menuduh Dong Hee.Mungkin benar,Do Yeon meminjam cutter itu padanya.Karena Dong Hee tidak enak jadi dia meminjamkannya.

Ah,Kyungsoo bodoh! Kenapa tidak berpikir seperti ini dari tadi?!

" ku kira kau sama dengan Jongin yang mempercayaiku.Tidak mendengarkan omongan orang lain tentangku dan menerimaku.Ternyata aku salah " ujar Dong Hee.

" maaf,aku— "

" kau sama seperti mereka,Kyungsoo sunbaenim "

***

Jongin kembali ke sekolah karena menyusul Kyungsoo yang tadi pamit padanya ingin pulang telat karena harus membersihkan perpustakaan.Jongin tidak heran dengan tingkah Kyungsoo yang seperti ini.Dia bahkan rela pulang larut malam untuk membersihkan gudang sebulan sekali.

Jongin sudah sampai di depan pintu kembar perpustakaan.Langkahnya berhenti sampai di depan pintu ruangan itu saat terdengar bunyi barang-barang jatuh dari dalam.Pintu kembar di depan Jongin terbuka memunculkan seorang perempuan yang sedang membelalakkan matanya terkejut.

" Dong Hee? "

" J—jongin? "

" apa yang kau lakukan di dalam? dan bunyi apa itu? apa ada Kyungsoo hyung di sana? " cerca Jongin.

Dong Hee diam tidak menjawab.Jongin langsung masuk kedalam dan mendapati rak besar berisi buku-buku tebal menimpa seseorang.Jongin dapat melihat satu tangan orang itu terjulur di balik rak besar.

Perasaan Jongin mulai tidak karuan,air mata-nya mengalir begitu saja.Dia menggeser rak besar yang luar biasa berat itu agar dapat melihat siapa orang yang tertimpa rak besar itu.

Hancur sudah.

Hati Jongin remuk melihat laki-laki mungil tertelungkup dengan kepala yang mengeluarkan darah segar.Wajahnya yang putih berubah jadi merah,matanya yang bulat kini menutup sempurna.

" Kyungsoo hyung? "

Jongin meluruh,duduk bersimpuh di sebelah mayat Kyungsoo.Dia membalikkan tubuh Kyungsoo,memangku kepalanya di kedua paha-nya.Jongin memejamkan matanya tidak kuat melihat wajah Kyungsoo yang berlumuran darah,tangan Kyungsoo dingin.Tidak lagi hangat seperti saat pulang sekolah tadi ketika Kyungsoo memegang tangannya memohon untuk mengatakan pada Ibu-nya bahwa dia akan pulang terlambat.

Jongin mengusap pipi Kyungsoo lembut,membuat tangannya berlumuran darah.

" Hyung,bangunlah,ayo kita pulang bersama " ucapnya bergetar.

" Hyung,bangunlah,akan ku bantu kau membersihkan perpustakaan ini " Jongin berucap lagi.

" Hyung,sebentar lagi kau lulus,bangunlah "

Jongin membawa tubuh Kyungsoo kedalam dekapannya.Menangis kencang,berharap bahwa Kyungsoo akan bangun dan mengusap air matanya seperti yang biasa dia lakukan saat Jongin menangis.

Tiba-tiba Jongin ingat perempuan yang di temuinya di depan pintu perpustakaan tadi.Dia meletakkan kepala Kyungsoo perlahan lalu bangkit.

" kau membunuhnya! " desis Jongin tajam pada Dong Hee yang ternyata memperhatikannya di belakang.

" tidak " sahut Dong Hee tenang.

" kau membunuhnya!" Jongin mengulangi kalimatnya.

" ku bilang tidak "

" pembohong! " bentak Jongin.

Dong Hee terkesiap mendengar bentakan Jongin.Matanya menatap Jongin tidak percaya.

" kau bilang,kau mempercayaiku? "

Jongin menggeleng keras.

" aku tidak mempercayaimu "

" KAU MEMBUNUH HYUNG-KU! DASAR PEMBUNUH! KAU PEMBUNUH! "

" TUTUP MULUTMU,KIM JONGIN! "

Dada Dong Hee naik turun menandakan emosi-nya sedang tidak stabil.Air mata-nya mengalir dari kedua bola matanya.

" kau pembunuh! " desis Jongin tajam.

" bukan aku yang melakukan ini,tapi mereka,mereka yang membuatku melakukannya! " seru Dong Hee.

Dong Hee menghampiri Jongin.Menatap mata laki-laki yang mengatakan kalau dia mempercayainya.

" kau tau kenapa aku seperti ini? " tanya Dong Hee bergetar.

" tidak tau dan tidak mau tau " balas Jongin tajam.

Dong Hee tersenyum getir.

