Imajination blog of me I'm part of K-POPERS and EXOFans Family. Gomawo
Minggu, 23 November 2014
EXO Fanfiction: Forgotten
Sabtu, 11 Oktober 2014
About Him.
" semua yang ku tau tentangnya "
***
Aku menyeret kakiku malas menggeret koper peach-ku memasuki tempat tinggal baruku.Sebuah kompleks di pinggir kota yang jauh dari kata ramai.Ayah di pindah tugaskan,jadilah aku dan Ibu-ku pun ikut terkena imbasnya.
Aku harus ikut pindah.
Padahal,berulang kali aku bilang tidak dan mengatakan aku akan baik-baik saja tinggal di Seoul bersama Paman dan Bibi.Tapi,Ibu dan Ayah tidak mengizinkanku,mereka melarangku dan mengatakan akan jauh lebih baik jika aku ikut pindah.
" sayang,bereskan kamarmu sendiri ya? Ibu harus membereskan ruang tamu " seru Ibu di ambang pintu kamar baruku.
Aku hanya dapat mengangguk singkat lalu mulai membereskan kamarku,dari mulai membereskan baju hingga menyapu.Setelah selesai membereskan kamar,kakiku melangkah menuju balkon,sekedar mencari angin karena di dalam terlalu sumpek.
Aku menyunggingkan senyum,tidak terlalu buruk.Mataku menjelajahi seluruh sudut kompleks yang dapat di jangkau oleh mataku.Sejak melewati kompleks ini menggunakan mobil sampai detik ini pun aku belum melihat tanda-tanda ada anak seumuran denganku.
Aku suka suasana tenang,tapi terlalu tenang itu bukanlah hal yang baik.Aku menghela nafas berat,seketika ingat teman-teman sekolahku yang berada satu kompleks denganku.
Aku rindu mereka.
" sayang? "
Aku menoleh saat mendengar suara lembut Ibu.Ibu tersenyum menatapku, " kau sudah selesai? "
Aku mengangguk.
" turunlah,dan kita makan siang " ujarnya.
Lagi-lagi aku mengangguk dan Ibu pun turun terlebih dahulu.
Aku kembali berbalik,kali ini kepalaku menengadah menatap awan siang ini yang begitu cerah.Otakku sibuk berpikir cara yang tepat agar Ibu dan Ayah mengizinkanku kembali.Saat aku menurunkan pandanganku,aku menangkap siluet anak laki-laki di rumah seberang.Anak bermata bulat itu duduk di balkon kamarnya.Ia tersenyum manis padaku sambil melambaikan tangannya.
Aku pun membalas senyumannya dan lambaian tangannya.
Yang aku tau saat itu,aku baru saja mempunyai seorang teman baru.
***
" hari ini adalah hari pertama kau bersekolah,tersenyumlah dan sapa temanmu,kau mengerti? "
Aku memutar bola mata malas.Ucapan Ibu barusan membuatku terlihat seperti anak sekolah dasar daripada anak sekolah menengah pertama.
" Bu,aku tau apa yang harus ku lakukan " sahutku malas.
Ibu dan Ayah sama-sama terkekeh.
" Ibu dan Ayah tidak usah khawatir,aku sudah memiliki teman " ucapku lalu meneguk habis susu coklatku dan mengelap 'kumis susu' dengan punggung tangan.
Ayah mengernyit heran mendengarnya.
" oya? Siapa? "
Aku tersenyum jahil membalas kernyitan di dahi Ibu dan Ayah lalu berdiri dari kursi.
" nanti juga Ayah dan Ibu tau,yasudah aku berangkat yaaaa " pamitku lalu berjalan keluar rumah.
Suasana pagi di kompleks ini tidak terlalu buruk.Karena masing-masing rumah pasti memiliki taman dan satu pohon,udara di pagi hari pun sangat terasa sejuk.
" pagi "
Aku berhenti melangkah dan mendongak.Anak laki-laki yang ku lihat kemarin menyapaku dengan suara lembutnya.Ia tersenyum menunjukkan heart shaped lips-nya yang manis.
" Hai,pagi " sahutku.
" kau ingin pergi sekolah? " tanyanya.
" eum " Aku mengangguk.
" baiklah,hati-hati di jalan " ujarnya ramah.
" terimakasih " sahutku.Aku melambaikan tangan lalu kembali berjalan.
Rasanya energiku langsung bertambah setelah melihat senyumnya.
***
Aku menghempaskan tubuhku ke kasur setelah seharian menghabiskan waktuku di sekolah.Aku ini murid baru tapi mereka dengan seenaknya langsung mencekoki-ku materi tanpa memberiku kompensasi sedikitpun.
Hanya karena aku murid pindahan dari Seoul,ugh menyebalkan.
Aku membuka mataku yang terpejam saat mengingat anak laki-laki manis yang menyapaku tadi pagi.Aku bangkit dari kasur lalu berjalan menuju balkon.
Benar saja.
Anak laki-laki itu sedang duduk di balkon dengan buku yang ada di tangannya.
Aku melambai-lambaikan tanganku berusaha menarik perhatiannya.Aku tertawa kecil saat menyadari betapa seriusnya dia sampai-sampai tidak menyadari keberadaanku.
" hei kauuuuuu!!!!~~~ " teriakku.
Kepala anak laki-laki itu mendongak lalu tersenyum seperti biasa-manis-saat melihatku.Ia melambaikan satu tangannya.
" sedang membaca buku apa? " tanyaku.
Ia mengangkat bukunya dan menunjukkan sampulnya padaku.
" hanya sebuah buku matematika " jawabnya.
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.Satu kesimpulan baru yang dapat ku lihat darinya.
Anak laki-laki ini ternyata pintar.
" tadi pagi aku tidak melihatmu ke sekolah,kenapa? " tanyaku penasaran.
Ia hanya menggeleng.
" kau sakit? "
Ia mengangguk.
Aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku lagi.Menggaruk belakang kepalaku berusaha mencari topik pembicaraan yang menarik.
" sayaanngggggg " suara Ibu terdengar di telingaku.
" hei,ku rasa aku harus pergi,nanti kita sambung lagi ya! " ucapku.
" baiklah,aku akan menunggumu disini " balasnya sambil tersenyum.
Mendengar kata 'menunggumu' pipiku rasanya memanas.Aku merasa spesial saat ia berkata seperti itu.Aku kemudian mengangguk sebagai balasan lalu kembali memasuki kamar.
" kau sedang apa? Ibu memanggilmu sejak tadi tapi kau tidak menjawabnya " tanya Ibuku.
Aku hanya meringis.
" tidak,bukan apa-apa.Ayo kita makan siang bu "
***
Anak laki-laki itu benar-benar menungguku.
Setelah mempercepat kegiatan makan siangku,aku langsung naik ke atas kamar dengan alasan aku harus menyelesaikan tugas sekolah.Sesampainya di kamar,aku langsung berlari lari-lari kecil ke arah balkon.Tanganku kembali melambai padanya.
" aku kembali! " seruku.
Ia mengangguk.
" aku tau "
Kami saling melempar senyum lalu berlanjut dengan acara mengobrol.Aku dan anak laki-laki itu mengobrol apa saja,aku terlihat seperti wartawan yang mewawancarai artisnya.Aku yang selalu bertanya dan dia yang selalu menjawab.
Dia yang sangat suka memasak.
