Laman

Tampilkan postingan dengan label Jongin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jongin. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juni 2014

EXO Fanfiction: Not Me.

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: School Life,Friendship,Crime.

Cast:
- Jung Dong Hee (OC)
- Kim Jongin

Support Cast:
- Seo Ah Hyun (OC)
- Kim Do Yeon (OC)
- Do Kyungsoo

Discalimer: ohohoho halloooo~ ini fanfic yang pas di pikirin kayaknya bagus tapi pas di tulis eum semoga tetep bagus,hahahaha.Maaf kalo gak nyambung dan banyak typo.This story is mine ^^ Enjoy^^

***

Namanya Jung Dong Hee.Perempuan pendiam dan tidak banyak bicara.Orangtua-nya sudah meninggal dua tahun lalu tepat di hari kelulusannya.Dong Hee berumur 17 tahun,umur dimana seharusnya dia duduk di bangku kelas dua SMA.Tapi karena suatu hal dia baru akan masuk kelas satu SMA.

" silahkan,pekenalkan dirimu " ucap Seonsaengnim.

Dong Hee mengangguk singkat.Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh 'bakal' teman-temannya.

" halo semua,nama saya Jung Dong Hee.Senang bertemu kalian " ucapnya dengan lantang.

" sstt—ku dengar dia anak yatim piatu " bisik seorang perempuan berambut pirang pada teman sebangkunya.

Teman sebangkunya itu mengangguk antusias.
" benar,dia juga telat satu tahun,seharusnya dia di kelas dua sekarang " sahut temannya.

" apa dia bodoh? "

" jangan-jangan dia murid nakal "

" aku tidak mau berteman dengannya "

Telinga Dong Hee bergerak mendengar bisikan-bisikan teman-temannya yang membicarakannya.Ada yang menatap sinis,ada yang membuang pandangannya,ada yang pura-pura mencatat.

" ekhm " Seonsaengnim berdehem kencang untuk membuat murid-murid-nya diam.Semua mulut murid-murid-nya itu seketika diam.

Seonsaengnim menatap Dong Hee sambil tersenyum.

" silahkan duduk di sebelah kursi Jongin " ujarnya.

Dong Hee mengangguk dan berjalan ke arah kursi kosong di sebelah kursi kosong yang katanya milik laki-laki bernama Jongin itu.Dong Hee hanya berharap kalau Jongin dapat menerimanya dengan baik.

***

Dong Hee merasa lega saat mengetahui Jongin adalah laki-laki yang cukup baik.Tadi saat dia kembali dari toilet dan melihatnya duduk di kursi kosong di samping kursi-nya,Jongin tersenyum sambil mengenalkan dirinya dengan ramah.

Ketika Dong Hee sendiri saat waktu istirahat padahal seluruh teman-temannya pergi ke kantin,Jongin mengajaknya untuk ke kantin bersama.Menceritakan seluk beluk sekolah barunya dan beberapa lelucon lucu yang membuat Dong Hee setidaknya terkekeh setelah dua tahun tidak pernah tersenyum.

" ngomong-ngomong,kenapa kau masih duduk di kelas satu? " tanya Jongin sambil memakan kentang gorengnya.

Dong Hee tertegun,pergerakan tangannya yang sedang memutar spaghetti dengan garpunya berhenti.Jongin yang melihat itupun terlihat salah tingkah,ia berdehem.

" maaf kalau pertanyaanku menyinggungmu,kau tidak usah menjawab juga tidak apa-apa " ucap Jongin merasa tidak enak.

Dong Hee tersenyum tipis sambil menggeleng.
" tidak,kau pantas bertanya seperti itu " sahut Dong Hee.

" aku mengalami sesuatu hal,itu sebab-nya aku telat masuk SMA " ucap Dong Hee tetap dengan senyumannya.

Jongin mengangguk-anggukkan kepalanya menanggapi.Tidak memilih bertanya lebih lanjut karena Jongin rasa itu akan mengusik privasi teman baru-nya itu.

***

Dong Hee melangkahkan kaki-nya di koridor sekolah di iringi dengan tatapan-tatapan tidak menyenangkan yang di tujukan padanya dari murid-murid sekolah.Mereka saling berbisik saat Dong Hee melewati-nya.

" dia datang! dia datang! " seru seseorang perempuan berambut pirang yang pertama kali berbisik waktu itu berteriak pada teman-teman sekelas Dong Hee.

Perempuan bernama Seo Ah Hyun itu berkacak pinggang menghalangi Dong Hee saat dia baru saja sampai di depan pintu kelas.Di belakang perempuan itu berjejer teman-teman sekelasnya yang lain,menatapnya dengan tatapan jijik sekaligus menghina.

" hei,mantan narapidana! " seru Ah Hyun sambil mendorong pelan bahu Dong Hee.

Dong Hee terkesiap mendengar ucapan Ah Hyun barusan.Dia melirik ke belakang,menatap senyum mengejek yang di lontarkan teman-teman sekelasnya.

" kau terkejut kami semua tau siapa dirimu,huh? " tanya Ah Hyun dengan seringaian kecil di bibirnya.

Ah Hyun memainkan ujung rambut Dong Hee sambil memelintirnya menggunakan telunjuknya.

" kami semua tau alasanmu telat masuk sekolah selama setahun,kami semua tau siapa kau sebenarnya " ujarnya.

Dong Hee menatap Ah Hyun tajam.
" apa maksudmu? " tanyanya dengan nada rendah dan dalam.

Ah Hyun tertawa kecil.Melepas telunjuk-nya yang sedari tadi memainkan rambut Dong Hee.Dia berbalik dan menatap teman-teman sekelasnya.

" hei teman-teman! " serunya lantang.

Dia menunjuk Ah Hyun menggunakan jempolnya. " Di belakangku berdiri seorang mantan narapidana.Perempuan di belakangku adalah seorang penjahat! " lanjutnya berseru.

Terdengar bisikan-bisikan teman-teman sekelas Dong Hee yang mengumpati dirinya.Menatapnya sinis dengan decakkan jijik.

Dong Hee menarik nafas lalu menghembuskannya.Berusaha menahan emosi yang meledak-ledak di dalam dirinya.Dia berjalan melewati gerombolan anak-anak itu menuju tempat duduk-nya.Berakting seolah-olah saat ini dia adalah manusia tanpa panca indera.

Tidak punya indera penglihat.

Tidak punya indera pendengar.

Tidak punya indera pencium.

Tidak punya indera peraba.

Tidak punya indera perasa.

***

Jongin baru saja tiba di sekolah,telinga-nya menangkap bisikan-bisikan tidak mengenakkan dari murid-murid yang melewatinya.Ini bukan soal bisikan histeris tentang dirinya,melainkan tentang teman barunya.

Saat memasuki kelas,pemandangannya pun tidak jauh berbeda dengan apa yang dia lihat sepanjang koridor tadi.Semua saling berbisik.Jongin berlari kecil menuju tempat duduk-nya yang berada di paling belakang pojok kanan.

Jongin meletakkan tas-nya pelan-pelan,tidak ingin mengganggu Dong Hee yang sedang menelungkupkan kepalanya di atas meja.Mungkin,Dong Hee butuh waktu istirahat.

Kepala Dong Hee terangkat,ekspresi-nya datar,tidak menunjukkan emosi apapun disana.

Mungkin lebih tepat kalau disebut; kosong.

" Dong Hee-ya " panggil Jongin pelan.

Dong Hee menoleh pada Jongin.Menatap-nya dengan ekspresi yang sama.

" aku akan pindah tempat duduk kalau saja kelas ini lebih luas sedikit " ucap Dong Hee.

Jongin kehabisan kata-kata,dia tidak menyuruh perempuan itu pindah.Dia hanya ingin bertanya,apa perasaannya baik-baik saja sekarang?

Dong Hee memutar tubuhnya ke belakang untuk mengambil buku pelajaran dan catatan yang ada di dalam tas-nya.Mengeluarkannya dan tenggelam dalam kesibukannya sendiri; mencatat segala hal yang ada di buku pelajaran.

Jongin hanya dapat terdiam,mungkin Dong Hee butuh waktu untuk sendiri.

***

Saat jam istirahat Jongin tetap bersama Dong Hee pergi ke kantin.Saat di perjalanan,banyak murid-murid yang mengumpati Dong Hee lewat bisikan atau bahkan suara yang kencang.

" dia tidak pantas sekolah disini "

" dasar mantan narapidana "

" apa yang dia lakukan? mencuri? "

" aish! kenapa dia harus berada di samping Jongin?! "

Sebenarnya Dong Hee sudah mempunyai firasat jika mereka akan memperlakukannya seperti ini.Tidak ada niatan untuk melawan perkataan mereka,percuma.

Jongin selesai memesan makanan,dan kini giliran Dong Hee yang memesannya.Tapi Bibi Kantin langsung menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.

" maaf,tapi murid-murid di sekolah ini melarang Ahjumma untuk menjual makanan padamu.Maaf,Ahjumma terpaksa melakukannya karena mereka mengancam tidak akan membeli makanan disini kalau Ahjumma tetap memberikanmu makanan " ujarnya dengan nada menyesal.

Dong Hee hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan toko Bibi kantin diikuti Jongin yang tidak bisa membantu apapun.Mereka duduk di bangku paling pojok.

" ini "

Jongin menyodorkan nampan berisi makan siangnya ke arah Dong Hee.

Dong Hee menatap Jongin datar.
" tidak perlu,kau makan saja " tolaknya.

Jongin menggeleng.
" aku laki-laki,tidak apa-apa,aku bisa menahannya.Sebaiknya ini untukmu " ucap Jongin.

" Ya! Jongin! " seru seseorang bersuara cempreng.Itu Seo Ah Hyun.

Perempuan berambut pirang yang berjarak dua meja dari tempat Jongin itu berjalan ke arahnya.Dia tersenyum sinis ke arah Dong Hee.

" kau ingin memberi makan siangmu,untuk perempuan ini? " tanya Ah Hyun dengan nada jijik.

" iya,kenapa? " Jongin balas bertanya dengan tatapan tajamnya.

Ah Hyun terkesiap melihat Jongin yang menatapnya tajam.

" dia mantan narapidana! " seru Ah Hyun dengan telunjuknya yang mengacung ke arah Dong Hee.Seruan-nya membuat seluruh pasang mata pengunjung kantin beralih menatap mereka ber-tiga.

" lalu kenapa? "

" kau bertanya kenapa? kau tidak penasaran apa yang di lakukannya dulu? Apa dia pencuri? Pengguna narkoba? Atau—Pembunuh? "

Ah Hyun menyelesaikan kalimat terakhirnya dengan menatap Dong Hee tajam yang di balas tatapan kosong perempuan itu.

Jongin berdiri menepis tangan Ah Hyun yang menunjuk Dong Hee secara kasar.

" tutup mulut besarmu itu,Ah Hyun-ssi " desis-nya tajam lalu menarik tangan Dong Hee untuk berjalan keluar kantin.