" dua tahun yang lalu aku di penjara karena di tuduh membunuh orang tuaku,mereka menuduhku menembak orang tua-ku hanya karena bukti itu ada di tanganku.Aku bersikeras mengatakan kalau aku bukan pembunuhnya,sore itu aku pulang dari sekolah,aku pulang dengan perasaan gembira karena aku lulus.Aku berlari lantai atas,ke kamar orang tuaku "

" …saat aku membuka pintu-nya aku sudah melihat mereka berdua tergeletak kaku dengan darah ada di mana-mana.Aku berteriak menangis melihat-nya,aku bersimpuh disamping mereka dan menemukan pistol itu disana.Aku hanya menggenggamnya,tapi mereka melihatku seolah-olah aku yang membunuh orang tuaku sendiri.Mereka menuduhku membunuh orang tua-ku sendiri! "

Jongin tertegun,merasakan betapa menyakitkannya perasaan Dong Hee saat itu.

" mereka memenjarakanku,aku di perlakukan tidak adil,di cap sebagai pembunuh padahal aku tidak membunuh siapapun.Aku keluar dari penjara dua tahun setelahnya dan bersekolah disini.Ku pikir sekolah dapat membuatku melupakan semuanya dan memberikanku sebuah keluarga baru.Tapi ternyata—kalian begitu tidak menyukaiku "

" …Ah Hyun dan Do Yeon.Mereka terus mengataiku mantan narapidana dan pembunuh.Mereka menyebarkan seluruh berita itu ke segala penjuru sekolah.Membuatku semakin di benci setiap manusia di sekolah ini.Aku tidak membalas ucapan mereka,karena ku pikir mereka tidak akan mengerti jika aku membantah ucapan mereka dengan mengatakan 'cukup,hentikan' atau 'tidak,aku bukan pembunuh' "

Dong Hee tersenyum getir.Dia menatap Jongin.

" Jadi ku putuskan untuk mewujudkan segala ucapan mereka,Ah Hyun mengataiku penjahat,dan aku melakukan apa yang seorang penjahat lakukan,aku membunuhnya.Do Yeon mengataiku pembunuh,akupun melakukan ucapannya.Aku membunuhnya. "

" lalu kenapa kau membunuh hyung-ku? " tanya Jongin dengan nada bergetar.

Dong Hee melongok ke belakang.Melihat mayat Kyungsoo sebentar.Ada rasa sakit di hatinya melihat wajah Kyungsoo yang berubah menjadi warna merah akibat ulahnya.

" awalnya aku menyukai Kyungsoo sunbae.Sangat menyukainya.Saat melihat dia pertama kali di taman bunga,aku mulai menyukainya.Tadi,saat dia menghampiriku,aku senang bukan main.Tapi kau tau tujuannya menemuiku? "

Jongin menggeleng.

Dong Hee tersenyum sinis.
" dia mencurigaiku membunuh Do Yeon.Dia berpura-pura ingin meminjam cutter-ku dan berakhir mengatakan kalau dia melihat cutter-ku ada sebagai barang bukti.Singkat kata,dia menuduhku membunuh Do Yeon " ungkap Dong Hee.

" kau memang membunuhnya "

" tapi dia yang membuatku membunuhnya.Mulut besarnya yang membuatku membunuhnya! "

Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.Dia memang menyukai Dong Hee,dia satu-satunya perempuan yang dapat membuat Jongin nyaman.Tapi melihatnya seperti ini,Jongin rasa bukan Dong Hee ini yang dia sukai,bukan Dong Hee seperti ini yang Jongin sukai.

Dong Hee mengeluarkan pistol dari balik punggungnya,mengarahkan pistol itu ke arah jantung Jongin.

" Kau juga Jongin,kau juga sama seperti mereka.Kau tidak mempercayaiku! Kau memanggilku pembunuh! " seru Dong Hee.

" kau memang pembunuh! " balas Jongin.Dia sama sekali tidak takut peluru itu akan menembus jantungnya.Dia akan segera menyusul Kyungsoo.

" tapi aku tidak bisa membunuhmu "

Dong Hee mengarahkan pistolnya secepat kilat ke dada sebelah kirinya.

DOR!

Bunyi tembakan itu melayang di udara bersamaan dengan nyawa Dong Hee yang juga melayang detik itu juga.Tubuhnya meluruh di iringi cairan merah kental yang keluar dari mulutnya.

Jongin membulatkan matanya kaget.Kejadian barusan terlalu cepat untuk di cegahnya.Kaki-nya sulit di gerakkan.Jongin tidak bisa merasakan oksigen di sekitarnya,kepalanya mulai merasa pening luar biasa,dan semuanya berakhir gelap.

***

-

" bukan aku yang melakukan ini,tapi mereka,mereka yang membuatku melakukannya! "

" …aku membunuhnya "

" …aku membunuhnya "

" tapi aku tidak bisa membunuhmu "

DOR!

-

Jongin bangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah,kejadian satu minggu yang lalu saat di perpustakaan selalu menghampirinya.

Lagi.

Bayangan itu berputar.

Ah Hyun mati terbunuh.

Do Yeon mati terbunuh.