Dia yang tidak suka makanan cepat saji.
Dia yang sangat suka bernyanyi.
Dia yang sangat suka Matematika dan Fisika.
Dan…dia yang tidak bisa berjalan lagi untuk selama-lamanya.
***
" Menurutmu apa yang ku kerjakan ini benar?! " seruku sambil menunjukkan tugas matematika yang sudah ku kerjakan.
Dia menggunakan teropongnya untuk melihat pekerjaanku,selanjutnya dia mengangguk dan mengacungkan kedua ibu jarinya.
" benar,kau hebat! " pujinya.
Aku tersenyum malu sambil menyelipkan rambutku ke belakang telinga.
" apa kau betah tinggal disini? " tanya anak laki-laki itu.
Aku mengangguk mantap.
" tentu saja,aku mempunyai teman sepertimu disini,tentu aku betah " jawabku lantang.
" aku senang mendengarnya " sahutnya.
***
Aku mengelap mulutku dengan tisu makan,lalu menatap Ibu dan Ayah.
" Bu,Yah aku ke kamar ya,aku harus menghapal dialog untuk pentas dramaku minggu depan " ucapku.
" anak Ibu akan tampil dalam pentas drama? apa peranmu,sayang? " tanya Ibu.
" eum,hanya peran kecil,sih.Tapi,setidaknya peranku cukup membantu " jawabku.
Ayah dan Ibu terkekeh mendengar jawaban jujurku.Yaa—mungkin seharusnya aku mengatakan kalau aku jadi pemeran utama.
" yasudah sana,anak Ayah harus berlatih dialognya agar terlihat lebih bagus dari si pemeran utama " ujar Ayah.
Aku hanya meringis lalu beranjak dari kursi dan berjalan menuju kamar.Sesampainya di kamar aku langsung menyambar teks skenario yang sudah ku letakkan di atas meja belajar.
TUK!
Aku menoleh ke arah pintu kaca balkon yang seperti di lempar kerikil.Kakiku melangkah was-was bayangan sesuatu yang mengerikan mulai meracuni pikiranku.Tanganku terulur membuka knop pintu.
" astaga…kau mengagetkanku " ucapku saat melihat anak laki-laki itu tersenyum lebar di seberang sana.
" kau terlihat ketakutan,Nona " ejeknya.
" ya,aku memang ketakutan.Ku kira kau hantu! Astaga! Aku hampir mengompol tadi! " seruku geram.
Anak laki-laki itu hanya tertawa kecil menanggapi ucapanku.
" apa yang kau bawa? " Ia bertanya sambil mengarahkan dagunya ke kertas yang ku pegang.
" Oh ini " aku mengangkat kertas itu, " skenario yang harus ku hapalkan,minggu depan aku tampil di pentas drama "
" oya? kau mendapat peran apa? " tanyanya.Walaupun ia bertanya tapi wajahnya benar-benar datar tanpa ekspresi penasaran sedikitpun.
" peran utama " jawabku singkat.Mengambil pengalaman saat di meja makan tadi,aku tidak ingin anak laki-laki ini tertawa mengejekku kalau aku menjawab bahwa aku hanya berperan sebagai anak perempuan miskin pedagang sayuran di pasar.
" sungguh? tapi skenario-mu tipis sekali,sama sekali tidak mencerminkan kalau kau mendapat peran utama " Anak laki-laki itu menunjukkan ekspresi tidak percaya.
Aku hanya mengendikkan bahu tidak ambil pusing.Lalu mulai membaca skenario-ku.
" hei,daripada aku di anggurkan bukankah lebih baik jika aku membantumu? " tanya anak laki-laki itu.
Aku mendongak dan melihat tampang bosannya.Aku tertawa kecil,ternyata dia merasa di acuhkan.
" baiklah,aku akan melemparkan skenario-ku ini,sebentar "
Aku bergegas masuk ke dalam kamar dan meraih kaleng plastik tempat potato chips-ku.Aku menggulung kertas itu dan memasukkannya ke dalam kaleng,lalu kembali berlari ke luar.
" hei,tangkap! " seruku sambil melempar kaleng itu ke arahnya.
BUK!
Kaleng itu mendarat mulus di pangkuannya.Ia mengambil kaleng itu lalu membukanya.
" ternyata hanya anak perempuan miskin penjual sayur " aku mendengarnya bergumam setelah membaca isi skenario itu.
" kau mau membantu tidak? " sahutku sinis.
Anak itu tertawa kecil, " aku bercanda,kenapa kau serius sekali,sih? "
" jadi,aku disini berperan sebagai pangeran kerajaan yang membeli sayuran? "
Aku mengangguk.
" dan kau anak perempuan yang mengidolakan ku? "
Aku menggeleng, " bukan kau,tapi pangeran "
" aku tau " sahutnya malas.
Anak bermata bulat itu berdehem, " hei,kau yakin aku harus menyebutmu ini? Apa skenario ini benar-benar gurumu yang buat? " Ia menatapku dengan pandangan tidak percaya.
Aku memutar bola mata malas, " oh ayolah,kau hanya tinggal membacaaa!!! " seruku geram.
Ia mengendikkan bahu tidak peduli,lalu kembali menatap skenario itu.Ia menatapku sambil tersenyum.
" hei anak manis,aku ingin membeli selada,bayam,kangkung,wortel,tomat dan bumbu dapur lainnya " ujarnya berlagak seperti pangeran.
Ralat.
Dia seperti pangeran sungguhan.
Tanpa sadar aku mengerjap-ngerjapkan mataku,ini bukan akting,tapi aku sungguh tidak bisa berkata.
" huh? ba—baiklah " tanpa sadar ucapanku terbata.Aku berlagak seperti mengambil sayuran lalu mengulurkan tanganku,seperti memberi sayuran itu padanya.
Ia tersenyum,lalu mengulurkan tangannya berlagak mengambil sayuran itu dariku.
" jangan pernah menyerah pada hidupmu,dengan begitu hidup juga tidak akan menyerah padamu "
Aku refleks mengangguk,walaupun aku sadar,ucapannya itu tidak ada dalam skenario.
***
" Ibu melihat aktingmu semalam,kau pintar "
Aku mendongak dan tersenyum lebar pada Ibu yang sedang meletakkan telur mata sapi di atas roti panggangku.
" ahh tidak juga bu,itu semua berkat temanku " jawabku sambil menggigit sarapan lezatku pagi ini.
Ibu mengernyitkan dahinya menatapku.
" teman? "
Aku mengangguk lalu menelan roti panggangku.
" dia semalam yang membantuku "
Ibuku tersenyum aneh,seperti orang yang sedang menahan 'panggilan alam'.
" kalau boleh tau siapa namanya? "
Aku menepuk jidat,baru ingat kalau selama satu minggu ini aku beteman dengan anak laki-laki itu aku belum pernah menanyakan siapa namanya.
***
Aku melambaikan tanganku padanya,ia balas melambai sambil tersenyum lebar.
" ada yang ingin ku tanyakan " ucapku.
Ia menaikkan satu alisnya.
" apa? "
Aku menarik nafas dalam, " kita sudah berteman sejak tujuh hari yang lalu,banyak hal yang sudah ku ketahui tentangmu,dan kau juga sudah tau aku,tapi…ada satu yang terlewatkan "
" oya? apa itu? "
" nama…aku belum tau siapa namamu? "
Anak laki-laki itu mengangguk paham sambil tersenyum,ia mengulurkan tangannya.