***

Jongin mengajak Dong Hee untuk duduk di kursi reot yang berada di atap sekolah.Mereka berdua sama-sama terdiam,tenggelam dalam pikiran masing-masing.Semilir angin musim gugur memainkan rambut dua anak manusia itu.

" kenapa kau membelaku? " tanya Dong Hee pelan.

Jongin menoleh menatap sisi wajah Dong Hee yang sedang menatap lurus ke depan.Perempuan itu tersenyum tipis.

" semua orang membenciku,kenapa kau tidak? " tanyanya lagi.

Jongin terdiam sebentar,memikirkan kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaan Dong Hee.

" aahh,mungkin kau hanya merasa tidak enak jika kau menjauhiku,iya 'kan? "

Dong Hee menatap Jongin dengan seulas senyuman tipis di bibirnya.

Jongin menggeleng cepat.Menyilangkan kedua tangannya.

" aku pantang menjauhi seseorang hanya karena latar belakangnya " ucapnya cepat.

" benarkah? "

" iya,itu benar "

Dong Hee kembali menatap ke depan dengan tatapan kosong.

" kau baik-baik saja? " tanya Jongin hati-hati.

Dong Hee mengangguk.

" ya,aku merasa lebih baik sekarang "

***

Pagi itu sekolah terlihat tiga kali lebih ramai dari biasanya.Empat mobil polisi serta satu ambulance terparkir di depan sekolah.Murid-murid berkumpul membentuk kerumunan di depan garis polisi yang ada di halaman belakang.

Satu orang murid perempuan terjun dari atap sekolah.

Tadi pagi saat tukang kebun ingin membersihkan daun-daun kering di halaman belakang,dia dibuat terkejut saat melihat sesosok mayat dengan kepalanya yang sudah hancur.

" apa dia bunuh diri? "

" ya,kurasa dia bunuh diri. "

" tapi apa penyebab-nya? "

" orangtua-nya bercerai "

" Seo Ah Hyun yang malang "

Begitulah bisikan-bisikan yang terlontar dari teman-temannya.Mereka hanya terlalu tidak percaya jika teman mereka yang kemarin terlihat baik-baik saja pagi ini di temukan sudah mati terbujur kaku.

***

Gebrakan meja terdengar memenuhi seluruh ruangan kelas.Dong Hee mendongakkan kepalanya,menatap datar orang yang menggebrakkan mejanya.

" Ada apa? " tanyanya datar.

Perempuan berambut gelombang itu berdecak saat Dong Hee menanggapi gebrakannya dengan tenang.

" kau bertanya 'ada apa?'.Seharusnya aku yang bertanya padamu.Ada apa denganmu?! " bentak Perempuan yang bernama Kim Do Yeon itu.

" denganku? " Dong Hee bertanya lagi.

Do Yeon mengangguk lalu melipat tangannya di depan dada.

" iya,kau.Saat semua murid berkumpul di halaman sekolah untuk melihat mayat Ah Hyun,kenapa kau malah duduk santai disini? Di saat semua orang sedang penasaran tentang kematiannya,kenapa kau terlihat biasa-biasa saja? " cerca Do Yeon.

" Aku sudah melihatnya tadi,jadi aku duduk disini.Ada polisi yang akan mengurusnya,kenapa aku harus repot-repot mencari tau? " balas Dong Hee tenang.

Do Yeon berdecak kesal merasa pertanyaannya di putar balik.Tangannya terkepal kuat menahan amarah.

" Kau—Apa kau yang membunuh Ah Hyun? " desisnya.

Dong Hee menghela nafas.
" kau menuduhku? "

" ya,aku menuduhmu "

" ku rasa tuduhanmu salah,Do Yeon-ssi "

***

Dong Hee semakin menjadi bahan gunjingan seluruh murid di sekolah.Kali ini tema-nya bukan karena dia adalah seorang mantan narapidana.Melainkan pembunuh Seo Ah Hyun,teman mereka yang di temukan mati di halaman belakang sekolah satu minggu yang lalu.

" kau tetap bertahan di sampingku " gumam Dong Hee dengan senyuman tipis.

Dong Hee dan Jongin memilih duduk di pinggir lapangan sekolah sambil memakan bekal yang Jongin bawakan dari rumah untuknya.

Jongin tersenyum.
" aku sudah mengatakan alasannya padamu,lagipula aku tidak percaya kalau kau membunuh Ah Hyun " sahut Jongin lalu memasukkan telur gulung ke dalam mulutnya.

" lagipula,Ah Hyun memang sedang memiliki banyak masalah keluarga,mungkin memang benar dia bunuh diri.Polisi juga sudah menutup kasus ini " ujar Jongin.

Dong Hee menutup kotak bekal Jongin yang ada di pangkuannya.Menatap Jongin dengan pandangan serius.

" kau percaya padaku? " tanyanya.

Jongin mengangguk.

" aku percaya padamu " jawabnya dengan senyuman lebar.

Dong Hee tersenyum tipis.Senang rasanya masih ada orang yang mempercayainya.

" terimakasih,Jongin "

***

Dong Hee jatuh tersungkur karena sebuah kaki yang terjulur dari balik meja.Semua teman-teman sekelasnya tertawa keras melihatnya yang jatuh dengan memalukan.Dong Hee berdiri lalu menatap orang yang menyengkatnya.

Kim Do Yeon.

Perempuan itu menopang dagu,menatap Dong Hee dengan tatapan sinis serta seringaian kecil di bibirnya.

" hei,pembunuh! " serunya.

Dong Hee tetap menatap Do Yeon dengan tatapan datarnya.

" kau tidak punya mata,huh? "

Dong Hee diam tidak menjawab.

" kau tidak punya telinga,ya? "

Tetap tidak menjawab.

" atau kau mendadak gagu? "

Masih diam.

" YA! JUNG DONG HEE! " teriaknya emosi.Do Yeon berdiri dari kursi-nya dan menatap Dong Hee tajam.

" pergunakan kaki-mu dengan baik,Do Yeon-ssi "

Setelah membalas seluruh makian Do Yeon dengan ucapan singkat,Dong Hee keluar dari kelasnya untuk menyusul Jongin yang menunggu-nya di lapangan.

***

Dong Hee baru saja tiba di sekolahnya.Langkah Dong Hee terhenti saat melihat laki-laki bertubuh mungil sedang berada di taman yang berada di samping sekolah.Bibirnya menyungging ke atas saat melihat tingkah lucu laki-laki itu yang berusaha memetik bunga mawar merah dengan cara yang tepat.

Dong Hee melangkahkan kaki-nya menuju laki-laki itu.

" permisiii " ucapnya sopan.

Laki-laki itu tersentak saat melihat Dong Hee tiba-tiba berdiri di belakangnya.Matanya membulat,membuat ekspresi kaget lucu untuk ukuran anak SMA sepertinya.

" saya Jung Dong Hee.Murid kelas 1-C " ucap Dong Hee sambil membungkuk hormat.

Laki-laki itu juga balas membungkuk.
" Do Kyungsoo.3-A " ucapnya.

" eoh? Sunbae? "

Dong Hee terlihat tidak percaya,ukuran badan laki-laki bernama Kyungsoo sedikit melenceng dari kata sunbae.

" apa yang kau lakukan pagi-pagi disini,sunbaenim? " tanya Dong Hee.

Kyungsoo menunjuk bunga mawar merah yang ada di depannya.

" Ibu-ku ulang tahun,aku sudah meminta izin kepala sekolah untuk memetiknya satu.Tapi aku malah lupa membawa gunting ataupun cutter " ujarnya.

Dong Hee tersenyum lalu mengedepankan tas punggung-nya,mengambil cutter dari dalam tempat pensil-nya.

" pakai punyaku saja,sunbaenim "

Kyungsoo tersenyum menunjukkan heart shape lips-nya menerima cutter bermotif bunga-bunga cerah itu.Dia memotong batang bunga mawar itu dengan benar.

" terimakasih kau membantuku " ucapnya sambil menyerahkan cutter itu pada Dong Hee.

Dong Hee mengangguk lalu memasukkan cutter-nya kembali.

" hyung! "

Kyungsoo dan Dong Hee kompak menoleh ke belakang.Ke arah Jongin yang baru saja datang.

" eoh? Dong Hee? "

Jongin mengerjapkan matanya saat melihat ada Dong Hee bersama Kyungsoo.

" kau mengenal Kyungsoo hyung? " tanya Jongin.

" dia membantuku memetik bunga mawar ini untuk Ibu-ku " Kyungsoo menjawab.

" kalian saling kenal? "

Jongin merangkul tubuh Kyungsoo yang lebih pendek darinya.

" kami berteman sejak kecil,dia ini hyung kesayanganku " serunya bangga.

Dong Hee mengangguk-anggukkan kepalanya.

" ayo,kita masuk,sepuluh menit lagi bel berbunyi "

***

Dua kali.

Dua kali sekolah ini di gemparkan dengan sesuatu yang begitu mengejutkan.Pagi ini saat seorang murid perempuan menjadi pengunjung toilet pertama,dia dibuat berteriak histeris melihat pandangan menjijikan di depannya.

Seorang murid perempuan mati bermandikan darah dengan bekas sayatan di urat nadi-nya serta pergelangan kaki-nya.

Garis polisi melingkari pintu toilet perempuan memberi batasan bagi murid-murid yang berkerumun di depan pintu masuk agar tidak melewati batas itu.

" bunuh diri,lagi? "

" kemarin dia baru saja aborsi "

" ku dengar dia pengonsumsi obat penenang "

" kenapa sekolah kita seperti ini? "

Kyungsoo yang berdiri paling belakang hanya dapat menghela nafas frustasi.Sekolah-nya kini menjadi sorotan publik karena dua kali kasus bunuh diri.

" apa murid-murid perempuan di sekolah kita itu otaknya dangkal? " tanya Jongin yang berada di sebelahnya.

Kyungsoo mengangkat bahu-nya tidak peduli.Dua detektif keluar dari kerumunan membawa beberapa bukti.Tas milik Do Yeon,sepatu,surat keterangan rumah sakit,obat-obatan,dan—

" tidak mungkin " Kyungsoo menggumam tidak percaya saat melihat benda itu ada di plastik bening yang di bawa detektif itu.

Benda yang di duga di gunakan Do Yeon untuk mengakhiri hidupnya.

Benda yang sangat Kyungsoo kenal karena kemarin pagi dia gunakan untuk memetik bunga mawar merah sebagai hadiah ulang tahun ibunya.

Cutter bemotif bunga-bunga cerah.

Milik Jung Dong Hee.

***

" eoh? sunbae? "

Dong Hee mengerjapkan matanya berkali-kali saat melihat Kyungsoo di depan pintu kelasnya.

" ada yang ingin ku bicarakan denganmu " ucap Kyungsoo dengan nada serius.

Mereka berdua duduk di bangku paling depan.Semua murid-murid di sekolah ini memang sudah pulang,mungkin tinggal Dong Hee dan Kyungsoo saja yang berada di sekolah.