Kyungsoo mati terbunuh.

Pelakunya Dong Hee.

Dia mati bunuh diri.

DOR!

Jongin menutup kedua telinganya saat bunyi tembakan memasuki gendang telinganya.

-

" bukan aku yang melakukan ini,tapi mereka,mereka yang membuatku melakukannya! "

" …aku membunuhnya "

" …aku membunuhnya "

" tapi aku tidak bisa membunuhmu "

DOR!

-

" HENTIKAN! HENTIKAN KU MOHON! HENTIKAN! "

Jongin berteriak histeris saat bayang-bayang Kyungsoo yang berdiri di depan rak lalu Dong Hee mendorong Kyungsoo kasar hingga dia menubruk rak itu,membuat raknya goyang dan menimpa Kyungsoo.

Jongin semakin meringkuk ketakutan saat bayang-bayang Ah Hyun yang jatuh di dorong dari atap sekolah.

BRUG!

Jongin jatuh dari tempat tidur-nya sambil terus memukulkan kepalanya ke lantai,kini bayang-bayang Dong Hee menyayat pergelangan kaki Do Yeon.Mengatakan kalau seharusnya dia tidak menyengkatnya dan mempergunakan kaki-nya dengan baik.Lalu Dong Hee menyayat urat nadi Do Yeon membuat perempuan itu melotot dan menjerit kesakitan.

" AARGHHH! "

Jongin berteriak kencang sebelum dia menghempuskan nafas terakhir karena kepalanya yang terus mengeluarkan darah.

Jongin meninggal malam itu.

END

Rabu, 04 Juni 2014

EXO Fanfiction: [TEASER] IN DANGER

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: Crime,School Life,Family,Friendship,Romance.

Cast:
- Do Kyungsoo as Kyungsoo.
- IU as Han Hae Ri.
- Luhan as Han Luhan.
- Kim Soo Jin (OC)

Disclaimer: 안녕~ Kali ini aku dateng bawa Teaser fanfic baru aku yang bener-bener pengen aku buat beda dari fanfic abal aku yang lain.Antara PeDe gak PeDe ngambil fanfic ber-genre Crime,tapi—karena emang pengen banget nulis fanfic ber-genre Crime,sooo jadilah fanfic ini.

Check This Ouuttt~

***

- Do Kyungsoo as Kyungsoo

Pelajar berusia 17 tahun yang duduk di bangku kelas 2 SMA.Anak tunggal dari Presdir Do; pemilik Perusahaan Earthlings yang sangat berkuasa di Korea Selatan.Sifat-nya yang cenderung dingin dan tertutup membuat Kyungsoo tidak pernah mempunyai teman dekat.Walaupun Kyungsoo adalah anak dari orang kaya,tapi Kyungsoo tidak pernah mau menunjukkannya.Dia lebih suka naik bus daripada mobil sport yang di berikan Ayah-nya.Sampai suatu saat hal yang tidak di minta oleh-nya terjadi begitu saja.Tujuh orang pengawal yang di perintahkan Ayah-nya untuk selalu setia mengikuti-nya kemanapun.Awalnya menolak merasa tidak nyaman,karena itu membuat teman-temannya jadi semakin menjauh.Tapi saat dia mendapat jawaban dari sang Ayah,Kyungsoo memilih diam tidak banyak protes.

Karena Kyungsoo tau dia—dalam bahaya.

- IU as Han Hae Ri.

Memiliki Ibu yang sangat menyayanginya,Ayah yang selalu menjaga-nya serta Kakak yang selalu ada disisi-nya.Rasa-nya itu adalah kado terindah yang pernah dimiliki gadis berparas cantik yang satu ini.Hae Ri adalah anak bungsu,tidak heran jika dia sangatlah manja dan kekanak-kanakan.Di tambah sifat semua anggota keluarga-nya yang kelewat menyayanginya.Walaupun terlihat ke kanak-kanakan Hae Ri tetaplah gadis remaja berusia 17 tahun yang mulai merasakan jatuh cinta.Selama dua tahun belakangan ini Hae Ri diam-diam menyukai teman sekelasnya yang mempunyai sifat anti-sosial.Do Kyungsoo,itulah nama orang yang selalu membuat Hae Ri betah memandangi-nya setiap hari di kelas.Hingga suatu hari dia di buat terkejut saat mengetahui laki-laki pujaannya itu sedang dalam bahaya.Berusaha mencari cara untuk menyelamatkan Kyungsoo ternyata bukanlah hal yang mudah.

Semua butuh keberanian dan juga pengorbanan.

- Luhan as Han Luhan.

