Laman

Sabtu, 16 Agustus 2014

EXO Fanfiction: Problem.

Disclaimer: This story is mine.Happy reading ^^~

***

Laki-laki itu mendengus kesal manakala sang Sutradara lagi-lagi meneriakan kata 'Cut!' kencang-kencang.Ia menghela nafas pasrah.

" Ya! Yifan! Ku bilang senyum,apa urat-urat bibirmu itu tidak bisa menyungging ke atas?! " omel Sutradara Kim.

Laki-laki yang di panggil Yifan berdecak.
" aku sudah senyum Sutradara Kim,apa matamu tidak bisa melihatnya?! " sahutnya emosi.

Sutradara Kim menghela nafas kasar.Berdebat panjang lebar tentang bagaimana caranya tersenyum dengan laki-laki keras kepala seperti Yifan tidak akan selesai dalam waktu sehari.Ia tidak mau hipertensi-nya kumat hanya karena memarahi Yifan.

" sudahlah,hari ini kita sudah melakukan duapuluh tujuh take hanya untuk adegan ini,lebih baik kita lewati saja,langsung ke bagian action-nya.Pindah lokasi! "

Stuf-stuf langsung memindahkan peralatan syuting ke tempat lain,sementara Sutradara Kim menghampiri Yifan yang masih terlihat kesal.Ia menepuk bahu Yifan pelan.

" aku tidak akan memecatmu,aku juga tidak akan memaksamu,aku akan memberimu kesempatan untuk belajar bagaimana caranya tersenyum,oke? "

Yifan mengangguk pelan.

***

Murid-murid perempuan di sebuah sekolah menengah atas ternama di Seoul tidak bisa mengalihkan pandangannya pada laki-laki bertubuh jangkung yang melewati mereka.Sepasang mata mereka tidak berkedip manakala aktor ternama di negara ginseng itu ada di depan mereka.

Yifan mengumpat di dalam hati,memaki setiap perempuan yang berteriak histeris melihatnya.Ayolah,ia sudah bersekolah disini selama tigatahun tapi kenapa mereka tidak bosan berteriak setiap melihatnya?.Dengan satu helaan nafas berat Yifan menjatuhkan tubuhnya di kursi kedua baris ketiga.

" oi,Tuan Wu,ada apa dengan wajahmu? " tanya Joonmyeon,satu-satunya teman baik yang dimilikinya.

" wajahku? kenapa memangnya? " Yifan balas bertanya datar.

Joonmyeon memiringkan kepalanya,terlihat berpikir sambil mengamati wajah teman semejanya.

" kau terlihat buruk,kawan " ucapnya.

Yixing berdecak,ia sedang pusing memikirkan 'kesempatan' yang di berikan Sutradara Kim padanya.

" hei,bukankah kau ketua ekskul Teater di sekolah kita? " tanya Yifan.

Joonmyeon mengangguk.

" kenapa? "

Tiba-tiba Yifan merasa ada lampu kuning di atas kepalanya.

" bisa tolong aku? "

***

Yifan ingin sekali memukul kepala Joonmyeon.

" kau ini bodoh atau apa? kau itu sudah bermain film dan drama berkali-kali,tapi kenapa senyum saja tidak bisa? "

" itu karena aku selalu bermain film dan drama laga,horror,atau psycho,bukan film dan drama romantis menjijikan itu " balas Yifan kesal.

Joonmyeon membuang napas,mengayunkan tangannya kedepan.
" yasudah,sana minta bantuannya "

" kenapa harus dia? kenapa bukan kau? kau 'kan ketua-nya! " geram Yifan.

" dia suka tersenyum,percayalah dia pasti bisa membantumu " ucap Joonmyeon santai.

Yifan mendengus,dalam hati menyesal meminta bantuan Joonmyeon.Dengan satu helaan nafas ia keluar dari balik tembok tempat persembunyiannya.

" Maaf,kau Jang Jae Ra? "

Dan semua murid perempuan langsung histeris seketika.Sungguh,Yifan ingin menendang Joonmyeon sekarang.

***

Perempuan berambut panjang lurus sepinggang itu tersenyum manis dan sesekali tertawa bersama teman-temannya.Membicarakan apapun itu walaupun topik tidak menarikpun asal bersama teman-temannya semua jadi menarik.

" Maaf,kau Jang Jae Ra? "

Perempuan itu—Jae Ra mendongakkan kepalanya.Matanya membelalak mendapati Yifan ada di depannya.Walaupun ia bukan salah satu dari penggemar laki-laki itu,tapi tetap saja rasanya mengejutkan Yifan tiba-tiba berada di depannya.

Dan tau siapa namanya.

" iya,ada apa? " tanya Jae Ra.

Yifan berdehem sebentar,seluruh murid di kelas itu mulai berbisik tentang dirinya.

" ada yang ingin ku bicarakan denganmu,tapi tidak disini.Bisa ikut aku? " tanyanya.

Jae Ra menelan ludah,memandangi teman-temannya,mereka mendukung.Pandangannya beralih pada teman-teman sekelasnya sebagian menatapnya menghakimi,sepertiga mendukungnya,dan sisanya tidak mau tau-mereka anak laki-laki-.

" iya—baiklah "

***

Yifan membawa Jae Ra ke atap sekolah,satu-satunya tempat aman dan nyaman untuk situasi saat ini.Ia mengunci pintu atap sekolah dan menghampiri Jae Ra.

" kenapa harus di kunci? Maaf,tapi aku sedikit terganggu dengan caramu " ucap Jae Ra.Ia merasa tidak nyaman dengan cara Yifan,kenapa harus di tempat sepi? kenapa harus berdua saja?

Yifan mengantongi kunci atap sekolah,lalu membungkuk sopan.

" maaf membuatmu terganggu " ucapnya.Ia berdiri tegap dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana.

" aku hanya perlu bantuanmu "

Dahi Jae Ra mengernyit.Seorang Wu Yifan membutuhkan bantuannya?

" bantuan apa? "

Yifan terdiam sebentar,menarik nafas panjang lalu membuangnya.Matanya menatap Jae Ra dalam.

" tolong ajari aku bagaimana caranya tersenyum "

***

Jae Ra ingat terakhir kali ia dimintai bantuan oleh teman laki-laki di sekolahnya adalah saat Sehun si laki-laki manja memintanya untuk mengambil koin yang jatuh ke dalam lubang wc.Dan mulai saat itu,Jae Ra memutuskan untuk tidak menolong anak laki-laki di sekolahnya lagi,semuanya tidak ada yang beres.

Tapi sekarang,laki-laki China di depannya ini meminta sebuah bantuan yang menurut Jae Ra sama tidak beresnya dengan teman laki-lakinya yang lain.

" pertama,aku butuh sebuah alasan kenapa kau memintaku mengajarimu cara tersenyum " Jae Ra berkata sambil melipat tangannya di depan dada.Ia tersenyum ke arah Yifan.

Yifan mengusap wajahnya frustasi,ia mendesah keras.

" aku punya masalah,aku tidak bisa tersenyum tulus di depan kamera seperti yang Sutradara Kim katakan.Aku di berikan kesempatan untuk belajar bagaimana caranya tersenyum,dan aku ingin belajar denganmu " ungkap Yifan dengan satu tarikan napas panjang.

" kenapa aku? kau memiliki Joonmyeon "

" karena kau selalu tersenyum,jadi bisakah kau membantuku? "

Jae Ra mengangguk-anggukan kepalanya,senyumannya makin melebar.

" baiklah Tuan Wu,besok temui aku di gerbang sekolah saat bel pulang berbunyi,bagaimana? apa kau mempunyai jadwal syuting? "

Yifan menggeleng cepat.
" tidak,besok aku akan menemuimu di depan gerbang "

" oke " Jae Ra mengulurkan tangannya membuat dahi Yifan mengernyit dan memandangnya tidak percaya.

" kau meminta bayaran? " Yifan membuang napas " aku akan membayarmu setelah kau berhasil membantuku " lanjutnya.

Jae Ra tersenyum menahan tawa,ia memukul lengan Yifan pelan.

" aku hanya meminta kunci,mana kuncinya? "

***

Yifan bisa dibilang laki-laki yang suka menepati janji-nya.Sesaat setelah gendang telinganya menangkap bel berbunyi,ia langsung memasukkan seluruh bukunya ke dalam tas.Tidak mencatat tugas lks yang di berikan Kim Seonsaengnim atau mempedulikan kernyitan heran Joonmyeon disampingnya.Yifan langsung melesat keluar kelas dan tidak sengaja menyenggol bahu guru berambut klimis itu saat melewati pintu kelas.

" kau terlihat buru-buru sekali " Jae Ra berujar sambil tertawa kecil melihat Yifan yang datang dengan rambutnya yang lepek karena keringat dan nafasnya yang tersengal-sengal.

Yifan mengelap keringat yang ada di dahinya.
" kau sudah lama menunggu? " tanyanya.

Jae Ra menggeleng.
" aku baru sampai,kau terlihat lelah,apa—sebaiknya kita membeli minum dulu? "

" tidak usah,aku tidak lelah,apa yang harus ku lakukan? "

Jae Ra mengangguk lalu tersenyum penuh arti pada Yifan.

***

Yifan terus mengumpati perempuan yang tersenyum padanya lewat jendela kelas,matanya langsung kembali berpindah pada binder yang di julurkan di hadapannya.Yifan menengadahkan kepalanya menatap seorang perempuan berwajah imut dengan kacamata kuda-nya.

" tolong tanda tangani ini dan— " Perempuan ber-nametag Park Na Ra itu menunduk sambil tersenyum malu.Kedua pipi chubby-nya bersemu merah.

" tulis '사랑해 나라야 ♥' "

Kemudian Yifan meremas bolpoin di tangannya,ingin rasanya ia lari dan kabur dari tempat dimana ia berada sekarang.Tapi mendengar kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut perempuan di depannya,keinginannya berubah.

" walaupun aku tau itu hanya tulisan yang tidak berarti apapun,itu tidak masalah,karena aku menyukaimu,Yifan " ujarnya.Semuanya terdengar tulus di telinga Yifan.

Yifan langsung menandatangi binder di hadapannya,menuliskan kalimat yang di minta perempuan bernama Park Na Ra itu lalu mendongak dan menyerahkan binder itu.

Tanpa perempuan berkacamata kuda itu tau,tanpa perempuan-perempuan di belakang Na Ra tau dan tanpa Jae Ra tau.

Bibir Yifan sudah berhasil menyunggingkan senyum tipis saat menulis kalimat yang diminta Na Ra.

***

" hhhhaaahhhhh "

Yifan membuang nafas sambil menjatuhkan dirinya di kursi panjang taman sekolah.Ia mengangkat tangan kirinya,melihat jarum jam di benda berwarna hitam itu.

Pukul 19:29.

Yifan menggeleng tidak percaya,dia baru saja mengadakan fansign dadakan yang di ikuti seluruh murid perempuan di sekolahnya.

" minumlah dulu "

Jae Ra tersenyum sambil mengulurkan sekaleng cola ke hadapan laki-laki China itu.Ia menjatuhkan tubuhnya di samping Yifan setelah Yifan menerima cola-nya.

" aku belum melihatmu tersenyum " ujar Jae Ra lalu meneguk cola miliknya.

Jae Ra menatap sisi wajah Yifan yang dengan tenang meminum cola-nya seakan-akan Jae Ra bukan makhluk yang dapat terlihat.

" aku sudah menyiapkan cara yang lain,besok pulang sekolah kita bertemu di gerbang " ucap Jae Ra sambil berdiri.Meneguk cola-nya sampai habis lalu meletakkannya di kursi.

" aku tidak akan— "

" maaf Yifan,tapi saat kau meminta bantuan ku untuk membuatmu tersenyum,itu artinya aku harus membantumu sampai aku melihatmu tersenyum.Secara tidak langsung kau sudah membuat kontrak tidak tertulis denganku " ucap Jae Ra masih dengan senyumannya.Jae Ra berjalan beberapa langkah lalu berbalik.

" apa? " Yifan bertanya datar.

" aku lupa membawa kaleng cola-ku,tolong kau buang ya " jawabnya santai lalu berbalik dan melenggang pergi.

Yifan mendengus lalu mengamati kaleng cola kosong milik Jae Ra.

" cih,aku tidak akan datang "

***

" Jae Ra,kau belum pulang? "

Jae Ra menggeleng pelan lalu tersenyum pada teman sekelasnya.Teman sekelasnya itu hanya mengangguk dan berlalu pergi.Jae Ra merasa sebentar lagi ia terlihat seperti robot rusak karena sudah menggeleng lebih dari sepuluh kali untuk menjawab pertanyaan ' kau belum pulang? ' dari teman-temannya.Ia sudah berdiri di depan gerbang lebih dari tigapuluh menit,tapi sosok jangkung Yifan belum juga terlihat.

Kaki Jae Ra masih setia memainkan batu kerikil untuk menghilangkan penat yang ia rasakan.Sesekali ia meloncat-loncat kecil atau menyandar pada badan gerbang,Jae Ra benar-benar berharap Yifan akan segera datang.

" kau menungguku ternyata "

Jae Ra mendongak,ia melebarkan senyumannya mendapati Yifan sudah berada di hadapannya.

Harapannya terkabul.

" aku sudah memutuskan untuk berhenti belajar denganmu " ujarnya dingin.

Jae Ra membulatkan matanya.

" kenapa? kita baru mencoba satu kali,masih banyak— "

" kesempatan? cara yang lain? tidak,aku sudah tidak membutuhkannya.Aku sudah memikirkannya semalaman,dan aku memutuskan untuk berhenti " ucap Yifan memotong kalimat Jae Ra.

" aku tidak peduli dengan kontrak tidak tertulisku itu,aku juga tidak peduli kalau aku akan di pecat,aku lelah dan aku ingin menyudahinya,sekarang kau tidak perlu pusing-pusing memikirkan cara untuk membuatku tersenyum "

Yifan mengeluarkan beberapa lembar won dari saku celananya.

" ini untukmu,terimakasih sudah mau membantuku "

Jae Ra tersenyum sambil memandangi lembaran won yang terjulur di hadapannya.

" kau menyerah,Yifan? " Jae Ra mendongak menatap Yifan.

Yifan menatap Jae Ra datar.
" tidak,aku hanya lelah "

" berarti kau kalah " sahut Jae Ra.

Yifan masih memandang Jae Ra dengan tatapan datarnya.

" banyak orang di dunia ini yang memiliki masalah bahkan lebih berat daripada yang kau alami tapi mereka tetap bertahan,bahkan mereka tetap tersenyum dan tertawa,tapi kenapa kau malah menyerah begitu saja? "

" tidak usah banyak bicara,ambil saja uang ini dan jangan pernah bahas masalah ini lagi " Yifan menarik tangan Jae Ra lalu menggenggamkan uang itu di telapak tangan Jae Ra.

Yifan langsung berbalik pergi tanpa tau di belakangnya Jae Ra hanya tersenyum lirih memandangi lembaran won di telapak tangannya.