" baiklah,perkenalkan namaku Do Kyungsoo,senang berteman denganmu "
***
Setelah selesai belajar aku langsung turun ke lantai satu dan menghampiri Ibu yang sedang duduk menonton tv.Aku menghempaskan tubuhku di sampingnya.
" Bu " panggilku.
Ibu menoleh menatapku sambil tersenyum lembut.
" ada apa,sayang? "
" aku sudah tau siapa nama temanku " ucapku antusias.
" oya,siapa? " Ibu menatapku penasaran.
" Ibu tau anak laki-laki tampan yang ada di depan rumah kita? " tanyaku.
" anak laki-laki tampan yang ada di depan rumah kita? " Ibu mengulang pertanyaanku.
Aku mengangguk, " iya,dia temanku,dia teman yang membuatku betah tinggal disini,dia yang membantuku mengerjakan pr,mendengarkan keluhanku,menemaniku mengobrol dan membantuku menghapalkan dialog.Dia orangnya,bu "
Aku menarik nafas,aku sadar senyumanku sangat amat lebar sekarang.
" namanya Do Kyungsoo,bu.Do—Kyungsoo. "
Aku tersenyum lebar menatap Ibu yang hanya diam menatapku,mungkin Ibu shock karena ceritaku yang terlalu cepat.
" sayang " panggilnya.
" yes,i am! " sahutku lugas.
Ibu menatapku dengan pandangan yang sulit ku artikan.
***
Aku masih ingat.
Aku masih ingat saat pertama kali anak laki-laki yang ku ketahui namanya Do Kyungsoo itu melambaikan tangannya padaku.
Dia yang ku ketahui mempunyai hobi memasak.
Dia yang ku ketahui mempunyai hobi membaca.
Dia yang ku ketahui tidak suka makanan cepat saji.
Dia yang ku ketahui tidak suka basa-basi dan tidak mudah bergaul.
tes.
tes.
tes.
Tanganku bergerak untuk menghapus air yang keluar dari kedua bola mataku.Lagi.
Aku tidak bisa mengeluarkan suara,karena suaraku habis akibat menangis terlalu lama.
Tanganku bergetar memegang kertas putih yang ku temukan ada di depan pintu balkon empat jam yang lalu.
Untuk anak perempuan manis penjual sayur :)
Aku berharap saat kau baca tulisanku yang ku akui bagus ini kau sedang dalam keadaan bahagia.Eum...aku bingung bagaimana memulainya o_O
Kau sedang apa sekarang? Menghapal dialog? Atau memakan potato chips? Ku harap kau sedang tidak menghapal dialog sambil memakan potato chips,karena itu akan membuatmu tersedak,hehehehe ^^
Kau ingat bagaimana saat pertama kali kita bertemu? Ku rasa harusnya kau ingat.Kau bertanya apa aku mengingatnya? Eum...bagaimana ya? Bukannya sombong,tapi kau harus tau kalau aku pengingat yang paling bagus di kelasku.
Baiklah,tidak usah bertele-tele,pertama kali aku melihatmu di balkon aku rasa aku sudah menemukan teman terbaikku.Caramu tersenyum dan melambaikan tanganmu waktu itu membuatku sadar,kalau kau tulus padaku.
Aku tidak pernah memiliki teman lagi sejak kakiku tidak bisa menjalankan fungsinya lagi.Mereka tidak meningalkanku,tidak mereka tidak begitu.Kau harus tau kalau teman-temanku itu setia.
Tapi aku yang lebih memilih meninggalkan mereka,aku lebih memilih tidak bersama mereka lagi.
Aku merasa lega kalau kau itu mudah bergaul dan menerimaku apadanya,walaupun terkadang kau terlalu cerewet,apalagi nyanyian sebelum tidurmu itu.
Ya,benar.Aku mendengarnya karena aku akan selalu terjaga setiap malam.
Aku selalu memperhatikan semua orang,termasuk kau dan orang tuaku.Melihat orang di sekelilingku tersenyum itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku merasa tenang.
Hei,kau tidak tertidur 'kan? Ku harap kau tidak menganggap kisahku seperti dongeng putri salju.
Aku ingin mengatakan padamu,kalau tidak semua yang terlihat nyata itu adalah nyata,terkadang apa yang kau anggap nyata itu hanyalah sebuah ilusi belaka.
Jangan lupa semua rumus yang telah ku ajarkan,jangan lupa semua dialog drama,dan tampilkan yang terbaik.Jangan lupa menutup pintu sebelum tidur,karena diluar dingin.Jangan lupa mencuci kaki dan menggosok gigi sebelum tidur,aku sering melihatmu langsung menaiki kasur dan tidur tanpa melakukan itu.Jangan lupa makan karena aku tau kau sering melupakannya dan memilih memakan potato chipsmu dan permen karet,itu kurang sehat,Nona --".
Dan......
Terakhir,aku sangat memohon ini padamu.
Jangan pernah lupakan aku,jangan.Aku ingin kau selalu mengingatku.Mengingat semua tentangku dan tentang pertemanan singkat kita-yang ku harap bisa jadi teman abadi.
Senang berkenalan denganmu,senang bisa menjadi temanmu,senang bertemu denganmu,manis.
- Do Kyungsoo-
Aku menatap balkon seberang kamarku yang kini kosong.Tidak ada anak laki-laki bermata bulat yang tersenyum sambil melambaikan tangannya padaku.Tidak ada anak lelaki bermata bulat yang membantuku mengerjakan tugas.Tidak ada anak lelaki yang bermata bulat yang selalu menasihatiku ini dan itu.
Yang ada hanya kaleng potato chips ku yang masih tertutup rapat dengan kertas skenarioku yang ada di dalamnya.
Dan terakhir yang ku tau tentangnya,anak laki-laki bermata bulat bernama Do Kyungsoo itu sudah meninggal dua tahun lalu karena penyakit mematikannya.
END
Senin, 22 September 2014
EXO Fanfiction: Si meragukan,Sehun.
(A/N : yang jelas ini kelanjutan dari pasangan Sehun-Eun Hyun.Happy reading,enjoy^^)
***
" aku tidak yakin denganmu,dengan kita "
***
Terdengar suara langkah kaki cepat yang memecah kesunyian jalanan kompleks malam itu.Kaki jenjang yang di bungkus flat shoes berwarna biru langit yang menjadi alasannya.Perempuan itu memakai almamater kedokterannya lengkap dengan tas yang berisi perlatan medisnya.
Dengan ekspresi wajah yang benar-benar menyeramkan ia terus berjalan cepat menghindari laki-laki jangkung yang terus berusaha menjangkaunya.
" Eun hyun-ah,tunggu! "
Dokter muda itu menggembungkan pipinya kesal saat laki-laki jangkung bernama Oh Sehun itu berhasil meraih lengannya.
" dengar,aku minta maaf soal ini,aku benar-benar tidak bermaksud seperti apa yang kau pikirkan,sungguh! " ujarnya dengan nada penekanan yang kentara.
" tidak bermaksud seperti apa yang aku pikirkan? Memangnya kau tau aku berpikir apa? " tanya Eun Hyun sarkatis.
Sehun menelan ludahnya,tatapan tajam yang ditujukan Eun Hyun padanya benar-benar membuatnya seperti kutu yang terpitas.