" ada apa,sunbaenim? " tanya Dong Hee.

" aku pinjam cutter-mu "

Dong Hee mengerjapkan mata-nya.

" cutter-mu " Kyungsoo berujar lagi.

" tapi cutter-ku tidak ada " ucap Dong Hee.

" kemana? " tanya Kyungsoo.

" kemarin di pinjam Do Yeon " jawab Dong Hee.

Kyungsoo mengernyitkan dahinya.

" dipinjam? "

" iya "

Kyungsoo menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.

" aku melihat cutter-mu sebagai barang bukti tadi pagi " ucap Kyungsoo.

Dong Hee menatap Kyungsoo datar.

" kau ingin mengatakan kalau aku yang membunuhnya? " tanyanya.

Mata Kyungsoo membulat menyadari perubahan ekspresi yang kentara di wajah Dong Hee.

" kali ini aku tertuduh membunuhnya? " Dong Hee bertanya lagi dengan nada datar.

Kyungsoo menelan ludah-nya,merasa tidak enak menuduh Dong Hee.Mungkin benar,Do Yeon meminjam cutter itu padanya.Karena Dong Hee tidak enak jadi dia meminjamkannya.

Ah,Kyungsoo bodoh! Kenapa tidak berpikir seperti ini dari tadi?!

" ku kira kau sama dengan Jongin yang mempercayaiku.Tidak mendengarkan omongan orang lain tentangku dan menerimaku.Ternyata aku salah " ujar Dong Hee.

" maaf,aku— "

" kau sama seperti mereka,Kyungsoo sunbaenim "

***

Jongin kembali ke sekolah karena menyusul Kyungsoo yang tadi pamit padanya ingin pulang telat karena harus membersihkan perpustakaan.Jongin tidak heran dengan tingkah Kyungsoo yang seperti ini.Dia bahkan rela pulang larut malam untuk membersihkan gudang sebulan sekali.

Jongin sudah sampai di depan pintu kembar perpustakaan.Langkahnya berhenti sampai di depan pintu ruangan itu saat terdengar bunyi barang-barang jatuh dari dalam.Pintu kembar di depan Jongin terbuka memunculkan seorang perempuan yang sedang membelalakkan matanya terkejut.

" Dong Hee? "

" J—jongin? "

" apa yang kau lakukan di dalam? dan bunyi apa itu? apa ada Kyungsoo hyung di sana? " cerca Jongin.

Dong Hee diam tidak menjawab.Jongin langsung masuk kedalam dan mendapati rak besar berisi buku-buku tebal menimpa seseorang.Jongin dapat melihat satu tangan orang itu terjulur di balik rak besar.

Perasaan Jongin mulai tidak karuan,air mata-nya mengalir begitu saja.Dia menggeser rak besar yang luar biasa berat itu agar dapat melihat siapa orang yang tertimpa rak besar itu.

Hancur sudah.

Hati Jongin remuk melihat laki-laki mungil tertelungkup dengan kepala yang mengeluarkan darah segar.Wajahnya yang putih berubah jadi merah,matanya yang bulat kini menutup sempurna.

" Kyungsoo hyung? "

Jongin meluruh,duduk bersimpuh di sebelah mayat Kyungsoo.Dia membalikkan tubuh Kyungsoo,memangku kepalanya di kedua paha-nya.Jongin memejamkan matanya tidak kuat melihat wajah Kyungsoo yang berlumuran darah,tangan Kyungsoo dingin.Tidak lagi hangat seperti saat pulang sekolah tadi ketika Kyungsoo memegang tangannya memohon untuk mengatakan pada Ibu-nya bahwa dia akan pulang terlambat.

Jongin mengusap pipi Kyungsoo lembut,membuat tangannya berlumuran darah.

" Hyung,bangunlah,ayo kita pulang bersama " ucapnya bergetar.

" Hyung,bangunlah,akan ku bantu kau membersihkan perpustakaan ini " Jongin berucap lagi.

" Hyung,sebentar lagi kau lulus,bangunlah "

Jongin membawa tubuh Kyungsoo kedalam dekapannya.Menangis kencang,berharap bahwa Kyungsoo akan bangun dan mengusap air matanya seperti yang biasa dia lakukan saat Jongin menangis.

Tiba-tiba Jongin ingat perempuan yang di temuinya di depan pintu perpustakaan tadi.Dia meletakkan kepala Kyungsoo perlahan lalu bangkit.

" kau membunuhnya! " desis Jongin tajam pada Dong Hee yang ternyata memperhatikannya di belakang.

" tidak " sahut Dong Hee tenang.

" kau membunuhnya!" Jongin mengulangi kalimatnya.

" ku bilang tidak "

" pembohong! " bentak Jongin.

Dong Hee terkesiap mendengar bentakan Jongin.Matanya menatap Jongin tidak percaya.

" kau bilang,kau mempercayaiku? "

Jongin menggeleng keras.

" aku tidak mempercayaimu "

" KAU MEMBUNUH HYUNG-KU! DASAR PEMBUNUH! KAU PEMBUNUH! "

" TUTUP MULUTMU,KIM JONGIN! "

Dada Dong Hee naik turun menandakan emosi-nya sedang tidak stabil.Air mata-nya mengalir dari kedua bola matanya.

" kau pembunuh! " desis Jongin tajam.

" bukan aku yang melakukan ini,tapi mereka,mereka yang membuatku melakukannya! " seru Dong Hee.

Dong Hee menghampiri Jongin.Menatap mata laki-laki yang mengatakan kalau dia mempercayainya.

" kau tau kenapa aku seperti ini? " tanya Dong Hee bergetar.

" tidak tau dan tidak mau tau " balas Jongin tajam.

Dong Hee tersenyum getir.

" dua tahun yang lalu aku di penjara karena di tuduh membunuh orang tuaku,mereka menuduhku menembak orang tua-ku hanya karena bukti itu ada di tanganku.Aku bersikeras mengatakan kalau aku bukan pembunuhnya,sore itu aku pulang dari sekolah,aku pulang dengan perasaan gembira karena aku lulus.Aku berlari lantai atas,ke kamar orang tuaku "

" …saat aku membuka pintu-nya aku sudah melihat mereka berdua tergeletak kaku dengan darah ada di mana-mana.Aku berteriak menangis melihat-nya,aku bersimpuh disamping mereka dan menemukan pistol itu disana.Aku hanya menggenggamnya,tapi mereka melihatku seolah-olah aku yang membunuh orang tuaku sendiri.Mereka menuduhku membunuh orang tua-ku sendiri! "

Jongin tertegun,merasakan betapa menyakitkannya perasaan Dong Hee saat itu.

" mereka memenjarakanku,aku di perlakukan tidak adil,di cap sebagai pembunuh padahal aku tidak membunuh siapapun.Aku keluar dari penjara dua tahun setelahnya dan bersekolah disini.Ku pikir sekolah dapat membuatku melupakan semuanya dan memberikanku sebuah keluarga baru.Tapi ternyata—kalian begitu tidak menyukaiku "

" …Ah Hyun dan Do Yeon.Mereka terus mengataiku mantan narapidana dan pembunuh.Mereka menyebarkan seluruh berita itu ke segala penjuru sekolah.Membuatku semakin di benci setiap manusia di sekolah ini.Aku tidak membalas ucapan mereka,karena ku pikir mereka tidak akan mengerti jika aku membantah ucapan mereka dengan mengatakan 'cukup,hentikan' atau 'tidak,aku bukan pembunuh' "

Dong Hee tersenyum getir.Dia menatap Jongin.

" Jadi ku putuskan untuk mewujudkan segala ucapan mereka,Ah Hyun mengataiku penjahat,dan aku melakukan apa yang seorang penjahat lakukan,aku membunuhnya.Do Yeon mengataiku pembunuh,akupun melakukan ucapannya.Aku membunuhnya. "

" lalu kenapa kau membunuh hyung-ku? " tanya Jongin dengan nada bergetar.

Dong Hee melongok ke belakang.Melihat mayat Kyungsoo sebentar.Ada rasa sakit di hatinya melihat wajah Kyungsoo yang berubah menjadi warna merah akibat ulahnya.

" awalnya aku menyukai Kyungsoo sunbae.Sangat menyukainya.Saat melihat dia pertama kali di taman bunga,aku mulai menyukainya.Tadi,saat dia menghampiriku,aku senang bukan main.Tapi kau tau tujuannya menemuiku? "

Jongin menggeleng.

Dong Hee tersenyum sinis.
" dia mencurigaiku membunuh Do Yeon.Dia berpura-pura ingin meminjam cutter-ku dan berakhir mengatakan kalau dia melihat cutter-ku ada sebagai barang bukti.Singkat kata,dia menuduhku membunuh Do Yeon " ungkap Dong Hee.

" kau memang membunuhnya "

" tapi dia yang membuatku membunuhnya.Mulut besarnya yang membuatku membunuhnya! "

Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.Dia memang menyukai Dong Hee,dia satu-satunya perempuan yang dapat membuat Jongin nyaman.Tapi melihatnya seperti ini,Jongin rasa bukan Dong Hee ini yang dia sukai,bukan Dong Hee seperti ini yang Jongin sukai.

Dong Hee mengeluarkan pistol dari balik punggungnya,mengarahkan pistol itu ke arah jantung Jongin.

" Kau juga Jongin,kau juga sama seperti mereka.Kau tidak mempercayaiku! Kau memanggilku pembunuh! " seru Dong Hee.

" kau memang pembunuh! " balas Jongin.Dia sama sekali tidak takut peluru itu akan menembus jantungnya.Dia akan segera menyusul Kyungsoo.

" tapi aku tidak bisa membunuhmu "

Dong Hee mengarahkan pistolnya secepat kilat ke dada sebelah kirinya.

DOR!

Bunyi tembakan itu melayang di udara bersamaan dengan nyawa Dong Hee yang juga melayang detik itu juga.Tubuhnya meluruh di iringi cairan merah kental yang keluar dari mulutnya.

Jongin membulatkan matanya kaget.Kejadian barusan terlalu cepat untuk di cegahnya.Kaki-nya sulit di gerakkan.Jongin tidak bisa merasakan oksigen di sekitarnya,kepalanya mulai merasa pening luar biasa,dan semuanya berakhir gelap.

***

-

" bukan aku yang melakukan ini,tapi mereka,mereka yang membuatku melakukannya! "

" …aku membunuhnya "

" …aku membunuhnya "

" tapi aku tidak bisa membunuhmu "

DOR!

-

Jongin bangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah,kejadian satu minggu yang lalu saat di perpustakaan selalu menghampirinya.

Lagi.

Bayangan itu berputar.

Ah Hyun mati terbunuh.

Do Yeon mati terbunuh.

Kyungsoo mati terbunuh.

Pelakunya Dong Hee.

Dia mati bunuh diri.

DOR!

Jongin menutup kedua telinganya saat bunyi tembakan memasuki gendang telinganya.