***

Tubuh Yifan terasa mendapat energi saat menyentuh kasur empuk kamar tersayangnya.Ia menghela nafas lalu memejamkan matanya.Memikirkan setiap kata yang keluar dari mulutnya yang ia tujukan pada perempuan yang dengan senang hati membantunya.Perempuan yang mempunyai senyum manis yang rela menunggu Yifan di gerbang sekolah saat semua murid berbondong-bondong pulang ke rumah mereka masing-masing.

Yifan tidak tau harus melakukan apalagi agar bibirnya dapat melengkung ke atas,walaupun ada Jae Ra yang rela membantunya tapi Yifan tetap merasa semua cara yang Jae Ra lakukan akan berujung sia-sia; percuma.

***

" aku pulaaangggggggg~ " Jae Ra berseru senang saat ia berhasil membuka pintu rumahnya yang besar.Ia melangkah masuk ke dalam rumahnya yang terasa sepi.

Ada kedua orang tua-nya yang sedang makan malam di ruang makan dengan tenang.Jae Ra langsung duduk disamping Ibu-nya.

" ganti bajumu dulu,baru kau boleh duduk " ujar Tuan Jang datar sambil memakan dagingnya.

" eoh? maaf Yah,aku akan mengganti baju ku " ucap Jae Ra sambil berdiri dari kursi.

" tidak usah Jae Ra,kau duduk saja dan nikmati makan malam-mu " ucap Nyonya Jang dengan nada yang tidak dapat di bantah.

Baru saja Jae Ra akan duduk di kursinya,suara garpu dan pisau yang di banting ke meja terdengar keras.Tuan Jang menatap Nyonya Jang tajam.

" ajarkan kebiasaan baik pada anakmu,Kim Ah Ra " ucapnya dengan nada rendah dan dalam.

Nyonya Jang tersenyum miring.
" sebelum itu,pahami anakmu dulu Jang Jae Yeol.Dia sudah terlalu lelah untuk mengganti baju "

Tuan Jang tertawa sinis,ia mengelap mulutnya dengan sapu tangan lalu berdiri dari kursi.

" Jae Ra,setelah keputusan pengadilan sudah di bacakan,kau ikut aku.Aku tidak mau kau menjadi anak pemalas dan tidak tau adab seperti wanita itu. "

Jae Ra hanya dapat menelan ludahnya yang terasa pahit,sama pahitnya seperti rasa obat yang tidak pernah ia sukai seumur hidupnya.

***

Loker bernomor 00 itu terbuka,Yifan baru membuka lokernya kembali setelah satu tahun ia kunci rapat.Semenjak ia merasa jengkel dengan hadiah-hadiah yang di berikan para penggemarnya.

Tangan Yifan terulur mengambil sebuah kotak makan berwarna biru laut di dalam lokernya.Ia mengernyit heran,kenapa masih ada hadiah disini?

To: Wu Yifan yang keren *^^*

Cheese Cake rasa Strawberry untukmu,ini aku yang buat dan kau orang pertama yang memakannya.Aku akan sangat senang jika kau memakannya ^^

Park Na Ra B-)

Yifan mengendus Cheese Cake Strawberry itu,masih harum.Ia mengambil sepotong Cheese Cake lalu menggigit ujungnya.

Manis.

Kedua sudut bibir Yifan perlahan terangkat ke atas.

Yifan tersenyum manis,semanis Cheese Cake Strawberry yang ia rasakan.

***
-

" membuat orang lain senang,itu akan membuatmu ikut merasa senang,itu yang ingin Jae Ra sampaikan padamu "

-

Yifan berlari di sepanjang koridor sekolah.Setelah Joonmyeon berkata seperti itu Yifan langsung melesat pergi.Ia ingin bertemu Jae Ra.

" Jang Jae Ra! " Yifan berseru senang memanggil nama Jae Ra saat melihat perempuan itu sedang duduk di kursi taman sekolah.

Jae Ra tersenyum lembut ke arah Yifan.
" aku mendengar kabar menggembirakan tentangmu "

Yifan menjatuhkan tubuhnya di samping Jae Ra.Laki-laki itu tersenyum lebar.

" selamat,selamat atas hubunganmu dan Na Ra,selamat atas drama-mu yang sukses,selamat kau sudah berhasil tersenyum " ujar Jae Ra sambil mengulurkan tangannya.

Yifan membalas uluran tangan Jae Ra.
" berkat-mu,berkat bantuanmu,Jae Ra "

Jae Ra tertawa kecil lalu menarik tangannya,menyenderkan badannya pada sandaran kursi.Memejamkan matanya rapat-rapat sambil tersenyum.

" semua tergantung hatimu,Yifan.Semua berkat keinginanmu yang kuat,bukan aku. " ujarnya.

" akan ku traktir kau makan yang banyak,kau terlihat lebih kurus dari dua minggu yang lalu "

Jae Ra menatap Yifan.
" oya? Aku terlihat kurus? "

Yifan mengangguk.

" tapi aku tidak terlihat menyedihkan 'kan? "

Yifan menggeleng.

" tidak masalah aku kurus atau berpenampilan buruk,asal itu tidak membuat aku menyedihkan di mata orang lain,aku merasa lebih baik "

***

Sebuah mobil hitam yang familiar di mata Jae Ra berhenti di depannya.Tuan Jang muncul dari dalam sana.

" ayo Jae Ra,kita ke persidangan " ujarnya sambil mengenggam tangan Jae Ra.

" iya,Yah " balasnya pelan.Jae Ra berdiri dari tempat ia duduk.

Baru saja Tuan Jang ingin menarik tangan Jae Ra masuk ke mobil sebuah mobil putih berhenti tepat di belakang mobil Tuan Jang.Nyonya Jang muncul dari dalam sana.

" Jae Ra,ayo pergi dengan Ibu " ajaknya.

Nyonya Jang berjalan ke arah Jae Ra dan Tuan Jang.

" tidak,dia akan pergi denganku " Tuan Jang berkata sambil menatap Nyonya Jang tajam.

" aku Ibu-nya! " seru Nyonya Jang.

Tuan Jang berdecak.
" Jae Ra sudah berumur tujuhbelas tahun dan dia berhak dan pantas tinggal denganku setelah kita bercerai! "

" apapun yang terjadi Jae Ra akan tinggal bersamaku "

Nyonya Jang menatap Jae Ra dengan mata yang berkaca-kaca,menggenggam tangan anaknya yang bebas.

" Jae Ra-ya,kau tinggal bersama Ibu ya? Ibu ingin selalu bersamamu " tuturnya dengan nada bergetar.

" cukup! "

Tuan Jang menarik tangan Nyonya Jang kasar.

" jangan pernah kau gunakan air mata buaya-mu itu,Jae Ra akan tetap tinggal bersamaku! " serunya geram.

" kau mau dia tinggal bersama Ibu tirinya?! Kau tega membiarkannya tinggal bersama wanita penghancur kebahagiaan orang itu?! " teriak Nyonya Jang.Air matanya mengalir begitu saja.

" jangan sebut dia seperti itu! dia lebih baik dari pada kau! " balas Tuan Jang tidak kalah kencang.Ia melepas genggaman tangannya pada Jae Ra.

Jae Ra tidak dapat berbuat apa-apa,ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangis sekaligus berteriak mengingatkan orangtuanya kalau mereka ada di halte sekolah.Hatinya terlanjur tergores semakin dalam melihat pertengkaran kedua orangtuanya.Oh,seharusnya Jae Ra berterimakasih pada teman-temannya yang sudah pulang sekolah sejak satu jam yang lalu.

" aku tidak akan pergi "

Tuan Jang dan Nyonya Jang berhenti.Mereka sama-sama menatap Jae Ra dengan kernyitan di dahi.

" aku tidak akan pergi ke pengadilan " ucap Jae Ra.

" Jae Ra,kau jangan bercanda kau harus pergi ke pengadilan dengan Ayah " ucap Tuan Jang.

Jae Ra menggeleng,sebisa mungkin ia menahan air mata yang sudah memaksa keluar dari kedua mata indahnya.Jae Ra menarik nafas,rasanya oksigen sudah mulai memusuhinya.

" Ayah bilang aku sudah berumur tujuhbelas tahun,itu artinya aku berhak dan pantas untuk tidak tinggal dengan Ayah atau Ibu.Aku ingin hidup sendiri "

Tuan Jang dan Nyonya Jang sama-sama terkejut,bahkan Nyonya Jang menggeleng dan menatap Jae Ra seolah-olah dia berkata jangan-lakukan-itu-pada-Ibu.

" jangan mencegahku atau kalian tidak akan pernah bisa melihatku lagi "

Dan dengan satu tarikan nafas yang terasa menyesakkan Jae Ra melangkah pergi meninggalkan orangtuanya.

***

-

" banyak orang di dunia ini yang memiliki masalah bahkan lebih berat daripada yang kau alami tapi mereka tetap bertahan,bahkan mereka tetap tersenyum dan tertawa,tapi kenapa kau malah menyerah begitu saja? "

-

Yifan menghela nafas berat,entah kenapa nafasnya jadi terasa berat,seperti nafasnya itu membawa satu ton besi berkarat.Ia melangkahkan kaki-nya,kedua tangannya memegang satu kaleng cola dingin.Yifan duduk di sebelah perempuan yang sejak beberapa jam yang lalu menjadi objek pengamatannya.

Yifan menjulurkan tangannya,menempelkan kaleng cola dingin itu di pipi tirus milik perempuan suka tersenyum itu.

" ohh,hei Yifan! " sapa Jae Ra dengan senyumnya yang lebar.Ia menegakkan badannya dan menghadap Yifan.

" tadinya aku ingin beli satu tapi karena aku tidak suka menyimpan koin jadi aku beli dua " ucap Yifan.

Jae Ra tertawa kecil sambil mengambil kaleng cola itu.
" seharusnya kau bilang ' ini ku belikan khusus untukmu ' setidaknya itu dapat menghiburku " ujarnya dengan tangan kanan yang berusaha keras membuka penutup kaleng.

Yifan mengambil alih kaleng cola dari genggaman Jae Ra lalu membukakannya,menyerahkannya pada Jae Ra sambil berujar.
" kenapa aku harus menghiburmu? apa kau memiliki masalah? "

Lagi-lagi Jae Ra hanya tertawa kecil lalu meneguk cola-nya.

" kalau kau punya masalah,eum seperti masalah keluarga,kau boleh cerita padaku " Yifan berkata ragu sambil menggaruk tengkuknya.

" Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha "

Yifan membulatkan matanya saat Jae Ra malah tertawa kencang.
" Jae Ra— "

" hei Yifan! Leluconmu itu lucu sekali,masalah keluarga? hahahahahahaha masalah apa? Aku tidak punya masalah,hahahahahahaha kau mabuk ya? atau frustasi karena jadwal syuting? "

Jae Ra terus saja tertawa membuat Yifan menyadari sesuatu.Tangan Yifan terjulur untuk menghapus cairan bening yang keluar dari mata indah Jae Ra.

" kau tertawa sampai menangis "

Yifan menarik tangannya,memperhatikan Jae Ra yang lambat laun mulai memelankan suara tawanya,suara tawa itu hilang tergantikan dengan suara menyedihkan yang paling Yifan tidak suka.

Jae Ra menangis.

Jang Jae Ra perempuan yang suka tersenyum itu menangis.

" aku melihatnya tadi di halte,Jae Ra.Kenapa kau tidak pernah cerita? Kenapa kau hanya memendamnya sendiri? " tanya Yifan.Ia memandang sendu Jae Ra yang menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Jae Ra mendongak,menatap Yifan dengan mata memerah dan air mata yang terus mengalir membentuk aliran sungai kecil di kedua pipi tirusnya.

" lalu kalau aku menceritakan semuanya padamu,apa orangtua-ku akan tetap bersama? apa Ayahku akan meninggalkan selingkuhannya yang sudah hamil? apa Ibuku akan berhenti menangis setiap malam? Jika iya,maka aku akan bercerita padamu,tapi jika tidak maka lebih baik aku diam dan membawa rasa sakit ini sampai aku mati,Yifan. " ujar Jae Ra.Sekarang,Jae Ra benar-benar merasa hatinya sudah terlanjur menganga lebar,seperti ada seorang dokter yang dengan tega membedah organ tubuh penting yang satu itu.

" setidaknya kau tidak perlu merasa se-sakit itu,Jae Ra.Rasa sakit itu akan berkurang saat kau menceritakannya padaku " Tangan Yifan terulur,mengenggam pergelangan tangan Jae Ra,meyakinkan perempuan itu kalau masih ada tempat untuk berbagi,masih ada telinga untuk mendengar segala keluh kesahnya,dan masih ada bahu untuk bersandar.

Masih ada Yifan untuk Jae Ra.

" berjanjilah padaku untuk tidak menyerah,berjanjilah kalau kau akan selalu tersenyum,seperti Jae Ra yang dulu ku kenal. " tutur Yifan,kedua sudut bibirnya terangkat ke atas membuat senyuman manis di bibir laki-laki itu.

" Yifan…  "

Jae Ra menghambur ke dalam pelukan hangat Yifan,menumpahkan segala rasa sakit yang di pendamnya selama ini.Tangisan Jae Ra seakan mewakili segala pahit yang ia telan sendiri,dan rasa sesak yang ia hirup sendiri.

Jae Ra tau,Yifan tulus padanya.

" kau akan menepati janjimu? " Yifan bertanya sambil terus mengusap rambut panjang Jae Ra.

Jae Ra mengangguk sambil tersenyum.

" bahkan besok pagi kau akan melihat senyumku,aku janji,Yifan "

***

Yifan bersenandung senang di sepanjang koridor sekolah,membalas senyuman para penggemarnya.Tangannya terangkat ke atas,melambai pada perempuan berkaca mata kuda yang membawa sejumlah buku tebal di kedua tangannya.

" good morning,prof. " sapa Yifan saat di depan perempuan itu.

Na Ra tertawa kecil,Yifan selalu memanggilnya profesor.
" good morning,actor Wu. " balas Na Ra.

Yifan mengerucutkan bibirnya,membuat Na Ra tertawa geli dan menghasilkan seluruh siswi sekolah yang melihat itu memekik tertahan.

" jangan panggil aku itu,aku tidak suka "

" lalu apa? aku harus memanggilmu apa? Tuan Wu " Na Ra tersenyum jail sedang Yifan makin menekuk wajahnya.

" Hahahaha,sudahlah,aku harus kembali ke perpustakaan,ada banyak tugas yang harus ku selesaikan "

Yifan mengernyit.
" sepagi ini? "

Na Ra mengangguk.
" nanti siang aku juga tidak bisa makan denganmu,minta temani Jae Ra saja ya? "

Yifan menghela nafas.
" baiklah,aku akan menemuinya sekarang,sampai jumpa perempuan sibuk " Yifan mengacak-acak rambut Na Ra sayang.