Laki-laki tampan berparas imut yang sangat menyayangi adik perempuannya.Karena besar-nya rasa sayang Luhan pada Hae Ri,Luhan sering menolak gadis yang menyatakan perasaannya lewat surat yang sering dititipkan pada Hae Ri.Tidak peduli walaupun umurnya sudah menginjak tahun ke-18.Asal selalu bersama Hae Ri,Luhan merasa tidak memiliki pacar juga tidak apa-apa.Mungkin terlalu percaya diri bahwa Hae Ri juga akan melakukan hal yang sama dengannya,membuat Luhan marah saat mengetahui Hae Ri sudah mulai jatuh cinta.Rasa takut akan kehilangan perhatian Hae Ri membuatnya kerap kali mendiamkan Hae Ri tanpa sebab.

Yaa—17 tahun selalu bersama Hae Ri membuat hati Luhan tidak rela Hae Ri pergi dari sisi-nya dan berada di sisi orang lain.

- Kim Soo Jin (OC)

Menjadi teman sebangku Hae Ri sejak kelas satu SMP membuatnya merasa kalau dia dan Hae Ri adalah satu paket yang tidak pernah terpisahkan.Bisa di bilang dimana ada Soo Jin di situ juga ada Hae Ri.Hal itu pula-lah yang membuatnya tau seluk-beluk sifat Hae Ri.Termasuk saat temannya itu jatuh cinta.Soo Jin juga termasuk ke dalam gadis pemberani,Ayah-nya adalah seorang detektif terkenal bernama Kim Yoo Jin.Sifat pemberani,tegas,dan cerdik sang Ayah menurun pada Soo Jin.Dan saat Soo Jin merasa ada yang ganjal semenjak Kyungsoo membawa pengawal ke sekolah.Sejak itulah dia memutuskan untuk menyelesaikan kasus itu.

Walaupun harus mengorbankan dirinya sendiri.

***

Okeeh,itu aja yang mau aku bagiin,see you soon! (^^)/

Minggu, 25 Mei 2014

EXO Fanfiction: Sweet Date.

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: School Life,Fluff,Romance-maybe-

Cast:
- Do Kyungsoo
- Ahn Hee

Disclaimer: Yeheeettt! Aku balik lagi bawa lanjutan cerita seriesnya Kyungsoo-Ahn Hee.Dengan bantuan mbah google,setelah browsing sana-sini-lebay- akhirnya ff ini jadi jugaaaa!.Maaf kalau rada aneh dan gak nyambung.Enjoy^^

***

Aku bersenandung senang,setelah kejadian 'cemburunya Kyungsoo' beberapa hari yang lalu,kupikir sifatnya mulai berubah.

Kyungsoo mulai mengirimi ku pesan terlebih dahulu.

Kyungsoo lebih memilih makan siang di kantin dengan ku daripada dengan teman pintarnya.

Kyungsoo lebih lembut 'sedikit' daripada yang sebelumnya.

Dan Kyungsoo mengajakku kencan.

Haaahhh..semoga ini awal yang baik.

" aku tidak sabar untuk besok! " seruku senang.

Kyungsoo mengerutkan dahinya.
" memangnya besok ada apa? " tanyanya bingung.

" eiii~ jangan pura-pura lupa,besok kan kita kencan,Kyung " ucapku lalu tertawa.Kyungsoo ada-ada saja.

Kyungsoo mengangguk pelan.Seperti menggumam 'ohh' karena aku tidak begitu mendengar suaranya.

***

Aku mengetuk-ngetukkan kaki-ku di lantai.

Tidak sabar.

Semalam Kyungsoo meneleponku dan mengatakan kalau dia akan menjemput pukul 9 pagi.Tapi karena memang aku sangat sangat senang.Jadi aku bangun pukul 6,mandi dan berganti pakaian.Aku keluar dari kamar pukul 8 lewat 37 menit.

Lama ya?

Aku bingung memilih pakaian mana yang harus ku pakai.Kyungsoo tidak suka jika aku memakai pakaian yang minim bahan.Dia juga tidak suka aku memakai pakaian yang terlalu mencolok warnanya.Jadi,karena itu aku hanya memakai sweater berwarna putih bergambar tedy bear biru serta celana jins dan sepatu sneakers.Rambutku sengaja ku gerai dan hanya memakai bando sebagai aksesoris kepalaku.

Ting Tong.

Aku langsung beranjak dari sofa ruang tamu dan berlari kecil menuju pintu.

" kau sudah datang! " seruku senang.

Aku mengerjapkan mataku menyadari betapa tampannya Kyungsoo hari ini-walaupun setiap hari begitu-.Aku hanya tidak menyangka Kyungsoo mempunyai pilihan yang sama denganku.

Dia juga memakai sweater!

Bedanya,sweater Kyungsoo tidak bergambar melainkan terdapat kata-kata bahasa inggris disana.

" kau mau pergi tidak? "

Pertanyaan datar Kyungsoo menarikku ke dalam dunia nyata.Ku lihat dahi-nya mengernyit heran.

" oh maaf,hehehe "

Kyungsoo menghela nafas.
" ayo berangkat! " ajaknya sambil menarik tanganku lembut.

***

Aku mengerutkan dahi setelah menyadari aku dan Kyungsoo melewati jalan yang kurasa ini salah.