-

" bukan aku yang melakukan ini,tapi mereka,mereka yang membuatku melakukannya! "

" …aku membunuhnya "

" …aku membunuhnya "

" tapi aku tidak bisa membunuhmu "

DOR!

-

" HENTIKAN! HENTIKAN KU MOHON! HENTIKAN! "

Jongin berteriak histeris saat bayang-bayang Kyungsoo yang berdiri di depan rak lalu Dong Hee mendorong Kyungsoo kasar hingga dia menubruk rak itu,membuat raknya goyang dan menimpa Kyungsoo.

Jongin semakin meringkuk ketakutan saat bayang-bayang Ah Hyun yang jatuh di dorong dari atap sekolah.

BRUG!

Jongin jatuh dari tempat tidur-nya sambil terus memukulkan kepalanya ke lantai,kini bayang-bayang Dong Hee menyayat pergelangan kaki Do Yeon.Mengatakan kalau seharusnya dia tidak menyengkatnya dan mempergunakan kaki-nya dengan baik.Lalu Dong Hee menyayat urat nadi Do Yeon membuat perempuan itu melotot dan menjerit kesakitan.

" AARGHHH! "

Jongin berteriak kencang sebelum dia menghempuskan nafas terakhir karena kepalanya yang terus mengeluarkan darah.

Jongin meninggal malam itu.

END

Selasa, 27 Mei 2014

EXO Fanfiction: Never Give Up.

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: School Life,Friendship,Family

Cast:
- Kim Jongin
- Kim Soo Wook (OC)
- Kim Junmyeon
- Seo Eun Ji (OC)
- Oh Sehun

Disclaimer: fiuh-elap keringet- ff ber-genre friendship yang sebenernya rada awkward jadinya XD makasih buat mbah google yang sangat berperan~ maaf kalo jelek dan gak nyambung.Enjoy^^

***

Kelas 2-B terlihat sangat tenang.Hari ini semua guru killer mengisi mata pelajaran di kelas yang terkenal tidak pernah bisa diam itu.Mereka semua pun memilih menutup mulut karena wali kelas mereka sudah memperingatkan mereka jika mereka membuat ulah,maka tahun ini mereka tidak akan naik kelas.

Sekarang,Cho Seonsaengnim-guru kimia- sedang menulis di papan tulis tentang aksi-reaksi senyawa.Semua sibuk mencatat,kecuali si biang onar yang tidak pernah takut akan hukuman.

Kim Jongin.

Dia malah asik menopang dagu sambil memainkan bolpoin layaknya pesawat terbang.

Menurutnya,mata pelajaran Kimia,Fisika,dan Matematika itu adalah dongeng pengantar tidur.Setiap kali guru killer menerangkan,menulis penjelasan di papan tulis atau bahkan memberikan ulangan-yang menegangkan bagi setiap muridnya-justru terasa membosankan bagi Jongin.Matanya terasa berat apabila melihat sederet angka di atas papan tulis atau di atas kertas putih.

" kapan dia akan keluar dari sini? " gerutu Jongin sambil melihat jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya.

Jongin menghela nafas panjang,masih ada 20 menit lagi sebelum bel istirahat berbunyi.

" aku akan benar-benar tertidur " gumamnya sambil menguap lebar.

Matanya berkeliling melihat teman-temannya yang terlihat serius mencatat.Jongin tertawa kecil,mereka semua berusaha keras agar tidak membuat ulah saat ini.

Mata Jongin terhenti melihat satu gadis berambut panjang yang duduk di bangku paling pojok sebelah kiri.Entah kenapa,Jongin sering memperhatikan gadis yang mempunyai bulu mata lentik itu.

" KIM JONGIIINNNNN!!!!! "

Aahh..baiklah,ini dia saatnya untuk keluar.

***

" hey,kkamjjong! Bisakah kau tidak membuat Cho Seonsaengnim naik darah? "

Laki-laki berkulit putih susu itu menatap Jongin heran,menggeleng-gelengkan kepalanya menyikapi tingkah aneh sahabat kecilnya.

Jongin tertawa kecil sambil menelan mie hitam-nya.

" kenapa? Itu seru,Sehun! " balas Jongin.

" seru apanya?! Kalau begini terus bisa-bisa kita benar-benar tidak naik kelas! Aish! " geram Sehun.Wali kelasnya sudah memberi peringatan,dan parahnya itu peringatan yang ke-15 yang kelas mereka dapatkan.Sehun benar-benar tidak mau mengulang kelas.

Jongin tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.

" Sehun,sekolah kita tidak mungkin tidak menaikkan 20 orang siswa sekaligus,memangnya mereka tidak malu mendengar omongan sekolah lain? "

Sehun mengulurkan tangannya,memukul kepala Jongin menggunakan sumpit.Berharap agar sahabatnya itu dapat berpikir lebih normal lagi.

" seharusnya kau yang malu,aku heran kenapa sekolah yang katanya bagus malah menerima murid sepertimu " ucap Sehun.

Jongin mengelus-elus kepalanya yang berdenyut sambil terkekeh.

" aku tampan,makanya aku di terima "

***

" ayo Kim Soo Wook! Yang benar! "

Gadis yang di panggil hanya merengut menanggapi laki-laki yang meneriakinya tadi.Dia duduk di lantai sambil meniup poninya.Kesal.

" Aish! Sudahlah! Aku tidak bisa Oppa! " teriaknya frustasi.

Laki-laki yang di panggil Oppa itu menghela nafas lalu mendekati adik semata wayangnya itu.Dia berjongkok di depannya.

" kau ini mudah sekali menyerah,katanya mau mengalahkan Eun Ji? "

Soo Wook memanyunkan bibirnya " aku tau,tapi aku lelah,kakiku mati rasa " keluhnya.

Soo Wook mulai memijat-mijat kaki-nya.Besok dia akan bertanding dengan Seo Eun Ji,gadis cerewet yang suka mencari gara-gara dengannya semenjak Soo Wook tidak sengaja melempar gadis itu dengan uang logam.

Dan kemarin Soo Wook tidak sengaja menumpahkan air pel-an membuat baju seragam Eun Ji basah kuyup dan bau pengharum lantai.Gadis itu marah dan menantang Soo Wook untuk bertanding dengannya.

" aku harus memenangkan pertandingan ini,aku tidak mau dia menang! " tekad Soo Wook.Dia bangkit dari duduknya dan meraih tali yang sempat dia lempar.

***

" kau sudah dengar? "

Jongin mengernyitkan dahi-nya.
" dengar? dengar apa? " tanyanya bingung.Sehun baru datang dan bertanya seperti itu,jelas membuatnya bingung.

" nanti,saat pulang sekolah ada pertandingan seru! " ucap Sehun antusias.

Jongin makin tidak mengerti.
" pertandingan? pertandingan apa? "

Sehun menghela nafas.Jongin terlalu lambat berpikir,batinnya gemas.

" Soo Wook akan bertanding lagi dengan Eun Ji! "

Jongin membulatkan matanya.Lagi? Baru saja seminggu yang lalu mereka berdua bertanding memindahkan gelas plastik dari sisi yang satu ke sisi yang lainnya.Lalu,sebelumnya juga bertanding menahan nafas di kolam renang.

Dan—pertandingan konyol apa lagi yang akan mereka lakukan?

***

Lompat Tali.

Kali ini dua orang itu akan bertanding lompat tali.Barang siapa yang melompat lebih banyak tanpa berhenti,dia yang akan menang.Begitu kata Eun Ji dengan toa putih-kuningnya.

Semua murid berkumpul di stadion olahraga yang ada di belakang sekolah mereka.Tempat dimana Soo Wook dan Eun Ji sering bertanding.

Jongin menghela nafas gusar.Di tatapnya gadis berambut panjang yang sedang melakukan pemanasan di pinggir lapangan.Gadis itu menggunakan baju olahraga,rambutnya pun di kuncir satu.Sama seperti pertandingan sebelum-sebelumnya.

" kau kenapa? " tanya Sehun.Dia baru saja kembali dari kantin.Membeli snack besar dan dua kaleng cola.Hal yang Sehun lakukan setiap menonton pertandingan dua gadis yang saling bermusuhan itu.

" apa dia akan menang kali ini? " gumam Jongin.Mungkin lebih tepatnya dia bertanya pada Sehun.Matanya masih menatap gadis yang kini sedang berdo'a.

Sehun menggeleng,dia ikut-ikut-an menatap gadis yang sedang di tatap sahabatnya itu.

" dia selalu kalah,aku tidak yakin dia akan menang " jawab Sehun.

Jongin menghela nafas.Sudah 8 kali mereka melakukan pertandingan,dan sudah 8 kali pula gadis itu selalu kalah.

Dia tidak keluar dari air setelah 15 menit waktu selesai,dan setelah di periksa,ternyata dia pingsan.Terakhir kali,gadis itu kalah karena tiba-tiba berhenti berlari dan tidak bergerak sampai waktunya habis.

PRIITTT.

Peluit tanda pertandingan di mulai bebunyi nyaring membuat siswa-siswi berteriak heboh.

Jongin mengepalkan tangannya menatap gadis yang berdiri di tengah lapangan sambil menggenggam tali di kedua tangannya.

" Kim Soo Wook " gumamnya.

***

Dia kalah lagi.

Kim Soo Wook kalah lagi.

Kali ini,setelah melompat sebanyak 24 kali tanpa henti,dia tiba-tiba terduduk.Bahkan setelah 10 menit,dia tidak juga bangun dari duduknya.Jongin yang melihat itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya gemas.Tangannya terkepal.

Tidak lama,dari sudut stadion keluar dua orang perempuan-sepertinya anggota PMR- dia membopong Soo Wook dengan tandu dan membawanya keluar dari stadion.

" apa yang sebenarnya terjadi dengannya? "

***

Soo Wook berdecak kesal.Lagi-lagi dia harus kalah dengan gadis cerewet itu.

" 9 kali "

Soo Wook mendongak,menatap gadis berambut sebahu yang berjalan mendekatinya yang duduk di atas ranjang ruang kesehatan.

" kau 9 kali kalah dariku " ucapnya.

Soo Wook mendengus.

" aku tau,kau tidak perlu mengingatkanku " balasnya.

Eun Ji tertawa,dia melipat kedua tangannya di depan dada.

" kau lemah sekali,baru 24 kali lompatan saja sudah ambruk,cih "

Soo Wook mengepalkan tangannya.Ingin sekali dia menjambak rambut gadis itu hingga botak atau kalau perlu menarik mulutnya seperti mulut platypus.Tapi sayang,dia tidak sekejam nenek sihir.

" kita bertanding lagi " ucap Soo Wook mantap.

Eun Ji menatapnya tidak percaya.

" kita akan bertanding lari di sepanjang jalan sungai Han,bagaimana? " tantang Soo Wook.

Eun Ji masih terdiam tidak menggerakkan kepalanya.

" kali ini,aku akan benar-benar mengalahkanmu! " desis Soo Wook tajam.Dia langsung turun dari ranjang dan pergi meninggalkan Eun Ji yang masih tidak bergerak.