" aaaakkkkkkk!!! Jangan kau hancurkan rambut halusku ini,makhluk galaxy! "

***

" Jae Ra mana? "

" tidak tau "

" oh begitu,terimakasih "

Yifan keluar dari kelas Jae Ra setelah bertanya pada teman semejanya.Jae Ra belum datang,Yifan mengambil kesimpulan kalau perempuan itu belum datang.

To: Jang Jae Ra.
07:12
Hei,kenapa kau belum datang? apa kau kesiangan? Ingat nona,kau masih memiliki janji denganku.

***

Krrriiiiiiiiiiiinnnnggggg

Bel tanda pelajaran usai berbunyi nyaring membuat seluruh murid mengernyit keheranan.Seharusnya bel itu berbunyi tiga jam lagi di tambah hari ini tidak ada satupun guru yang masuk ke kelas mereka.

Yifan yang sedari tadi tertidur karena bosan teman semejanya hilang entah kemana pun terbangun.Ia menoleh ke samping dan mendapati kursi Joonmyeon masih kosong tidak berpenghuni.

Hari ini benar-benar membosankan.

Yifan menggemblok tasnya lalu berjalan keluar kelas,masih dengan mata mengantuk Yifan berjalan di koridor sekolah.Sesekali menguap lebar tanpa menutup mulutnya,kali ini Yifan berpikir ia akan tampan meskipun dalam keadaan menguap.

" Yifan-ah! Yifan-ah! "

Yifan mengusap-usap kedua matanya untuk memperjelas penghilatannya.Seorang siswa bertubuh pendek berlari menghampirinya.

" Oh Joonmyeon,kau kembali " Yifan berkata datar.

Joonmyeon membungkuk,kedua tangannya memegang kedua lututnya.Nafasnya tersengal-sengal akibat berlari menghampiri Yifan.Ia menegakkan tubuhnya.

" Yifan,Jae Ra— "

Yifan memutar bolamata malas.
" kalau kau bertanya dimana perempuan itu jawabannya aku tidak tau,dia bahkan tidak bisa ku hubungi " jawabnya malas.

Joonmyeon menggeleng keras.
" bukan itu,Yifan.Bukan itu! "

Yifan mengernyitkan dahinya,Joonmyeon yang biasanya menatapnya dengan pandangan teduh kini menatapnya dengan sorot panik dan takut yang kental.

" Jae Ra…Jang Jae Ra—dia—mati bunuh diri,Yifan. "

***

Yifan hanya terdiam memandangi tubuh perempuan yang sudah terbujur kaku di hadapannya.Rasanya Yifan masih tidak percaya,Jae Ra adalah perempuan yang sudah terbujur kaku di hadapannya itu.

-

" Jae Ra mati bunuh diri semalam,dia menggantung dirinya di taman pinggir kota.Guru-guru dan anggota osis langsung menuju rumahnya saat polisi menelepon sekolah tadi pagi "

-

" aku harus apa? aku ingin sekali marah denganmu,Jae Ra.Aku ingin sekali memakimu,bahkan memukulmu.Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau mengingkari janjimu? Tapi—lebih dari semua itu aku hanya ingin menanyakan satu hal,kenapa—kau meninggalkanku? "

Yifan terus menggumam di depan peti jenazah Jae Ra,melihat perempuan yang Yifan kagumi,melihat perempuan yang sudah Yifan anggap seperti sahabatnya.Melihat perempuan yang tegar,terus tersenyum walau ia memiliki setumpuk masalah pelik yang menyakitkan hati.

Yifan menoleh ke belakang saat ia merasa ada seseorang yang menepuk bahunya,ada Na Ra yang tersenyum lembut ke arahnya.Ia menyodorkan secarik kertas putih.

" polisi bilang ini untuk Yifan,dia menemukan surat ini di kantung blazer Jae Ra " ujarnya.

Yifan menerima surat itu lalu menggumamkan kata terimakasih pada Na Ra.

" aku akan tunggu di luar " ucap Na Ra lalu berlalu meninggalkan Yifan bersama Jae Ra.

Tangan Yifan membuka kertas putih yang di lipat menjadi dua,memunculkan sederet tulisan di dalamnya.Bibir Yifan mulai bergerak membaca surat itu.

To: Wu Yifan.
Aku tau kau kecewa padaku,aku tau kau marah dan kesal terhadap apa yang ku lakukan.Aku minta maaf,Yifan.Aku tidak bisa menjelaskan apapun lagi,aku hanya ingin mengatakan kalau aku menyerah.
Terimakasih kau mau menjadi temanku,kau mau menjadi tempat untuk berbagi,terimakasih untuk semuanya,Yifan. :)

p.s: sekarang aku sedang tersenyum,jadi aku menepati janjiku,hehehehe ^^

Yifan mengusap air matanya yang keluar begitu saja,hatinya terasa sakit,sangat sakit.Ia memandang Jae Ra yang terpejam dalam tidur abadinya.

" seharusnya kau bertahan,karena aku ada disini untukmu,Jae Ra.Sampai kapanpun. "

END

Sabtu, 19 Juli 2014

EXO Fanfiction: Come In.

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Cast: Zhang Yixing || Yang Ah Jung (OC) || Kim Jongdae.

***

Langit mulai menampakkan sisi gelapnya,membuat siapa saja yang melihatnya pasti tau,setelah ini akan ada air yang jatuh dari sana.Membasahi tanah tempat dimana makhluk bumi berpijak.

Benar saja.

Tidak sampai satu menit anak perempuan itu memandangi langit gelap yang memayunginya,tetes demi tetes air mulai turun,membasahi rambutnya dan seluruh tubuhnya.Menutupi jejak-jejak air mata yang masih tertinggal di kedua pipinya.

Sempurna.

Sekarang langit pun mendukung suasana duka hatinya.Langit seakan tau,saat ini Yang Ah Jung—anak perempuan itu sedang membutuhkan air hujannya.

Setidaknya Ah Jung tidak perlu berpura-pura menjadi anak perempuan berumur tujuh tahun yang tegar.

" hei "

Ah Jung langsung menolehkan kepalanya ke samping saat telinga kanannya menangkap sebuah suara.

Tau-tau sudah ada anak laki-laki yang manis duduk di sampingnya.

" kenapa sendirian? " tanya anak laki-laki itu ramah.

Ah Jung menatapnya dengan mata memicing,ia tidak menyukai orang yang sok kenal.

" kau siapa? pergi! " seru Ah Jung.Ia bangkit dari kursi panjang berwarna hitam yang sudah satu setengah jam di dudukinya.

Anak laki-laki berpakaian serba hitam itu terkejut,ia membulatkan matanya sempurna saat melihat respon anak perempuan di hadapannya itu.Ia ikut berdiri,memajukan kakinya mendekati anak perempuan itu.

" Namaku Zhang Yixing,aku hanya ingin berteman denganmu " ucap Yixing.

Ah Jung semakin berjalan mundur,berusaha menjauhi anak laki-laki yang bernama Yixing itu.

" aku hanya ingin menemanimu,aku tau kakak-mu baru saja meninggal,aku hanya ingin menghiburmu "

Ah Jung berhenti berjalan,matanya menatap Yixing kosong.Hatinya kembali sakit,Yixing semakin membuat hatinya sakit.Yixing baru saja menamparnya.

Menamparnya dengan kenyataan yang pahit kalau kakak satu-satunya sudah pergi dari sisinya—selamanya.

Ah Jung tiba-tiba terduduk,menangis meraung-raung seperti orang gila.Kedua tangannya mengais tanah merah yang sudah basah di depannya lalu melemparnya,mengaisnya lagi lalu melemparnya lagi.

Ah Jung hanya sedang meluapkan segala kepedihan yang di tahannya satu minggu ini.

Yixing menatap anak perempuan di hadapannya itu dengan tatapan iba.Hatinya ikut teriris melihat betapa menyedihkannya keadaan anak perempuan itu.

***

Ah Jung memasuki rumah besarnya dengan keadaan kacau bukan main.Tubuhnya basah kuyup dengan tanah merah yang menempel di baju dan menutupi kedua tangannya.

" astaga! Ah Jung,sayang.Kau darimana saja?!" pekik wanita dewasa itu seraya berlari menghampiri Ah Jung.Berlutut di hadapan anak perempuan itu,menangkupkan tangannya di kedua pipi Ah Jung yang pucat dan dingin.

Ah Jung menutup mulutnya rapat-rapat,menatap kosong ke depan.Wanita dewasa di depannya ini adalah Ibu-nya sendiri.Orang yang melahirkan dan membesarkannya.

" apa kau ke pemakaman kakak-mu lagi? sayang? jawab Ibu " Nyonya Yang tetap tidak menyerah,ia terus berusaha membuat putri satu-satunya berbicara.

Ah Jung tetap tidak menjawab,hawa dingin semakin menusuk tulangnya,lambungnya yang memang belum tersentuh makanan semenjak tiga hari yang lalu sangat terasa perih,urat-urat kepalanya mulai terasa berdenyut-denyut.Kedua kelopak mata itu perlahan menutup,menyembunyikan bola mata hitam pekat indah milik Ah Jung.

" Ya ampun! Ah Jung! Ah Jung bangun sayang! "

***

Bel berbunyi nyaring memenuhi setiap sudut ruangan sekolah.Bel penanda bahwa kegiatan belajar-mengajar telah usai membuat seluruh murid menengah atas itu berhambur keluar dari kelasnya dengan senyum bahagianya.

Tidak terkecuali perempuan berambut panjang sepinggang yang terus bersenandung senang selama perjalanan pulangnya.Di benaknya,ia sudah menyiapkan banyak cerita yang akan di bagikannya pada satu-satunya teman yang ia miliki selama sepuluh tahun terakhir.

" Yixing! "

" Ah Jung! "

Dua orang remaja itu saling berseru senang sambil melambai-lambaikan tangan mereka.Ah Jung berlari-lari kecil menghampiri Yixing yang sedang duduk di bangku panjang berwarna hitam yang menjadi tempat pertemuannya dengan Yixing untuk pertama kalinya.

Ah Jung menghempaskan tubuhnya di samping Yixing dengan senyum mengembangnya.Ia menghadapkan tubuhnya pada Yixing.

" hari ini aku punya cerita! " serunya antusias.

" apa itu? " sahut Yixing ikut antusias.

Ah Jung menarik nafas panjang,ia selalu suka perasaannya saat akan mulai bercerita dengan Yixing.

" hari ini aku mendapat nilai 10 lagi,semua mata pelajaran! " serunya.

Yixing bertepuk tangan,memberi apresiasi atas kepintaran teman baiknya itu.

" selamat! kau memang yang terbaik! " seru Yixing.

" terimakasih,tapi aku masih punya cerita lagi "

Yixing mengernyit.
" apa itu? "

Kali ini raut bahagia di wajah Ah Jung sirna seketika.Tergantikan dengan ekspresi murung dan bingung yang sangat kentara.

Yixing tidak suka ekspresi itu ada di wajah teman baik-nya.

" ada apa? ceritakan padaku apa yang terjadi? apa ada seseorang yang melukaimu? " cecar Yixing.

Ah Jung menggeleng pelan.
" tidak "

" lalu? ceritakan saja semuanya padaku "

Ah Jung menghela nafas pelan.Mengangkat kepalanya yang menunduk,menatap Yixing dengan tatapan sendunya.

" aku ingin memiliki teman " pelan,Ah Jung bersuara.

Yixing merasa terkejut.
" tapi aku temanmu! " serunya.

" aku tau,tapi maksudku—teman sekolah,Yixing. "

" selama sepuluh tahun ini aku tidak pernah mempunyai teman di sekolah,aku makan siang sendiri di kelas di temani bekal yang ku bawa dari rumah,aku tidak pernah merasakan mengobrol bersama teman-teman perempuan,aku—ingin memiliki teman sekolah " ungkap Ah Jung.Genangan air mulai terlihat di pelupuk matanya.

Yixing menelan ludahnya sendiri,rasanya pahit.Perasaanya mulai tidak karuan,tangan kanannya mulai terangkat pelan,memegang bahu Ah Jung.

" kau punya aku,dan sampai kapanpun aku akan tetap disampingmu—selamanya "

***

Ah Jung bangun dari tidurnya,ini masih tengah malam,tapi tenggorokan keringnya memaksanya membuka mata untuk turun ke lantai satu dan mengambil segelas air dingin.

" Sayang,aku takut… "

Ah Jung berhenti di depan pintu kamar kedua orang tua-nya saat mendengar suara gemetar sang Ibu.

" apa yang kau takutkan,sayang? " Itu suara Ayahnya,ia terdengar khawatir.

" anak kita,Ah Jung " jawab Nyonya Yang.

" kenapa? apa yang kau khawatirkan? Ah Jung terlihat lebih baik daripada sepuluh tahun yang lalu "

Di dalam kamar,Nyonya Yang menggeleng lemah.

" tidak tau,aku hanya merasa khawatir dan takut dengannya " suaranya bergetar.

Tuan Yang merangkul tubuh Istrinya,mendekapnya dengan erat.Ia membelai rambut sebahu Nyonya Yang dengan lembut,menenangkan wanita yang hampir duapuluh lima tahun ini menemaninya.

" tidak ada yang perlu di khawatirkan,tenanglah… "

Isak tangis Nyonya Yang pecah,perasaan khawatir dan takut itu kini menguasai hatinya.Ia sama sekali tidak sanggup mengeluarkan ceritanya sendiri pada sang suami.

Tentang apa yang di lihatnya tadi sore.

***

Ah Jung duduk di tepi ranjangnya,rasa hausnya hilang seketika.Ia menatap karpet bulu kamarnya dengan pandangan menerawang.Otaknya masih berpikir tentang percakapan yang 'tidak sengaja' di dengarnya barusan.Percakapan kedua orang tua-nya.

Apa yang harus di khawatirkan?

Ah Jung hanya tidak habis pikir,apa sebegitu menyedihkan keadaannya selama sepuluh tahun terakhir ini? Sampai-sampai Ibu-nya mengatakan kalau ia khawatir.

Ke-sepuluh jari Ah Jung bertaut,bola matanya tidak berhenti bergerak ke kanan dan ke kiri.

" aku harus mencari teman "

***

Yixing berdiri manis di depan gerbang sekolah Ah Jung pagi ini.Pagi-pagi sekali ia sudah berdiri menunggu perempuan itu.

" Ah Jung! " teriak Yixing saat melihat tubuh Ah Jung yang berjarak beberapa meter darinya.

Ah Jung berlari-lari kecil ke arah Yixing dengan senyumnya yang merekah.

" hei,Yixing! Ada apa pagi-pagi kemari? "

Yixing tertawa kecil.
" kenapa? apa aku tidak boleh menghampiri teman baikku sendiri? "

Ah Jung menggeleng cepat.

" bukan itu maksudku,hanya—heran,ada apa? " tanyanya.

" tidak,aku kesini hanya ingin melihatmu saja " jawab Yixing santai.

Ah Jung mencibir.

" oho! Apa Tuan Zhang rindu padaku? "

" rindu? Cih,aku bosan melihatmu " sahut Yixing.

Tangan kanan Ah Jung yang sudah terkepal mendarat mulus di kepala Yixing.Membuat laki-laki itu menggaduh kesakitan.