" aku memang tidak pandai,tapi aku tau kalau kau sedang marah padaku,terutama soal itu " ucap Sehun pelan.
" soal itu? kau bahkan tidak berani menyebutnya,Tuan Penari "
Sehun mengetuk-ngetukkan sepatu sneakers abu-abu-nya ke aspal jalan,matanya bergerak menunjukkan bahwa sekarang ini laki-laki yang baru berumur 21 tahun itu sedang memutar otaknya.
" aku tidak tau kenapa,tapi sikapmu membuatku malas denganmu untuk saat ini dan mungkin untuk beberapa minggu ke depan " ucap Eun Hyun santai.
" ap—apa? beberapa minggu ke depan?! " Sehun berjengit kaget.Mungkin ia akan bernapas lega jika Eun Hyun mengatakan beberapa detik atau beberapa menit ke depan.
Tapi ini?! Beberapa minggu?!
Sehun menggelengkan kepalanya kuat-kuat,pertanda bahwa ia menolak kata-kata Eun Hyun barusan.
" Eun Hyun manis,dengar aku,aku tau aku salah dalam masalah ini,aku tau itu.Aku benar-benar minta maaf dan aku berjanji akan menyelesaikan masalah ini,malam ini juga " ucap Sehun bersikeras.
Eun Hyun tertawa sinis.
" sudah ku bilang,bahkan kau tidak berani menyebut kesalahan mu sendiri,kenapa? apa kau membenarkan ucapan Ibu-mu? "
" tidak semua yang Ibu ku katakan itu benar,jadi— "
" tidak semua? Berarti sebagian besar ucapan Ibu-mu itu benar? " Lagi-lagi Eun Hyun bertanya dengan nada sinis yang membuat Sehun makin menciut.
Ia merasa seperti kain pel bekas yang berada di sudut ruang janitor sekolahnya.
Mereka berdua sama-sama diam dengan Eun Hyun yang masih menatap Sehun menunggu jawaban yang akan di keluarkannya dan Sehun yang menunduk—masih dengan sepatu yang ia ketuk-ketukan ke aspal—
" yasudahlah,lupakan masalah kau yang tidak pernah memberitahu Ibu-mu tentang hubungan kita,lupakan perkataan Ibu-mu yang mengatakan kalau sikap luar biasa senangmu tigabulan terakhir ini karena mantanmu yang bernama Ah Ra itu.Aku harus ke rumah sakit,sampai jumpa beberapa minggu ke depan,Sehun "
Eun Hyun berbalik badan lalu melangkahkan kakinya menjauh dari Sehun,sementara itu,dari jarak beberapa meter di belakangnya Sehun hanya dapat memandang punggung perempuan yang resmi menjadi kekasihnya selama tigabulan ini dalam diam.
***
" hari ini aku ingin izin bekerja setengah hari "
Yixing mengernyit heran mendengar ucapan anak buah kesayangannya itu.
" ada masalah apa? " tanyanya.
" aku ada masalah dengan Eun Hyun.Ini masalah hidup dan mati,hyung " jawab Sehun lesu.
Yixing tertawa kecil.Laki-laki di hadapannya ini benar-benar payah soal perempuan,batinnya.
" kau mau aku potong gajimu? "
Sehun membulatkan matanya,kemudian menggeleng.
" jangan,hyung! Ku mohon,kau juga tau 'kan arti penting gaji itu bagiku? Yaaa—ku mohon,izinkan aku keluar dari sini saat makan siang dan jangan potong gajiku " Sehun memelas seperti anak kucing yang minta dikasihani.
" dasar anak kecil,aku hanya bercanda.Baiklah,kau boleh keluar saat makan siang " ujar Yixing lalu tergelak.
" sungguh?! kau tidak akan memotong gajiku 'kan hyung?! " serunya dengan mata berbinar,Sehun meraih tangan Yixing dan menggenggamnya erat.
" aku janji akan mengajakmu ke Yanggu dan melihat pemandangan indah disana " ujarnya dengan nada penuh haru.
Yixing melepas tangan Sehun dengan risih lalu mengayunkan tangannya ke depan.
" aku tunggu janjimu itu,cepat sana pergi dan jangan pasang wajah sok imut mu itu,Sehun "
Sehun hanya meringis lalu bangkit dari kursi,membungkuk sebentar dan keluar dari kantor Yixing.
" mengajakku ke Yanggu? Memang dia punya uang banyak? Ckckck dasar an—ASTAGA SEHUN KAU MENGAGETKANKU!! "
Yixing hampir terjungkal dari kursinya saat melihat kepala Sehun yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.Sehun melebarkan senyumannya.
" hyung,boleh aku pergi sekarang? ada yang harus ku lakukan "
Yixing mendengus lalu mengangguk.
" sekali lagi kau melakukan hal seperti tadi aku akan memotong gajimu,sungguh " kesalnya.
" hehehe,maaf hyung,kalau begitu sampai jumpaa " pamitnya lalu menutup pintu.
Yixing menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Sehun,ia meraih ponselnya dan berniat menelepon Ibu-nya.Mata Yixing membulat melihat jam yang tertera di layar ponselnya.Ia menghela nafas pasrah lalu menelungkupkan kepalanya di atas meja.
" astaga…kenapa aku mengizinkan anak buahku pergi padahal dia baru saja datang,Oh Sehun anak itu benar-benar… "
***
Sehun tersenyum membayangkan rencananya kali ini akan berhasil.Saat ini ia sedang duduk menunggu pesanan sup rumput laut kesukaan Eun Hyun.Membayangkan Eun Hyun yang akan melahap sarapan sup rumput laut darinya.
Pasti dia sangat lelah,batinnya.
" Tuan,ini pesanan anda " ucap Bibi Pelayan yang datang menghampiri Sehun dengan kantung plastik berisi sup rumput laut.
Sehun mengambil kantung plastik itu dan menyerahkan beberapa lembar won pada Bibi Pelayan.
" terimakasih " ucapnya lalu berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.
" Tuan! "
Sehun menoleh saat mendengar Bibi Pelayang memanggilnya.
" ya? " sahutnya masih dengan senyuman lebar.
" uangnya kelebihan! "
" ambil saja kembaliannya "
Sehun kembali melanjutkan jalannya,ia tidak peduli lagipula dua hari lagi ia akan menerima gaji danYixing tidak akan memotong gajinya.
Yaa—setidaknya harus ada yang mengingatkan Sehun kalau hari ini ia sama sekali tidak bekerja,jadi laki-laki itu tidak perlu se-yakin itu dan melebihkan uangnya.
***
" permisi,apa Dokter Cho ada di ruangannya? " tanya Sehun ramah kepada penjaga resepsionis.
" Dokter Cho? Yang perempuan atau yang laki-laki? " tanya penjaga resepsionis itu.
Sehun menepuk jidatnya pelan,lupa kalau dokter yang bermarga Cho tidak hanya satu di rumah sakit sebesar ini.
" Perempuan,Dokter Cho Eun Hyun,dia pacarku "
Penjaga resepsionis itu merubah raut wajahnya mungkin sedikit kecewa mengetahui laki-laki tampan di depannya ini adalah pacar dokter muda yang tadi pagi juga di cari oleh seorang laki-laki yang tidak kalah tampan dengan Sehun.