***

" memangnya dia pikir aku akan menyerah begitu saja? Cih,liat saja di pertandingan kali ini,aku yang akan menang " gerutu Soo Wook di sepanjang koridor sekolah.

Soo Wook berbelok ke arah loker-loker murid kelas 2.Dia berjalan ke arah loker nomor 7.Membukanya dan mengambil baju seragam.

" kau mau bertanding lagi dengannya? "

Hampir saja Soo Wook memukul kepala laki-laki yang tiba-tiba muncul di bekakangnya itu.

Soo Wook berkacak pinggang.
" memangnya kenapa? " tanyanya.

" kau selalu kalah,berhentilah "

Soo Wook menatap laki-laki yang terkenal biang onar itu.

" hei Kim Jongin,kenapa kau mencampuri urusanku? Aku kalah atau menang,itu urusanku "

Jongin berdecak kesal.Tidak menyangka jika Soo Wook akan sekeras kepala ini.

" hanya berhenti,tidak bisa? kau selalu kalah " Jongin menatap Soo Wook,mengisyaratkan gadis itu kalau dia memang harus berhenti.

Soo Wook menggeleng.
" tidak sebelum aku menang " ucapnya lalu pergi meninggalkan Jongin yang mendesah frustasi atas tingkahnya.

***

Mustahil.

Jongin sama sekali tidak mengerti jalan pikirannya sendiri.Biasanya saat kepalanya sudah menyentuh bantal saat itu juga matanya akan terpejam.

Tapi ini?

Ini bahkan sudah 3 jam sejak kepalanya menyentuh bantal,tapi matanya belum juga terpejam.

Pikirannya terus melayang menembus langit malam.Wajah Soo Wook selalu muncul saat dia memejamkan mata.

Tadi,saat Soo Wook meninggalkannya,lokernya belum tertutup,dan Jongin menemukan sesuatu yang terlalu aneh kalau di sebut vitamin atau bahkan permen.

" apa—dia sakit? "

***

" 2 menit 25 detik "

Junmyeon memperlihatkan stopwatch-nya di depan wajah adiknya itu.

" Ha? Kenapa—hhh—lama—hhh—sekali—hhh? "

Junmyeon menarik tangan dingin adiknya untuk duduk di sampingnya.

" Soo Wook-ah bisakah kau berhenti? " tanyanya.

Soo Wook mengerjapkan mata-nya berkali-kali.

" kenapa—Oppa menyuruhku berhenti? "

Junmyeon terdiam sebentar,menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.

" aku tidak mau kau dalam bahaya " ucapnya.

" tidak,aku akan baik-baik saja " sahut Soo Wook meyakinkan.Ia menggenggam tangan kakak-nya erat.

" Soo Wook-ah— "

" Oppa " potong Soo Wook cepat.

" kau tidak perlu khawatir,asal kau berdiri di belakangku dan terus menyemangatiku,aku akan baik-baik saja " ujarnya.

Junmyeon menunduk.

" Ayolahhh...Oppaaaaa " rengek Soo Wook.Dia menggoyang-goyangkan tangan Junmyeon.

Junmyeon mengangkat kepalanya dan menatap Soo Wook.Mengulurkan kelingkingnya.

" kau janji? "

Soo Wook mengangguk lalu mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Junmyeon.

" kau bisa mempercayaiku "

***

Soo Wook meluruskan kaki-nya sambil memijat-nya perlahan.Dia menarik ujung bibirnya,tersenyum.

" hei,bisakah minggu besok kau bekerja sama denganku? " Soo Wook bertanya pada kedua kaki-nya sendiri.

" kalau minggu besok kau bisa diajak bekerja sama,aku janji,setelah itu aku akan mengajakmu terapi,bagaimana? "

Soo Wook memandangi kedua kaki-nya yang diam tidak menjawab.

" tidak mau,aku tidak mau itu "

Soo Wook membulatkan matanya,dia tidak salah dengarkan? Kaki-nya bisa bicara?

" la—lalu apa yang kau inginkan? " tanya Soo Wook.

" bisakah kau berhenti bertanding? itu menyiksaku "

Soo Wook mengerutkan dahinya.Dia menghela nafas,seperti tau asal suara yang membalas ucapannya.Itu bukan kaki-nya.

Hei kaki tidak bisa berbicara!

Soo Wook menoleh ke belakang,menatap laki-laki yang menyengir lebar di balik batu besar.

" ternyata kau "

Jongin terkekeh lalu menghampiri Soo Wook yang duduk meluruskan kaki-nya di pinggir lapangan sekolah.Jongin ikut duduk di samping gadis itu lalu menatap sisi wajahnya yang menatap ke depan.

" itu benar-benar suara kaki mu,dia memintamu untuk berhenti " ucap Jongin.

Soo Wook menghela nafas malas.
" kenapa semua orang begitu? " gumamnya sambil menunduk.

Jongin mengerutkan alisnya tidak mengerti.
" begitu? Begitu bagaimana? "

" mereka semua menyuruhku berhenti,kau,oppa-ku,ibu-ku,ayah-ku,kalian sama saja " jawab Soo Wook.

Jongin tersenyum,menyentuh pundak Soo Wook.

" kami menyayangimu,itu alasannya " ujar Jongin.

Soo Wook menatap Jongin.

" apa orang sepertiku tidak pantas menang? " tanyanya.

Jongin kembali mengerutkan dahinya.
" orang sepertimu? maksudmu apa? "

***

Jongin tau isi dari botol kecil itu bukan vitamin apalagi permen.

Itu adalah obat bagi penderita GBS atau Guillain Barre Sindrom seperti yang di alami Soo Wook sekarang.

-

" tahun lalu aku mengalami infeksi usus " ucap Soo Wook mengawali ceritanya.

Jongin dengan setia menatap sisi wajah Soo Wook dan diam-diam memuji bahwa gadis ini benar-benar cantik.

" setelah itu,aku merasa jari-jariku kesemutan,seperti ditusuk-tusuk.Kau tau? Itu sakit sekali " Soo Wook tertawa kecil.Seperti mentertawakan dirinya sendiri.

" Awalnya aku diam dan tidak mengatakan hal itu pada siapapun,tapi lama-lama bukan hanya jari-jariku saja yang sakit,punggung-ku juga,aku susah menggerakkan bola mataku,mengunyah dan menelan makanan-pun aku mulai susah melakukannya.Akhirnya aku mengatakan ini pada keluargaku dan mereka sepakat membawaku ke rumah sakit "

Soo Wook menarik nafas panjang.Mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan kelanjutan ceritanya.

" aku di tes di laboratorium,dan ternyata aku terkena penyakit mengerikan itu,sistem imun yang seharusnya menjaga tubuhku dari serangan virus dan bakteri jahat namun justru menyerang syaraf-ku sehingga sel-sel dalam tubuh-ku mengalami kerusakan.Sistem imun-ku penghianat bukan? "

Soo Wook menatap Jongin sambil tersenyum.

" aku kalah bukan karena aku payah,tapi penyakit menyebalkan ini yang membuatku kalah,penyakit tidak tau tempat ini yang membuatku malu di depan banyak orang,kakiku,tanganku,semua anggota badanku akan berhenti bergerak suatu saat nanti  "

Jongin mulai melihat air mata yang menumpuk di pelupuk mata Soo Wook.Gadis itu sedang menahannya.

" jangan berhenti " ucap Jongin memotong ucapan yang baru saja akan keluar dari mulut Soo Wook.

Soo Wook menatap Jongin tidak percaya.

" jangan berhenti,aku akan mendukungmu,aku akan ada di belakangmu " ucap Jongin.

Soo Wook menarik kedua ujung bibirnya ke atas.

" kau pantas menang,jadi jangan berhenti "

-

***

Semua murid sekolah memenuhi jalanan Sungai Han pagi ini.Mereka semua berkumpul untuk menyaksikan pertandingan ke-10 dari dua teman mereka.

" bisa kita berhenti sekarang? " Eun Ji berdiri di depan Soo Wook yang sedang mengikat tali sepatunya.

Soo Wook mendongak lalu tersenyum.Dia berdiri sambil berkacak pinggang.

" tidak sebelum aku mengalahkanmu "

Eun Ji mendesah keras.Dia berbalik lalu bersiap-siap di posisinya.

Soo Wook tertawa kecil lalu ikut bersiap-siap di samping Eun Ji.

DOR!

Tembakan pistol ke udara membuat mereka langsung berlari mengelilingi Sungai  Han.

Dari jejeran penonton.Jongin yang berdiri di samping Junmyeon terus mengepalkan tangannya.Sementara Junmyeon memejamkan matanya dan terus berkomat-kamit,dia berdo'a.

" hyung,Soo Wook pasti menang " bisik Jongin di telinga Jumnyeon.

Junmyeon membuka matanya dan menatap Jongin.

" ku harap dia menepati janjinya "

***

Eun Ji tidak bisa berhenti menoleh ke belakang,ke arah Soo Wook yang berlari di belakangnya.Gadis itu mulai melambat membuat hati Eun Ji tidak tenang.

" Soo Wook-ah! " teriak Eun Ji ketika gadis itu sudah jatuh terduduk.Dia berlari menghampiri Soo Wook.

Soo Wook tersenyum menatap Eun Ji.

" bodoh—hhh—kenapa—hhh—kau—hhh—menghampiriku—hhh? " tanya Soo Wook dengan nafas yang tersengal-sengal.

" aish! Kau yang bodoh! Kau itu— " Eun Ji berhenti mengomel,dia mulai mengangkat tubuh Soo Wook yang mulai melemas.

" hei—hhh—tinggalkan—hhh—aku—hhh—aku—hhh—berat—hhh " ucap Soo Wook dengan nafas yang terdengar satu-satu.

" diamlah! " seru Eun Ji kesal.Matanya mulai berair,dia benci mengakuinya,tapi dia benar-benar takut sekarang.

Soo Wook menyunggingkan senyum di bibirnya yang pucat dan mulai mengering.

" terimakasih—hhh "

***

Soo Wook di larikan ke ruang ICU.Junmyeon dan Jongin terlihat panik melihat Eun Ji yang datang sambil menuntun Soo Wook yang setengah sadar.

Setelah cukup lama menunggu di luar,dokter akhirnya keluar dari ruang ICU dengan wajah yang keruh.

" kami terpaksa memasang ventilator agar dia dapat bertahan hidup "

Ibu Soo Wook langsung jatuh pingsan membuatnya harus diangkat dan di pindahkan ke ruang rawat.Ayah Soo Wook ikut menemani istrinya itu.Sedangkan,Junmyeon,Jongin dan Eun Ji memilih masuk ke ruang ICU untuk melihat kondisi Soo Wook.

Lambaian tangan Soo Wook menyambut kedatangan mereka.Gadis itu sudah sadar.

" kau melanggar janjimu " ucap Junmyeon yang duduk di bangku kecil yang terletak di sebelah kanan ranjang Soo Wook.