" kalau bosan kenapa kesini?! sana pulang ke rumah-mu! sana-sana! " Ah Jung berseru sambil mendorong tubuh Yixing keluar dari wilayah sekolahnya.

Yixing mendengus.
" baiklah,jangan lupa nanti ku tunggu di tempat biasa "

Yixing berjalan keluar dari wilayah sekolah Ah Jung,tujuan pertamanya kali ini selesai.

Ah Jung masih berdiri di depan gerbang sampai ia memastikan bahwa Yixing sudah benar-benar pergi.Ah Jung merasakan seluruh pasang mata menatapnya aneh,mungkin mereka heran kenapa perempuan aneh seperti Ah Jung mempunyai teman.Ia berbalik hendak memasuki sekolah tapi tepukan di pundaknya menginterupsi langkahnya.

" hei "

Ah Jung menoleh dan mendapati laki-laki berseragam sama dengannya sedang tersenyum padanya.Dengan alis bertaut,ia memandangi laki-laki itu bingung.

" aku Jongdae,Kim Jongdae.Kita teman sekelas,aku duduk di belakangmu " ujar laki-laki bernama Jongdae itu.

Ah Jung memang paling tidak suka dengan orang yang sok kenal,tapi mengingat misi-nya yang ingin-mencari-teman Ah Jung memutuskan untuk tersenyum seramah yang ia bisa.

" ohh,halo aku Yang Ah Jung " Ah Jung menunduk sopan.

Jongdae tertawa,tawa yang membuat telinga Ah Jung nyaman mendengarnya.

Terdengar menyenangkan,ditambah eye smile laki-laki itu

" kenapa aku terlihat seperti kakak kelas,ayo kita masuk bersama! "

Jongdae merangkul santai pundak Ah Jung,berlagak seperti ia adalah teman lama Ah Jung.Jongdae hanya ingin menghapus pandangan buruk teman-temannya tentang Ah Jung.

Kalau Ah Jung sebenarnya juga anak perempuan biasa.

***

" Yixing! "

Ah Jung berseru senang sambil menjatuhkan tubuhnya di samping Yixing.

" apa yang terjadi seharian ini? " tanya Yixing.

Ah Jung mengelap keringat yang ada di pelipisnya.

" hari ini hari yang sangaaatttt menyenangkan! " serunya.

" oya? ceritakan apa yang membuat hari ini hari yang sangaaatttt menyenangkan! "

" hhhahhh,Yixing aku yakin kau juga akan sangat senang saat mendengarnya " ucap Ah Jung.

" apa kali ini kau mendapat nilai sepuluh lagi? " tebak Yixing.

Ah Jung menggeleng cepat.
" teng! "

Yixing kembali mengerutkan dahinya,apa yang membuat Ah Jung se-senang ini selain dapat nilai sepuluh?

" kau menyerah? " Ah Jung tersenyum jahil.

Yixing mengangguk pasrah.

" aku punya teman sekolah! teman sekolah,Yixing! "

Ah Jung mengenggam kedua tangan Yixing dan menggoyang-goyangkannya.Tertawa lepas adalah hal yang belum pernah Yixing liat di wajah Ah Jung selama sepuluh tahun ini.

" aku lupa kapan terakhir kali aku merasa se-senang ini  "

Yixing berusaha tetap tersenyum pada Ah Jung.

Ah Jung masih menggenggam tangan Yixing,ia mengubah posisinya menghadap ke depan,menyenderkan kepalanya pada sandaran kursi sambil memejamkan mata.

" namanya Jongdae,Kim Jongdae.Dia teman sekelasku,duduk di belakangku.Anaknya ramah dan yang paling penting dia suka membuat lelucon.Oh! Jangan lupakan suaranya yang merdu itu.Hari ini aku mendengarnya menyanyi satu kali.Rasanya— "

Ah Jung menggantungkan kalimatnya,matanya masih terpejam mengingat manisnya perasaanya saat mendengar suara Jongdae tadi.

Ia merasa pernah mendengar suara itu.

" rasanya? " Yixing bertanya penasaran.

" aku seperti mendengar suara Baekhyun Oppa "

***

Sebuah tangan terkepal mengetuk pintu berwarna biru laut itu dengan sopan.

" eoh? Jongdae-ya! "

Nyonya Yang berseru senang manakala melihat laki-laki bersuara nyaring itu berada di balik pintu rumahnya.

Jongdae tersenyum lebar lalu menunduk sopan.

" annyeonghaseyo,omoni " sapanya.

" ayo-ayo masuk ke dalam! " seru Nyonya Yang menarik tangan Jongdae masuk ke dalam rumahnya.

Nyonya Yang dengan perasaan kelewat senangnya itu mengajak Jongdae untuk duduk di sofa ruang tamu.

" terimakasih kau mau berteman dengan Ah Jung " ucap Nyonya Yang.

Jongdae tertawa kecil.

" sama-sama,aku juga senang bisa berteman dengannya " sahutnya.

" apa kau kesini ingin bertemu dengan Ah Jung? "

Jongdae baru saja membuka mulutnya,tapi Nyonya Yang bertepuk tangan membuat jantungnya ingin melompat karena terkejut.

" ahhh bodoh! kenapa aku malah bertanya seperti itu,tentu saja kau kesini ingin bertemu dengannya,sebentar akan ku panggilkan "

Nyonya Yang beranjak dari sofa lalu naik ke atas,ke kamar putri satu-satunya.

Sementara Nyonya Yang ke atas,mata Jongdae berkeliling menjelajah seluruh sudut ruang tamu.Ia beranjak dari sofa dan berjalan ke arah meja panjang dekat jendela.Di atas meja itu berjejer foto kedua anak Tuan Yang dan Nyonya Yang.

Yang Ah Jung dan Yang Baekhyun.

Tangan Jongdae terulur mengambil satu figura foto yang memamerkan senyum lebar Ah Jung dan Baekhyun.Foto saat Baekhyun kecil memegang gitar kebesaran di pangkuannya sambil tersenyum lebar dan Ah Jung kecil yang tertawa lepas.

" itu saat aku dan Baekhyun Oppa ada di taman belakang "

Suara Ah Jung berhasil membuat Jongdae terkejut,dengan gerakan cepat ia meletakkan figura foto itu ke tempat asalnya dan berbalik badan.

" ma—maaf aku sudah lancang " ucapnya gugup.

Ah Jung tertawa kecil.

" kenapa kau tegang? tenanglah,aku tidak akan menendangmu keluar dari rumah ini "

Jongdae meringis sambil menggaruk tengkuk lehernya.

Jongdae merasa tangannya menghangat,Ah Jung menggenggam pergelangan tangannya.

" ayo ikut denganku,ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu "

Ah Jung tersenyum manis pada Jongdae,membuat Jongdae menyadari sesuatu.

Ia mulai menyukai Ah Jung.

***

" ini sewaktu aku dan Baekhyun Oppa pergi ke pantai "

Ah Jung menunjuk foto dua bocah kecil yang sedang membuat istana pasir,ekspresi mereka terlihat serius dengan riasan pasir pantai di pipi bahkan ujung bibir mereka.

Ah Jung tertawa kecil.Mengingat betapa konyolnya ia dan kakaknya dulu.Rela mencicipi asinnya pasir hanya untuk membuat istana pasir yang berujung hancur setelah satu detik terbentuk.

Baekhyun dengan hebohnya meloncat dan menyenggol istana pasir yang susah payah mereka buat.

" lalu kau menangis? " tanya Jongdae setelah ia selesai tertawa.

Ah Jung menggeleng.

" tidak,aku tidak menangis,aku langsung menendang kakak-ku waktu itu,setelah itu kami pergi ke toko ice cream dan membeli ice cream bersama "

Ah Jung memandangi foto dirinya dan Baekhyun yang sedang menjilat ice cream.Ia tersenyum lemah.

" hal yang selalu kami lakukan setelah bertengkar " ucapnya.

Tangan kanan Jongdae terangkat,merangkul pundak teman perempuan nya sambil tersenyum lembut.

" kau rindu padanya? "

Ah Jung menghela nafas.

" yaaaa...begitulah,walaupun aku sering menendang kakak-ku karena dia sering menginjak boneka ku,walaupun aku sering menjambaknya karena cicak karetnya,walaupun aku terlihat begitu tidak menyukainya tapi aku sangat merindukannya.Aku merindukan tawa lepasnya yang hangat,senyum kotak-nya,dan kejailannya.Aku— "

Ah Jung berhenti,ia menggigit bibir bawahnya menahan tangis yang pecah.Perasaan sakit ini tidak berubah sejak dulu.Sejak Baekhyun di temukan mengapung di kolam renang rumah mereka sepuluh tahun yang lalu.

" Aku merindukannya,Jongdae.Sangat… "

Akhirnya Jongdae mendengar tangisan memilukan sepanjang hidupnya.Temannya yang satu ini menangis kencang sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

" tidak apa-apa,kau menangislah sepuasmu sampai kau merasa lebih baik " ucapnya lembut.

Setelah Jongdae menghitung dalam hati,Ah Jung menangis selama lima menit tujuhbelas detik.Perempuan itu menghapus air matanya sendiri lalu mendongak menatap Jongdae dengan senyum tipis.

" kau mirip Baekhyun Oppa " ucapnya serak.

Jongdae membulatkan matanya,refleks telunjuknya menunjuk hidungnya sendiri.

" a—ku?  mirip dengan Oppa-mu? "

Ah Jung mengangguk cepat.

" caramu tersenyum,tawa lepasmu,lawakanmu,dan—suaramu,kau mirip dengannya " ujar Ah Jung.

Jongdae terlihat salah tingkah,bahkan ia tidak menyadari kemiripan yang dibicarakan Ah Jung barusan walaupun perempuan itu sudah menceritakan semua tentang Baekhyun padanya.

" karena itu aku mengajakmu kemari,di taman ini aku dan Baekhyun Oppa menghabiskan waktu bermain kami "

Jongdae mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.Masih merasa canggung dengan suasana yang ada ia berdehem,mencoba menetralkan suasana gugup di hatinya.

Walaupun ragu,Jongdae mulai memberanikan diri menatap Ah Jung.

" kalau begitu,kau mau aku bernyanyi? "

" eum,menyanyilah,aku ingin kau bernyanyi "

***

Laki-laki itu duduk diam di atas kursi panjang berwarna hitam.Wajahnya sangat berbeda dengan suasana langit cerah di atas sana.

Yixing hanya sedang berharap hatinya yang kacau akan segera membaik.Yixing hanya sedang berharap amarah yang menguasai hatinya ini tergantikan dengan ketenangan.Yixing hanya sedang berharap—ah tidak,Yixing lelah berharap yang harus dilakukan laki-laki itu adalah berusaha.

Ya,Yixing harus berusaha agar ia tidak lagi merasa kacau atau marah.

Dengan satu anggukan tegas,ia berdiri dari kursi dan melangkah pergi dari  tempatnya dengan satu sudut bibir yang terangkat ke atas.

***

Senyuman itu tidak lepas dari bibir merah muda perempuan remaja itu.Sejak Jongdae menyapanya waktu itu Ah Jung mulai merasa bahwa sekarang bunga di hatinya mulai berkembang kembali.

Ia mulai menyukai Jongdae.

Deringan ponsel pintar Ah Jung menginterupsi kesenangan perempuan itu.Dengan mata berbinar ia segera menggeser layar ponselnya.

" hei Jongdae! "

" eoh? hei! Dari suaramu kau terdengar senang sekali menerima teleponku " ucap Jongdae dari seberang sana dengan nada meledek.

Ah Jung tertawa malu,dalam hatinya ia terus mengutuk suara melengking yang keluar dari pita suaranya.

Seharusnya ia bersikap lebih anggun tadi.

" apa kau sudah sampai rumah dengan selamat? " tanya Ah Jung berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

" tentu saja! aku kan sudah pulang dari rumahmu sejak tiga jam yang lalu,tentu saja aku sudah sampai dan tentu saja aku selamat " balas Jongdae setelah itu terdengar tawa geli dari ujung sana.

Tangan kiri Ah Jung yang terkepal memukul ujung kepalanya pelan,sekarang ia mengutuk otak pintarnya yang mengeluarkan pertanyaan bodoh seperti itu.

Seharusnya ia sadar ini sudah pukul sembilan malam.

" Ah Jung-ah " panggil Jongdae.Nada suaranya mulai serius.

Ah Jung menelan ludahnya sendiri,ada sensasi aneh di dalam aliran darahnya,perempuan itu merasa darahnya berdesir hebat,jantungnya berdetak lebih cepat serta perutnya yang terasa mules.

Apa Jongdae akan menyatakan perasaannya?

Apa Jongdae juga menyukainya?

Apa yang harus Ah Jung lakukan kalau Jongdae benar-benar menembaknya?

Ahh,tentu saja menerimanya,Ah Jung bodoh!

Setelah dua menit tidak bersuara tiba-tiba terdengar suara tawa kecil dari ujung sana.

" tidak,aku hanya ingin mengatakan senang bertemu dan menjadi temanmu "

" ohh—ha-ha-ha-ha,aku juga " sahut Ah Jung dengan tawa aneh yang keluar dari mulutnya.

Oh,sekarang Ah Jung mulai merutuki hatinya yang terlalu banyak berharap.

Seharusnya Ah Jung tau ia dan Jongdae baru berteman sejak satu minggu yang lalu.

" Sekarang sudah malam,tidurlah dan mimpi yang indah.Yang Ah Jung " Jongdae berkata lembut.

Tanpa sadar kedua sudut bibir Ah Jung tertarik saat Jongdae menyebut nama lengkapnya.

" eum,kau juga,Kim Jongdae "

Ah Jung meletakkan ponselnya di nakas,ia berbaring di atas kasur lalu menarik selimut tebalnya.Memejamkan kedua kelopak matanya sambil tersenyum manis.Hatinya sangat luar biasa bahagia sekarang.

Mungkin kalau saja Ah Jung tidak memejamkan matanya,ia akan merutuki matanya karena tidak melihat seseorang sedang berdiri di samping jendela kamarnya sejak tadi.

Seharusnya Ah Jung tau kalau ia tidak sepantasnya membuat perasaan Yixing bertambah kalut.

***

Keadaan kamar Jongdae gelap total.Ini sudah tengah malam tapi laki-laki itu belum juga memejamkan kedua kelopak matanya.

Jongdae tidak bisa tidur,perasaanya kelewat bahagia sekarang.Ucapan selamat tidur Ah Jung terus terdengar di telinganya,seakan perempuan itu selalu berucap setiap satu detik.

Sebenarnya ia ingin menyatakan perasaanya pada Ah Jung saat di telepon tadi,tapi anehnya yang keluar bukan perasaan suka-nya.

Jongdae payah.

Ia terus merutuki dirinya sejak tadi,ia terus memutar otaknya agar menemukan cara yang tepat untuk menyatakan perasaannya pada Ah Jung.

Jongdae harus segera menyatakan perasaannya sebelum semua terlambat.