Aku menoleh menatap sisi wajah Kyungsoo yang tetap tenang menyetir.Apa dia tidak sadar kalau dia salah jalan?

" eum..Kyung " panggilku ragu.

" hmm " gumamnya menyahut.

" sepertinya kita—salah jalan "

Aku melongo melihat Kyungsoo hanya diam dan tidak meresponku.Apa dia pikir aku ini bercanda? Hey sebodoh-bodohnya aku kalau soal jalan menuju Namsan Tower aku tau!

***

Aku semakin bingung saat Kyungsoo memakirkan mobilnya.Kyungsoo membukakan pintu mobil untukku.

" ayo keluar! "

Aku menggeleng.

" katakan padaku,ini dimana? Kenapa kesini? " tanyaku.

Kyungsoo menghela nafas lalu menarikku keluar.

" Kyung! " seruku kesal.

Aku merasa Kyungsoo membohongiku.Ini bukan Namsan Tower.Di tempat ini banyak rumah tradisional Korea.Jelas,aku merasa di bohongi.

" Korean Folk Village " ucapnya.

Aku mengerutkan dahiku tidak mengerti.

" kita di Korean Folk Village "

Aku menggeleng tidak percaya.

Bagaimana aku harus percaya?

Aku akan kencan di taman budaya?

Ini kencan bukan Study Tour!

Aku menghentakkan kakiku kesal lalu berjalan mendahului Kyungsoo.

Laki-laki itu benar-benar menyebalkan!

" hey kau kenapa?! "

Aku mendengar Kyungsoo berseru,aku tetap tidak berhenti berjalan dan terus menghiraukannya.

" tunggu! "

Aku mendengus saat Kyungsoo berhasil menarik tanganku membuat badanku otomatis berbalik menghadapnya.

" kau tidak tau tempat ini,setidaknya jangan berjalan di depanku " ucapnya.

Kyungsoo tersenyum lalu mengenggam tanganku.Membawaku berjalan menelusuri tempat ini.

kenapa dia terlihat senang sekali? dia tidak sadar aku sedang marah? Dasar laki-laki tidak pengertian!

***

Aku dan Kyungsoo berkeliling menjelajahi seluk beluk Korean Folk Village.Di sebelahku Kyungsoo terus menggenggam tanganku,senyumannya mengembang melihat replika rumah tradisional Korea yang kami lewati.Kyungsoo menarikku ke pameran teknik pembuatan barang-barang dari kayu dan logam secara tradisional.Aku menoleh dan menatap sisi wajahnya yang terlihat kagum,matanya berbinar,senyumannya juga selalu menghiasi wajahnya.Decakkan kagum dia lontarkan setelah mendengar jawaban dari pertanyaan yang dia ajukan pada si pengrajin.

Jujur,aku senang.

Bukan,bukan karena pamerannya.

Tapi karena melihat senyuman Kyungsoo yang begitu lebar.Mata bulatnya yang berbinar.

Aku senang melihatnya.

Setelah Kyungsoo merasa puas melihat pameran itu,dia menarikku lagi dan membawaku menelusuri pasar jalanan tradisional.Banyak pernak-pernik cantik yang tidak ku pungkiri membuatku tertarik.Aku tertarik pada salah satu cincin yang menurutku cantik.Warna-nya putih bermotif bunga.

Dalam hati aku berharap Kyungsoo mau membelikanku cincin itu.

Ayolahh..ini kencan,seharusnya ada hadiah!

" itu namanya Garakji " ucap Kyungsoo saat aku memegang dua cincin itu.

" oohhh " aku mengangguk-anggukkan kepala.Cincin ini begitu menarik perhatianku.

" cincin itu untuk perempuan yang sudah menikah,katanya sebagai pertanda tentang keharmonisan bersama suaminya " ujar Kyungsoo memberi penjelasan.

" jadi…perempuan yang belum menikah tidak boleh memakai ini? " tanyaku kecewa.Aku menatap Garakji yang ada di telapak tanganku.

Ku dengar Kyungsoo menghela nafas.
" sudah waktunya makan siang,lebih baik kita makan "

Aku mengangguk pelan lalu meletakkan Garakji itu ke tempat semula dan berjalan meninggalkan Kyungsoo.Sungguh aku ingin Garakji itu!

Kyungsoo bisakah kau pengertian sedikiiitttt saja,huh?!

***

Kyungsoo mengajakku ke sebuah restaurant tradisional Korea.Kami duduk di bangku dekat jendela.Dari jendela kami bisa merasakan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah kami.Pemandangannya juga sangat menyegarkan mata.Yaaa..setidaknya ini bisa menjadi penghibur atas kekecewaanku tentang Garakji tadi.

" Samgyetang? "

Aku melongo melihat makanan tradisional Korea yang berbentuk sup ayam ginseng dengan bumbu tambahan merica dan garam itu.Makanan yang paling aku hindari saat hari chobok,jungbok dan malbok itu.