Soo Wook tersenyum lemah.
" aku baik-baik saja,sungguh " sahut Soo Wook dengan suara yang serak.

Tatapan Soo Wook beralih ke arah Eun Ji yang sudah menunduk sambil terisak.

" hey gadis cerewet! " panggil Soo Wook.

Eun Ji mendongakkan kepalanya.Dia mendekat ke arah Soo Wook.

" kau menang lagi,untuk yang ke-10 kalinya " ujar Soo Wook.

" aku tau,kau tidak perlu mengingatkanku lagi " sahutnya kesal.

" maaf aku tidak bisa menghapus air matamu,tanganku sulit di gerakkan " ucap Soo Wook.

Eun Ji mengangguk lalu menghapus air matanya.

" maaf aku selalu mencari gara-gara denganmu " ucapnya.

" tidak apa-apa,karenamu aku jadi punya sesuatu di kerjakan " balas Soo Wook.

" aku seperti itu karena aku tau kau punya penyakit seperti ini,waktu itu aku tidak sengaja mendengar ucapanmu dan oppa-mu saat kita akan bertanding untuk yang ke-2 kalinya,aku mengajakmu bertanding agar kau menang,agar kau tidak menyerah dan berusaha untuk mengalahkanku " ujar Eun Ji lalu terisak.

" kau—juga menyayangiku? " tanya Soo Wook.

Eun Ji mengangguk.

" terimakasih " ucapnya.

Jongin yang berada di sisi kiri Soo Wook menggenggam tangan kiri gadis itu erat.

" berjanjilah padaku untuk tidak akan menyerah " ucapnya.

Soo Wook mengangguk pelan.
" aku tidak akan menyerah "

Jongin tersenyum lalu mengacak rambut Soo Wook sayang.

" aku akan ada di belakangmu " ucapnya.

" Oppa juga " imbuh Junmyeon.

Jongin,Soo Wook,dan Junmyeon menatap Eun Ji yang masih menunduk.

" hatiku bilang aku harus di bekakang Eun Ji,kalian tidak dengar? "

Mereka tertawa mendengar ucapan Eun Ji.

Jongin mendekat ke arah telinga Soo Wook.

" kami pegang janjimu,jangan menyerah Soo Wook-ah " bisiknya.

END

Jumat, 23 Mei 2014

EXO Fanfiction: A Lost Memory (Chapter 12)

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre; Brothership,Family,Fantasy

Cast:
- Do Kyungsoo
- Kim Jongin
- Xi Luhan
- Oh Sehun
- Kim Hye Soo (OC)

***

-

11 Januari 2010

" Kyungsoo koma "

" apa kita harus memberitahu Jongin? "

" tidak,aku tidak mau dia bertambah depresi "

Kim Jongin berdiri mematung di depan dua orang dewasa itu.Tas yang menggantung di pundaknya jatuh begitu saja.Air matanya langsung menetes tanpa di perintah.Dia tidak salah dengar?

" omo! Jongin-ah,kau sudah pulang? Apa kau lelah? Oemma akan membuatkanmu makanan " ucap Nyonya Kim cepat.Dia mendekat ke arah Jongin yang hanya berdiri tanpa bereaksi.

" dimana hyung-ku? " tanya Jongin pelan.

" Kyungsoo..pindah ke Jepang " jawab Nyonya Kim.

" bohong! Kalian bohong! Dimana hyung-ku?! " teriak Jongin.

Nyonya Kim menangkupkan tangannya di kedua pipi Jongin.Berusaha menenangkan anak-nya yang histeris.

" Jongin-ah..Kyungsoo butuh istirahat.Kita jenguk dia lain kali saja yaa..hari ini kau lelah,sebaiknya kau istirahat. "

Jongin menepis tangan Nyonya Kim kasar.

" apa yang kalian sembunyikan dariku?! Dimana hyung-ku?! " teriak Jongin.

" Jongin..dengarkan kami bicara " Tuan Kim angkat bicara.

" aku mau mencari hyung-ku! " seru Jongin lalu berlari keluar rumah tanpa menghiraukan panggilan orang tua-nya.

Jongin berlari dan terus berlari.Di pikirannya kali ini hanya ada hyung-nya seorang.Tidak ada yang lain.

" hyung,tunggu aku.. "

Tanpa dia sadari,dari jarak beberapa meter darinya.Sebuah mobil melaju ke arahnya.Sebelah tangan pengemudi memegang ponsel,mengetik pesan.Matanya tidak menatap ke depan.Saat matanya menatap ke depan,hanya ada teriakan terkejut karena melihat anak kecil yang tiba-tiba muncul di depan mobilnya.Membuat dirinya terlambat menginjak rem.

BBRRAAKK!!!

***

Seorang anak laki-laki mengerjapkan mata-nya berkali-kali.Kalender besar langsung menyambutnya.Kepalanya masih terasa pusing,tapi bisa di pastikan ia berada di rumah sakit-karena bau obat langsung tercium oleh hidungnya-.

" Kim Jongin! " seru seorang wanita yang baru saja membuka pintu dan langsung memeluknya.

" aku? Kim Jongin? " tanyanya.Jongin memandang bingung wanita yang ada di depannya ini.

Nyonya Kim mengangguk " iya sayang,namamu Kim Jongin,aku adalah Oemma-mu "

" Oemma? "

-

Sehun duduk termenung di bangku taman rumah sakit.Tidak berniat pulang,masih ingin disini.Di dekat Jongin.

Sahabatnya.

Saudaranya.

Seseorang menepuk pundaknya,membuat kepalanya mendongak.Luhan tersenyum manis lalu duduk di samping Sehun.

" kau baik-baik saja? " tanya Luhan menatap sisi wajah Sehun yang menunduk dalam.

Sehun menggeleng pelan.

" aku—tidak baik " jawabnya pelan.

Luhan tersenyum manis.

" kita sudah tau resikonya,kita harus menerima semuanya,Sehun " ucap Luhan lembut.

" aku tidak bisa jauh dari Jongin,dia sahabatku,saudaraku,bagaimana bisa aku jauh darinya? " Sehun menatap Luhan dalam.Air matanya sudah menumpuk di pelupuk matanya.

" Sehun— "

" demi apapun walau Jongin berteriak untuk menyuruhku pergi,aku akan tetap tinggal,aku akan tetap tinggal disisi-nya.Tidak peduli dia akan memukulku,atau membunuhku sekalipun.Aku akan tetap disisinya. " ujar Sehun,ada penekanan di setiap kata-katanya.Menggambarkan kalau dia benar-benar tidak akan pergi.

Luhan menghembuskan nafas panjang.Dalam hatinya,dia pun sama.Dia juga tidak ingin pergi dari sisi Jongin.Tapi—apa yang dapat dia lakukan kalau Jongin sudah terlanjur membencinya?

" kita beri Jongin waktu,Sehun "

***

" Kyungsoo hyung! Kyungsoo hyung keluarlah! Aku tau kau di dekatku! Keluarlah dan jangan sembunyi!!!!! " teriak Jongin.Matanya berkeliling mencari sosok mungil yang sedang ia rindukan.

" Kumohon…keluarlah " Jongin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.Menunduk dan terisak kencang.

Sementara di luar pintu,tanpa Jongin sadar orang yang dirindukannya sedang memperhatikannya.Sama dengannya,Kyungsoo juga mengeluarkan air matanya,menatap Jongin lirih.

Bukannya Kyungsoo tidak mau muncul di hadapan Jongin.Tapi keadaannya semakin memburuk,tubuhnya juga semakin memudar kalau ia sering menampakkan diri di depan Jongin.Suho memberinya saran untuk tidak menemui Jongin sampai hari itu tiba.Kyungsoo akan menghilang kalau ia terlalu sering menampakkan dirinya di depan Jongin.

" Jongin-ah…maafkan aku "

***

Tangan Hyesoo dengan telaten mengelap tangan Kyungsoo dengan handuk kecil yang sudah ia basahi dengan air hangat.Hal yang biasa ia lakukan setiap pagi.

" Hyesoo-ya "

Hyesoo menoleh ke arah wanita paruh baya yang sedang menyiapkan makanan di atas meja.Dia Ibu Kyungsoo.Wanita berusia 40-an yang sangat lembut.

" terimakasih kau mau menjaga Kyungsoo selama ini " ujarnya sambil menatap Hye Soo.Bibirnya membentuk seulas senyuman yang manis.Tatapannya juga sangat teduh.

Hye Soo mengangguk.

" D.O oppa sudah ku anggap seperti kakak-ku sendiri,aku tidak mau melihatnya kesepian " balasnya.

Hye Soo menatap Kyungsoo sambil tersenyum.Tangannya terulur mengelap wajah Kyungsoo dengan lembut.

" Kyungsoo mungkin tidak akan pernah bangun lagi,Tapi—kau tetap akan menjadi putriku kan? " tanya Nyonya Do.Dia menatap Hye Soo dari balik punggungnya.

Hye Soo meletakkan handuk kecil itu ke dalam baskom berisi air hangat yang terletak di meja kecil di samping ranjang Kyungsoo.Dia berdiri dan menghampiri Nyonya Do yang duduk di sofa.

Hye Soo duduk di sebelah Nyonya Do lalu menggenggam tangannya.Nyonya Do masih menatap Hye Soo dengan penuh harap.

" apa Omoni berpikir aku ini anak yang durhaka,huh? " tanya Hye Soo.Bibirnya mengerucut.

Nyonya Do yang melihat itu langsung tersenyum lebar.

" kau—tidak akan pergi? " tanya Nyonya Do.

Hye Soo berpura-pura berpikir.Matanya melirik keatas.

" sepertinya kalau nanti malam ke restoran baru di depan rumah sakit tidak buruk juga " ucapnya sambil melirik Nyonya Do.Bibirnya tersungging jail.

Nyonya Do tertawa melihat tingkah Hye Soo.Malaikat kecilnya.Sejak ada Hye Soo di kehidupan keluarganya,hidupnya terasa sempurna.

" baiklah,aku akan menraktirmu nanti malam " ucap Nyonya Do.

Hye Soo bersorak gembira.Tangannya meninju ke udara lalu memeluk Nyonya Do.Ibu ke-2-nya.Orang tua Hye Soo sudah lama meninggal.Selama ini,ia hanya tinggal dengan Paman dan Bibi-nya yang memang tidak mempunyai anak.Mereka sibuk bekerja,jadi Hye Soo jarang mendapatkan kasih sayang yang seharusnya ia rasakan.Setelah bertemu Kyungsoo dan sering berkunjung ke rumahnya,Hye Soo mulai merasakan kasih sayang orang tua.Ibu Kyungsoo begitu menyayanginya,begitupun Ayah Kyungsoo yang selalu menjaganya.

' D.O Oppa…aku merindukanmu '

***

Sehun menyunggingkan bibirnya.Tangannya membawa parsel buah.Hari ini,sepulang sekolah,Sehun memutuskan untuk menjenguk Jongin.Tidak bertemu dengannya selama 3 hari membuat Sehun merindukan tingkah nakal Jongin.