Knop pintu kamar Jongdae bergerak turun,memuncul sosok tinggi tegap yang tidak bisa ia lihat karena lampu kamarnya sudah padam sejak tiga jam yang lalu.

Dengan alis bertaut Jongdae berujar.

" Ayah? "

***

Telinga Ah Jung bergerak menangkap sebuah suara yang menganggu tidur nyenyaknya.

Telepon rumahnya berdering kencang di tengah malam.

Ya,jam dua belas baru lewat satu menit tapi telepon rumahnya itu sudah berisik membuat tidur damainya terganggu.

Dengan decakkan kesal Ah Jung menyibakkan selimutnya kasar,dalam hati terus bertanya kenapa Ibu dan Ayahnya tidak mendengar suara menganggu itu padahal telepon rumah mereka terletak di depan kamar kedua orang tuanya.Ah Jung menyeret kakinya malas,sekuat mungkin berusaha membuka mata agar ia tidak berguling melewati tangga.

Sambil menggaruk rambutnya Ah Jung mengangkat gagang telepon.

" Ya halo " Ah Jung bersuara pelan.Mulutnya menguap lebar.

Tidak ada jawaban dari sana,yang ada hanya bunyi langkah cepat seseorang yang menyeret kakinya.Setelah itu Ah Jung hanya mendengar suara aneh yang membuat alisnya menyatu.

Seperti suara benda jatuh ke dalam air.

" ck,kenapa di dunia ini ada orang yang hobi menganggu tidur seseorang,sih "

***

Cahaya matahari pagi mulai menyusup lewat celah jendela kamar Ah Jung.Perempuan itu membuka matanya lalu menyipitkan matanya karena silaunya cahaya matahari.

Ah Jung turun ke lantai satu untuk menikmati sarapan pagi bersama Ayah dan Ibu-nya.

" Bu,Yah,semalam ada telepon apa Ibu dan Ayah tidak dengar? "

Sambil menyantap sup-nya Ah Jung menatap kedua orang tuanya bergantian.

Tuan Yang menggeleng.
" tidak,mungkin Ayah terlalu lelah jadi tidak dengar "

Nyonya Yang mengerutkan dahinya,semalam ia tidak mendengar suara deringan telepon.

" tidak,memangnya siapa yang menelpon? " tanyanya.

Ah Jung mengendikkan bahu.

" hanya orang iseng yang hobi menganggu tidur seseorang,baguslah Ibu dan Ayah tidak mendengarnya "

Ah Jung meneguk air putihnya lalu mengelap mulutnya dengan tisu makan.

" Bu,Yah aku ingin pergi ke rumah Jongdae "

***

Sambil bersenandung Ah Jung berjalan santai di jalanan kompleks tempat Jongdae dan keluarganya tinggal.Tangan kanannya memegang plastik berisi buah-buahan yang ia beli dari toko buah yang baru saja dibuka.

Ah Jung sudah sampai di depan pintu rumah Jongdae,ia baru tau kalau keluarga Jongdae sudah mengenal keluarga-nya sejak dulu.Dengan senyuman kecil Ah Jung memikirkan bagaimana terkejutnya Jongdae saat melihatnya pagi-pagi begini ada di rumahnya.

Baru saja tangan terkepal Ah Jung ingin mengetuk pintu bercat coklat itu.Matanya lebih dulu membulat mendengar teriakan Nyonya Kim dari dalam.

" ASTAGA! JONGDAEEEEEEE!!!!!! "

Dengan gerakan cepat Ah Jung membuka pintu rumah Jongdae yang tidak terkunci,berlari masuk ke dalam rumah Jongdae menuju sumber suara.

Perkiraan Ah Jung salah.

Justru,ia yang dibuat terkejut melihat Jongdae pagi-pagi begini sudah terapung di atas kolam renang.

" Jongdae…KIM JONGDAEEEEE!!!!! "

***

Langit mulai gelap,matahari sudah kembali bersembunyi di rumahnya.Tapi perempuan itu masih berada di posisinya sejak ia pulang dari tempat yang paling ia benci dan selalu ia benci.

Pemakaman.

Setelah Jongdae ditemukan mati mengapung,mayatnya langsung di mandikan dan di makamkan.Tidak ada niat keluarga Jongdae untuk melakukan otopsi jasad anggota keluarganya itu.Mereka semua berpikir Jongdae terpeleset dan jatuh ke kolam renang.

Walaupun faktanya Jongdae pernah menjadi juara satu lomba berenang tingkat provinsi.

" sama seperti Baekhyun Oppa… " gumam Ah Jung sambil menatap kosong ke air yang tenang.

Mungkin sekarang kulit kedua kaki Ah Jung mulai mengeriput karena sejak jam sepuluh pagi ia sudah duduk di pinggir kolam renang sambil mencelupkan kedua kaki-nya.Ibu-nya sudah lelah berteriak dan membujuk Ah Jung makan,Ayah-nya hanya dapat menghela nafas sambil terus berdo'a.Teman-teman-nya…

Ahhh,Ah Jung tidak punya teman selain Jongdae dan juga…

" Yixing " gumam Ah Jung pelan.

Tiba-tiba Ah Jung ingin bertemu Yixing.Menceritakan segala perih yang ia rasakan sekarang,menumpahkan segala sakit yang tertahan.

" kau memanggilku? "

Ah Jung langsung mendongak saat mendengar suara Yixing.Ia tersenyum tipis melihat Yixing ada di seberang kolam renang.

" Yixing " Ah Jung kembali bergumam.

Yixing tersenyum manis.

" jadi apa ada yang ingin kau ceritakan? " tanyanya.

Ah Jung mengangguk.

" aku kehilangan temanku " jawabnya.

" kau tidak kehilanganku,Ah Jung " ucap Yixing tetap dengan senyumnya.

" bukan,bukan kau,Yixing.Tapi Jongdae "

Air muka Yixing berubah seketika,senyum itu tidak lagi terpampang di wajahnya yang manis bak malaikat.

Kenapa selalu Jongdae?

" dia meninggal,terapung di air,dia meninggal,Yixing " ucap Ah Jung bergetar.Air matanya kembali mengalir mulus melewati pipi tirusnya.

" aku tidak tau kenapa,tapi aku tidak bisa kehilangan Jongdae,aku ingin selalu bersamanya—selamanya.Bersama Jongdae,aku merasa seperti bersama Baekhyun Oppa,mereka mirip "

Yixing menatap Ah Jung datar,ucapan Ah Jung barusan seperti pisau daging yang mencacah hatinya sampai hancur.

" mereka terlalu mirip " Yixing beruara.

Ah Jung mengangguk.

" iya,mereka mirip "

" benar katamu,mereka mirip,bahkan bisa dibilang terlalu mirip, sama-sama menyebalkan " ucap Yixing.

Ah Jung tersentak kaget,apa yang Yixing katakan? Jongdae dan Baekhyun menyebalkan? Apa maksudnya?

" kau selalu memikirkan mereka,sampai-sampai kau tidak mempunyai waktu untuk ku,kau tidak sadar kalau aku selalu di sampingmu sejak dulu " ujar Yixing.

" apa maksudmu,Yixing? "

" kau tidak penasaran kenapa aku tidak pernah menunjukkan rumahku? " tanya Yixing.

Ah Jung terdiam,selama ini ia selalu bertemu Yixing di kursi panjang berwarna hitam yang terletak di samping pemakaman.

Di samping pemakaman.

Ah Jung menatap Yixing dengan tatapan tidak-mungkin-kau-berbohong.

" kau tidak penasaran kenapa aku tidak sekolah sama sepertimu? " Yixing bertanya lagi.

Ah Jung tetap diam tidak bersuara,hatinya mengatakan ia harus menunggu Yixing menjelaskan semuanya secara jelas.

" kau tidak penasaran kenapa aku selalu memakai baju ini sejak pertama kali kita bertemu? "

Ah Jung langsung berdiri,seluruh tubuhnya bergetar hebat seketika.

Sungguh ia tidak menyadari itu.

Kaus lengan panjang berwarna hitam dan celana jins.

Persis seperti sepuluh tahun yang lalu.

Mereka berdua sama-sama terdiam,Ah Jung memandang Yixing dengan tatapan tidak percaya sedangkan Yixing menatap Ah Jung datar.

Satu sudut bibir Yixing terangkat ke atas.

" dan— " Yixing bersuara.

Jeritan Ah Jung tertahan di pangkal tenggorokan,suaranya sama sekali tidak bisa ia keluarkan manakala melihat kilatan merah ada di sepasang mata Yixing.

Mata yang selalu menatapnya dengan lembut dulu.

" apa kau tidak penasaran kenapa Baekhyun dan Jongdae mati dengan cara yang sama? "

Ah Jung menutup mulutnya,air matanya semakin mengalir deras.Kedua kakinya seolah kaku tidak bisa bergerak,membuat Ah Jung terlihat panik.

" jangan takut Ah Jung,aku Zhang Yixing,temanmu " ujar Yixing dengan nada lembut yang dibuat-buat.

Ah Jung menggeleng keras,dia bukan Yixing! dia bukan Yixing teman Ah Jung!

" datanglah padaku seperti dulu kau sering datang padaku untuk bercerita,datanglah padaku dan ku pastikan kau tidak akan pernah menangis lagi " ujar Yixing.

Ah Jung tetap menggelengkan kepalanya,dalam hati terus mengumpati Yixing.

Yixing sudah tidak waras.

Begitu kata hatinya.

Yixing mengulurkan tangannya ke depan,dengan seringaian di bibirnya ia menggerakkan telunjuknya membuat tubuh Ah Jung perlahan tapi pasti mendekati kolam renang.

Ah Jung menggeleng-gelengkan kepalanya,menatap Yixing dengan tatapan tolong-jangan-lakukan-ini-Yixing.Tapi Ah Jung sudah terlanjur membuat Yixing sakit hati.Ah Jung sudah terlanjur membuat Yixing terluka.

Tubuh Ah Jung berada di tengah-tengah kolam,dengan satu hentakan keras Yixing menghempaskan telunjuknya kebawah membuat tubuh Ah Jung tenggelam di dalam air.

Yixing terus menahan telunjuknya ke bawah,membiarkan Ah Jung berada di bawah air,membiarkan orang yang disukainya kesulitan bernafas.

Dan membiarkan Ah Jung meninggal dengan cara tenggelam di dalam kolam renang.

Yixing tidak ingat kapan terakhir kali ia sesenang ini.

END

Selasa, 08 Juli 2014

EXO Fanfiction: Lie.

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: School Life,Romance,Fluff

Cast:
- Do Kyungsoo
- Ahn Hee (OC)

Support Cast:
- Byun Baekhyun.

Sebelumnya:
- D'Answer
- Sweet Message.
- He's Jealous!
- Sweet Date.

Disclaimer: Yehet! Selesai yehet! Aku suka Kyungsoo dan sekarang makin suka Kyungsoo :3 Jadi itu alasannya aku ngelanjutin series ini XD Maaf kalo jelek dan gak dapet feel-nya.Enjoy^^

***

Samar-samar aku membuka mataku karena silaunya matahari yang menyusup masuk lewat celah jendela.Aku menguap lebar sambil mengusap-usap mataku.Mengerjapkan mata beberapa kali untuk menormalkan penghilatanku.

" ASTAGA! "

Aku langsung bangkit dari karpet kamarku saat sadar kalau hari sudah mulai siang.

Tidak.

INI MEMANG SUDAH SIANG!

Aku langsung berlari menuju kamar mandi dan membersihkan diri dengan asal.Memakai seragam tanpa memperdulikan kalau seragam ini lupa ku gosok kemarin.Menyisir rambut dengan brutal sampai rasanya rambutku mulai menipis.Aku menyambar tas punggung-ku dan langsung berlari turun ke bawah setelah memakai sepatu tanpa memperdulikan kalau sepatuku tidak sepasang.

" bu,aku berangkat! " seruku tergesa lalu melesat secepat kilat.

Sampai-sampai aku lupa.

" rok ku terbalik! "

***

Aku meringis menahan perih perutku yang belum sempat sarapan pagi ini.Cheon seonsaengnim mengusirku keluar karena aku terlambat satu jam,di tambah penampilanku yang berantakan dan jangan lupakan rok-ku yang terbalik.Aku dihukum berlutut di luar kelas dengan tangan kanan memegang telinga kiri dan tangan kiri memegang telinga kanan.

Sampai bel istirahat.

Aku benar-benar sial pagi ini.

" ada apa denganmu? " Kyungsoo bertanya sambil meneliti wajahku.

Aku menunduk dalam.Aku sangat amat malu karena saat bel istirahat Kyungsoo menghampiriku,dia bahkan yang membantuku berdiri.

" aku menjemputmu dirumah,tapi ibu-mu bilang kau susah bangun dan dia bilang padaku untuk pergi duluan saja "

Aku menghela nafas,berusaha menetralkan rasa takut yang ada di dalam diriku.

" kau tidur pukul berapa? " tanya Kyungsoo.

Aku memejamkan mataku rapat-rapat,berusaha mencari alasan masuk akal untuk orang jenius seperti Kyungsoo.Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku tidak bisa tidur karena mencari Garikja yang hilang entah kemana.

Dia bisa menghabisiku kalau tau cincin itu hilang.

" pukul sembilan " jawabku pelan.

Ku dengar Kyungsoo menghela nafas keras.
" angkat kepalamu! kau itu kenapa sih?! " seru Kyungsoo.

Aku langsung mengangkat kepalaku dan menatap Kyungsoo takut.

" kalau kau tidur pukul sembilan,kenapa bisa terlambat? "

" aku mimpi buruk "

Kyungsoo mengernyit tidak percaya.

" aku baru tau kalau mimpi buruk bisa membuat tidur seseorang nyenyak " ucapnya dengan nada menyelidik.

Aku menelan ludah lalu menatapnya memohon.

" bisakah kita pesan makanan sekarang? Sungguh,perutku perih sekali "

***

Kyungsoo sudah melupakan soal keterlambatanku tadi pagi,aku tau itu.Dia bersikap seperti biasa,datar.Saat ini kami sedang berada di perpustakan hampir tiga jam.Kyungsoo mengawasiku belajar materi ulangan biologi yang ada di kelasku besok.Padahal aku sudah berusaha meyakinkan Kyungsoo kalau aku pasti akan belajar dirumah.Tapi,Kyungsoo tetaplah Kyungsoo,dia menahanku di perpustakaan ini.

Ugh,aku sungguh ingin pulang,aku ingin mencari Garikja ituuuu!

" Ahn Hee-ya "

Aku mendongak menatap Kyungsoo.
" ya? "

Kyungsoo menjulurkan tangannya,menarik tangan kiriku dan memperhatikan jari manisku yang kosong tanpa hiasan Garikja yang selama seminggu ini melingkar disana.

" kemana Garikja yang ku berikan? " tanya Kyungsoo sambil menatapku datar.

Walaupun hanya tatapan datar,aku sungguh takut kalau laki-laki itu tau Garikja-nya hilang.