" Kyung,kenapa kau memesan ini? " tanyaku sambil menatapnya.

" memangnya kenapa? " Dia balik bertanya.

Aku mendengus.
" aku tidak mau makan ini! " seruku kesal.

Kyungsoo mengerutkan dahinya.
" kenapa?  ini enak "

Aku menggeleng keras.
" pokoknya tidak mau! "

Ku lihat Kyungsoo menghela nafas.

" makanlah " ucapnya tenang.

Lagi-lagi aku menggeleng.
" ku bilang tidak! Aku tidak suka itu,Kyung! "

Kyungsoo berdecak kesal.

" suka atau tidak aku mau kau menghabiskan itu,kalau tidak— "

" kalau tidak apa?! " potongku cepat.

" aku akan meninggalkanmu disini,jadi cepat makan! " perintahnya dan setelah itu dia langsung memakan Samgyetang-nya.

Aku mengerucutkan bibirku.Terpaksa aku harus memakan makanan ini.Sungguh,Kyungsoo sangat menyebalkan hari ini!

***

Aku memilih mendiamkan Kyungsoo setelah keluar dari restaurant tadi.Aku kesal dengannya karena telah memaksaku memakan Samgyetang.

Dan faktanya,aku benci di paksa.Aku juga tidak suka Samgyetang.

Kyungsoo mengajakku ke taman hiburan tempat di mana ada permainan,taman patung,museum seni,museum rakyat Korea, dan juga museum rakyat dunia.

Kyungsoo sama sekali tidak mengajakku menaiki permainan yang kelihatannya dapat membangkitkan mood buruk-ku.Dia malah mengajakku memasuki museum-museum itu.Berjalan dari satu peninggalan sejarah ke peninggalan sejarah lainnya yang sudah dilindungi oleh kotak kaca.Berdiri untuk beberapa menit sambil membaca asal-usul peninggalan sejarah tersebut.

Ugh,sungguh membosankan.

Aku dan Kyungsoo keluar dari museum sejarah dunia pukul 4 lewat 15 menit.Padahal aku masuk ke museum sejarah Korea pukul 2 siang.

" kita mau kemana lagi? " tanyaku pada Kyungsoo.

Kyungsoo melihat jam tangan hitam yang meligkar di pergelangan tangan kirinya.

" aku mau melihat pertunjukkan tari tradisional Korea.Tapi ini baru pukul 4 lewat 15 menit.Pertunjukkannya di mulai pukul 7 malam. " ujarnya.

" lalu apa yang akan kita lakukan selama 2 jam 45 menit kedepan? " tanyaku.

Kyungsoo tersenyum penuh arti padaku.Sambil menaikkan kedua alisnya.

" kita lihat saja nanti "

***

Kyungsoo mengajakku menonton prosesi perkawinan tradisional Korea yang baru saja di mulai.Kami duduk di bangku bagian tengah.Aku berdecak kagum melihat bagaimana proses perkawinan itu terjadi.

" kau mau berfoto tidak dengan model pengantin tadi? " tanya Kyungsoo setelah acaranya selesai.

" memangnya boleh? " tanyaku.

Kyungsoo mengangguk.
" ayo! " ajaknya sambil menarik tanganku.

Kami menghampiri model pengantin tadi dan foto bersama mereka.Mempelai wanitanya sangat anggun menggunakan hanbok itu.Mempelai pria-nya juga terlihat gagah.

Mataku tertuju pada sebuah tempat berfoto,dimana tempat itu memperbolehkan pengunjung memakai hanbok itu berfoto.

" kau mau kesana? " tanya Kyungsoo.

Aku menatapnya.
" apa boleh? "

Kyungsoo tertawa kecil lalu menarikku lembut.
" aku juga ingin mencobanya "

Kami memakai pakaian hanbok dengan warna yang serasi.Aku tidak bisa menyembunyikan rasa senangku saat Kyungsoo berdiri di sampingku sambil tersenyum ke arah kamera.Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya.

" ini "

Aku menoleh menatap tangannya yang terulur.Bibirku melengkung ke atas saat melihat Garikja yang menarik perhatianku tadi ada di telapak tangannya.

" ahjussi,bisakah kau memfoto ku saat aku memakaikan cincin ini padanya? " pinta Kyungsoo pada paman yang memotret kami.

Paman itu mengacungkan jempol sambil mengulum senyum.

Kyungsoo menarik tanganku dan memakaikan Garikja di jari manis tangan kiriku.

" anggap saja kita sudah menikah,hanya untuk berfoto " ucapnya sambil tersenyum.

Aku mengangguk.Aku merasa wajahku memanas,mungkin saat ini pipiku memerah.

Ughhhh Kyungsoooo! Aku benar-benar membencimuuuuuuuu!

Kami berfoto beberapa kali dengan berbagai macam gaya.Dan untungnya,foto itu langsung di cetak,jadi aku bisa membawanya pulang dan memajangnya di kamar.