" tidak tau,cari saja sendiri " ucapnya cuek lalu kembali duduk dan berkutat dengan data-data yang ada di hadapannya.
Sehun mengernyit heran,biasanya ia akan langsung marah-marah tapi berhubung mood-nya sedang baik ia tidak peduli dan kembali melanjutkan perjalannya.
Tujuan pertamanya adalah; ruang kerja Eun Hyun.
" eoh? anda bukannya pacar Dokter Cho? " seorang suster betubuh gempal menginterupsi langkah Sehun.
Sehun mengangguk.
" kau lihat dimana dia? "
" oh iya,tadi Dokter Cho pergi keluar bersama pasien pertamanya,sepertinya mereka sarapan di restoran seberang "
" pasien per—apa? " tanya Sehun tergagap.
" pasien pertama,laki-laki yang tampan itu.Kim Jongin. "
Rahang Sehun mengatup keras,seketika mood-nya langsung berubah drastis.
Si Jongin itu,benar-benar mood breaker untuk Sehun setelah kata potong gaji.
***
Jongin tersenyum manis setelah mendengar keluh kesah yang di keluarkan sahabat perempuan di hadapannya ini.Entah,sebagian dari hatinya merasa senang melihat kekesalan Eun Hyun pada Sehun yang sepertinya kali ini dapat membuat hubungan mereka terancam berakhir dan itu berarti ia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan Eun Hyun.Sedangkan,disisi lain ia juga tidak tega melihat Eun Hyun sedih dan merasa kesal dengan sikap Sehun.
Tapi,apapun perasaan yang di rasakannya,Kim Jongin harus terlihat berkarisma di depan Eun Hyun.Dan tentu saja harus terlihat lebih dewasa dari si Sehun yang menyebalkan itu.
" tenangkan pikiranmu,pikirkan baik-baik dan jangan betindak gegabah atau kau akan menyesal " ujarnya lembut.
Eun Hyun menghela nafas,bebannya terasa lebih ringan setelah meluapkan semua keluh kesahnya pada Jongin.
" maka dari itu aku meminta Sehun untuk tidak menemuiku beberapa minggu ini,kau tau? melihat Sehun aku merasa seperti pasien penderita darah tinggi yang melihat daging kambing "
Jongin tergelak,lebih tepatnya ia menertawakan dirinya sendiri.
Pasien darah tinggi yang melihat daging kambing? Itu berarti Eun Hyun menginginkan Sehun tapi ia tau kalau Sehun itu akan membuatnya sakit.Jadi Eun Hyun merasa kesal,ia suka Sehun tapi disisi lain Sehun itu menyebalkan.
Ckckck,si Jongin yang malang,hatinya membatin duka.
" lalu aku harus melakukan apa untukmu? " tanya Jongin.
Setidaknya Jongin harus membuat Eun Hyun tersenyum dulu,karena dengan begitu ia juga akan tersenyum.
" temani aku kemanapun hari ini "
Jongin mengangguk mantap dengan senyuman manisnya,ia menatap ke arah jendela besar di belakang Eun Hyun dan mendapati Sehun beridiri di sana.Laki-laki itu menatap Jongin dengan tajam sedang Jongin hanya dapat menarik satu sudut bibirnya.
***
Si Jongin itu memang suka menindas yang lemah.
Kyuhyun hampir saja menyiram Sehun dengan sup rumput laut yang di santapnya kalau saja ia tidak ingat rasa supnya yang enak.Telinganya panas mendengar Sehun yang terus berkata seperti itu.Mengoceh tidak jelas tentang Jongin ini dan Jongin itu.
" jadi kau merasa dirimu lemah dan Jongin kuat? " tanya Kyuhyun setelah menghabiskan sup-nya.
Sehun menggeleng spontan.
" tentu saja tidak! Hyung! Aku ini korban kelicikannya! " serunya.Sekarang Sehun terlihat seperti Ibu-ibu yang melapor ke polisi karena dompetnya yang di copet.
" kalau begitu tunjukkan " ucap Kyuhyun dengan nada serius.
Kyuhyun menatap Sehun dalam,kali ini ia harus mencampuri urusan mereka.
Kyuhyun tidak suka melihat Eun Hyun menangis lagi.
" Sehun dengar,kau adalah pilihan adikku,aku dan orang tuaku.Kalau kau bersikap seperti ini,lemah dan selalu mengeluh kami jadi meragukan pilihan kami sendiri.Kami meragukanmu,Sehun. " ujar Kyuhyun.
" hyung— "
" tunjukkan kalau kau memang pantas,yakinkan pilihan kami kembali,atau kami akan berpihak pada Jongin "
***
Eun Hyun melangkahkan kakinya memasuki rumah sakit.Kekesalannya pada Sehun makin bertambah saat mengetahui laki-laki itu bahkan tidak menghubunginya tiga hari ini.
Tolong catat,tidak menghubunginya.
Eun Hyun berjalan melewati meja resepsionis dan bernapas lega karena tidak mendapati suster penjaga resepsionis yang selalu menatap sinis padanya.
Kembali ke Sehun,Eun Hyun sudah menyiapkan beribu kata-kata jika ia dan Sehun bertemu.Dan beribu kata-kata itu akan berujung pada keputusan yang sudah ia pikirkan matang-matang.
Intinya,semua tergantung dengan sikap Sehun.
" Hai "
Panjang umur.Sehun kini berdiri dari kursi ruang tunggu dan tersenyum lebar menyapanya.Eun Hyun diam tidak membalas,hanya menatap laki-laki itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.
" aku ingin berbicara denganmu " ucap Eun Hyun dingin.
***
Sehun dan Eun Hyun kini duduk di taman rumah sakit.Tempat dimana mereka biasa menghabiskan waktu bersama saat makan siang.
" aku tidak akan memaksamu "
Sehun menoleh dan menatap Eun Hyun dengan kernyitan di dahi.Tidak mengerti maksud dari ucapan perempuan itu.
" kita baru tiga bulan,sebelum semuanya terlambat,sebelum kita saling merasa tersakiti,lebih baik kita selesai,Sehun " ujar Eun Hyun dengan mata yang menatap Sehun dalam.
" Sehun,dengar " Eun Hyun menginterupsi Sehun yang baru saja ingin berbicara.
" aku-ragu-padamu " ucapnya dengan penekanan di setiap kata.
" sikapmu padaku membuatku ragu kalau kau tidak benar-benar menyukaiku,aku takut kau hanya salah menafsirkan rasa itu karena kita berteman sejak kecil.Aku ragu kalau kau hanya salah paham,dan sebelum kita semakin jauh lebih baik kita selesaikan sekarang. "
Mereka berdua saling menatap lama sekali,Eun Hyun sedang berusaha menahan air matanya.Meyakinkan dirinya bahwa ia dan Sehun memang tidak harus terikat dalam suatu hubungan serius kalau pada dasarnya persahabatan malah membuat mereka saling melempar senyum dan tertawa.
Sementara Sehun,ia sadar ia laki-laki dan menangis pada saat ini bukanlah saat yang tepat.
Ingat,kau tidak boleh lemah,Sehun,seru batinnya.
" aku benar-benar menyukaimu,Cho Eun Hyun. " ujar Sehun tegas.
Eun Hyun menggeleng.
" aku tidak yakin denganmu,dengan kita " balas Eun Hyun.
" tapi aku yakin,denganmu,dengan kita.Eun Hyun,aku menyukaimu " ujar Sehun.