" ku tinggal di rumah " jawabku cepat sambil menarik tanganku.

Mataku kembali ku tuangkan pada buku biologi membosankan yang ada di hadapanku.Berpura-pura sibuk belajar adalah salah satu cara agar Kyungsoo tidak lagi bertanya soal Garikja itu.

" oh iya! "

Aku kembali mendongak saat Kyungsoo memekik pelan.

" ada apa? " tanyaku penasaran.

" besok bisa temani aku? aku ingin membeli beberapa buku di toko buku,kau juga ingin membeli novel 'kan? " Kyungsoo menatapku.

" tidak bisa! aku tidak bisa! " seruku dengan suara nyaring.Aku mengutuk diriku sendiri yang tidak bisa menahan suara curut ini.

" aku hanya bertanya,kalau tidak bisa yasudah " ucapnya cuek.

Aku hanya dapat meringis pelan,lalu menunduk kembali membaca buku.Diam-diam menghela nafas lega.

Besok aku harus menemukan cincin itu.

***

" lututmu merah " ucap Kyungsoo lalu berjongkok memperhatikan kedua lututku yang memerah

" aahh tidak apa-apa,sebentar lagi juga sembuh " balasku gugup sambil menarik lengan Kyungsoo agar laki-laki itu berdiri.

" sungguh tidak apa-apa? " tanya Kyungsoo.Aku dapat menangkap nada khawatir disana.

Aku mengangguk pelan.
" eum,kau pulang saja "

" kompres dengan air hangat,aku takut lututmu akan bengkak,jangan lupa makan malam,baca kembali materi untuk ulangan besok,lalu langsung tidur,aku tidak mau kau terlambat lagi,itu memalukan "

Aku langsung mengangguk cepat.Dalam hati terus meminta maaf pada Kyungsoo karena telah membohonginya dan tidak mengatakan kalau Garikja yang dia berikan hilang.

" aku pulang,sampai jumpa besok " pamitnya sambil tersenyum tipis.Tangan kanannya terulur mengacak-ngacak rambutku pelan lalu melenggang pergi dari hadapanku.

" aku janji akan menemukan Garikja itu,kyung "

***

Jam besar di dinding menunjukkan pukul 10 lewat 15 menit.Itu berarti aku sudah menghancurkan seisi rumah dalam waktu 3 jam lewat 15 menit.Saat ini aku benar-benar merasa seniman yang berbakat.Aku menghancurkan bentuk seluruh ruangan yang ada di rumah menjadi tidak berbentuk.

Abstrak.

Aku bahkan tidak mempedulikan bagaimana marahnya Ibu saat melihat betapa hancurnya rumah ini besok,yang ku pedulikan sekarang adalah Garikja itu dan perasaan Kyungsoo.

Kyungsoo pasti kecewa kalau dia tau Garikja-nya hilang.

Tubuhku merosot dari atas sofa ruang tamu.Keringat mulai membanjiri seluruh tubuhku,badanku mulai lemas dan perasaanku mulai kacau.Aku mengerang frustasi,mengutuk otak payahku yang dengan mudah melupakan sesuatu.

Seingatku aku masih memakai cincin itu kemarin saat di sekolah,tapi saat aku baru saja selesai ganti baju setelah mandi aku baru sadar Garikja itu tidak lagi melingkar di jari manisku.

Karena terlalu lelah berpikir kedua kelopak mataku mulai berat dan enggan membuka kembali.

Pencarianku kali ini gagal.

***

" ASTAGA APA YANG TERJADI?! "

Aku langsung membuka mataku begitu gendang telingaku menangkap teriakan terkejut Ibu.Aku bangkit dari sofa dan mengintip di depan pintu kamar,Ibu terlihat emosi.

" Pencuri mana yang melakukan ini?! " serunya emosi.

Aku mengintip takut-takut dari balik pintu,Ibu benar-benar marah sedang Ayah terlihat bingung bukan kepalang.Ayah dan Ibu keluar dari kamar dan mereka terlihat amat sangat terkejut melihat keadaan ruang tamu yang sangat jauh dari kata rapi.

" astaga,Ibu tidak sanggup melihatnya " gumam Ibu lemas.

Aku yang berada di samping Ibu menatapnya takut-takut.Aku salah tidak mempedulikan kemarahan Ibu,aku sudah membuatnya emosi di pagi hari.

" Bu… " panggilku pelan.

" apa?! " sahutnya ketus.

Aku menelan ludah.
" aku tau siapa yang melakukan ini " gumamku pelan sambil menundukkan kepala dalam.

" kau tau?! Sungguh?! Siapa?! "

Aku menarik nafas panjang.Baiklah,aku tau aku benar-benar akan ketiban sial pagi ini.

" aku Bu "

***

" hei " seruku pelan sambil tersenyum tipis pada Kyungsoo yang duduk di teras.

Kyungsoo berdiri dari kursi dan melongok ke dalam rumah dengan pandangan bingung.

" rumah-mu? " tanyanya.

Aku mengangguk-anggukan kepala paham.Ibu memarahiku habis-habisan setelah aku menceritakan semuanya.Dia berkata akan memotong uang jajanku 75% bulan ini.Aku tidak protes karena itu memang salahku,lagipula aku juga memohon pada Ibu untuk tidak mengatakan apapun pada Kyungsoo.

" kerja bakti,yaa—Ibu bilang ada keluarga yang akan kemari jadi rumahku sedang di bersihkan " jawabku.

Kyungsoo mengangguk pelan.

" semalam kau kemana? kenapa teleponku tidak kau angkat? "

Aku memejamkan mata,semalam aku benar-benar mengabaikan seluruh panggilan Kyungsoo.

" belajar,aku belajar,hehehe "

Kyungsoo hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bergumam ' ohh '.

' Maaf Kyungsoo,aku sungguh menyesal '

***

Soal-soal biologi hanya membuat kepalaku bertambah pusing,aku memang belajar di perpustakaan bersama Kyungsoo,tapi ingatanku hilang karena terlalu memikirkan Garikja yang tidak kunjung ku temukan.

" Ahn Hee,kau sakit? "

Aku mendongak menatap Song seonsaengnim yang berseru padaku.

" wajahmu pucat,apa kau sakit? " ulangnya.

Aku menangguk pelan,aahh akhirnya ada cara untuk tidur.

" yasudah,kau ke ruang kesehatan,kau ikut ulangan susulan lusa " petuahnya.

Aku bangkit dari kursiku dan berjalan pelan keluar kelas.Ternyata masih ada orang baik seperti Song seonsaengnim.

***

Pintu ruang kesehatan bergeser memunculkan seorang laki-laki yang menghampiriku dengan senampan bubur dan air putih.

" anak-anak bilang kau disini,jadi aku bawakan ini untukmu " ucap Kyungsoo sambil meletakkan nampan berisi bubur dan air putih itu di nakas.

Kyungsoo menatapku khawatir.

" kau baik-baik saja? " tanyanya.

Aku mengangguk pelan.

Laki-laki itu menjulurkan tangannya dan meletakkan punggung tangannya di dahiku.

Sungguh,aku tidak baik-baik saja kalau seperti ini.

" suhu tubuhmu panas,apa perlu aku mengantarmu pulang? "

" tidak usah,aku hanya sedikit pusing "

" baiklah,sekarang makan bubur-nya " Kyungsoo mengambil mangkok yang berada di atas nampan.

" katakan 'aaa' " Kyungsoo menjulurkan sendok berisi bubur ke depan mulutku.

" Kyung—aku bisa makan sendiri "

Aku tidak bisa berhadapan dengan sikap lembut Kyungsoo saat ini.Itu membuatku semakin merasa bersalah,akhir-akhir ini laki-laki itu sangat hangat padaku.Dan sekarang,aku malah berbohong padanya.

" bisa turuti apa kataku dan tidak banyak protes? kau cerewet sekali "

Aku merengut.
" baiklah "

***

" kau pulang duluan saja " ucapku saat Kyungsoo kembali menghampiriku di ruang kesehatan saat pulang sekolah.

Kyungsoo mengernyit bingung.
" kenapa? "

" aku ada pelajaran tambahan dengan Cheon seonsaengnim karena waktu itu aku tidak mengikuti pelajarannya " jawabku.

Kyungsoo berdecak.
" izin saja,kau 'kan sedang sakit,lagipula dia hanya mengajar kelas keputrian,kenapa harus ada pelajaran tambahan,sih?! "

Aku menelan ludahku,berusaha bersikap biasa saja padahal kau gugup bukan main adalah hal yang sulit.Sama sulitnya dengan menerima kenyataan kalau hari ini ada ulangan matematika mendadak.

" tidak usah,aku sudah baik-baik saja,sungguh! kau pulang saja duluan,bukannya kau ingin ke toko buku? "

Kyungsoo mendengus.

" jaga dirimu,kalau kau tidak enak badan,telepon keluargamu atau aku dan tunggu disini,jangan telepon siapapun " petuahnya.

Aku mengangguk.

" baik,ssaem,hehehehe "

***

Kali ini lokasi pencarianku selanjutnya adalah sekolah.Aku yakin aku menghilangkan Garikja itu disini,karena saat aku buang air kecil di toilet perempuan saat pulang sekolah Garikja itu masih ada,tapi saat selesai mandi dirumah Garikja itu sudah tidak ada.

" Ahn Hee? "

Aku menoleh ke belakang saat ada yang memanggil namaku.Itu Baekhyun,laki-laki itu tersenyum lebar sambil berjalan ke arah ku.

" kau belum pulang? ini sudah pukul lima sore " ujarnya.

Aku menggeleng.

" belum,aku harus mencari sesuatu yang hilang "

" boleh aku membantu? " Baekhyun bertanya dengan hati-hati.Mungkin Baekhyun takut aku menolaknya mentah-mentah.

" tentu boleh,aku senang kau mau membantuku "

Baekhyun hanya tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi dan juga eye smile-nya yang menawan.

***

" aku dengar kau sakit? " Baekhyun memecah keheningan saat kami sedang mencari Garikja itu di semak-semak taman sekolah.

" kau dengar dari siapa? "  aku balik bertanya.Tanganku terjulur semakin masuk ke dalam semak-semak,siapa tau Garikja itu nyangkut di salah satu daun.

" eum—hanya tidak sengaja mendengar " sahutnya.

" aku tidak sakit,mungkin kau salah dengar,hahahaha—aww sakit! "

Aku memekik kencang saat merasa telapak tanganku tertusuk sesuatu.Aku mengeluarkan tanganku dari dalam semak-semak dan menemukan ranting kecil tertancap di telapak tangan kananku.

" apa aku salah dengar? " Baekhyun bertanya tenang.Dia menarik tangan kananku lembut,memperhatikan ranting kecil yang sedang menancap di telapak tanganku dengan alis bertaut.

Mungkin Baekhyun sedang berpikir.

" aku sedang berpikir bagaimana cara yang tepat mencabut ranting kecil ini agar kau tidak merasa sakit " ujar Baekhyun.

Aku tertawa kecil.Baekhyun selalu punya cara membuat orang lain tertawa.

Baekhyun mencabut ranting kecil itu dengan hati-hati lalu membuangnya ke sembarang tempat.Dia menatapku khawatir.

" bagaimana? sakit? " tanyanya.

" tidak terlalu " jawabku sedikit meringis.

Ku lihat Baekhyun merogoh kantung celananya dan mengambil plaster disana.Memasang plaster berwarna biru tua dengan motif roket itu di telapak tanganku.

" Baekhyun " panggilku pelan.

Baekhyun mengangkat kepalanya,menatapku.

" terimakasih " ujarku tulus dengan senyum terbaik yang ku punya.

Baekhyun berdehem lalu mengangguk,tangan kanannya menggaruk tengkuknya.Aku dapat melihat telinga dan pipinya mulai bersemu merah.

" kau masih mau membantuku 'kan? " tanyaku.

Baekhyun mengangguk dengan senyum lebarnya.

" tentu,aku senang bisa membantumu,Ahn Hee "

***

Aku dan Baekhyun berpindah tempat,saat ini kami berada di luar sekolah,tepatnya di semak-semak belukar yang ada di depan sekolah.

" biar aku saja yang mencarinya,kau bilang Garikja itu berwarna putih bermotif bunga 'kan? "

Aku mengangguk.

" baiklah,tunggu sebentar,Nona "

Aku berdiri di belakang Baekhyun sambil memperhatikannya yang sibuk mencari Garikja itu.

" Baek— " panggilku pelan.

" apa? " Baekhyun menyahut tanpa menoleh.

" aku minta maaf soal Kyungsoo yang melabrakmu " ucapku.

" ohh itu,dia memang pantas melakukannya,aku saja yang tidak tau diri,hahahaha " balasnya santai.

Tawa Baekhyun tidak sama.

" maaf aku membuatmu merasakan sakit hati,jika aku dapat membalas perasaanmu aku pasti akan membalas perasaanmu,tapi aku— "

Baekhyun tiba-tiba berbalik badan dan tersenyum hangat padaku.

" jangan membuatku mendengar itu lagi,cukup sekali aku mendengarnya " ujarnya.

" maaf " ucapku pelan sambil menunduk.

" permintaan maaf di terima "

Baekhyun berujar sambil menjulurkan telapak tangannya.

HEI! ADA GARIKJA KU DI SANA!

Aku menatap Baekhyun dengan mata berbinar.

" Baek! Kau menemukannya! " seruku senang.

Baekhyun mengangguk.

" yep! panggil aku Bacon kalau aku tidak bisa menemukannya " candanya.

Aku dan Baekhyun sama-sama tertawa.Tanganku terjulur mengambil Garikja itu dan memasangnya di jari manisku sendiri.

" apa Garikja itu sangat berarti untukmu? sampai-sampai kau rela terluka? " tanya Baekhyun.

Aku mengangguk.

" menghilangkannya sama saja mengecewakan Kyungsoo " jawabku memandangi Garikja yang sudah melingkar di jari manisku.

Aku mendengar Baekhyun menghela nafas.Membuatku mendongak dan menatapnya khawatir.

Raut wajah Baekhyun sama seperti saat aku menolaknya.

" Baek—aku— "

Baekhyun tersenyum lebar.

" jadi,di restoran mahal mana kau akan menraktirku? "

Aku tersenyum.

" terserah tuan Byun saja,akan ku turuti "

Aku terdiam,kenapa aku berkata seperti itu? Uang jajanku 'kan di potong 75% karena menghancurkan seisi rumah.

" hahahaha aku bercanda,Ahn Hee " tawa Baekhyun meledak.

Aku merengut.

" oho! Bercanda-mu membuat dompetku menjerit,Baekhyun " sahutku.

Baekhyun tertawa.

" aku tidak mau di traktir "

Aku menatapnya bingung.

" lalu apa yang kau inginkan,jangan bilang kau— "

" apa sekarang Cheon seonsaengnim berubah jadi laki-laki dan lebih pendek? "

Aku dan Baekhyun kompak menoleh ke belakang.

Ada Kyungsoo yang berdiri dan menatap kami tajam.