" waktunya masih lama,kita akan kemana lagi? " tanyaku.

Kyungsoo kembali tersenyum.

" ikuti saja aku "

***

Tempat selanjutnya adalah keterampilan menunggang kuda.

Aku berteriak heboh saat para penunggang kuda itu menunggang kuda sambil berdiri.Setelah itu mereka berganti gaya,mereka menunggang kuda dengan kepala dibawah dan kaki di atas,sungguh menakjubkan!

" waahhhh! Mereka benar-benar kereeennnn! " decakku kagum saat atraksi sudah selesai.

Aku menatap Kyungsoo yang hanya diam memandangku.

" Kyung? " aku menjentikkan jariku di depan wajahnya.

" eoh? "

Aku menepuk dahiku sambil tertawa.Ekspresi bingung Kyungsoo sangat lucu.Mata-nya membulat,mulutnya pun begitu.

Aku melirik jam tangan biru-ku.

" Kyung! Ini sudah jam 7 kurang 17 menit! Ayo kau bilang ingin melihat pertunjukan tari tradisional Korea! " seruku sambil menarik tangannya.Menunggu Kyungsoo sadar dari lamunannya itu akan memakan waktu,bisa-bisa pertunjukannya selesai terlebih dahulu.

***

" Yyyaaahhhhh "

Tempat duduk sudah mulai penuh,aku dan Kyungsoo terpaksa duduk di barisan ke-3 dari belakang.

" 10 menit lagi acara akan di mulai " ucap Kyungsoo.

Aku mengangguk semangat.Tangan kanan ku sibuk mengambil isi snack yang ku beli sebelum ke sini.Kami juga membeli minuman,Kyungsoo bilang acara ini cukup lama.

Entah sudah berapa kali aku berdecak kagum.Kagum dengan para penari yang menari dengan anggunnya.Senyuman mereka sangat manis.Aku menyukai cara mereka tersenyum.Anggun.

" Kyung,mereka cantik ya? " tanyaku tatapan mataku masih menatap kagum ke arah penari.

" iya " jawab Kyungsoo singkat.

" menurutmu siapa yang paling cantik? " Aku menoleh menatapnya.

Kyungsoo tersenyum manis menatapku.Dia memajukan wajahnya.

" kau yang paling cantik " bisiknya.

Dan aku hanya bisa mengerjapkan mataku.

***

Lagi-lagi aku berdecak kagum saat melihat lampion berwarna biru dan merah yang menggantung di sepanjang jalan.Ini sudah malam dan pengunjung makin ramai memenuhi para pedagang di sepanjang jalan.

" setelah ini kita akan kemana? " tanyaku pada Kyungsoo.

Kyungsoo tersenyum.
" ada satu tempat terakhir,ini tempat penutup " jawabnya.

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.Entah,kejutan apalagi yang akan Kyungsoo berikan padaku.

Kyungsoo mengajakku berjalan melewati jalan yang tadi pagi kami lewati.Dan kami berhenti di batu besar berdiri dan satunya lebih besar lagi karena disusun dari sejumlah batu kecil.Aku sempat melihat batu ini tadi pagi,tapi karena terbawa rasa kesal jadi aku mengabaikannya.

Sekarang aku mulai penasaran dengan batu besar ini.

Gundukan batu besar itu diikat dengan tali.Di tali itu terdapat lipatan kertas yang diikatkan.Aku penasaran dengan lipatan kertas-kertas itu.

" Itu adalah batu harapan.Pengunjung yang percaya dapat menulis harapan masa depannya di kertas yang telah disediakan. " ujar Kyungsoo menjelaskan.

Kyungsoo menyerahkan secarik kertas dan sebuah bolpoin padaku.

" tulis harapanmu,terserah kau,boleh tentang sekolahmu,tentang keluargamu,atau—tentang kita " ujarnya.

Aku mengangguk sambil tersenyum malu-malu mendengar kalimat terakhir Kyungsoo.

Tentang kita?

Tentang aku dan dia?

Aku menulis harapanku di kertas dengan menjadikan batu besar itu sebagai tatakannya.Sebelah tanganku menutupi kertas itu agar Kyungsoo tidak melihat.

" selesai! " seruku senang.

Aku melipat kertas itu lalu menoleh ke arah Kyungsoo.

" kita ikat sekarang " ucapnya.

Aku mengangguk,dan kami pun sama-sama mengikat kertas itu di tali yang ada di batu itu.

Aku berharap orang-orang yang ku sayangi dan menyayangiku bahagia selamanya.Aku berharap aku dapat bersama mereka selamanya ^^

***

Setelah membuat harapan kami berdua memutuskan untuk pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Waktu memang terasa begitu cepat ketika kau bersama dengan orang yang berarti dalam hidupmu.

" kau tau kenapa aku mengajakmu kemari daripada ke Namsan Tower? " tanyanya sambil berhenti berjalan-akupun juga-.Kami berhadap-hadapan.