Eun Hyun mengerjap beberapa kali,belum pernah ia mendengar nada suara Sehun yang selembut ini.
Sehun menarik napas panjang,ia mengenggam tangan Eun Hyun.
" aku memang Oh Sehun si laki-laki bodoh,aku memang Oh Sehun si laki-laki manja,aku memang Oh Sehun si laki-laki lemah,aku memang Oh Sehun si laki-laki plin-plan,aku memang Oh Sehun si laki-laki menyebalkan.Aku memang Oh Sehun—si laki-laki dengan segudang sifat buruk yang sering membuat kesal bahkan menangis. "
Sehun berhenti sebentar,kemudian kembali membuka mulut dan berkata, " tapi jangan pernah lupakan satu hal,kalau aku memang Oh Sehun yang menyukai Cho Eun Hyun " tuturnya di akhiri dengan senyuman manis.
Demi apapun Eun Hyun ingin sekali memukul kepala Sehun karena telah berani membuat hatinya kembali mencair.
Dasar Oh Sehun,si mulut besar.
Sehun mengeluarkan sesuatu dari dalam kantungnya.Sebuah miniatur kotak p3k muncul dari sana.Ia membuka kotak itu dan—
" aku mau kita lebih serius dari ini " ujarnya.
Ada cincin emas putih yang cantik di dalam sana.Eun Hyun menatap Sehun dan cincin itu bergantian.
Sehun tersenyum lalu menarik tangan kiri Eun Hyun dan memasang cincin itu di jari manisnya.Mencium punggung tangan Eun Hyun untuk beberapa waktu dan menatapnya dengan pandangan teduh.
" aku sudah bilang pada keluargaku,dan Ibu menyuruhku untuk segera melamarmu karena Ibu akut kau di ambil orang,Ibu ingin kau menjadi menantunya,menjadi Nyonya Oh " ujarnya.
" bagaimana? Kau mau? "
Eun Hyun terlihat berpikir,ia memasang ekspresi ragu yang membuat Sehun seketika was-was.
" Oh Eun Hyun? " tanya Eun Hyun pelan.
Sehun mengangguk mantap.
" Oh Sehun dan Oh Eun Hyun "
" baiklah,kedengarannya bagus juga " ucap Eun Hyun dengan senyum lebar.
Mata Sehun berbinar,mulutnya tersenyum sangat lebar,terlihat seperti idiot malah.
" sungguh?! "
" aku sungguhan "
Sehun memeluk Eun Hyun erat.
" terimakasih,aku tau pengorbananku tidak akan sia-sia " ujarnya penuh haru.
" pengorbanan? " Eun Hyun melepas pelukan Sehun dan mengernyit.
Eun Hyun penasaran pengorbanan seperti apa yang Sehun lakukan.
" Yixing hyung memotong gajiku,padahal aku sengaja mengumpulkan gajiku untuk membeli cincin yang sudah ku pesan ini.Dia menyuruhku bekerja full selama tiga hari kalau aku ingin mendapatkan gaji sempurna beserta uang tambahan.Jadi aku langsung menyanggupinya,aku tidak mau membuatmu kecewa dan aku mau kau tau kalau aku benar-benar menyukaimu "
Sehun mengakhiri ceritanya,ia tersenyum manis membuat tangan Eun Hyun terulur dan mencubit pipinya.
" Ya! Aku juga menyukaimu,bodoh! Maka dari itu aku marah karena kau tidak memberitahu tentang kita pada Ibu-mu "
Sehun merengut sambil mengusap pipinya.
" sekarang aku sudah memberitahu semuanya "
Eun Hyun mengangguk.Ia mengangkat tangan kirinya dan memperhatikan cincin yang melingkar di tangannya.
" sekarang aku tinggal menunggu pembuktian selanjutnya " Ia menatap Sehun " kelanjutan dari cincin ini " ujarnya.
Sehun langsung mengangguk cepat.
" kau mau kita mengadakan resepsi di mana? Bulan madu? Oh! Ibu punya langganan butik keren! Kita pesan disana saja ya? Oiya,bagaimana dengan foto pernikahannya? Kita harus mulai membuat undangan! "
Sehun seketika berceloteh heboh,bahkan Eun Hyun saja yang perempuan hanya dapat memutar bola mata.
" hei jelek! Kumpulkan dulu gajimu! " serunya.
Sehun berhenti mengoceh dan menatap Eun Hyun kaget.
" jangan banyak bicara kalau kau belum punya uang sendiri,cih dasar " Eun Hyun mencibir lalu berdiri dan meninggalkan Sehun yang masih tercengang.
Mengumpulkan gaji?
Apa itu artinya ia harus melakukan kerja full lagi?
Oh,ya ampun.
END
Kamis, 04 September 2014
EXO Fanfiction: What Is Friend? - Why?
A/N : Yoo Ra dan Min Ah itu adalah orang yang sama.This story is mine,enjoy^^
***
Kenapa harus ada pertemanan di
dunia ini?
***
Di siang yang cerah itu,Luhan meletakkan nampan berisi makan siangnya di depan perempuan cantik yang beberapa bulan ini menjadi teman baiknya.Ia tersenyum hangat pada perempuan berambut panjang yang memiliki nama Seo Yoo Ra itu.
" kau hanya membeli roti sosis dan segelas ice moccacino? " Luhan bertanya heran.
Yoo Ra mengangguk santai sambil menggigit rotinya.
Luhan berdecak sambil menarik roti dan ice moccacino milik Yoo Ra.Ia mendorong nampan yang berisi makan siangnya ke depan perempuan itu.
" makanlah makananku,kau tidak sadar kalau kau membutuhkan daging? Park seonsaengnim 'kan sudah bilang kalau kau harus banyak makan. " ujar Luhan.
Yoo Ra menggeleng.
" kenapa aku harus mendengarkan ucapan seorang guru sejarah? dia bukan ahli gizi atau guru ipa " Tangan Yoo Ra terulur menarik kembali roti sosis dan ice moccacino-nya.Kembali melahap makanan kesukaannya dan menyeruput minuman terlezat versi-nya.
" hft,bisa kau dengar nasihat orang lain? aku 'kan ingin kau tumbuh sehat,Yoo Ra " ucap Luhan sambil menggembungkan pipinya.Sekarang ia terlihat kesal karena ucapannya yang di abaikan begitu saja oleh Yoo Ra.
" cih,kau terlihat seperti Ayah-ku " cibir Yoo Ra.
Luhan semakin menekuk wajahnya.Ia menarik nampannya lalu menyendokkan sereal ke dalam mulutnya.
" Hei Lu " panggil Yoo Ra.
Luhan mengangkat kepalanya dan menatap Yoo Ra dengan kernyitan di dahi.
Yoo Ra hanya tersenyum manis.
" senang bisa berteman denganmu "
Luhan terkekeh.
" kita sudah berteman lebih dari tiga bulan,kenapa baru mengucapkannya sekarang? Kau terlambat sekali "
***
" wajahmu terlihat serius sekali,apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? "
Yoo Ra menggeleng menjawab pertanyaan Luhan.Ia memiringkan kepalanya menatap Luhan dengan dahi yang berlipat.
" aku sedang mencari bahan tulisan untuk cerpenku yang baru,tapi sampai sekarang aku belum menemukan sesuatu yang menarik untuk ku jadikan bahan tulisan " ujarnya.