" Kyung—ku pikir kau salah paham " ucapku terbata.

Kyungsoo menyunggingkan satu sudut bibirnya.
" salah paham? bahkan aku tidak berpikir apapun "

Aku menunduk,Kyungsoo jelas terlihat marah padaku.

" Kyungsoo,tadi aku hanya membantu Ahn Hee,sebagai teman aku hanya membantunya " Baekhyun angkat bicara.

" yeah,terimakasih atas bantuanmu,kau memang teman yang baik Baekhyun-ssi " balas Kyungsoo sarkastik.

" ayo kita pulang,Ibu-mu meneleponku,dia bilang kau harus segera pulang dan membereskan kekacauan yang kau buat di rumah karena mencari Garikja itu "

Aku mendongak dan melihat Kyungsoo yang berjalan mendahuluiku.Aku menghela nafas berat.

" kau tidak apa-apa? " tanya Baekhyun lembut.Tangannya menepuk pundakku pelan.

Aku mengendikkan bahu.

" aku hanya perlu do'a-mu,do'a kan semoga semua baik-baik saja,Baekhyun "

***

Aku hanya dapat mengekori Kyungsoo tanpa berani berucap.Meminta maaf-pun rasanya percuma karena saat ini aku hanya di anggap sebagai daun kering yang bertebangan di musim gugur.

" apa sekarang kau pintar berbohong? "

Aku berhenti berjalan saat suara Kyungsoo terdengar.Kyungsoo berbalik dan menatapku dalam.

" sudah berapa kali kau berbohong padaku? "

Aku menelan ludah.Rasanya saat ini aku benar-benar seperti pencuri helm di parkiran sekolah yang tertangkap oleh satpam sekolah.

" hari ini dan kemarin,apa semua perkataanmu juga berbohong? apa selama ini kau sering membohongiku? "

Aku mendongak,sedikit terkejut karena kali ini bukan tatapan tajam yang Kyungsoo tunjukkan.Bukan pula tatapan datar yang ku lihat setiap hari.

Kyungsoo menatapku kecewa.

" aku hanya tidak ingin kau kecewa karena tau aku menghilangkan Garikja itu " ujarku.

Kyungsoo menghela nafas.

" kalau kau pikir dengan kau berbohong aku tidak kecewa maka aku anggap kau benar-benar bodoh,aku sungguh kecewa " ujarnya dengan nada rendah dan dalam.

Aku menunduk,menyembunyikan kedua mataku yang sudah berkaca-kaca.Hatiku serasa mencelos saat melihat tatapan kecewa Kyungsoo,di tambah dia bilang kalau dia sungguh kecewa.

Demi Tuhan,aku tidak pernah ingin membuat Kyungsoo kecewa padaku.

" kalau Garikja itu hilang seharusnya kau bilang padaku,apa aku terlihat akan memakanmu hidup-hidup kalau tau Garikja itu hilang? " tanya Kyungsoo.

Aku menggeleng pelan sebagai jawaban.

" apa aku terlihat seperti akan meninggalkanmu begitu saja saat Garikja itu hilang? "

Aku mendongak menatapnya dengan alis bertaut.

Jadi?

" banyak penjual Garikja di Seoul,aku bisa membelikannya lagi untukmu " ujarnya.

Perlahan bibirku melengkung ke atas.

" kau tidak perlu tidak tidur semalaman hanya untuk Garikja itu,kau tidak perlu merepotkan Ibu-mu dengan menghancurkan seisi rumah,kau tidak perlu— "

Aku menunggu Kyungsoo yang tiba-tiba saja berhenti melanjutkan kalimatnya.Dia menaikkan tangan kanannya,mengusap tengkuknya.

" bersamaBaekhyunmalammalambegini " ucapnya cepat dan pelan.

Oh astaga,aku bahkan mengira Kyungsoo sedang berkumur sekarang.

" hei,Prof.Kalau bicara itu yang jelas " protesku.

Kyungsoo mendengus.Lalu mengibaskan tangannya di depan wajahnya sendiri.

" ahh sudahlah,lupakan "

Laki-laki itu berkacak pinggang,kembali menatapku dengan tatapan mengintimidasi.

" 'kan sudah ku bilang,kalau ada sesuatu beritahu keluargamu atau aku,bukan siapapun,apalagi Baekhyun " ujarnya.

" aku tidak memberitahu Baekhyun! " bantahku.

" oho! anggaplah kau tidak memberitahu Baekhyun " ucapnya lalu kembali berjalan.

Aku membuang nafas kasar sambil berjalan kembali mengikuti Kyungsoo.

" Kyung,aku minta maaf! " seruku.

" sudahlah,lupakan saja " sahutnya datar.

" aku tau aku salah,aku berbohong padamu,aku minta maaf! "

Kyungsoo kembali berhenti membuatku juga ikut berhenti.Dia berbalik dan menatap kebawah.

" lututmu bengkak,kau tidak mengompresnya? " tanyanya.

" eoh? itu— " Aku menunduk dalam " maaf aku tidak sempat mengompresnya karena mencari Garikja itu " jawabku pelan.

Kyungsoo kembali berbalik badan dan berjongkok.

" naiklah,aku akan menggendongmu " suruhnya.

" apa? "

Kyungsoo menoleh,menatapku gemas.
" cepat naik! "

Aku mengangguk lalu melingkarkan tanganku di lehernya.Kyungsoo menggendongku.

" tanganmu? " tanyanya sambil memegang telapak tanganku yang tertempel plaster.

" ohh…tadi tertusuk ranting,Baekhyun yang menolongku dan menempelkan plaster itu " jawabku.

Aku menatap wajah Kyungsoo dari samping yang terlihat kaku.

" seharusnya malam ini aku yang menemanimu mencari Garikja itu,seharusnya kita mencarinya bersama-sama " ujarnya datar.

" kau pasti akan terbebani kalau aku menceritakan masalah ini padamu,kau pasti kecewa " balasku.

" aku lebih kecewa saat tau kau mencarinya dengan Baekhyun,hei itu Baekhyun! Byun Baekhyun yang pernah menembakmu di kantin! Ohh pasti dia mencuri kesempatan dengan alasan ingin membantumu " cerocos Kyungsoo.

Aku tertawa kecil,menyadari sesuatu.

Hal ini terjadi lagi.

" Hei Kyung " panggilku.

" apa? "

Kyungsoo menoleh menatapku.

Pandangan kami bertemu,aku tersenyum jahil.

" kau cemburu? "

" eoh? " Matanya membulat sempurna.

" kau cemburu karena aku mencari Garikja itu dengan Baekhyun? Iya 'kan? Iya 'kan? " godaku.

" ehm,tidak! " elaknya.Kyungsoo kembali berjalan.

" aahh—kalau kau memang tidak cemburu,apa kau mau mendengar ceritaku selama bersama Baekhyun tadi? "

Kyungsoo berdecak.

" diam! kau berisik! " serunya.

" Hahahahaha,benar 'kan? Kau cemburu 'kan? Iya 'kaaaannnnn?? "

Lagi-lagi Kyungsoo berhenti berjalan,dia menoleh menatapku tajam.

" diam,atau ku turunkan kau disini? " ancamnya.

" cih,coba saja kalau berani? Lagipula kalau kau menurunkanku dan meninggalkanku disini masih ada Baekhyun yang mau menjemputku,aku masih punya— "

Kalimatku terhenti begitu saja,tertahan di ujung tenggorokan.Aku merasa sulit bernafas detik ketika Kyungsoo menciumku sekilas.

" kau masih punya apa? coba teruskan ucapanmu kalau berani " ucapnya datar.

" Kyung— "

" apa? "

" kau mencuri ciuman pertamaku "

END

Rabu, 02 Juli 2014

EXO Fanfiction: Separation.

Author: Kyung0712 (@Intansnickers)

Genre: Sad,Brothership

Cast:
- Kris
- EXO member

Disclaimer: sebenernya aku udah lama pengen bikin fanfic tentang Kris Oppa,cuman baru mulai nulis setelah liat status facebook temen aku namanya Fatikah Nurfadillah.Izin pake kata-katanya ya kakak Fatikaah.Maaf kalo jelek dan gak nyambung.Enjoy^^

***

kita berpisah bukan untuk saling
memberi tangisan, tapi untuk saling memberi pelajaran tentang artinya sebuah pertemuan, dan perjalanan

***

Seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap itu sedang memandangi pantulan dirinya di depan cermin.Rambut,dahi,kedua alis,kedua mata tajamnya,hidung mancungnya,ia meneliti seluruh garis wajahnya.Memandangi tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki tanpa satu yang terlewatkan.

" Ge? "

Kris—laki-laki itu mengalihkan pandangannya dari cermin,menatap laki-laki berkulit sedikit gelap yang memanggilnya barusan.

" kau lama sekali,kita harus segera berangkat "

Seulas senyuman tipis terlukis di bibir Kris menanggapi seruan tidak sabaran Tao.

" baiklah,ayo kita keluar "

" oho! Ini dia makhluk galaxy " ucap Luhan yang menyambut kedatangan Kris dari kamarnya

Kris hanya tersenyum lebar sambil menggaruk tengkuknya.

" apa saja kau lakukan di dalam,hyung? kita hampir terlambat "

Kris hanya tertawa kecil.

" tidak,ayo kita berangkat "

***

Duabelas laki-laki tampan itu kini sedang berada di bandara Incheon.Berjalan di tengah kerumunan fans-fans yang saling berdesakan hanya untuk melihat wajah tampan mereka.Membidikkan kamera DSLR mereka untuk fansite-fansite yang mereka buat.Menjulurkan tangan mereka,berharap dapat meyentuh sedikit tubuh sang idola.Dan berteriak mengelu-elukan EXO seakan tidak takut akan sakit tenggorokan.

Kris menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi penumpang.Menghela nafas panjang sambil memejamkan kedua kelopak matanya.

Perasaannya sedang tidak karuan sekarang.

" hei,Kris "

Kris membuka kedua kelopak matanya,lalu menegakkan badannya.Kepalanya menoleh ke samping,tersenyum ke arah sang leader grup mereka.

" kau sudah belajar bahasa Jepang? " tanya Suho sambil membuka kamus kecil yang ada di tangannya.

Kris terkekeh,para member EXO berusaha keras berlatih bahasa Jepang untuk menyampaikan rasa bahagia dan cinta-nya pada fans mereka di sana.

" aku ini pintar,kenapa harus belajar lagi? " Kris berujar dengan nada sok-nya.

" cih,coba katakan sudah sampai mana kemampuan bahasa Jepangmu? " tantang Suho.

Kris mengangguk mantap.

" aishiteru " ucapnya santai.

Suho melongo tidak percaya,ingin sekali ia memukul rekan seperjuangannya dengan kamus kecil yang ada di tangannya.

Aishiteru?

Astaga,Suho benar-benar tidak percaya Kris baru saja berkata kalau dirinya itu pintar.

" aku tidak perlu repot-repot belajar banyak bahasa Jepang,kalau satu kata saja sudah mewakili semuanya,benar 'kan? "

Suho menyunggingkan bibirnya seketika lalu merangkul pundak Kris.

" kau memang partner-ku yang paling keren,Kris " ujarnya dengan nada bangga.

Kris hanya dapat tersenyum tipis menanggapinya.Entah,mungkin setelah ia mulai memutuskan pilihannya Suho akan meralat kata-katanya sekarang.

***

Kris merebahkan dirinya di kasur hotel,meletakkan kedua tangannya di belakang kepala sebagai bantal,memejamkan kedua matanya rapat-rapat.

Ia masih ingat tujuan awalnya ke Korea Selatan.Berawal dari suruhan temannya yang memintanya ikut audisi agensi terbesar negeri ginseng itu; SM Entertaiment.Mimpinya adalah menjadi aktor terkenal,membintangi film-film ternama.

Tapi takdir berkata lain.

Kris di masukan ke dalam sebuah grup rookie,membuatnya harus menunda mimpinya menjadi aktor.Mengharuskannya berlatih menari dan menyanyi dari pagi sampai pagi lagi.

Awal yang buruk,begitu menurutnya saat itu.Ia terjebak di antara sebelas laki-laki yang terlihat begitu senang,sementara dirinya hanya dapat berpura-pura bahagia.

" Ge… "

Kris langsung membuka matanya,panggilan manja Tao membuatnya langsung duduk tegap.Tersenyum seperti biasa ke arah Tao yang menaiki kasur dan duduk di sampingnya.

" ada apa? " tanya Kris lembut.

" menurutmu,kita itu apa? "

Kris tertawa kecil.

" kita? "

Tao mengangguk.
" Minseok hyung,Luhan hyung,Kau,Suho hyung,Lay hyung,Baekhyun,Chanyeol,Jongdae,Kyungsoo,Aku,Jongin dan Sehun.Menurutmu EXO itu apa? "

Kris menelan ludahnya sendiri.Menatap bingung ke seprai putih kasurnya.Ia sudah memiliki jawaban pasti,tapi pita suaranya seakan putus dan tidak dapat mengeluarkan bunyi.

" kita sudah dua tahun bersama,besok kita akan melaksankan fanmeet terbesar di Jepang,bulan depan juga kita akan melaksanakan konser pertama kita.Aku hanya perlu tau,EXO di hidup kalian itu seperti apa? Arti EXO bagi kalian itu apa? "

Tao menatap dalam Kris yang bergeming,firasat buruk mulai menggelayuti hati-nya.Kris adalah member terakhir yang ia tanya seperti ini,dan ia adalah member terlama yang menjawab pertanyaannya.Bahkan,member lain hanya butuh waktu satu detik untuk menjawab.

Kenapa Kris tidak?

Kris menghela nafas panjang,mengangkat kepalanya lalu menatap Tao dengan senyum hangatnya.Menjulurkan tangannya untuk mengenggam bahu Tao.

" keluarga,kalian keluargaku "

***

" sedang apa kau? "

Si mata bulat itu menoleh saat suara berat memasuki gendang telinganya.Ia tersenyum lebar pada leader galaxy-nya.

" menghapal skenario drama-ku,hyung " jawab Kyungsoo semangat.

Kris duduk di samping Kyungsoo,matanya melongok ke arah kerta bertumpuk yang ada di tangan Kyungsoo lalu tersenyum.

" adik-ku yang satu ini hebat sekali " puji Kris.

Kyungsoo menunduk malu sambil menggaruk tengkuknya.
" terimakasih,hyung "

Kris mengangguk,Kyungsoo baru saja menyelesaikan film pertamanya dan sekarang ia akan bermain drama.Sebentar lagi adiknya yang satu itu akan menjadi aktor ternama.

Seperti impian Kris dulu.

Kris tersenyum kecil,impiannya mungkin akan terwujud kalau saja ia tidak disini.

Tidak ada di dalam EXO.

Keluarganya.

***

Dua tahun yang lalu,Kris menganggap bahwa keputusan agensi meletakkannya ke dalam grup rookie adalah salah besar.Kris sama sekali tidak suka keadaannya saat itu,berada di tengah-tengah sebelas laki-laki yang menurutnya berisik,ia benar-benar ingin pergi dari mereka.