Sehun menarik nafas panjang saat dirinya sudah berdiri di depan pintu ber-cat putih itu.Sebelum berangkat kemari,Luhan sudah memperingatkan Sehun untuk menerima segala perlakuan Jongin nantinya.

-

" kita bersalah,dan orang yang bersalah pantas menerima hukuman. "

-

Perlahan tapi pasti Sehun membuka kenop pintu itu.

" Hai "

Sehun mengangkat sebelah tangannya menyapa Jongin yang menatapnya sekilas lalu kembali membaca komik yang ada di tangannya.Sehun berjalan pelan ke arah kursi yang tersedia di samping ranjang Jongin dan duduk di sana.

" ini aku bawakan buah untukmu " ucap Sehun.

" hmm..terimakasih,letakkan saja di meja " sahut Jongin datar.Matanya sama sekali tidak lepas dari komik yang di pegangnya.

Sehun mengangguk lalu meletakkan parsel buahnya di meja kecil.

" bagaimana kabarmu? apa sudah membaik? " tanya Sehun.

Jongin mengangguk.
" baik " jawabnya singkat.

Sehun mengangguk-angguk-kan kepalanya.Tangan kanannya menggaruk tengkuknya,suasana yang sungguh canggung.

" Jongin— "

" Sehun— "

Sehun tertawa kecil.
" baiklah,kau duluan saja " ucap Sehun.

Jongin menghela nafas panjang,matanya masih menatap buku komik.

" kalau kau sudah tidak ada urusan sebaiknya kau pulang " ucap Jongin dingin.

Sehun tertegun mendengar ucapan Jongin.

Jongin mengusirnya?

-

" terima saja perlakuan Jongin padamu,jangan berusaha menjelaskan apapun,karena itu percuma,Jongin membenci kita Sehun "

-

Kata-kata Luhan menginterupsi mulutnya yang baru saja akan mengeluarkan penjelasan.Sehun menghela nafas lalu mengangguk pelan.

" baiklah,aku akan pulang " pamitnya.

" hmm " gumam Jongin menyahut.

Sehun berjalan pelan menuju pintu.Dia masih ingin disini,masih ingin menghabiskan waktunya bersama Jongin.

" Sehun-ah "

Seketika Sehun tersenyum lebar saat Jongin memanggil namanya.Ia membalikkan badannya.

" ya? "

Jongin mengangkat kepalanya,menatap Sehun datar.

" bisakah kau tidak menemuiku lagi? "

***

Sehun pulang ke rumah dengan air mata yang mengalir di pipinya.Mata-nya sembab.

" Sehun-ah,apa yang terjadi? " tanya Luhan khawatir.

Sehun tidak menjawab,ia berjalan melewati Luhan dan duduk di sofa.Kedua tangannya menutup wajahnya yang sudah basah dengan air matanya detik ketika ia menutup pintu ruang rawat Jongin.

Luhan menghela nafas lalu ikut duduk di samping Sehun.Mengelus-elus punggung Sehun yang naik turun.

" semuanya akan baik-baik saja, Sehun.Aku janji. "

***

Jongin hanya diam memandangi buku komik yang memang tidak sedikitpun ia baca.Dia hanya pura-pura membaca,bermaksud untuk mencari kesibukan lain.Juga—

" kenapa aku tidak bisa membenci mereka? " gumamnya.

Sebenarnya sejak 3 hari yang lalu,rasa marah terhadap sepasang kakak-adik itu sudah hilang.Bahkan,Jongin merasa kesepian tanpa adanya mereka.

Jongin merindukan candaan Sehun.

Jongin merindukan perhatian yang di berikan Luhan.

Singkat kata…Jongin merindukan mereka.

" bagaimana bisa aku merindukan kalian disaat aku ingin membenci kalian? " Jongin bergumam lagi.

Ia menoleh ke samping,ke arah jendela yang terbuka.Dimana dulu Kyungsoo lompat dari sana dan datang untuk menjadi teman bicaranya.

" Hei hyung,kau dimana? Aku membutuhkanmu,aku—merindukanmu "

***

Hye Soo keluar dari ruang rawat Kyungsoo dengan mengendap-endap.Ini sudah kelewat malam,tapi Luhan terus saja merengek memintanya untuk keluar.

" oh yaampun! " pekik Hye Soo kaget.Bagaimana tidak? Saat ia membuka pintu sesosok Luhan sudah berdiri di depan pintu sambil tersenyum.

" kenapa mengendap-endap seperti itu? " tanya Luhan.

Hye Soo membekap mulut Luhan.
" sstt—di dalam ada orang tua D.O Oppa sedang tidur.Pelankan suaramu " bisik Hye Soo.

Luhan mengangguk mengerti.

" ada apa? kenapa ingin bertemu denganku? " tanya Hye Soo sambil melepaskan tangannya dari mulut Luhan.

Luhan mengangkat bahu.
" ayo temani aku minum kopi! "

" ha? "

***

" sebenarnya apa yang ingin Oppa bicarakan? " tanya Hye Soo.

Hye Soo mulai tidak sabar karena Luhan sedari tadi hanya diam dan menyesap kopi-nya tanpa berbicara sedikitpun.

" Jongin " ucap Luhan pelan.

Hye Soo mengerutkan dahinya.
" ada apa dengannya? " tanya Hye Soo.Entah kenapa nama Jongin terasa begitu sensitive di telinga Hye Soo,ia sudah malas mendengar nama laki-laki itu.

" dia di rawat di rumah sakit ini " jawab Luhan.Ia menyesap kopi-nya sambil menatap jalanan yang mulai sepi dari balik jendela Çafè.

Mata Hye Soo membulat,tapi cepat-cepat ia menetralkan ekspresi terkejutnya,sebelum Luhan melihatnya.

" ohh "

Luhan menatap Hye Soo sambil tersenyum.

"  yakin hanya itu? tidak bertanya bagaimana keadaannya? " tanya Luhan meledek.

Hye Soo mendengus.
" untuk apa? aku tidak punya waktu untuk memikirkannya " jawab Hye Soo.

Luhan mengangguk-anggukkan kepalanya.
" baiklah,aku tidak jadi menceritakan sesuatu padamu "

" tidak bisa begitu! Oppa sudah menyuruhku untuk keluar malam-malam begini,dan dengan entengnya Oppa bilang tidak jadi? Cih "

Luhan tertawa kecil,gadis di depannya sungguh pintar dalam berakting.

" bilang saja kalau kau penasaran " ucap Luhan.

Hye Soo mendelik ke arah Luhan.
" ku bilang tidak! " serunya.

" yasudah karena kau tidak penasaran maka aku tidak akan cerita " Luhan mengendikkan bahu-nya.Berpura-pura tidak peduli.

Hye Soo menghela nafas pasrah.

" baiklah,aku penasaran,cepat ceritakan apa yang terjadi sebenarnya "

***

Hye Soo menatap wajah Kyungsoo.Menggenggam tangannya erat.Tangannya terulur,mengelus pipi lembut laki-laki mungil itu.

" D.O Oppa,aku punya kabar baik untukmu " ucapnya pelan.

Air mata Hye Soo mengalir begitu saja.Ia buru-buru menghapus air matanya.

" aku tidak menangis karena aku sedih,tapi aku menangis,karena aku bahagia " ucapnya.

Hye Soo tersenyum.

" Jongin Oppa—dia sudah mengingatmu.Dia sudah mengingat apa yang hilang dari otaknya.Dia mengingatmu Oppa " ujar Hye Soo.

" Karena itu,ku mohon…bukalah matamu. "

***

" siapa? "

Jongin menyahuti ketukan pintu dari luar ruang rawatnya.

Kenop pintu bergerak dan pintu pun perlahan terbuka.Gadis mungil itu tersenyum manis menatap Jongin.

" Hyesoo… " Senyuman Jongin melebar saat melihat gadis itu berjalan mendekatinya dan duduk di kursi yang terletak di samping ranjang Jongin.

" aku ke sini untuk melihat keadaanmu Oppa " ucap Hye Soo.

Jongin tidak merespon,ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.Terlalu senang membuatnya sulit mengeluarkan kata-kata.

" bagaimana kabarmu? Baik? " tanya Hye Soo.

" eum,aku baik " jawab Jongin cepat.

" Oppa " panggil Hye Soo.

" ya? "

" apa kau bosan disini? "

" sangat,aku sangat bosan,apa kau ingin mengajakku keluar? " Jongin bertanya dengan semangat.Berharap Hye Soo akan mengajaknya keluar seperti dulu.

Hye Soo mengangguk.Ia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya.

" ada…yang ingin ku tunjukkan padamu. "

TBC

Kamis, 22 Mei 2014

EXO Fanfiction: A Lost Memory (Chapter 11)

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: Brothership,Family,Fantasy

Cast:
- Do Kyungsoo
- Kim Jongin
- Xi Luhan
- Oh Sehun
- Kim Hyesoo (OC)

Disclaimer: huufftt sebenernya chapter ini udah lama nangkring cuma masih ragu jadi belom di post tapi karena sekarang lagi gak ada kerjaan jadi gatel pengen nge-post.maaf kalo gak nyambung dan jelek.Enjoy^^

***

Jongin memang gila.

Mereka benar-benar memanjat pagar itu dan masuk ke rumah Kyungsoo dengan sebelumnya memecahkan gembok pintu dengan bata yang ada di sekitar pot bunga.

" apa mungkin dia pindah? " tanya Sehun.

Rumah itu tak berpenghuni.Hanya ada barang-barang yang tertinggal bersama debu di dalamnya.Jongin masih berkeliling tanpa menghiraukan pertanyaan Sehun.Ia hanya merasa rumah ini tampak familiar baginya.

" apa ini? " gumam Jongin sambil memungut sebuah buku hitam berdebu yang tak sengaja di injaknya.

" Do Kyungsoo " baca Sehun yang tau-tau ada di samping Jongin.

Jongin buru-buru memasukkan buku yang diyakininya sebagai buku harian Kyungsoo ke tas-nya.

" Kajja kita pulang.Mungkin dia memang benar-benar pindah " ajak Jongin.

Sehun mengangguk dan berjalan di belakang Jongin.

" Do Kyungsoo? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu " pikirnya.

***

Sehun merebahkan badannya yang ia rasa hampir remuk -setelah 2 kali memanjat pagar setinggi itu-.Otaknya masih terus memikirkan sosok teman baru Jongin yang aneh menurutnya.

Dia tidak mempunyai ponsel.

Dia hanya bertemu Jongin di 2 tempat,taman Sungai Han dan persimpangan jalan rumah Jongin.

Rumahnya kosong.

Namanya Do Kyungsoo.

4 fakta tentang teman baru Jongin yang baru di dapatnya dan itu membuat kepalanya terasa pusing.Pikiran tentang makhluk dunia lain tak bisa di hapus begitu saja,bahkan semakin besar kemungkinannya.