" mudah saja,kau minta cerita menarik dari teman-teman perempuanmu tentang pengalaman cinta mereka,bagaimana? Ide-ku cemerlang bukan? " Luhan tersenyum lebar dengan rasa percaya diri yang mencapai langit.
Yoo Ra memutar bola matanya malas.Seketika ingin sekali memasukkan Luhan ke bak sampah depan kelas mereka.
" kau lupa? temanku hanya satu,Lu "
Luhan hanya dapat meringis,tangan kanannya menggaruk pipinya sambil ikut berpikir.
" aku di kejar deadline,Shi seonsaengnim mengatakan padaku minggu depan harus ada cerita baru karena siswa-siswi yang lain mengirimkan protes lewat kotak komentar " keluh Yoo Ra.Ia menelungkupkan kepalanya di atas meja.
Menghabiskan waktu sore di sekolah bersama Luhan adalah rutinitas Yoo Ra.Dan hari ini ia dan Luhan menghabiskan sore dengan duduk di kelas ditemani laptop yang terbuka lebar di hadapan mereka.
Luhan menatap prihatin Yoo Ra,ia merasa ikut pusing dengan hanya mendengar keluh kesahnya.Tangannya terulur untuk menutup laptop milik Yoo Ra.
" kenapa kau menutup laptopnya? " Yoo Ra bertanya heran saat tubuhnya kembali menegak.
" ada hal yang ingin ku tanyakan "
" apa? "
Luhan terlihat ragu,ia menatap Yoo Ra dalam.
" aku ingin tau bagaimana cerita tentang Min Ah dan temannya di mulai "
Yoo Ra terdiam selama beberapa detik,otaknya otomatis berputar mengingat kejadian yang berawal manis itu.Kejadian yang berujung pada rasa sakit yang tidak akan pernah Yoo Ra lupakan.
" a—aku tidak memaksa,kalau kau memang tidak ingin menceritakannya aku tidak apa-apa,aku akan menekan rasa penasaranku tentang in— " ocehan Luhan terhenti saat ia melihat senyuman tipis di bibir Yoo Ra.
" ku rasa aku baik-baik saja,jadi kau bisa mendengar bagaimana cerita tentang Min Ah dan temannya di mulai " ujarnya lembut.
Yoo Ra menatap keluar jendela dengan pandangan menerawang,senyuman tipis masih terlukis di bibirnya.
" semuanya berawal saat Min Ah baru saja pindah dari Amerika dan bersekolah di sini… "
-
16 Juni 2009
Seoul Junior High School.
Perempuan cantik berambut panjang dengan warna hitam pekat itu berjalan linglung di sepanjang koridor sekolah.Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari kelas yang Jang ssaem maksud.
" ah ini dia! " serunya saat matanya menangkap tulisan bercat putih di atas pintu.
1-A.
Ia melangkahkan kakinya memasuki ruang kelas itu,tawa yang tadinya memenuhi ruangan seketika diam saat dirinya berada di tengah-tengah ruangan.Seluruh pasang mata itu kini menatapnya,memperhatikan dirinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Ah,kenapa mereka menatapku seperti itu? Batinnya mulai berbicara.Panik,takut,bingung semua bercampur menjadi satu.Menghasilkan debaran jantung yang luar biasa kencang dan keringat dingin di pelipisnya.
" Hei,siniii!~ " seseorang perempuan bertumbuh kurus yang berada di pojok kanan melambaikan tangannya.Tersenyum lebar sambil mengisyaratkan Seo Yoo Ra untuk berjalan menghampirinya.
Yoo Ra tersenyum tipis lalu melangkahkan kakinya ke arah perempuan manis itu.
" hai,aku Jung Ju Ri,kau duduklah denganku " ujarnya ramah dengan tangan yang terulur.
Yoo Ra tersenyum membalas uluran tangan perempuan cantik bernama Ju Ri itu.
" i'm Seo Yoo Ra,nice to meet you "
Ju Ri menutup mulutnya dengan mata membulat.
" omo! Jadi kau murid pindahan dari Amerika itu?! " serunya.
Yoo Ra menggangguk.
" yeah,begitulah "
Mereka berdua lalu mendudukkan diri di kursi.Mulai mengobrol dari hal sepele seperti alamat rumah sampai hobi mereka.
" aku juga! aku juga suka membaca novel fantasi,wah kita banyak kesamaan ya,kurasa kita benar-benar cocok jadi teman " Ju Ri berkata dengan heboh.
Yoo Ra yang baru menginjakkan kakinya di Seoul pun merasa senang memiliki teman di hari pertamanya bersekolah.
***
" kau pernah coba makanan Korea apa saja? " tanya Ju Ri saat ia dan Yoo Ra berada di kantin.Mereka berdua berhenti di depan counter sambil melihat daftar menu,di dekapan mereka sudah terdapat nampan yang siap menampung makan siang mereka.
Yoo Ra menyatukan alisnya,mengingat makanan Korea apa saja yang pernah di cobanya.
" ramyun? "
" hahahahahaahahaahahahahahaha "
Tawa Ju Ri meledak mendengar jawaban yang diberikan Yoo Ra,bahkan beberapa murid yang antri di belakang mereka mengutuk perempuan itu.
Ju Ri mengelap air mata yang berada di ujung matanya.Efek tertawa terlalu kencang.
" Bibi,aku pesan samgyupsal dua dan lemon tea nya juga dua ya! " serunya pada Bibi kantin.
Ju Ri menatap Yoo Ra dengan senyuman penuh arti.
" siang ini kau akan merasakan lezatnya makanan Korea "
***
Sepatu hak tinggi itu memasuki kelas dengan bunyi-nya yang berirama.Kelas menjadi sunyi ketika guru perempuan berperawakan tinggi dengan garis wajah yang tegas itu menjadi penyebabnya.
" selamat siang semuanya,perkenalkan saya Bang seonsaengnim "
Semua murid membuka mulutnya saat mendengar guru itu berbicara dalam bahasa Korea Joseon.
" oh my god—jangan bilang kalau dia— " gumam Yoo Ra panik.
Ju Ri mengagguk mantap.Ia menatap Yoo Ra sambil tersenyum penuh arti.
" yep! dia guru mata pelajaran Sejarah Korea "
***
-
Yoo Ra menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan.
" setelah itu semua berjalan lancar,Min Ah dan temannya—ahh ralat Min Ah dan bukan temannya itu selalu bersama-sama.Semua berjalan biasa dan terhitung menyenangkan untuk dua minggu pertama "
Luhan menatap sisi wajah Yoo Ra yang tersenyum saat menceritakan luka lamanya.Otaknya ikut berimajinasi,ia seperti memutar film di otaknya sendiri.
" sampai Min Ah merasa semua berubah "
Sekarang,senyuman itu tidak lagi sama.Luhan tau ini lah saat dimana luka itu kembali terbuka lebar.
-
" hei,aku baru tau kalau ternyata Myeongdong itu suka mengadakan festival.Kemarin aku kesana bersama Mom dan Dad.Aku melihat banyaaakkkkk sekali pernak-pernik lucu,aku membelinya satu— "
" tidak menurutku biasa saja,pernak-perniknya juga banyak di jual di mana saja "
Yoo Ra memudarkan senyum di bibirnya,niat awalnya yang ingin menunjukkan gelang couple yang ia beli pun ia urungkan.Ia memasukkan kembali gelang couple itu ke dalam saku blazer-nya.