Seiring berjalannya waktu,rasa tidak suka itu mulai berubah menjadi rasa nyaman.Kris mulai nyaman berada di antara sebelas laki-laki berisik yang membuatnya sering tertawa.

Tapi disaat rasa nyaman mulai mendominasi hatinya,ada sebagian kecil dari hatinya yang meminta hak-nya.

Mimpi Kris.

Sebagian kecil dari hatinya memintanya untuk memperjuangkan mimpinya.

" comeback showcase di China,wwooaahh aku benar-benar tidak sabar " Suho berseru tidak sabar di kursi penumpang.

Kris tertawa kecil melihat tingkah heboh Suho.

" sudah belajar bahasa China? " tanya Kris.

Suho mengendikkan bahu-nya.

" aku sudah pintar " jawabnya.

Kris melipat kedua tangannya di depan dada lalu menghadap Suho.Kepalanya sedikit mendongak ke atas.

" coba katakan padaku "

Suho mengangguk,lalu merubah posisi duduknya menghadap Kris.

" wo ai ni " ujar Suho dengan senyum tulusnya.Ia menatap Kris lekat-lekat.

Seketika senyum mengejek Kris hilang tergantikan dengan ekspresi wajah terpaku.

" seperti yang kau katakan padaku,tidak perlu repot-repot belajar banyak,kalau satu kata saja sudah mewakili semuanya,benar 'kan? " Suho tersenyum penuh arti pada Kris.

" eum,kau benar "

***

Ada yang tertahan di hati Kris yang tidak bisa ia ungkapkan dan ia bagikan pada teman-temannya.Ada rasa tersiksa yang ia rasakan di dalam hatinya,ada rasa lelah yang amat sangat yang sudah tidak bisa lagi di tahannya.

Kris ingin melepaskan semuanya.

" aku mau izin pulang ke rumah " Kris berujar pada manajer hyung.

Manajer hyung mengalihkan pandangannya dari tab yang ia pegang.Mendongak menatap tubuh jangkung Kris.

" ada apa? apa aku juga tidak boleh mengunjungi keluargaku sendiri? " tanya Kris datar.

Manajer hyung langsung menggeleng cepat.

" bukan seperti itu,Kris.Kau tau kan? Kita harus segera pulang ke Korea dan berlatih untuk konser tunggal EXO " ujarnya.

Kris tersenyum miring.
" aku butuh waktu bersama keluargaku,apa tidak boleh? Aku hanya bertanya boleh atau tidak? "

Manajer hyung menarik nafas panjang lalu mengangguk lambat.

" baiklah,tapi setelah itu kau harus kembali,oke? " Ia tersenyum ke arah Kris.

Kris langsung berbalik meninggalkan manajer hyung tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Bahkan ucapan selamat tinggal-pun tidak keluar dari bibirnya.

***

Tao terlihat celingukan mencari sosok tinggi tegap yang belum juga terlihat sejak semalam.Ia sedang mencari Kris Gege-nya yang tidak kembali ke kamar hotel setelah selesai konser.Bahkan,pagi ini-di bandara-ia juga tidak melihat kakak tersayangnya itu.

" hyung " serunya.

Manajer hyung yang berjalan di depannya pun menoleh.
" ada apa Tao-ya? "

" Kris-ge kemana? Kenapa dia belum juga muncul? " tanya Tao khawatir.

Manajer hyung menelan ludahnya.Ia lupa bilang pada member lain kalau Kris mengunjungi keluarganya.

" perhatikan jalanmu "

Tao mengernyitkan dahinya,memangnya ada hubungannya antara ketidak hadiran Kris dengan memperhatikan jalan?

" kenapa akhir-akhir ini Kris-ge sering terlambat? kemana dia? "

***

" Suho hyung "

Suho tersenyum ke arah Tao yang datang menghampirinya.

" apa aku boleh duduk di sebelahmu? " tanya Tao.

Suho mengangguk lalu menepuk kursi penumpang kosong yang seharusnya di duduki Kris.

" ada apa,hm? " Suho bertanya lembut.Tao terlihat gusar.

" Kris-ge—dia dimana? "

Suho membulatkan mulutnya membentuk huruf 'O'.

" dia sedang berkunjung ke rumah keluarganya "

" benarkah? Tapi kenapa ponsel-nya tidak bisa ku hubungi? "

Suho tersenyum mengerti pada Tao.Ia tau Tao sangat tidak bisa berjauhan dengan Kris.

" nanti kita telepon lagi,mungkin dia butuh waktu sendiri,bersama keluarganya "

***

" Ge… "

Kedua kelopak mata itu terbuka perlahan,memunculkan sepasang bola mata coklat gelap yang indah sang pemilik.Kris langsung bangkit dari tidurnya saat gendang telinganya menangkap panggilan Tao yang biasa ia tunjukkan saat pagi hari untuk membangunkan Kris.

Kosong.

" hhh...hanya halusinasi " gumamnya.

Matanya berkeliling menatap kamarnya,ini kamar Wu Yifan.

Bukan Kris EXO.

" Yifan,boleh Mama masuk? " terdengar seruan lembut dari balik pintu ber-cat coklat itu.

Kris mengusap wajahnya yang terlihat kusut.
" iya Maa "

Kenop pintu berputar dan pintu pun terbuka.Wanita cantik bertubuh tinggi itu tersenyum pada anak-nya.Ia duduk di tepi ranjang.

" kau tau kabar baik apa yang akan Mama sampaikan padamu? " tanya Nyonya Wu.

Kris menggeleng dengan dahi mengernyit.

" gugatan-mu terhadap agensi telah di terima di pengadilan,sebentar lagi kau akan bebas,Yifan "

Kris jadi teringat ini adalah hari ke-tiga ia berada di rumahnya.Ia mencopot sim card-nya dan mengganti dengan yang baru agar tidak ada satupun orang yang dapat menghubunginya.

Kris sudah memutuskan pilihannya sendiri.Ia lebih memilih melepaskan semuanya.

" kenapa? sepertinya kau menyesal? " tanya Nyonya Wu khawatir.Raut wajah anak-nya terlihat kosong tanpa emosi yang tertuang disana.

Kris menggeleng pelan.
" tidak Maa " jawabnya.

Ia mengangkat kepalanya dan menatap Mama-nya dengan senyuman manis.

" kau takut mereka membencimu,hm? " tanya Nyonya Wu lembut.

" bukannya cepat atau lambat mereka akan membenciku? " Kris balik bertanya.

Nyonya Wu tersenyum lembut sambil mengusap pipi kanan Kris sayang.

" awalnya memang akan terasa sulit,tapi Mama yakin,lama-lama mereka akan mengerti,ini memang yang terbaik untuk kau dan mereka " tuturnya lembut.

***

" aku tidak mengerti! aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiran makhluk galaxy itu! " Suho berseru gemas sambil berjalan mondar-mandir.

Kesebelas laki-laki tampan itu baru saja sampai di gedung SM Entertaiment untuk latihan menjelang konser mereka.Tapi,mereka di kejutkan oleh berita yang luar biasa mengejutkan dari teman mereka sendiri.

Kris EXO mengajukan gugatan pada SM Entertaiment.

" aku tidak bisa menghubungi ponselnya " seru Lay lemas.

Sedangkan Tao sekarang duduk di antara Minseok dan Luhan yang sedang menenangkannya yang tidak berhenti menangis.

" Tao…Sudahlah…Kris hanya mengajukan gugatan,agensi masih bisa melakukan mediasi dengannya dan membawanya kembali pada kita " hibur Luhan.

Tao menggeleng cepat lalu mengangkat kepalanya dan menatap Luhan dengan matanya yang memerah.

" kau tidak tau bagaimana sifat Kris-ge,dia orang yang tidak mudah merubah keputusannya,dia pasti sudah merencanakan ini sejak lama.Dia pasti berniat meninggalkan kita sejak dulu " ucap Tao disela-sela isak tangisnya.Ia menundukkan kepalanya,menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan putihnya.

" hei Tao,ingat Kris tidak mungkin seperti itu.Ini pasti hanya salah paham " ucap Luhan lagi.Ia masih berusaha berkata kemungkinan positif pada Tao walau pada kenyataannya hatinya berkata lain.

Hatinya ikut membenarkan ucapan Tao tadi.

" kau bilang kita ini keluarga…kau bilang kita akan selalu bersama,tapi kenapa kau pergi? kenapa kau meninggalkan kami,ge…? " Isakan tangis Tao semakin kencang manakala dirinya mengingat jawaban yang Kris berikan padanya saat di hotel.

EXO adalah keluarga bagi Kris,tapi kenapa Kris meninggalkan keluarganya?

***

Sehun merebahkan dirinya di kasur dorm,hari ini hari yang sangat melelahkan.Tidak hanya fisiknya,tapi juga hati dan pikirannya.

" hei Sehun "

Sehun menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka.Ada Kyungsoo yang berjalan ke arahnya.

Sehun segera mendudukkan tubuhnya.

" kau baik-baik saja? " tanya Kyungsoo.

Sehun mengendikan bahunya.
" entah,aku sendiri juga tidak tau " jawabnya pelan.

Mereka berdua sama-sama terdiam.Kyungsoo khawatir dengan Sehun karena ia tidak keluar untuk makan malam.Terlebih ekspresi kosong Sehun yang tidak menyiratkan emosi apapun,akan lebih baik jika Sehun menangis seperti Tao atau berteriak marah seperti member-member lain daripada diam tidak bersuara.

" Kyungsoo hyung… " panggil Sehun pelan.Matanya menatap seprai coklat yang ada di bawahnya.

" ya? "

Sehun mengangkat kepalanya lalu menatap Kyungsoo dengan tatapannya yang sulit di artikan.

" apa—yang sebenarnya terjadi hari ini? "

Kyungsoo menelan ludahnya.Ini lebih sulit daripada pertanyaan 'kenapa Kris pergi?'.Ia masih bisa merangkai kata-kata penghibur jika Sehun mengajukan pertanyaan itu.

" Sehun-ah— "

" kenapa Kris hyung seperti ini pada kita? Kalau dia marah pada agensi,kenapa dia tidak memberi kabar pada kita? "

Bola mata Kyungsoo tidak berhenti bergerak,mencoba mencari jawaban di dalam otaknya.Ia menjulurkan tangannya untuk memegang tangan Sehun.

" Sehun—kau demam "

***

Berita menggemparkan itu cukup membuat perasaan sebelas member EXO dan para fans menjadi kacau akhir-akhir ini.Keputusan Kris yang mengajukan gugatan seminggu sebelum konser membuat semua orang kewalahan.Mereka harus bekerja lebih keras untuk menampilkan yang terbaik.

" mulai sekarang,ini adalah awal untuk EXO,kita akan memberikan yang terbaik untuk para fans,kami mohon dukungannya " ujar Suho sambil tersenyum ke arah kamera.

Hari ini adalah hari kedua dari konser pertama mereka yang bertajuk EXO The Lost Planet.Mereka mengadakan jumpa pers untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan para wartawan.Sekaligus mengungkapkan perasaan mereka setelah ditinggal salah satu teman mereka.

Kris.

" aku masih tidak percaya ini terjadi " gumam Chanyeol di belakang panggung usai jumpa pers.

" ini yang terbaik,kita harus mulai bangkit " sahut Baekhyun yang berada di sampingnya.

Chanyeol menatap Baekhyun sendu.

" untuk kita atau untuk dia? "

" untuk kita Chanyeol,Kris hyung sudah dewasa,percayalah dia pasti tau mana yang terbaik.Kita tidak boleh egois,kita juga harus mengerti perasaannya " ujar Baekhyun.

" mengerti katamu? memangnya dia mengerti perasaan kita? perasaan para fans? memberi kabar pun tidak "

Chanyeol bangkit dari kursinya dan berjalan menjauh dari Baekhyun.

Baekhyun menghela nafas panjang.Tangannya merogoh kantung celana jins dan mengeluarkan ponsel pintar-nya.

To: Kris Hyung.
16:04
Hyung,apa kabar? apa kau tidur dengan nyenyak? makan dengan enak? Hyung kami semua tau,pasti kau tau mana yang terbaik.

Hyung,kami merindukanmu.

" Kris hyung,ku harap kau mengerti… "

***

1 bulan kemudian.

" i wanna go back,i wanna go back,i wanna go go go go go go go back " Tao menggerakkan bibirnya sambil menggerakkan tangannya.Ia menatap kosong panggung itu.

Tempat dimana ia bersama Kris berkolaborasi menyanyikan lagu rapp yang sempat Tao gumamkan.

Ini sudah sebulan sejak Kris pergi dari EXO.Sejak ia meminta izin untuk menjenguk keluarganya.Sejak tiba-tiba muncul berita gugatannya kepada agensi mereka.

Sejak Kris pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal.

" kita kembali lagi kemari "

Tao mendongak menatap Suho yang berdiri di depannya.Suho tersenyum hangat pada Tao.Ia duduk di samping Tao.

" tanpa Kris-ge " gumam Tao pelan.

Suho menepuk bahu Tao pelan.
" hei,sudahlah…kita disini untuk bersenang-senang " ucapnya.

Tao mengangguk sambil tersenyum tipis.
" apa dia menonton konser kita? " tanya Tao.

Suho mengendikkan bahunya.
" entah,tapi sekarang dia sudah jauh lebih baik "

Tao mengernyit tidak mengerti.

" maksdumu? "

" Kris akan membintangi sebuah film "

Mulut Tao terbuka begitu saja.Ia terkejut.

" dia berhasil meraih mimpinya sendiri,Tao " ucap Suho.

Suho diam untuk beberapa saat kemudian mulai membuka mulutnya kembali.

" kita tidak boleh egois,kita harus melepaskan Kris untuk meraih mimpinya,untuk menggenggam kebahagiannya,kita harus melepaskan Kris untuk hidupnya yang jauh lebih bahagia " ujarnya.

" kita berpisah bukan untuk saling memberi tangisan, tapi untuk saling memberi pelajaran tentang artinya sebuah pertemuan, dan perjalanan,Tao "

Tao tersenyum lebar.

" eum,kau benar "

***

Kris menyunggingkan senyumnya saat melihat senyuman kesebelas pria itu.Preview foto mereka di Happy Camp telah bermunculan di jejaring sosial dan membuatnya bertahan membuka matanya walau waktu sudah menunjukkan tengah malam.

Kris terus saja tersenyum melihat tawa bahagia yang menghiasi wajah para member.Ia rindu dengan mereka,dengan segala keberisikan yang mereka buat.Dengan segala rengekan mereka.

Kris merindukan keluarganya.

Bibir Kris bergerak membaca sederet fakta,ia tertawa kecil manakala membaca fakta-fakta lucu para member.Tapi senyumannya memudar saat membaca fakta yang menggores hatinya.

Member EXO menangis membahas dirinya.

" maaf,aku membuat kalian mengeluarkan air mata yang berharga itu,maaf aku telah membuat luka di hati kalian,maaf—aku terlalu menyayangi kalian "

END