" bukankah begitu? " gumam Sehun mengakhiri kesimpulan yang di buatnya sendiri.

" aku mencarimu,dan ternyata kau disini "

Oke,suara Luhan menghentikan spekulasi yang baru saja akan Sehun keluarkan.

***

Luhan tersenyum dan duduk di samping Sehun.

" aku sedang berpikir,hyung "

Luhan tertawa mengejek,sejak kapan adiknya ini bisa berpikir? -oke,dia jahat-

" hyung " panggil Sehun sambil bangkit dari tidurnya dan menatap Luhan serius-walau di mata Luhan terlihat seperti anak kecil yang ingin memulai cerita serunya-

" apa? " tapi Luhan berusaha menyahut secara normal dan tidak tertawa.

" apa menurutmu,orang yang tidak mempunyai ponsel di zaman yang canggih ini itu normal? " tanya Sehun.

Luhan menatap Sehun heran.Tapi kemudian ia mengangguk.
" normal,karena dia bukan dirimu "

" hyung,aku seriuuusss! " seru Sehun kesal.

" hahahaha..maafkan aku.Memangnya kau sedang berpikir tentang apa? " tanya Luhan penasaran.Siapapun orang yang bisa membuat Sehun berpikir sekeras itu,berarti ia orang hebat.

" teman baru Jongin "

" apa dia perempuan? "

" tidak,laki-laki "

Luhan menatap Sehun.Laki-laki? Sehun memikirkan seorang laki-laki?

" aku normal,hyung " ujar Sehun malas.

" apa yang membuatmu memikirkan teman baru Jongin? "

" ku pikir dia sedikit aneh,maksudku dia tidak mempunyai ponsel,dia hanya bertemu Jongin di 2 tempat.Dan yang lebih membuatku heran,tadi kami ke rumahnya dan ternyata rumah itu kosong.Tidak kosong juga,maksudku semua barang-barangnya masih ada disana hanya tidak berpenghuni.Apa menurutmu itu tidak aneh? "

Luhan berusaha mencerna ucapan Sehun barusan.Ia memang mengakui kalau teman baru Jongin aneh,tapi tidak dapat di pungkiri Sehun bisa saja melebih-lebihkan ucapannya barusan.

" apa kau tau orang yang bernama Do Kyungsoo,hyung? " tanya Sehun lagi.

" siapa? "

" Do Kyungsoo..dia teman baru Jongin "

***

Jongin membuka tas-nya dan langsung mengambil buku harian Kyungsoo yang ia bawa tadi.Ia duduk di kursi dekat jendela kamarnya dan mulai membuka buku hitam itu.

12 Januari 2009

Hai,aku Do Kyungsoo.Oemma memberikanmu sebagai hadiah untuk ulang tahun ku yang ke-14.Senang memilikimu ^^

Jongin tersenyum geli,ia lalu membuka halaman berikutnya.

14 Januari 2009

Hei..selamat ulang tahun yang ke-13 Kkamjjong! Kau sudah semakin dewasa,hyung berjanji akan selalu menjagamu ^^

" Kkamjjong? Apa itu nama adiknya? "

17 Januari 2009

Sebentar lagi aku lulus sekolah dasar.Aahh itu artinya aku akan menjadi namja sungguhan kan?

" cih? Bahkan kau terlihat seperti anak kecil "

Jongin terus saja membaca lembar demi lembar coretan yang ada di buku itu.Sesekai ia tertawa,sesekai ia mencibir dan tak jarang ia mengerutkan dahi-nya karena penasaran.

20 November 2009

Ada sesuatu di kepalaku.Paman berjas putih itu bahkan mengatakan sesuatu -aku tidak mau menyebutnya- dan itu membuat orang tuaku menangis.Apa kkamjjong perlu tau?

27 November 2009

Aku sudah berusaha untuk melakukan segala cara agar sesuatu di kepalaku ini hilang.Tapi kenapa susah sekali?

29 November 2009

Hari ini,aku bermain seharian dengan kkamjjong di taman Sungai Han.Dia bilang padaku,dia ingin ikut aku kemanapun aku pergi.Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman.Bisakah aku meninggalkannya nanti?

31 November 2009

Aku punya dua pilihan.Pergi ke Jepang atau pergi ke surga.Hei,apa tidak ada pilihan pergi ke taman Sungai Han? Aku bosan di sini-bau obat membuat ku mual-.Aku ingin bermain bersama Kkamjjong!

01 Desember 2009

Bisa tolong carikanku alat untuk mengangkat sesuatu dari kepalaku ini? Tidak,karena kau benda mati.

07 Desember 2009

Aku tidak akan kemanapun.Aku tidak mau kemanapun.Aku tidak akan meninggalkan kkamjjong.Aku tidak mau meninggalkan kkamjjong!!

10 Desember 2009

Aku ingin pindah rumah.Oemma memberikanku waktu untuk memberikan ucapan perpisahan pada kkamjjong.Apa aku bisa?

17 Desember 2009

Kkamjjong bilang dia membenciku.Aku minta maaf..aku tidak bisa terus disampingmu.Tapi aku janji,saat aku kembali nanti aku akan terus disampingku.Sukses untuk drama musikalmu ^^

20 Desember 2009

Hyesoo bilang padaku,kkamjjong tidak baik.Dia tidak baik saat aku pergi meninggalkannya.Apa aku sejahat itu?

" mungkin Hyesoo yang dimaksud bukan Hyesoo ini.Hyesoo kan banyak "

25 Desember 2009

Saat natal seperti ini.Aku merindukan kkamjjong..hfftt

30 Desember 2009

Aku ingin menyerah.Ku rasa obat-ku hanya kkamjjong.

31 Desember 2009

Kkamjjong,hyung merindukanmu.

01 Januari 2010

Tahun baru,aku tidak merasakan ada yang spesial.Hyesoo bilang kkamjjong tidak masuk sekolah selama satu minggu.Dia sakit.

07 Januari 2010

Aku benar-benar lelah.Sesuatu di kepalaku benar-benar membuat tenagaku habis.Bahkan berat badanku turun.

08 Januari 2010

Aku menyerah saja.

11 Januari 2010

Selamat tinggal..Kkamjjong..selamat tinggal Kim Jongin.

Kim Jongin.

Kyungsoo menulis Kim Jongin di buku hariannya.

Itu bukan Kim Jongin orang lain.Ia yakin itu Kim Jongin dirinya.Kkamjjong adalah Kim Jongin dan Kim Jongin adalah Kkamjjong.

Ia memang tidak ingat kejadian sebelum kecelakaan itu.Tapi ia ingat kalender besar di rumah sakit saat pertama kali ia membuka matanya menunjukkan tanggal 11 bulan Januari tahun 2010.11 Januari 2010 itu hari dimana ia kehilangan ingatannya.

" Akh! "

***

" Do Kyungsoo koma! Bagaimana mungkin teman baru Jongin orang yang sudah koma! " seru Luhan.Berkali-kali ia menyerukan itu.

" aku tidak tau hyung,Jongin yang mengatakan kalau temannya itu Do Kyungsoo. " sahut Sehun.Pikirannya tidak salah kali ini.Otak fantasy-nya tidak salah.

Do Kyungsoo koma selama 4 tahun dan arwah-nya berteman dengan Kim Jongin.Ck,bukankah itu aneh?

" hyung! " seru Sehun.

" apa?! " bentak Luhan kesal.

" Kita harus ke rumah Jongin saat ini juga! "

Luhan menatap Sehun bingung." Untuk apa? Untuk mengatakan kalau teman baru-nya itu arwah? Itu sama saja bunuh diri! " serunya.

" Jongin menemukan buku harian Kyungsoo dirumahnya.Dia mungkin membacanya sekarang "

" m..mwo?! "

***

Sepasang suami istri itu sedang duduk di ruang tunggu.Sang istri tidak henti-hentinya mengeluarkan air mata memikirkan nasib anak semata wayang-nya yang kini sedang berada di ruang ICU.

Rasa takut akan kehilangan terasa semakin besar di hatinya.Bertahun-tahun ia berusaha menutup mulut agar kejadian buruk itu tidak terulang lagi.Agar tidak ada lagi patung berjalan dirumahnya.Tapi,ternyata ia kecolongan.Sebuah buku hitam yang tergeletak di kamar anaknya sudah cukup untuk menjelaskan apa yang terjadi sebelum anak semata wayangnya itu pingsan.

" jangan tinggalkan Oemma..jangan tinggalkan Oemma.. "

Berulang kali Nyonya Kim bergumam seperti itu.Berharap kali ini Tuhan benar-benar mengabulkan do'a-nya untuk tidak mengambil anaknya.

Pintu ruang ICU terbuka memunculkan seorang pria paruh baya yang memakai jas berwarna putih.

" bagaimana dokter? Jongin baik-baik saja kan? " cerca Nyonya Kim sambil bangkit dari duduknya.

Dokter tersenyum menanggapi.

" Nyonya tidak usah khawatir,Jongin baik-baik saja.Kami akan memindahkannya ke ruang rawat inap biasa "

Nyonya Kim tersenyum lebar begitupun Tuan Kim.Mereka tak henti-hentinya berucap syukur sekaligus terimakasih pada Dokter yang sudah menangani Jongin sejak dulu.

" terimakasih kau mau bertahan untuk Oemma.. "

***

Luhan dan Sehun langsung berlari ke rumah sakit setelah mendengar kabar dari Bibi Lee kalau Jongin di larikan ke rumah sakit.Raut wajah panik terlihat jelas di wajah kakak beradik itu.

" suster,pasien atas nama Kim Jongin di rawat di ruang berapa? " tanya Luhan pada Suster penjaga resepsionis.

Suster itu berkata untuk menunggu sebentar lalu mencari data pasien lewat komputer.Tidak sampai satu menit ia menatap Luhan.

" Melati nomor 88 tuan "

Luhan langsung menarik tangan Sehun dan membawanya ke ruang rawat Jongin.Tanpa mengetuk pintu Luhan langsung membukanya.

" mau apa kalian kesini? " desis Jongin tajam saat melihat Luhan dan Sehun masuk ke ruang rawatnya.

Nyonya Kim memegang tangan Jongin,menenangkan anak-nya.

" Kalian pembohong! " seru Jongin.

Luhan dan Sehun tersentak lalu saling padang.Luhan langsung mendekat ke arah ranjang Jongin.

" pergi dari ku! " teriak Jongin.

" Jongin aku bisa menjelaskan ini semua— "

" ku bilang pergi! aku tidak mau mempunyai saudara pembohong seperti kalian! kalian menjauhkanku dengan hyungku! " teriaknya lagi.

Sehun menggigit bibir bawahnya menahan tangis.Hal yang selama ini ia takutkan terjadi tanpa permisi.Hal yang sama sekali tidak di harapkan terjadi tanpa permohonan.

" kalian semua pergi! Aku ingin sendiri! Pergi! "

" Jongin— "

Jongin menutup mata dan juga telinganya dengan kedua tangannya.

" Kumohon… "

TBC