Ju Ri lebih pendiam sekarang.
Atau mungkin bisa di bilang pendiam hanya kepada Yoo Ra saja.Saat teman-teman yang lain mengajaknya berbicara perempuan itu menyahuti dan jangan lupakan senyuman lebar dan tawa lepasnya.
Semua berbanding tiga ratus enam puluh derajat saat perempuan kurus itu berbicara dengan Yoo Ra.Wajahnya datar dan sama sekali tidak ada senyum,bahkan matanya hanya menatap malas padanya.
Hati Yoo Ra terasa tersentil,tapi ia mencoba memaklumi,mungkin perasaannya tidak bisa di katakan baik untuk saat ini (khususnya pada Yoo Ra).
" nanti saat tugas kelompok kita mengerjakan di mana? Oh,bagaimana kalau di rumah mu saja? Aku belum pernah— "
Ju Ri menaikkan satu alisnya saat Yoo Ra berbicara mengenai tugas kelompok yang baru saja di berikan Lee ssaem pada kelas mereka.
" memang kita satu kelompok? aku tidak ingat kalau aku mengajakmu,aku hanya mengajak Hae Ri,Ah Ra,dan Ri Ah. " jawabnya dingin.Ia menggemblok tasnya dan berjalan keluar kelas.
Yoo Ra hanya dapat mematung di kursinya.Kenapa? Kenapa Ju Ri bersikap seperti itu padanya?
***
Di suatu siang di minggu ke empat Yoo Ra berada di sekolah barunya,ia mulai merasa semua memang benar-benar tidak menyukainya(kecuali satu anak perempuan yang duduk di tengah yang selalu tersenyum padanya saat mereka berpapasan).Mereka mulai mengabaikan Yoo Ra,tidak pernah menjawab pertanyaannya bahkan Ju Ri pindah tempat duduk dan memilih duduk di pojok depan.
Jauh darinya.
Yoo Ra berjalan sendiri menuju toilet,ia merasa sakit perut karena terlalu sering mengkonsumsi ramyun pedas-satu-satunya makanan Korea yang Yoo Ra tau-.
" aku merasa tidak nyaman anak itu masuk ke kelas kita "
Saat Yoo Ra barus saja ingin meraih knop pintu telinganya menangkap suara yang sangat ia kenal.
Itu Lee Ri Ah teman semeja Ju Ri yang sekarang.
" sesungguhnya aku juga,dia merepotkan "
Sekarang sebuah suara lain tertangkap gendang telinganya.Yoo Ra sangat-amat-hapal siapa pemilik suara ini.
Perempuan yang dulu sangat baik padanya.
Jung Ju Ri.
Terdengar suara tawa kecil dari Ri Ah.
" lalu kenapa dulu kau selalu bersamanya? Seperti ada perekat yang tembus pandang di antara kalian "
" tidak tau,ku pikir dia asik,apalagi dia berasal dari Amerika.Terdengar keren jika aku berteman dengan seseorang yang berasal dari negara itu,tapi ternyata tidak,dia merepotkan.Dia banyak tanya,dia sering menarik perhatian orang karena menggunakan bahasa inggris yang membuatku malu.Hhaahh—intinya aku malas dengannya "
Sekarang hati Yoo Ra serasa mencelos dari tempatnya.Ia yakin telinganya masih normal,ia yakin ia tidak sedang bermimpi karena ia tidak tertidur sambil duduk di kloset.
Ini kenyataan.
" ini memalukan,kelas kita mendapat nilai rata-rata Sejarah Korea paling buruk hanya karena anak itu,aku benar-benar tidak mengerti kenapa kepala sekolah menerimanya,apa dia memberikan uang pelicin? "
Mereka berdua lalu tergelak bersama lalu setelah itu terdengar bunyi langkah sepatu dan pintu yang tertutup.
Yoo Ra masih terdiam di posisinya,tangannya masih memegang knop pintu,air matanya mengalir begitu saja.Semua percakapan antara Ri Ah dan Ju Ri terngiang di telinganya.
Mulai saat itu,Yoo Ra tau,ia akan selalu sendiri.
Tidak ada orang yang akan duduk di sampingnya.
Tidak ada orang yang akan makan siang dengannya.
Tidak ada orang yang akan menemaninya ke toilet.
Tidak ada orang yang akan bersamanya karena tidak ada orang yang akan menjadi temannya.
***
-
Rintik air hujan mulai menuruni jendela,membuat jalurnya sendiri di jendela itu.Menjadikan pemandangan menarik di sepasang mata indah milik Yoo Ra.
Ia tidak perlu menangis,karena hujan sudah mewakilinya.
" aku tidak ingat tanggal,bulan,menit dan detik saat aku mendengar percakapan menyakitkan itu. " Yoo Ra tertawa kecil. " Tapi bodohnya aku malah mengingat semua kata-kata mereka "
" Dan tentu saja perasaan menyakitkan itu,perasaan yang membuatku masuk rumah sakit karena kekurangan cairan,for your info,aku tidak makan dan minum selama empat setengah hari "
Sebuah sentuhan hangat terasa di pundaknya,ia menoleh menatap Luhan dengan senyuman di bibirnya.
" aku baik-baik saja,Lu " ucapnya pelan saat ia menangkap pandangan khawatir di mata Luhan.
Luhan menelan ludahnya,melihat senyuman di wajah Yoo Ra malah membuat hatinya merasa tidak karuan,Luhan hanya berharap perempuan itu mau mengeluarkan semua rasa sakitnya.
" saat itu ada ribuan kata 'kenapa?' di otakku.Kenapa mereka begitu membenciku? Kenapa mereka meninggalkanku? Kenapa mereka tidak pernah mengganggapku? Kenapa— "
Yoo Ra berhenti,ia menghirup napas,sekedar memastikan bahwa di sekelilingnya masih terdapat oksigen.
Yoo Ra menatap Luhan dalam.
" kenapa harus ada pertemanan di dunia ini? "
Tes.
Air mata itu akhirnya mengalir mulus di sepasang pipi tirus milik Yoo Ra.
" aku tidak mengerti,maksudku—kenapa semua orang membutuhkan teman seperti mereka membutuhkan oksigen untuk hidup? Seperti mereka membutuhkan tempat tinggal untuk berteduh,seperti mereka tidak akan pernah bisa hidup tanpa teman.Kenapa teman itu penting kalau pada kenyataannya teman dapat membuat kita menangis? "
Untuk beberapa waktu mereka sama-sama terdiam,tenggelam dalam pikiran masing-masing.Luhan tersenyum lembut,tangannya terulur untuk menghapus air mata Yoo Ra.
" karena kau butuh teman untuk melengkapi hidupmu,kau butuh teman untuk selalu berjalan di sampingmu,kau butuh teman untuk berbagi,kau butuh teman untuk bersandar,kau butuh teman untuk menuntunmu saat kau kehilangan arah,kau butuh teman— "
" untuk menggenggam tanganmu saat kau merasa kehilangan seluruh kekuatan dalam hatimu "
Yoo Ra tersenyum lembut pada Luhan.
Luhan menggenggam tangan Yoo Ra erat,menatapnya sambil tersenyum manis.
" kekuatanmu akan kembali setelah ini,Yoo Ra. "
END