Aku menggeleng.

" aku ingin membuat sesuatu yang berbeda,Namsan Tower terlalu biasa menurutku.Semua orang yang berkencan pasti akan kesana.Dan kalau ada yang bertanya apa saja yang mereka lakukan disana? Pasti jawabannya sudah bisa di tebak " ujar Kyungsoo.

Aku tersenyum kecil.Dalam hati membenarkan ucapan Kyungsoo.

" sedangkan tempat ini,tempat ini berbeda menurutku,walaupun tempat ini biasa digunakan untuk berekreasi atau study tour,tapi menurutku tempat yang romantis untuk berkencan " lanjutnya.

" kalau ada temanku yang bertanya kau berkencan dimana? Aku akan dengan bangga menjawab aku berkencan di Korean Folk Village.Dan kalau mereka bertanya apa saja yang kau lakukan disana? Aku akan menjawab banyak hal yang ku lakukan,dan yang pasti aku bisa berfoto dengan pasanganku menggunakan hanbok layaknya pengantin.Aku memasangkan Garakji di jarinya,bukankah itu romantis? "

Aku tertawa kecil melihat Kyungsoo yang beradegan seolah-olah ada temannya yang bertanya tentang bagaimana kencannya dan dia sedang menjawab pertanyaan itu.

" kenapa tertawa? Aku sungguh-sungguh akan menjawab begitu kalau temanku bertanya " ucapnya dengan mimik wajah yang tidak bisa ku deskripsi-kan.Terlalu lucu menurutku.

" aku juga,aku juga dengan bangga akan menjawab kalau aku kencan di Korean Folk Village.Aku akan mengatakan kalau ini adalah tempat kencan yang paling romantis.Dan yang pasti ada banyak kejutan yang diberikan pasanganku di tempat ini. " ujarku.

" oya? Ku kira kau kesal saat ku ajak kemari " cibirnya.

" i—itu karena ku pikir kau mengajakku kemari hanya untuk memuaskan keinginanmu saja " ucapku membela diriku sendiri.

" baiklah,oiya mana foto-foto yang tadi? " tanyanya.

Aku mengeluarkan foto-foto tadi yang ku letakkan di dalam tas selempang yang ku bawa.

" untuk apa? " aku balik bertanya sambil menyerahkan foto-foto itu padanya.

Kyungsoo terlihat memilih-milih foto-foto dan mengambilnya satu.

" aku juga mau menyimpannya " ucapnya sambil menunjukkan foto yang dia ambil.Foto dimana dia merangkulku dan kami tersenyum lebar.

Aku tersenyum lalu memasukkan foto-foto itu ke dalam tas.

" ngomong-ngomong,kapan kau membeli cincin ini? " tanyaku.Aku mengelus-elus dua cincin yang melingkar di jari manisku.

" tadi,saat kau marah dan berjalan terlebih dahulu menuju restaurant. " jawabnya.

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.

" aku hanya tidak suka melihatmu cemberut,jadi aku membelikannya untukmu agar kau tersenyum. " ujarnya.

Aku tersenyum,entah aku harus menjawab apa.Aku benar-benar tidak menyangka kalau Kyungsoo bisa semanis itu.

" aku senang seharian ini menghabiskan waktu bersamamu " ucapnya sambil menatapku.

" aku juga " balasku.

" aku senang melihat senyumanmu seharian ini,aku senang melihatmu tersenyum seharian ini karena ku " lanjutnya.

Oh Tuhaaannnn! Kyungsooooo!!!!

" kenapa kau menyuruhku memakan Samgyetang? Kau kan tau aku tidak menyukai makanan itu " tanyaku.Aku penasaran dengan hal yang sudah membuatku sempat kesal dengannya.

" itu karena kita sudah berjalan 3 jam di bawah terik matahari,aku tidak mau kau sakit,jadi aku memaksamu memakan Samgyetang agar kau tidak sakit " jawabnya.

Dia melirikku sekilas.
" kalau aku menyuruhmu ini dan itu,itu adalah bentuk rasa peduli ku padamu "

Dalam hati,aku merasa bersalah telah bertingkah kekanak-kanakan hari ini.Telah berprasangka buruk tentang Kyungsoo.Sungguh,aku menyesal.

" Kyung,kemarilah! " perintahku sambil mengisyaratkannya untuk mendekatkan wajahnya.

Aku mengecup pipi-nya singkat lalu berlari menuju parkiran.

" TERIMAKASIH UNTUK HARI INI YA KYUNG! "

Teriakku dari jauh,aku masih bisa melihat Kyungsoo yang diam di posisinya tanpa bergerak.Aku berkacak pinggang menunggunya.

" Y-YA! AHN HEE! AKU AKAN MEMBALASMU! " balasnya sambil berkacak pinggang juga.

" O-ow "

Aku langsung berlari,aku harus cepat-cepat masuk ke dalam mobil!

Apa yang akan Kyungsoo lakukan untuk membalasku?

END